Peristiwa Rajab

Sastra cfinus

Sastra cfinus

Peristiwa Rajab
    Oleh: Qonita Rahmawati
Derap langkah berjalan mengusik
Mengganggu jiwa yang amat baik
Datang mencari yang tersembunyi
Tanpa sadar yang dicari telah pergi
Kala nabi bersedih hati
Adanya ‘Am al-Huzni yang amat menyakiti

Sang khalik menghibur nabi
Dengan ajakan rekreasi
Dari masjidil haram hingga masjidil aqsha
Dengan berkendara Buraq menuju sidratul muntaha

Bulan Rajab sungguh mulia
Umat berlomba memperbanyak puasa
Shalat lima waktu telah ditetapkan
Setelah terjadi penawaran
Demi umat yang suka melalaikan
Isra’ mi’raj menjadi bukti
Akan adanya mukjizat nabi
Oleh umat yang mengimani

 

Khazanah Asyhur al-hurum : Ritual Ambengan sebagai media at-ta’awun dalam Tradisi Rejeban

Esai C-Finus

Esai C-Finus

Khazanah Asyhur al-hurum :
Ritual Ambengan sebagai media at-ta’awun dalam Tradisi Rejeban

Oleh : Muhammad Nurravi Alamsyah (Peneliti Muda C-Finus) HKI 3-F

Asyhur Al-hurum dan Interpretasinya
Asyhur al-hurum adalah bulan-bulan sakral yang telah dirumuskan dalam nash Al-Quran, dalam bulan tersebut banyak eksistensi yang berebeda dengan bulan-bulan lain. Dalam Qs At- taubah ayat 36 Allah menjelaskan :Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, diantaranya empat bulan haram. Itulah ketetapan agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu . Ayat tersebut dikuatkan dengan hadits Nabi yang merinci dengan detail apa saja yang disebut tuhan dengan bulan mulia Satu tahun ada dua belas bulan, dimana 4 darinya adalah bulan haram/suci. Tiga bulannya berlangsung secara berturut yakni dzul qodah, dzul hijjah, dan muharram. Salah satu lagi adalah rajab yang terletak diantara jumadil akhir dan syaban Abu Jafar Ath-Thabari memberikan sebuah analog tentang sakralitas empat bulan yang telah tersebut, dimana Allah menciptakan bilangan bulan selama kurun satu tahun sebanyak dua belas bulan, didalamnya terformulasi segala aspek wujud qadha yang telah diputuskan-Nya secara definitif dan pasti. Sakralitas bulan-bulan tersebut tentu saja meyiratkan pesan ilahiyah bahwa Islam tidak saja mengajarkan kepercayaan hanya pada dimensi teks, lebih dari itu, dimensi rasional dan transendental juga turut mewarnai khazanah pemikiran dalam Islam (At-Thabary : Jami Al-bayan Tafsir At-Thabary 14 : :235).
Sakralitas yang diajarkan tuhan melalui penyebutan bulan bulan tertentu, tentu saja bukanlah pesan tanpa makna, tentu saja terdapat tujuan tertentu (maqasid) dibalik pewahyuan ini. Seorang mujaddid bermadzab Hanabilah Qadhi Abu Yala menyajikan sebuah argument tentang pemaknaan hurum” yang dalam analisisnya memiliki relasi kuat dengan nilai historis dan sosial masyarakat arab terdahulu. Pertama, hurum mengarah pada hukum pengharaman atas pembunuhan yang dilakukan dalam bulan-bulan tersebut Kedua, makna hurum ditekankan pada aspek kemuliaanya dibandingkan bulan yang kain (Yala, Zad al-maarif fi ilmi at-tafsir, 2 : 257)
Seharah Suci dalam Rajabiyyah
Rajab adalah bulan dalam kalender hijriyah yang masuk dalam deretan bulan-bulan mulia, Ibn Rajab seorang Hanabilah mengkategorikan bulan rajab sebagai bulan untuk menanam dan Syaban untuk menyiram/memupuk yang bermuara pada bulan Ramadhan untuk memanen (Ibn Rajab, Lathaif al-maarif :121). Makna implisit yang dapat penulis petik dari penjelasan tersebut adalah manusia tidak tercipta hanya sebagai mahluq konsumtif , namun lebih dari itu, juga harus tercipta sebuah eksalasi semangat ibadah yang dipupuk di bulan Rajab ini. Sebab proses menanam hingga memanen secara sunnatullah bersifat kontinu, maka tidaklah mungkin seseorang hanya memanen di bulan Ramadhan tanpa menanam dan merawat di bulan sebelumnya yaitu Rajab dan Syaban.
Pada bulan Rajab tedapat momen penting yang tergores dalam sejarah besar Islam yang dikenang oleh sayyidul anbiya (pemimpin para nabi ) yaitu Isra Miraj. Ritual suci tersebut adalah sebuah perjalanan untuk menghadap Tuhan dalam masa semalam. Dalam catatan historis para ulama terjadi perbedaan pendapat mengenai waktu isra mira, namun merujuk pada salah satu karya muhadistin kalangan Hanafiyah ‘Abd al-Haq ibn Saif ad-din al-Bukhari al-Hanafy ( Lumaat at-tanqih fi syarh misykaat al-masabiih 9:376) bahwa hadis yang populer tentang terjadinya ritual suci Isra Miraj adalah jatuh pada 27 Rajab, hal ini didukung oleh amal ahl al madinah yang melaksanakan ritual rajabiyyah.
Setiap lingkup daerah dalam suatu bangsa memiliki khazanah tradisi budaya dan entitas adat istiadat yang berbeda-beda. Hal ini tidak lepas dari pengaruh topografi, historis dan juga hierarki daerah tersebut. Perbedaan tradisi setiap daerah merupakan sebuah anugerah rahmat dari Allah, hal itu selaras dengan sabda nabi lkhtilaf ‘ ummati rohmatun” (perbedaan atas umatku adalah sebuah rahmat). Tidak penting seberapa banyak perbedaan yang telah wujud, yang terpenting adalah bagaimana cara mempertahankan kelestarian tradisi budaya tersebut agar tidak musnah, sebab hal itu telah melekat menjadi simbol kekayaan kearifan lokal. Tradisi Rejeban” menjadi realisasi kaum muslim dalam menyikapi keistimewaan bulan Rajab dengan bentuk yang sangat beragam, kenyataan ini didukung oleh literatur Ulama yang menjelaskan universalitas makna amal sholih pada bulan-bulan suci (asyhur al-hurum) yang berbanding pahala besar telah membawa kepada pemahaman bahwa fadilah suatu amal tidaklah terikat dengan masa maupun kondisi, juga tidak terikat dengan fisik maupun metafisik, karena amal baik yang tertuju kepada tuhan secara langsung atau habl min allah maupun kebaikan-kebaikan yang tertuju untuk Allah melalui ibadah sosial berbentuk habl min an-nass (Interaksi pada manusia) seperti at-taawun ala al-birri saling tolong menolong dalam kebaikan sangat bernilai jika dilakukan dibulan-bulan ini.

Al-Taawun / Saling tolong menolong dalam kebaikan merupakan ketentuan sakral yang telah ditetapkan oleh Allah dalam nash-Nya, dalam kaidah gramatikal Arab dijelaskan bahwa bentuk kata al taawun adalah berkmakna musyarokah baina istnain fa akstar (sikap kesalingan antara dua orang lebih) sehingga melibatkan orang banyak. Muhammad Tanthowi dalam memberi penafsiran menarik dalam memahami Al-maidah ayat 2 yang berbunyi “dan saling tolong menolonglah kalian semua dalam hal kebaikan dan takwa , beliau mengartikan kata al-Taawun dengan “At-tawassu fi fili al-khoir wa isda al-maruf ila an-nass” (memperluas pada perbuatan baik dan memberi kebaikan pada sesama manusia). Sedangkan makna “tolong menolong dalam taqwa” adalah pensucian hati (M. Thonthowi, Tafsir Al-wasith Li Ath-Tanthawi : 32). Secara substansial lafadz al-birr (Kebaikan) dan at-taqwa dapat disandingkan, keduanya juga memiliki makna implisit (kinayah) karena pada ketaatan terdapat Restu tuhan dan pada kebaikan terdapat Restu manusia. Sehingga ketika keduanya direalisasikan bersama antara ridho Allah dan manusia, maka akan sempurna wujud sebuah kebahagaian dan akan menjadi luas sebuah nikmat. (Al-Mawardi, Al-wasith 4:32)

Ambengan: Autentisitas lokal dan media At-Taawun
Wali Songo yang menahkodai islamisasi di Nusantara memberi pelajaran penting bahwa terdapat sakralitas dalam budaya, salah satunya kultur rejeban yang besifat religus dan melekat di masyarakat jawa. Masyarakat memilih untuk bersikap tasamuh (toleran) dalam artian tidak serta merta menghakimi ritual ini dengan cara mengharamkan dan membidahkan. Sebab merujuk pada asal muasal islamisasi adalah berangkat dari ajaran agama yang menginternal kepada budaya masyarakat. Ambengan, adalah salah satu dari ratusan ritual khas masyarakat jawa yang bernuansa Islam, dalam ritual ini berkonsep at-taawun dari yang dilakukan oleh masyarakat, termasuk acara rejeban ini. Ambengan adalah manifestasi wujud rasa syukur dan pengabdian sebagai hamba kepada Allah atas rezeki yang telah diberikan. Hal ini adalah sebuah pengejawantahan dari pemahaman makna At-Taqorrub ila allah” (Mendekatkan diri pada Allah). Sehinga secara refleksi, sejatinya dengan adanya ritual seperti ini mendefinisikan sebuah simbolis proses pendekatan hamba kepada Tuhannya. Ambengan adalah simbol yang berupa sedekah yang berisi nasi dan lauk pauk dari hasil bumi. Makna implisit bumi adalah mengantarkan definisi bahwa bumi adalah tempat manusia berpijak, juga sebagai sebagai sumber eksploitasi makhluk hidup. Maka bumi telah menjadi sumber manfaat yang besar bagi makhluk hidup. Menilik manfaat bumi, hal ini memberi pemahaman bahwa seseorang juga haruslah memberi manfaat kepada orang lain seperti bumi.

Ritual Ambengan yang biasa diperingati di desa penulis yaitu kota Kediri, tidak menunjukan banyak perbedaan dengan daerah-daerah lain dalam acara rejeban. Ritual ambengan di Kediri lebih kerap dilakukan di masjid, mushola dan madrasah-madrasah diniyah. Dalam praktiknya, selepas gema adzan magrib dikumandangkan, para jamaah berbondong-bondong dengan membawa sedekah berupa makanan yang disajikan dalam wadah berupa marang/renggang (istilah jawa) atau voom, dan salah salah satu dari mereka membawa wadah besar yang bernama Ambeng (istilah jawa) yang berisikan makanan beserta lauk pauk hasil bumi. Selepas Sholat dilanjutkan acara rejeban yang diisi dengan kirim doa leluhur (Tahlil, Yasinan), ceramah tokoh ulama dilanjutkan dengan doa. Diakhir sesi, setelah ambeng dalam wadah besar dibagikan dalam kertas minyak untuk dimakan bersama, terdapat sesuatu yang unik dari acara ini, yaitu ijol ambeng/berkat.
Ijol ambeng/berkat adalah penukaran makanan dalam wadah berupa marang/renggang atau voom yang dibawa tadi kepada orang lain, sehingga setiap jamaah pulang membawa makanan yang berbeda, dengan kata lain bukan ambeng/berkat miliknya. Ijol ambeng/berkat ini beragam macamnya, ada suatu daerah yang ditukar adalah ambeng beserta isinya, ada juga yang secuil nasinya, ada yang hanya lauk-pauknya. Makna filosof yang tersirat dalam Ijol ambeng/berkat adalah wujud simbolik bahwa semua sama rata dan adil, tidak memandang kedudukan kasta, tidak ada perbedaan diantara orang msikin atau pun kaya. Sehingga paripurnalah sebuah jalinan rasa persaudaraan sesama umat. Sebab Allah tidak membeda-bedakan antara makhluk satu dengan makhluk lain, semua sama di hadapan-Nya.
Dalam ritual ambengan setidaknya memiliki tiga unsur Nilai nilai yang berhubungan erat pada masyarakat yang dapat penulis sampaikan, antara lain (1) Nilai Religius, ritual khusus di acara ambengan memiliki nilai religius, yaitu praktik interaksi seorang hamba dengan Tuhannya. Para jamaah mewujukan nilai religius ini dengan mengirim tahlil leluhur memintakan ampunan pada Tuhan agar masuk surga-Nya, selain itu juga memanjatkan sebuah harapan baik yang berhubungan dengan keselamatan, kemakmuran dan kesejahteraan seluruh elemen masyarakat setempat, (2) Nilai syukur . Para jamaah mengaplikasikan syukur dengan ekspresi rasa ikhlas menyumbangkan sedekah berupa ambeng. Nilai luhur naluri mereka mendorong pada setiap masing jiwa untuk membuktikan kerendahan seorang hamba dihadapan Tuhannya berupa sedekah ini. Sehingga dengan adanya ritual ambengan ini merupakan sikap preventif keluar dari khitab Allah yakni orang-orang yang kufur nikmat, (3) Imam al-Ghazali dalam karya populernya berjudul Ihya al-Ulum ad-Din menjelaskan bahwa Allah telah memberikan nikmat seorang hamba pada diri dan hartanya ibadah badan adalah manifestasi syukur badan. Ibadah harta (Shadaqah, dll) adalah menifestasi syukur atas hartanya (Ihya al-Ulum ad-Din 1:214)

Taawanu ala al-birri wa at-taqwa tidak hanya sekedar firman diatas lembaran, tetapi hal dengan hal ini adalah jalan menempuh mengaktualisasikan amal tersebut kepada ranah sosial. Imam al-Ghazali kembali menjelaskan dalam narasinya bahwa maksud dari At-Taawun adalah rasa semangat menolong dan mempermudah kepada jalan kebaikan dan menutup celah-celah keburukan dan permusuhan sesuai kemampuan masing-masing (Al-Ghazali, 2:307). Disamping adanya balasan baik dari Tuhan, maka akan terjalin pula hubungan kerukunan masyarakat yang bersifat masif dan filantropis. Disamping ini hal itu dapat membina dan memupuk jiwa sosialis yang tinggi terhadap generaso muda menciptakan nilai luhur dalam solidaritas. Pada hakikatnya, kausalitas sedakah ini sangatlah besar bagi setiap umat. Hal ini telah tepat pada garis yang telah difirmankan-Nya pada as-saba 39 “..Dan apa yang saja yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya, Dialah Pemberi rezdeki yang terbaik”.
Muhammad Tanthowi kembali menegaskan secara singkat bahwa Allah akan memberi balasan yang lebih besar berlipat dari apa yang telah dishodaqohkan (Tafsir Al-wasith.. 11:299). Sehingga, selain untuk menjunjung amal sholih dari tuntunan syariat, adanya at-taawun dalam rejeban berupa media ritual ambengan adalah sebagai pelestarian entitas kearifan budaya lokal jawa yang memiliki nilai karakter yang luhur. Masalah bentuk ritual sedekah, itu adalah bagian dari tradisi, adat, budaya dan kebiasaan saja. Satu contoh kalau di arab saudi orang tetkala bersedekah dengan nasi kabuli ataupun dengan hidangan kambing guling yang utuh, tetapi di jawa beda lagi bentuk sedekahnya ada yang menggunakan nasi dibentuk bulat -bulat, ada juga nasi yang dijadikan bubur nama bubur lemu, ada juga nasi kuning, dan juga bersedekah seperti halnya kambing guling tradisi dijawa dengan ayam panggang utuh.(Ainur Rofiq. tradisi slametan jawa dalam prespektif pendidikan islam)
Sebab pada dasarnya, mengacu pada rumusan hukum fikih, ritual apapun dalam adat masyarakat selama tidak mukhoolif li asy-syariah (bertentangan melewati batas hukum syariat) maka ritual tersebut menjadi Al-Urf as-shahih (Tradisi yang baik). Bahkan ulama Hanafiyah dan Malikiyah berpendapat bahwa Al-Urf As-Shahih dapat dijadikan hujjah untuk menetapkan hukum dengan dalih Surah Al-Araf ayat 199.(ushul fiqih 1. 166). Hal ini menunjukkan bahwa khazanah tradisi yang baik adalah tradisi yang perlu kita jaga secara kolektif dan kooperatif. Sebab zaman akan terus mengalir bagaikan arus, sehingga ketika sebuah tradisi leluhur tidak dijaga maka akan hilang ikut tergerus.
اذا تم الامر بدا نقصه

 

 

 

 

 

 

Pasang Surut Legislasi hukum zakat di Indonesia

20201217_024434

 

PASANG SURUT LEGISLASI HUKUM ZAKAT DI INDONESIA

jika ada objek baru dalam zakat, akankah memerlukan UU zakat yang baru ?

Maka Hal itu tidak memerlukan UU yang baru, sebab saat ini UU zakat yaitu UU No. 38 tahun 1999 sudah memuat item – item yang tergolong objek wajib zakat seperti, perdagangan, pertanian, emas dan perak, dan juga rikas. Sebagai contoh adalah lapak online dalam UU tersebut tidak memuat lapak online dalam wajib zakat, tetapi jika di analogikan lapak online masuk ke dalam ranah perdagangan yang sudah termuat di UU tersebut.

apakah legalitas zakat di Indonesia terganggu dengan adanya PP No. 14,dan apakah itu bisa diatasi oleh LAZ ?

hal ini merupakan tugas struktur hukum, supaya sistem zakat di Indonesia bisa terus ditingkatkan, dan tidak menganggu sama sekali. Saat ini kita harus berfokus pada kapasistas peningkatan muzakki harus terus di galakkan. Dan juga ulama dan umara harus bersinergi dan berkolaborasi untuk mencapai hal tersebut. Seperti yang dicontohkan Program Baznas Malang yang membebaskan wilayah Jodipa Malang dari lintah darat, dengan jalan membentuk BMT. Jadi BMT tersebut akan melunasi hutang masyarakat dengan syarat masyarakt tersebut tidak berhubungan lagi dengan lintah darat tersebut.

beberapa tahun terakhir banyak LAZ yang menggunakan dana zakat untuk membangun musholla dan lain sebagainya. Padahal itu belum ada ketentuanya.
Dalam perkembanganya mustahik zakat tidak hanya berfokus pada Al-qur’an dan hadist saja tetapi juga pada ijtihad yang dilakukan oleh para ulama. Untuk dana zakat yang disalurkan untuk pembangunan masjid itu dikategorikan sabilillah, mengapa demikian karena dana trsebut memberikan manfaat kepada masyarakatnya ( sabilull khair ) bukan terhadap bendanya. Ini menjurus pada Q.S At – Taubah ayat 60.
Dalam UU No. 23 tahun 2001, adakah sanksi bagi muzakki yang tidak membayar zakat ?

karena potensi zakat di Indonesia adalah 27 triliun rupiah, s sedangkan perolehanya hanya sekitar 5 triliun rupiah ?
Ya, tidak ada peraturan yang mengatur pembayaran zakat di Indonesia, UU tersebut hanya mengatur penngelolaan dan pendayagunaan zakat. Semua syariat agama di Indonesia dilakukan dengan suka rela, sebab negara kita bukan negara Islam jadi akan sangat sulit untuk mewajibkan suatu syriat tertentu seperti zakat. Menurut Hazairin ada 3 macam syariat Islam yaitu: syariat islam yang berkaitan dengan unsur keduniaan seperti pernikahan dan perdata hal itu boleh diatur oleh negara, syariat Islam yang berkaitan dengan hamba dan tuhanya seperti zakat dan sholat hal tersebut masih boleh diatur oleh negara dalam proses nya tapi tidak ada aturan yang mewajibkan, syariat Islam yang berkaitan dengan iman dan akhlak hal ini sama sekali tidak ada campur tangan negara.

mengenai persoalan zakat ilegal di Sulawesi Utara ?
Di pasal 38 UU No 23 tahun 2008 amil yang belum mempunyai atau memperoleh izin dari baznas atau yang berwenang, akan dikenai pidana pejara maksimal 1 tahun dan denda 50 juta rupiah. Tetapi mengenai kasus ini perlu di telisik lebih lanjut apakah provinsi Sulawesi Utara menerapakan UU tersebut atau tidak jika sudah pasti oknum – oknum seperti itu tidak akan ada lagi. Pada dasarnya mengelola zakat itu tidak sulit sebagai contoh Baznas Tulungangung memberikan legalisasi kepada masjid – masjid yang menjadi UPZ. Karena masjid merupakan unit tertua. Karena jika masjid yang biasa digunakan untuk mengumpulkan zakat tidak di legalisasikan maka mereka hanya sebatas panitia bukan UPZ. Sehingga tidak berhak mendpat bagian amil.

Kesimpulan
Dari pemaparan kedua pemateri dapat disimpulkan bahwa proses legislasi zakat di Indonesia sudah diatur sebaik mungkin agar pengelolaan dan pendayagunaan menjadi maksimal. Sosialisasi dan edukasi tentang pentingnya membayar zakat harus tetap digalakan, serta peningkatan kapasitas amil juga perlu dilaukan, dan pentingnya sebuah forum dan jaringan. Zakat memiliki dua dimensi yaitu vertikal dan horizontal yang ber arti memberikan dan menerima.

Pemuda Juga Pahlawan

20201110_084237

PEMUDA ITU JUGA PAHLAWAN

Oleh: Ravi alamsyah (Peneliti muda C-FINUS) 

Bagi kita bukan kalangan lagi
Pertempuran itu
Resolusi jihad sabilillah bergema
Mimpinya kemerdekaan adalah bintangnya

Hidup mereka berani dan berwangi
Panas tanpa lelah
Dingin tanpa resah

Semangat tak mungkin padam
Siang berjihad malam dalam mendoa
Sekali-kali mereka bukan pekerja tanpa upah

Mereka berteriak bukan menjerit karena lara
Mereka senyum menahan luka dalam dada
Mereka marah mengoyak semangat kuat hebat

Pemuda itu ! Masih inginkan petang datang
Pemuda itu ! Obat luka dari negeri ini
Pahlawan.. Tidak takut dehidrasi
Pahlawan.. Tidak takut kalau kaki tak beralas lagi
Mereka semua ada diantara kita-kita

Berdiri tegak walau lawan seribu kali
Sabilillah yang berani binasa
Maju rapat digaris depan
Bambu dikiri, keris dikanan

Dengan menggenggam sambil bersorak
“Merdeka! Merdeka! Allahu akbar! “

Layar merah putih berkibar dari kelam
Merangkai waktu tahun-tahun berlalu
Masa demi masa

Kepadamu kami mengadu derita kami
Beri warna pada negeri ini
Dengan leluasa bungkarno berujar
“Beri aku 10 pemuda, maka akan kugoncangkan dunia”

Ngunut, 10 November 2020

Sejarah Fikih di Indonesia

SEJARAH FIKIH DI INDONESIA

20201109_031321

 

 

Pemantik   : M.Ilham Bagus D.A

Moderator : Queen Adila

 

Kata “fiqih” berasal dari bahasa Arab, faqiha-yafqahu-fiqhan, yang berarti al-fahmu (paham), yakni al-fahmu ash-shalih (pemahaman yang benar). Posisi fiqih tentu saja berbeda dengan posisi Al-Qur’an dan Hadist. Jika Al-Qur’an itu qadim (azali), maka fiqih itu hadist (temporal). Jika Al-Qur’an bersifat universal dan mutlak benar. Maka fiqih bersifat patrikular, fleksibel, dan kebenarannya relatif.

Oleh karena itu fiqih adalah produk anak zaman. Tumbuh dan berkembang sesuai dengan perkembangan zamannya pada kerangka ruang dan waktu yang mewadahinya. Fiqih berubah sesuai dengan perubahan sosial. Fiqih juga berbeda sesuai dengan perbedaan para pemikirnya, pembentuknya, dan pengembangnya dari suatu waktu ke waktu lain, atau dari suatu tempat ke tempat lain.

Imam al-Qarafi dari madzhab Maliki dalam kitab al-furuq menasehati kita, “Janganlah kalian terikat pada apa yang tertulis dalam kitab-kitab sepanjang hidupmu. Jika datang seseorang dari daerah lain yang minta fatwa hukum kepadamu, maka janganlah kamu tarik ke dalam budayamu. Tetapi tanyakan dulu tradisi/budayanya, lalu putuskan dengan mempertimbangkan tradisi/budayanya, bukan atas dasar budayamu atau yang ada dalam kitab-kitabmu. Membakukan diri pada kitab-kitab yang ada sepanjang hidup merupakan kekeliuran dan ketidak mengertian dalam memahami tujuan yang dikehendak para ulama masa lalu”. (Al-Qarafi, al-Firuq, jilid 1, hlm. 177)

Terkait dengan fiqih Indonesia, di temukan dasar teologisnya dalam keputusan Muktamar NU ke-11 di Banjarmasin, 9 Juni 1936. Dalam keputusan itu, NU memberikan status hukum Negara Indonesia yang saat itu masih dikuasai oleh pemerintah penjajah Belanda dengan Dar al-Islam (negeri Islam). Sedangkan Imam Abu Hanifah mengidentifikasi apabila umat Islam merasa aman dalam menjalankan aktivitas keagamaannya, maka Negara tersebut termasuk Dar al-Islam (wahbah al-Zuhaili, Atsar al-Harb fiy al-Fiqh al-Islami, hlm. 56). Bahkan dikatakan apabila dalam Negara itu telah diberlakukan sebagian syariat Islam, seperti mendirikan masjid, menegakkan sholat jum’at dan sholat jamaah, maka Negara itu juga sudah dapat disebut Dar al-Islam.

Dengan demikian, jelaslah bahwa fiqih Indonesia adalah kenyataan budaya yang sudah terpatri dalam praktik masyarakat Indonesia. Diakui atau tidak, fiqih Indonesia sebetulnya ada, dipahami dipraktikkan, dan ditulis oleh para ulama Indonesia. Fiqih yang dipraktikkan masyarakat Nahdlatul Ulama adalah fiqih Indonesia, fiqih yang menyatu dengan budaya dan tradisi Indonesia.

Fiqih adalah produk hukum Islam sedangkan syariah adalah sumbernya. Fiqih yang dikaji di Indonesia memang mayoritas adalah fiqih Syafi’iyah karena di Asia fiqih Syafi’iyah yang paling banyak menjadi rujukan. Namun bukan berarti madzhab yang lain tidak dipakai, karena jika melihat pada pengertian Aswaja adalah menggunakan pendapat dari salah satunya. Dan bukan berarti dalam ibadah kita harus menggunakan pendapat madzhab terdahulu karena konteks yang tidak sama. Maka fiqih Indonesia ini adalah produk hukum Islam yang dalam penemuannya menggunakan living/ local wisdom di Indonesia. Contohnya seperti kenduri, tahlil, dll.

Lalu bagaimana jika kita melihat budaya reog ponorogo, yang sepertinya telah melanggar syariat karena dalam tariannya terdapat gerakan mengegolkan (memamerkan) tubuh dan aurat yang masih dipamerkan dalam menari ? bahwasanya yang harus kita pahami sesuatu itu sebagai sebuah ajaran atau budaya. Untuk sakralitas itu berarti kita menganggap ajaran reog sebagai sebuah ajaran. Jika profan maka reog kita yakini sebagai budaya. Oleh sebab itu kita tidak bisa mengatakan halal/haram karena bukan berkaitan dengan ibadah secara murni, itu adalah jenis tarian daerah yang menceritakan sebuah kisah dari dongeng dimasa lalu.

Untuk contoh tentang ibadah yang sudah mengalami akulturasi dengan budaya adalah kenduri, megengan, maleman, dll. Karena disini ada wajah tradisi yang dinilai secara kuat oleh masyarakat bahwa kegiatan ini memiliki hubungan kuat dengan ibadah, berpahala dan baik. Kenapa sih budaya-budaya itu kuat dengan ibadah ? karena ada ikatan geonologi dengan tokoh persi yang terkenal dengan kerajaan SAFAWI yang bercorak syi’ah. Dari sanalah ajaran mengenai tradisi sangat kuat dan akhirnya terbawa sampai Indonesia melalui Syaikh Subakir dan Syaikh Jumada Al kubro dan tokoh atau ulama lain.

Fiqih Indonesia adalah fiqih yang dibuat di Indonesia sesuai dengan kultur masyarakat dan budaya di Indonesia. Sedangkan fiqih kontemporer adalah hasil ijtihad terhadap masalah hukum Islam yang terjadi pada masa kekinian right now, dengan menggali sumber hukum Islam berupa Al-Qur’an dan sunnah. Hubungannya dengan kedua fiqih tersebut adalah saling berkesinambungan karena fiqih kontemporer yang dibuat di Indonesia menjadi sebuah produk fiqih Indonesia yang baru.

Kata modern dalam bahasa Arab yaitu al ‘ashr artinya sama dengan kontemporer. Merujuk hal ini, sejarawan memberi batasan kapankah zaman disebut kontemporer (kholaf) dan tradisional (salaf). Khilaf/ashr/kontemporer adalah karya ulama yang eksis setelah 350 H. Sedangkan salaf/tradisional adalah karya ulama yang eksis sebelum 350 H.

Fiqih kontemporer adalah bagian dari modernitas Islam. Karena modernitas Islam adalah payungnya sedangkan fiqih kontemporer adalah bagian dari modernitas Islam. Dalam modernitas Islam terdapat fiqih kontemporer, fiqih progressif, paradigma baru, kajian gender, dll. Hal yang perlu di perhatikan bahwa modernitas itu peka dan menyapa kondisi secara budaya.

Unsur Kesengajaan dalam Lensa Fiqih Jinayah

 

Min_2_08_2020_22_33_56

Unsur Kesengajaan dalam Lensa Fiqih Jinayah

Suatu perbuatan bila dikatakan jarimah/ pidana mengandung beberapa unsur
Syara’

Ketidaksengajaan bisa saja meringankan hukuman seperti pada contoh kasus novel Baswedan.
Dalam kasus novel basweda menurut pemateri merupakan sengaja karena sudah direncakanan sebelumnya, hakim yang hanya menjatuhi 1 tahun penjara menurut pemateri salah karena tidak masuk akal sesuai situasi dan kondisi yang nyata.

Apabila melukai bagian tubuh yang ada sendinya tidak di qisas tetapi dengan membayar denda sehingga ketidak sengajaan bisa meringankan hukuman

Nilai yang terkandung dalam Fiqih divinitas (berasal dari wahyu Allah) dan humanitas (pemikiran manusia)

Menurut Abdul Qadir Audah Jarimah sengaja terletak pada pengetahuan, dan sadar akan perbuatannya, dan faham perbuatan yang dilakukan melawan hukum
Jarimah tidak sengaja terletak pada ketidak sengajaan, ketidaktahuan pelaku, atau dia keliru

Jarimah terdiri atas 3
Hudud
Qisas
Takzir kejahatan yang tidak termasuk hudud maupun qisas

Sengaja atau tidak sengaja bisa dilihat dari niat dan unsur kesengajaan dalam bebrapa jarimah, misal:

-pembunuhan sengaja

-Pembunuhan semi sengaja

-Pembunuhan tidak sengaja

Bentuk pertanggung jawaban dari tiap jarimah ini bertingkat, pengurangan hukuman ini karena adanya unsur sengaja dan tidak sengaja

Bila penganiayaan, maka syarat pelaku adalah berakal, baligh, cakap hukum, motivasi melakukan kejahatan dengan sengaja, derajat orang yang dilukai sederajat dengan orang yang melukai ( sederajat yang dimaksud adalah sama sama bukan orang yang berhak melukai, misal sesama rakyat)

Hukuman penganiayaan bisa dengan qisas, tetapi harus benar benar diukur, tidak boleh kurang atau lebih, jika tidak bisa diukur bisa dialihkan ke denda atau takzir. Apabila tidak sengaja hukumannya bisa lebih ringan

Yang digunakan sebagai indikator sengaja atau tidak sengaja adalah sebab akibat, Antara sebab akibat harus terbukti keduanya. Jika hanya salah satu yang terpenuhi maka belum bisa menentukan hukum.
Sengaja atau tidak sengaja bisa dilihat dari niat, niat letaknya dihati yang tidak bisa dilihat, jinayah ini membutuh kan bukti yang bisa dilihat untuk menentukan hukuman bagi pelaku.

Islam menawarkan 2 hal penyelesaian sebuah persoalan
Non litigasi, Mediasi melalui perantara ( lebih dikedepankan karena menurut Nabi penghukum lebih baik keliru memberikan maaf dibandingkan keliru memberikan hukuman) maupun Litigasi melalui pengadilan

Contoh  persoalan  masalah: apakah dengan sengaja menanam ganja dan menjualnya dikemudian hari apakah termasuk dalam jinayah? Atau termasuk pelanggaran atau pembangkangan terhadap negara

Jawab

Pembangkangan terhadap negara itu berarti pemberontakan atau mengaangkat senjata sehingga bukan termasuk. Tetapi penanaman ganja ini juga termasuk pelanggaran hal ini masuk kedalam jarimah takdzir. Karena dalam jarimah takzir ini adalah kejahatan yang tidak termasuk ke dalam hudud dan qisas

Zakat Pertanian dalam Konteks Fikih di Indonesia

IMG-20200602-WA0052

Nishab Zakat Pertanian dalam Konteks Fikih di Indonesia

Oleh Zen Amir Hidayat
Peneliti Muda Centre of Fiqh Nusantara

Kegelisahan Akademik
Dalam Bahasa Arab, kata zakat menentapkan kata dasar (mashdar) dari “zakka” yang berarti suci, berkah, tumbuh, kebaikan, dan terpuji. Bentuk derivatif beserta makna-makna banyaknya banyak tertuang dalam firman Allah. Lafal “az-zakah” dalam Al-Qur’an disebutkan sebanyak 30 kali, 8 kali diantaranya disebutkan dalam surah makkiyah. Lafal yang bermakana zakat kadang juga datang dalam bentuk lafal “shadaqah” seperti dalam surah Ar-Taubah ayat 60 (Ainah Abdullah: 2015). Zakat adalah salah satu rukun islam dan menjadi satu-satunya rukun yang mempunyai dua sisi dimensi yaitu vertikal dan horizontal. Ibadah zakat tidak hanya berhubungan dengan amal ibadah mahdhah saja melainkan zakat ini mencerminkan amal sosial dengan masyarakat luas dengan tujuan mewujudkan keadilan sosial dalam upaya memberantas kemiskinan. Dalam pengertian umum zakat berarti penambahan dan pertumbuhan. Melalui pengertian ini kita dapat mengembangkan beberapa cabang zakat menyesuaikan dengan kebutuhan yang sedang dihadapi, seperti halnya zakat harta kekayaan. Kita mendapati dalam Al-Qur’an bagaimana zakat digunakan secara cermat dan akurat dengan tidak membatasi jumlah dan tata cara pengumpulanya. Dapat kita temui dalam kitab-kitab klasik yang menyebutkan beberapa takaran zakat yang perlu dibayarkan saat sudah memenuhi kriterianya (Muhammad Syahrur: 2007).
Ada beberapa macam zakat yang kita kenal, salah satunya adalah zakat pertanian. Adapun Zakat pertanian dalam bahasa arab sering disebut dengan istilah az-zuru’ wa ats-tsimar (tanaman dan buah-buahan), atau al-Nabit au al-kharij min al-ardh (yang tumbuh dan keluar dari bumi) yaitu zakat hasil bumi yang berupa biji-bijian, sayur-sayuran dan buah-buahan sesuai yang ditetapkan dalam Al-Qur’an, Sunnah, dan Ijma’ Ulama’. Zakat pertanian adalah salah jenis zakat yang memiliki sebuah tuntutan langsung dari Al-Qur’an dan Hadits Nabi yaitu surah al-An’am ayat 141, Al Quthubi dalam kitab tafsirnya menyebutkan sebagian besar para ulama’ menafsirkan lafal “khaqah” dalam ayat tersebut adalah zakah al-munfaridhah yaitu hasil pertanian yang wajib dikeluarkan zakat (Muhammad Syahrur: 2007)
Tolok ukur yang digunakan oleh ulama’ klasik dalam menentukan kadar zakat pertanian yaitu dengan cara bagaimana seorang petani mendapatkan air untuk mengairi tanamanya. Perolehan air melalui hujan atau salju, sungai, pengairan yang mengairi lahan dan tidak memerlukan alat untuk mengairinya dan lahan subur yang tidak memerlukan pengairan atau penyiraman, kadar pengeluaran zakat dan biaya, maka kadar zakatnya adalah 5%. Apabila sesekali memakai tadah hujan dan pengairan sungai juga sesekali membutuhkan usaha dan alat, maka dikeluarkan 7,5% jika seimbang. Apabila tidak, maka dikeluarkan kadar yang lebih besar dipakai adalah 10% untuk kehati-hatian. Melihat realita yang dialami oleh para petani, takaran diatas kurang relevan jika diterapkan di Indonesia. Petani di Indonesia saat bertani tidaklah cukup hanya mengandalakan dengan air saja, ada beberapa kebutuhan lagi untuk merawat tanamanya seperti pupuk dan penyemprotan hama guna mendapatkan hasil panen yang baik. Berangkat dari realita sosial yang berhubungan dengan aspek hukum seyogyanya kita tidak boleh ber-taqlid buta dan berfikir obyektif atau hanya berfikir subyektif, yang perlu kita terapkan dalam dalam sebuah pola berfikir yaitu berfikir secara konseptual.
Padahal Al-Qur’an tidak hanya berisi aturan-aturan hidup saja, dalam kandungan Al-Qur’an juga mencakup bagaimana menata atau mengorganisasikan kehidupan. Maka dari itu memahami Al-Qur’an tidak cukup memahami dari teksnya saja tapi disisi lain juga perlu memahami sisi enkulturasinya sebagai solusi masalah sosial waktu itu. Pada saat Al-Qur’an diturunkan dikalangan masyarakat Arab saat itu adalah model bagi tatanan ideal yang kemudian ditransformasikan Nabi ke dalam sistem sosial masyarakat (Ali Shadiqin: 2008) Allah menjadikan bagi setiap umat satu syari’at tersendiri yang sesuai dengan kondisi dan tingkat pemahaman dan peradaban mereka. Apa baik dalam satu zaman belum tentu baik untuk zaman yang lain, apa yang cocok untuk satu kaum belum tentu baik untuk kaum lain. Oleh karena itu, syariat beragama sesuai dengan keberagaman kaum, zaman, dan geografisnya. Allah membagi-bagikan syariat pada masing-masing kaum dengan kuasa dan iradah Allah, aturan ini baik bagi kaum, zaman, dan tempat tertentu dan sangat sesuai dengan tabiat penganutnya (Rasyad Hasan: 2009)

Pijakan Normatif
Bukhari meriwayatkan dari sumber Ibn Umar dari Nabi SAW “ Yang diairi oleh hujan atau mata air, atau merupakan rawa (‘Usariy), zakatnya sepersepuluh, dan yang diairi dengan bantuan binatang (nadzh), zakatnya seperdua puluh. ‘Usariy, menurut Azhari dan lainnya, adalah tanah yang mendapat air dari banjir, lalu terbentuklah genangan air, hampir sama dengan anak sungai yang digali untuk mengalirkan air ke semestinya. Dinamakan demikian oleh karena banjir yang mengalir disitu tidak terjadi atas usaha manusia. Sedangkan nadzh adalah usaha pengairan dengan bantuan saniya, yaitu lembu untuk mengambil air dari sumur (Al-Talkhis: 180)
Muslim meriwayatkan dari sumber Jabir dari Nabi SAW.
حَدَّثَنِي أَبُو الطَّاهِرِ أَحْمَدُ بْنُ عَمْرِو بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ سَرْحٍ وَهَارُونُ بْنُ سَعِيدٍ الْأَيْلِيُّ وَعَمْرُو بْنُ سَوَّادٍ وَالْوَلِيدُ بْنُ شُجَاعٍ كُلُّهُمْ عَنْ ابْنِ وَهْبٍ قَالَ أَبُو الطَّاهِرِ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ وَهْبٍ عَنْ عَمْرِو بْنِ الْحَارِثِ أَنَّ أَبَا الزُّبَيْرِ حَدَّثَهُ أَنَّهُ سَمِعَ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ يَذْكُرُ أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فِيمَا سَقَتْ الْأَنْهَارُ وَالْغَيْمُ الْعُشُورُ وَفِيمَا سُقِيَ بِالسَّانِيَةِ نِصْفُ الْعُشْرِ
Artinya: Telah menceritakan kepada kami (Abu Thahir Ahmad bin Amru bin Abdullah bin Amru bin Sarh) dan (Harun bin Sa’id Al Aili) dan (Amru bin Sawwad) dan (Al Walid bin Syuja’) semuanya dari (Ibnu Wahb) – (Abu Thahir) berkata- telah mengabarkan kepada kami (Abdullah bin Wahb) dari (Amru bin Harits) bahwa (Abu Zubair) telah menceritakan kepadanya, bahwa saya mendengar (Jabir bin Abdullah) menyebutkan bahwa ia mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tanaman yang mendapat air sungai dan tadah hujan, zakatnya sepersepuluh. Dan tanaman yang mendapat air dengan cara usaha, seperti dengan kincir air dan sebagainya, zakatnya seperduapuluh.(Sahih Muslim)
Dalam al-Mughni disbutkan, ”Ringkasan tanah yang diairi dengan usaha pengairan, misalnya dengan bantuan binatang, timba, kincir atau lain-lainnya, maka zakatnya 10%. Sedangkan yang diairi tanpa usaha pengairan, makazakatnya 5%, sesuai dengan hadist-hadist yang kita temui. Hal itu oleh karena adanya usaha itu menggugurkan kewajiban membayar sejumlah zakat karena alasan biaya, yang berarti cukup beralasan bila diberikeringanan. Dan juga oleh karena zakat hanya wajib atas kekayaan yang berkembang, sedangkan usaha pengairan itu mengakibatkan perkembangan itu berkurang, yang oleh karena itu kewajiban yang harus dibayarkan berkurang pula. Termasuk ke dalam kategori usaha pengairan itu pembelian air untuk tanah atau ladiang, menurut pendapat Nawawi dan lain-lain. (Ibn Qudamah: 2006)
Tanah yang dalam Setahun diairi dengan Usaha Pengairan dan Tanpa Usaha Pengairan :
Bila tanaman setengah tahun diairi dengan usaha pengairan tetapi setengah tahun lagi tanpa usaha pengairan, maka zakatnya 15%. Ibnu Qudama mengatakan “ Kita tidak mendengar ada yang tidak setuju, oleh karena apa bila salah satu berlaku dalam sepanjang tahun akan menimbulkan akibat hukum penuh, tetapi bila berlaku separuhakan menimbulkan akibat hukum separuh pula.
Bila salah satu lebih banyak dari yang lain, maka dihitung usaha apa yang lebih banyak itu, lalu akan mengakibat kankonsekuensi hukum besar zakatya sesuai dengan usaha yang lebih banyakitu. Hal itu menurut pendapat ‘Atha, Tsauri, Abu Hanifah, pendapat Syafi’i dalam salah satu periode ,dan lebih dipercaya menurut madzab Hanbali. (Ibn Qudamah: 2006)
Bila tidak bisa diketahui upaya mana yang lebih besar, diairi atau tidak diairi, maka yang dimenangkan adalah kewajiban membayar zakat sebesar 10% karena alasan untuk lebih hati-hati. Hal itu oleh karena kewajiban asal adalah membayar 10% sedangkan pengguguran 10% itu hanyalah karena adanya upaya pengairan yang sengaja, yang berdasarkan itu bila pengguguran itu tidak terjadi, maka yang berlaku adalah hukum asal. Dan juga oleh karena hukum asal itu sesungguhnya adalah tiadanya upaya yang sengaja itu pada banyak hal, yang oleh karena itu adanya upaya itu tidak usah dipertimbangkan bila terdapat keragu-raguan.
Usaha Berat Pengairan Timbul persoalan apabila pengairan itu memerlukan pekerjaan-pekerjaan besar yang tidak bisa dikerjakan dengan alat-alat biasa, seperti pembuatan waduk-waduk dan saluran-saluran sekunder dan tersiernya. Dalam hal ini al-Mughni mengatakan bahwa penggalian parit-parit dan pembuatan waduk-waduk itu tidak mengurang ibesar zakat. Alasanny adalah bahwa usaha itu termasuk kedalam usaha perawatan tanah yang tidak dikerjakan setiap tahun. Rafi’i dalam asy-syarh al-kabir berpendapat yang sama dan mengambil alasan bahwa pekerjaan tambahan membuat saluran-saluran itu termasuk kedalam usaha perbaikan tanah yang tidak baik. Oleh karena itu apabila air mengalir kembali secara wajar kepada tanaman-tanaman itu, maka zakatnya tetap 10%. Hal itu berbeda apabila pengairannya dilakukan dengan bantuan alat-alat penyiram dan sebagainya.
Imam Khattabi menguraikan lebih jelas, Bila tanaman memperoleh air dari saluran-saluran, maka secara analogi hal itu harus dipertimbangkan. Artinya apabila beban pekerjaan tidak lebih banyak dari beban penggalian pertama dan penyebaran air pada saat-saat tertentu, maka kedudukannya sama dengan kedudukan sungai yang wajib zakat sebesar 10%. Tetapi bila beban pekerjaan lebih banyak, yaitu saluran itu selalu rusak yang menyebabkan air banyak hilang dan oleh karena itu penggalian harus dilakukan lagi, maka kedudukannya dalam hal ini sama dengan air sumur yang perlu dikeluarkan dengan bantuan binatang dan sebagainya. Pendapat ini diikuti oleh sebagian ulama’ madzab Syafi’i, menurut yang dilaporkan Rafi’i dalam asy-Syarh al-Kabir.
Pemaparan diatas menunjukan besaran zakat yang dibayarkan menurut beberapa ulama’ klasik. Memasuki zaman kontemporer ini terjadi problematika hukum, karena memang sebuah pembaharuan hukum saat ini sangat diperlukan untuk menjawab segala problematika hukum yang bermunculan dalam masyarakat. Dulu sebelum Rasulullah wafat, apabila terjadi sebuah problematika hukum, maka beliau akan menjadi sebagai figur otoratif untuk menjawab problem-problem hukum yang bermunculan. Hukum yang muncul dalam era kontemporer ini bermunculan sangat berfariatif, dan hukum-hukum yang bermunculan juga yang belum tentu terjadi pada zamanya. Hal ini bisa digaris bawahai bahwa pada era kontemporer ini sangatlah dibutuhkanya pembeharuan hukum.
Sebenarnya pada masa Sahabat sudah dicontohkan oleh beberapa sahabat, Umar bin Khatab, diaman beliau menetapkan zakat kuda yang ketika pada zaman Rasullah tidak ditemui, hal ini dimunculkan karena adanya sebuah perubahan keadaan sosial yang terjadi dalam masyarakat pada saat itu. Pada masa Sahabat sudah terjadi sebuah pembaharuan hukum, hal ini menunjukan bahwa hukum syari’ah yang berkembang adalah sebagai respon terhadap tantangan dan problematika yangterjadi dalam masyarakat. Dapat dikatakan bahwa hukum syari’ah itu bersifat fleksibel atau dinamis dan bukan transendental, karena itu hukum harus diterapkan secara kreatif dalam berbagai kondisi yang berubah.

Analisis Zakat Pertanian di Indonesia
Indonesia memiliki iklim tropis, tanahnya banyak yang humus dan gabut dengan ini penyerapan air sangat baik, pastinya sangat cocok untuk bertani, bahkan profesi sebagai petani tersebar di setiap daerah. Kondisi tanah di Indonesia sangatlah subur dan ada juga yang mengandung vulkanik, sehingga bisa ditanami tumbuhan berbagai jenis. Dengan kondisi tanah yang subur, pastinya sangat membantu para petani dalam bercocok tanam.
Setelah saya cermati, ada beberapa yang berbeda dalam penentuan ulama’ klasik dengan apa yang sedang dihadapi oleh para petani di Indonesia. Saat bercocok tanam, para petani tidak hanya bertompang pada air saja tapi ada beberapa usaha lagi yang dilakukan oleh petani seperti pupuk dan penyemprotan hama. Dengan kata lain usaha yang dikeluarkan bertambah dan hal ini belum dibahas oleh ulama’ klasik, lantas kadar pembayaran zakat apakah bisa disamakan dengan apa yang sudah dijelaskan oleh ulama’ klasik?, tentu jawaban saya tidak, karena pemahan secara tekstual belum bisa mengungkap makna dibalik teks, perlu ada beberapa pendekatan agar mempermudah mengungkap makna tersebut. Yang terpenting dalam hal ini adalah fakta historis teks tersebut (Coulson: 113)
Pemaparan ulama’ klasik dalam menentukan besaran zakat yang dibayarkan bertolak pada besar usaha yang dikeluarkan oleh para petani. Lantas seberapa besar yang kiranya relevan dalam pertanian di Indonesia? Sebagai upaya mengkontekstualisasikan hukum di Indonesia, penulis merinci sebagai berikut untuk tanah seluas 100 ru:
Benih 5 kg dengan harga Rp.60.000  kemudian di bajak kemudian denganRdengan anggaran 250.000, lalu rigasi ketika penanaman padi, kurang lebih 10 jam yang dibutuhkan, dan per-jamnya adalah Rp. 25.000 sehingga total nya Rp. 250.000, ditambah upah 7 orang penanam padi, per-orangnya Rp.30.000 menjadi Rp.210.000 kemudian Pupuk poska 1 sak (karung) Rp.115.000,Pupuk 2 sak (karung), per-karungnya Rp.70.000 menjadi Rp.140.000 Obatsemprot untuk daya tahan padi adalah Rp.200.000, pengairan 2 kali dalam kurun waktu 3 bulan adalah Rp.600.000, ditambah pupuk Urea sebagai pupuk pertama setelah penanaman padi 1 sak  Rp.98.000, maka ditemukan  total keseluruhan adalah Rp.1.923.000

Berdasarkan daftar keperluan pertanian di Indonesia diatas, dalam tulisan ini penulis menawarkan kadar zakat yang awalnya 5% dirubah menjadi 3% dan yang 10% menjadi 8%. Tulisan ini beranggapan bahwa penentuan zakat yang 5% dan 10% itu karena usaha para petani yang dikeluarkan pada saat itu. Berpedoman pada hadits-hadits yang telah disebutkan, dimana hanya fokus kepada cara perolehan “kadar air” untuk mengairi pertanian dan perolehan kadar air ini dianggap sebagai bentuk usaha pertanian. Berbeda dengan konteks di Indonesia, yang mana usaha pertanian tidak hanya membutuhkan air, masih ada banyak lagi kebutuhan-kebutuhan selain air, maka dari itu pengurangan kadar zakat yang awalnya 10% dan 5% menjadi 8% dan 3% yaitu beranggapan bahwa usaha yang dikeluarkan petani juga bertambah kecuali air seperti pupuk, biaya penyemprotan hama, dan lain sebagainya.

 

Kewajiban zakat di Tengah Pandemi Covid-19

 

Cfinus

 Kewajiban Zakat di Tengah Pandemi Covid-19

Zakat adalah shodaqoh wajib yang dilakukan pada bulan ramadhan sampai sebelum sholat idul fitri dilakukan. Kewajiban zakat fitrah sesuai hadis Rasul dalam bentuk makanan pokok, makanan yang mengenyangkan dan dikonsumsi sehari-hari. Hanya Hanafiyah yang berpendapat bahwa zakat fitrah boleh dibayarkan dengan uang yang setara dan senilai dengan kadar zakat. Pendapat ini juga dirujuk oleh Wahbah al zuhaily dan Yusuf Qardhawy dengan alasan bahwa saat ini hal tersebut lebih memudahkan mustahiq dalam membelanjakan dan memenuhi tujuan dasar zakat fitrah agar fuqara’ tidak kelaparan dan meminta-minta pada hari raya.

عن ابن عباس رضي الله عنهما قال: فرض رسول الله صلى الله عليه وسلم صدقة الفطر طهرة للصائم من اللغو والرفث طعمة للمساكين فمن اداها قبل الصلاة فهى زكاة مقبولة, ومن اداها بعد الصلاة فهى صدقة من الصدقات

Dari Ibnu Abbas ra. berkata: Rasulullah saw mewajibkan zakat fitrah untuk menyucikan orang yang berpuasa dari perbuatan yang tidak berguna dan ucapan kotor, serta untuk memberikan makanan orang miskin. Maka barang siapa mengeluarkan zakat sebelum shalat id maka itulah zakat fitrah yang terqabul, dan barang siapa yang memberika zakat setelah shalat id maka itu termasuk shadaqah.

Kadar zakat fitrah adalah 2.176 kg dalam bentuk makanan pokok. Jika berupa uang maka Nominal uang yang dibayarkan sebagai zakat harus setara dengan kadar zakat fitrah. Jika beras yang dikonsumsi harian seharga Rp 10.000,- , 2,5kgxRp 10.000,-=Rp 30.000,- Jangan membayar zakat dengan nilai beras yang kualitasnya di bawah beras yang sehari-hari dikonsumsi. Melebihi kualitas beras yang dikonsumsi sehari-hari jelas lebih utama.

Prinsip dasar zakat sebagaimana diajarkan Rasul adalah dari dan untuk penduduk setempat.

نابن عباسٍ رضي الله عنهما: أنَّ النبي ﷺ بعث معاذًا إلى اليمن .. فذكر الحديثَ, وفيه: أنَّ الله قد افترض عليهم صدقةً في أموالهم, تُؤْخَذ من أغنيائهم, فتُرَدُّ في فُقرائهم.

Jika memang di daerah tsb sudah tidak ada yang membutuhkan, maka zakat bisa dialihkan ke luar daerah yang membutuhkan, dan ini adalah tanggung jawab amil. Pemerataan dalam penyaluran zakat adalah tugas berat dan bisa sukses jika didukung database mustahik, apakah berbentuk konsumtif atau produktif. Saat ini penyaluran zakat yang dilakukan Lembaga Pengelola Zakat baik BAZNAS maupun LAZ bisa menjadi alternatif dan pilihan. Mustahik tidak harus antri untuk mendapatkan bagian, tapi LPZ yang pro aktif menyalurkan kepada mustahik.

Penyaluran zakat dalam bentuk perlengkapan penanggulangan Covid 19 adalah dibenarkan, mengingat petunjuk yang diberikan nash bersifat umum, kategori mustahik bukan dalam bentuk individu. (Red)

 

 

 

Klasifikasi Najis dalam Konteks Fikih di Indonesia

Rab_6_05_2020_11_03_08

Oleh:  Joko Purnomo

Moderator:  Alfinta Mazida

Klasifikasi Najis dalam Konteks Fikih di Indonesia

Najis merupakan turunan dari kata najisa – yanjisu – najsan atau semakna dengan al-qadzarah, yang berarti sesuatu yang kotor. Istilah najis, menurut Dr. Abdul azim Al Badawi Najis merupakan segala sesuatu yang dianggap kotor oleh orang-orang yang masih memiliki tabiat yang baik, lalu menjaga dirinya dari kotoran tersebut, membersihkan pakaianya apabila terkena kotoran itu. Dalam surah Al-an’am : 145 , dapat di simpulkan bahwa segala sesuatu yang haram tidaklah boleh untuk di makan , antara lain Bangkai , darah yang mengalir, daging babi . karena dari hal tersebut mengandung kotoran. Maksud daripada bangkai di atas , mengutip ceramah dari Buya Yahya yang dimaksud bangkai disini adalah ketika di sembelih tidak menyebut dengan asma Allah atau tidak di lakukan penyembelihan secara syar’i . Kaitanya dengan bangkai ada pengecualian dimana walaupun ia telah mati dan matinya karena bukan penyembelihan serta tidak menggunakan Asma Allah, bangkai tersebut masih dapat dikonsumsi dan suci, yaitu bangkai ikan dan belalang .

Melihat dari pendapat ulama 4 Madzhab, mengenai najis

1. Madzhab Hanafi Menurut, Imam al-Kasani : Najis adalah sebutan untuk benda yang dianggap jijik. Dimana najis ada yang berwujud dan hakiki, ada pula yang hukmi. Namun secara umum yang di fahami sebagai najis adalah hal ada wujud bendanya saja. Imam Ibnu abidin, menyebutkan bahwa dari najis yang hakiki dan hukmi tersebut, meniscayakan pemahaman bahwa najis hakiki adalah sesuatu yang kotor atau al-khatabs. Sedangkan najis yang hukmi adalah al-hadats. Keduanya sama-sama “sesuatu yang kotor” namun yang satu berwujud (hakiki), yang satunya sifatnya tidak (hukmi)

2. Madzhab Maliki – Dalam madzhab maliki, sebagaimana yang dicatat oleh K.H Mustafa Yaqub, imam malik dalam kitabnya al-mudawwanah al-Kubra tidak banyak membahas terkait definisi najis.

3. Madzhab Syafi’I dan Madzhab Hambali Mengutip pendapat Imam Zakariya al-Anshari, dalam kitab Asnal Mathalib ;

بِكُلِّ عَيْنٍ حَرُمَ تَنَاوُلُهَا مُطْلَقًا فِي حَالَةِ الِاخْتِيَارِ مَعَ سُهُولَةِ تَمْيِيزِهَا، وَإِمْكَانِ تَنَاوُلِهَا لَا لِحُرْمَتِهَا، وَلَا لِاسْتِقْذَارِهَا، وَلَا لِضَرَرِهَا فِي بَدَنٍ أَوْ عَقْلٍ

“setiap benda yang haram dikonsumsi secara mutlak dalam keadaan ikhtiyar (tidak terdesak dan bebas), mudah dibedakan wujudnya, dapat dipergunakan, tidak dimuliakan, tidak dianggap jijik, serta bukan karena sebab berbahaya bagi tubuh dan pikira”

Mengenai macam2 najis, mengutip dari kitab _safitun najah_ ada dua macam najis, yaitu :

1. Najis hakikiyah atau ‘ainiyyah Merupakan najis yang dapat menghalangi shalat, serta najis ini selamanya tidak bisa menjadi suci Contoh : (air kencing, kotoran hewan)

2. Najis Hukmiyyah atau ma’nawiyyah Merupakan keadaan seseorang yang tidak suci sehingga dapat menghalangi ia untuk shalat, serta perlunya ia untuk berwudhu atau mandi . Contoh : buang angin

Mengenai bagian-bagian najis Hal ini di dasarkan atas klasifikasi tingkat kesulitan dalam menyucikanya, najis di bagi menjadi 3 bagian ;

1. Najis Mukhafafah (ringan) Contoh (air kencing anak yang berusia di bawah umur dua tahun, dan belum minum atau makan, kecuali air susu ibunya (ASI) – Cara pembersihanya, dengan cara memercikkan air ke tempat yang terkena najis.

2. Najis mutawasithah (sedang) Contoh : kotoran ayam yang ada dilantai/teras rumah – cara mensucikan dengan cara menghilangkan dulu najis ‘ainiyah nya (hingga hilang bau, rasa dan warna) kemudian menyiram tempat nya dengan air suci yang mesucikan

3. Najis Mugholadoh (berat) Contoh : najis anjing/babi Cara mensucikan nya dengan cara membasuh dengan air sebanyak tujuh kali dan diantara basuhan nya salah satunya di campuri dengan debu.

Di lain arti najis itu sendiri adalah kotor. Kotor juga memiliki makna yang lebih awam untuk di kenal di kalangan masyarakat .Dalam Bahasa arab, kotor di sebut kodzar  ( قذر ) , dalam al-qur’an surah Al- An’am kotor di istilahkan dengan rijsun  ( رجس ) .Di dalam KBBI kotor bermakna “tidak bersih atau terkena noda”Atau di dalam istilah kotor adalah keadaan yang tidak bersih baik tempat, pakaian, badan ataupun benda. Contoh : Baju yang terkena lumpur, terkena bekas makanan atau sampah yang berserakan . Baik najis ataupun kotor sama-sama harus dibersihkan apabila akan melaksanakan sholat . Karena bersih merupakan sebagian dari pada syarat sah sholat (baik bersih dari najis, hadats, ataupun kotoran)

Jika dilihat dari asal muasalnya kotor, terbagi menjadi dua :

1. Kotor berasal dari benda suci Contoh : baju terkena makanan Artinya adalah kotor tersebut tetap menimbulkan kesucian

2. Kotor berasal dari benda najis Contoh : pakaian yang terkena darah. Artinya kotor tersebut telah ditimbulkan karena terkena najis dan perlu dibersihkan sebagai mana cara membersihkan najis itu sendiri .

Pendapat Syekh Zainuddin Al-Malibari dalam kitab Fathul Mu’in, menjelaskan bahwa :

وَنَقَلَ فِي الْجَوَاهِرِ عَنِ الْأَصْحَابِ لَا يَجُوْزُ أَكْلُ سَمَكٍ مُلِحَ وَلَمْ يُنْزَعْ مَا فِيْ جَوْفِهِ أَيْ مِنَ الْمُسْتَقْذَرَاتِ وَظَاهِرُهُ لَا فَرْقَ بَيْنَ كَبِيْرِهِ وَصَغِيْرِهِ لَكِنْ ذَكَرَ الشَّيْخَانِ جَوَازَ أَكْلِ الصَّغِيْرِ مَعَ مَا فِيْ جَوْفِهِ لِعُسْرِ تَنْقِيَّةِ مَا فِيْهِ

“Al-Qamuli dalam kitab Al-jawahir mengutip dari kalangan syafi’I bahwa tidak diperbolehkan mengonsumsi ikan asin yang tidak dibersihkan kotoran-kotoran di dalamnya. Zhahir dari kutipan Al-Qamuli ini membedakan antara ikan besar dan kecil. Tetapi dua guru besar madzhab syafi’I (al-Nawawi dan Ar-Rafi’I) menyebutkan, diperbolehkan mengonsumsi ikan kecil beserta kotoran di dalam perunya, sebab sulitnya membersihkan kotoran tersebut”

Pendapat Syekh Ahmad bin Umar As-Syathiri dalam Syarah Bughyatul Mustarsyidin juz 1, menjelaskan bahwa :

وَقَدِ اتَّفَقَ ابْنَا حَجَرٍ وَزِيَادٍ وَ م ر وَغَيْرُهُمْ عَلَى طَهَارَةِ مَا فِيْ جَوْفِ السَّمَكِ الصَّغِيْرِ مِنَ الدَّمِ وَالرَّوْثِ وَجَوَازِ أَكْلِهِ مَعَهُ وَأَنَّهُ لَا يَنْجُسُ بِهِ الدُّهْنُ بَلْ جَرَى عَلَيْهِ م ر الْكَبِيْرَ أَيْضاً (قوله في الكبير أيضا) وَاعْتَمَدَ ابْنُ حَجَرٍ وَابْنُ زِيَادٍ عَدَمَ الْعَفْوِ عَمَّا فِيْ جَوْفِهِ مِنَ الرَّوْثِ لِعَدَمِ الْمَشَقَّةِ فِي إِخْرَاجِهِ إِذَا كَانَ كَبِيْراً.

“Ibnu hajar, Ibnu Ziyad dan ar-Ramli sepakat sucinya (dalam arti ma’fu) darah dan kotoran ikan kecil dan diperbolehkan mengonsumsi ikan tersebut beserta darah dan kotoranya serta tidak dapat menajiskan minyak. Bahkan Ar-ramli memberlakukan hukum tersebut untuk ikan besar juga. Sementara ibnu hajar dan ibnu ziyad tidak menghukumi ma’fu kotoran ikan besar, sebab tidak ada masyaqqah (keberatan) dalam membersihkanya”

Kesimpulan nya adalah. Tidak terlepas dari semua pendapat bahwa kehati-hatian dalam mengolah makanan apapun harus lah bersih, baik bersih dari kotoran ataupun dari najis. Dan apabila dalam hal mengola ikan, Ketika karena ukuranya, kotoran ikan masih dapat dibersihkan maka haruslah dibersihkan. Namun apabila karena ukuranya yang kecil dan tidak dimungkinkan untuk membersihkannya, maka diperbolehkanya untuk mengkonsumsi tanpa harus menghilangkan kotoran yang ada di dalamnya .

Kesimpulannya yaitu najis merupakan sesuatu yang wajib dijauhi oleh setiap muslim dan dibersihkan, Ketika najis itu mengenai pakaian, tempat atau badannya. Dapat diartikan najis yaitu sesuatu yang kotor. Dari pernyataan tersebut maka dalam Q.S Al An’am ayat 145 bahwasanya segala sesuatu yang haram tidaklah boleh untuk di makan, antara lain bangkai, darah yang mengalir, daging babi, karena dari hal tersebut mengandung kotoran. Mengenai macam-macam najis.

Mengutip dari Kitab Safitun Najah ada dua macam najis, yaitu:

1. Najis Hakikiyah atau ‘Ainiyyah

2. Najis Hukmiyah atau Ma’nawiyyah.

Mengenai bagian-bagian najis, atas klasifikasi kesulitan dalam menyucikannya terbagi menjadi:

1. Najis Mukhafafah

2. Najis Mutawasithoh

3. Najis Mugholadah

Di lain arti najis itu sendiri adalah kotor, maka kotor merupakan keadaan yang tidak bersih baik tempat, pakaian, badan ataupun benda. Dilihat dari segi asal muasalnya, kotor dibagi menjadi dua:

1. Kotor dari benda suci, seperti pakaian terkena makanan.

2. Kotor dari benda najis, seperti pakaian terkena darah.

Baik najis maupun kotor yang berasal dari benda, hewan, ataupun makanan harus sama-sama dibersihkan, mengingat kebersihan merupakan syarat sah sholat dan agar tidak menghindari kita dalam beribadah.

Lalu kemudian bagaimana hukum ikan yang dikonsumsi apabila kotoran nya tidak dibuang? Kehati-hatian dalam mengolah makanan apapun harus lah bersih, baik bersih dari kotoran ataupun dari najis. Dan apabila dalam hal mengola ikan melihat dari sisi ukurannya, apabila kotoran ikan masih dapat dibersihkan maka haruslah dibersihkan. Namun apabila karena ukuranya yang kecil dan tidak dimungkinkan untuk membersihkannya, maka diperbolehkanya untuk mengkonsumsi tanpa harus menghilangkan kotoran yang ada di dalamnya .

(Sumber  foto: https://umma.id/article/share/id/1002/550435)

Zakat Laut dalam Prespektif Fiqih Nusantara

Sel_28_04_2020_12_14_41

Zakat Laut dalam Perspektif Fiqh Nusantara

Oleh: M. Lutfi Bastomi

Moderator: Alfina Zakiatuz Zahro

Berdasarkan etimologinya, zakat berasal dari kata (bahasa Arab):”zakkaa-yuzakki-tazkiyatan-zakaatan” yang memiliki arti bermacam-macam, yakni thaharah, namaa’(tumbuh/berkembang), barakah, atau amal sholeh. Dan menurut terminologinya, zakat merupakan bagian dari sejumlah harta tertentu di mana harta tersebut telah mencapai syarat nishab (batasan yang wajib di zakatkan), yang diwajibkan Allah SWT untuk dikeluarkan dan diberikan kepada yang berhak menerimanya dengan persyaratan tertentu pula.

Zakat merupakan kewajiban yang sudah disuratkan dalam Al-Qur’an. Dari sekian banyak ayat Al-Quran salah satu yang menerangkan kewajiban untuk zakat adalah Q.S Al Baqarah ayat 43 yang artinya “Dan dirikanlah sholat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku”.

Pada dasarnya, zakat masih dibagi lagi dalam dua jenis yakni zakat fitrah (jiwa) dan zakat mal (harta). Adapun salah satu materi yang akan kita bahas yakni zakat laut, yang mana hasil dari laut merupakan suatu harta maka hasil laut bisa dikategorikan ke dalam jenis zakat mal. Mengenai zakat mal sendiri dapat diartikan segala macam perbendaan yang dapat dimiliki (dikuasai) dan dapat dipergunakan menurut keladzimannya.

Lantas harta/kekayaan yang bagaimanakah bisa dikatakan wajib untuk di zakati. Harta atau kekayaan yang bisa dikenakan wajib untuk dizakati ketika memenuhi beberapa syarat sebagai  berikut: sudah menjadi milik sepenuhnya, harta tersebut dapat berkembang dan bertambah bila dibisniskan, harta yang telah dimilikinya telah mencapai jumlah tertentu sesuai dengan ketentuan syara’(nishab), melebihi dari kebutuhan pokok, orang yang memiliki harta terbebas dari hutang, dan dimiliki atau dikuasai selama setahun (haul).

Namun,  dalam materi ini kita tidak akan membahas tentang zakat mal secara umum melainkan akan membahas mengenai ketentuan zakat dari hasil laut yang mana para ulama’ masih pro kontra dalam memberikan pendapatnya mengenai status hukum dari zakat hasil laut dan ketentuan akan kadar nishab maupun zakat yang harus dikelaurkan pun masih mengalami perdebatan.

Sebagai negara maritime terbesar di dunia Indonesia tak heran jika memiliki kekayaan dan hasil yang melimpah di sector kelautan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik pada tahun 2017 hasil perikanan tangkap dari laut Indonesia sebanyak ±6.604.000 Ton. Ini tentu suatu hasil yang sangat melimpah. Dengan jumlah nelayan yang bekerja sebanyak ±800.000 KK. Hal ini menunjukkan betapa sentralnya perekonomian yang dihasilkan dari laut. Hal inilah pula yang menimbulkan pro kontra mengenai zakat yang harus dikeluarkan dari laut.

Berdasarkan data tersebut mari coba kita hitung bersama apakah hasil ikan laut ini bisa menimbulkan wajib zakat. Diketahui bobot ikan yang dihasilkan 6.604.000.000 kg misalkan harga 1kg ikan laut kita buat rata-rata minimal Rp. 20.000. maka coba kita kalikan berapakah total harta yang dihasilkan dari hasil menangkap ikan ini yaitu 6.604.000.000×20.000=132.080.000.000.000 dan dibagi jumlah KK yang berprofesi menjadi nelayan yakni 132.080.000.000.000:800.000=Rp. 165.100.000. Dari sinii berdasarkan data tersebut maka penghasilan nelayan per KK selama setahun mencapai Rp. 165.100.000. Nah, penghasilan tersebut apakah melebihi nishab. Coba kita hitung dengan nishab emas yakni 85 gram. Misalkan harga emas per gram saat ini Rp. 944.000 maka nishab emas senilai 85×944.000=80.240.000.

Dari perhitungan diatas dapat diketahui bahwa nishab emas Rp. 80.240.000 dan harta yang dihasilkan dari ikan Rp. 165.100.000. Maka sudah jelas telah melebihi batas dari nishab emas dan tentunya wajib untuk dizakatkan sebesar 2,5% yakni sebesar Rp. 4.127.500. Jika benar bahwa zakat laut diwajibkan maka nelayan per kk tersebut seharusnya wajib berzakat atas hasil yang ia dapatkan sebesar Rp. 4.127.500. Lantas bagaimakah pendapat ulama, mengenai ketentuan zakat hasil laut. Berikut pendapat beberapa ulama mengenai zakat hasil laut:

Tabel pendapat ulama’ mengenai status hukum zakat hasil laut:

No

Ulama’

Hukum

Alasan

1.

Abu Ubaid, Abu Hanifah, Hasan bin Sholih

Tidak wajib

Mengingat pada  zaman Rasulullah saw pun ada barang-barang yang dihasilkan dari laut, tetapi tidak satupun hadist yang diketahui membicarakan hal itu dan tidak ada seorang pun dari empat khalifah yang secara tegas memberikan kebijakan tentang itu dan dapat kita yakini dengan benar.

2.

Hasan bin Imara dari Ibni Abbas dari Umar bin Khattab

Wajib

Berdasarkan sabda dari Umar bin Khattab yang mengatakan bahwa ambar dan mutiara laut (hasil laut) wajib dikeluarkan zakatnya.

3.

Hasan Basri, Ibnu Syihab Zuhri Abd Razak, Ibnu Syaibah

Wajib

Meriwayatkan dari Umar bin Abdul Aziz bahwa ia telah memungut zakat dari ambar, dan ditambahkan oleh pendapat dari Abu Yusuf yang menyatakan bahwa  ambar dan apapun bentuk hiasan yang dikeluarkan dari laut wajib dizakatkan.

Berdasarkan tabel pendapat para ulama’ diatas mengenai status hukum dari zakat laut sendiri para ulama’ klasik masih berbeda pendapat akan status hukumnya antara wajib zakat atau tidak. Hal ini wajar memang karena pada zaman Rasul maupun sahabat tidak ditemukan dalil yang secara jelas menerangkan bahwa diwajibkan zakat dari hasil laut ataupun kebijakan-kebijakan dari empat khalifah yang mewajibkan zakat dari hasil laut. Memang pada zaman tersebut hasil laut bukanlah komoditi utama yang memiliki nilai ekonomi yang tinggi layaknya emas dan perak, pertanian, peternakan dan perdangan. Namun, masyarakat pada zaman tersebut hanya mengeksplorasi hasil laut untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari sebatas untuk makan saja. Berbeda halnya dengan kondisi sekarang. Yang mana kita ketahui bersama bahwa hasil laut sekarang memiliki nilai ekonomi yang sangat tinggi. Hal ini karena pengelolaan hasil laut yang sudah sangat baik pada masa sekarang. Dan bahkan sudah dijadikan sebagai sumber mata pencarian atau perekonomian utama bagi masyarakat pantai layaknya petani di dataran rendah. Ditambah lagi Indonesia yang memiliki wilayah laut lebih luas dari pada daratannya. Tentu saja suatu kekayaan yang sangat melimpah bilamana kekayaan laut tersebut dikelola dengan baik oleh nelayan maupun perusahaan.

Mengenai ketentuan zakat hasil laut atau perikanan sebenarnya juga telah diatur di dalam peraturan perundang-undangan di Indonesia yakni dalam pasal 4 ayat 2 huruf e UU No. 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat yang menyebutkan bahwa salah satu dari zakat mal adalah zakat perternakan dan perikanan. Jadi sebenarnya secara hukum mengenai kewajiban atau anjuran untuk berzakat di sector laut atau perikanan telah diatur didalam UU tersebut. Namun, tampaknya yang menjadi persoalan baru adalah bahwa dalam UU tersebut tidak diatur secara jelas mengenai kadar nishab dan kadar zakat yang harus  dikeluarkan padahal anjuran zakat hasil laut tersebut ada. Untuk mengisi kekosongan dalam UU tersebut. Berikut pendapat para ulama, dan penulis buku mengenai kadar nishab dan zakat yang harus dikelurkan dari hasil laut atau perikanan.

Ketentuan Nishab dan Kadar Zakat yang di Keluarkan dari Hasil Laut:

Untuk nishab dari hasil laut ini berdasarkan jenis yang dihasilkan  dari laut itu sendiri. Yang mana hasil laut bisa berupa: perikanan, tanaman, dan tambang. Dari ketiga hasil utama dari laut tersebut mengenai kadar nishab dan kadar zakat yang harus dikeluarkan pun juga berbeda. Berikut beberapa pendapat para tokoh dan ulama’ mengenai nishab dan kadar zakat yang harus dikeluarkan dari hasil laut:M

1. Ali Hasan

Dalam bukunya yang berjudul “Zakat dan Infak: Salah Satu Solusi Mengatasi Problem Sosial di Indonesia” halaman 216 bahwa M. Ali Hasan menjelaskan mengenai besaran nishab dan kadar zakat dari hasil laut sebagaimana dalam tabel berikut:

No

Jenis hasil laut

Nishab

Kadar zakat

1.

Perikanan/hewan laut

Di qiyaskan dengan nishab zakat perdagangan yakni seperti nishab emas.

2,5%

2.

Tumbuhan Laut

Di analogikan dengan nishab zakat pertanian.

10%

3.

Pertambangan Laut

Di analogikan dengan nishab ghanimah dan barang tambang yang dihasilkan dari perut bumi.

20%m

2. Imam Ahmad

Sebagaimana disebutkan dalam kitab al-mughni bahwa Imam Ahmad meriwayatkan mengenai nishab dan kadar zakat yang harus dikeluarkan dari pengolahan hasil laut. Ketika nelayan atau perusahaan mengolah hasil laut dan menangkap ikan yang kemudian hasil tersebut di jual, maka wajib dikeluarkan zakatnya. Yang ketentuannya di analogikan dengan zakat perniagaan yang mana ketika akhir tahun (mencapai haul) dan kekayaannya (modal usaha dan keuntungan bersih setalah di potong biaya-biaya atau hutang) dari hasil perikanan setara atau lebih dari nishab yakni senilai 85 gram emas maka wajib zakat dengan kadar 2,5%.

Jadi, mengenai zakat laut dalam perspektif Fiqh Nusantara dapat di simpulkan
Zakat merupakan bagian dari sejumlah harta tertentu yang telah mencapai syarat Nishab (batasan yang wajib untuk dikeluarkan zakatnya) yang di wajibkan oleh Allah SWT dan diberikan kepada orang yang berhak menerimanya dengan persyaratan tertentu pula.
Zakat masih di bagi lagi menjadi 2 jenis. Yakni zakat fitrah (jiwa) dan zakat mal (Harta). Adapun mengenai zakat yang sudah di jelaskan di atas mengenai zakat laut, yang mana hasil dari laut merupakan suatu harta.maka hasil laut dikategorikan ke dalam zakat mal.
Mengenai ketentuan zakat kelautan ini para ulama’ masih menuai perdebatan.dimana para ulama’ klasik masih berbeda pendapat mengenai status hukum nya.antara wajib dan tidak.hal Tersebut wajar.karena pada masa Rasulullah maupun sahabat tidak ada dalil yang menerangkan secara jelas yang mewajibkan zakat dari hasil laut. Pada zaman itu juga hasil laut bukan lah komoditi utama yg memiliki nilai ekonomi tinggi seperti halnya emas dan perak, pertanian, peternakan dan perdagangan.berbeda halnya dengan kondisi sekarang yang mana hasil laut memiliki nilai ekonomi yang sangat tinggi.pengelolaan hasil yang sudah sangat baik.bahkan sudah menjadi sumber utama mata pencaharian perekonomian utama bagi masyarakat yang hidup di wilayah kelautan tersebut.ditambah lagi wilayah laut di Indonesia yang sangat luas.tentu saja suatu kekayaan yang melimpah apabila dalam pengelolaan nya di lakukan dan dikembangkan dengan baik.
Mengenai zakat kelautan itu sendiri sebenarnya sudah di atur dalam perundang-undangan dalam pasal 4 ayat 2 huruf e UU No.23 Tahun 2011 tentang pengelolaan zakat. disebutkan bahwa salah satu dari zakat mal adalah zakat peternakan dan perikanan.

(Sumber Foto : https://www.google.com/search?q=hasil+laut+budidaya&safe=strict&client=ms-android-xiaomi-rev1&prmd=inmv&sxsrf=ALeKk00YJq3eNskLjxSGQsPw38ZvWZTy2A:1588049883879&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ved=2ahUKEwjk99rpqorpAhWDf30KHTDMAuMQ_AUoAXoECA4QAQ&biw=424&bih=766#imgrc=2ScZtMAvyTnIhM%3A)