LAUNCHING C-FINUs (CENTER OF FIKIH NUSANTARA)

gong pak rektorTulungagung, 24 April 2018; “Fikih tidak hanya berbicara persoalan halal haram, tetapi fikih harus memberikan solusi bagi setiap problema yang dihadapi masyarakat ” itulah kunci utama sambutan Rektor IAIN Tulungagung, Dr. H. Maftukhin, M.Ag. dalam peresmian pusat studi pertama di Fakultas Syariah dan Ilmu hukum yang terlahir dengan nama Center of fikih Nusantara, Senin, 23 April 2018 yang bertepatan dengan 7 Sya’ban 1439. Dalam sambutannya, Rektor memberikan penekanan akan pentingnya metode baru untuk menciptakan produk hukum di bumi Nusantara. Pada awal sambutannya, Rektor menjelaskan tentang adanya tiga karakter besar dalam agama Islam yaitu iman yang mengarah pada kajian tauhid dan kalam ( theology), islam yang memiliki produk hukum Islam atau fikih, dan ihsan dalam ranah kajian tasawwuf. Dari ketiga pokok ajaran agama tersebut, fikih merupakan kajian yang paling dinamis, karena pesertaproblem yang dihadapi selalu baru dan ketetapan hukumnya dapat berubah sesuai dengan tempat dan keadaan. Oleh sebab itu, fikih mampu melakukan dinamisasi keilmuan,  menyublim dengan berbagai jenis ilmu. Kolaborasi antara fikih dan ilmu kalam misalnya, dalam menyikapi seorang muslim yang masuk gereja, hal ini adalah masuk wilayah pembicaraan aqidah, namun logika fikih tampil sebagai mi’yar atau instrumen hukum. Adapun kalam atau tasawwuf adalah sebagai nilai etik. Dalam paradigma sufistik misalnya, ketika memandang posisi perempuan, mufassir manapun menyatakan laki-laki lebih unggul dari perempuan, namun hanya paradigma sufistiklah yang menyamakan derajat antara laki-laki dan perempuan karena nilai di hadapan Tuhan menurut mereka adalah sama, tergantung kualitas dan kuantitas ketaqwaanya. Oleh karena itu, fikih dapat dipahami dengan berbagai ragam sudut pandang, misalnya  sudut pandang sufi yang akan melahirkan fikih sufistik dan sudut pandang kalam yang akan melahirkan fikih kalam, serta kemurnian fikih itu sendiri.

Dalam memberikan apresiasi atas dilaunchingnya C-Finus, Rektor juga menjelaskan tentang elastisitas hukum Islam itu sendiri, jargon al ruju’ ila al- Islam wa al-sunnah adalah merupakan pengaruh dari teologi non muslim, karena semua ajaranya adalah teologi, sedangkan Islam membagi wilayah kajiannya pada hukum (al-ahkam al-’amaliyyah), keimanan (al-ahkam al-i’tiqadiyyah) serta ahlaq (al-ahkam al-khuluqiyyah). Di akhir sambutannya, Rektor memaparkan wilayah ijtihad terbagi dalam istilah ijtihad fardi (individu) dan ijtihad jama’iy yang selama ini poin kedua dipahami mayoritas orang dengan istilah ijtihad kolektif (melakukan penggalian hukum dengan jumlah atau kuantitas lebih dari satu mujtahid dari berbagai pakar yang berbeda). Menurut penjelasan rektor, ijtihad jama’i dalam situasi kontemporer saat ini dapat dipahami sebagai consorsium ilmu pengetahuan atau lebih sering dikenal dengan istilah ijtihad akademik. []

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *