TRADISI MANTEN AMBRUK

Tradisi Manten Ambruk

oleh Mufidatul Ma’rifah*

manten jawa

Setiap masyarakat  memiliki pola-pola budaya yang berbeda, diantaranya adalah masyarakat Jawa dengan budaya Jawanya yang merupakan salah satu kekayaan kultur yang dimiliki bangsa Indonesia. Kebudayaan merupakan hasil segala akal dan pikiran manusia yang terintegrasi ke dalam perilaku-perilaku masyarakat yang biasanya diwariskan secara turun temurun.

Di dalam masyarakat Jawa, terdapat nilai-nilai keluhuran dan kearifan lokal yang menjadi ciri khas masyarakatnya meskipun seiring dengan perkembangan zaman,  teknologi modern telah menyentuh dan mempengaruhi masyarakat luas, namun kebiasaan-kebiasaan yang merupakan tradisi turun menurun yang telah menjadi adat masih sukar untuk dihilangkan bahkan tidak berani untuk dilanggar.

Tradisi merupakan sesuatu yang dilakukan manusia sejak lama dan telah menjadi bagian dari suatu kelompok masyarakat tertentu. Setiap tradisi dalam masyarakat Jawa memiliki arti dan makna filosofis yang mendalam dan luhur, salah satunya adalah tradisi di dalam pernikahan khususnya yang berkaitan dengan prosesi upacara atau ritual pra perkawinan dan saat perkawinan berlangsung. Dalam tradisi masyarakat Jawa, terdapat beberapa istilah yang berkaitan dengan upacara perkawinan, diantaranya; kawin gantung, kawin keris, kawin di depan peti mati, ngarang wulu dan lain sebagainya.

Seperti yang dijumpai di desa Tiron yang terletak di kabupaten Kediri, terdapat sebuah tradisi unik yang bernama Manten Ambruk. Menurut masyarakat setempat, tradisi manten ambruk adalah tradisi yang dilakukan sebelum pernikahan dilaksanakan atau sebelum terjadinya ijab qabul yang sah, yang mana setelah seorang laki-laki melakukan pinangan dan mendapat jawaban setuju dari seorang gadis yang dipinangnya, calon pengantin laki-laki akan melakukan Ambruk (tinggal bersama) dengan calon pengantin wanita dan keluarga dari calon pengantin wanita. Untuk waktu tinggal bersama tergantung kesepakatan kedua belah pihak.

Menurut masyarakat setempat, tradisi Manten Ambruk memiliki dua tujuan, pertama; agar calon pengantin laki-laki bisa lebih akrab dengan keluarga dari calon pengantin perempuan, kedua; calon pengantin laki-laki membantu bekerja calon mertuanya dengan harapan agar calon mertua mengetahui seberapa besar rasa tanggung jawab calon menantunya tersebut terhadap anak perempuannya. Akan tetapi tidak tidak semua masyarakat desa Tiron mengerti akan tradisi ini dan tidak semua masyarakat desa Tiron melakukannya, tergantung pada kepercayaan dari setiap individunya.

Jika dilihat dari paradigma hukum Islam, menurut analisa penulis, tradisi Manten Ambruk telah menyimpang dengan argumentasi bahwa di dalam fikih Islam, seorang laki-laki  yang telah melakukan khitbah mempunyai batasan-batasan yang harus ditaati di dalam relasinya dengan wanita yang ia khitbah. Mayoritas Fuqoha’ seperti Imam Malik, al-Syafi’i, dan Ahmad dalam salah satu pendapatnya  mengatakan bahwa anggota tubuh wanita terpinang yang boleh dilihat hanyalah wajah dan kedua telapak tangan.  Adapun dalil mereka adalah firman Allah SWT dalam surat An-nur ayat 31:

وَلأ يُبْدِ يْنَ زِيْنَتَهُنَّ أِلأَّ مَا ظَهَرَ مِنْهَا

Dan janganlah menampakkan perhiasan (auratnya), kecuali apa yang biasa terlihat darinnya.

Sementara dalam tradisi manten ambruk, seorang laki-laki yang sudah melakukan pinangan diharuskan melakukan ambruk atau tinggal bersama dengan wanita yang ia pinang. Jadi tradisi ini telah menyalahi batasan yang telah ditetapkan syariat tentang relasi antara khatib dan makhtubah. Dalam beberapa hadist, Nabi juga menunjukkan batas-batas pergaulan antara laki-laki dan wanita yang bukan mahramnya. adapun salah satu hadist tersebut adalah:

وَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسِ رَضِ اللهُ عَنْهُمَا، أَنَّ رَسُوْلُ اللهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قاَلَ: لاَ يَخْلُوُنَّ أَحَدُكُمْ ياِمْرَاةٍ إِلَّا مَعَ ذَيِ مَحْرَمِ. (رواه البخاري ومسلم)

Dari ibnu Abbas RA, Bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: “Janganlah sekali-kali salah seorang di antara kalian berkhalwat (berduaan) dengan perempuan lain, kecuali disertai muhrimnya”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Esensi hadist di atas adalah adanya larangan berduaan antara wanita dan laki-laki yang tidak memiliki hubungan mahram. Khalwat adalah perbuatan yang dilakukan dua orang yang berlawanan jenis atau lebih, tanpa ikatan nikah atau bukan muhrim pada tempat tertentu yang sepi yang memungkinkan terjadinya perbuatan maksiat di bidang seksual atau yang berpeluang pada terjadinya perbuatan perzinaan.

Adapun kasus pada tradisi manten ambruk yang mengharuskan laki-laki dan wanita yang belum memiliki ikatan perkawinan untuk tinggal serumah dapat dikategorikan sebagai ‘urf  fasid, yang artinya adat istiadat yang bertentangan dengan nash-nash Al-Qur’an maupun Hadist meskipun di dalam tradisi manten ambruk terdapat tujuan baik, yaitu membantu pekerjaan calon mertua dan menanamkan rasa tanggung jawab pada calon mempelai laki-laki. Maka dari itu, dapat dikatakan bahwa tradisi ini bertentangan dengan ajaran Islam.[]

*Penulis adalah mahasiswa IAIN Tulungagung semester 8 di Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum  jurusan Hukum Keluarga Islam

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *