Dilema bitcoin: antara judi, fiktif, dan haram dalam perspektif fikih muamalah indonesia

cfinus

DILEMA BITCOIN: ANTARA JUDI, FIKTIF DAN HARAM DALAM PERSPEKTIF FIQIH MUAMALAH INDONESIA

(Diskusi Isu-Isu Aktual Peneliti Center of Fikih Nusantara (C-Finus)

Selasa, 25 Februari 2020

Pemateri:  Ibnu sholikin

Moderator:  Nur Fizanah

Bitcoin muncul  pada bulan Januari 2009,  Satoshi Nakamoto meluncurkan kode open source yang merupakan perangkat lunak Bitcoin.  Mata uang ini seperti layaknya Dolar, Pound Sterling, Rupiah, ataupun mata uang lainnya, akan tetapi hanya ada di dunia digital. Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat periode 2015-2020, KH Cholil Nafis.sebagian ulama mengatakan bahwa Bitcoin sama dengan uang karena menjadi alat tukar yang diterima oleh masyarakat umum, standar nilai dan alat saving. Namun ulama lain menolaknya sebagai pengakuan masyarakat umum karena masih banyak negara yang menolaknya.”

Apa yang diungkapkan KH Cholil memang ada benarnya. Tidak hanya  di Indonesia, di luar negeri pun kehadiran Bitcoin masih memicu perdebatan. Mulai dari politikus, kalangan perbankan, pengusaha hingga petinggi perusahaan teknologi ternama dunia, ramai-ramai mengomentari Bitcoin.  Transaksi jual beli mata uang adalah boleh dengan ketentuan: tidak untuk spekulasi, ada kebutuhan, apabila transaksi dilakukan pada mata uang sejenis, nilainya harus sama dan tunai (attaqabudh). Jika berlainan jenis, harus dengan kurs yang berlaku saat transaksi dan tunai.

Pemerintah Indonesia tidak melarang atau menerbitkan seperangkat aturan hukum untuk  melegalkan Bitcoin sebagai komoditi berjangka. Sehingga praktik yang terjadi di masyarakat menganggapnya  legal untuk membeli dan menjual Bitcoin di Indonesia sebagai aset, seperti halnya pembelian emas dan perak. Pertanyaan dalam diskusi kali ini adalah samakah antara bitcoin dengan saham? Dari permasalahan Bitcoin apa ada manfaat yang bisa diambil dari Bitcoin itu sendiri?

Perbedaan antara Bitcoin dan Saham terletak pada  kecepatan pasar, yaitu saat  pasar saham di bursa efek misalnya, perdagangan terikat oleh waktu buka (opening) dan tutup (closing) dan waktu rehat di antara periode itu. Sedangkan perdagangan aset kripto tak kenal batas waktu. Adapun untuk manfaat nya kita bisa bertransaksi hanya dalam waktu beberapa menit saja tanpa perlu risau dengan perbedaan kurs mata uang dunia pada saat itu. Sedangkan untuk penyimpanan Bitcoin sendiri dapat dilakukan di perangkat elektronik seperti Smartphone dan PC dengan mode offline ataupun online.

Persoalannya, apakah sebagai mata uang, Bitcoin saat ini fungsinya telah menggeser keberadaan rupiah sebagai mata uang yang sah untuk digunakan sebagai alat tukar di Negara Kesatuan Republik Indonesia. Jika keberadaan Bitcoin tidak memberikan madharat dan dampak buruk terhadap keberlangsungan mata uang Rupiah, yang itu berarti tidak mengganggu perekonomia nasional, maka secara fiqh muamalah keberadaan bitcoin sebagai mata uang digital  yang beredar di Indonesia tidak menjadi soal. Tetapi jika hal itu bias menyebabkan inflasi dan memicu krisis moneter atau bahkan menggeser peran Rupiah, maka pemerintah perlu memberikan kebijakan dan peraturan yang jelas mengenai Bitcoin ini agar tidak membahayakan perekonomian negara yang itu imbasnya pada perekonomian masyarakat Indonesia.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *