Legalisasi Ganja Perspektif Fikih Indonesia

WhatsApp Image 2020-03-17 at 06.30.38

 (Diskusi Isu-Isu Aktual Peneliti Center of Fikih Nusantara (C-Finus)

Selasa, 10  Maret 2020

Pemateri:  Qowwi Fuadi Rohman

Moderator:  Siti Amina

Tanaman Ganja       

Ganja atau Mariyuana berasal dari tanaman bernama Cannabis sativa. Tanaman satu ini memiliki 100 bahan kimia berbeda yang disebut dengan cannaboid. Masing-masing bahannya memiliki efek berbeda pada tubuh. Beberapa bahan kimia utama yang kerap digunakan dalam pengobatan adalah Delta-9-tetrahydrocannabinol (THC) dan cannabidol (CBD), perlu diketahui, THC merupakan senyawa yang memiliki efek mabuk atau high. Senyawa cannabinoid sebenarnya diproduksi juga oleh tubuh secara alami untuk membantu mengatur konsentrasi, gerak tubuh, rasa sakit, hingga sensasi pada indra. Namun, pada ganja sebagian senyawa ini sangatlah kuat dan bisa menyebabkan berbagai efek kesehatan serius jika disalahgunakan.

Mariyuana bisa menjadi obat bila diolah secara medis. Dustin Sulak, profesor bedah, meneliti dan membuat mariyuana untuk digunakan secara medis. Sulak merekomendasikan beberapa jenis mariyuana kepada para pasien dan mendapat hasil yang mengejutkan. Saat diberikan mariyuana, pasien yang memiliki sakit kronis mengalami perbaikan kondisi daripada sebelumnya. Kemudian pasien dengan multiple sclerosis juga mengalami lebih sedikit kejang otot daripada sebelumnya. Penelitian Sulak ini cukup kuat dan menambahkan sejarah panjang manfaat ganja yang dapat digunakan sebagai obat terpeutik. Namun masalahnya, karena tergolong barang ilegal, ganja ini sulit untuk dilakukan penelitian lebih lanjut tentang efektivitas ganja dalam dunia medis.

Khasiat ganja juga ditulis dalam kitab Tajul Muluk, kitab tersebut adalah sebuah naskah kuno yang berasal dari Arab, dibawa masuk ke Aceh oleh saudagar dan pedagang dari Persia serta Negeri Rum (Turki) sekitar abad ke-16. Naskah asli dari manuskrip kuno tersebut awalnya adalah tulisan tangan dengan menggunakan huruf dan bahasa Arab, kitab ini merupakan karangan ulama Aceh, yakni Syekh Isma’il bin Abdul Muthalib Al-Asyi yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Kitab Tajul Muluk ini secara umum  membahas masalah pengobatan. Pengobatan di dalam kitab Tajul Muluk dibahas sendiri dan terpisah pada sebuah bab, yaitu pengobatan tradisional  yang salah satu bahannya memanfaatkan tanaman ganja.

Kasu Hukum tentang Ganja di Indonesia

Di Indonesia, pernah ada kasus seorang suami yang bernama Fidelis Arie menanam ganja demi menyembuhkan penyakit langka yang di derita istrinya yaitu munculnya kista di sumsum ditulang belakang tetapi di saat istrinya berangsur pulih Fidelis ditangkap aparat BNN kab. Sanggau KALBAR pada pertengahan Februari 2017. Fidelis pun tak bisa lagi memberikan ekstrak ganja itu untuk mengobati istrinya. Tanggal 25 Maret 2017, usai 32 hari Fidelis dipenjara  istrinya pun tak kuat melawan penyakit tersebut dan meninggal dunia di RSUD setempat.

Ganja sendiri di Indonesia merupakan salah satu jenis narkotika golongan 1 sebagaimana telah disebutkan dalam UU narkotika yang mengatur bagaimana pidana orang yang mengkonsumsi, memiliki, dan menyalahgunakan narkotika. Dalam kasus Fidelis ini, ia dianggap telah menyalahgunakan ganja.

Hukum Ganja Perspektif  Fiqh

Berdasarkan pemaparan tentang ganja atau mariyuana yang ternyata memiliki khasiat untuk menyembuhkan suatu penyakit, mengindikasikan bahwa ganja bisa menjadi obat dalam kadar tertentu sepanjang itu tidak membahayakan tubuh. Meskipun begitu,efek melemahkan dan adiktif ganja yang dikonsumsi tidak sesuai kadar kebutuhan pengobatan jauh lebih membahayakan tubuh daripada manfaatnya. Dengan demikian, dalam forum kajian ini menyepakati beberapa klasifikasi terkait dengan hukum ganja.

Pertama, äl-ashlu fii ganja at-tahrim, illa maa dalla ad dalil ála tahlilihi”.  Asal hukum mengkonsumsi ganja adalah haram, disebabkan oleh kandungan ganja yang membahayakan tubuh dan berfungsi melemahkan. Namun, ada suatu penemuan yang menyebut bahwa ternyata ganja bisa dijadikan sebagai obat kanker dan juga bisa berfungsi sebagai bahan untuk anestesi. Berdasarkan fakta sementara yang ditemukan dari ganja ini, maka ada alasan kebolehan mengkonsumsi ganja dalam kadar tertentu yang diizinkan secara medis untuk keperluan pengobatan bukan konsumsi sehari-hari. Dalil untuk”pengahalalan”ganja adalah adanya keperluan pengobatan. Sepanjang belum ditemukan obat lain selain ganja, maka mengkonsumsi ganja untuk pengobatan sesuai kadar tertentu menjadi tidak apa-apa.

Kedua, “al-ashlu fii ganja at-tahlil”. Konsekuensi dari penggunaan kaidah ini untuk menilai hukum ganja secara fiqih adalah kebolehan mengkonsumsinya seperti mengkonsumi tanaman-tanaman sayur lainnya seperti bayam dan sebagainya. Namun, ganja tidak bisa memberikan kemanfaatan kepada tubuh manusia jika dikonsumsi tanpa saran dari medis. Efek yang ditimbulkan dari ganja yang dikonsumsi secara berlebihan justru dapat merusak tubuh. Karena itu, penggunaan kaidah ini untuk menghukumi ganja dengan segala manfaat dan madzaratnya tidaklah relevan.

Diskusi ini diakhiri dengan kesimpulan bahwa ganja tetaplah haram. Namun, untuk kepentingan pengobatan ganja diperbolehkan mengkonsumsinya dengan kadar tertentu sesuai petunjuk medis. Adapun wacana legalisasi ganja oleh Pemerintah Daerah Aceh, untuk saat ini dirasa tidaklah cocok. Mengingat bahaya yang ditimbulkan dengan adanya legalisasi ganja lebih berbahaya daripada manfaatnya. Dengan dilegalkannya ganja, dikhawatirkan pengedaran narkotika akan semakin meluas. Padahal dampak dari narkotika sangat merusak bangsa dan generasinya. Wallahu álam bis showab.

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *