Belut dalam Fikih Indonesia, Sebuah Fatwa Ulama Betawi Syaikh Muhammad Mukhtar Al-Batawi

IMG-20200408-WA0026

Belut dalam Fikih Indonesia, Sebuah Fatwa Ulama Betawi Syaikh Muhammad Mukhtar Al-Batawi

_Oleh Nisa in the are ma you_

Kehadiran belut di Indonesia merupakan hal yang sudah lumrah dan wajar, hewan ini sering ditemukan dilokasi atau tempat tertentu, paling banyak ditanah rawa dan sawah. Di Indonesia, hewan yang mirip ular ini termasuk kuliner favorit karena rasanya yang gurih dan sangat cocok dimakan dengan sambal. Namun, dibalik rasanya yang lezat, status hukum hewan ini menuai kontroversi di banyak kalangan . Fatwa Ulama Arab Saudi menyebutkan hewan ini haram, ulama Saudi menilai belut adalah hewan yang berbentuk menyerupai ular dan sangat menjijikan, sehingga tidak layak untuk dikonsumsi, alasan utamanya karena letak Arab secara geografis tandus dan jarang ditemukan hewan yang bertahan hidup didaerah tropis. Berikut ta’bir yang menjelaskan
) أنكلس ( … في حديث علي رضي اللّه عنه ) أنه بعث إلى السوُّق فقال : لا تأكلوا الأنْكَلِيس ( هو بفتح الهمزة وكسرها : سمك شبيه بالحيَّات ردِئ الغذاء وهو الذي يسمى الْمَارْمَاهِي . وإنما كرِهه لهذا لا لأنه حرام . هكذا يُروى الحديث عن علي رضي اللّه عنه . ورواه الأزهري عن عمار وقال : ) الأنْقلِيس ( بالقاف لغة فيه

Inkilis/ Belut dalam hadits marfu’, Sayyidina Ali r.a, mengutus ke pasar kemudian berkata “Janganlah memakan belut”. Belut ialah hewan yang mirip ular yang buruk makanannya ia disebut juga dengan marmahi. Pelarangan di atas bukan ke arah hukum haram namun makruh. Demikianlah riwayat hadist dari sayyidina Ali ra. Al-Azhary dari ‘Ammaar meriwayatkan dengan menggunakan huruf Qaf “Inqilis”. ( An-Nihaayah Fii Ghariib al-Atsar I:183 ).
Bagaimana reaksi masyarakat Indonesia terhadap Belut ? Mayoritas masyarakat Indonesia sudah mengetahui betul tentang hewan khas NUSANTARA yang satu ini karena bentuknya seperti ular namun licin, tak bersisik, dan hidup lebih dominan ditemukan di daerah persawahan. Namun ada sebagian orang yang tidak menyukai belut, baik karena geli atau tidak tega memakanya karena bentuknya seperti ular. Namun tidak sedikit masyarakat Indonesia yang sangat menggemari dan mampu membudidayakan belut selain dikawasan persawahan, misal dibudidayakan dalam tambak-tambak layaknya seperti ikan. Bagi para konsumen untuk menjumpai penjual makanan berbahan belut pun mudah ditemui dan sangat menjamur disetiap sudutnya. Dikawasan pedesaan khususnya, belut sebagai lauk yang paling digemari karena banyak para penduduk sebagai petani di sawah dan menyempatkan berburu belut untuk dijadikan lauk dirumah dengan nasi dari hasil panen padinya sendiri. Tak jauh berbeda di perkotaan, banyak pula yang menyukai belut bahkan dikreasikan dengan berbagai macam-macam rupa masakan hingga sekelas Restoran berbintang lima .
Dalam kacamata hukum Islam, hewan seperti belut, sidat dan semacamnya yang hidup di air di kategorikan haram, meskipun tidak bertaring, tidak pula berbisa, tidak mempunyai kulit yang bersisik, tidak hidup di dua alam dan mendesis layaknya ular. Hasil ijtihad yang kontra ini banyak menimbulkan khilafiyah hingga salah satu ulama terkenal di Indonesia yakni Syaikh Muhammad Mukhtar al-Batawy menyusun sebuah magnum opus yang dinamai Kitab Belut Nusantara. Penyusunan kitab ini awalnya menimbulkan segala pro kontra serta perpecahan di kalangan umat karena dasar yang digunakan sama kuat baik yang membolehkan atau mengharamkan.
Ulama yang terlahir di Bogor Jawa Barat pada tanggal 14 Februari 1862 M / 14 Sya’ban 1278 H ini Mengawali Risalahnya yang berjudul as-Sawa’iq Al-Muhriqah li al-awham al-Kadzibah fi Bayan Hal “al-Belut Wa-Radd ‘Ala Man Harramah pembahasan dalam kitab ini meliputi klasifikasi hewan, didalamnya dijelaskan binatang secara umum terbagi menjadi empat kategori diantaranya :1) Hewan darat yang mampu hidup di air, seperti burung-burung yang mampu terbang namun bisa hidup di air, keberadaan mereka hanya sementara untuk kepentingan tertentu, b) Hewan darat yang tidak mampu hidup di air dari sejak karakternya, seperti kucing. c) Binatang di air yang tidak mampu bertahan hidup di darat, seperti mayoritas jenis ikan, d) Jenis binatang laut yang bisa hidup di daratan secara temporal(tidak permanen) . Hukum untuk tiap-tiap kategorinya pun berbeda beda , ada yang halal dan haram. Selain ke-empat kategori tersebut, ada jenis binatang yang bisa diklasifikasikan kedalam kategori lainnya seperti hewan yang hidup di dua alam, contohnya ular dan katak, jika ditelusuri dari pendapat para ulama-ulama seperti halnya nukilan imbuhan Syaikh Mukhtar mengatakan bahwa binatang yang hidup di air selain katak atau binatang yang beracun (berbahaya) hukumnya halal.
Syaikh Mukhtar al-Batawy menjelaskan hukum Belut yang dalam bahasa Arab disebut dengan Al-Inqilis. Belut dikenal dengan jenis ikan, menurut Syaikh al-Mukhtar , ikan ini dihukumi halal layaknya seperti pendapat para shahabat Rasulullaah yaitu Abu Bakar Ash-Shidiq, Umar Bin Khattab, Ibnu Abbas dan Yazid Bin Tsabit, serta Abu Hurairah, Termasuk pandangan para madzhab Maliki dan Syafi’I, beliau menegaskan kategorisasi belut yakni hewan air yang tidak keluar ke darat , tetapi memang terkadang keluar untuk keperluan dan dalam kurun waktu tertentu saja. Belut juga termasuk hewan yang masuk kategori ke-empat sebagaimana penjelasana sebelumnya dan hukumnya halal, dalam istiah lain belut juga disebut dengan al Jirts , berikut dasar yang digunakan
الحكم الخاص بحل الجزء المبان من السمك يشمل جميع أنواع السمك ومنه الجريت بكسر المعجمة وتشديد المهملة وهو سمك اسود مدور
Hukum kehalalan yang berlaku pada bagian potongan tubuh dari ikan, mencakup pada seluruh species jenis-jenis ikan yang ada diantaranya belut yaitu ikan yang berwarna hitam dan berbentuk bulat. (aS-Sawa’iq al-Muhriqah I/30 ).

Sebagian ulama menghukumi belut itu haram, tetapi tidak sedikit yang berpendapat belut halal termasuk Syaikh Mukhtar al-Batawy. Dalam jejak historis, pada abad ke-19 tengah mengadakan diskusi menyoal hukum belut yang tak terelakkan antara para tokoh, ulama-ulama yang berada di Mekkah dan para ulama-ulama dari tanah air melalui korespodensi surat, hingga banyak para penanya dari Yaman, Suriah bahkan ulama Mekkah sendiri. Dari sinilah, muncul inspirasi serta dorongan menulis risalah khusus soal belut. Disamping itu, belut mengalami perkembangbiakan hingga dapat dijumpai dikawasan perairan tropis yang bersuhu antara 25-31 derajat celsius seperti di Indonesia pada saat sekarang.
Dalam Al-Qur’an Surat Al-Maidah ayat 96 telah dijelaskan persoalan kehalalan memakan hewan air, “ Dihalalkan bagimu binatang buruan laut dan makanan (yang berasal)dari laut sebagai makanan yang lezat bagimu”. Artinya segala bentuk dan jenis hewan apa saja yang ada di laut boleh dimakan asalkan tidak membayakan ketika dimakan . dasar normatif yang lainya dapat ditemukan dalam Hadits tentang halal dan haramnya beberapa hewan yang boleh dimakan diantaranya: Hewan haram di darat seperti singa, macan, serigala, anjing, kucing. Alasannya binatang-binatanng tersebut memiliki taring untuk menyerang mangsanya. Nabi Muhammad Saw. bersabda “setiap binatang buas yang bertaring, haram untuk dimakan”(H.R. Bukhari dan Muslim).
Asy-Syaikh Muhammad Mukhtar Al-Batawi Al-Jawi dalam berpendapat tidak hanya seorang diri, melainkan bersama beberapa Ulama terkenal lainnya, aiantaranya , Imam Ar-Rafi’dan Syaikh Muhammad Nawawi Al-Jawi Al-Bantani (bapak kitab kuning Jawi ). Demikian Fatwa yang di lakukan atau dihasilkan oleh ulama terkemuka Indonesia dalam memecahkan masalah di Indonesia kemudian ditanggapi dengan sesuai konteks, situasi dan kondisi sebuah wilayah maupun kehidupan masyarakatnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *