Topeng Tetek Molek Antara Kepercayaan dan Mistik Sebagai Bentuk Tangkal Pandemik Covid 19 Dalam Perpektif Fikih Nusantara

 

Min_12_04_2020_21_47_53

Minggu,  12 April 2020

Pemateri    : Dr. Ahmad Mushonif M.H.I

Moderator : Nur Fizanah

*Tradisi Thethek Molek*
Warga di Dusun/Desa Wajak Kidul, Kecamatan Boyolangu, Tulungagung membangkitkan kembali tradisi thethek molek. Tradisi thethek molek dianggap sebagai sarana pengusir pagebluk (serangan penyakit secara meluas) yang diyakini sejak nenek moyang. Menurut  Yasmini (65), sesepuh desa tersebut  “Dulu kan sering ada penyakit yang meluas di masyarakat. Kami menyebutnya pagebluk. Thethek molek adalah cara nenek moyang untuk menolak pagebluk,”.
Thethek molek adalah topeng. Untuk tolak pagebluk ini, thethek molek dibuat dari pangkal pelepah kelapa yang biasa disebut bongkok atau cumplung (kelapa muda yang jatuh). Bongkok dan cumplung yang dipilih adalah yang sudah jatuh, tidak boleh diambil dari pohonnya. “Bongkok dan cumplung dipilih karena mudah diberi gambar. Karena memamng bentuknya kan sudah mirip dengan wajah,dan  tinggal diberi warna. Untuk melukis thethek molek, bahan yang dipakai adalah kapur bangunan dan jelaga dari tungku atau pantatnya belanga. Semua boleh membuat lukisan thethek molek. Namun syaratnya harus wudu dan tidak boleh batal selama melukis. Selain itu selama melukis harus sambil membacakan ayat kursi. Tidak ada bentuk baku lukisan thethek molek, asal membentuk wajah lengkap dengan mata, hidung dan mulut. Topeng thethek molek ini kemudian dipasang di depan rumah, disandarkan pada dinding. Dengan thethek molek ini, Yasmini berharap Allah cepat menarik virus corona. Yasmini menyatakan, “Corona adalah pagebluk yang terjadi di seluruh dunia. Semoga Allah segera menariknya,” terang Yasmini. Kakak kandung Yasmini, Srini (70) mengatakan warga di kampungnya masih memegang tradisi nenek moyang, seperti tradisi thethek molek. Thethek molek merupakan cara untuk mengusir pagebluk yang kerap terjadi di masa silam.

*Hadith hadith tentang memakai jimat*

Ada beberapa hadith terkait dengan penggunaan jimat sebagai sarana penangkal bahaya.

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَبْصَرَ عَلَى عَضُدِ رَجُلٍ حَلْقَةً أُرَاهُ قَالَ مِنْ صُفْرٍ فَقَالَ وَيْحَكَ مَا هَذِهِ قَالَ مِنَ الْوَاهِنَةِ قَالَ أَمَا إِنَّهَا لاَ تَزِيدُكَ إِلاَّ وَهْنًا انْبِذْهَا عَنْكَ فَإِنَّكَ لَوْ مِتَّ وَهِيَ عَلَيْكَ مَا أَفْلَحْتَ أَبَدًا
“Bahwasannya Nabi SAW melihat di tangan seorang laki-laki terdapat gelang dari tembaga, maka beliau berkata, “Celaka engkau, apa ini?” Orang itu berkata, “Untuk menangkal penyakit yang dapat menimpa tangan.” Beliau bersabda, “Ketahuilah, benda itu tidak menambah apapun kepadamu kecuali kelemahan, keluarkanlah benda itu darimu, karena sesungguhnya jika engkau mati dan benda itu masih bersamamu maka kamu tidak akan beruntung selama-lamanya”.”(HR. Ahmad)
Sahabat Abu Basyir Al-Anshari Radhiyallahu ‘Anhu berkata,

أَنَّهُ كَانَ مَعَ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم فِي بَعْضِ أَسْفَارِهِ قَالَ عَبْدُ اللهِ حَسِبْتُ أَنَّهُ قَالَ وَالنَّاسُ فِي مَبِيتِهِمْ فَأَرْسَلَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم رَسُولاً أَنْ لاَ يَبْقَيَنَّ فِي رَقَبَةِ بَعِيرٍ قِلاَدَةٌ مِنْ وَتَرٍ أَوْ قِلاَدَةٌ إِلاَّ قُطِعَتْ
“Bahwasannya beliau pernah bersama Rasulullah SAW pada salah satu perjalanan beliau –berkata Abdullah (rawi): Aku mengira beliau mengatakan-, ketika itu manusia berada pada tempat bermalam mereka, maka Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam mengutus seseorang untuk menyampaikan, “Janganlah tertinggal di leher hewan tunggangan sebuah kalung dari busur panah atau kalung apa saja kecuali diputuskan”.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani menyebutkan diantara penjelasan ulama terhadap hadits di atas, “Bahwasannya di zaman Jahiliyah dahulu mereka memakaikan kalung-kalung busur panah keras terhadap onta mereka agar tidak terkena penyakit ‘ain menurut sangkaan mereka. Maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memerintahkan mereka untuk memutuskan kalung-kalung tersebut sebagai pengajaran kepada mereka bahwa jimat-jimat itu tidak sedikitpun dapat menolak ketentuan Allah ta’ala. Ini adalah pendapat Al-Imam Malik rahimahullah tentang makna hadits ini. ”
Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu berkata, aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,
إِنَّ الرُّقَى وَالتَّمَائِمَ وَالتِّوَلَةَ شِرْكٌ

“Sesungguhnya mantra-mantra, jimat-jimat dan pelet itu syirik.” (HR. Ahmad, no. 3615, Abu Daud no. 1776, 3883 dan Ibnu Majah, no. 3530. Asy-Syaikh Syu’aib Al-Arnauth berkata, “Shahih lighairihi,” dan dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Ibni Majah, no. 2854)
Sahabat yang mulia Abu Ma’bad Abdullah bin ‘Ukaim Al-Juhani Radhiyallahu ‘Anhu berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,
مَنْ تَعَلَّقَ شَيْئًا وُكِلَ إِلَيْهِ
“Barangsiapa yang bergantung kepada sesuatu (makhluk seperti jimat dan yang lainnya) maka dia akan dibiarkan bersandar kepada makhluk tersebut (tidak ditolong oleh Allah ta’ala).”

*Tradisi thethek molek dalam tinjauan syariah*
Sebagaimana pada kasus hukum pembuatan patung, maka penggunaan azimat sebagai penangkal bahaya sebagaimana dijelaskan dalam hadith perlu dilihat konteksnya dalam tradisi Arab. Para sahabat nabi hidup pada masa yang dengan dengan jaman jahiliyah. Sedikit banyak mereka masih dipengaruhi oleh tradisi pada masa itu. Nabi mengajarkan untuk meminta perlindungan kepada Allah dan tidak pasrah kepada selain Allah. Adapun penggunaan jimat pada masa itu masih dipengaruhi oleh kepercayaan syirik. Bagaimana hukum menggunakan alat sebagai sarana datangnya pertolongan dari Allah. Dalam sebuah hadith disebutkan. Nabi SAW menggunakan air liur beliau untuk mengobati penyakit. Beliau mencampur air liur beliau dengan sedikit tanah dan diiringi doa,

بِسْم اللهِ تُرْبَةُ أَرْضِنَا بِرِيقَةِ بَعْضِنَا يُشْفَى سَقِيمُنَا بِإِذْنِ رَبِّنَا
“Dengan nama Allah , tanah dari bumi kita, dengan air liur sebagian dari kita, (dengan sebab itu) akan disembuhkan penyakit kita dengan izin Rabb kita.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Disini Nabi berdoa dengan menyebut nama Allah dan dengan menggunakan air liur beliau menggunakan tanah untuk penyembuhan. Dan tentu dengan berharap ijin dari Allah.

Al-Imam al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya dari ‘Utsman bin Abdillah bin Mauhab berkata,

أَرْسَلَنِي أَهْلِي إِلَى أُمِّ سَلَمَةَ زَوْجِ النَّبِيِ بِقَدَحٍ مِنْ مَاءٍ وَقَبَضَ إِسْرَائِيلُ ثَلَاثَ أَصَابِع وَكَانَ مِنْ قُصَّةٍ فِيهِ شَعْرٌ مِنْ شَعْرِ النَّبِيِ إِذَا أَصَابَ الْإِنْسَانَ عَيْنٌ أَوْ شَيْءٌ بَعَث إِلَيْهَا مِخْضَبَهُ فَاطَّلَعْتُ فِي الْجُلْجُلِ فَرَأَيْت شَعَرَاتٍ حُمْرًا
“Keluargaku mengutusku membawa sewadah air untuk Ummu Salamah, istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” —Israil (perawi hadits) menggenggam tiga jarinya (mengisyaratkan) ukuran wadah yang berisi beberapa helai rambut dari rambut-rambut Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.—Utsman melanjutkan, “Jika seseorang sakit karena ‘ain atau penyakit lainnya, dia akan mengirimkan suatu wadah berisi air ke Ummu Salamah. Aku melihat ke wadah dan aku melihat beberapa helai rambut kemerahan.”
Al-Hafizh Ibnu Hajar mengatakan, “Mereka biasa menyebut botol perak tempat menyimpan rambut Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu sebagai juljul. Botol itu disimpan di rumah Ummu Salamah ra.”
Seperti yang dijelaskan di atas tradisi Thethek Molek dilakukan dengan menggambar pelepah kelapa yang sudah tua, kemudian digambar. Proses penggambaran ini dilakukan dalam keadaan berwudu dan sambil membaca ayat kursi. Tujuannya adalah meminta tolong kepada allah.
Bagaimanapun pandangan dunia (world view) orang jawa berbeda dengan orang Arab. Orang jawa menggunakan symbol-simbol tertentu untuk mengekspresikan pikiran mereka kepada yang maha kuasa atau yang gaib. Dilihat dari sarananya. Gambar itu dibuat tidak untuk disembah dan tidak menyerupai makhluk hidup. Tujuannyapun bukan untuk penyembahan tetapi sebagai sarana simbolik meminta tolong kepada Allah.

Kesimpulannya ialah:
1. Hukum memakai jimat yang ada Asma Allah adalah Mubah (Boleh) dengan niat taqorrrub kepada Allah untuk menolak bala, dan jika diniatkan untuk memohon bantuan kepada selain Allah maka dihukumi haram. Catatannya asalkan tidak ada unsur penyembahan(taabbudi) terhadap benda tersebut maka diperbolehkan.
2. Gambar pada thethek molek tidak haram karena tidak berbentuk makhluk sempurna.
Sesuai dengan kesepakatan ulama berikut:

فعلم أن المجمع على تحريمه من تصوير الأكوان ما اجتمع فيه خمسة قيود عند أولي العرفان أولها ؛ كون الصورة للإنسان أو للحيوان ثانيها ؛ كونها كاملة لم يعمل فيها ما يمنع الحياة من النقصان كقطع رأس أو نصف أو بطن أو صدر أو خرق بطن أو تفريق أجزاء لجسمان ثالثها ؛ كونها في محل يعظم لا في محل يسام بالوطء والامتهان رابعها ؛ وجود ظل لها في العيان خامسها ؛ أن لا تكون لصغار البنان من النسوان   فإن انتفى قيد من هذه الخمسة . . كانت مما فيه اختلاف العلماء الأعيان . فتركها حينئذ أورع وأحوط للأديان
“Maka dapat dipahami bahwa gambar yang disepakati keharamannya adalah gambar yang terkumpul di dalamnya lima hal. Pertama, gambar berupa manusia atau hewan. Kedua, gambar dalam bentuk yang sempurna, tidak terdapat sesuatu yang mencegah hidupnya gambar tersebut, seperti kepala yang terbelah, separuh badan, perut, dada, terbelahnya perut, terpisahnya bagian tubuh. Ketiga, gambar berada di tempat yang dimuliakan, bukan berada di tempat yang biasa diinjak dan direndahkan. Keempat, terdapat bayangan dari gambar tersebut dalam pandangan mata. Kelima, gambar bukan untuk anak-anak kecil dari golongan wanita. Jika salah satu dari lima hal di atas tidak terpenuhi, maka gambar demikian merupakan gambar yang masih diperdebatkan di antara ulama. Meninggalkan (menyimpan gambar demikian) merupakan perbuatan yang lebih wira’i dan merupakan langkah hati-hati dalam beragama” (Sayyid Alawi al-Maliki al-Hasani, Majmu’ fatawa wa ar-Rasa’il, hal. 213)
3. Menggunakan benda sebagai ‘simbol’ permohonan boleh saja. Nabi pernah menaruh pelepah kurma yang menjadi simbol keberlanjutan doa selama belum kering.
4. Tetek molek dijadikan motivasi  masyarakat untuk bersama-sama menghilangkan pagebluk.
5. Dilihat dari kaedahnya melalui Washilah (alat/instrumen) yang memiliki urgensi sebagaimana tujuannya, semisalnya berdoa dengan menggunakan media berupa benda seperti jimat/rajah/patung tetek molek yang disuwuk misalnya, maka kedudukan washilah tersebut sama pentingnya dengan do’a

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *