Perbincangan Syariah dan Hikmah dalam Altar Corona virus diseas (COVID-19)

Rab_15_04_2020_10_31_50Perbincangan bincangan Syariah dan Hikmah dalam Altar Corona virus diseas (COVID-19)

Muhammad Nurravi Alamsyah
(Peneliti muda C-finus)

Sejak sejuk alam mulai takut dihirup dalam-dalam, sejak permai embun kampung halaman mulai pupus, sejak pesona senja mulai teracuhkan oleh masyarakat Indonesia, sebab adanya wabah covid-19 yang mengharuskan seluruh elemen mematuhi aturan pemerintah demi kemaslahatan, babak baru dimulai , seluruh dunia berjuang melawan pandemic covid-19, masing-masing menyiapkan berbagai langkah preventif antisipatif untuk meminimalisir daya rusak covid 19, termasuk dalam hal taburan azimat sebagai penangkal penyebaran covirus .
Dalam konteks fiqih Siyasah, mematuhi pemerintah hukumnya adalah wajib karena kebijakan yang dicanangkan pemerintah memang harus berpacu pada kemaslahatan, qaidah fiqih turut menyebutkan tasarraf al-Imam ‘ala ra’iyatih manuthun bi almaslahah, yang secara gramatikal diartikan kebijakan/tindakan imam (pemimpin) kepada rakyat harus berpijak kepada kemaslahatan (kebaikan)”.Pemerintah telah menimbang semua maklumatnya yang telah dikeluarkan demi menanggulangi wabah mulai dari social distancing, penggunaan masker, penyemprotan, dll , semua itu juga sangat bermanfaat bagi masyarakat untuk mencegah penularan wabah . Maka dari sini masyarakat harus wajib taat kepada pemerintah yang berarti sekaligus mentaati Syariah, argument ini senada dengan narasi Al-Haiythami dalam karya besarnya Tuhfah al-Muhtaj,

تجب طاعة الإمام فى أمره ونهيه ما لم يخالف الشرع أى بأن لم يأمر بحرم وهو هنا لم يخالفه لأنه إنما أمر بما ندب إليه الشرع (تحفة المحتاج الجزء الثالث ص: ٧١ ),

Secara terminologis, ta’bir diatas berbicara tentang kewajiban taat kepada imam (pemimpin) pada perintah dan larangannya selama tidak bertentangan dengan syara’ . Dalam pandemic corona ini, pemerintah Indonesia mencetuskan kebijakan social distancing yang tidak berpacu pada kebijakan lockdown sebagaimana kanjeng nabi lakukan ketika menjabat sebagai pemimpin Negara. Dalam bahasa Talal Asad, kemunculan riwayat ini dalam arasy perbincangan corona disebut dengan tradisi diskursif, dimana kebijakan lockdown memiliki relasi kesejarahan dalam tradisi keislaman yang paling dini. Tentu saja hal ini juga berlaku bagi kehadiran dunia hikmah yang melibatkan berbagai fragmen, baik wirid, azimat, ratib al hadad, bahkan al Quran dalam menanggapi kasus global corona, karena disetiap tahapan generasi masyarakat ia selalu hadir dalam wilayah kulturalnya (Yahya: 2020)
Meskipun begitu, tidak sedikit sikap masyarakat ditengah pandemik corona, ada masyarakat yang berqiblat kepada jagat arasy pemikiran Jabariah yang hanya berpacu pada sebuah keyakinan bahwa semua penyakit, sembuh dan kematian ini dari Allah, sehingga tidak terdapat rasa takut terhadap berbagai cobaan dan ujian termasuk pandemic wabah korona, karena satu-satunya yang patut ditakuti hanyalah Allah. Kepercayaan ini diwujudkan dengan meninggalkan ikhtiar2 dhzahir.
Selain itu, juga muncul altar pemikiran kelompok qadariyah yang sangat bebas lepas hingga semua kehendak ditentukan secara individu. Dalam penafsiranya, kelompok ini berkeyakinan penuh bahwa segala macam pagebluk bisa diselesikan sendiri dengan ikhtiyar mustaqil (independen) dengan cara bermasker, semprot disinfektan, menggunakan hand sanitizer dan lainya. Dalam pendapat kelompok ini menganut ajaran tahsin taqbih ‘aqliyan yakni baik buruk keduanya rasional, dapat diseleseikan dengan upaya sendiri tanpa campur tangan kekuatan dari pihak manapun.
Kemudian bagaimana cara yang paling tepat untuk menanggapi kondisi/ situasi saat ini? Menurut Yahya yang meramu bahasa Abdullahi Osman el-Tom (1985) jika dilihat dari pilihan ayat al-Quran dan ekspektasinya terdapat dua relasi, yaitu semantic dan manipulatif. Relasi yang pertama menunjukkan adanya linieritas antara makna redaksional dengan ekspektasi jauh dari realita. Upaya pemerintah memberi kebijakan social distancing, lockdown, PSBB, penggunaan masker adalah bukan suatu yang negatif, namun sebaliknya, resepsi paling dasar upaya tersebut adalah pada aspek hermeneutisnya, tetapi lebih pada fungsinya dalam konteks sosial kebudayaan dan ramah terhadap lingkungan.
Maka dari itu, sikap kelompok wasathiyah dalam menyikapi pandemic ini adalah diwujudkan dengan melaksanakan isi nash Al-Quran atas larangan menjerumuskan diri dalam kerusakan jika menghilangkan ikhtiar/ kasab (2:195). Imam al-Laqqani al-Maliky dalam karyanya bertajuk Hidayah al-Murid Li Jawharah al-Tawhid menjelaskan sebagai berikut:

وقد يكون الخوف من غير الله عز وجل ليس محرما كالخوف من الاسود والحيات والعقارب و الظلمة. وقد يجب الخوف من غير الله عز وجل كما امرنا بالفرار من ارض الوباء بمعنا انانهينا عن دخولها والخوف منها على اجسامنا من الامراض و الاسقام و فى الحديث (فر من المجذوم فرارك من الاسد)
فصون النفوس والاجساد والمنافع والاعضاء والاموال والاعراض عن الاسباب المفسدة واجب كماعلمت. وعلى هذه القواعد قس يظهر لك يحرم من الخوف من غير الله تعالى وما لايحرم وحيث تكون الخشية من الخلق محرمة ( ٢٣٢/ب) وحيث لا تكون فاعلم ذلك والله اعلم.

Terkadang takut dari selain Allah tidaklah haram, seperti takut dari ular besar, ular, hewan melata, dan gelap. (Bahkan) terkadang wajib takut dari selain Allah sebagaimana kita diperintahkan lari dari wilayah yang terjangkit wabah, dalam arti kita dilarang memasuki wilayah tersebut, dan takut dari sakit dan penyakit-penyakit lain terhadap tubuh kita.
Tersebut dalam hadis:(Berlarilah dari penderita kusta sebagaimana berlarimu dari singa)
Karenanya, menjaga jiwa, tubuh, benefit, anggota tubuh, harta-benda, dan kehormatan diri dari sebab-sebab yang merusak hukumnya wajib sebagaimana Anda ketahui.
Berdasar kaedah-kaedah ini, qiyaskanlah segala sesuatu yang nampak padamu takut dari selain Allah baik yang diharamkan maupun yang tidak diharamkan, dan dimana takut dari makhluk itu hukumnya bisa atau menjadi tidak haram.(Al-Laqqani)
Finally, perbincangan covid -19 dalam dunia syariah dan hikmah memiliki kesinambungan moral, dalam istilah syariah upaya pemerintah menanggulangi wabah ini merupakan bentuk melaksanakan hifdz al nafs (menjaga jiwa) yang oleh Imam al-Raysyuni disebutkan peringkatnya lebih tinggi dibanding hifdz al din (menjaga agama), karena dengan kesehatan jiwa , hubungan dengan tuhan akan berjalan lancar dan baik-baik saja. Sedangkan dalam sudut pandang hikmah, meminjam bahasa antropologi istilah tersebut (hikmah) disebut dengan magi, yang pelibatan berbagai macam fragmen (al-Quran, dan bacaan suci lainya) adalah suatu keniscayaan. Terlebih lagi di Indonesia, sebagai komunitas muslim, terbesar dan bukan pemilik bahasa al-Quran, potensi untuk meresepsi kalam allah diluar kapasitas tekstualnya jauh lebih memungkinkan, disamping itu secara performatif, fenomena tersebut tampak lebih kreatif dalam praksis sosialnya.

“Wabah ini memberikan pelajaran……
bahwa rindu tak selamanya harus cepat bertemu….
terkadang memang harus melalui untaian kalimat doa-doa yang indah….
dan perhatian terhadap sesama…….

(Sumber photo: http://ikm.unnes.ac.id/edisi-covid-19-jurusan-ikm-serukan-10-langkah-pencegahan-covid-19-salah-satunya-menggunakan-masker-kain-jika-bepergian/)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *