Batasan Aurat dalam Arasy Nusantara

 

 

Sen_20_04_2020_15_28_06Batasan Aurat Dalam Arassy Nusantara

 

Oleh Tutut indah Sri W
Notulen: Nur Fadhilah R

 

Menutup aurat adalah salah satu kewajiban bagi kaum muslim terutama pada kaum hawa. Banyak dari kita yang memiliki berbagai macam alasan dan mencari-cari celah agar dapat menghindar dalam menjalankan kewajiban yang satu ini. Mulai dari belum siap, akhlaq yang belum benar bahkan melakukan nya nanti ketika sudah menikah. Menutup aurat tidaklah harus menunggu siap atau tidak siap, mau atau tidak mau, benar atau tidak benar, menutup aurat itu adalah kewajiban bagi seorang muslim. Jadi, singkirkanlah berbagai macam alasan itu. Menutup aurat juga tidak harus menunggu menikah. Tidak menungu akhlaq baik dulu, Padahal menutup aurat adalah salah satu ibadah yang paling mudah. Seperti contohnya berhijab.
Menutup aurat adalah wajib bagi setiap muslim. Mengapa aurat harus ditutup? Karena supaya tidak mengundang syahwat atau nafsu manusia lain yang melihat aurat kita. Menutup aurat juga dapat menghindari dari perbuatan yang tidak diinginkan dan juga dapat melindungi kita. Namun dikalangan ulama berbeda – beda batasannya. Banyak dijaman sekarang masih bingung dimana letak batasan aurat wanita dan laki-laki. Dibawah ini adalah dalil yang menjelaskan tentang memakai jilbab atau menutup aurat.
يَاأَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ ِلأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلاَبِيبِهِنَّ
Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang Mukmin: Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. (QS al-Ahzab [33]: 59)
Sudah dijelaskan pada dalil diatas dijelaskan bahwa kita disuruh untuk memakai jilbab atau menutup aurat. Wanita itu harus pandai menjaga pandangan dan auratnya. Seperti apa yang dikatakan menutup aurat? Apakah harus memakai pakaian syar’i? Jilbab syar’i ? Tidak, Menutup aurat adalah menutup semua anggota badan kecuali wajah dan telapak tangan. Memakai baju busana muslim dan tidak memakai baju ketat, mengikuti syariat islam itu dapat dikatakan menutup aurat. Karena menutup aurat adalah wajib agar terhindar dari fitnah atau perbuatan yang tidak diinginkan. Karena pada prinsipnya, Islam selalu mengharamkan segala sesuatu yang dapat mengundang fitnah, apalagi itu sudah masuk dalam kategori mendekati sesuatu yang sangat dilarang oleh Islam, yaitu zina.Dengan menutup aurat hidup akan lebih terjaga dan tenang.
Lalu, dimana letak batasan aurat laki-laki dan perempuan. Aurat seorang lelaki yang tidak boleh dilihat lelaki lainnya. Sedangkan aurat seorang wanita yang tidak boleh dilihat wanita lainnya. Pada dua kategori ini batasan auratnya adalah bagian tubuh antara pusar dan lutut. aurat seorang lelaki tidak boleh dilihat seorang wanita. Pada bagian ini dibedakan antara mereka yang termasuk mahram (tidak boleh dinikahi) dengan mereka yang sama sekali orang lain.
Jika ia termasuk mahram, maka auratnya adalah antara pusar dan lutut. Berbeda jika ia bukan termasuk mahram. Ada yang mengatakan auratnya adalah seluruh badannya, kecuali bila yang melihatnya adalah istrinya sendiri. Meski ada pula yang mengatakan bahwa auratnya sama seperti untuk mereka yang termasuk dalam kategori mahram, yaitu antara pusar dan lutut. Aurat seorang wanita yang tidak boleh dilihat seorang pria. Menurut pendapat yang dianggap sahih menyebutkan bahwa auratnya adalah seluruh anggota tubuhnya. Ada pula yang berpendapat bahwa hanya wajah dan kedua telapak tangan yang yang tidak masuk dalam kategori aurat.
Bila merujuk pada Mazhab Syafi’i yang diamalkan masyarakat Indonesia, maka semestinya seluruh tubuh perempuan adalah aurat yang haram dilihat laki-laki bukan mahram kecuali wajah dan kedua telapak tangan.  Wajah wanita bukanlah aurat, namun memakai cadar hukumnya sunah (dianjurkan) dan menjadi wajib jika dikhawatirkan menimbulkan fitnah.
Kenapa keduanya dikecualikan? Pertama, karena nash Surat Al-Ahzab ayat 31 yang kemudian ditafsirkan oleh Ibnu Abbas RA bahwa yang dikecualikan dalam ayat adalah wajah dan kedua telapak tangan. Kedua, berdasarkan larangan Nabi Muhammad SAW terhadap perempuan yang sedang ihram dalam memakai sarung tangan dan niqab penutup wajah, yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Ibnu Umar RA. Andaikan wajah dan telapak tangan perempuan adalah aurat, tentu Nabi Muhammad SAW tidak melarangnya untuk ditutupi.
Ketiga, karena membuka wajah perempuan diperlukan dalam seperti jual beli. Demikian pula kedua telapak tangan dibutuhkan untuk mengambil dan memberikan sesuatu dalam berbagai kegiatan keseharian. (Abu Ishaq Ibrahim bin Ali bin Yusuf As-Syirazi, Al-Muhaddzab fi Fiqhil Imamis Syafi’I, [Beirut, Darul Qalam dan Darus Syamiyyah: 1412 H/1992 M], cetakan pertama, juz I, halaman 219-220).Jadi menurut madzab Syafi’i bahwa aurat perempuan adalah semua bagian tubuh kecuali wajah dan kedua telapak tangan.
Menurut Madzab Hanafi aurat wanita adalah aurat yang harus ditutup rapat, kecuali wajah dan kedua telapak tangan, karena perempuan perlu membukanya dalam muamalah sosial kesehariannya. Berpijak prinsip asal ini maka telapak kaki pun tidak boleh ditampakkan dan dilihat oleh laki-laki non mahram. Dalam hal ini pakar fikih Hanafi Muhammad bin Husain bin Ali at-Thuri al-Qadiri (wafat setelah 1138 H/1726 M) menjelaskan:
وَالْأَصْلُ فِي هَذَا أَنَّ الْمَرْأَةَ عَوْرَةٌ مَسْتُورَةٌ لِقَوْلِهِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: الْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ مَسْتُورَةٌ. إلَّا مَا اسْتَثْنَاهُ الشَّرْعُ وَهُمَا عُضْوَانِ. وَلِأَنَّ الْمَرْأَةَ لَا بُدَّ لَهَا مِنَ الْخُرُوجِ لِلْمُعَامَلَةِ مَعَ الْأَجَانِبِ، فَلَا بُدَّ لَهَا مِنْ إِبْدَاءِ الْوَجْهِ لِتُعْرَفَ فَتُطَالَبَ بِالثَّمَنِ وَيُرَدَّ عَلَيْهَا بِالْعَيْب. وَلَا بُدَّ مِنْ إِبْدَاءِ الْكَفِّ لِلْأَخْذِ وَالْعَطَاءِ. وَهَذَا يُفِيدُ أَنَّ الْقَدَمَ لَا يَجُوزُ النَّظَرُ إلَيْهِ.
“Hukum asal dalam hal melihat wanita adalah bahwa wanita itu sendiri adalah aurat yang harus ditutup, berdasarkan sabda Nabi SAW: ‘Wanita adalah aurat yang tertutup’. Hal ini mengecualikan apa yang dikecualikan oleh syariat, yaitu dua bagian tubuh wanita. Sebab wanita harus keluar untuk muamalah kesehariannya dan bertemu dengan laki-laki ajnabi atau yang bukan mahramnya, maka ia harus menampakkan wajahnya agar dikenali sehingga dalam jual beli ia dapat dimintai uang pembayaran dan didikembalikannya barang dagangan kepadanya ketika ada kerusakan.
Demikian pula ia harus membuka telapak tangannya untuk mengambil dan memberikan barang kepada orang lain. Ketentuan ini berkonsekuensi pada hukum lainnya yaitu bahwa telapak kaki wanita tidak boleh dilihat oleh laki-laki yang bukan mahramnya. (Muhammad bin Husain bin Ali at-Thuri al-Qadiri, Takmilah al-Bahr ar-Raiq Syarh Kanz ad-Daqaiq, [Beirut, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah: 1418 H/1998 M], cetakan pertama, tahqiq: Zakariyya ‘Umairat, juz VIII, halaman 351-352). Qaul al-Ashah Mazhab Hanafi: Telapak Kaki Wanita Bukan Aurat
Namun demikian, dalam salah satu riwayat yang kemudian menjadi qaul al-ashah dalam mazhab Abu Hanifah menyatakan bahwa kedua telapak kaki wanita boleh dilihat oleh laki-laki non mahram. Kenapa demikian? Sebab terkadang wanita perlu membuka telapak kakinya ketika berjalan telanjang kaki atau hanya memakai sandal. Sebab, tidak setiap waktu perempuan dapat menemukan khuff (semacam sepatu) yang dapat menutup kedua telapak kakinya secara rapat.
Menurut Mazhab Maliki, membagi aurat lelaki dan wanita ketika shalat dan diluar shalat kepada dua bagian. Pertama, aurat berat (mughallazah) dan aurat ringan (mukhaffafah). Aurat berat pada lelaki adalah kemaluan dan dubur, sedangkan aurat ringan selain dari kemaluan dan dubur adalah Fahd (paha) menurut mazhab ini bukanlah aurat, mereka berdalil dengan hadist nabi yang diriwayatkan oleh Aisyah RA.: “Pada perang Khaibar tersingkaplah pakaian Nabi dan nampaklah pahanya”. (HR. Bukhori dan Ahmad). Aurat berat wanita seluruh badan kecuali ujung-ujung badan dan dada. Yang dimaksud ujung badan adalah anggota ujung badan seperti tangan, kepala dan kaki. Semua ujung badan itu tidak dianggap aurat berat ketika sembayang. Mazhab Maliki membataskan apa yang dianggap aurat ringan pada wanita termasuk dada, lengan, leher, kepala dan kaki. Sedangkan muka dan dua telapak tangan tidak dianggap aurat langsung pada mazhab ini, pendapat mazhab ini banyak diikuti negara-negara Arab di Afrika Utara dan negara-negara Afrika.
Disebutkan dalam kitab Almudhawanatul Kubro Imam Malik berkata: “jika wanita melakukan shalat sedangkan rambutnya tampak atau dadanya tampak, atau punggung kakinya tampak maka hendaklah ia mengulang selama masih dalam waktunya”. Jadi, menurut imam malik batasan aurat wanita adalah semua anggota badan kecuali wajah dan dua telapak tangan.
Menurut Mazhab Hambali, aurat pada laki-laki terletak di antara pusat dan lutut dalil mazhab ini sama dengan yang digunakan oleh mazhab hanafi dan mazhab syafi’i. Berdasar firman Allah SWT.

 

“……..dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya……..” (QS. An-Nuur :31)

 

Wanita tidak boleh membuka selain muka dan kedua telapak tangan sewaktu shalat. Dalil yang digunakan sama dengan yang dipakai dalam mazhab Syafi’iyah. Dalil yang mewajibkan menutup kedua telapak kaki adalah hadist riwayat Ummu Salamah yang artinya, “Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah perempuan memakai baju dan tudung tanpa sarung?’ Nabi menjawab, ” Ya, jika memang bajunya panjang, maka tutuplah bagian punggung tapak kakinya”.
Hadist ini menunjukkan wajibnya menutup kedua belah tapak kaki, karena ia termasuk bagian tubuh yang tidak boleh dibuka semasa ihram. Baik haji atau umrah. Maka ia tidak boleh dibuka ketika shalat. Wanita sudah cukup menggunakan pakaian yang dapat menutupi bagian yang wajib saja. Berdasar hadist Ummu Salamah tadi. Tetapi ketika shalat, mereka disunnahkan memakai baju yang lebar dan panjang yang dapat menutup kedua telapak kakinya dan juga tudung kepala dan leher, serta menggunakan selendang yang diselimutkan ke atas baju yang dipakai.
Ibnu Qudamah menyatakan bahwa; ” Mayoritas ulama sepakat bahwa seorang wanita boleh membuka wajah dan mereka juga sepakat’ seorang wanita mesti mengenakan kerudung yang menutupi kepalanya. Jika seorang wanita shalat, sedangkan kepalanya terbuka, maka ia wajib mengulangi shalatnya. Imam Malik, Auza’iy dan Syafi’iy berpendirian; seluruh tubuh wanita adalah aurat kecuali muka dan kedua telapak tangan. Selain keduanya (muka dan telapak tangan) wajib untuk ditutup ketika hendak mengerjakan shalat”. Perbedaan ini disebabkan perbedaan penafsiran ayat Al-Quran surat An-Nuur.

 

“……..dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka,…….. atau para perempuan mereka” (QS. An-Nuur :31)

 

Dari 4 imam madzab diatas mengapa semua pendapatnya berbeda? Karena pandangan mereka dalam membaca sebuah ayat sudah berbeda, seperti imam hanafi metode cara membaca ayatnya menggunakan ra’yu ( logika ) dam istihsan sehingga lebih mudah, Imam Maliki dengan maslahah mursalah, Imam Hambali dengan teks hadis murni dan fatwa sahabat sehingga lebih kaku, sedangkan Imam Syafi’i dengan qiyas. Selain itu juga dipengaruhi tempat/ lokal yang berbeda-beda, sehingga nilai lokalitas turut menjadi pembeda atas produk hukum termasuk batasan aurat. Sosio kultur yang berbeda akan mengakibatkan hukum yang berbeda. Dan perbedaan tempat tinggal mereka juga berbeda sehingga mereka berpendapat sesuai kondisi situasi yang mereka tempati.
Jika dilihat dari 4 madzab di indonesia termasuk mengikuti madzab imam syafi’i. Kenapa? Karena sebagian wanita yang menutup auratnya dengan menggunakan cadar/ niqob. Tetapi juga masih banyak dikalangan remaja yang masih belum paham tentang bagaimana menggunakan jilbab yang benar. Menggunakan jilbab yang benar adalah mengulurkan jilbabnya sampai menutup dada. Masih banyak wanita yang sudah memakai pakaian tertutup. Tetapi mereka belum memahami bagaimana menutup aurat yang baik menurut pandangan islam. Ada yang dibilang sudah menutup aurat yaitu memakai celana jeans panjang, memakai baju namum dibawah siku siku sedikit. Padahal dapat dikatakan menutup aurat jika kita memakai baju panjang yang tidak ketat/ syar’i atau memakai baju sesuai syariat, dan menutup semua anggota badan kecuali telapak tangan dan wajah. Mungkin sebenarnya kita sudah tau, tapi kita enggan menggunakannya. Apalagi dengan bertambahnya zaman yang maju ini banyak sekali model – model baju yang bagus namun lengannya sepertiga. Dizaman yang sudah maju ini banyak remaja yang lebih senang mengikuti tren daripada mengikuti pandangan islam. Menurut saya mengikuti tren itu wajar, namun kita juga harus tau. Bagaimana menutup aurat yang benar. Kita boleh saja mengikuti tren namun juga harus tetap menutup aurat sesuai syariat islam.

 

Jadi, mengenai Batasan Aurat dalam Arasy Nusantara yaitu mengenai menutup aurat sudah dijelaskan bahwa aurat wanita itu seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan. Berarti baik kita shalat ataupun dalam beraktivitas sebagai seorang muslimah kita wajib menutup aurat. Karena apa Allah itu tidak hanya melihat kita pada waktu kita shalat, tapi Allah melihat kita dimanapun dan kapan pun kita berada.

 

Mengenai pakaian wanita itu dibedakan menjadi 2 yaitu mihnah (pakaian wanita di dalam rumah) seperti daster dll yang menampakkan letak perhiasan muslimah seperti leher dll, tapi jika ada yang bukan mahram harus tetap menjaga aurat. dimana pakaian muslimah itu longgar (tidak ketat), dan juga tidak menerawang.
dan Penting sekali untuk diingat, fiqih itu tidak tunggal. Satu rumusan hukum bisa relevan diterapkan pada suatu kondisi, belum tentu relevan pada kondisi lain, dan sebagai pengkaji fiqih kita tidak seharusnya terburu-buru menghukumi sesuatu tanpa melihat permasalahannya secara utuh.
Tapi juga ttp memperhatikan bagaimana fikih berkembang sesuai dengan keadaan waktu dan tempat…
dan Ikhtiyat lebih baik untuk tetap menjaga kesopanan baik kepada manusia dan Tuhan.
akan tetapi juga tetap memperhatikan bagaimana fikih berkembang sesuai dengan keadaan waktu dan tempat.

(Sumber Foto: https://www.google.com/search?tbs=sbi:AMhZZisMfeBC26xswvp9se56MjNYkfUkVsiaUtJ9yO2eF2VCMfdjUwrVQL0OACz-qtPRqNX2ZwM-wr6BiVYUVqnTzs-WqnC1UUbwOQFKrSnzbNKD8ZbU9w5UJmgmTicZFSsIgaKIteaTTwQPKMoqA-5fqqh6OboDVLll3X_1WwG-Z4RIzHnFxj95tGOe-zyr9y4DYrbCrzJTSSiK3VdjpoVbPRcWvSPp1YgvLzM9Qn6tJiHKv5YNqEA0lS-QsJtNHoLroufCe7PiMfI-N_1A9_1kyMyBy4JEB_17gbIJUFz2YN-gLeTezWfuccaz6_1Fn8LCEyRFXFPYH90u7BqVjv8h3jJqY1pTg4lHP3w)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *