Archive for May 22, 2020

Kewajiban zakat di Tengah Pandemi Covid-19

 

Cfinus

 Kewajiban Zakat di Tengah Pandemi Covid-19

Zakat adalah shodaqoh wajib yang dilakukan pada bulan ramadhan sampai sebelum sholat idul fitri dilakukan. Kewajiban zakat fitrah sesuai hadis Rasul dalam bentuk makanan pokok, makanan yang mengenyangkan dan dikonsumsi sehari-hari. Hanya Hanafiyah yang berpendapat bahwa zakat fitrah boleh dibayarkan dengan uang yang setara dan senilai dengan kadar zakat. Pendapat ini juga dirujuk oleh Wahbah al zuhaily dan Yusuf Qardhawy dengan alasan bahwa saat ini hal tersebut lebih memudahkan mustahiq dalam membelanjakan dan memenuhi tujuan dasar zakat fitrah agar fuqara’ tidak kelaparan dan meminta-minta pada hari raya.

عن ابن عباس رضي الله عنهما قال: فرض رسول الله صلى الله عليه وسلم صدقة الفطر طهرة للصائم من اللغو والرفث طعمة للمساكين فمن اداها قبل الصلاة فهى زكاة مقبولة, ومن اداها بعد الصلاة فهى صدقة من الصدقات

Dari Ibnu Abbas ra. berkata: Rasulullah saw mewajibkan zakat fitrah untuk menyucikan orang yang berpuasa dari perbuatan yang tidak berguna dan ucapan kotor, serta untuk memberikan makanan orang miskin. Maka barang siapa mengeluarkan zakat sebelum shalat id maka itulah zakat fitrah yang terqabul, dan barang siapa yang memberika zakat setelah shalat id maka itu termasuk shadaqah.

Kadar zakat fitrah adalah 2.176 kg dalam bentuk makanan pokok. Jika berupa uang maka Nominal uang yang dibayarkan sebagai zakat harus setara dengan kadar zakat fitrah. Jika beras yang dikonsumsi harian seharga Rp 10.000,- , 2,5kgxRp 10.000,-=Rp 30.000,- Jangan membayar zakat dengan nilai beras yang kualitasnya di bawah beras yang sehari-hari dikonsumsi. Melebihi kualitas beras yang dikonsumsi sehari-hari jelas lebih utama.

Prinsip dasar zakat sebagaimana diajarkan Rasul adalah dari dan untuk penduduk setempat.

نابن عباسٍ رضي الله عنهما: أنَّ النبي ﷺ بعث معاذًا إلى اليمن .. فذكر الحديثَ, وفيه: أنَّ الله قد افترض عليهم صدقةً في أموالهم, تُؤْخَذ من أغنيائهم, فتُرَدُّ في فُقرائهم.

Jika memang di daerah tsb sudah tidak ada yang membutuhkan, maka zakat bisa dialihkan ke luar daerah yang membutuhkan, dan ini adalah tanggung jawab amil. Pemerataan dalam penyaluran zakat adalah tugas berat dan bisa sukses jika didukung database mustahik, apakah berbentuk konsumtif atau produktif. Saat ini penyaluran zakat yang dilakukan Lembaga Pengelola Zakat baik BAZNAS maupun LAZ bisa menjadi alternatif dan pilihan. Mustahik tidak harus antri untuk mendapatkan bagian, tapi LPZ yang pro aktif menyalurkan kepada mustahik.

Penyaluran zakat dalam bentuk perlengkapan penanggulangan Covid 19 adalah dibenarkan, mengingat petunjuk yang diberikan nash bersifat umum, kategori mustahik bukan dalam bentuk individu. (Red)

 

 

 

Klasifikasi Najis dalam Konteks Fikih di Indonesia

Rab_6_05_2020_11_03_08

Oleh:  Joko Purnomo

Moderator:  Alfinta Mazida

Klasifikasi Najis dalam Konteks Fikih di Indonesia

Najis merupakan turunan dari kata najisa – yanjisu – najsan atau semakna dengan al-qadzarah, yang berarti sesuatu yang kotor. Istilah najis, menurut Dr. Abdul azim Al Badawi Najis merupakan segala sesuatu yang dianggap kotor oleh orang-orang yang masih memiliki tabiat yang baik, lalu menjaga dirinya dari kotoran tersebut, membersihkan pakaianya apabila terkena kotoran itu. Dalam surah Al-an’am : 145 , dapat di simpulkan bahwa segala sesuatu yang haram tidaklah boleh untuk di makan , antara lain Bangkai , darah yang mengalir, daging babi . karena dari hal tersebut mengandung kotoran. Maksud daripada bangkai di atas , mengutip ceramah dari Buya Yahya yang dimaksud bangkai disini adalah ketika di sembelih tidak menyebut dengan asma Allah atau tidak di lakukan penyembelihan secara syar’i . Kaitanya dengan bangkai ada pengecualian dimana walaupun ia telah mati dan matinya karena bukan penyembelihan serta tidak menggunakan Asma Allah, bangkai tersebut masih dapat dikonsumsi dan suci, yaitu bangkai ikan dan belalang .

Melihat dari pendapat ulama 4 Madzhab, mengenai najis

1. Madzhab Hanafi Menurut, Imam al-Kasani : Najis adalah sebutan untuk benda yang dianggap jijik. Dimana najis ada yang berwujud dan hakiki, ada pula yang hukmi. Namun secara umum yang di fahami sebagai najis adalah hal ada wujud bendanya saja. Imam Ibnu abidin, menyebutkan bahwa dari najis yang hakiki dan hukmi tersebut, meniscayakan pemahaman bahwa najis hakiki adalah sesuatu yang kotor atau al-khatabs. Sedangkan najis yang hukmi adalah al-hadats. Keduanya sama-sama “sesuatu yang kotor” namun yang satu berwujud (hakiki), yang satunya sifatnya tidak (hukmi)

2. Madzhab Maliki – Dalam madzhab maliki, sebagaimana yang dicatat oleh K.H Mustafa Yaqub, imam malik dalam kitabnya al-mudawwanah al-Kubra tidak banyak membahas terkait definisi najis.

3. Madzhab Syafi’I dan Madzhab Hambali Mengutip pendapat Imam Zakariya al-Anshari, dalam kitab Asnal Mathalib ;

بِكُلِّ عَيْنٍ حَرُمَ تَنَاوُلُهَا مُطْلَقًا فِي حَالَةِ الِاخْتِيَارِ مَعَ سُهُولَةِ تَمْيِيزِهَا، وَإِمْكَانِ تَنَاوُلِهَا لَا لِحُرْمَتِهَا، وَلَا لِاسْتِقْذَارِهَا، وَلَا لِضَرَرِهَا فِي بَدَنٍ أَوْ عَقْلٍ

“setiap benda yang haram dikonsumsi secara mutlak dalam keadaan ikhtiyar (tidak terdesak dan bebas), mudah dibedakan wujudnya, dapat dipergunakan, tidak dimuliakan, tidak dianggap jijik, serta bukan karena sebab berbahaya bagi tubuh dan pikira”

Mengenai macam2 najis, mengutip dari kitab _safitun najah_ ada dua macam najis, yaitu :

1. Najis hakikiyah atau ‘ainiyyah Merupakan najis yang dapat menghalangi shalat, serta najis ini selamanya tidak bisa menjadi suci Contoh : (air kencing, kotoran hewan)

2. Najis Hukmiyyah atau ma’nawiyyah Merupakan keadaan seseorang yang tidak suci sehingga dapat menghalangi ia untuk shalat, serta perlunya ia untuk berwudhu atau mandi . Contoh : buang angin

Mengenai bagian-bagian najis Hal ini di dasarkan atas klasifikasi tingkat kesulitan dalam menyucikanya, najis di bagi menjadi 3 bagian ;

1. Najis Mukhafafah (ringan) Contoh (air kencing anak yang berusia di bawah umur dua tahun, dan belum minum atau makan, kecuali air susu ibunya (ASI) – Cara pembersihanya, dengan cara memercikkan air ke tempat yang terkena najis.

2. Najis mutawasithah (sedang) Contoh : kotoran ayam yang ada dilantai/teras rumah – cara mensucikan dengan cara menghilangkan dulu najis ‘ainiyah nya (hingga hilang bau, rasa dan warna) kemudian menyiram tempat nya dengan air suci yang mesucikan

3. Najis Mugholadoh (berat) Contoh : najis anjing/babi Cara mensucikan nya dengan cara membasuh dengan air sebanyak tujuh kali dan diantara basuhan nya salah satunya di campuri dengan debu.

Di lain arti najis itu sendiri adalah kotor. Kotor juga memiliki makna yang lebih awam untuk di kenal di kalangan masyarakat .Dalam Bahasa arab, kotor di sebut kodzar  ( قذر ) , dalam al-qur’an surah Al- An’am kotor di istilahkan dengan rijsun  ( رجس ) .Di dalam KBBI kotor bermakna “tidak bersih atau terkena noda”Atau di dalam istilah kotor adalah keadaan yang tidak bersih baik tempat, pakaian, badan ataupun benda. Contoh : Baju yang terkena lumpur, terkena bekas makanan atau sampah yang berserakan . Baik najis ataupun kotor sama-sama harus dibersihkan apabila akan melaksanakan sholat . Karena bersih merupakan sebagian dari pada syarat sah sholat (baik bersih dari najis, hadats, ataupun kotoran)

Jika dilihat dari asal muasalnya kotor, terbagi menjadi dua :

1. Kotor berasal dari benda suci Contoh : baju terkena makanan Artinya adalah kotor tersebut tetap menimbulkan kesucian

2. Kotor berasal dari benda najis Contoh : pakaian yang terkena darah. Artinya kotor tersebut telah ditimbulkan karena terkena najis dan perlu dibersihkan sebagai mana cara membersihkan najis itu sendiri .

Pendapat Syekh Zainuddin Al-Malibari dalam kitab Fathul Mu’in, menjelaskan bahwa :

وَنَقَلَ فِي الْجَوَاهِرِ عَنِ الْأَصْحَابِ لَا يَجُوْزُ أَكْلُ سَمَكٍ مُلِحَ وَلَمْ يُنْزَعْ مَا فِيْ جَوْفِهِ أَيْ مِنَ الْمُسْتَقْذَرَاتِ وَظَاهِرُهُ لَا فَرْقَ بَيْنَ كَبِيْرِهِ وَصَغِيْرِهِ لَكِنْ ذَكَرَ الشَّيْخَانِ جَوَازَ أَكْلِ الصَّغِيْرِ مَعَ مَا فِيْ جَوْفِهِ لِعُسْرِ تَنْقِيَّةِ مَا فِيْهِ

“Al-Qamuli dalam kitab Al-jawahir mengutip dari kalangan syafi’I bahwa tidak diperbolehkan mengonsumsi ikan asin yang tidak dibersihkan kotoran-kotoran di dalamnya. Zhahir dari kutipan Al-Qamuli ini membedakan antara ikan besar dan kecil. Tetapi dua guru besar madzhab syafi’I (al-Nawawi dan Ar-Rafi’I) menyebutkan, diperbolehkan mengonsumsi ikan kecil beserta kotoran di dalam perunya, sebab sulitnya membersihkan kotoran tersebut”

Pendapat Syekh Ahmad bin Umar As-Syathiri dalam Syarah Bughyatul Mustarsyidin juz 1, menjelaskan bahwa :

وَقَدِ اتَّفَقَ ابْنَا حَجَرٍ وَزِيَادٍ وَ م ر وَغَيْرُهُمْ عَلَى طَهَارَةِ مَا فِيْ جَوْفِ السَّمَكِ الصَّغِيْرِ مِنَ الدَّمِ وَالرَّوْثِ وَجَوَازِ أَكْلِهِ مَعَهُ وَأَنَّهُ لَا يَنْجُسُ بِهِ الدُّهْنُ بَلْ جَرَى عَلَيْهِ م ر الْكَبِيْرَ أَيْضاً (قوله في الكبير أيضا) وَاعْتَمَدَ ابْنُ حَجَرٍ وَابْنُ زِيَادٍ عَدَمَ الْعَفْوِ عَمَّا فِيْ جَوْفِهِ مِنَ الرَّوْثِ لِعَدَمِ الْمَشَقَّةِ فِي إِخْرَاجِهِ إِذَا كَانَ كَبِيْراً.

“Ibnu hajar, Ibnu Ziyad dan ar-Ramli sepakat sucinya (dalam arti ma’fu) darah dan kotoran ikan kecil dan diperbolehkan mengonsumsi ikan tersebut beserta darah dan kotoranya serta tidak dapat menajiskan minyak. Bahkan Ar-ramli memberlakukan hukum tersebut untuk ikan besar juga. Sementara ibnu hajar dan ibnu ziyad tidak menghukumi ma’fu kotoran ikan besar, sebab tidak ada masyaqqah (keberatan) dalam membersihkanya”

Kesimpulan nya adalah. Tidak terlepas dari semua pendapat bahwa kehati-hatian dalam mengolah makanan apapun harus lah bersih, baik bersih dari kotoran ataupun dari najis. Dan apabila dalam hal mengola ikan, Ketika karena ukuranya, kotoran ikan masih dapat dibersihkan maka haruslah dibersihkan. Namun apabila karena ukuranya yang kecil dan tidak dimungkinkan untuk membersihkannya, maka diperbolehkanya untuk mengkonsumsi tanpa harus menghilangkan kotoran yang ada di dalamnya .

Kesimpulannya yaitu najis merupakan sesuatu yang wajib dijauhi oleh setiap muslim dan dibersihkan, Ketika najis itu mengenai pakaian, tempat atau badannya. Dapat diartikan najis yaitu sesuatu yang kotor. Dari pernyataan tersebut maka dalam Q.S Al An’am ayat 145 bahwasanya segala sesuatu yang haram tidaklah boleh untuk di makan, antara lain bangkai, darah yang mengalir, daging babi, karena dari hal tersebut mengandung kotoran. Mengenai macam-macam najis.

Mengutip dari Kitab Safitun Najah ada dua macam najis, yaitu:

1. Najis Hakikiyah atau ‘Ainiyyah

2. Najis Hukmiyah atau Ma’nawiyyah.

Mengenai bagian-bagian najis, atas klasifikasi kesulitan dalam menyucikannya terbagi menjadi:

1. Najis Mukhafafah

2. Najis Mutawasithoh

3. Najis Mugholadah

Di lain arti najis itu sendiri adalah kotor, maka kotor merupakan keadaan yang tidak bersih baik tempat, pakaian, badan ataupun benda. Dilihat dari segi asal muasalnya, kotor dibagi menjadi dua:

1. Kotor dari benda suci, seperti pakaian terkena makanan.

2. Kotor dari benda najis, seperti pakaian terkena darah.

Baik najis maupun kotor yang berasal dari benda, hewan, ataupun makanan harus sama-sama dibersihkan, mengingat kebersihan merupakan syarat sah sholat dan agar tidak menghindari kita dalam beribadah.

Lalu kemudian bagaimana hukum ikan yang dikonsumsi apabila kotoran nya tidak dibuang? Kehati-hatian dalam mengolah makanan apapun harus lah bersih, baik bersih dari kotoran ataupun dari najis. Dan apabila dalam hal mengola ikan melihat dari sisi ukurannya, apabila kotoran ikan masih dapat dibersihkan maka haruslah dibersihkan. Namun apabila karena ukuranya yang kecil dan tidak dimungkinkan untuk membersihkannya, maka diperbolehkanya untuk mengkonsumsi tanpa harus menghilangkan kotoran yang ada di dalamnya .

(Sumber  foto: https://umma.id/article/share/id/1002/550435)