Archive for November 10, 2020

Pemuda Juga Pahlawan

20201110_084237

PEMUDA ITU JUGA PAHLAWAN

Oleh: Ravi alamsyah (Peneliti muda C-FINUS) 

Bagi kita bukan kalangan lagi
Pertempuran itu
Resolusi jihad sabilillah bergema
Mimpinya kemerdekaan adalah bintangnya

Hidup mereka berani dan berwangi
Panas tanpa lelah
Dingin tanpa resah

Semangat tak mungkin padam
Siang berjihad malam dalam mendoa
Sekali-kali mereka bukan pekerja tanpa upah

Mereka berteriak bukan menjerit karena lara
Mereka senyum menahan luka dalam dada
Mereka marah mengoyak semangat kuat hebat

Pemuda itu ! Masih inginkan petang datang
Pemuda itu ! Obat luka dari negeri ini
Pahlawan.. Tidak takut dehidrasi
Pahlawan.. Tidak takut kalau kaki tak beralas lagi
Mereka semua ada diantara kita-kita

Berdiri tegak walau lawan seribu kali
Sabilillah yang berani binasa
Maju rapat digaris depan
Bambu dikiri, keris dikanan

Dengan menggenggam sambil bersorak
“Merdeka! Merdeka! Allahu akbar! “

Layar merah putih berkibar dari kelam
Merangkai waktu tahun-tahun berlalu
Masa demi masa

Kepadamu kami mengadu derita kami
Beri warna pada negeri ini
Dengan leluasa bungkarno berujar
“Beri aku 10 pemuda, maka akan kugoncangkan dunia”

Ngunut, 10 November 2020

Sejarah Fikih di Indonesia

SEJARAH FIKIH DI INDONESIA

20201109_031321

 

 

Pemantik   : M.Ilham Bagus D.A

Moderator : Queen Adila

 

Kata “fiqih” berasal dari bahasa Arab, faqiha-yafqahu-fiqhan, yang berarti al-fahmu (paham), yakni al-fahmu ash-shalih (pemahaman yang benar). Posisi fiqih tentu saja berbeda dengan posisi Al-Qur’an dan Hadist. Jika Al-Qur’an itu qadim (azali), maka fiqih itu hadist (temporal). Jika Al-Qur’an bersifat universal dan mutlak benar. Maka fiqih bersifat patrikular, fleksibel, dan kebenarannya relatif.

Oleh karena itu fiqih adalah produk anak zaman. Tumbuh dan berkembang sesuai dengan perkembangan zamannya pada kerangka ruang dan waktu yang mewadahinya. Fiqih berubah sesuai dengan perubahan sosial. Fiqih juga berbeda sesuai dengan perbedaan para pemikirnya, pembentuknya, dan pengembangnya dari suatu waktu ke waktu lain, atau dari suatu tempat ke tempat lain.

Imam al-Qarafi dari madzhab Maliki dalam kitab al-furuq menasehati kita, “Janganlah kalian terikat pada apa yang tertulis dalam kitab-kitab sepanjang hidupmu. Jika datang seseorang dari daerah lain yang minta fatwa hukum kepadamu, maka janganlah kamu tarik ke dalam budayamu. Tetapi tanyakan dulu tradisi/budayanya, lalu putuskan dengan mempertimbangkan tradisi/budayanya, bukan atas dasar budayamu atau yang ada dalam kitab-kitabmu. Membakukan diri pada kitab-kitab yang ada sepanjang hidup merupakan kekeliuran dan ketidak mengertian dalam memahami tujuan yang dikehendak para ulama masa lalu”. (Al-Qarafi, al-Firuq, jilid 1, hlm. 177)

Terkait dengan fiqih Indonesia, di temukan dasar teologisnya dalam keputusan Muktamar NU ke-11 di Banjarmasin, 9 Juni 1936. Dalam keputusan itu, NU memberikan status hukum Negara Indonesia yang saat itu masih dikuasai oleh pemerintah penjajah Belanda dengan Dar al-Islam (negeri Islam). Sedangkan Imam Abu Hanifah mengidentifikasi apabila umat Islam merasa aman dalam menjalankan aktivitas keagamaannya, maka Negara tersebut termasuk Dar al-Islam (wahbah al-Zuhaili, Atsar al-Harb fiy al-Fiqh al-Islami, hlm. 56). Bahkan dikatakan apabila dalam Negara itu telah diberlakukan sebagian syariat Islam, seperti mendirikan masjid, menegakkan sholat jum’at dan sholat jamaah, maka Negara itu juga sudah dapat disebut Dar al-Islam.

Dengan demikian, jelaslah bahwa fiqih Indonesia adalah kenyataan budaya yang sudah terpatri dalam praktik masyarakat Indonesia. Diakui atau tidak, fiqih Indonesia sebetulnya ada, dipahami dipraktikkan, dan ditulis oleh para ulama Indonesia. Fiqih yang dipraktikkan masyarakat Nahdlatul Ulama adalah fiqih Indonesia, fiqih yang menyatu dengan budaya dan tradisi Indonesia.

Fiqih adalah produk hukum Islam sedangkan syariah adalah sumbernya. Fiqih yang dikaji di Indonesia memang mayoritas adalah fiqih Syafi’iyah karena di Asia fiqih Syafi’iyah yang paling banyak menjadi rujukan. Namun bukan berarti madzhab yang lain tidak dipakai, karena jika melihat pada pengertian Aswaja adalah menggunakan pendapat dari salah satunya. Dan bukan berarti dalam ibadah kita harus menggunakan pendapat madzhab terdahulu karena konteks yang tidak sama. Maka fiqih Indonesia ini adalah produk hukum Islam yang dalam penemuannya menggunakan living/ local wisdom di Indonesia. Contohnya seperti kenduri, tahlil, dll.

Lalu bagaimana jika kita melihat budaya reog ponorogo, yang sepertinya telah melanggar syariat karena dalam tariannya terdapat gerakan mengegolkan (memamerkan) tubuh dan aurat yang masih dipamerkan dalam menari ? bahwasanya yang harus kita pahami sesuatu itu sebagai sebuah ajaran atau budaya. Untuk sakralitas itu berarti kita menganggap ajaran reog sebagai sebuah ajaran. Jika profan maka reog kita yakini sebagai budaya. Oleh sebab itu kita tidak bisa mengatakan halal/haram karena bukan berkaitan dengan ibadah secara murni, itu adalah jenis tarian daerah yang menceritakan sebuah kisah dari dongeng dimasa lalu.

Untuk contoh tentang ibadah yang sudah mengalami akulturasi dengan budaya adalah kenduri, megengan, maleman, dll. Karena disini ada wajah tradisi yang dinilai secara kuat oleh masyarakat bahwa kegiatan ini memiliki hubungan kuat dengan ibadah, berpahala dan baik. Kenapa sih budaya-budaya itu kuat dengan ibadah ? karena ada ikatan geonologi dengan tokoh persi yang terkenal dengan kerajaan SAFAWI yang bercorak syi’ah. Dari sanalah ajaran mengenai tradisi sangat kuat dan akhirnya terbawa sampai Indonesia melalui Syaikh Subakir dan Syaikh Jumada Al kubro dan tokoh atau ulama lain.

Fiqih Indonesia adalah fiqih yang dibuat di Indonesia sesuai dengan kultur masyarakat dan budaya di Indonesia. Sedangkan fiqih kontemporer adalah hasil ijtihad terhadap masalah hukum Islam yang terjadi pada masa kekinian right now, dengan menggali sumber hukum Islam berupa Al-Qur’an dan sunnah. Hubungannya dengan kedua fiqih tersebut adalah saling berkesinambungan karena fiqih kontemporer yang dibuat di Indonesia menjadi sebuah produk fiqih Indonesia yang baru.

Kata modern dalam bahasa Arab yaitu al ‘ashr artinya sama dengan kontemporer. Merujuk hal ini, sejarawan memberi batasan kapankah zaman disebut kontemporer (kholaf) dan tradisional (salaf). Khilaf/ashr/kontemporer adalah karya ulama yang eksis setelah 350 H. Sedangkan salaf/tradisional adalah karya ulama yang eksis sebelum 350 H.

Fiqih kontemporer adalah bagian dari modernitas Islam. Karena modernitas Islam adalah payungnya sedangkan fiqih kontemporer adalah bagian dari modernitas Islam. Dalam modernitas Islam terdapat fiqih kontemporer, fiqih progressif, paradigma baru, kajian gender, dll. Hal yang perlu di perhatikan bahwa modernitas itu peka dan menyapa kondisi secara budaya.