Khazanah Asyhur al-hurum : Ritual Ambengan sebagai media at-ta’awun dalam Tradisi Rejeban

Esai C-Finus

Esai C-Finus

Khazanah Asyhur al-hurum :
Ritual Ambengan sebagai media at-ta’awun dalam Tradisi Rejeban

Oleh : Muhammad Nurravi Alamsyah (Peneliti Muda C-Finus) HKI 3-F

Asyhur Al-hurum dan Interpretasinya
Asyhur al-hurum adalah bulan-bulan sakral yang telah dirumuskan dalam nash Al-Quran, dalam bulan tersebut banyak eksistensi yang berebeda dengan bulan-bulan lain. Dalam Qs At- taubah ayat 36 Allah menjelaskan :Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, diantaranya empat bulan haram. Itulah ketetapan agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu . Ayat tersebut dikuatkan dengan hadits Nabi yang merinci dengan detail apa saja yang disebut tuhan dengan bulan mulia Satu tahun ada dua belas bulan, dimana 4 darinya adalah bulan haram/suci. Tiga bulannya berlangsung secara berturut yakni dzul qodah, dzul hijjah, dan muharram. Salah satu lagi adalah rajab yang terletak diantara jumadil akhir dan syaban Abu Jafar Ath-Thabari memberikan sebuah analog tentang sakralitas empat bulan yang telah tersebut, dimana Allah menciptakan bilangan bulan selama kurun satu tahun sebanyak dua belas bulan, didalamnya terformulasi segala aspek wujud qadha yang telah diputuskan-Nya secara definitif dan pasti. Sakralitas bulan-bulan tersebut tentu saja meyiratkan pesan ilahiyah bahwa Islam tidak saja mengajarkan kepercayaan hanya pada dimensi teks, lebih dari itu, dimensi rasional dan transendental juga turut mewarnai khazanah pemikiran dalam Islam (At-Thabary : Jami Al-bayan Tafsir At-Thabary 14 : :235).
Sakralitas yang diajarkan tuhan melalui penyebutan bulan bulan tertentu, tentu saja bukanlah pesan tanpa makna, tentu saja terdapat tujuan tertentu (maqasid) dibalik pewahyuan ini. Seorang mujaddid bermadzab Hanabilah Qadhi Abu Yala menyajikan sebuah argument tentang pemaknaan hurum” yang dalam analisisnya memiliki relasi kuat dengan nilai historis dan sosial masyarakat arab terdahulu. Pertama, hurum mengarah pada hukum pengharaman atas pembunuhan yang dilakukan dalam bulan-bulan tersebut Kedua, makna hurum ditekankan pada aspek kemuliaanya dibandingkan bulan yang kain (Yala, Zad al-maarif fi ilmi at-tafsir, 2 : 257)
Seharah Suci dalam Rajabiyyah
Rajab adalah bulan dalam kalender hijriyah yang masuk dalam deretan bulan-bulan mulia, Ibn Rajab seorang Hanabilah mengkategorikan bulan rajab sebagai bulan untuk menanam dan Syaban untuk menyiram/memupuk yang bermuara pada bulan Ramadhan untuk memanen (Ibn Rajab, Lathaif al-maarif :121). Makna implisit yang dapat penulis petik dari penjelasan tersebut adalah manusia tidak tercipta hanya sebagai mahluq konsumtif , namun lebih dari itu, juga harus tercipta sebuah eksalasi semangat ibadah yang dipupuk di bulan Rajab ini. Sebab proses menanam hingga memanen secara sunnatullah bersifat kontinu, maka tidaklah mungkin seseorang hanya memanen di bulan Ramadhan tanpa menanam dan merawat di bulan sebelumnya yaitu Rajab dan Syaban.
Pada bulan Rajab tedapat momen penting yang tergores dalam sejarah besar Islam yang dikenang oleh sayyidul anbiya (pemimpin para nabi ) yaitu Isra Miraj. Ritual suci tersebut adalah sebuah perjalanan untuk menghadap Tuhan dalam masa semalam. Dalam catatan historis para ulama terjadi perbedaan pendapat mengenai waktu isra mira, namun merujuk pada salah satu karya muhadistin kalangan Hanafiyah ‘Abd al-Haq ibn Saif ad-din al-Bukhari al-Hanafy ( Lumaat at-tanqih fi syarh misykaat al-masabiih 9:376) bahwa hadis yang populer tentang terjadinya ritual suci Isra Miraj adalah jatuh pada 27 Rajab, hal ini didukung oleh amal ahl al madinah yang melaksanakan ritual rajabiyyah.
Setiap lingkup daerah dalam suatu bangsa memiliki khazanah tradisi budaya dan entitas adat istiadat yang berbeda-beda. Hal ini tidak lepas dari pengaruh topografi, historis dan juga hierarki daerah tersebut. Perbedaan tradisi setiap daerah merupakan sebuah anugerah rahmat dari Allah, hal itu selaras dengan sabda nabi lkhtilaf ‘ ummati rohmatun” (perbedaan atas umatku adalah sebuah rahmat). Tidak penting seberapa banyak perbedaan yang telah wujud, yang terpenting adalah bagaimana cara mempertahankan kelestarian tradisi budaya tersebut agar tidak musnah, sebab hal itu telah melekat menjadi simbol kekayaan kearifan lokal. Tradisi Rejeban” menjadi realisasi kaum muslim dalam menyikapi keistimewaan bulan Rajab dengan bentuk yang sangat beragam, kenyataan ini didukung oleh literatur Ulama yang menjelaskan universalitas makna amal sholih pada bulan-bulan suci (asyhur al-hurum) yang berbanding pahala besar telah membawa kepada pemahaman bahwa fadilah suatu amal tidaklah terikat dengan masa maupun kondisi, juga tidak terikat dengan fisik maupun metafisik, karena amal baik yang tertuju kepada tuhan secara langsung atau habl min allah maupun kebaikan-kebaikan yang tertuju untuk Allah melalui ibadah sosial berbentuk habl min an-nass (Interaksi pada manusia) seperti at-taawun ala al-birri saling tolong menolong dalam kebaikan sangat bernilai jika dilakukan dibulan-bulan ini.

Al-Taawun / Saling tolong menolong dalam kebaikan merupakan ketentuan sakral yang telah ditetapkan oleh Allah dalam nash-Nya, dalam kaidah gramatikal Arab dijelaskan bahwa bentuk kata al taawun adalah berkmakna musyarokah baina istnain fa akstar (sikap kesalingan antara dua orang lebih) sehingga melibatkan orang banyak. Muhammad Tanthowi dalam memberi penafsiran menarik dalam memahami Al-maidah ayat 2 yang berbunyi “dan saling tolong menolonglah kalian semua dalam hal kebaikan dan takwa , beliau mengartikan kata al-Taawun dengan “At-tawassu fi fili al-khoir wa isda al-maruf ila an-nass” (memperluas pada perbuatan baik dan memberi kebaikan pada sesama manusia). Sedangkan makna “tolong menolong dalam taqwa” adalah pensucian hati (M. Thonthowi, Tafsir Al-wasith Li Ath-Tanthawi : 32). Secara substansial lafadz al-birr (Kebaikan) dan at-taqwa dapat disandingkan, keduanya juga memiliki makna implisit (kinayah) karena pada ketaatan terdapat Restu tuhan dan pada kebaikan terdapat Restu manusia. Sehingga ketika keduanya direalisasikan bersama antara ridho Allah dan manusia, maka akan sempurna wujud sebuah kebahagaian dan akan menjadi luas sebuah nikmat. (Al-Mawardi, Al-wasith 4:32)

Ambengan: Autentisitas lokal dan media At-Taawun
Wali Songo yang menahkodai islamisasi di Nusantara memberi pelajaran penting bahwa terdapat sakralitas dalam budaya, salah satunya kultur rejeban yang besifat religus dan melekat di masyarakat jawa. Masyarakat memilih untuk bersikap tasamuh (toleran) dalam artian tidak serta merta menghakimi ritual ini dengan cara mengharamkan dan membidahkan. Sebab merujuk pada asal muasal islamisasi adalah berangkat dari ajaran agama yang menginternal kepada budaya masyarakat. Ambengan, adalah salah satu dari ratusan ritual khas masyarakat jawa yang bernuansa Islam, dalam ritual ini berkonsep at-taawun dari yang dilakukan oleh masyarakat, termasuk acara rejeban ini. Ambengan adalah manifestasi wujud rasa syukur dan pengabdian sebagai hamba kepada Allah atas rezeki yang telah diberikan. Hal ini adalah sebuah pengejawantahan dari pemahaman makna At-Taqorrub ila allah” (Mendekatkan diri pada Allah). Sehinga secara refleksi, sejatinya dengan adanya ritual seperti ini mendefinisikan sebuah simbolis proses pendekatan hamba kepada Tuhannya. Ambengan adalah simbol yang berupa sedekah yang berisi nasi dan lauk pauk dari hasil bumi. Makna implisit bumi adalah mengantarkan definisi bahwa bumi adalah tempat manusia berpijak, juga sebagai sebagai sumber eksploitasi makhluk hidup. Maka bumi telah menjadi sumber manfaat yang besar bagi makhluk hidup. Menilik manfaat bumi, hal ini memberi pemahaman bahwa seseorang juga haruslah memberi manfaat kepada orang lain seperti bumi.

Ritual Ambengan yang biasa diperingati di desa penulis yaitu kota Kediri, tidak menunjukan banyak perbedaan dengan daerah-daerah lain dalam acara rejeban. Ritual ambengan di Kediri lebih kerap dilakukan di masjid, mushola dan madrasah-madrasah diniyah. Dalam praktiknya, selepas gema adzan magrib dikumandangkan, para jamaah berbondong-bondong dengan membawa sedekah berupa makanan yang disajikan dalam wadah berupa marang/renggang (istilah jawa) atau voom, dan salah salah satu dari mereka membawa wadah besar yang bernama Ambeng (istilah jawa) yang berisikan makanan beserta lauk pauk hasil bumi. Selepas Sholat dilanjutkan acara rejeban yang diisi dengan kirim doa leluhur (Tahlil, Yasinan), ceramah tokoh ulama dilanjutkan dengan doa. Diakhir sesi, setelah ambeng dalam wadah besar dibagikan dalam kertas minyak untuk dimakan bersama, terdapat sesuatu yang unik dari acara ini, yaitu ijol ambeng/berkat.
Ijol ambeng/berkat adalah penukaran makanan dalam wadah berupa marang/renggang atau voom yang dibawa tadi kepada orang lain, sehingga setiap jamaah pulang membawa makanan yang berbeda, dengan kata lain bukan ambeng/berkat miliknya. Ijol ambeng/berkat ini beragam macamnya, ada suatu daerah yang ditukar adalah ambeng beserta isinya, ada juga yang secuil nasinya, ada yang hanya lauk-pauknya. Makna filosof yang tersirat dalam Ijol ambeng/berkat adalah wujud simbolik bahwa semua sama rata dan adil, tidak memandang kedudukan kasta, tidak ada perbedaan diantara orang msikin atau pun kaya. Sehingga paripurnalah sebuah jalinan rasa persaudaraan sesama umat. Sebab Allah tidak membeda-bedakan antara makhluk satu dengan makhluk lain, semua sama di hadapan-Nya.
Dalam ritual ambengan setidaknya memiliki tiga unsur Nilai nilai yang berhubungan erat pada masyarakat yang dapat penulis sampaikan, antara lain (1) Nilai Religius, ritual khusus di acara ambengan memiliki nilai religius, yaitu praktik interaksi seorang hamba dengan Tuhannya. Para jamaah mewujukan nilai religius ini dengan mengirim tahlil leluhur memintakan ampunan pada Tuhan agar masuk surga-Nya, selain itu juga memanjatkan sebuah harapan baik yang berhubungan dengan keselamatan, kemakmuran dan kesejahteraan seluruh elemen masyarakat setempat, (2) Nilai syukur . Para jamaah mengaplikasikan syukur dengan ekspresi rasa ikhlas menyumbangkan sedekah berupa ambeng. Nilai luhur naluri mereka mendorong pada setiap masing jiwa untuk membuktikan kerendahan seorang hamba dihadapan Tuhannya berupa sedekah ini. Sehingga dengan adanya ritual ambengan ini merupakan sikap preventif keluar dari khitab Allah yakni orang-orang yang kufur nikmat, (3) Imam al-Ghazali dalam karya populernya berjudul Ihya al-Ulum ad-Din menjelaskan bahwa Allah telah memberikan nikmat seorang hamba pada diri dan hartanya ibadah badan adalah manifestasi syukur badan. Ibadah harta (Shadaqah, dll) adalah menifestasi syukur atas hartanya (Ihya al-Ulum ad-Din 1:214)

Taawanu ala al-birri wa at-taqwa tidak hanya sekedar firman diatas lembaran, tetapi hal dengan hal ini adalah jalan menempuh mengaktualisasikan amal tersebut kepada ranah sosial. Imam al-Ghazali kembali menjelaskan dalam narasinya bahwa maksud dari At-Taawun adalah rasa semangat menolong dan mempermudah kepada jalan kebaikan dan menutup celah-celah keburukan dan permusuhan sesuai kemampuan masing-masing (Al-Ghazali, 2:307). Disamping adanya balasan baik dari Tuhan, maka akan terjalin pula hubungan kerukunan masyarakat yang bersifat masif dan filantropis. Disamping ini hal itu dapat membina dan memupuk jiwa sosialis yang tinggi terhadap generaso muda menciptakan nilai luhur dalam solidaritas. Pada hakikatnya, kausalitas sedakah ini sangatlah besar bagi setiap umat. Hal ini telah tepat pada garis yang telah difirmankan-Nya pada as-saba 39 “..Dan apa yang saja yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya, Dialah Pemberi rezdeki yang terbaik”.
Muhammad Tanthowi kembali menegaskan secara singkat bahwa Allah akan memberi balasan yang lebih besar berlipat dari apa yang telah dishodaqohkan (Tafsir Al-wasith.. 11:299). Sehingga, selain untuk menjunjung amal sholih dari tuntunan syariat, adanya at-taawun dalam rejeban berupa media ritual ambengan adalah sebagai pelestarian entitas kearifan budaya lokal jawa yang memiliki nilai karakter yang luhur. Masalah bentuk ritual sedekah, itu adalah bagian dari tradisi, adat, budaya dan kebiasaan saja. Satu contoh kalau di arab saudi orang tetkala bersedekah dengan nasi kabuli ataupun dengan hidangan kambing guling yang utuh, tetapi di jawa beda lagi bentuk sedekahnya ada yang menggunakan nasi dibentuk bulat -bulat, ada juga nasi yang dijadikan bubur nama bubur lemu, ada juga nasi kuning, dan juga bersedekah seperti halnya kambing guling tradisi dijawa dengan ayam panggang utuh.(Ainur Rofiq. tradisi slametan jawa dalam prespektif pendidikan islam)
Sebab pada dasarnya, mengacu pada rumusan hukum fikih, ritual apapun dalam adat masyarakat selama tidak mukhoolif li asy-syariah (bertentangan melewati batas hukum syariat) maka ritual tersebut menjadi Al-Urf as-shahih (Tradisi yang baik). Bahkan ulama Hanafiyah dan Malikiyah berpendapat bahwa Al-Urf As-Shahih dapat dijadikan hujjah untuk menetapkan hukum dengan dalih Surah Al-Araf ayat 199.(ushul fiqih 1. 166). Hal ini menunjukkan bahwa khazanah tradisi yang baik adalah tradisi yang perlu kita jaga secara kolektif dan kooperatif. Sebab zaman akan terus mengalir bagaikan arus, sehingga ketika sebuah tradisi leluhur tidak dijaga maka akan hilang ikut tergerus.
اذا تم الامر بدا نقصه

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *