Archive for Center of Fikih Nusantara

Jiwa Kebenaran Tegakkan Iman

Jiwa Kebenaran Tegakkan Iman

Karya: Fadli A.R

 

Jiwa kebenaran…..

Kau tegakkan Iman penuh kepercayaan

Walau badai besar melanda

Kau tetap kokoh dalam pendirian

Kala pendusta menghancurkan segalannya

Firman Allah pembelannya

 

Pendusta………….

Mata Hatimu telah beku

Lembah kegelapan telah menutup segalannya

Tiap jiwa kebenaran , telah teraniaya

Tertumpas mengalir merah jutaan darah

Menjerit, merintih sebuah perlakuan pedih,

 

Jauhlah,…

Jauhlah……..

Pendusta lenyaplah sudah

Tinggallah azab menyerca

Jiwa-jiwa penuh noda

 

Apa kau pernah menyadari………..?

Inilah kuasannya

Langit gelap pekat mencengkam ….

Awan hitam menutup biru

Petir berteriak hendak memusnahkan durjana

Sang permata lepas menghantam segalanya

Semua lebur,,,seperti bubur

Bertebangan , berhamburan

Kala melihat tak kuasa

Adzab pedih menghampiri

Jiwa pendusta lemah tak Berjaya

Kau pandang ini ocehan belaka ?

Tak dapat kau hindari,,,,,

Tak dapat kau ingkari…..

Terkupas hanguslah sudah

Tirai kelam tersingkap , insan beriman terlelap

Kenikmatan Syurga itulah balasannya

 

 

Dirajud dalam Surat QS AL-Buruj

TARAWIH KUALITAS ATAU KUANTITAS?

tarwih

Ketika melaksanakan solat tarawih, seringkali timbul pertanyaan dalam benak saya berapakah sebenarnya jumlah rakaat sholat tarawih yang sahih menurut fikih? Saya menemukan beberapa praktik yang berbeda, ada masyarakat yang melaksanakan tarawih dengan jumlah 8 rakaat, ada juga yang 20 rakaat, ada yang 32 rakaat, bahkan saya dengar ada yang 100 rakaat.  Perbedaan jumlah rakaat tersebut mudah ditemui dalam praktik tarawih di masjid maupun di mushola-mushola di penjuru nusantara.

Penelusuran saya terhadap literatur Islam menghasilkan informasi bahwa pada mulanya, sholat tarawih itu 8 rakaat. Hal ini didasarkan pada hadist yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori  dari sahabat Abi Salamah bin Abd Ar- Rahman yang bertanya kepada  Siti Aisyah perihal sholat yang dilakukan Nabi Muhammad pada bulan Ramdhan. Siti Aisyah menjawab bahwa Rasulullah SAW melakukan sholat malam hanya 11 rakaat, tidak kurang dan tidak lebih, dengan rincian 8 rokaat dua kali salam dan diakhiri sholat 3 rakaat, baik di bulan Ramadhan maupun di bulan lain. Imam Bukhari menyatakan hadis ini berkualitas shahih.

Akan tetapi, pendalaman terhadap hadis tersebut tidak menunjukkan adanya pengkhususan terhadap sholat tarawih, karena Rasulullah juga melakukan shalat 11 rakaat di bulan-bulan selain bulan Ramadhan. Oleh karena itu, timbullah  perbedaan pendapat dalam menyimpulkan apakah hadis tersebut ditujukan pada  shalat tarawih ataukah  sholat witir karena ada hadist lain yang menyebutkan bahwa Rasulullah melakukan sholat malam tiga belas rakaat antara lain sholat witir dan 2 rakaat sholat fajar. Tarawih 8 rakaat ini di Indonesia banyak dipraktikkan oleh warga Muhammadiyah, LDII, dan jam’iyah lainya.

Adapun sholat tarawih dengan bilangan 20 rakaat sendiri banyak dilakukan oleh kaum Nahdliyin atau warga Nahdlatul Ulama. Dasar dari pelaksanaan sholat tarawih 20 rakaat ini adalah  hadist mauquf, yaitu hadist yang sanadnya tidak sampai kepada Rasulullah SAW, melainkan pada sahabat-sahabat.  Diriwayatkan oleh Imam Al-Baihaqi dalam kitab Ash- Sunan Al-Kubro para sahabat melakukan shalat malam 20 rakaat pada masa Khalifah Umar bin Khattab di bulan Ramadhan, dan dalam melakukan sholat tersebut para sahabat melakukanya secara berjamaah. Keshahihanya hadis ini diakui oleh para ulama’, antara lain Imam Nawawi dalam kitabnya Al Khulashah dan Imam Suyuthi dalam kitabnya Al Mashabih fi Shalat Tarawih, serta imam-imam lainya.  Walaupun shalat tarawih dengan 20 rakaat ini tidak pernah dilakukan secara langsung oleh Rasulullah, sebagian pendapat mengatakan bahwa apa yang dilakukan sahabat pada masa Khalifah umar bisa dijadikan sebagai hujjah untuk menentukan jumlah rakaat shalat tarawih.

 Bila dirunut pada hadist yang berkaitan dengan hal di atas, dapat diceritakan bahwa pada suatu malam di bulan Ramadhan, Rosulullah hanya melakukan beberapa kali saja sholat dengan jumlah 11 rakaat secara berjamaah di masjid dan Rasulullah tidak menyebut dengan jelas bahwa itu solat tarawih jadi Rasulullah melakukan sholat jama’ah  yang mana ma’mumnya tidak mengetahui sholat apakah yang dilakukan Rasulullah. Kronologinya adalah saat bulan Ramadhan tiba, Rasulullah pada tengah malam pertama hingga malam ke tiga keluar rumah untuk melakukan solat di masjid hal itu dikuti pula oleh sahabat sahabat lainya. Pada malam ke-4, Rasulullah hanya melakukan solat subuh. Beliau mengatakan bahwa beliau khawatir solat tersebut akan di wajibkan untuk umatnya dan atau dianggap wajib oleh umatnya. Sedangkan istilah sholat tarawih sendiri baru dikenal sewaktu Khalifah Umar bin Khatab melihat banyak orang muslim melakukan sholat malam pada bulan ramadhan dengan jumlah rakaat yang berbeda-beda bahkan ada juga segolongan muslim yang tidak melakukan solat pada malam tersebut  sehingga khalifah umar ingin umat islam sama selaras dalam melakukan sholat tersebut dan akhirnya khalifah umar memerintahkan umat  muslim untuk melakukan secara berjamaah yang di imami oleh sahabat Ubay bin Ka’ab di Masjid dengan jumlah rakaat sholat tarawih pada kali itu adalah 20 rakaat. Kejadian inilah yang melatar belakangi adanya istilah sholat tarawih yang berarti  shalat istirahat karena pada saat itu sahabat-sahabat melakukan istirahat setelah 2 kali salam atau 4 rakaat dan hadist mauquf inilah yang dijadikan golongan ahli wal jama’ah melakukan sholat taraweh 20 rakaat. Sedangkan mereka yang sholat tarawih dengan 11 rakaat beserta witir dilandasi  oleh hadist yang di riwayatkan oleh siti aisyah mengenai solat yang dilakukan rasulullah yang berjumlah 11 rakaat pada malam ramadhan dan bulan lainya. padahal banyak Ulama’  yang mengungkapkan bahwa hadist itu merujuk pada solat qiyamul laili ataupun solat witir.

Terhadap perbedaan jumlah di atas, terdapat bermacam-macam penyikapan dari masyarakat. Ada masyarakat yang acuh tak acuh, ada yang toleran terhadap perbedaan tersebut, ada juga masyarakat yang mempersoalkannya, yakni menyebut penganut tarawih 20 rekaat sebagai tukang bid’ah. Yang paling ekstrem adalah disematkannya label kafir. Saya pernah menjumpai sendiri fenomena ini di daerah saya, Riau. Sungguh ironis, seorang muslim mengkafirkan muslim lainnya hanya karena perbedaan pandangan soal jumlah rekaat tarawih. Terlebih, pengkafiran itu berlangsung di bulan Ramadhan nan mulia, yang mestinya diisi oleh kaum muslim dengan perbuatan yang baik dan terpuji. Menghina, mencela, da mengkafir-kafirkan sesama muslim jelas tidak termasuk perbuatan yang baik, malah merupakan perbuatan terlarang yang seharusnya dihindari. Menurut saya, inti perbedaan antara 8 atau 20 hanyalah perdebatan untuk mencari mana yang lebih utama, bukan  untuk saling meniadakan keabsahan shalatnya.

Terlepas dari soal jumlah rekaat, menurut saya hal yang lebih penting untuk dibahas adalah soal kualitas shalat. Terkait dengan hal ini, sering sekali saya merenungkan mengapa shalat yang 20 rekaat rata-rata dilakukan dengan irama yang lebih cepat, bahkan kadagkala terkesan terburu-buru daripada shalat yang 8 rekaat. Bahkan, saya pernah dengar jamaah di salah satu pondok pesantren di Blitar Jawa Timur dapat  melakukanya kurang dari 10 menit. Pertanyaan saya, apakah imam dan makmum dapat tuma’ninah, di mana tuma’ninah itu merupakan rukun shalat. Berdasarkan kitab-kitab fiqh, tuma’ninah adalah diam sejenak minimal selama waktu yang cukup untuk membaca “Subhanallah”. Misalkan imam dapat tuma’ninah, dapatkah makmum membersamai imam dalam tuma’ninahnya? ini penting menurut saya megingat syarat sah berjamaah adalah makmum dapat membersamai imam ketika tuma’ninah dalam ruku, i’tidal, sujud an duduk di antara dua sujud.

Sebaliknya, shalat tarawih yang 8 rakaat, pada umumnya dilaksanakan dengan lambat, tenang dan memakan waktu lebih lama daripada yang 20 rekaat. Lamanya shalat 8 rekaat ini, seringkali disebabkan oleh karena imam memilih membaca ayat atau surat yang panjangsetelah membaca surat Al Fatihah, dengan nada yang lambat pula. Dalam hal ini, tuma’ninah tampaknya diperoleh, namun tidak sedikit makmum yang mengeluh kelelahan, diserang kantuk dan tidak fokus karena menunggu imam terlalu lama menyelesaikan bacaannya.

Meyikapi hal tersebut, penting kiranya untuk mengingat kembali apa sebenarnya hakikat tarawih. Menurut tinjauan kebahasaaan, tarawih memiliki arti sholat yang banyak istirahatnya, karena kata tarawih dalam tata bahasa arab merupakan bentuk jama’ dari  kata tarwihah yang berarti istirahat. Menurut saya, banyaknya istirahat ini menunjukkan bahwa tarawih adalah ibadah yang melelahkan, oleh karena itu diberi jeda untuk istirahat, yaitu pada masa antara salam shalat yang pertama dengan takbir shalat berikutnya. Berkaitan dengan hal ini, maka perlu dihindari adanya shalat tarawih yang berlebihan durasinya hingga membuat jamaah kelelahan secara berkelanjutan. Artinya, imam harus paham karakter jamaah yang dipimpinnya, apakah terbiasa shalat lama atau tidak. jika jamaahnya adalah santri senior yang terlatih shalat dalam durasi lama, atau orang yang benar-benar siap shalat lama seperti halnya jamaah Masjidil Haram, dan sang imam memiliki kualitas bacaan yang fasih lagi indah, maka tidak masalah imam memanjangkan shalat.

Namun, apabila jamaahnya terdiri dari orang yang tidak terlatih shalat lama, dan tidak siap diajak berlama-lama, maka imam tidak perlu terlalu berlebihan dalam panjangnya bacaan sehingga tidak membuat jamaahnya menggerutu atau kapok berjamaah tarawih. Yang paling penting adalah niat yang baik untuk menghadap Allah, sikap yang tenang, serta durasi yang sesuai kemampuan imam dan makmum, tidak tergesa-gesa, namun tidak melampaui batas kemampuan. Dengan demikian, berapapun jumlah rekaatnya, setiap orang dapat menikmati shalat tarawihnya sebagai bentuk penghambaan yang intim dengan Tuhan-nya di bulan yang spesial.

 

 BAYU SETIAWAN HKI-2A ( waoneZID)

 PEGIAT C-Finus_door of interpretation are never shut

Kegiatan Klinik Menulis

WhatsApp Image 2019-04-26 at 08.49.26

Pusat studcenter of fikih nusantara pada hari kamis, 25 April 2019 mengadakan kegiatan rutin  “klinik menulis.” Kegiatan klinik menulis ini dilaksanakan di kantor pusat studi Center of Fikih Nusantara Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum yang kali ini dibimbing oleh salah satu tutor pusat studi Center of Fikih Nusantara, Dr. Zulfatun Nikmah, M.Hum. Pada kegiatan ini, antusiasme peserta sangat tinggi. Sebagai pengantar, tutor menyampaikan wacana fikih ke-Indonesia-

WhatsApp Image 2019-04-26 at 08.49.29

an. Term ini pertama kali digagas oleh Hasby ash-Shidiqi pada tahun 1940 an. Diantara produk fikih Indonesia adalah kewajiban Pencatatan pernikahan dan konsep harta bersama yang semuanya merupakan hasil ijtihad orisinil para ulama Nusantara

.

FIKIH INDONESIA : DALAM NARASI PEMIKIRAN HASBI ASH-SHIDDIEQY

FIKIH INDONESIA : DALAM NARASI PEMIKIRAN HASBI ASH-SHIDDIEQY

Nur Azizah Fatmawati Riwayat Hidup dan Gagasan Pembaharuan Hasbi Ash-Shiddieqy

Hasbi lahir di Lhokseumawe, Aceh Utara tanggal 10 Maret 1904 dan wafat di Jakarta 9 Desember 1975. Pendidikannya banyak dihabiskan dengan berkelana dari satu dayah (pesantren) ke dayah lain, yang dimulai sejak tahun 1912 di Dayah Tengku Chik di Piyeung dan berakhir pada tahun 1924 di Dayah Tengku Chik di Kruengkale, Aceh Besar dengan memperoleh syahadah sebagai pernyataan bahwa ilmunya telah cukup dan berhak membuka dayah sendiri.

Berangkat dari filsafat dan sistem hukum yang dipegangnya, Hasbi berkesimpulan bahwa fikih yang berkepribadian Indonesia harus diwujudkan. Selain itu, di kalangan orang yang tidak mengetahui fikih, selalu berpendapat bahwa hukum adat lebih patut dijadikan sebagai penunjang hukum nasional daripadafikih.Padahal jika dibandingkan antara fikih dengan adat, khusus bagi Indonesia, potensi fikih jauh lebih besar untuk menjadi tiang penyangga hukum nasional.

Corak Pemikiran Hasbi Ash-Shiddieqy
Dalam buku Memahami Syari’at Islam, Hasbi menjelaskan ada tiga istilah yang sekarang popular penggunaannya tetapi orang sering salah memahaminya.Ketiga istilah itu adalah syari’at, fikih dan hukum Islam. Kesalahan pemaknaan ini terjadi karena penyamaan istilah syari’at dan fikih. Bagi Hasbi, syari’at adalah hukum-hukum yang Allah tetapkan untuk para hamba-Nya dengan perantaraan rasul agar diamalkan dengan penuh keimanan, baik hukum itu berkenaan dengan ‘amaliyah, ‘akidah ataupun akhlak. Dengan pemaknaan ini, ia menegaskan bahwa syari’at Islam mencakup segala hukum dunia dan agama.

Syari’at mencakup hukum akidah yang dibahas dalam ilmu kalam, hukum akhlak yang dibahas dalam ilmu akhlak dan hukum-hukum ‘amaliyah yang menjadi objek fikih Islam. Sementara fikih hanya terkait dengan hukum agama semata. Tampaknya Hasbi tidak konsisten dengan keberatan yang diajukannya mengenai penyamaan fikih dengan hukum Islam karena seringkali ditemukan ia menggunakan kedua istilah ini secara bergantian. Berdasarkan hasil temuan ini maka yang dimaksud dengan hukum Islam dalam pemikiran Hasbi adalah hukum Islam itu sendiri.

Kasus-kasus tersebut dibatasi hanya pada persoalan hukum ibadah mahdhah, walaupun Hasbi sendiri menjelaskan bahwa ruang lingkup fikih Islam ada dua, yaitu hukum ibadah dan hukum mu’amalah. Pemilihan kasus ini didasari atas pertimbangan untuk melihat konsistensi Hasbi sebagai sosok pembaharu dalam semua aspek fikih, mengingat adanya anggapan bahwa dalam persoalan ibadah seseorang harus bersikap ‘mengikuti’ (puritan). Artinya, penilaian puritan seringkali dikaitkan dengan pelaksanaan ibadah yang harus disesuaikan dengan contoh yang diberikan oleh Nabi karena dianggap telah disampaikan secara rinci dan detail. Berbeda dengan masalah mu’amalah yang hanya ditegaskan prinsip dasarnya sehingga perbedaan pelaksanaan yang seringkali terjadi.

1. Salat Jum’at
Dalam buku Pedoman Shalat, Hasbi mengatakan bahwa pada hari Jum’at tidak ada salat zuhur empat rakaat. Karenanya orang yang tidak sempat mengikuti jama’ah Jumat, baik seluruhnya atau sebagiannya, atau orang yang berhalangan berjama’ah di masjid karena sakit atau sebab lain,begitu juga kaum wanita yang tidak wajib hadir berjama’ah di masjid, tetap harus mengerjakan Shalat Jum’at, baik bersama-sama atau sendiri. Menurut Hasbi, mereka tidak boleh shalat duhur pada siang Jum’at. Berjama’ah dan khutbah bukan rukun ataupun syarat sah Jum’at. Pendapat Hasbi ini berbeda dengan pendapat Jumhur, terutama yang popular dianut umat Islam Indonesia (mazhab Syafi’i). Karena itu tidak heran jika pendapat Hasbi ini menimbulkan kontroversi di kalangan umat sehingga menimbulkan polemik singkat antara Hamka, yang membela pendapat Jumhur, dan Abdul Rahman B. yang mendukung Hasbi.

Ada beberapa argumentasi yang dikemukakan Hasbi untuk mendukung pendapatnya di atas. Pertama, QS. al-Jumu’ah ayat 9 yang dipahaminya sebagai petunjuk bahwa salat tengah hari pada hari Jum’at hanyalah salat Jum’at. Perintah dalam ayat ini ditujukan kepada semua orang tanpakecuali; baik laki-laki, perempuan, orang yang menetap ataupun dalam perjalanan, yang sehat, sakit,berhalangan atau tidak. Oleh sebab itu, apabila seseorang tidak dapat menghadiri jama’ah Jum’atdi masjid karena suatu uzur, seperti ketakutan, sakit, hujan, dan lain-lain, ia dapat mengerjakan salat Jum’at di rumahnya, baik berjama’ah dengan keluarga atau sendirian.

Kedua, adanya hadis riwayat Umar yang berasal dari periwayatan Ahmad, an-Nasa’i, Ibn Majah, Ibn Hibban dan Baihaqi. Menurut Hasbi, hadis ini jelas menyebutkan bahwa shalat Jum’at itu dua raka’at utuh, baik dikerjakan sendiri atapun berjama’ah. Menurut Hasbi, Nabi salat dua raka’at, maka kitapun harus mengerjakannya dua raka’at. Adapun alasan yang dikemukakan bahwa Nabi selalu mengerjakan shalat Jum’at dengan berjama’ah, bagi Hasbi tidak dapat dijadikan dalil bahwa berjama’ah menjadi syarat sahnya shalat Jum’at. Sebab kalau kesimpulannya ditarik seperti demikian, maka seluruh salat fardhu baru sah dikerjakan jika dilakukan dengan berjama’ah. Bukankah Nabi selalu mengerjakan shalat fardhu dengan berjama’ah.

2. Zakat
Dalam masalah zakat, penulis berangkat dari pernyataan Hasbi tentang perlunya zakat dikaji ulang secara ilmiah dan perlu mendapat analisa baru. Di sini persoalan yang perlu ditinjau ulang adalah masalah nisab zakat. Menurutnya, nisab zakat yang sesuai dengan ketentuan syara’ adalah sebesar 20 mitsqal (ukuran emas) yang senilai dengan 200 dirham dan semua jenis harta berharga harus menggunakan standar 20 mitsqal tersebut sebagai patokan zakatnya. Karena itu, ternak-ternak yang mencari makan sendiri nilainya sama dengan emas, sebab emas berfungsi sebagai standar harga. Pendapat Hasbi yang cenderung menyatakan adanya standar kesatuan nisab bagi seluruh jenis harta kekayaan (berupa 20 mitsqal), jelas merupakan suatu pendapat yang baru pada masa itu karena berbeda dengan pemikiran umumnya ulama Indonesia yang tidak menggunakan standar tersebut dalam penetapan nisab zakat.

Selanjutnya Hasbi mengatakan bahwa mungkin karena kebutuhan hidup pada masa Nabi sangat sederhana, maka saat itu 5 ekor unta dinilai sama dengan 20 mitsqal. Dengan penentuan nisab zakat berdasarkan sistem nilai (harga), maka si wajib zakat benar-benar telah memenuhi persyaratan sebagai yang termasuk golongan kaya karena merekalah yang wajib berzakat. Orang yang dikenakan pungutan zakat benar-benar memenuhi syarat sebagai orang yang termasuk golongan kaya. Namun demikian, karena ketentuan nisab zakat ini dihasilkan oleh syara’, bukan oleh ijtihad para mujtahidun maka kita tidak dapat mempergunakan qiyas dalam hal ini. Bila diperhatikan pernyataan Hasbi tentang perlunya peninjauan ulang nisab zakat, maka dapat dikatakan bahwa menurutnya nisab zakat itu adalah petunjuk syara, karena itu harus selalu sesuai dengan ketentuan nas. Dengan kata lain, standar nisab 20 mitsqal itulah yang ditetapkan Nabi dan harus diperhatikan. Nisab 20 mitsqal adalah standar nisab yang layak untuk seluruh harta kekayaan wajib zakat. Hasbi sendiri menetapkan bahwa ukuran 20 mitsqal senilai dengan 96 gram emas, dimana mitsqal senilai 4,8 gram. Tetapi ia juga menyatakan bahwa pada masa Nabi, orang yang mempunyai kekayaan pada akhir tahun senilai 96 gram emas sudah terhitung kaya sebab dengan jumlah sebesar itu ia sudah dapat membeli lima ekor unta.

Di sini Hasbi menegaskan bahwa perlu dilakukan tinjuan ulang tentang definisi kaya untuk disesuaikan dengan standar masa kini agar orang yang terkena zakat benar-benar memenuhi persyaratan sebagai orang yang digolongkan kaya. Dapat disimpulkan dari pandangan Hasbi tentang batas nisab zakat bahwa ia ingin agar dilakukan tinjauan terhadap kepastian jumlah 20 mitsqal pada masa sekarang karena ukuran ini merupakan standar penetapan seseorang dikatakan kaya atau tidak. Walaupun Hasbi sendiri mengakui nilai tersebut setara dengan 96 gram emas, namun ia juga mempertanyakan keakuratan penjumlahan tersebut jika diukur dengan situasi dan kondisi masa sekarang. Menurutnya, jika dengan 20 mitsqal pada masa Nabi seseorang dapat membeli lima ekor unta, maka apakah dengan 96 gram emas seseorang juga dapat melakukan hal yang sama pada masa sekarang. Di sini terlihat bahwa Hasbi menginginkan adanya alat analisis tambahan untuk menetapkan ukuran kategori ‘kaya’. Analisis bantu ini dapat berupa ilmu pengetahuan modern, seperti ilmu ekonomi dan budaya setempat, sehingga penetapan kadar zakat lebih sesuai dengan tuntutan zaman.

Analisa Pemikiran Hasbi Ash-Shiddieqy
Berdasarkan dua kasus ibadah yang diangkat untuk menetapkan posisi Hasbi, dapat dikatakan bahwa tokoh ini adalah seorang modernis termasuk ketika ia menyelesaikan persoalan ibadah (mahdhah) dan tampaknya  ia berusaha konsisten dengan ide-ide yang digagasnya. Oleh karena itu,  klaim yang menyatakan Hasbi seorang modernis di bidang mu’amalah dan puritanis di bidang ibadah adalah kurang tepat. Penilaian di atas didasarkan kepada argumentasi yang diberikan Hasbi ketika ia mengemukakan pendapatnya baik tentang shalat Jum’at ataupun tentang nisab zakat mengembalikan setiap persoalan dengan mencari jawabannya kepada dalil-dalil nas (Al-quran dan al-Sunnah). Metode rujukan ini memang dipergunakan oleh masing-masing tipologi ketika memutuskan suatu perkara agama. Rujukan Hasbi kepada Al-quran dan Sunnah bukanlah sekedar rujukan yang bersifat literal karena ia juga menyertakan argumen rasional.

Kesimpulan
Dari paparan di atas dapat disimpulkan bahwa di bidang hukum Islam, Hasbi menunjukkan konsistensinya sebagai seorang modernis. Kesimpulan ini didasarkan atas dua kasus persoalan ibadah yang diangkat, yaitu tentang salat Jum’at dan nisab zakat. Dalam memahami kedua persoalan ini, Hasbi tidak semata-mata hanya menggunakan argumentasi naqli, tetapi juga ‘aqli. Bahkan ia juga menganjurkan penggunaan ilmu modern sebagai alat analisis tambahan. Kemoderenan ini sangat signifikan dengan apa yang telah digagasnya berupa pembentukan fikih Indonesia yang mengakomodir adat dan budaya Indonesia sebagai salah satu sumber hukumnya. []

Bapak kita

Post 1

TRADISI MANTEN AMBRUK

Tradisi Manten Ambruk

oleh Mufidatul Ma’rifah*

manten jawa

Setiap masyarakat  memiliki pola-pola budaya yang berbeda, diantaranya adalah masyarakat Jawa dengan budaya Jawanya yang merupakan salah satu kekayaan kultur yang dimiliki bangsa Indonesia. Kebudayaan merupakan hasil segala akal dan pikiran manusia yang terintegrasi ke dalam perilaku-perilaku masyarakat yang biasanya diwariskan secara turun temurun.

Di dalam masyarakat Jawa, terdapat nilai-nilai keluhuran dan kearifan lokal yang menjadi ciri khas masyarakatnya meskipun seiring dengan perkembangan zaman,  teknologi modern telah menyentuh dan mempengaruhi masyarakat luas, namun kebiasaan-kebiasaan yang merupakan tradisi turun menurun yang telah menjadi adat masih sukar untuk dihilangkan bahkan tidak berani untuk dilanggar.

Tradisi merupakan sesuatu yang dilakukan manusia sejak lama dan telah menjadi bagian dari suatu kelompok masyarakat tertentu. Setiap tradisi dalam masyarakat Jawa memiliki arti dan makna filosofis yang mendalam dan luhur, salah satunya adalah tradisi di dalam pernikahan khususnya yang berkaitan dengan prosesi upacara atau ritual pra perkawinan dan saat perkawinan berlangsung. Dalam tradisi masyarakat Jawa, terdapat beberapa istilah yang berkaitan dengan upacara perkawinan, diantaranya; kawin gantung, kawin keris, kawin di depan peti mati, ngarang wulu dan lain sebagainya.

Seperti yang dijumpai di desa Tiron yang terletak di kabupaten Kediri, terdapat sebuah tradisi unik yang bernama Manten Ambruk. Menurut masyarakat setempat, tradisi manten ambruk adalah tradisi yang dilakukan sebelum pernikahan dilaksanakan atau sebelum terjadinya ijab qabul yang sah, yang mana setelah seorang laki-laki melakukan pinangan dan mendapat jawaban setuju dari seorang gadis yang dipinangnya, calon pengantin laki-laki akan melakukan Ambruk (tinggal bersama) dengan calon pengantin wanita dan keluarga dari calon pengantin wanita. Untuk waktu tinggal bersama tergantung kesepakatan kedua belah pihak.

Menurut masyarakat setempat, tradisi Manten Ambruk memiliki dua tujuan, pertama; agar calon pengantin laki-laki bisa lebih akrab dengan keluarga dari calon pengantin perempuan, kedua; calon pengantin laki-laki membantu bekerja calon mertuanya dengan harapan agar calon mertua mengetahui seberapa besar rasa tanggung jawab calon menantunya tersebut terhadap anak perempuannya. Akan tetapi tidak tidak semua masyarakat desa Tiron mengerti akan tradisi ini dan tidak semua masyarakat desa Tiron melakukannya, tergantung pada kepercayaan dari setiap individunya.

Jika dilihat dari paradigma hukum Islam, menurut analisa penulis, tradisi Manten Ambruk telah menyimpang dengan argumentasi bahwa di dalam fikih Islam, seorang laki-laki  yang telah melakukan khitbah mempunyai batasan-batasan yang harus ditaati di dalam relasinya dengan wanita yang ia khitbah. Mayoritas Fuqoha’ seperti Imam Malik, al-Syafi’i, dan Ahmad dalam salah satu pendapatnya  mengatakan bahwa anggota tubuh wanita terpinang yang boleh dilihat hanyalah wajah dan kedua telapak tangan.  Adapun dalil mereka adalah firman Allah SWT dalam surat An-nur ayat 31:

وَلأ يُبْدِ يْنَ زِيْنَتَهُنَّ أِلأَّ مَا ظَهَرَ مِنْهَا

Dan janganlah menampakkan perhiasan (auratnya), kecuali apa yang biasa terlihat darinnya.

Sementara dalam tradisi manten ambruk, seorang laki-laki yang sudah melakukan pinangan diharuskan melakukan ambruk atau tinggal bersama dengan wanita yang ia pinang. Jadi tradisi ini telah menyalahi batasan yang telah ditetapkan syariat tentang relasi antara khatib dan makhtubah. Dalam beberapa hadist, Nabi juga menunjukkan batas-batas pergaulan antara laki-laki dan wanita yang bukan mahramnya. adapun salah satu hadist tersebut adalah:

وَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسِ رَضِ اللهُ عَنْهُمَا، أَنَّ رَسُوْلُ اللهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قاَلَ: لاَ يَخْلُوُنَّ أَحَدُكُمْ ياِمْرَاةٍ إِلَّا مَعَ ذَيِ مَحْرَمِ. (رواه البخاري ومسلم)

Dari ibnu Abbas RA, Bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: “Janganlah sekali-kali salah seorang di antara kalian berkhalwat (berduaan) dengan perempuan lain, kecuali disertai muhrimnya”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Esensi hadist di atas adalah adanya larangan berduaan antara wanita dan laki-laki yang tidak memiliki hubungan mahram. Khalwat adalah perbuatan yang dilakukan dua orang yang berlawanan jenis atau lebih, tanpa ikatan nikah atau bukan muhrim pada tempat tertentu yang sepi yang memungkinkan terjadinya perbuatan maksiat di bidang seksual atau yang berpeluang pada terjadinya perbuatan perzinaan.

Adapun kasus pada tradisi manten ambruk yang mengharuskan laki-laki dan wanita yang belum memiliki ikatan perkawinan untuk tinggal serumah dapat dikategorikan sebagai ‘urf  fasid, yang artinya adat istiadat yang bertentangan dengan nash-nash Al-Qur’an maupun Hadist meskipun di dalam tradisi manten ambruk terdapat tujuan baik, yaitu membantu pekerjaan calon mertua dan menanamkan rasa tanggung jawab pada calon mempelai laki-laki. Maka dari itu, dapat dikatakan bahwa tradisi ini bertentangan dengan ajaran Islam.[]

*Penulis adalah mahasiswa IAIN Tulungagung semester 8 di Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum  jurusan Hukum Keluarga Islam

 

 

 

Pendidikan dan Pelatihan Penulisan Karya Ilmiah Hukum dan Jurnalistik

 

IMG-20180517-WA0032

Setelah lama ditunggu kehadiranya, kali ini Center of Fikih Nusantara Fakultas Syari’ah dan ilmu hukum  mendapatkan kesampatan emas untuk mengembangkan nyali intelektualitas, Senin 14 Mei 2018 Fasih kehadiran dua narasmber dari pakar kajian hukum yakni ibu Dhiana Puspitawtati, S.H, LLM, Ph,D dari Universtas Brawijaya Malang. dan pakar kajian fikih Nusantara Bpk Drs, Mun’im DZ, yang saat ini mengemban amanah sebagiai wasekjend PBNU tuk merangsang ghirah akademik mahasiswa, khususnya dalam kajian hukum dan huku m Islam.

IMG-20180517-WA0034

Dalam forum yang bertajuk Pendidikan dan pelatihan  penulisan karya ilmiah hukum dan Jurnalistik, Ibu Dhiana yang merupakan alumnus Program Doctor of Philosophy dari  University of Queensland Austrtalia memberikan penguatan terhadap instrument-instrumen wajib dalam mengkaji hukum yang terdiri dari kekosongan hukum, konflik hukum serta kekeburan hukum, Mahasisiwa harus dapat mengembangkan karya bidang hukum memlaui tiga akar masalah tersebut, selain itu, bangunan karya ilmiah yang ideal tersusun dari abstrak, ragkaiain outline dilnjutkan menulis konten atau isi yang dimaksut oleh penulis. Keteepatan, konsistensi serta goresan isi hati dan fikiran secara koheren (bahasa yang mengalir) juga sangat dibutuhkan untuk membuahkan sebuah karya yang layak baca dan tidak berujung pada titik kejenuhan bagi pembaca. Fikih Ahkam Fokus Studi berpusat pada keputusan para pemimpin dan ulama terkait kasus hukum yang sedang terjadi, sedangkan fikih da’wah fokus kepada pola Islamisasi yang dilakukan secara gradual dalam masyarakat Nusantara, Fikih Siyasah fokus pada proses partisipasi umat Islam dalam kekuasaan Negara.  Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan budaya lokal yang berasakan pada kaidah al ‘adah muhakkamah. Untuk melengkapi seni kemampuan  menulis mahasiswa, wakil dekan 1 Fakultas Syariah dan Ilmu hukum turut memberikan materi berupa teknik penulisan karya ilmiah.

IMG-20180517-WA0033

Tidak hanya terkungkung dalam wacana hukum, Bapak Mun’im DZ dalam kesempatan ini turut memberikan penguatan intelektual kepada mahasiswa terkait lokus yang tepat dalammengkaji Fikih Nusantara, BudayaNusantara sebagai Lokus dan Fikih berfungsi sebagai perspektifl . ragam kajian fikih di bumu Nusantara dapat dikembangkan dalam berbagai corak, dari segi fikih da’wah, fikih ahkam  hingga fikih siyasah. Pembagian ini sungguh telah mewakili maksut dan tujuan Institusi kita, fikih ahkam dan siyasah jelas merupakan representasi dari kajian pokok fakultas syariah dan ilmu hukum, sedangkan fikih da’wah lebih berorientasi terhadap upaya-upaya transformasi pemikiran yang bersinergi dengan maksud dan tujuan IAIN Tulungagung sebagai kampus da’wah dan peradaban.

Belantika Fikih di Bumi Nusantara

kako-0qb7amvG5wqtgMv4

Hukum Islam adalah sebuah sistem hukum yang komprehensif yang bertujuan untuk kemaslahatan manusia. Hukum Islam menyajikan serangkaian aturan untuk kebaikan fisik, intelektual, emosional, dan spiritualitas manusia. Para ulama Islam telah merumuskan berbagai metode dalam memahami ajaran Islam. Tujuan dari beragam metode tersebut adalah untuk mengetahui maksud dari Syari’ (Allah dan Rasul-Nya) dalam memerintahkan sesuatu atau melarang sesuatu. Salah satu hasil dari upaya untuk memahami maksud dari Syari’ adalah ditemukannya teori “tujuan hukum Islam” atau yang dikenal dengan maqasid syariah.

Salah satu ulama Islam yang mencetuskan konsep maqasid al-syariah  adalah al-Syathibi yang mengatakan bahwa tujuan dari diturunkannya syariah adalah rahmat bagi alam semesta. Adapun perincian dari maqasid syariah menurut al-Syathibi adalah hifdz a-din (menjaga agama), hifdz al-nafs (menjaga jiwa), hifdz al-nasl  (menjaga keturunan), hifdzal-‘aql (menjaga akal), hifd al-mal (menjaga harta). Selanjutnya al-Syathibi membuat hirarki prioritas terkait penjagaan hal-hal tersebut, yaitu, dlaruriyyat (primer), hajjiyat (sekunder), dan tahsiniyyat (tersier).

Jasser Audah, seorang intelektual Islam kontemporer mengajukan sebuah masukan positif bagi pengembangan  maqasid syariah agar dapat beradaptasi dengan isu-isu kontemporer.  Menurut Audah,  konsep maqasid syariah klasik bersifat individualistik dan tindakan komprehensif sehingga akan sulit merespon perkembangan zaman. Untuk itu Audah menawarkan penerapan teori sistem pada aplikasi maqasid syariah pada hukum Islam. Pertama, Audah mengajukan karakter kognitif sistem hukum Islam. Hukum Islam berasal  dari hasil penalaran kognitif (ijtihad) yang disebut dengan fiqih. Oleh sebab itu fiqih tidak bersifat absolut sebagaimana hukum Tuhan yang tidak berubah. Kedua, karakter menyeluruh hukum Islam, hal ini karena fiqih klasik terkadang dibuat bersifat parsial. Ketiga, karakter keterbukaan sistem hukum Islam, dimana hukum Islam selalu dapat beradaptasi dengan lingkungan dan situasi, terutama terkait dengan isu-isu kontemporer. Keempat, sifat saling keterkaitan pada semua kategori hukum Islam. Seharusnya tidak ada kategorisasi antara dlaruriyyat (primer), hajjiyat (skunder), dan tahsiniyyat (tersier) sebab semua itu sama-sama penting. Kelima, karakter multi dimensional sistem hukum Islam. Fiqih klasik cenderung memberikan solusi yang hanya memperhatikan satu dimensi. Pada satu isu terkadang memiliki banyak dimensi. (Muhamamad Lutfi Hakim, Pergeseran Paradigma Maqashid Shariah dari Klasik sampai Kontemporer,  Juni 2016)

Jaser Audah juga mengembangkan konsep maqasid al-syariah di atas, sebagai contoh hifd al-din yang menjadi alasan dibunuhnya orang yang murtad, dikembangkan menjadi hurriyyah al-i’tiqad (kebebasan beragama). Hifdz al-nasl menjadi hifdz al-usrah (menjaga keluarga). Hifdz al-nafs menjadi hifdz al-karamah al-insaniyyah atau hifdz al-huquq al-insaniyyah (menjaga hak asasi manusia). Hifdz al-Aql yang terbatas pada pelarangan minur khamr dikembangkan pada pengembangan pola pikir dengan sains dan teknologi. Pada lingkup yang lebih luas, maqasid al-syariah bisa dikembangkan menjadi hifdz al-mujtama’ (menjaga stabilitas masyarakat), hifdz al-dawlah (menjaga stabiltas negara), dan seterusnya. (Jasser Audah)

Karakter Islam Nusantara

Membicarakan Islam nusantara, berarti membaca kembali sejarah masuknya Islam di nusantara. Di era Wali Songo, Islam yang masuk ke nusantara dengan membawa karakter sufistik, terutama dibawa oleh para guru-guru tarekat. Karakter Islam yang cenderung mistik ini dengan mudah dapat diterima oleh masyarakat nusantara yang saat itu juga sangat kental dengan mistik. Para penyeru agama Islam ini tidak melakukan perubahan radikal pada sistem budaya dan kepercayaan masayarakat lokal. Sehingga bisa didapati ada orang Islam yang menjalankan rukun Islam tetapi juga percaya dengan ritual-ritual terkait roh-roh gaib seperti ratu laut selatan, penunggu gunung merapi dan sebagainya. Sistem kepercayaan dan budaya semacam ini masih tampak jelas dalam tradisi masyarakat nusantara.Selain itu masyarakat nusantara sangat menyukai kesenian sebagai ekspresi mereka akan keindahan dan penghayatan pada keyakian yang merekan anut (Mohamad Guntur Romli, Islam Nusantara, Lima Nilai Dasar Islam Nusantara, 2016).

Sikap Islam terhadap budaya lokal

Islam adalah ajaran yang bersifat universal, dimana prinsip Islam selalu relevan dan mampu beradaptasi pada suatu kondisi dan situasi apapun. Walaupun demikian, sifat universalitas Islam tidak menyebabkan penerapan ajaran Islam bersifat tunggal. Karena Islam selain menekankan kebaikan yang bersifat universal, juga menekankan kebaikan yang bersifat lokal.

Terkait relasi Islam dengan budaya lokal, dapat dikategorikan sebagai berikut. Pertama, tahmil (apresiatif), yaitu Islam melestarikan suatu budaya yang tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam. Sebagai contoh Islam menghormati adanya bulan Haram yang sudah menjadi budaya masyarakat Arab. Kedua, (tahrim) destruktif, Islam menghapuskan budaya Arab yang tidak sesuai dengan prinsip Islam. Seperti praktek riba, judi, dan beberapa pratek perkawinan jahiliyyah. Ketiga, tagyir (rekonstruktif), dimana Islam menetapkan beberapa budaya Arab dengan beberapa perubahan yang baik seperti sistem kewarisan, pengangkatan anak dan lainnya. ( Binod Bihari Satpathy, Indian Culture And Heritage, 2014)

Adapun Islam sendiri menurut al-Qur’an adalah agama yang diturunkan Allah sejak awal penciptaan manusia. Semua nabi membawa agama Islam. Inti dari semua agama adalah tauhid (mengesakan Allah), adapun syariah dari masing-masing nabi berbeda-beda sesuai dengan kondisi dan situasi yang melingkupinya. Walaupun bahan baku Islam adalah Arab, seharusnya Islam tidak meng-Arab-kan orang Cina, Afrika, Melayu, Eropa, dan lainnya. Orang Jawa dapat menjadi Islam dengan identitas muslim Jawa, tanpa harus mengubah identitas diri menjadi Arab. Karena Arab hanyalah bahan baku sedangkan ‘nilai universal’ yang utamanya adalah Islam. (Abdurrahman Wahid, Pribumisasi Islam, 2000)

Ancangan Fiqih Nusantara

Dilihat dari sejarah, sebenarnya cukup banyak ulama yang cukup kreatif menyajikan fikih yang bercorak fikih khas Nusantara, seperti Abd Rauf as-Singkili dengan gagasan kesetaraan gendernya, sehingga muncul gagasan raja perempuan (sulthanah) di Aceh, yang kemudian diikuti ulama modern, kiai Ali Yafi. Syekh Arsyad al-Banjari, dalam kitab Sabilul Muhtadin-nya mencetuskan adanya harta bersama (Jawa: gono-gini) berdasarkan adat perpantangan. Kemudian gagasan ini diadopsi oleh para perumus KHI yang mana KHI sendiri merupakan contoh nyata dari fiqih nusantara. (Mursyid Djawas, Jejak Maqashid al-Syari‘ah di Nusantara, 2009). Di tanah Jawa, pemikiran para ulama tradisionalis yang biasanya berafiliasi dengan Nahdlatul Ulama selalu diidentikkan dengan fiqih nusantara. Penerapan aspek budaya lokal dalam penetapan hukum Islam oleh ulama diterapkan dalam konsep urf. Dalam bahasa Arab ada istilah urf  yang juga bermakna ma’ruf  keduanya berasal dari akar kata yang sama yang berarti baik menurut pandangan masyarakat. Selain itu Islam juga mengakui adanya manusia yang terdiri dari suku-suku dan bangsa-bangsa. Karena itulah manusia diperintahkan untuk li ta’arafu  saling memahami karakter budaya masing-masing. (As’ad Kasyif al-Ghitha’, al-Urf Haqiqatuhu wa Hujjiyatuhu, 2001). Sebagai contoh, dalam praktek Nabi dan sahabat, zakat fitrah berupa kurma atau gandum. Melihat perbedaan budaya dalam hal makanan pokok, para ulama kemudian merumuskan konsep qut al-balad, makanan pokok yang lumrah pada suatu daerah. Demikian pula dalam hal pakaian, Nabi dan para sahabat menggunakan pakaian sesuai budaya Arab, kemudian para ulama merumuskan konsep aurat.

Terkait tradisi ritual mistik yang lazim pada masyarakat nusantara, para ulama terdahulu tidak menghapus secara total tradisi yang ada. Yang dilakukan oleh para ulama penyebar Islam pada masa lalu adalah menghilangkan unsur-unsur syirik dan hal-hal yang diharamkan, kemudian mengisi unsur-unsur Islam kedalam budaya tersebut. Kepercayaan kepada yang gaib juga merupakan bagian dari ajaran Islam. Sebagai contoh, al-Qur’an mengomentari dua karakter gaib yang mungkin popular di zaman pra Islam, yaitu Harut dan Marut. (John C. Reeves, Some Parascriptural Dimensions of the “Tale of Hārūt wa-Mārūt, 2015)

Dari sini dapat dilihat bahwa konsep al-‘adah muhakkamah atau urf dilakukan setelah menelaah maqasid al-Syariah dan hikmah serta illah ditetapkannya sebuah hukum. Selanjutnya, ketika melihat adah/urf yang ada pada masyarakat, perlu dikaji dengan pendekatan maqasid syariah. Sebagai contoh tradisi sesajen, dapat dilihat dengan pendekatan hifdz al-din, yaitu adakah unsur syirik di dalamnya dan juga hifdz al-mal, yaitu adakah unsur  tadhyi’ al-mal atau menyia-nyiakan harta di dalamnya. Selanjutnya dilakukan Islamisasi “Isi” dari urf. Pertama dilakukan reorientasi niat, sesajen yang awalnya disajikan untuk roh-roh gaib diubah dengan niat sebagai wujud syukur kepada Allah. Kedua, sesajen tersebut diubah agar layak dimakan manusia, dimana sesajen dijadikan sebagai sedekah untuk manusia, dimana menurut ajaran Islam, sedekah dapat menolak bencana. Tentu saja hal tersebut tidak akan mudah dilakukan. Karena itu diperlukan tadarruj fi al-tasyri’, penerapan hukum secara bertahap sehingga tidak menimbulkan masalah baru.

Masa Depan Riset Fiqih Nusantara

Secara garis besar ada tiga kelompok pola pemikiran Islam di nusantara, pertama, kelompok tradisionalis, kelompok ini memberikan apresiasi yang cukup besar pada budaya lokal nusantara, seperti para kiai di dalam lingkungan NU. Kedua, kelompok modernis, seperti para intelektual Muhammadiyah, kelompok ini menginginkan agar umat Islam merespon perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dan menganggap budaya lokal sebagai tahayyul/ mitos. Ketiga, kelompok revivalis yang ingin membawa tradisi pada masa Nabi SAW dan salafus soleh ke masa kini, seperti kelompok salafi, yang menganggap semua yang tidak ada pada masa Nabi adalah bid’ah dan pada habaib yang ingin mengikuti tradisi salafus soleh dari kalangan Ahli Bait yang berkultur Arab.

Masing-masing kelompok di atas memiliki ‘rasa’ yang berbeda terhadap maqasid syari’ah. Dari sinilah timbul konflik antar kelompok walaupun tidak seekstrim di Timur Tengah seperti yang terjadi anatara kelompok sunni dan syiah.

Ketiga kelompok Islam di atas akan tetap ada. Sehingga sebagai objek riset, fiqih nusantara tidak akan pernah habis. Persoalan tradisi, modernitas, dan globalisasi akan menjadi persolan yang akan senantiasa hadir dalam wacana fikih nusantara. Karena terkait dengan budaya pendekatan interdisipliner, seperti antropologi, sosiologi, psikologi, historis dan lainnya,  perlu dikuasai oleh para pemerhati perkembangan fiqih di nusantara. Sebagai sumbangan terhadap perkembangan wacana keilmuan di Indonesia, pendekatan deskritif, preskritif, dan solutif harus menjadi tujuan utama dari riset. Karena fiqih bukan hanya menggambarkan kasus yang ada. Tetapi juga memberikan penilaian hukum yang benar, dan memberikan solusi yang tepat untuk situasi dan tidak bertentang dengan budaya yang ada. Sebagaimana dinyatakan oleh Imam al-Qarafi dari mazhab Maliki dalam kitab al-Furûq, sebagaimana dikutip oleh Said Agil Siradj,  yang menyatakan, “Janganlah kalian terikat pada apa yang tertulis dalam kitab-kitab sepanjang hidupmu. Jika datang seseorang dari daerah lain yang minta fatwa hukum kepadamu, maka janganlah kamu tarik ke dalam budayamu. Tetapi tanyakan dulu tradisi/budayanya, lalu putuskan dengan mempertimbangkan tradisi/budayanya, bukan atas dasar budayamu atau yang ada dalam kitab-kitabmu. Membakukan diri pada kitab-kitab yang ada sepanjang hidup merupakan kekeliruan dan ketidakmengertian dalam memahami ‘tujuan yang dikehendaki’ para ulama masa lalu. (Said Agil Siradj, “Fiqih Nusantara, 2014).

Fiqih nusantara sebagai objek riset secara garis besar dapat dibagi menjadi dua, yaitu sebagai living laws  dan positive laws. Dalam living laws, lokus riset fikih nusantara dapat dilihat pada kajian-kajian fiqih yang terdapat pada oragansisi keagamaan seperti lembaga Bahsul Masail Nahdlatul Ulama, Majlis Tarjih Muhammadiyah, dan lainnya, atau praktek keagamaan yang ada pada masyarakat nusantara. Sebagai positive laws dapat dilihat pada perundang-undangan, peraturan pemerintah, dan lainnya yang mempertimbangkan budaya lokal nusantara. Selain itu, riset juga dapat dilakukan pada karya ulama nusantara yang sangan melimpah sebagai khazanah pengetahuan yang sangat menarik dan bermanfaat bagi perkembangan pemikiran hukum Islam di Indonesia. (Marzuki Abu Bakar, Kitab Jawi dan Kontribusinya dalam Kajian Islam di Kepulauan Nusantara, 2014). []

 

 

 

 

Open Recruitment

WhatsApp Image 2018-04-25 at 11.02.11

LAUNCHING C-FINUs (CENTER OF FIKIH NUSANTARA)

gong pak rektorTulungagung, 24 April 2018; “Fikih tidak hanya berbicara persoalan halal haram, tetapi fikih harus memberikan solusi bagi setiap problema yang dihadapi masyarakat ” itulah kunci utama sambutan Rektor IAIN Tulungagung, Dr. H. Maftukhin, M.Ag. dalam peresmian pusat studi pertama di Fakultas Syariah dan Ilmu hukum yang terlahir dengan nama Center of fikih Nusantara, Senin, 23 April 2018 yang bertepatan dengan 7 Sya’ban 1439. Dalam sambutannya, Rektor memberikan penekanan akan pentingnya metode baru untuk menciptakan produk hukum di bumi Nusantara. Pada awal sambutannya, Rektor menjelaskan tentang adanya tiga karakter besar dalam agama Islam yaitu iman yang mengarah pada kajian tauhid dan kalam ( theology), islam yang memiliki produk hukum Islam atau fikih, dan ihsan dalam ranah kajian tasawwuf. Dari ketiga pokok ajaran agama tersebut, fikih merupakan kajian yang paling dinamis, karena pesertaproblem yang dihadapi selalu baru dan ketetapan hukumnya dapat berubah sesuai dengan tempat dan keadaan. Oleh sebab itu, fikih mampu melakukan dinamisasi keilmuan,  menyublim dengan berbagai jenis ilmu. Kolaborasi antara fikih dan ilmu kalam misalnya, dalam menyikapi seorang muslim yang masuk gereja, hal ini adalah masuk wilayah pembicaraan aqidah, namun logika fikih tampil sebagai mi’yar atau instrumen hukum. Adapun kalam atau tasawwuf adalah sebagai nilai etik. Dalam paradigma sufistik misalnya, ketika memandang posisi perempuan, mufassir manapun menyatakan laki-laki lebih unggul dari perempuan, namun hanya paradigma sufistiklah yang menyamakan derajat antara laki-laki dan perempuan karena nilai di hadapan Tuhan menurut mereka adalah sama, tergantung kualitas dan kuantitas ketaqwaanya. Oleh karena itu, fikih dapat dipahami dengan berbagai ragam sudut pandang, misalnya  sudut pandang sufi yang akan melahirkan fikih sufistik dan sudut pandang kalam yang akan melahirkan fikih kalam, serta kemurnian fikih itu sendiri.

Dalam memberikan apresiasi atas dilaunchingnya C-Finus, Rektor juga menjelaskan tentang elastisitas hukum Islam itu sendiri, jargon al ruju’ ila al- Islam wa al-sunnah adalah merupakan pengaruh dari teologi non muslim, karena semua ajaranya adalah teologi, sedangkan Islam membagi wilayah kajiannya pada hukum (al-ahkam al-’amaliyyah), keimanan (al-ahkam al-i’tiqadiyyah) serta ahlaq (al-ahkam al-khuluqiyyah). Di akhir sambutannya, Rektor memaparkan wilayah ijtihad terbagi dalam istilah ijtihad fardi (individu) dan ijtihad jama’iy yang selama ini poin kedua dipahami mayoritas orang dengan istilah ijtihad kolektif (melakukan penggalian hukum dengan jumlah atau kuantitas lebih dari satu mujtahid dari berbagai pakar yang berbeda). Menurut penjelasan rektor, ijtihad jama’i dalam situasi kontemporer saat ini dapat dipahami sebagai consorsium ilmu pengetahuan atau lebih sering dikenal dengan istilah ijtihad akademik. []