Archive for Center of Fikih Nusantara

Kewajiban zakat di Tengah Pandemi Covid-19

 

Cfinus

 Kewajiban Zakat di Tengah Pandemi Covid-19

Zakat adalah shodaqoh wajib yang dilakukan pada bulan ramadhan sampai sebelum sholat idul fitri dilakukan. Kewajiban zakat fitrah sesuai hadis Rasul dalam bentuk makanan pokok, makanan yang mengenyangkan dan dikonsumsi sehari-hari. Hanya Hanafiyah yang berpendapat bahwa zakat fitrah boleh dibayarkan dengan uang yang setara dan senilai dengan kadar zakat. Pendapat ini juga dirujuk oleh Wahbah al zuhaily dan Yusuf Qardhawy dengan alasan bahwa saat ini hal tersebut lebih memudahkan mustahiq dalam membelanjakan dan memenuhi tujuan dasar zakat fitrah agar fuqara’ tidak kelaparan dan meminta-minta pada hari raya.

عن ابن عباس رضي الله عنهما قال: فرض رسول الله صلى الله عليه وسلم صدقة الفطر طهرة للصائم من اللغو والرفث طعمة للمساكين فمن اداها قبل الصلاة فهى زكاة مقبولة, ومن اداها بعد الصلاة فهى صدقة من الصدقات

Dari Ibnu Abbas ra. berkata: Rasulullah saw mewajibkan zakat fitrah untuk menyucikan orang yang berpuasa dari perbuatan yang tidak berguna dan ucapan kotor, serta untuk memberikan makanan orang miskin. Maka barang siapa mengeluarkan zakat sebelum shalat id maka itulah zakat fitrah yang terqabul, dan barang siapa yang memberika zakat setelah shalat id maka itu termasuk shadaqah.

Kadar zakat fitrah adalah 2.176 kg dalam bentuk makanan pokok. Jika berupa uang maka Nominal uang yang dibayarkan sebagai zakat harus setara dengan kadar zakat fitrah. Jika beras yang dikonsumsi harian seharga Rp 10.000,- , 2,5kgxRp 10.000,-=Rp 30.000,- Jangan membayar zakat dengan nilai beras yang kualitasnya di bawah beras yang sehari-hari dikonsumsi. Melebihi kualitas beras yang dikonsumsi sehari-hari jelas lebih utama.

Prinsip dasar zakat sebagaimana diajarkan Rasul adalah dari dan untuk penduduk setempat.

نابن عباسٍ رضي الله عنهما: أنَّ النبي ﷺ بعث معاذًا إلى اليمن .. فذكر الحديثَ, وفيه: أنَّ الله قد افترض عليهم صدقةً في أموالهم, تُؤْخَذ من أغنيائهم, فتُرَدُّ في فُقرائهم.

Jika memang di daerah tsb sudah tidak ada yang membutuhkan, maka zakat bisa dialihkan ke luar daerah yang membutuhkan, dan ini adalah tanggung jawab amil. Pemerataan dalam penyaluran zakat adalah tugas berat dan bisa sukses jika didukung database mustahik, apakah berbentuk konsumtif atau produktif. Saat ini penyaluran zakat yang dilakukan Lembaga Pengelola Zakat baik BAZNAS maupun LAZ bisa menjadi alternatif dan pilihan. Mustahik tidak harus antri untuk mendapatkan bagian, tapi LPZ yang pro aktif menyalurkan kepada mustahik.

Penyaluran zakat dalam bentuk perlengkapan penanggulangan Covid 19 adalah dibenarkan, mengingat petunjuk yang diberikan nash bersifat umum, kategori mustahik bukan dalam bentuk individu. (Red)

 

 

 

Klasifikasi Najis dalam Konteks Fikih di Indonesia

Rab_6_05_2020_11_03_08

Oleh:  Joko Purnomo

Moderator:  Alfinta Mazida

Klasifikasi Najis dalam Konteks Fikih di Indonesia

Najis merupakan turunan dari kata najisa – yanjisu – najsan atau semakna dengan al-qadzarah, yang berarti sesuatu yang kotor. Istilah najis, menurut Dr. Abdul azim Al Badawi Najis merupakan segala sesuatu yang dianggap kotor oleh orang-orang yang masih memiliki tabiat yang baik, lalu menjaga dirinya dari kotoran tersebut, membersihkan pakaianya apabila terkena kotoran itu. Dalam surah Al-an’am : 145 , dapat di simpulkan bahwa segala sesuatu yang haram tidaklah boleh untuk di makan , antara lain Bangkai , darah yang mengalir, daging babi . karena dari hal tersebut mengandung kotoran. Maksud daripada bangkai di atas , mengutip ceramah dari Buya Yahya yang dimaksud bangkai disini adalah ketika di sembelih tidak menyebut dengan asma Allah atau tidak di lakukan penyembelihan secara syar’i . Kaitanya dengan bangkai ada pengecualian dimana walaupun ia telah mati dan matinya karena bukan penyembelihan serta tidak menggunakan Asma Allah, bangkai tersebut masih dapat dikonsumsi dan suci, yaitu bangkai ikan dan belalang .

Melihat dari pendapat ulama 4 Madzhab, mengenai najis

1. Madzhab Hanafi Menurut, Imam al-Kasani : Najis adalah sebutan untuk benda yang dianggap jijik. Dimana najis ada yang berwujud dan hakiki, ada pula yang hukmi. Namun secara umum yang di fahami sebagai najis adalah hal ada wujud bendanya saja. Imam Ibnu abidin, menyebutkan bahwa dari najis yang hakiki dan hukmi tersebut, meniscayakan pemahaman bahwa najis hakiki adalah sesuatu yang kotor atau al-khatabs. Sedangkan najis yang hukmi adalah al-hadats. Keduanya sama-sama “sesuatu yang kotor” namun yang satu berwujud (hakiki), yang satunya sifatnya tidak (hukmi)

2. Madzhab Maliki – Dalam madzhab maliki, sebagaimana yang dicatat oleh K.H Mustafa Yaqub, imam malik dalam kitabnya al-mudawwanah al-Kubra tidak banyak membahas terkait definisi najis.

3. Madzhab Syafi’I dan Madzhab Hambali Mengutip pendapat Imam Zakariya al-Anshari, dalam kitab Asnal Mathalib ;

بِكُلِّ عَيْنٍ حَرُمَ تَنَاوُلُهَا مُطْلَقًا فِي حَالَةِ الِاخْتِيَارِ مَعَ سُهُولَةِ تَمْيِيزِهَا، وَإِمْكَانِ تَنَاوُلِهَا لَا لِحُرْمَتِهَا، وَلَا لِاسْتِقْذَارِهَا، وَلَا لِضَرَرِهَا فِي بَدَنٍ أَوْ عَقْلٍ

“setiap benda yang haram dikonsumsi secara mutlak dalam keadaan ikhtiyar (tidak terdesak dan bebas), mudah dibedakan wujudnya, dapat dipergunakan, tidak dimuliakan, tidak dianggap jijik, serta bukan karena sebab berbahaya bagi tubuh dan pikira”

Mengenai macam2 najis, mengutip dari kitab _safitun najah_ ada dua macam najis, yaitu :

1. Najis hakikiyah atau ‘ainiyyah Merupakan najis yang dapat menghalangi shalat, serta najis ini selamanya tidak bisa menjadi suci Contoh : (air kencing, kotoran hewan)

2. Najis Hukmiyyah atau ma’nawiyyah Merupakan keadaan seseorang yang tidak suci sehingga dapat menghalangi ia untuk shalat, serta perlunya ia untuk berwudhu atau mandi . Contoh : buang angin

Mengenai bagian-bagian najis Hal ini di dasarkan atas klasifikasi tingkat kesulitan dalam menyucikanya, najis di bagi menjadi 3 bagian ;

1. Najis Mukhafafah (ringan) Contoh (air kencing anak yang berusia di bawah umur dua tahun, dan belum minum atau makan, kecuali air susu ibunya (ASI) – Cara pembersihanya, dengan cara memercikkan air ke tempat yang terkena najis.

2. Najis mutawasithah (sedang) Contoh : kotoran ayam yang ada dilantai/teras rumah – cara mensucikan dengan cara menghilangkan dulu najis ‘ainiyah nya (hingga hilang bau, rasa dan warna) kemudian menyiram tempat nya dengan air suci yang mesucikan

3. Najis Mugholadoh (berat) Contoh : najis anjing/babi Cara mensucikan nya dengan cara membasuh dengan air sebanyak tujuh kali dan diantara basuhan nya salah satunya di campuri dengan debu.

Di lain arti najis itu sendiri adalah kotor. Kotor juga memiliki makna yang lebih awam untuk di kenal di kalangan masyarakat .Dalam Bahasa arab, kotor di sebut kodzar  ( قذر ) , dalam al-qur’an surah Al- An’am kotor di istilahkan dengan rijsun  ( رجس ) .Di dalam KBBI kotor bermakna “tidak bersih atau terkena noda”Atau di dalam istilah kotor adalah keadaan yang tidak bersih baik tempat, pakaian, badan ataupun benda. Contoh : Baju yang terkena lumpur, terkena bekas makanan atau sampah yang berserakan . Baik najis ataupun kotor sama-sama harus dibersihkan apabila akan melaksanakan sholat . Karena bersih merupakan sebagian dari pada syarat sah sholat (baik bersih dari najis, hadats, ataupun kotoran)

Jika dilihat dari asal muasalnya kotor, terbagi menjadi dua :

1. Kotor berasal dari benda suci Contoh : baju terkena makanan Artinya adalah kotor tersebut tetap menimbulkan kesucian

2. Kotor berasal dari benda najis Contoh : pakaian yang terkena darah. Artinya kotor tersebut telah ditimbulkan karena terkena najis dan perlu dibersihkan sebagai mana cara membersihkan najis itu sendiri .

Pendapat Syekh Zainuddin Al-Malibari dalam kitab Fathul Mu’in, menjelaskan bahwa :

وَنَقَلَ فِي الْجَوَاهِرِ عَنِ الْأَصْحَابِ لَا يَجُوْزُ أَكْلُ سَمَكٍ مُلِحَ وَلَمْ يُنْزَعْ مَا فِيْ جَوْفِهِ أَيْ مِنَ الْمُسْتَقْذَرَاتِ وَظَاهِرُهُ لَا فَرْقَ بَيْنَ كَبِيْرِهِ وَصَغِيْرِهِ لَكِنْ ذَكَرَ الشَّيْخَانِ جَوَازَ أَكْلِ الصَّغِيْرِ مَعَ مَا فِيْ جَوْفِهِ لِعُسْرِ تَنْقِيَّةِ مَا فِيْهِ

“Al-Qamuli dalam kitab Al-jawahir mengutip dari kalangan syafi’I bahwa tidak diperbolehkan mengonsumsi ikan asin yang tidak dibersihkan kotoran-kotoran di dalamnya. Zhahir dari kutipan Al-Qamuli ini membedakan antara ikan besar dan kecil. Tetapi dua guru besar madzhab syafi’I (al-Nawawi dan Ar-Rafi’I) menyebutkan, diperbolehkan mengonsumsi ikan kecil beserta kotoran di dalam perunya, sebab sulitnya membersihkan kotoran tersebut”

Pendapat Syekh Ahmad bin Umar As-Syathiri dalam Syarah Bughyatul Mustarsyidin juz 1, menjelaskan bahwa :

وَقَدِ اتَّفَقَ ابْنَا حَجَرٍ وَزِيَادٍ وَ م ر وَغَيْرُهُمْ عَلَى طَهَارَةِ مَا فِيْ جَوْفِ السَّمَكِ الصَّغِيْرِ مِنَ الدَّمِ وَالرَّوْثِ وَجَوَازِ أَكْلِهِ مَعَهُ وَأَنَّهُ لَا يَنْجُسُ بِهِ الدُّهْنُ بَلْ جَرَى عَلَيْهِ م ر الْكَبِيْرَ أَيْضاً (قوله في الكبير أيضا) وَاعْتَمَدَ ابْنُ حَجَرٍ وَابْنُ زِيَادٍ عَدَمَ الْعَفْوِ عَمَّا فِيْ جَوْفِهِ مِنَ الرَّوْثِ لِعَدَمِ الْمَشَقَّةِ فِي إِخْرَاجِهِ إِذَا كَانَ كَبِيْراً.

“Ibnu hajar, Ibnu Ziyad dan ar-Ramli sepakat sucinya (dalam arti ma’fu) darah dan kotoran ikan kecil dan diperbolehkan mengonsumsi ikan tersebut beserta darah dan kotoranya serta tidak dapat menajiskan minyak. Bahkan Ar-ramli memberlakukan hukum tersebut untuk ikan besar juga. Sementara ibnu hajar dan ibnu ziyad tidak menghukumi ma’fu kotoran ikan besar, sebab tidak ada masyaqqah (keberatan) dalam membersihkanya”

Kesimpulan nya adalah. Tidak terlepas dari semua pendapat bahwa kehati-hatian dalam mengolah makanan apapun harus lah bersih, baik bersih dari kotoran ataupun dari najis. Dan apabila dalam hal mengola ikan, Ketika karena ukuranya, kotoran ikan masih dapat dibersihkan maka haruslah dibersihkan. Namun apabila karena ukuranya yang kecil dan tidak dimungkinkan untuk membersihkannya, maka diperbolehkanya untuk mengkonsumsi tanpa harus menghilangkan kotoran yang ada di dalamnya .

Kesimpulannya yaitu najis merupakan sesuatu yang wajib dijauhi oleh setiap muslim dan dibersihkan, Ketika najis itu mengenai pakaian, tempat atau badannya. Dapat diartikan najis yaitu sesuatu yang kotor. Dari pernyataan tersebut maka dalam Q.S Al An’am ayat 145 bahwasanya segala sesuatu yang haram tidaklah boleh untuk di makan, antara lain bangkai, darah yang mengalir, daging babi, karena dari hal tersebut mengandung kotoran. Mengenai macam-macam najis.

Mengutip dari Kitab Safitun Najah ada dua macam najis, yaitu:

1. Najis Hakikiyah atau ‘Ainiyyah

2. Najis Hukmiyah atau Ma’nawiyyah.

Mengenai bagian-bagian najis, atas klasifikasi kesulitan dalam menyucikannya terbagi menjadi:

1. Najis Mukhafafah

2. Najis Mutawasithoh

3. Najis Mugholadah

Di lain arti najis itu sendiri adalah kotor, maka kotor merupakan keadaan yang tidak bersih baik tempat, pakaian, badan ataupun benda. Dilihat dari segi asal muasalnya, kotor dibagi menjadi dua:

1. Kotor dari benda suci, seperti pakaian terkena makanan.

2. Kotor dari benda najis, seperti pakaian terkena darah.

Baik najis maupun kotor yang berasal dari benda, hewan, ataupun makanan harus sama-sama dibersihkan, mengingat kebersihan merupakan syarat sah sholat dan agar tidak menghindari kita dalam beribadah.

Lalu kemudian bagaimana hukum ikan yang dikonsumsi apabila kotoran nya tidak dibuang? Kehati-hatian dalam mengolah makanan apapun harus lah bersih, baik bersih dari kotoran ataupun dari najis. Dan apabila dalam hal mengola ikan melihat dari sisi ukurannya, apabila kotoran ikan masih dapat dibersihkan maka haruslah dibersihkan. Namun apabila karena ukuranya yang kecil dan tidak dimungkinkan untuk membersihkannya, maka diperbolehkanya untuk mengkonsumsi tanpa harus menghilangkan kotoran yang ada di dalamnya .

(Sumber  foto: https://umma.id/article/share/id/1002/550435)

Zakat Laut dalam Prespektif Fiqih Nusantara

Sel_28_04_2020_12_14_41

Zakat Laut dalam Perspektif Fiqh Nusantara

Oleh: M. Lutfi Bastomi

Moderator: Alfina Zakiatuz Zahro

Berdasarkan etimologinya, zakat berasal dari kata (bahasa Arab):”zakkaa-yuzakki-tazkiyatan-zakaatan” yang memiliki arti bermacam-macam, yakni thaharah, namaa’(tumbuh/berkembang), barakah, atau amal sholeh. Dan menurut terminologinya, zakat merupakan bagian dari sejumlah harta tertentu di mana harta tersebut telah mencapai syarat nishab (batasan yang wajib di zakatkan), yang diwajibkan Allah SWT untuk dikeluarkan dan diberikan kepada yang berhak menerimanya dengan persyaratan tertentu pula.

Zakat merupakan kewajiban yang sudah disuratkan dalam Al-Qur’an. Dari sekian banyak ayat Al-Quran salah satu yang menerangkan kewajiban untuk zakat adalah Q.S Al Baqarah ayat 43 yang artinya “Dan dirikanlah sholat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku”.

Pada dasarnya, zakat masih dibagi lagi dalam dua jenis yakni zakat fitrah (jiwa) dan zakat mal (harta). Adapun salah satu materi yang akan kita bahas yakni zakat laut, yang mana hasil dari laut merupakan suatu harta maka hasil laut bisa dikategorikan ke dalam jenis zakat mal. Mengenai zakat mal sendiri dapat diartikan segala macam perbendaan yang dapat dimiliki (dikuasai) dan dapat dipergunakan menurut keladzimannya.

Lantas harta/kekayaan yang bagaimanakah bisa dikatakan wajib untuk di zakati. Harta atau kekayaan yang bisa dikenakan wajib untuk dizakati ketika memenuhi beberapa syarat sebagai  berikut: sudah menjadi milik sepenuhnya, harta tersebut dapat berkembang dan bertambah bila dibisniskan, harta yang telah dimilikinya telah mencapai jumlah tertentu sesuai dengan ketentuan syara’(nishab), melebihi dari kebutuhan pokok, orang yang memiliki harta terbebas dari hutang, dan dimiliki atau dikuasai selama setahun (haul).

Namun,  dalam materi ini kita tidak akan membahas tentang zakat mal secara umum melainkan akan membahas mengenai ketentuan zakat dari hasil laut yang mana para ulama’ masih pro kontra dalam memberikan pendapatnya mengenai status hukum dari zakat hasil laut dan ketentuan akan kadar nishab maupun zakat yang harus dikelaurkan pun masih mengalami perdebatan.

Sebagai negara maritime terbesar di dunia Indonesia tak heran jika memiliki kekayaan dan hasil yang melimpah di sector kelautan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik pada tahun 2017 hasil perikanan tangkap dari laut Indonesia sebanyak ±6.604.000 Ton. Ini tentu suatu hasil yang sangat melimpah. Dengan jumlah nelayan yang bekerja sebanyak ±800.000 KK. Hal ini menunjukkan betapa sentralnya perekonomian yang dihasilkan dari laut. Hal inilah pula yang menimbulkan pro kontra mengenai zakat yang harus dikeluarkan dari laut.

Berdasarkan data tersebut mari coba kita hitung bersama apakah hasil ikan laut ini bisa menimbulkan wajib zakat. Diketahui bobot ikan yang dihasilkan 6.604.000.000 kg misalkan harga 1kg ikan laut kita buat rata-rata minimal Rp. 20.000. maka coba kita kalikan berapakah total harta yang dihasilkan dari hasil menangkap ikan ini yaitu 6.604.000.000×20.000=132.080.000.000.000 dan dibagi jumlah KK yang berprofesi menjadi nelayan yakni 132.080.000.000.000:800.000=Rp. 165.100.000. Dari sinii berdasarkan data tersebut maka penghasilan nelayan per KK selama setahun mencapai Rp. 165.100.000. Nah, penghasilan tersebut apakah melebihi nishab. Coba kita hitung dengan nishab emas yakni 85 gram. Misalkan harga emas per gram saat ini Rp. 944.000 maka nishab emas senilai 85×944.000=80.240.000.

Dari perhitungan diatas dapat diketahui bahwa nishab emas Rp. 80.240.000 dan harta yang dihasilkan dari ikan Rp. 165.100.000. Maka sudah jelas telah melebihi batas dari nishab emas dan tentunya wajib untuk dizakatkan sebesar 2,5% yakni sebesar Rp. 4.127.500. Jika benar bahwa zakat laut diwajibkan maka nelayan per kk tersebut seharusnya wajib berzakat atas hasil yang ia dapatkan sebesar Rp. 4.127.500. Lantas bagaimakah pendapat ulama, mengenai ketentuan zakat hasil laut. Berikut pendapat beberapa ulama mengenai zakat hasil laut:

Tabel pendapat ulama’ mengenai status hukum zakat hasil laut:

No

Ulama’

Hukum

Alasan

1.

Abu Ubaid, Abu Hanifah, Hasan bin Sholih

Tidak wajib

Mengingat pada  zaman Rasulullah saw pun ada barang-barang yang dihasilkan dari laut, tetapi tidak satupun hadist yang diketahui membicarakan hal itu dan tidak ada seorang pun dari empat khalifah yang secara tegas memberikan kebijakan tentang itu dan dapat kita yakini dengan benar.

2.

Hasan bin Imara dari Ibni Abbas dari Umar bin Khattab

Wajib

Berdasarkan sabda dari Umar bin Khattab yang mengatakan bahwa ambar dan mutiara laut (hasil laut) wajib dikeluarkan zakatnya.

3.

Hasan Basri, Ibnu Syihab Zuhri Abd Razak, Ibnu Syaibah

Wajib

Meriwayatkan dari Umar bin Abdul Aziz bahwa ia telah memungut zakat dari ambar, dan ditambahkan oleh pendapat dari Abu Yusuf yang menyatakan bahwa  ambar dan apapun bentuk hiasan yang dikeluarkan dari laut wajib dizakatkan.

Berdasarkan tabel pendapat para ulama’ diatas mengenai status hukum dari zakat laut sendiri para ulama’ klasik masih berbeda pendapat akan status hukumnya antara wajib zakat atau tidak. Hal ini wajar memang karena pada zaman Rasul maupun sahabat tidak ditemukan dalil yang secara jelas menerangkan bahwa diwajibkan zakat dari hasil laut ataupun kebijakan-kebijakan dari empat khalifah yang mewajibkan zakat dari hasil laut. Memang pada zaman tersebut hasil laut bukanlah komoditi utama yang memiliki nilai ekonomi yang tinggi layaknya emas dan perak, pertanian, peternakan dan perdangan. Namun, masyarakat pada zaman tersebut hanya mengeksplorasi hasil laut untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari sebatas untuk makan saja. Berbeda halnya dengan kondisi sekarang. Yang mana kita ketahui bersama bahwa hasil laut sekarang memiliki nilai ekonomi yang sangat tinggi. Hal ini karena pengelolaan hasil laut yang sudah sangat baik pada masa sekarang. Dan bahkan sudah dijadikan sebagai sumber mata pencarian atau perekonomian utama bagi masyarakat pantai layaknya petani di dataran rendah. Ditambah lagi Indonesia yang memiliki wilayah laut lebih luas dari pada daratannya. Tentu saja suatu kekayaan yang sangat melimpah bilamana kekayaan laut tersebut dikelola dengan baik oleh nelayan maupun perusahaan.

Mengenai ketentuan zakat hasil laut atau perikanan sebenarnya juga telah diatur di dalam peraturan perundang-undangan di Indonesia yakni dalam pasal 4 ayat 2 huruf e UU No. 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat yang menyebutkan bahwa salah satu dari zakat mal adalah zakat perternakan dan perikanan. Jadi sebenarnya secara hukum mengenai kewajiban atau anjuran untuk berzakat di sector laut atau perikanan telah diatur didalam UU tersebut. Namun, tampaknya yang menjadi persoalan baru adalah bahwa dalam UU tersebut tidak diatur secara jelas mengenai kadar nishab dan kadar zakat yang harus  dikeluarkan padahal anjuran zakat hasil laut tersebut ada. Untuk mengisi kekosongan dalam UU tersebut. Berikut pendapat para ulama, dan penulis buku mengenai kadar nishab dan zakat yang harus dikelurkan dari hasil laut atau perikanan.

Ketentuan Nishab dan Kadar Zakat yang di Keluarkan dari Hasil Laut:

Untuk nishab dari hasil laut ini berdasarkan jenis yang dihasilkan  dari laut itu sendiri. Yang mana hasil laut bisa berupa: perikanan, tanaman, dan tambang. Dari ketiga hasil utama dari laut tersebut mengenai kadar nishab dan kadar zakat yang harus dikeluarkan pun juga berbeda. Berikut beberapa pendapat para tokoh dan ulama’ mengenai nishab dan kadar zakat yang harus dikeluarkan dari hasil laut:M

1. Ali Hasan

Dalam bukunya yang berjudul “Zakat dan Infak: Salah Satu Solusi Mengatasi Problem Sosial di Indonesia” halaman 216 bahwa M. Ali Hasan menjelaskan mengenai besaran nishab dan kadar zakat dari hasil laut sebagaimana dalam tabel berikut:

No

Jenis hasil laut

Nishab

Kadar zakat

1.

Perikanan/hewan laut

Di qiyaskan dengan nishab zakat perdagangan yakni seperti nishab emas.

2,5%

2.

Tumbuhan Laut

Di analogikan dengan nishab zakat pertanian.

10%

3.

Pertambangan Laut

Di analogikan dengan nishab ghanimah dan barang tambang yang dihasilkan dari perut bumi.

20%m

2. Imam Ahmad

Sebagaimana disebutkan dalam kitab al-mughni bahwa Imam Ahmad meriwayatkan mengenai nishab dan kadar zakat yang harus dikeluarkan dari pengolahan hasil laut. Ketika nelayan atau perusahaan mengolah hasil laut dan menangkap ikan yang kemudian hasil tersebut di jual, maka wajib dikeluarkan zakatnya. Yang ketentuannya di analogikan dengan zakat perniagaan yang mana ketika akhir tahun (mencapai haul) dan kekayaannya (modal usaha dan keuntungan bersih setalah di potong biaya-biaya atau hutang) dari hasil perikanan setara atau lebih dari nishab yakni senilai 85 gram emas maka wajib zakat dengan kadar 2,5%.

Jadi, mengenai zakat laut dalam perspektif Fiqh Nusantara dapat di simpulkan
Zakat merupakan bagian dari sejumlah harta tertentu yang telah mencapai syarat Nishab (batasan yang wajib untuk dikeluarkan zakatnya) yang di wajibkan oleh Allah SWT dan diberikan kepada orang yang berhak menerimanya dengan persyaratan tertentu pula.
Zakat masih di bagi lagi menjadi 2 jenis. Yakni zakat fitrah (jiwa) dan zakat mal (Harta). Adapun mengenai zakat yang sudah di jelaskan di atas mengenai zakat laut, yang mana hasil dari laut merupakan suatu harta.maka hasil laut dikategorikan ke dalam zakat mal.
Mengenai ketentuan zakat kelautan ini para ulama’ masih menuai perdebatan.dimana para ulama’ klasik masih berbeda pendapat mengenai status hukum nya.antara wajib dan tidak.hal Tersebut wajar.karena pada masa Rasulullah maupun sahabat tidak ada dalil yang menerangkan secara jelas yang mewajibkan zakat dari hasil laut. Pada zaman itu juga hasil laut bukan lah komoditi utama yg memiliki nilai ekonomi tinggi seperti halnya emas dan perak, pertanian, peternakan dan perdagangan.berbeda halnya dengan kondisi sekarang yang mana hasil laut memiliki nilai ekonomi yang sangat tinggi.pengelolaan hasil yang sudah sangat baik.bahkan sudah menjadi sumber utama mata pencaharian perekonomian utama bagi masyarakat yang hidup di wilayah kelautan tersebut.ditambah lagi wilayah laut di Indonesia yang sangat luas.tentu saja suatu kekayaan yang melimpah apabila dalam pengelolaan nya di lakukan dan dikembangkan dengan baik.
Mengenai zakat kelautan itu sendiri sebenarnya sudah di atur dalam perundang-undangan dalam pasal 4 ayat 2 huruf e UU No.23 Tahun 2011 tentang pengelolaan zakat. disebutkan bahwa salah satu dari zakat mal adalah zakat peternakan dan perikanan.

(Sumber Foto : https://www.google.com/search?q=hasil+laut+budidaya&safe=strict&client=ms-android-xiaomi-rev1&prmd=inmv&sxsrf=ALeKk00YJq3eNskLjxSGQsPw38ZvWZTy2A:1588049883879&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ved=2ahUKEwjk99rpqorpAhWDf30KHTDMAuMQ_AUoAXoECA4QAQ&biw=424&bih=766#imgrc=2ScZtMAvyTnIhM%3A) 

Batasan Aurat dalam Arasy Nusantara

 

 

Sen_20_04_2020_15_28_06Batasan Aurat Dalam Arassy Nusantara

 

Oleh Tutut indah Sri W
Notulen: Nur Fadhilah R

 

Menutup aurat adalah salah satu kewajiban bagi kaum muslim terutama pada kaum hawa. Banyak dari kita yang memiliki berbagai macam alasan dan mencari-cari celah agar dapat menghindar dalam menjalankan kewajiban yang satu ini. Mulai dari belum siap, akhlaq yang belum benar bahkan melakukan nya nanti ketika sudah menikah. Menutup aurat tidaklah harus menunggu siap atau tidak siap, mau atau tidak mau, benar atau tidak benar, menutup aurat itu adalah kewajiban bagi seorang muslim. Jadi, singkirkanlah berbagai macam alasan itu. Menutup aurat juga tidak harus menunggu menikah. Tidak menungu akhlaq baik dulu, Padahal menutup aurat adalah salah satu ibadah yang paling mudah. Seperti contohnya berhijab.
Menutup aurat adalah wajib bagi setiap muslim. Mengapa aurat harus ditutup? Karena supaya tidak mengundang syahwat atau nafsu manusia lain yang melihat aurat kita. Menutup aurat juga dapat menghindari dari perbuatan yang tidak diinginkan dan juga dapat melindungi kita. Namun dikalangan ulama berbeda – beda batasannya. Banyak dijaman sekarang masih bingung dimana letak batasan aurat wanita dan laki-laki. Dibawah ini adalah dalil yang menjelaskan tentang memakai jilbab atau menutup aurat.
يَاأَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ ِلأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلاَبِيبِهِنَّ
Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang Mukmin: Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. (QS al-Ahzab [33]: 59)
Sudah dijelaskan pada dalil diatas dijelaskan bahwa kita disuruh untuk memakai jilbab atau menutup aurat. Wanita itu harus pandai menjaga pandangan dan auratnya. Seperti apa yang dikatakan menutup aurat? Apakah harus memakai pakaian syar’i? Jilbab syar’i ? Tidak, Menutup aurat adalah menutup semua anggota badan kecuali wajah dan telapak tangan. Memakai baju busana muslim dan tidak memakai baju ketat, mengikuti syariat islam itu dapat dikatakan menutup aurat. Karena menutup aurat adalah wajib agar terhindar dari fitnah atau perbuatan yang tidak diinginkan. Karena pada prinsipnya, Islam selalu mengharamkan segala sesuatu yang dapat mengundang fitnah, apalagi itu sudah masuk dalam kategori mendekati sesuatu yang sangat dilarang oleh Islam, yaitu zina.Dengan menutup aurat hidup akan lebih terjaga dan tenang.
Lalu, dimana letak batasan aurat laki-laki dan perempuan. Aurat seorang lelaki yang tidak boleh dilihat lelaki lainnya. Sedangkan aurat seorang wanita yang tidak boleh dilihat wanita lainnya. Pada dua kategori ini batasan auratnya adalah bagian tubuh antara pusar dan lutut. aurat seorang lelaki tidak boleh dilihat seorang wanita. Pada bagian ini dibedakan antara mereka yang termasuk mahram (tidak boleh dinikahi) dengan mereka yang sama sekali orang lain.
Jika ia termasuk mahram, maka auratnya adalah antara pusar dan lutut. Berbeda jika ia bukan termasuk mahram. Ada yang mengatakan auratnya adalah seluruh badannya, kecuali bila yang melihatnya adalah istrinya sendiri. Meski ada pula yang mengatakan bahwa auratnya sama seperti untuk mereka yang termasuk dalam kategori mahram, yaitu antara pusar dan lutut. Aurat seorang wanita yang tidak boleh dilihat seorang pria. Menurut pendapat yang dianggap sahih menyebutkan bahwa auratnya adalah seluruh anggota tubuhnya. Ada pula yang berpendapat bahwa hanya wajah dan kedua telapak tangan yang yang tidak masuk dalam kategori aurat.
Bila merujuk pada Mazhab Syafi’i yang diamalkan masyarakat Indonesia, maka semestinya seluruh tubuh perempuan adalah aurat yang haram dilihat laki-laki bukan mahram kecuali wajah dan kedua telapak tangan.  Wajah wanita bukanlah aurat, namun memakai cadar hukumnya sunah (dianjurkan) dan menjadi wajib jika dikhawatirkan menimbulkan fitnah.
Kenapa keduanya dikecualikan? Pertama, karena nash Surat Al-Ahzab ayat 31 yang kemudian ditafsirkan oleh Ibnu Abbas RA bahwa yang dikecualikan dalam ayat adalah wajah dan kedua telapak tangan. Kedua, berdasarkan larangan Nabi Muhammad SAW terhadap perempuan yang sedang ihram dalam memakai sarung tangan dan niqab penutup wajah, yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Ibnu Umar RA. Andaikan wajah dan telapak tangan perempuan adalah aurat, tentu Nabi Muhammad SAW tidak melarangnya untuk ditutupi.
Ketiga, karena membuka wajah perempuan diperlukan dalam seperti jual beli. Demikian pula kedua telapak tangan dibutuhkan untuk mengambil dan memberikan sesuatu dalam berbagai kegiatan keseharian. (Abu Ishaq Ibrahim bin Ali bin Yusuf As-Syirazi, Al-Muhaddzab fi Fiqhil Imamis Syafi’I, [Beirut, Darul Qalam dan Darus Syamiyyah: 1412 H/1992 M], cetakan pertama, juz I, halaman 219-220).Jadi menurut madzab Syafi’i bahwa aurat perempuan adalah semua bagian tubuh kecuali wajah dan kedua telapak tangan.
Menurut Madzab Hanafi aurat wanita adalah aurat yang harus ditutup rapat, kecuali wajah dan kedua telapak tangan, karena perempuan perlu membukanya dalam muamalah sosial kesehariannya. Berpijak prinsip asal ini maka telapak kaki pun tidak boleh ditampakkan dan dilihat oleh laki-laki non mahram. Dalam hal ini pakar fikih Hanafi Muhammad bin Husain bin Ali at-Thuri al-Qadiri (wafat setelah 1138 H/1726 M) menjelaskan:
وَالْأَصْلُ فِي هَذَا أَنَّ الْمَرْأَةَ عَوْرَةٌ مَسْتُورَةٌ لِقَوْلِهِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: الْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ مَسْتُورَةٌ. إلَّا مَا اسْتَثْنَاهُ الشَّرْعُ وَهُمَا عُضْوَانِ. وَلِأَنَّ الْمَرْأَةَ لَا بُدَّ لَهَا مِنَ الْخُرُوجِ لِلْمُعَامَلَةِ مَعَ الْأَجَانِبِ، فَلَا بُدَّ لَهَا مِنْ إِبْدَاءِ الْوَجْهِ لِتُعْرَفَ فَتُطَالَبَ بِالثَّمَنِ وَيُرَدَّ عَلَيْهَا بِالْعَيْب. وَلَا بُدَّ مِنْ إِبْدَاءِ الْكَفِّ لِلْأَخْذِ وَالْعَطَاءِ. وَهَذَا يُفِيدُ أَنَّ الْقَدَمَ لَا يَجُوزُ النَّظَرُ إلَيْهِ.
“Hukum asal dalam hal melihat wanita adalah bahwa wanita itu sendiri adalah aurat yang harus ditutup, berdasarkan sabda Nabi SAW: ‘Wanita adalah aurat yang tertutup’. Hal ini mengecualikan apa yang dikecualikan oleh syariat, yaitu dua bagian tubuh wanita. Sebab wanita harus keluar untuk muamalah kesehariannya dan bertemu dengan laki-laki ajnabi atau yang bukan mahramnya, maka ia harus menampakkan wajahnya agar dikenali sehingga dalam jual beli ia dapat dimintai uang pembayaran dan didikembalikannya barang dagangan kepadanya ketika ada kerusakan.
Demikian pula ia harus membuka telapak tangannya untuk mengambil dan memberikan barang kepada orang lain. Ketentuan ini berkonsekuensi pada hukum lainnya yaitu bahwa telapak kaki wanita tidak boleh dilihat oleh laki-laki yang bukan mahramnya. (Muhammad bin Husain bin Ali at-Thuri al-Qadiri, Takmilah al-Bahr ar-Raiq Syarh Kanz ad-Daqaiq, [Beirut, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah: 1418 H/1998 M], cetakan pertama, tahqiq: Zakariyya ‘Umairat, juz VIII, halaman 351-352). Qaul al-Ashah Mazhab Hanafi: Telapak Kaki Wanita Bukan Aurat
Namun demikian, dalam salah satu riwayat yang kemudian menjadi qaul al-ashah dalam mazhab Abu Hanifah menyatakan bahwa kedua telapak kaki wanita boleh dilihat oleh laki-laki non mahram. Kenapa demikian? Sebab terkadang wanita perlu membuka telapak kakinya ketika berjalan telanjang kaki atau hanya memakai sandal. Sebab, tidak setiap waktu perempuan dapat menemukan khuff (semacam sepatu) yang dapat menutup kedua telapak kakinya secara rapat.
Menurut Mazhab Maliki, membagi aurat lelaki dan wanita ketika shalat dan diluar shalat kepada dua bagian. Pertama, aurat berat (mughallazah) dan aurat ringan (mukhaffafah). Aurat berat pada lelaki adalah kemaluan dan dubur, sedangkan aurat ringan selain dari kemaluan dan dubur adalah Fahd (paha) menurut mazhab ini bukanlah aurat, mereka berdalil dengan hadist nabi yang diriwayatkan oleh Aisyah RA.: “Pada perang Khaibar tersingkaplah pakaian Nabi dan nampaklah pahanya”. (HR. Bukhori dan Ahmad). Aurat berat wanita seluruh badan kecuali ujung-ujung badan dan dada. Yang dimaksud ujung badan adalah anggota ujung badan seperti tangan, kepala dan kaki. Semua ujung badan itu tidak dianggap aurat berat ketika sembayang. Mazhab Maliki membataskan apa yang dianggap aurat ringan pada wanita termasuk dada, lengan, leher, kepala dan kaki. Sedangkan muka dan dua telapak tangan tidak dianggap aurat langsung pada mazhab ini, pendapat mazhab ini banyak diikuti negara-negara Arab di Afrika Utara dan negara-negara Afrika.
Disebutkan dalam kitab Almudhawanatul Kubro Imam Malik berkata: “jika wanita melakukan shalat sedangkan rambutnya tampak atau dadanya tampak, atau punggung kakinya tampak maka hendaklah ia mengulang selama masih dalam waktunya”. Jadi, menurut imam malik batasan aurat wanita adalah semua anggota badan kecuali wajah dan dua telapak tangan.
Menurut Mazhab Hambali, aurat pada laki-laki terletak di antara pusat dan lutut dalil mazhab ini sama dengan yang digunakan oleh mazhab hanafi dan mazhab syafi’i. Berdasar firman Allah SWT.

 

“……..dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya……..” (QS. An-Nuur :31)

 

Wanita tidak boleh membuka selain muka dan kedua telapak tangan sewaktu shalat. Dalil yang digunakan sama dengan yang dipakai dalam mazhab Syafi’iyah. Dalil yang mewajibkan menutup kedua telapak kaki adalah hadist riwayat Ummu Salamah yang artinya, “Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah perempuan memakai baju dan tudung tanpa sarung?’ Nabi menjawab, ” Ya, jika memang bajunya panjang, maka tutuplah bagian punggung tapak kakinya”.
Hadist ini menunjukkan wajibnya menutup kedua belah tapak kaki, karena ia termasuk bagian tubuh yang tidak boleh dibuka semasa ihram. Baik haji atau umrah. Maka ia tidak boleh dibuka ketika shalat. Wanita sudah cukup menggunakan pakaian yang dapat menutupi bagian yang wajib saja. Berdasar hadist Ummu Salamah tadi. Tetapi ketika shalat, mereka disunnahkan memakai baju yang lebar dan panjang yang dapat menutup kedua telapak kakinya dan juga tudung kepala dan leher, serta menggunakan selendang yang diselimutkan ke atas baju yang dipakai.
Ibnu Qudamah menyatakan bahwa; ” Mayoritas ulama sepakat bahwa seorang wanita boleh membuka wajah dan mereka juga sepakat’ seorang wanita mesti mengenakan kerudung yang menutupi kepalanya. Jika seorang wanita shalat, sedangkan kepalanya terbuka, maka ia wajib mengulangi shalatnya. Imam Malik, Auza’iy dan Syafi’iy berpendirian; seluruh tubuh wanita adalah aurat kecuali muka dan kedua telapak tangan. Selain keduanya (muka dan telapak tangan) wajib untuk ditutup ketika hendak mengerjakan shalat”. Perbedaan ini disebabkan perbedaan penafsiran ayat Al-Quran surat An-Nuur.

 

“……..dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka,…….. atau para perempuan mereka” (QS. An-Nuur :31)

 

Dari 4 imam madzab diatas mengapa semua pendapatnya berbeda? Karena pandangan mereka dalam membaca sebuah ayat sudah berbeda, seperti imam hanafi metode cara membaca ayatnya menggunakan ra’yu ( logika ) dam istihsan sehingga lebih mudah, Imam Maliki dengan maslahah mursalah, Imam Hambali dengan teks hadis murni dan fatwa sahabat sehingga lebih kaku, sedangkan Imam Syafi’i dengan qiyas. Selain itu juga dipengaruhi tempat/ lokal yang berbeda-beda, sehingga nilai lokalitas turut menjadi pembeda atas produk hukum termasuk batasan aurat. Sosio kultur yang berbeda akan mengakibatkan hukum yang berbeda. Dan perbedaan tempat tinggal mereka juga berbeda sehingga mereka berpendapat sesuai kondisi situasi yang mereka tempati.
Jika dilihat dari 4 madzab di indonesia termasuk mengikuti madzab imam syafi’i. Kenapa? Karena sebagian wanita yang menutup auratnya dengan menggunakan cadar/ niqob. Tetapi juga masih banyak dikalangan remaja yang masih belum paham tentang bagaimana menggunakan jilbab yang benar. Menggunakan jilbab yang benar adalah mengulurkan jilbabnya sampai menutup dada. Masih banyak wanita yang sudah memakai pakaian tertutup. Tetapi mereka belum memahami bagaimana menutup aurat yang baik menurut pandangan islam. Ada yang dibilang sudah menutup aurat yaitu memakai celana jeans panjang, memakai baju namum dibawah siku siku sedikit. Padahal dapat dikatakan menutup aurat jika kita memakai baju panjang yang tidak ketat/ syar’i atau memakai baju sesuai syariat, dan menutup semua anggota badan kecuali telapak tangan dan wajah. Mungkin sebenarnya kita sudah tau, tapi kita enggan menggunakannya. Apalagi dengan bertambahnya zaman yang maju ini banyak sekali model – model baju yang bagus namun lengannya sepertiga. Dizaman yang sudah maju ini banyak remaja yang lebih senang mengikuti tren daripada mengikuti pandangan islam. Menurut saya mengikuti tren itu wajar, namun kita juga harus tau. Bagaimana menutup aurat yang benar. Kita boleh saja mengikuti tren namun juga harus tetap menutup aurat sesuai syariat islam.

 

Jadi, mengenai Batasan Aurat dalam Arasy Nusantara yaitu mengenai menutup aurat sudah dijelaskan bahwa aurat wanita itu seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan. Berarti baik kita shalat ataupun dalam beraktivitas sebagai seorang muslimah kita wajib menutup aurat. Karena apa Allah itu tidak hanya melihat kita pada waktu kita shalat, tapi Allah melihat kita dimanapun dan kapan pun kita berada.

 

Mengenai pakaian wanita itu dibedakan menjadi 2 yaitu mihnah (pakaian wanita di dalam rumah) seperti daster dll yang menampakkan letak perhiasan muslimah seperti leher dll, tapi jika ada yang bukan mahram harus tetap menjaga aurat. dimana pakaian muslimah itu longgar (tidak ketat), dan juga tidak menerawang.
dan Penting sekali untuk diingat, fiqih itu tidak tunggal. Satu rumusan hukum bisa relevan diterapkan pada suatu kondisi, belum tentu relevan pada kondisi lain, dan sebagai pengkaji fiqih kita tidak seharusnya terburu-buru menghukumi sesuatu tanpa melihat permasalahannya secara utuh.
Tapi juga ttp memperhatikan bagaimana fikih berkembang sesuai dengan keadaan waktu dan tempat…
dan Ikhtiyat lebih baik untuk tetap menjaga kesopanan baik kepada manusia dan Tuhan.
akan tetapi juga tetap memperhatikan bagaimana fikih berkembang sesuai dengan keadaan waktu dan tempat.

(Sumber Foto: https://www.google.com/search?tbs=sbi:AMhZZisMfeBC26xswvp9se56MjNYkfUkVsiaUtJ9yO2eF2VCMfdjUwrVQL0OACz-qtPRqNX2ZwM-wr6BiVYUVqnTzs-WqnC1UUbwOQFKrSnzbNKD8ZbU9w5UJmgmTicZFSsIgaKIteaTTwQPKMoqA-5fqqh6OboDVLll3X_1WwG-Z4RIzHnFxj95tGOe-zyr9y4DYrbCrzJTSSiK3VdjpoVbPRcWvSPp1YgvLzM9Qn6tJiHKv5YNqEA0lS-QsJtNHoLroufCe7PiMfI-N_1A9_1kyMyBy4JEB_17gbIJUFz2YN-gLeTezWfuccaz6_1Fn8LCEyRFXFPYH90u7BqVjv8h3jJqY1pTg4lHP3w)

 

Perbincangan Syariah dan Hikmah dalam Altar Corona virus diseas (COVID-19)

Rab_15_04_2020_10_31_50Perbincangan bincangan Syariah dan Hikmah dalam Altar Corona virus diseas (COVID-19)

Muhammad Nurravi Alamsyah
(Peneliti muda C-finus)

Sejak sejuk alam mulai takut dihirup dalam-dalam, sejak permai embun kampung halaman mulai pupus, sejak pesona senja mulai teracuhkan oleh masyarakat Indonesia, sebab adanya wabah covid-19 yang mengharuskan seluruh elemen mematuhi aturan pemerintah demi kemaslahatan, babak baru dimulai , seluruh dunia berjuang melawan pandemic covid-19, masing-masing menyiapkan berbagai langkah preventif antisipatif untuk meminimalisir daya rusak covid 19, termasuk dalam hal taburan azimat sebagai penangkal penyebaran covirus .
Dalam konteks fiqih Siyasah, mematuhi pemerintah hukumnya adalah wajib karena kebijakan yang dicanangkan pemerintah memang harus berpacu pada kemaslahatan, qaidah fiqih turut menyebutkan tasarraf al-Imam ‘ala ra’iyatih manuthun bi almaslahah, yang secara gramatikal diartikan kebijakan/tindakan imam (pemimpin) kepada rakyat harus berpijak kepada kemaslahatan (kebaikan)”.Pemerintah telah menimbang semua maklumatnya yang telah dikeluarkan demi menanggulangi wabah mulai dari social distancing, penggunaan masker, penyemprotan, dll , semua itu juga sangat bermanfaat bagi masyarakat untuk mencegah penularan wabah . Maka dari sini masyarakat harus wajib taat kepada pemerintah yang berarti sekaligus mentaati Syariah, argument ini senada dengan narasi Al-Haiythami dalam karya besarnya Tuhfah al-Muhtaj,

تجب طاعة الإمام فى أمره ونهيه ما لم يخالف الشرع أى بأن لم يأمر بحرم وهو هنا لم يخالفه لأنه إنما أمر بما ندب إليه الشرع (تحفة المحتاج الجزء الثالث ص: ٧١ ),

Secara terminologis, ta’bir diatas berbicara tentang kewajiban taat kepada imam (pemimpin) pada perintah dan larangannya selama tidak bertentangan dengan syara’ . Dalam pandemic corona ini, pemerintah Indonesia mencetuskan kebijakan social distancing yang tidak berpacu pada kebijakan lockdown sebagaimana kanjeng nabi lakukan ketika menjabat sebagai pemimpin Negara. Dalam bahasa Talal Asad, kemunculan riwayat ini dalam arasy perbincangan corona disebut dengan tradisi diskursif, dimana kebijakan lockdown memiliki relasi kesejarahan dalam tradisi keislaman yang paling dini. Tentu saja hal ini juga berlaku bagi kehadiran dunia hikmah yang melibatkan berbagai fragmen, baik wirid, azimat, ratib al hadad, bahkan al Quran dalam menanggapi kasus global corona, karena disetiap tahapan generasi masyarakat ia selalu hadir dalam wilayah kulturalnya (Yahya: 2020)
Meskipun begitu, tidak sedikit sikap masyarakat ditengah pandemik corona, ada masyarakat yang berqiblat kepada jagat arasy pemikiran Jabariah yang hanya berpacu pada sebuah keyakinan bahwa semua penyakit, sembuh dan kematian ini dari Allah, sehingga tidak terdapat rasa takut terhadap berbagai cobaan dan ujian termasuk pandemic wabah korona, karena satu-satunya yang patut ditakuti hanyalah Allah. Kepercayaan ini diwujudkan dengan meninggalkan ikhtiar2 dhzahir.
Selain itu, juga muncul altar pemikiran kelompok qadariyah yang sangat bebas lepas hingga semua kehendak ditentukan secara individu. Dalam penafsiranya, kelompok ini berkeyakinan penuh bahwa segala macam pagebluk bisa diselesikan sendiri dengan ikhtiyar mustaqil (independen) dengan cara bermasker, semprot disinfektan, menggunakan hand sanitizer dan lainya. Dalam pendapat kelompok ini menganut ajaran tahsin taqbih ‘aqliyan yakni baik buruk keduanya rasional, dapat diseleseikan dengan upaya sendiri tanpa campur tangan kekuatan dari pihak manapun.
Kemudian bagaimana cara yang paling tepat untuk menanggapi kondisi/ situasi saat ini? Menurut Yahya yang meramu bahasa Abdullahi Osman el-Tom (1985) jika dilihat dari pilihan ayat al-Quran dan ekspektasinya terdapat dua relasi, yaitu semantic dan manipulatif. Relasi yang pertama menunjukkan adanya linieritas antara makna redaksional dengan ekspektasi jauh dari realita. Upaya pemerintah memberi kebijakan social distancing, lockdown, PSBB, penggunaan masker adalah bukan suatu yang negatif, namun sebaliknya, resepsi paling dasar upaya tersebut adalah pada aspek hermeneutisnya, tetapi lebih pada fungsinya dalam konteks sosial kebudayaan dan ramah terhadap lingkungan.
Maka dari itu, sikap kelompok wasathiyah dalam menyikapi pandemic ini adalah diwujudkan dengan melaksanakan isi nash Al-Quran atas larangan menjerumuskan diri dalam kerusakan jika menghilangkan ikhtiar/ kasab (2:195). Imam al-Laqqani al-Maliky dalam karyanya bertajuk Hidayah al-Murid Li Jawharah al-Tawhid menjelaskan sebagai berikut:

وقد يكون الخوف من غير الله عز وجل ليس محرما كالخوف من الاسود والحيات والعقارب و الظلمة. وقد يجب الخوف من غير الله عز وجل كما امرنا بالفرار من ارض الوباء بمعنا انانهينا عن دخولها والخوف منها على اجسامنا من الامراض و الاسقام و فى الحديث (فر من المجذوم فرارك من الاسد)
فصون النفوس والاجساد والمنافع والاعضاء والاموال والاعراض عن الاسباب المفسدة واجب كماعلمت. وعلى هذه القواعد قس يظهر لك يحرم من الخوف من غير الله تعالى وما لايحرم وحيث تكون الخشية من الخلق محرمة ( ٢٣٢/ب) وحيث لا تكون فاعلم ذلك والله اعلم.

Terkadang takut dari selain Allah tidaklah haram, seperti takut dari ular besar, ular, hewan melata, dan gelap. (Bahkan) terkadang wajib takut dari selain Allah sebagaimana kita diperintahkan lari dari wilayah yang terjangkit wabah, dalam arti kita dilarang memasuki wilayah tersebut, dan takut dari sakit dan penyakit-penyakit lain terhadap tubuh kita.
Tersebut dalam hadis:(Berlarilah dari penderita kusta sebagaimana berlarimu dari singa)
Karenanya, menjaga jiwa, tubuh, benefit, anggota tubuh, harta-benda, dan kehormatan diri dari sebab-sebab yang merusak hukumnya wajib sebagaimana Anda ketahui.
Berdasar kaedah-kaedah ini, qiyaskanlah segala sesuatu yang nampak padamu takut dari selain Allah baik yang diharamkan maupun yang tidak diharamkan, dan dimana takut dari makhluk itu hukumnya bisa atau menjadi tidak haram.(Al-Laqqani)
Finally, perbincangan covid -19 dalam dunia syariah dan hikmah memiliki kesinambungan moral, dalam istilah syariah upaya pemerintah menanggulangi wabah ini merupakan bentuk melaksanakan hifdz al nafs (menjaga jiwa) yang oleh Imam al-Raysyuni disebutkan peringkatnya lebih tinggi dibanding hifdz al din (menjaga agama), karena dengan kesehatan jiwa , hubungan dengan tuhan akan berjalan lancar dan baik-baik saja. Sedangkan dalam sudut pandang hikmah, meminjam bahasa antropologi istilah tersebut (hikmah) disebut dengan magi, yang pelibatan berbagai macam fragmen (al-Quran, dan bacaan suci lainya) adalah suatu keniscayaan. Terlebih lagi di Indonesia, sebagai komunitas muslim, terbesar dan bukan pemilik bahasa al-Quran, potensi untuk meresepsi kalam allah diluar kapasitas tekstualnya jauh lebih memungkinkan, disamping itu secara performatif, fenomena tersebut tampak lebih kreatif dalam praksis sosialnya.

“Wabah ini memberikan pelajaran……
bahwa rindu tak selamanya harus cepat bertemu….
terkadang memang harus melalui untaian kalimat doa-doa yang indah….
dan perhatian terhadap sesama…….

(Sumber photo: http://ikm.unnes.ac.id/edisi-covid-19-jurusan-ikm-serukan-10-langkah-pencegahan-covid-19-salah-satunya-menggunakan-masker-kain-jika-bepergian/)

Topeng Tetek Molek Antara Kepercayaan dan Mistik Sebagai Bentuk Tangkal Pandemik Covid 19 Dalam Perpektif Fikih Nusantara

 

Min_12_04_2020_21_47_53

Minggu,  12 April 2020

Pemateri    : Dr. Ahmad Mushonif M.H.I

Moderator : Nur Fizanah

*Tradisi Thethek Molek*
Warga di Dusun/Desa Wajak Kidul, Kecamatan Boyolangu, Tulungagung membangkitkan kembali tradisi thethek molek. Tradisi thethek molek dianggap sebagai sarana pengusir pagebluk (serangan penyakit secara meluas) yang diyakini sejak nenek moyang. Menurut  Yasmini (65), sesepuh desa tersebut  “Dulu kan sering ada penyakit yang meluas di masyarakat. Kami menyebutnya pagebluk. Thethek molek adalah cara nenek moyang untuk menolak pagebluk,”.
Thethek molek adalah topeng. Untuk tolak pagebluk ini, thethek molek dibuat dari pangkal pelepah kelapa yang biasa disebut bongkok atau cumplung (kelapa muda yang jatuh). Bongkok dan cumplung yang dipilih adalah yang sudah jatuh, tidak boleh diambil dari pohonnya. “Bongkok dan cumplung dipilih karena mudah diberi gambar. Karena memamng bentuknya kan sudah mirip dengan wajah,dan  tinggal diberi warna. Untuk melukis thethek molek, bahan yang dipakai adalah kapur bangunan dan jelaga dari tungku atau pantatnya belanga. Semua boleh membuat lukisan thethek molek. Namun syaratnya harus wudu dan tidak boleh batal selama melukis. Selain itu selama melukis harus sambil membacakan ayat kursi. Tidak ada bentuk baku lukisan thethek molek, asal membentuk wajah lengkap dengan mata, hidung dan mulut. Topeng thethek molek ini kemudian dipasang di depan rumah, disandarkan pada dinding. Dengan thethek molek ini, Yasmini berharap Allah cepat menarik virus corona. Yasmini menyatakan, “Corona adalah pagebluk yang terjadi di seluruh dunia. Semoga Allah segera menariknya,” terang Yasmini. Kakak kandung Yasmini, Srini (70) mengatakan warga di kampungnya masih memegang tradisi nenek moyang, seperti tradisi thethek molek. Thethek molek merupakan cara untuk mengusir pagebluk yang kerap terjadi di masa silam.

*Hadith hadith tentang memakai jimat*

Ada beberapa hadith terkait dengan penggunaan jimat sebagai sarana penangkal bahaya.

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَبْصَرَ عَلَى عَضُدِ رَجُلٍ حَلْقَةً أُرَاهُ قَالَ مِنْ صُفْرٍ فَقَالَ وَيْحَكَ مَا هَذِهِ قَالَ مِنَ الْوَاهِنَةِ قَالَ أَمَا إِنَّهَا لاَ تَزِيدُكَ إِلاَّ وَهْنًا انْبِذْهَا عَنْكَ فَإِنَّكَ لَوْ مِتَّ وَهِيَ عَلَيْكَ مَا أَفْلَحْتَ أَبَدًا
“Bahwasannya Nabi SAW melihat di tangan seorang laki-laki terdapat gelang dari tembaga, maka beliau berkata, “Celaka engkau, apa ini?” Orang itu berkata, “Untuk menangkal penyakit yang dapat menimpa tangan.” Beliau bersabda, “Ketahuilah, benda itu tidak menambah apapun kepadamu kecuali kelemahan, keluarkanlah benda itu darimu, karena sesungguhnya jika engkau mati dan benda itu masih bersamamu maka kamu tidak akan beruntung selama-lamanya”.”(HR. Ahmad)
Sahabat Abu Basyir Al-Anshari Radhiyallahu ‘Anhu berkata,

أَنَّهُ كَانَ مَعَ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم فِي بَعْضِ أَسْفَارِهِ قَالَ عَبْدُ اللهِ حَسِبْتُ أَنَّهُ قَالَ وَالنَّاسُ فِي مَبِيتِهِمْ فَأَرْسَلَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم رَسُولاً أَنْ لاَ يَبْقَيَنَّ فِي رَقَبَةِ بَعِيرٍ قِلاَدَةٌ مِنْ وَتَرٍ أَوْ قِلاَدَةٌ إِلاَّ قُطِعَتْ
“Bahwasannya beliau pernah bersama Rasulullah SAW pada salah satu perjalanan beliau –berkata Abdullah (rawi): Aku mengira beliau mengatakan-, ketika itu manusia berada pada tempat bermalam mereka, maka Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam mengutus seseorang untuk menyampaikan, “Janganlah tertinggal di leher hewan tunggangan sebuah kalung dari busur panah atau kalung apa saja kecuali diputuskan”.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani menyebutkan diantara penjelasan ulama terhadap hadits di atas, “Bahwasannya di zaman Jahiliyah dahulu mereka memakaikan kalung-kalung busur panah keras terhadap onta mereka agar tidak terkena penyakit ‘ain menurut sangkaan mereka. Maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memerintahkan mereka untuk memutuskan kalung-kalung tersebut sebagai pengajaran kepada mereka bahwa jimat-jimat itu tidak sedikitpun dapat menolak ketentuan Allah ta’ala. Ini adalah pendapat Al-Imam Malik rahimahullah tentang makna hadits ini. ”
Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu berkata, aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,
إِنَّ الرُّقَى وَالتَّمَائِمَ وَالتِّوَلَةَ شِرْكٌ

“Sesungguhnya mantra-mantra, jimat-jimat dan pelet itu syirik.” (HR. Ahmad, no. 3615, Abu Daud no. 1776, 3883 dan Ibnu Majah, no. 3530. Asy-Syaikh Syu’aib Al-Arnauth berkata, “Shahih lighairihi,” dan dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Ibni Majah, no. 2854)
Sahabat yang mulia Abu Ma’bad Abdullah bin ‘Ukaim Al-Juhani Radhiyallahu ‘Anhu berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,
مَنْ تَعَلَّقَ شَيْئًا وُكِلَ إِلَيْهِ
“Barangsiapa yang bergantung kepada sesuatu (makhluk seperti jimat dan yang lainnya) maka dia akan dibiarkan bersandar kepada makhluk tersebut (tidak ditolong oleh Allah ta’ala).”

*Tradisi thethek molek dalam tinjauan syariah*
Sebagaimana pada kasus hukum pembuatan patung, maka penggunaan azimat sebagai penangkal bahaya sebagaimana dijelaskan dalam hadith perlu dilihat konteksnya dalam tradisi Arab. Para sahabat nabi hidup pada masa yang dengan dengan jaman jahiliyah. Sedikit banyak mereka masih dipengaruhi oleh tradisi pada masa itu. Nabi mengajarkan untuk meminta perlindungan kepada Allah dan tidak pasrah kepada selain Allah. Adapun penggunaan jimat pada masa itu masih dipengaruhi oleh kepercayaan syirik. Bagaimana hukum menggunakan alat sebagai sarana datangnya pertolongan dari Allah. Dalam sebuah hadith disebutkan. Nabi SAW menggunakan air liur beliau untuk mengobati penyakit. Beliau mencampur air liur beliau dengan sedikit tanah dan diiringi doa,

بِسْم اللهِ تُرْبَةُ أَرْضِنَا بِرِيقَةِ بَعْضِنَا يُشْفَى سَقِيمُنَا بِإِذْنِ رَبِّنَا
“Dengan nama Allah , tanah dari bumi kita, dengan air liur sebagian dari kita, (dengan sebab itu) akan disembuhkan penyakit kita dengan izin Rabb kita.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Disini Nabi berdoa dengan menyebut nama Allah dan dengan menggunakan air liur beliau menggunakan tanah untuk penyembuhan. Dan tentu dengan berharap ijin dari Allah.

Al-Imam al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya dari ‘Utsman bin Abdillah bin Mauhab berkata,

أَرْسَلَنِي أَهْلِي إِلَى أُمِّ سَلَمَةَ زَوْجِ النَّبِيِ بِقَدَحٍ مِنْ مَاءٍ وَقَبَضَ إِسْرَائِيلُ ثَلَاثَ أَصَابِع وَكَانَ مِنْ قُصَّةٍ فِيهِ شَعْرٌ مِنْ شَعْرِ النَّبِيِ إِذَا أَصَابَ الْإِنْسَانَ عَيْنٌ أَوْ شَيْءٌ بَعَث إِلَيْهَا مِخْضَبَهُ فَاطَّلَعْتُ فِي الْجُلْجُلِ فَرَأَيْت شَعَرَاتٍ حُمْرًا
“Keluargaku mengutusku membawa sewadah air untuk Ummu Salamah, istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” —Israil (perawi hadits) menggenggam tiga jarinya (mengisyaratkan) ukuran wadah yang berisi beberapa helai rambut dari rambut-rambut Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.—Utsman melanjutkan, “Jika seseorang sakit karena ‘ain atau penyakit lainnya, dia akan mengirimkan suatu wadah berisi air ke Ummu Salamah. Aku melihat ke wadah dan aku melihat beberapa helai rambut kemerahan.”
Al-Hafizh Ibnu Hajar mengatakan, “Mereka biasa menyebut botol perak tempat menyimpan rambut Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu sebagai juljul. Botol itu disimpan di rumah Ummu Salamah ra.”
Seperti yang dijelaskan di atas tradisi Thethek Molek dilakukan dengan menggambar pelepah kelapa yang sudah tua, kemudian digambar. Proses penggambaran ini dilakukan dalam keadaan berwudu dan sambil membaca ayat kursi. Tujuannya adalah meminta tolong kepada allah.
Bagaimanapun pandangan dunia (world view) orang jawa berbeda dengan orang Arab. Orang jawa menggunakan symbol-simbol tertentu untuk mengekspresikan pikiran mereka kepada yang maha kuasa atau yang gaib. Dilihat dari sarananya. Gambar itu dibuat tidak untuk disembah dan tidak menyerupai makhluk hidup. Tujuannyapun bukan untuk penyembahan tetapi sebagai sarana simbolik meminta tolong kepada Allah.

Kesimpulannya ialah:
1. Hukum memakai jimat yang ada Asma Allah adalah Mubah (Boleh) dengan niat taqorrrub kepada Allah untuk menolak bala, dan jika diniatkan untuk memohon bantuan kepada selain Allah maka dihukumi haram. Catatannya asalkan tidak ada unsur penyembahan(taabbudi) terhadap benda tersebut maka diperbolehkan.
2. Gambar pada thethek molek tidak haram karena tidak berbentuk makhluk sempurna.
Sesuai dengan kesepakatan ulama berikut:

فعلم أن المجمع على تحريمه من تصوير الأكوان ما اجتمع فيه خمسة قيود عند أولي العرفان أولها ؛ كون الصورة للإنسان أو للحيوان ثانيها ؛ كونها كاملة لم يعمل فيها ما يمنع الحياة من النقصان كقطع رأس أو نصف أو بطن أو صدر أو خرق بطن أو تفريق أجزاء لجسمان ثالثها ؛ كونها في محل يعظم لا في محل يسام بالوطء والامتهان رابعها ؛ وجود ظل لها في العيان خامسها ؛ أن لا تكون لصغار البنان من النسوان   فإن انتفى قيد من هذه الخمسة . . كانت مما فيه اختلاف العلماء الأعيان . فتركها حينئذ أورع وأحوط للأديان
“Maka dapat dipahami bahwa gambar yang disepakati keharamannya adalah gambar yang terkumpul di dalamnya lima hal. Pertama, gambar berupa manusia atau hewan. Kedua, gambar dalam bentuk yang sempurna, tidak terdapat sesuatu yang mencegah hidupnya gambar tersebut, seperti kepala yang terbelah, separuh badan, perut, dada, terbelahnya perut, terpisahnya bagian tubuh. Ketiga, gambar berada di tempat yang dimuliakan, bukan berada di tempat yang biasa diinjak dan direndahkan. Keempat, terdapat bayangan dari gambar tersebut dalam pandangan mata. Kelima, gambar bukan untuk anak-anak kecil dari golongan wanita. Jika salah satu dari lima hal di atas tidak terpenuhi, maka gambar demikian merupakan gambar yang masih diperdebatkan di antara ulama. Meninggalkan (menyimpan gambar demikian) merupakan perbuatan yang lebih wira’i dan merupakan langkah hati-hati dalam beragama” (Sayyid Alawi al-Maliki al-Hasani, Majmu’ fatawa wa ar-Rasa’il, hal. 213)
3. Menggunakan benda sebagai ‘simbol’ permohonan boleh saja. Nabi pernah menaruh pelepah kurma yang menjadi simbol keberlanjutan doa selama belum kering.
4. Tetek molek dijadikan motivasi  masyarakat untuk bersama-sama menghilangkan pagebluk.
5. Dilihat dari kaedahnya melalui Washilah (alat/instrumen) yang memiliki urgensi sebagaimana tujuannya, semisalnya berdoa dengan menggunakan media berupa benda seperti jimat/rajah/patung tetek molek yang disuwuk misalnya, maka kedudukan washilah tersebut sama pentingnya dengan do’a

Belut dalam Fikih Indonesia, Sebuah Fatwa Ulama Betawi Syaikh Muhammad Mukhtar Al-Batawi

IMG-20200408-WA0026

Belut dalam Fikih Indonesia, Sebuah Fatwa Ulama Betawi Syaikh Muhammad Mukhtar Al-Batawi

_Oleh Nisa in the are ma you_

Kehadiran belut di Indonesia merupakan hal yang sudah lumrah dan wajar, hewan ini sering ditemukan dilokasi atau tempat tertentu, paling banyak ditanah rawa dan sawah. Di Indonesia, hewan yang mirip ular ini termasuk kuliner favorit karena rasanya yang gurih dan sangat cocok dimakan dengan sambal. Namun, dibalik rasanya yang lezat, status hukum hewan ini menuai kontroversi di banyak kalangan . Fatwa Ulama Arab Saudi menyebutkan hewan ini haram, ulama Saudi menilai belut adalah hewan yang berbentuk menyerupai ular dan sangat menjijikan, sehingga tidak layak untuk dikonsumsi, alasan utamanya karena letak Arab secara geografis tandus dan jarang ditemukan hewan yang bertahan hidup didaerah tropis. Berikut ta’bir yang menjelaskan
) أنكلس ( … في حديث علي رضي اللّه عنه ) أنه بعث إلى السوُّق فقال : لا تأكلوا الأنْكَلِيس ( هو بفتح الهمزة وكسرها : سمك شبيه بالحيَّات ردِئ الغذاء وهو الذي يسمى الْمَارْمَاهِي . وإنما كرِهه لهذا لا لأنه حرام . هكذا يُروى الحديث عن علي رضي اللّه عنه . ورواه الأزهري عن عمار وقال : ) الأنْقلِيس ( بالقاف لغة فيه

Inkilis/ Belut dalam hadits marfu’, Sayyidina Ali r.a, mengutus ke pasar kemudian berkata “Janganlah memakan belut”. Belut ialah hewan yang mirip ular yang buruk makanannya ia disebut juga dengan marmahi. Pelarangan di atas bukan ke arah hukum haram namun makruh. Demikianlah riwayat hadist dari sayyidina Ali ra. Al-Azhary dari ‘Ammaar meriwayatkan dengan menggunakan huruf Qaf “Inqilis”. ( An-Nihaayah Fii Ghariib al-Atsar I:183 ).
Bagaimana reaksi masyarakat Indonesia terhadap Belut ? Mayoritas masyarakat Indonesia sudah mengetahui betul tentang hewan khas NUSANTARA yang satu ini karena bentuknya seperti ular namun licin, tak bersisik, dan hidup lebih dominan ditemukan di daerah persawahan. Namun ada sebagian orang yang tidak menyukai belut, baik karena geli atau tidak tega memakanya karena bentuknya seperti ular. Namun tidak sedikit masyarakat Indonesia yang sangat menggemari dan mampu membudidayakan belut selain dikawasan persawahan, misal dibudidayakan dalam tambak-tambak layaknya seperti ikan. Bagi para konsumen untuk menjumpai penjual makanan berbahan belut pun mudah ditemui dan sangat menjamur disetiap sudutnya. Dikawasan pedesaan khususnya, belut sebagai lauk yang paling digemari karena banyak para penduduk sebagai petani di sawah dan menyempatkan berburu belut untuk dijadikan lauk dirumah dengan nasi dari hasil panen padinya sendiri. Tak jauh berbeda di perkotaan, banyak pula yang menyukai belut bahkan dikreasikan dengan berbagai macam-macam rupa masakan hingga sekelas Restoran berbintang lima .
Dalam kacamata hukum Islam, hewan seperti belut, sidat dan semacamnya yang hidup di air di kategorikan haram, meskipun tidak bertaring, tidak pula berbisa, tidak mempunyai kulit yang bersisik, tidak hidup di dua alam dan mendesis layaknya ular. Hasil ijtihad yang kontra ini banyak menimbulkan khilafiyah hingga salah satu ulama terkenal di Indonesia yakni Syaikh Muhammad Mukhtar al-Batawy menyusun sebuah magnum opus yang dinamai Kitab Belut Nusantara. Penyusunan kitab ini awalnya menimbulkan segala pro kontra serta perpecahan di kalangan umat karena dasar yang digunakan sama kuat baik yang membolehkan atau mengharamkan.
Ulama yang terlahir di Bogor Jawa Barat pada tanggal 14 Februari 1862 M / 14 Sya’ban 1278 H ini Mengawali Risalahnya yang berjudul as-Sawa’iq Al-Muhriqah li al-awham al-Kadzibah fi Bayan Hal “al-Belut Wa-Radd ‘Ala Man Harramah pembahasan dalam kitab ini meliputi klasifikasi hewan, didalamnya dijelaskan binatang secara umum terbagi menjadi empat kategori diantaranya :1) Hewan darat yang mampu hidup di air, seperti burung-burung yang mampu terbang namun bisa hidup di air, keberadaan mereka hanya sementara untuk kepentingan tertentu, b) Hewan darat yang tidak mampu hidup di air dari sejak karakternya, seperti kucing. c) Binatang di air yang tidak mampu bertahan hidup di darat, seperti mayoritas jenis ikan, d) Jenis binatang laut yang bisa hidup di daratan secara temporal(tidak permanen) . Hukum untuk tiap-tiap kategorinya pun berbeda beda , ada yang halal dan haram. Selain ke-empat kategori tersebut, ada jenis binatang yang bisa diklasifikasikan kedalam kategori lainnya seperti hewan yang hidup di dua alam, contohnya ular dan katak, jika ditelusuri dari pendapat para ulama-ulama seperti halnya nukilan imbuhan Syaikh Mukhtar mengatakan bahwa binatang yang hidup di air selain katak atau binatang yang beracun (berbahaya) hukumnya halal.
Syaikh Mukhtar al-Batawy menjelaskan hukum Belut yang dalam bahasa Arab disebut dengan Al-Inqilis. Belut dikenal dengan jenis ikan, menurut Syaikh al-Mukhtar , ikan ini dihukumi halal layaknya seperti pendapat para shahabat Rasulullaah yaitu Abu Bakar Ash-Shidiq, Umar Bin Khattab, Ibnu Abbas dan Yazid Bin Tsabit, serta Abu Hurairah, Termasuk pandangan para madzhab Maliki dan Syafi’I, beliau menegaskan kategorisasi belut yakni hewan air yang tidak keluar ke darat , tetapi memang terkadang keluar untuk keperluan dan dalam kurun waktu tertentu saja. Belut juga termasuk hewan yang masuk kategori ke-empat sebagaimana penjelasana sebelumnya dan hukumnya halal, dalam istiah lain belut juga disebut dengan al Jirts , berikut dasar yang digunakan
الحكم الخاص بحل الجزء المبان من السمك يشمل جميع أنواع السمك ومنه الجريت بكسر المعجمة وتشديد المهملة وهو سمك اسود مدور
Hukum kehalalan yang berlaku pada bagian potongan tubuh dari ikan, mencakup pada seluruh species jenis-jenis ikan yang ada diantaranya belut yaitu ikan yang berwarna hitam dan berbentuk bulat. (aS-Sawa’iq al-Muhriqah I/30 ).

Sebagian ulama menghukumi belut itu haram, tetapi tidak sedikit yang berpendapat belut halal termasuk Syaikh Mukhtar al-Batawy. Dalam jejak historis, pada abad ke-19 tengah mengadakan diskusi menyoal hukum belut yang tak terelakkan antara para tokoh, ulama-ulama yang berada di Mekkah dan para ulama-ulama dari tanah air melalui korespodensi surat, hingga banyak para penanya dari Yaman, Suriah bahkan ulama Mekkah sendiri. Dari sinilah, muncul inspirasi serta dorongan menulis risalah khusus soal belut. Disamping itu, belut mengalami perkembangbiakan hingga dapat dijumpai dikawasan perairan tropis yang bersuhu antara 25-31 derajat celsius seperti di Indonesia pada saat sekarang.
Dalam Al-Qur’an Surat Al-Maidah ayat 96 telah dijelaskan persoalan kehalalan memakan hewan air, “ Dihalalkan bagimu binatang buruan laut dan makanan (yang berasal)dari laut sebagai makanan yang lezat bagimu”. Artinya segala bentuk dan jenis hewan apa saja yang ada di laut boleh dimakan asalkan tidak membayakan ketika dimakan . dasar normatif yang lainya dapat ditemukan dalam Hadits tentang halal dan haramnya beberapa hewan yang boleh dimakan diantaranya: Hewan haram di darat seperti singa, macan, serigala, anjing, kucing. Alasannya binatang-binatanng tersebut memiliki taring untuk menyerang mangsanya. Nabi Muhammad Saw. bersabda “setiap binatang buas yang bertaring, haram untuk dimakan”(H.R. Bukhari dan Muslim).
Asy-Syaikh Muhammad Mukhtar Al-Batawi Al-Jawi dalam berpendapat tidak hanya seorang diri, melainkan bersama beberapa Ulama terkenal lainnya, aiantaranya , Imam Ar-Rafi’dan Syaikh Muhammad Nawawi Al-Jawi Al-Bantani (bapak kitab kuning Jawi ). Demikian Fatwa yang di lakukan atau dihasilkan oleh ulama terkemuka Indonesia dalam memecahkan masalah di Indonesia kemudian ditanggapi dengan sesuai konteks, situasi dan kondisi sebuah wilayah maupun kehidupan masyarakatnya.

Seminar Diseminasi Hasil Penelitian Fiqih Nusantara

diseminasidiseminasi

Sebagai perwujudan komitmen untuk mempopularkan pemikiran fiqih  ulama-ulama Center of Fiqih Nusantara, Center of Fiqih Nusantara IAIN Tulungagung  telah menyelenggarakan seminar hasil penelitian yang berjudul Pemikiran Fiqih Responsif Gender Syekh Arsyad Al Banjari dalam Pemahaman Masayarakat Lokal pada tanggal 5 Maret 2020. Seminar ini menampilkan Dr. Zulfatun Ni’mah, M. Hum selaku akademisi Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum sekaligus peneliti di C-Finus sebagai narasumber dan Siti Khoirotul Ula, MHI selaku moderator. Para mahasiswa dan dosen dengan antusias mengikuti seminar ini yang dimulai pukul 19.00 sampai dengan pukul 21.00.

Dalam paparannya, narasumber menjelaskan bahwa pada abad ke 18, di Kesultanan Banjar Kalimantan Selatan terdapat seorang ulama yang memiliki ijtihad fiqih responsif gender, yaitu Syekh Muhammad Arsyad al Banjari. Jika para ulama fiqih pada umumnya, terutama ulama dari Jazirah Arab, berpendapat bahwa perkawinan tidak berakibat pada tercampurnya harta antara suami dan istri, maka menurut Syekh Arsyad al Banjari, perkawinan dapat menyebabkan timbulnya harta milik bersama antara suami istri, yakni harta hasil pencaharian, tidak termasuk harta hasil dari hibah, waris dan wasiat. Dalam istilah setempat, konsep harta yang bercampur akibat perkawinan ini disebut harta perpantangan. Pendapat ini dilatarbelakangi oleh kenyataan pada masyarakat Banjar yang menunjukkan bahwa kebanyakan istri memiliki peran yang bersifat ekonomis, baik peran produktif seperti Bertani dan berdagang, maupun peran non produktif, yaitu mengurus rumah tangga. Dalam pandangan Syekh Arsyad, peran ini harus diperhitungkan sebagai sumbangan ekonomi. Oleh karena itu, apabila suami meninggal dunia, harta yang ditinggalkan tidak serta merta dapat langsung dibagi dengan rumus faraid yang tercantum dalam kitab-kitab fiqih, melainkan dibagi dua dulu sama rata, lalu diberikan kepada masing-masing suami dan istri. Setelah istri menerima bagiannya, ia masih berhak mendapat bagian sesuai hak yang diatur dalam faraid, yaitu ¼ harta suami, jika suami tidak meninggalkan anak, atau 1/8 jika suami meninggalkan anak. Rumusan ini menjadikan istri mendapat harta lebih banyak daripada jika langsung menggunakan faraid tanpa terlebih dahulu mendapat separuh harta bersama.

Persoalan yang dikaji oleh narasumber adalah apakah pemikiran fiqih yang responsif gender itu masih dikenal, dipahami dan diterapkan oleh masyarakat setempat, mengingat kitab al faraid di mana pemikirian itu dituangkan saat ini sudah tidak terlacak keberadaannya, sedangkan Lembaga-lembaga Pendidikan di Banjar lebih banyak menggunakan kitab karya ulama jazirah Arab. Penelitian yang dilakukan pada tahun 2019 tersebut menghasilkan temuan bahwa pada masyarakat kalangan tua, pemikiran ini relative masih dikenal, baik substansinya maupun asal usulnya. Sebagian tokoh yang biasa membantu penyelesaian sengketa di masyarakat, masih menerapkan pemikiran ini, namun memahaminya sebagai adat, bukan fiqih. Adapun pada kalangan muda, khususnya siswa sekolah, mahasiswa dan santri pondok pesantren, pemikiran tentang harta perpantangan relative tidak dikenal. Mereka lebih kenal dan paham pemikiran fiqih tentang waris yang bersumber dari kitab-kitab fiqih ulama jazirah Arab, seperti kitab Rohbiyyah yang mengasumsikan bahwa suami dan istri tidak memiliki harta bersama. Sebagai peneliti, narasumber menyarankan agar ke depan, perlu lebih diwacanakan agar ijtihad fiqih ulama nusantara adalah pemikiran yang sama pentingnya dengan ijtihad fiqih ulama Jazirah Arab sehingga dapat sama-sama dirujuk, diajarkan sebagai materi fiqih dalam lembaga-lembaga Pendidikan serta dipedomani dalam kehidupan sehari-hari, atas nama fiqih itu sendiri, dan bukan atas nama adat.

Legalisasi Ganja Perspektif Fikih Indonesia

WhatsApp Image 2020-03-17 at 06.30.38

 (Diskusi Isu-Isu Aktual Peneliti Center of Fikih Nusantara (C-Finus)

Selasa, 10  Maret 2020

Pemateri:  Qowwi Fuadi Rohman

Moderator:  Siti Amina

Tanaman Ganja       

Ganja atau Mariyuana berasal dari tanaman bernama Cannabis sativa. Tanaman satu ini memiliki 100 bahan kimia berbeda yang disebut dengan cannaboid. Masing-masing bahannya memiliki efek berbeda pada tubuh. Beberapa bahan kimia utama yang kerap digunakan dalam pengobatan adalah Delta-9-tetrahydrocannabinol (THC) dan cannabidol (CBD), perlu diketahui, THC merupakan senyawa yang memiliki efek mabuk atau high. Senyawa cannabinoid sebenarnya diproduksi juga oleh tubuh secara alami untuk membantu mengatur konsentrasi, gerak tubuh, rasa sakit, hingga sensasi pada indra. Namun, pada ganja sebagian senyawa ini sangatlah kuat dan bisa menyebabkan berbagai efek kesehatan serius jika disalahgunakan.

Mariyuana bisa menjadi obat bila diolah secara medis. Dustin Sulak, profesor bedah, meneliti dan membuat mariyuana untuk digunakan secara medis. Sulak merekomendasikan beberapa jenis mariyuana kepada para pasien dan mendapat hasil yang mengejutkan. Saat diberikan mariyuana, pasien yang memiliki sakit kronis mengalami perbaikan kondisi daripada sebelumnya. Kemudian pasien dengan multiple sclerosis juga mengalami lebih sedikit kejang otot daripada sebelumnya. Penelitian Sulak ini cukup kuat dan menambahkan sejarah panjang manfaat ganja yang dapat digunakan sebagai obat terpeutik. Namun masalahnya, karena tergolong barang ilegal, ganja ini sulit untuk dilakukan penelitian lebih lanjut tentang efektivitas ganja dalam dunia medis.

Khasiat ganja juga ditulis dalam kitab Tajul Muluk, kitab tersebut adalah sebuah naskah kuno yang berasal dari Arab, dibawa masuk ke Aceh oleh saudagar dan pedagang dari Persia serta Negeri Rum (Turki) sekitar abad ke-16. Naskah asli dari manuskrip kuno tersebut awalnya adalah tulisan tangan dengan menggunakan huruf dan bahasa Arab, kitab ini merupakan karangan ulama Aceh, yakni Syekh Isma’il bin Abdul Muthalib Al-Asyi yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Kitab Tajul Muluk ini secara umum  membahas masalah pengobatan. Pengobatan di dalam kitab Tajul Muluk dibahas sendiri dan terpisah pada sebuah bab, yaitu pengobatan tradisional  yang salah satu bahannya memanfaatkan tanaman ganja.

Kasu Hukum tentang Ganja di Indonesia

Di Indonesia, pernah ada kasus seorang suami yang bernama Fidelis Arie menanam ganja demi menyembuhkan penyakit langka yang di derita istrinya yaitu munculnya kista di sumsum ditulang belakang tetapi di saat istrinya berangsur pulih Fidelis ditangkap aparat BNN kab. Sanggau KALBAR pada pertengahan Februari 2017. Fidelis pun tak bisa lagi memberikan ekstrak ganja itu untuk mengobati istrinya. Tanggal 25 Maret 2017, usai 32 hari Fidelis dipenjara  istrinya pun tak kuat melawan penyakit tersebut dan meninggal dunia di RSUD setempat.

Ganja sendiri di Indonesia merupakan salah satu jenis narkotika golongan 1 sebagaimana telah disebutkan dalam UU narkotika yang mengatur bagaimana pidana orang yang mengkonsumsi, memiliki, dan menyalahgunakan narkotika. Dalam kasus Fidelis ini, ia dianggap telah menyalahgunakan ganja.

Hukum Ganja Perspektif  Fiqh

Berdasarkan pemaparan tentang ganja atau mariyuana yang ternyata memiliki khasiat untuk menyembuhkan suatu penyakit, mengindikasikan bahwa ganja bisa menjadi obat dalam kadar tertentu sepanjang itu tidak membahayakan tubuh. Meskipun begitu,efek melemahkan dan adiktif ganja yang dikonsumsi tidak sesuai kadar kebutuhan pengobatan jauh lebih membahayakan tubuh daripada manfaatnya. Dengan demikian, dalam forum kajian ini menyepakati beberapa klasifikasi terkait dengan hukum ganja.

Pertama, äl-ashlu fii ganja at-tahrim, illa maa dalla ad dalil ála tahlilihi”.  Asal hukum mengkonsumsi ganja adalah haram, disebabkan oleh kandungan ganja yang membahayakan tubuh dan berfungsi melemahkan. Namun, ada suatu penemuan yang menyebut bahwa ternyata ganja bisa dijadikan sebagai obat kanker dan juga bisa berfungsi sebagai bahan untuk anestesi. Berdasarkan fakta sementara yang ditemukan dari ganja ini, maka ada alasan kebolehan mengkonsumsi ganja dalam kadar tertentu yang diizinkan secara medis untuk keperluan pengobatan bukan konsumsi sehari-hari. Dalil untuk”pengahalalan”ganja adalah adanya keperluan pengobatan. Sepanjang belum ditemukan obat lain selain ganja, maka mengkonsumsi ganja untuk pengobatan sesuai kadar tertentu menjadi tidak apa-apa.

Kedua, “al-ashlu fii ganja at-tahlil”. Konsekuensi dari penggunaan kaidah ini untuk menilai hukum ganja secara fiqih adalah kebolehan mengkonsumsinya seperti mengkonsumi tanaman-tanaman sayur lainnya seperti bayam dan sebagainya. Namun, ganja tidak bisa memberikan kemanfaatan kepada tubuh manusia jika dikonsumsi tanpa saran dari medis. Efek yang ditimbulkan dari ganja yang dikonsumsi secara berlebihan justru dapat merusak tubuh. Karena itu, penggunaan kaidah ini untuk menghukumi ganja dengan segala manfaat dan madzaratnya tidaklah relevan.

Diskusi ini diakhiri dengan kesimpulan bahwa ganja tetaplah haram. Namun, untuk kepentingan pengobatan ganja diperbolehkan mengkonsumsinya dengan kadar tertentu sesuai petunjuk medis. Adapun wacana legalisasi ganja oleh Pemerintah Daerah Aceh, untuk saat ini dirasa tidaklah cocok. Mengingat bahaya yang ditimbulkan dengan adanya legalisasi ganja lebih berbahaya daripada manfaatnya. Dengan dilegalkannya ganja, dikhawatirkan pengedaran narkotika akan semakin meluas. Padahal dampak dari narkotika sangat merusak bangsa dan generasinya. Wallahu álam bis showab.

 

 

 

 

Fiqih Madzhab Nusantara

WhatsApp Image 2020-03-10 at 15.23.14

Asmawi Mahfudz

Pengajar IAIN Tulungagung[1]

            Fiqih adalah nilai-nilai ajaran Islam yang berdimensi normativ sebagai aturan dasar bagi seorang Muslim dalam menjalankan ajaran-ajaran agamanya. Aturan ini muncul dan berkembang seiring dengan pengamalan Islam itu sendiri. Tatkala Islam diamalkan pada masa Rasulullah Saw. dan Sahabat, di situ juga berkembang aturan-aturan Islam untuk mengamalkannya. Demikian juga pada masa tabiin, tabi’ al-tabiin, fiqih dijadikan sebuah kerangka acuan untuk mengamalkan Islam. Hanya saja pada masa awal-awal Islam tersebut fiqih teraktualisasikan dalam alam realitas empiris, belum menjadi sebuah disiplin kajian ilmu pengetahuan. Fiqih ajaran Islam diamalkan sesuai pemahaman saat itu, yang bersifat normativ dan praktis sesuai dengan kebutuhannya.

Dengan praktik ajaran Islam semacam itu, tidak heran kalau fiqih bernuansa arabisme, fanatisme, sektarianisme dan isme-isme yang lain sesuai dengan lingkungan di mana orang arab dan kulturnya mengamalkan Islam dalam wujud fiqih. Di samping itu praktik pengamalan Islam kala itu lebih menitik beratkan kepada penanaman akidah dan kesadaran kepada keberagamaan Islam, di banding kepada  dimensi-dimensi praktik formalitas keagamaan termasuk di dalamnya adalah bidang fiqih. Sehingga nuansanya kelihatan dominan aspek aqidah dan ubudiyah. Misalnya dalam ibadah sholat, thoharoh, haji, puasa dan lain-lain. Bidang-bidang ini dipraktikkan oleh orang Arab yang notabene meyakini kebenaran ajaran yang di bawa oleh Muhammad Saw. Praktik-praktik yang dijalankan oleh mereka dengan tidak meninggalkan kebiasaan-kebiasaan yang sudah mendarah daging, turun temurun diyakini kebenarannya. Maka aspek-aspek nuansa ibadah tauhid sebagai risalah Muhammad Saw. dan kebiasaan sehari-hari menjadi sinergi dan berjalan bebarengan. Taruhlah bidang thoharoh yang di dalamnya dianjurkan untuk memakai siwak ketika akan menjalankan ibadah. Dalam Hadits Rasulullah, (” Lawla an Asyuqa ‘ala Ummati La Amartuhum bi siwaki ‘inda Kulli Sholat”, Seandainya tidak memberatkan bagi umatku maka aku perintahkan untuk memakai siwak setiap akan melakukan sholat). Dalam Hadits ini dapat dipahami sebagai anjuran dan kesunahan bagi seorang Muslim untuk memakai siwak ketika mau melakukan ibadah. Artinya Praktik siwak sebagai sebuah piranti thoharoh (bersuci) dan ibadah menjadi dua hal yang dapat menyatu dan berpisah tergantung pemahaman kita dalam menyimpulkan Hadits di atas.

Tapi nampaknya memaknai siwak sebagai sebuah keniscayaan untuk mendapatkan kesunahan beribadah kadang mendera akal pikiran kita. Padahal piranti atau alat bersuci tidak hanya kayu Arak/siwak, tapi  bisa pasta gigi atau alat kesehatan yang lain. Tetapi kalau fanatisme dan formalitas beribadah kita telah terpatri, maka menggunakan selain siwak berarti tidak mendapatkan kesunahan thoharoh sesuai yang di terangkan dalam Hadits Rasul tersebut.

Itu merupakan sebagian contoh dari praktik keberagaan Islam yang kadang selalu bergandengan tangan di mana Islam akan dipraktikkan, diamalkan, diyakini kebenarannya. Seakan-akan antara aspek praktik kemanusiaannya dan aspek ibadah ilahiyahnya menjadi satu dan sulit untuk dibedakan. Belum lagi nanti berhubungan dengan aspek munakahah, ekonomi Islam, pidana Islam dan lain sebagainya. Maka tema yang sekarang lagi ngetrends ”Islam Nusantara” patut diapresiasi sebagai review  terhadap praktik keberagamaan Islam yang semakin hari semakin berkembang aspek kuantitas pemeluknya di dunia ini. Membutuhkan ide-ide dari para pemikir Muslim, contoh-contoh empiris dari praktik keberagaan Islam di dunia Muslim yang barangkali dapat dijadikan miniature untuk dicontoh di belahan dunia Muslim yang lain. Tak terkecuali praktik Muslim Indonesia sebagai pemeluk mayoritas Muslim di dunia.

Fiqih Nusantara berkembang seiring dengan masuknya Islam di bumi Nusantara, mulai zaman penyiar Islam awal (wali songo), masa kolonialisme, masa kebangkitan pasca kemerdekaan, masa orde baru dengan gencarnya arus modernisasi sampai masa milinium sekarang ini. Dari sekian fase atau periodesasi berkembangnya Islam di Indonesia, nampaknya ajaran Islam dapat dipraktikkan dengan subur oleh para pemeluknya. Walaupun juga mengalami dinamika keIndonesiaan yang sangat kental. Misalnya pada masa penyiar Islam nuansa sinkretisme ajaran Islam mewarnai pengamalan Islam. Ini tidak lepas dari kultur dan keyakinan masyarakat penganut agama agama sebelum Islam. Misalnya kejawen, Hindu, Budha dan aliran-aliran keagamaan yang lain. Maka dengan kondisi semacam ini para penyiar Islam juga menyampaikan Islam dengan pendekatan kultural, agar Islam bisa dipahami dan diamalkan secara sederhana tanpa meninggalkan elan ajaran Islam yang asasi. Artinya pilihan fiqih yang diterapkan oleh para penyiar Islam kala itu juga fiqih-fiqih moderat yang dapat bersanding dengan budaya Nusantara. Kita dapat melihat ketika acara resepsi pernikahan, syawalan, kupatan, sunatan (khitan), slametan, syukuran dan lain sebagainya. Di dalam acara-acara itu nuansa fiqih Nusantara sangat kentara kalau tidak bisa dikatakan dominan. Artinya nilai-nilai budaya atau adat kebiasaan masyarakat Nusantara berkolaborasi dengan nilai-nilai keIslaman.

Pada masa Kolonialisme di Bumi Nusantara, praktik fiqih sebagai bagian dari Islam juga berhadapan dengan penguasa colonial kala itu. Sebut saja tarik ulur kebijakan recepcie oleh pemerintah belanda sehingga Fiqih masa itu bisa berlaku kalau tidak bertentangan dengan hukum adat. Atau teori sebaliknya “recepcie in contrario” yang menyatakan sebaliknya bahwa hukum adat dan praktik hukum Islam (fiqih) bisa berjalan beriringan untuk masyarakat Nusantara. Baru pasca kemerdekaan dan orde baru ketika Islam sudah semakin kuat dan kondisi struktur social masyarakat Indonesia jua tertata kemudia muncul fiqih ke-Indonesiaan oleh Hasbi ash-Shidiqi, Fiqih Sosial oleh Raim Am NU, KH. Sahal Mahfudz dan KH Ali Yafie. Tidak berhenti di situ saja upaya pribumisasi Islam oleh KH. Abdurahman Wahid, Reformasi bermadhhab oleh Prof. Qadri Azizi, menyempurnakan ikhtiyar para pejuang Islam Nusantara dalam rangka menjalankan fiqih sesuai dengan kondisi masyarakat Nusantara.

Maknanya upaya-upaya para pemikir Muslim Indonesia untuk mensosialisasikan Islam dan Hukum Islam dalam bingkai masyarakat Nusantara bergerak, dinamis, mewujudkan bentuk-bentuk ajaran yang menyandingkan antara aspek ke-Islaman dan Ke-Nusantaraan. Yang menurut penulis terdapat beberapa sinergis di antara keduanya. Pertama. Antara Islam dan Nusantara, sama-sama mewujudkan peran masyarakat yang percaya kepada Tuhan yang maha Besar. Allah Swt. Artinya dalam sisi ini potensi monoteisme (taudidiyah-ilahiyah) dalam tradisi agama tumbuh kental dalam bumi Pertiwi. Apalagi masyarakatnya juga mendukung untuk mengamalkan dan meyakini adanya dzat diluar kemampuan manusia.

Kedua, Fiqih yang berkembang di Indonesia sejak awal penyiarannya sampai sekarang selalu biasa beradapsi dengan lingkungannya. Sisi-sisi adaptatip inilah yang kemudian mengejawantah menjadi sebuah aturan yang luwes, ramah, berhadapan dengan umatnya kapanpun berada. Padahal ulama-ulama pendahulu memperjuangkan aktualisasi Islam tidak berbekal ilmu-ilmu kemasyarakatan. Misalnya ilmu sosiologi, antropologi, politik apalagi saintek. Nampaknya konsep fiqih yang selalu ramah dan luwes dengan lingkungannya yang diterapkan oleh ulama-ulama nusantara dahulu. Mungkin debatable tentang madhhab fiqih juga belum menjadi matakuliah-matakuliah di Perguruan Tinggi.   Para ulama mampu menterjemahkan aspek Insaniyah yang terdapat dalam Hukum Islam dalam dunia nyata kehidupan sehari-hari.

Ketiga, Fiqih nusantara mampu berkembang di Bumi Nusantara di dasari oleh niatan keikhlasan untuk memperjuangkan Islam, Ya’lu wa La Yu’la Alayh. Para pejuang tidak memikirkan status social mereka, kedudukan mereka, apalagi kepentingan mencari jabatan ditengah kehidupan berbangsa dan bernegara. Ini bias dibuktikan oleh fiqih yang menjadi kurikulum di pesantren sebagai soko guru perkembangan fiqih di Nusantara. Pesantren paada masa awal-awal berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia sealalu mengambil tempat yang jauh dari keramaian. Tujuannya Islam atau fiqih dapat diamalkan, dipelajari secara totalitas (tanpa ada pretense apapun). Karena ketika Islam atau fiqih di dalami dengan berinteraksi dengan keramaian kepentingan. Yang dominan di dalamnya adalah kepentingannya bukan nilai-nilai ajaran yang dikembangkan.

Artinya aspek yang ketiga ini ada kebersihan jiwa dalam fiqih yang disamapaikan oleh para ulama Nusantara. Tidak sekedar normativitas ajaran yang kaku, rigid, yang seolah bertabrakan dengan yang lain. Maka tidak heran dimensi-dimensi fiqih Nusantara juga bebarengan dengan ajaran tasawuf atau mistisisme. Misalnya para pengikut thariqah yang ada di Nusanatara kebanyakan adalah ghazalian (mereka yang mengikuti ajaran al-Ghazali dalam mempersatukan dimensi fiqih dan tasawuf).  

Maka dari itu fiqih madhab nusantara, kapanpun dia akan direalisasikan harus selalu mengacu kepada tiga hal di atas, yaitu dimensi tauhid-ilahiyah, dimensi adaptatif lingkungan dan juga dimensi ruhaniyah. Dengan ketiga nilai inilah fiqih sejak zaman Rasulullah sampai sekarang dapat eksist mencapai kejayaannya, mengantarkan masyarakatnya menjadi Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur. Wa Allahu A’lam!


[1] Di sampaikan dalam diskusi Fakultas Syariah IAIn Tulungagung