Archive for public discussion C-Finus

Unsur Kesengajaan dalam Lensa Fiqih Jinayah

 

Min_2_08_2020_22_33_56

Unsur Kesengajaan dalam Lensa Fiqih Jinayah

Suatu perbuatan bila dikatakan jarimah/ pidana mengandung beberapa unsur
Syara’

Ketidaksengajaan bisa saja meringankan hukuman seperti pada contoh kasus novel Baswedan.
Dalam kasus novel basweda menurut pemateri merupakan sengaja karena sudah direncakanan sebelumnya, hakim yang hanya menjatuhi 1 tahun penjara menurut pemateri salah karena tidak masuk akal sesuai situasi dan kondisi yang nyata.

Apabila melukai bagian tubuh yang ada sendinya tidak di qisas tetapi dengan membayar denda sehingga ketidak sengajaan bisa meringankan hukuman

Nilai yang terkandung dalam Fiqih divinitas (berasal dari wahyu Allah) dan humanitas (pemikiran manusia)

Menurut Abdul Qadir Audah Jarimah sengaja terletak pada pengetahuan, dan sadar akan perbuatannya, dan faham perbuatan yang dilakukan melawan hukum
Jarimah tidak sengaja terletak pada ketidak sengajaan, ketidaktahuan pelaku, atau dia keliru

Jarimah terdiri atas 3
Hudud
Qisas
Takzir kejahatan yang tidak termasuk hudud maupun qisas

Sengaja atau tidak sengaja bisa dilihat dari niat dan unsur kesengajaan dalam bebrapa jarimah, misal:

-pembunuhan sengaja

-Pembunuhan semi sengaja

-Pembunuhan tidak sengaja

Bentuk pertanggung jawaban dari tiap jarimah ini bertingkat, pengurangan hukuman ini karena adanya unsur sengaja dan tidak sengaja

Bila penganiayaan, maka syarat pelaku adalah berakal, baligh, cakap hukum, motivasi melakukan kejahatan dengan sengaja, derajat orang yang dilukai sederajat dengan orang yang melukai ( sederajat yang dimaksud adalah sama sama bukan orang yang berhak melukai, misal sesama rakyat)

Hukuman penganiayaan bisa dengan qisas, tetapi harus benar benar diukur, tidak boleh kurang atau lebih, jika tidak bisa diukur bisa dialihkan ke denda atau takzir. Apabila tidak sengaja hukumannya bisa lebih ringan

Yang digunakan sebagai indikator sengaja atau tidak sengaja adalah sebab akibat, Antara sebab akibat harus terbukti keduanya. Jika hanya salah satu yang terpenuhi maka belum bisa menentukan hukum.
Sengaja atau tidak sengaja bisa dilihat dari niat, niat letaknya dihati yang tidak bisa dilihat, jinayah ini membutuh kan bukti yang bisa dilihat untuk menentukan hukuman bagi pelaku.

Islam menawarkan 2 hal penyelesaian sebuah persoalan
Non litigasi, Mediasi melalui perantara ( lebih dikedepankan karena menurut Nabi penghukum lebih baik keliru memberikan maaf dibandingkan keliru memberikan hukuman) maupun Litigasi melalui pengadilan

Contoh  persoalan  masalah: apakah dengan sengaja menanam ganja dan menjualnya dikemudian hari apakah termasuk dalam jinayah? Atau termasuk pelanggaran atau pembangkangan terhadap negara

Jawab

Pembangkangan terhadap negara itu berarti pemberontakan atau mengaangkat senjata sehingga bukan termasuk. Tetapi penanaman ganja ini juga termasuk pelanggaran hal ini masuk kedalam jarimah takdzir. Karena dalam jarimah takzir ini adalah kejahatan yang tidak termasuk ke dalam hudud dan qisas

Zakat Pertanian dalam Konteks Fikih di Indonesia

IMG-20200602-WA0052

Nishab Zakat Pertanian dalam Konteks Fikih di Indonesia

Oleh Zen Amir Hidayat
Peneliti Muda Centre of Fiqh Nusantara

Kegelisahan Akademik
Dalam Bahasa Arab, kata zakat menentapkan kata dasar (mashdar) dari “zakka” yang berarti suci, berkah, tumbuh, kebaikan, dan terpuji. Bentuk derivatif beserta makna-makna banyaknya banyak tertuang dalam firman Allah. Lafal “az-zakah” dalam Al-Qur’an disebutkan sebanyak 30 kali, 8 kali diantaranya disebutkan dalam surah makkiyah. Lafal yang bermakana zakat kadang juga datang dalam bentuk lafal “shadaqah” seperti dalam surah Ar-Taubah ayat 60 (Ainah Abdullah: 2015). Zakat adalah salah satu rukun islam dan menjadi satu-satunya rukun yang mempunyai dua sisi dimensi yaitu vertikal dan horizontal. Ibadah zakat tidak hanya berhubungan dengan amal ibadah mahdhah saja melainkan zakat ini mencerminkan amal sosial dengan masyarakat luas dengan tujuan mewujudkan keadilan sosial dalam upaya memberantas kemiskinan. Dalam pengertian umum zakat berarti penambahan dan pertumbuhan. Melalui pengertian ini kita dapat mengembangkan beberapa cabang zakat menyesuaikan dengan kebutuhan yang sedang dihadapi, seperti halnya zakat harta kekayaan. Kita mendapati dalam Al-Qur’an bagaimana zakat digunakan secara cermat dan akurat dengan tidak membatasi jumlah dan tata cara pengumpulanya. Dapat kita temui dalam kitab-kitab klasik yang menyebutkan beberapa takaran zakat yang perlu dibayarkan saat sudah memenuhi kriterianya (Muhammad Syahrur: 2007).
Ada beberapa macam zakat yang kita kenal, salah satunya adalah zakat pertanian. Adapun Zakat pertanian dalam bahasa arab sering disebut dengan istilah az-zuru’ wa ats-tsimar (tanaman dan buah-buahan), atau al-Nabit au al-kharij min al-ardh (yang tumbuh dan keluar dari bumi) yaitu zakat hasil bumi yang berupa biji-bijian, sayur-sayuran dan buah-buahan sesuai yang ditetapkan dalam Al-Qur’an, Sunnah, dan Ijma’ Ulama’. Zakat pertanian adalah salah jenis zakat yang memiliki sebuah tuntutan langsung dari Al-Qur’an dan Hadits Nabi yaitu surah al-An’am ayat 141, Al Quthubi dalam kitab tafsirnya menyebutkan sebagian besar para ulama’ menafsirkan lafal “khaqah” dalam ayat tersebut adalah zakah al-munfaridhah yaitu hasil pertanian yang wajib dikeluarkan zakat (Muhammad Syahrur: 2007)
Tolok ukur yang digunakan oleh ulama’ klasik dalam menentukan kadar zakat pertanian yaitu dengan cara bagaimana seorang petani mendapatkan air untuk mengairi tanamanya. Perolehan air melalui hujan atau salju, sungai, pengairan yang mengairi lahan dan tidak memerlukan alat untuk mengairinya dan lahan subur yang tidak memerlukan pengairan atau penyiraman, kadar pengeluaran zakat dan biaya, maka kadar zakatnya adalah 5%. Apabila sesekali memakai tadah hujan dan pengairan sungai juga sesekali membutuhkan usaha dan alat, maka dikeluarkan 7,5% jika seimbang. Apabila tidak, maka dikeluarkan kadar yang lebih besar dipakai adalah 10% untuk kehati-hatian. Melihat realita yang dialami oleh para petani, takaran diatas kurang relevan jika diterapkan di Indonesia. Petani di Indonesia saat bertani tidaklah cukup hanya mengandalakan dengan air saja, ada beberapa kebutuhan lagi untuk merawat tanamanya seperti pupuk dan penyemprotan hama guna mendapatkan hasil panen yang baik. Berangkat dari realita sosial yang berhubungan dengan aspek hukum seyogyanya kita tidak boleh ber-taqlid buta dan berfikir obyektif atau hanya berfikir subyektif, yang perlu kita terapkan dalam dalam sebuah pola berfikir yaitu berfikir secara konseptual.
Padahal Al-Qur’an tidak hanya berisi aturan-aturan hidup saja, dalam kandungan Al-Qur’an juga mencakup bagaimana menata atau mengorganisasikan kehidupan. Maka dari itu memahami Al-Qur’an tidak cukup memahami dari teksnya saja tapi disisi lain juga perlu memahami sisi enkulturasinya sebagai solusi masalah sosial waktu itu. Pada saat Al-Qur’an diturunkan dikalangan masyarakat Arab saat itu adalah model bagi tatanan ideal yang kemudian ditransformasikan Nabi ke dalam sistem sosial masyarakat (Ali Shadiqin: 2008) Allah menjadikan bagi setiap umat satu syari’at tersendiri yang sesuai dengan kondisi dan tingkat pemahaman dan peradaban mereka. Apa baik dalam satu zaman belum tentu baik untuk zaman yang lain, apa yang cocok untuk satu kaum belum tentu baik untuk kaum lain. Oleh karena itu, syariat beragama sesuai dengan keberagaman kaum, zaman, dan geografisnya. Allah membagi-bagikan syariat pada masing-masing kaum dengan kuasa dan iradah Allah, aturan ini baik bagi kaum, zaman, dan tempat tertentu dan sangat sesuai dengan tabiat penganutnya (Rasyad Hasan: 2009)

Pijakan Normatif
Bukhari meriwayatkan dari sumber Ibn Umar dari Nabi SAW “ Yang diairi oleh hujan atau mata air, atau merupakan rawa (‘Usariy), zakatnya sepersepuluh, dan yang diairi dengan bantuan binatang (nadzh), zakatnya seperdua puluh. ‘Usariy, menurut Azhari dan lainnya, adalah tanah yang mendapat air dari banjir, lalu terbentuklah genangan air, hampir sama dengan anak sungai yang digali untuk mengalirkan air ke semestinya. Dinamakan demikian oleh karena banjir yang mengalir disitu tidak terjadi atas usaha manusia. Sedangkan nadzh adalah usaha pengairan dengan bantuan saniya, yaitu lembu untuk mengambil air dari sumur (Al-Talkhis: 180)
Muslim meriwayatkan dari sumber Jabir dari Nabi SAW.
حَدَّثَنِي أَبُو الطَّاهِرِ أَحْمَدُ بْنُ عَمْرِو بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ سَرْحٍ وَهَارُونُ بْنُ سَعِيدٍ الْأَيْلِيُّ وَعَمْرُو بْنُ سَوَّادٍ وَالْوَلِيدُ بْنُ شُجَاعٍ كُلُّهُمْ عَنْ ابْنِ وَهْبٍ قَالَ أَبُو الطَّاهِرِ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ وَهْبٍ عَنْ عَمْرِو بْنِ الْحَارِثِ أَنَّ أَبَا الزُّبَيْرِ حَدَّثَهُ أَنَّهُ سَمِعَ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ يَذْكُرُ أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فِيمَا سَقَتْ الْأَنْهَارُ وَالْغَيْمُ الْعُشُورُ وَفِيمَا سُقِيَ بِالسَّانِيَةِ نِصْفُ الْعُشْرِ
Artinya: Telah menceritakan kepada kami (Abu Thahir Ahmad bin Amru bin Abdullah bin Amru bin Sarh) dan (Harun bin Sa’id Al Aili) dan (Amru bin Sawwad) dan (Al Walid bin Syuja’) semuanya dari (Ibnu Wahb) – (Abu Thahir) berkata- telah mengabarkan kepada kami (Abdullah bin Wahb) dari (Amru bin Harits) bahwa (Abu Zubair) telah menceritakan kepadanya, bahwa saya mendengar (Jabir bin Abdullah) menyebutkan bahwa ia mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tanaman yang mendapat air sungai dan tadah hujan, zakatnya sepersepuluh. Dan tanaman yang mendapat air dengan cara usaha, seperti dengan kincir air dan sebagainya, zakatnya seperduapuluh.(Sahih Muslim)
Dalam al-Mughni disbutkan, ”Ringkasan tanah yang diairi dengan usaha pengairan, misalnya dengan bantuan binatang, timba, kincir atau lain-lainnya, maka zakatnya 10%. Sedangkan yang diairi tanpa usaha pengairan, makazakatnya 5%, sesuai dengan hadist-hadist yang kita temui. Hal itu oleh karena adanya usaha itu menggugurkan kewajiban membayar sejumlah zakat karena alasan biaya, yang berarti cukup beralasan bila diberikeringanan. Dan juga oleh karena zakat hanya wajib atas kekayaan yang berkembang, sedangkan usaha pengairan itu mengakibatkan perkembangan itu berkurang, yang oleh karena itu kewajiban yang harus dibayarkan berkurang pula. Termasuk ke dalam kategori usaha pengairan itu pembelian air untuk tanah atau ladiang, menurut pendapat Nawawi dan lain-lain. (Ibn Qudamah: 2006)
Tanah yang dalam Setahun diairi dengan Usaha Pengairan dan Tanpa Usaha Pengairan :
Bila tanaman setengah tahun diairi dengan usaha pengairan tetapi setengah tahun lagi tanpa usaha pengairan, maka zakatnya 15%. Ibnu Qudama mengatakan “ Kita tidak mendengar ada yang tidak setuju, oleh karena apa bila salah satu berlaku dalam sepanjang tahun akan menimbulkan akibat hukum penuh, tetapi bila berlaku separuhakan menimbulkan akibat hukum separuh pula.
Bila salah satu lebih banyak dari yang lain, maka dihitung usaha apa yang lebih banyak itu, lalu akan mengakibat kankonsekuensi hukum besar zakatya sesuai dengan usaha yang lebih banyakitu. Hal itu menurut pendapat ‘Atha, Tsauri, Abu Hanifah, pendapat Syafi’i dalam salah satu periode ,dan lebih dipercaya menurut madzab Hanbali. (Ibn Qudamah: 2006)
Bila tidak bisa diketahui upaya mana yang lebih besar, diairi atau tidak diairi, maka yang dimenangkan adalah kewajiban membayar zakat sebesar 10% karena alasan untuk lebih hati-hati. Hal itu oleh karena kewajiban asal adalah membayar 10% sedangkan pengguguran 10% itu hanyalah karena adanya upaya pengairan yang sengaja, yang berdasarkan itu bila pengguguran itu tidak terjadi, maka yang berlaku adalah hukum asal. Dan juga oleh karena hukum asal itu sesungguhnya adalah tiadanya upaya yang sengaja itu pada banyak hal, yang oleh karena itu adanya upaya itu tidak usah dipertimbangkan bila terdapat keragu-raguan.
Usaha Berat Pengairan Timbul persoalan apabila pengairan itu memerlukan pekerjaan-pekerjaan besar yang tidak bisa dikerjakan dengan alat-alat biasa, seperti pembuatan waduk-waduk dan saluran-saluran sekunder dan tersiernya. Dalam hal ini al-Mughni mengatakan bahwa penggalian parit-parit dan pembuatan waduk-waduk itu tidak mengurang ibesar zakat. Alasanny adalah bahwa usaha itu termasuk kedalam usaha perawatan tanah yang tidak dikerjakan setiap tahun. Rafi’i dalam asy-syarh al-kabir berpendapat yang sama dan mengambil alasan bahwa pekerjaan tambahan membuat saluran-saluran itu termasuk kedalam usaha perbaikan tanah yang tidak baik. Oleh karena itu apabila air mengalir kembali secara wajar kepada tanaman-tanaman itu, maka zakatnya tetap 10%. Hal itu berbeda apabila pengairannya dilakukan dengan bantuan alat-alat penyiram dan sebagainya.
Imam Khattabi menguraikan lebih jelas, Bila tanaman memperoleh air dari saluran-saluran, maka secara analogi hal itu harus dipertimbangkan. Artinya apabila beban pekerjaan tidak lebih banyak dari beban penggalian pertama dan penyebaran air pada saat-saat tertentu, maka kedudukannya sama dengan kedudukan sungai yang wajib zakat sebesar 10%. Tetapi bila beban pekerjaan lebih banyak, yaitu saluran itu selalu rusak yang menyebabkan air banyak hilang dan oleh karena itu penggalian harus dilakukan lagi, maka kedudukannya dalam hal ini sama dengan air sumur yang perlu dikeluarkan dengan bantuan binatang dan sebagainya. Pendapat ini diikuti oleh sebagian ulama’ madzab Syafi’i, menurut yang dilaporkan Rafi’i dalam asy-Syarh al-Kabir.
Pemaparan diatas menunjukan besaran zakat yang dibayarkan menurut beberapa ulama’ klasik. Memasuki zaman kontemporer ini terjadi problematika hukum, karena memang sebuah pembaharuan hukum saat ini sangat diperlukan untuk menjawab segala problematika hukum yang bermunculan dalam masyarakat. Dulu sebelum Rasulullah wafat, apabila terjadi sebuah problematika hukum, maka beliau akan menjadi sebagai figur otoratif untuk menjawab problem-problem hukum yang bermunculan. Hukum yang muncul dalam era kontemporer ini bermunculan sangat berfariatif, dan hukum-hukum yang bermunculan juga yang belum tentu terjadi pada zamanya. Hal ini bisa digaris bawahai bahwa pada era kontemporer ini sangatlah dibutuhkanya pembeharuan hukum.
Sebenarnya pada masa Sahabat sudah dicontohkan oleh beberapa sahabat, Umar bin Khatab, diaman beliau menetapkan zakat kuda yang ketika pada zaman Rasullah tidak ditemui, hal ini dimunculkan karena adanya sebuah perubahan keadaan sosial yang terjadi dalam masyarakat pada saat itu. Pada masa Sahabat sudah terjadi sebuah pembaharuan hukum, hal ini menunjukan bahwa hukum syari’ah yang berkembang adalah sebagai respon terhadap tantangan dan problematika yangterjadi dalam masyarakat. Dapat dikatakan bahwa hukum syari’ah itu bersifat fleksibel atau dinamis dan bukan transendental, karena itu hukum harus diterapkan secara kreatif dalam berbagai kondisi yang berubah.

Analisis Zakat Pertanian di Indonesia
Indonesia memiliki iklim tropis, tanahnya banyak yang humus dan gabut dengan ini penyerapan air sangat baik, pastinya sangat cocok untuk bertani, bahkan profesi sebagai petani tersebar di setiap daerah. Kondisi tanah di Indonesia sangatlah subur dan ada juga yang mengandung vulkanik, sehingga bisa ditanami tumbuhan berbagai jenis. Dengan kondisi tanah yang subur, pastinya sangat membantu para petani dalam bercocok tanam.
Setelah saya cermati, ada beberapa yang berbeda dalam penentuan ulama’ klasik dengan apa yang sedang dihadapi oleh para petani di Indonesia. Saat bercocok tanam, para petani tidak hanya bertompang pada air saja tapi ada beberapa usaha lagi yang dilakukan oleh petani seperti pupuk dan penyemprotan hama. Dengan kata lain usaha yang dikeluarkan bertambah dan hal ini belum dibahas oleh ulama’ klasik, lantas kadar pembayaran zakat apakah bisa disamakan dengan apa yang sudah dijelaskan oleh ulama’ klasik?, tentu jawaban saya tidak, karena pemahan secara tekstual belum bisa mengungkap makna dibalik teks, perlu ada beberapa pendekatan agar mempermudah mengungkap makna tersebut. Yang terpenting dalam hal ini adalah fakta historis teks tersebut (Coulson: 113)
Pemaparan ulama’ klasik dalam menentukan besaran zakat yang dibayarkan bertolak pada besar usaha yang dikeluarkan oleh para petani. Lantas seberapa besar yang kiranya relevan dalam pertanian di Indonesia? Sebagai upaya mengkontekstualisasikan hukum di Indonesia, penulis merinci sebagai berikut untuk tanah seluas 100 ru:
Benih 5 kg dengan harga Rp.60.000  kemudian di bajak kemudian denganRdengan anggaran 250.000, lalu rigasi ketika penanaman padi, kurang lebih 10 jam yang dibutuhkan, dan per-jamnya adalah Rp. 25.000 sehingga total nya Rp. 250.000, ditambah upah 7 orang penanam padi, per-orangnya Rp.30.000 menjadi Rp.210.000 kemudian Pupuk poska 1 sak (karung) Rp.115.000,Pupuk 2 sak (karung), per-karungnya Rp.70.000 menjadi Rp.140.000 Obatsemprot untuk daya tahan padi adalah Rp.200.000, pengairan 2 kali dalam kurun waktu 3 bulan adalah Rp.600.000, ditambah pupuk Urea sebagai pupuk pertama setelah penanaman padi 1 sak  Rp.98.000, maka ditemukan  total keseluruhan adalah Rp.1.923.000

Berdasarkan daftar keperluan pertanian di Indonesia diatas, dalam tulisan ini penulis menawarkan kadar zakat yang awalnya 5% dirubah menjadi 3% dan yang 10% menjadi 8%. Tulisan ini beranggapan bahwa penentuan zakat yang 5% dan 10% itu karena usaha para petani yang dikeluarkan pada saat itu. Berpedoman pada hadits-hadits yang telah disebutkan, dimana hanya fokus kepada cara perolehan “kadar air” untuk mengairi pertanian dan perolehan kadar air ini dianggap sebagai bentuk usaha pertanian. Berbeda dengan konteks di Indonesia, yang mana usaha pertanian tidak hanya membutuhkan air, masih ada banyak lagi kebutuhan-kebutuhan selain air, maka dari itu pengurangan kadar zakat yang awalnya 10% dan 5% menjadi 8% dan 3% yaitu beranggapan bahwa usaha yang dikeluarkan petani juga bertambah kecuali air seperti pupuk, biaya penyemprotan hama, dan lain sebagainya.

 

Klasifikasi Najis dalam Konteks Fikih di Indonesia

Rab_6_05_2020_11_03_08

Oleh:  Joko Purnomo

Moderator:  Alfinta Mazida

Klasifikasi Najis dalam Konteks Fikih di Indonesia

Najis merupakan turunan dari kata najisa – yanjisu – najsan atau semakna dengan al-qadzarah, yang berarti sesuatu yang kotor. Istilah najis, menurut Dr. Abdul azim Al Badawi Najis merupakan segala sesuatu yang dianggap kotor oleh orang-orang yang masih memiliki tabiat yang baik, lalu menjaga dirinya dari kotoran tersebut, membersihkan pakaianya apabila terkena kotoran itu. Dalam surah Al-an’am : 145 , dapat di simpulkan bahwa segala sesuatu yang haram tidaklah boleh untuk di makan , antara lain Bangkai , darah yang mengalir, daging babi . karena dari hal tersebut mengandung kotoran. Maksud daripada bangkai di atas , mengutip ceramah dari Buya Yahya yang dimaksud bangkai disini adalah ketika di sembelih tidak menyebut dengan asma Allah atau tidak di lakukan penyembelihan secara syar’i . Kaitanya dengan bangkai ada pengecualian dimana walaupun ia telah mati dan matinya karena bukan penyembelihan serta tidak menggunakan Asma Allah, bangkai tersebut masih dapat dikonsumsi dan suci, yaitu bangkai ikan dan belalang .

Melihat dari pendapat ulama 4 Madzhab, mengenai najis

1. Madzhab Hanafi Menurut, Imam al-Kasani : Najis adalah sebutan untuk benda yang dianggap jijik. Dimana najis ada yang berwujud dan hakiki, ada pula yang hukmi. Namun secara umum yang di fahami sebagai najis adalah hal ada wujud bendanya saja. Imam Ibnu abidin, menyebutkan bahwa dari najis yang hakiki dan hukmi tersebut, meniscayakan pemahaman bahwa najis hakiki adalah sesuatu yang kotor atau al-khatabs. Sedangkan najis yang hukmi adalah al-hadats. Keduanya sama-sama “sesuatu yang kotor” namun yang satu berwujud (hakiki), yang satunya sifatnya tidak (hukmi)

2. Madzhab Maliki – Dalam madzhab maliki, sebagaimana yang dicatat oleh K.H Mustafa Yaqub, imam malik dalam kitabnya al-mudawwanah al-Kubra tidak banyak membahas terkait definisi najis.

3. Madzhab Syafi’I dan Madzhab Hambali Mengutip pendapat Imam Zakariya al-Anshari, dalam kitab Asnal Mathalib ;

بِكُلِّ عَيْنٍ حَرُمَ تَنَاوُلُهَا مُطْلَقًا فِي حَالَةِ الِاخْتِيَارِ مَعَ سُهُولَةِ تَمْيِيزِهَا، وَإِمْكَانِ تَنَاوُلِهَا لَا لِحُرْمَتِهَا، وَلَا لِاسْتِقْذَارِهَا، وَلَا لِضَرَرِهَا فِي بَدَنٍ أَوْ عَقْلٍ

“setiap benda yang haram dikonsumsi secara mutlak dalam keadaan ikhtiyar (tidak terdesak dan bebas), mudah dibedakan wujudnya, dapat dipergunakan, tidak dimuliakan, tidak dianggap jijik, serta bukan karena sebab berbahaya bagi tubuh dan pikira”

Mengenai macam2 najis, mengutip dari kitab _safitun najah_ ada dua macam najis, yaitu :

1. Najis hakikiyah atau ‘ainiyyah Merupakan najis yang dapat menghalangi shalat, serta najis ini selamanya tidak bisa menjadi suci Contoh : (air kencing, kotoran hewan)

2. Najis Hukmiyyah atau ma’nawiyyah Merupakan keadaan seseorang yang tidak suci sehingga dapat menghalangi ia untuk shalat, serta perlunya ia untuk berwudhu atau mandi . Contoh : buang angin

Mengenai bagian-bagian najis Hal ini di dasarkan atas klasifikasi tingkat kesulitan dalam menyucikanya, najis di bagi menjadi 3 bagian ;

1. Najis Mukhafafah (ringan) Contoh (air kencing anak yang berusia di bawah umur dua tahun, dan belum minum atau makan, kecuali air susu ibunya (ASI) – Cara pembersihanya, dengan cara memercikkan air ke tempat yang terkena najis.

2. Najis mutawasithah (sedang) Contoh : kotoran ayam yang ada dilantai/teras rumah – cara mensucikan dengan cara menghilangkan dulu najis ‘ainiyah nya (hingga hilang bau, rasa dan warna) kemudian menyiram tempat nya dengan air suci yang mesucikan

3. Najis Mugholadoh (berat) Contoh : najis anjing/babi Cara mensucikan nya dengan cara membasuh dengan air sebanyak tujuh kali dan diantara basuhan nya salah satunya di campuri dengan debu.

Di lain arti najis itu sendiri adalah kotor. Kotor juga memiliki makna yang lebih awam untuk di kenal di kalangan masyarakat .Dalam Bahasa arab, kotor di sebut kodzar  ( قذر ) , dalam al-qur’an surah Al- An’am kotor di istilahkan dengan rijsun  ( رجس ) .Di dalam KBBI kotor bermakna “tidak bersih atau terkena noda”Atau di dalam istilah kotor adalah keadaan yang tidak bersih baik tempat, pakaian, badan ataupun benda. Contoh : Baju yang terkena lumpur, terkena bekas makanan atau sampah yang berserakan . Baik najis ataupun kotor sama-sama harus dibersihkan apabila akan melaksanakan sholat . Karena bersih merupakan sebagian dari pada syarat sah sholat (baik bersih dari najis, hadats, ataupun kotoran)

Jika dilihat dari asal muasalnya kotor, terbagi menjadi dua :

1. Kotor berasal dari benda suci Contoh : baju terkena makanan Artinya adalah kotor tersebut tetap menimbulkan kesucian

2. Kotor berasal dari benda najis Contoh : pakaian yang terkena darah. Artinya kotor tersebut telah ditimbulkan karena terkena najis dan perlu dibersihkan sebagai mana cara membersihkan najis itu sendiri .

Pendapat Syekh Zainuddin Al-Malibari dalam kitab Fathul Mu’in, menjelaskan bahwa :

وَنَقَلَ فِي الْجَوَاهِرِ عَنِ الْأَصْحَابِ لَا يَجُوْزُ أَكْلُ سَمَكٍ مُلِحَ وَلَمْ يُنْزَعْ مَا فِيْ جَوْفِهِ أَيْ مِنَ الْمُسْتَقْذَرَاتِ وَظَاهِرُهُ لَا فَرْقَ بَيْنَ كَبِيْرِهِ وَصَغِيْرِهِ لَكِنْ ذَكَرَ الشَّيْخَانِ جَوَازَ أَكْلِ الصَّغِيْرِ مَعَ مَا فِيْ جَوْفِهِ لِعُسْرِ تَنْقِيَّةِ مَا فِيْهِ

“Al-Qamuli dalam kitab Al-jawahir mengutip dari kalangan syafi’I bahwa tidak diperbolehkan mengonsumsi ikan asin yang tidak dibersihkan kotoran-kotoran di dalamnya. Zhahir dari kutipan Al-Qamuli ini membedakan antara ikan besar dan kecil. Tetapi dua guru besar madzhab syafi’I (al-Nawawi dan Ar-Rafi’I) menyebutkan, diperbolehkan mengonsumsi ikan kecil beserta kotoran di dalam perunya, sebab sulitnya membersihkan kotoran tersebut”

Pendapat Syekh Ahmad bin Umar As-Syathiri dalam Syarah Bughyatul Mustarsyidin juz 1, menjelaskan bahwa :

وَقَدِ اتَّفَقَ ابْنَا حَجَرٍ وَزِيَادٍ وَ م ر وَغَيْرُهُمْ عَلَى طَهَارَةِ مَا فِيْ جَوْفِ السَّمَكِ الصَّغِيْرِ مِنَ الدَّمِ وَالرَّوْثِ وَجَوَازِ أَكْلِهِ مَعَهُ وَأَنَّهُ لَا يَنْجُسُ بِهِ الدُّهْنُ بَلْ جَرَى عَلَيْهِ م ر الْكَبِيْرَ أَيْضاً (قوله في الكبير أيضا) وَاعْتَمَدَ ابْنُ حَجَرٍ وَابْنُ زِيَادٍ عَدَمَ الْعَفْوِ عَمَّا فِيْ جَوْفِهِ مِنَ الرَّوْثِ لِعَدَمِ الْمَشَقَّةِ فِي إِخْرَاجِهِ إِذَا كَانَ كَبِيْراً.

“Ibnu hajar, Ibnu Ziyad dan ar-Ramli sepakat sucinya (dalam arti ma’fu) darah dan kotoran ikan kecil dan diperbolehkan mengonsumsi ikan tersebut beserta darah dan kotoranya serta tidak dapat menajiskan minyak. Bahkan Ar-ramli memberlakukan hukum tersebut untuk ikan besar juga. Sementara ibnu hajar dan ibnu ziyad tidak menghukumi ma’fu kotoran ikan besar, sebab tidak ada masyaqqah (keberatan) dalam membersihkanya”

Kesimpulan nya adalah. Tidak terlepas dari semua pendapat bahwa kehati-hatian dalam mengolah makanan apapun harus lah bersih, baik bersih dari kotoran ataupun dari najis. Dan apabila dalam hal mengola ikan, Ketika karena ukuranya, kotoran ikan masih dapat dibersihkan maka haruslah dibersihkan. Namun apabila karena ukuranya yang kecil dan tidak dimungkinkan untuk membersihkannya, maka diperbolehkanya untuk mengkonsumsi tanpa harus menghilangkan kotoran yang ada di dalamnya .

Kesimpulannya yaitu najis merupakan sesuatu yang wajib dijauhi oleh setiap muslim dan dibersihkan, Ketika najis itu mengenai pakaian, tempat atau badannya. Dapat diartikan najis yaitu sesuatu yang kotor. Dari pernyataan tersebut maka dalam Q.S Al An’am ayat 145 bahwasanya segala sesuatu yang haram tidaklah boleh untuk di makan, antara lain bangkai, darah yang mengalir, daging babi, karena dari hal tersebut mengandung kotoran. Mengenai macam-macam najis.

Mengutip dari Kitab Safitun Najah ada dua macam najis, yaitu:

1. Najis Hakikiyah atau ‘Ainiyyah

2. Najis Hukmiyah atau Ma’nawiyyah.

Mengenai bagian-bagian najis, atas klasifikasi kesulitan dalam menyucikannya terbagi menjadi:

1. Najis Mukhafafah

2. Najis Mutawasithoh

3. Najis Mugholadah

Di lain arti najis itu sendiri adalah kotor, maka kotor merupakan keadaan yang tidak bersih baik tempat, pakaian, badan ataupun benda. Dilihat dari segi asal muasalnya, kotor dibagi menjadi dua:

1. Kotor dari benda suci, seperti pakaian terkena makanan.

2. Kotor dari benda najis, seperti pakaian terkena darah.

Baik najis maupun kotor yang berasal dari benda, hewan, ataupun makanan harus sama-sama dibersihkan, mengingat kebersihan merupakan syarat sah sholat dan agar tidak menghindari kita dalam beribadah.

Lalu kemudian bagaimana hukum ikan yang dikonsumsi apabila kotoran nya tidak dibuang? Kehati-hatian dalam mengolah makanan apapun harus lah bersih, baik bersih dari kotoran ataupun dari najis. Dan apabila dalam hal mengola ikan melihat dari sisi ukurannya, apabila kotoran ikan masih dapat dibersihkan maka haruslah dibersihkan. Namun apabila karena ukuranya yang kecil dan tidak dimungkinkan untuk membersihkannya, maka diperbolehkanya untuk mengkonsumsi tanpa harus menghilangkan kotoran yang ada di dalamnya .

(Sumber  foto: https://umma.id/article/share/id/1002/550435)

Zakat Laut dalam Prespektif Fiqih Nusantara

Sel_28_04_2020_12_14_41

Zakat Laut dalam Perspektif Fiqh Nusantara

Oleh: M. Lutfi Bastomi

Moderator: Alfina Zakiatuz Zahro

Berdasarkan etimologinya, zakat berasal dari kata (bahasa Arab):”zakkaa-yuzakki-tazkiyatan-zakaatan” yang memiliki arti bermacam-macam, yakni thaharah, namaa’(tumbuh/berkembang), barakah, atau amal sholeh. Dan menurut terminologinya, zakat merupakan bagian dari sejumlah harta tertentu di mana harta tersebut telah mencapai syarat nishab (batasan yang wajib di zakatkan), yang diwajibkan Allah SWT untuk dikeluarkan dan diberikan kepada yang berhak menerimanya dengan persyaratan tertentu pula.

Zakat merupakan kewajiban yang sudah disuratkan dalam Al-Qur’an. Dari sekian banyak ayat Al-Quran salah satu yang menerangkan kewajiban untuk zakat adalah Q.S Al Baqarah ayat 43 yang artinya “Dan dirikanlah sholat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku”.

Pada dasarnya, zakat masih dibagi lagi dalam dua jenis yakni zakat fitrah (jiwa) dan zakat mal (harta). Adapun salah satu materi yang akan kita bahas yakni zakat laut, yang mana hasil dari laut merupakan suatu harta maka hasil laut bisa dikategorikan ke dalam jenis zakat mal. Mengenai zakat mal sendiri dapat diartikan segala macam perbendaan yang dapat dimiliki (dikuasai) dan dapat dipergunakan menurut keladzimannya.

Lantas harta/kekayaan yang bagaimanakah bisa dikatakan wajib untuk di zakati. Harta atau kekayaan yang bisa dikenakan wajib untuk dizakati ketika memenuhi beberapa syarat sebagai  berikut: sudah menjadi milik sepenuhnya, harta tersebut dapat berkembang dan bertambah bila dibisniskan, harta yang telah dimilikinya telah mencapai jumlah tertentu sesuai dengan ketentuan syara’(nishab), melebihi dari kebutuhan pokok, orang yang memiliki harta terbebas dari hutang, dan dimiliki atau dikuasai selama setahun (haul).

Namun,  dalam materi ini kita tidak akan membahas tentang zakat mal secara umum melainkan akan membahas mengenai ketentuan zakat dari hasil laut yang mana para ulama’ masih pro kontra dalam memberikan pendapatnya mengenai status hukum dari zakat hasil laut dan ketentuan akan kadar nishab maupun zakat yang harus dikelaurkan pun masih mengalami perdebatan.

Sebagai negara maritime terbesar di dunia Indonesia tak heran jika memiliki kekayaan dan hasil yang melimpah di sector kelautan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik pada tahun 2017 hasil perikanan tangkap dari laut Indonesia sebanyak ±6.604.000 Ton. Ini tentu suatu hasil yang sangat melimpah. Dengan jumlah nelayan yang bekerja sebanyak ±800.000 KK. Hal ini menunjukkan betapa sentralnya perekonomian yang dihasilkan dari laut. Hal inilah pula yang menimbulkan pro kontra mengenai zakat yang harus dikeluarkan dari laut.

Berdasarkan data tersebut mari coba kita hitung bersama apakah hasil ikan laut ini bisa menimbulkan wajib zakat. Diketahui bobot ikan yang dihasilkan 6.604.000.000 kg misalkan harga 1kg ikan laut kita buat rata-rata minimal Rp. 20.000. maka coba kita kalikan berapakah total harta yang dihasilkan dari hasil menangkap ikan ini yaitu 6.604.000.000×20.000=132.080.000.000.000 dan dibagi jumlah KK yang berprofesi menjadi nelayan yakni 132.080.000.000.000:800.000=Rp. 165.100.000. Dari sinii berdasarkan data tersebut maka penghasilan nelayan per KK selama setahun mencapai Rp. 165.100.000. Nah, penghasilan tersebut apakah melebihi nishab. Coba kita hitung dengan nishab emas yakni 85 gram. Misalkan harga emas per gram saat ini Rp. 944.000 maka nishab emas senilai 85×944.000=80.240.000.

Dari perhitungan diatas dapat diketahui bahwa nishab emas Rp. 80.240.000 dan harta yang dihasilkan dari ikan Rp. 165.100.000. Maka sudah jelas telah melebihi batas dari nishab emas dan tentunya wajib untuk dizakatkan sebesar 2,5% yakni sebesar Rp. 4.127.500. Jika benar bahwa zakat laut diwajibkan maka nelayan per kk tersebut seharusnya wajib berzakat atas hasil yang ia dapatkan sebesar Rp. 4.127.500. Lantas bagaimakah pendapat ulama, mengenai ketentuan zakat hasil laut. Berikut pendapat beberapa ulama mengenai zakat hasil laut:

Tabel pendapat ulama’ mengenai status hukum zakat hasil laut:

No

Ulama’

Hukum

Alasan

1.

Abu Ubaid, Abu Hanifah, Hasan bin Sholih

Tidak wajib

Mengingat pada  zaman Rasulullah saw pun ada barang-barang yang dihasilkan dari laut, tetapi tidak satupun hadist yang diketahui membicarakan hal itu dan tidak ada seorang pun dari empat khalifah yang secara tegas memberikan kebijakan tentang itu dan dapat kita yakini dengan benar.

2.

Hasan bin Imara dari Ibni Abbas dari Umar bin Khattab

Wajib

Berdasarkan sabda dari Umar bin Khattab yang mengatakan bahwa ambar dan mutiara laut (hasil laut) wajib dikeluarkan zakatnya.

3.

Hasan Basri, Ibnu Syihab Zuhri Abd Razak, Ibnu Syaibah

Wajib

Meriwayatkan dari Umar bin Abdul Aziz bahwa ia telah memungut zakat dari ambar, dan ditambahkan oleh pendapat dari Abu Yusuf yang menyatakan bahwa  ambar dan apapun bentuk hiasan yang dikeluarkan dari laut wajib dizakatkan.

Berdasarkan tabel pendapat para ulama’ diatas mengenai status hukum dari zakat laut sendiri para ulama’ klasik masih berbeda pendapat akan status hukumnya antara wajib zakat atau tidak. Hal ini wajar memang karena pada zaman Rasul maupun sahabat tidak ditemukan dalil yang secara jelas menerangkan bahwa diwajibkan zakat dari hasil laut ataupun kebijakan-kebijakan dari empat khalifah yang mewajibkan zakat dari hasil laut. Memang pada zaman tersebut hasil laut bukanlah komoditi utama yang memiliki nilai ekonomi yang tinggi layaknya emas dan perak, pertanian, peternakan dan perdangan. Namun, masyarakat pada zaman tersebut hanya mengeksplorasi hasil laut untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari sebatas untuk makan saja. Berbeda halnya dengan kondisi sekarang. Yang mana kita ketahui bersama bahwa hasil laut sekarang memiliki nilai ekonomi yang sangat tinggi. Hal ini karena pengelolaan hasil laut yang sudah sangat baik pada masa sekarang. Dan bahkan sudah dijadikan sebagai sumber mata pencarian atau perekonomian utama bagi masyarakat pantai layaknya petani di dataran rendah. Ditambah lagi Indonesia yang memiliki wilayah laut lebih luas dari pada daratannya. Tentu saja suatu kekayaan yang sangat melimpah bilamana kekayaan laut tersebut dikelola dengan baik oleh nelayan maupun perusahaan.

Mengenai ketentuan zakat hasil laut atau perikanan sebenarnya juga telah diatur di dalam peraturan perundang-undangan di Indonesia yakni dalam pasal 4 ayat 2 huruf e UU No. 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat yang menyebutkan bahwa salah satu dari zakat mal adalah zakat perternakan dan perikanan. Jadi sebenarnya secara hukum mengenai kewajiban atau anjuran untuk berzakat di sector laut atau perikanan telah diatur didalam UU tersebut. Namun, tampaknya yang menjadi persoalan baru adalah bahwa dalam UU tersebut tidak diatur secara jelas mengenai kadar nishab dan kadar zakat yang harus  dikeluarkan padahal anjuran zakat hasil laut tersebut ada. Untuk mengisi kekosongan dalam UU tersebut. Berikut pendapat para ulama, dan penulis buku mengenai kadar nishab dan zakat yang harus dikelurkan dari hasil laut atau perikanan.

Ketentuan Nishab dan Kadar Zakat yang di Keluarkan dari Hasil Laut:

Untuk nishab dari hasil laut ini berdasarkan jenis yang dihasilkan  dari laut itu sendiri. Yang mana hasil laut bisa berupa: perikanan, tanaman, dan tambang. Dari ketiga hasil utama dari laut tersebut mengenai kadar nishab dan kadar zakat yang harus dikeluarkan pun juga berbeda. Berikut beberapa pendapat para tokoh dan ulama’ mengenai nishab dan kadar zakat yang harus dikeluarkan dari hasil laut:M

1. Ali Hasan

Dalam bukunya yang berjudul “Zakat dan Infak: Salah Satu Solusi Mengatasi Problem Sosial di Indonesia” halaman 216 bahwa M. Ali Hasan menjelaskan mengenai besaran nishab dan kadar zakat dari hasil laut sebagaimana dalam tabel berikut:

No

Jenis hasil laut

Nishab

Kadar zakat

1.

Perikanan/hewan laut

Di qiyaskan dengan nishab zakat perdagangan yakni seperti nishab emas.

2,5%

2.

Tumbuhan Laut

Di analogikan dengan nishab zakat pertanian.

10%

3.

Pertambangan Laut

Di analogikan dengan nishab ghanimah dan barang tambang yang dihasilkan dari perut bumi.

20%m

2. Imam Ahmad

Sebagaimana disebutkan dalam kitab al-mughni bahwa Imam Ahmad meriwayatkan mengenai nishab dan kadar zakat yang harus dikeluarkan dari pengolahan hasil laut. Ketika nelayan atau perusahaan mengolah hasil laut dan menangkap ikan yang kemudian hasil tersebut di jual, maka wajib dikeluarkan zakatnya. Yang ketentuannya di analogikan dengan zakat perniagaan yang mana ketika akhir tahun (mencapai haul) dan kekayaannya (modal usaha dan keuntungan bersih setalah di potong biaya-biaya atau hutang) dari hasil perikanan setara atau lebih dari nishab yakni senilai 85 gram emas maka wajib zakat dengan kadar 2,5%.

Jadi, mengenai zakat laut dalam perspektif Fiqh Nusantara dapat di simpulkan
Zakat merupakan bagian dari sejumlah harta tertentu yang telah mencapai syarat Nishab (batasan yang wajib untuk dikeluarkan zakatnya) yang di wajibkan oleh Allah SWT dan diberikan kepada orang yang berhak menerimanya dengan persyaratan tertentu pula.
Zakat masih di bagi lagi menjadi 2 jenis. Yakni zakat fitrah (jiwa) dan zakat mal (Harta). Adapun mengenai zakat yang sudah di jelaskan di atas mengenai zakat laut, yang mana hasil dari laut merupakan suatu harta.maka hasil laut dikategorikan ke dalam zakat mal.
Mengenai ketentuan zakat kelautan ini para ulama’ masih menuai perdebatan.dimana para ulama’ klasik masih berbeda pendapat mengenai status hukum nya.antara wajib dan tidak.hal Tersebut wajar.karena pada masa Rasulullah maupun sahabat tidak ada dalil yang menerangkan secara jelas yang mewajibkan zakat dari hasil laut. Pada zaman itu juga hasil laut bukan lah komoditi utama yg memiliki nilai ekonomi tinggi seperti halnya emas dan perak, pertanian, peternakan dan perdagangan.berbeda halnya dengan kondisi sekarang yang mana hasil laut memiliki nilai ekonomi yang sangat tinggi.pengelolaan hasil yang sudah sangat baik.bahkan sudah menjadi sumber utama mata pencaharian perekonomian utama bagi masyarakat yang hidup di wilayah kelautan tersebut.ditambah lagi wilayah laut di Indonesia yang sangat luas.tentu saja suatu kekayaan yang melimpah apabila dalam pengelolaan nya di lakukan dan dikembangkan dengan baik.
Mengenai zakat kelautan itu sendiri sebenarnya sudah di atur dalam perundang-undangan dalam pasal 4 ayat 2 huruf e UU No.23 Tahun 2011 tentang pengelolaan zakat. disebutkan bahwa salah satu dari zakat mal adalah zakat peternakan dan perikanan.

(Sumber Foto : https://www.google.com/search?q=hasil+laut+budidaya&safe=strict&client=ms-android-xiaomi-rev1&prmd=inmv&sxsrf=ALeKk00YJq3eNskLjxSGQsPw38ZvWZTy2A:1588049883879&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ved=2ahUKEwjk99rpqorpAhWDf30KHTDMAuMQ_AUoAXoECA4QAQ&biw=424&bih=766#imgrc=2ScZtMAvyTnIhM%3A) 

Batasan Aurat dalam Arasy Nusantara

 

 

Sen_20_04_2020_15_28_06Batasan Aurat Dalam Arassy Nusantara

 

Oleh Tutut indah Sri W
Notulen: Nur Fadhilah R

 

Menutup aurat adalah salah satu kewajiban bagi kaum muslim terutama pada kaum hawa. Banyak dari kita yang memiliki berbagai macam alasan dan mencari-cari celah agar dapat menghindar dalam menjalankan kewajiban yang satu ini. Mulai dari belum siap, akhlaq yang belum benar bahkan melakukan nya nanti ketika sudah menikah. Menutup aurat tidaklah harus menunggu siap atau tidak siap, mau atau tidak mau, benar atau tidak benar, menutup aurat itu adalah kewajiban bagi seorang muslim. Jadi, singkirkanlah berbagai macam alasan itu. Menutup aurat juga tidak harus menunggu menikah. Tidak menungu akhlaq baik dulu, Padahal menutup aurat adalah salah satu ibadah yang paling mudah. Seperti contohnya berhijab.
Menutup aurat adalah wajib bagi setiap muslim. Mengapa aurat harus ditutup? Karena supaya tidak mengundang syahwat atau nafsu manusia lain yang melihat aurat kita. Menutup aurat juga dapat menghindari dari perbuatan yang tidak diinginkan dan juga dapat melindungi kita. Namun dikalangan ulama berbeda – beda batasannya. Banyak dijaman sekarang masih bingung dimana letak batasan aurat wanita dan laki-laki. Dibawah ini adalah dalil yang menjelaskan tentang memakai jilbab atau menutup aurat.
يَاأَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ ِلأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلاَبِيبِهِنَّ
Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang Mukmin: Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. (QS al-Ahzab [33]: 59)
Sudah dijelaskan pada dalil diatas dijelaskan bahwa kita disuruh untuk memakai jilbab atau menutup aurat. Wanita itu harus pandai menjaga pandangan dan auratnya. Seperti apa yang dikatakan menutup aurat? Apakah harus memakai pakaian syar’i? Jilbab syar’i ? Tidak, Menutup aurat adalah menutup semua anggota badan kecuali wajah dan telapak tangan. Memakai baju busana muslim dan tidak memakai baju ketat, mengikuti syariat islam itu dapat dikatakan menutup aurat. Karena menutup aurat adalah wajib agar terhindar dari fitnah atau perbuatan yang tidak diinginkan. Karena pada prinsipnya, Islam selalu mengharamkan segala sesuatu yang dapat mengundang fitnah, apalagi itu sudah masuk dalam kategori mendekati sesuatu yang sangat dilarang oleh Islam, yaitu zina.Dengan menutup aurat hidup akan lebih terjaga dan tenang.
Lalu, dimana letak batasan aurat laki-laki dan perempuan. Aurat seorang lelaki yang tidak boleh dilihat lelaki lainnya. Sedangkan aurat seorang wanita yang tidak boleh dilihat wanita lainnya. Pada dua kategori ini batasan auratnya adalah bagian tubuh antara pusar dan lutut. aurat seorang lelaki tidak boleh dilihat seorang wanita. Pada bagian ini dibedakan antara mereka yang termasuk mahram (tidak boleh dinikahi) dengan mereka yang sama sekali orang lain.
Jika ia termasuk mahram, maka auratnya adalah antara pusar dan lutut. Berbeda jika ia bukan termasuk mahram. Ada yang mengatakan auratnya adalah seluruh badannya, kecuali bila yang melihatnya adalah istrinya sendiri. Meski ada pula yang mengatakan bahwa auratnya sama seperti untuk mereka yang termasuk dalam kategori mahram, yaitu antara pusar dan lutut. Aurat seorang wanita yang tidak boleh dilihat seorang pria. Menurut pendapat yang dianggap sahih menyebutkan bahwa auratnya adalah seluruh anggota tubuhnya. Ada pula yang berpendapat bahwa hanya wajah dan kedua telapak tangan yang yang tidak masuk dalam kategori aurat.
Bila merujuk pada Mazhab Syafi’i yang diamalkan masyarakat Indonesia, maka semestinya seluruh tubuh perempuan adalah aurat yang haram dilihat laki-laki bukan mahram kecuali wajah dan kedua telapak tangan.  Wajah wanita bukanlah aurat, namun memakai cadar hukumnya sunah (dianjurkan) dan menjadi wajib jika dikhawatirkan menimbulkan fitnah.
Kenapa keduanya dikecualikan? Pertama, karena nash Surat Al-Ahzab ayat 31 yang kemudian ditafsirkan oleh Ibnu Abbas RA bahwa yang dikecualikan dalam ayat adalah wajah dan kedua telapak tangan. Kedua, berdasarkan larangan Nabi Muhammad SAW terhadap perempuan yang sedang ihram dalam memakai sarung tangan dan niqab penutup wajah, yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Ibnu Umar RA. Andaikan wajah dan telapak tangan perempuan adalah aurat, tentu Nabi Muhammad SAW tidak melarangnya untuk ditutupi.
Ketiga, karena membuka wajah perempuan diperlukan dalam seperti jual beli. Demikian pula kedua telapak tangan dibutuhkan untuk mengambil dan memberikan sesuatu dalam berbagai kegiatan keseharian. (Abu Ishaq Ibrahim bin Ali bin Yusuf As-Syirazi, Al-Muhaddzab fi Fiqhil Imamis Syafi’I, [Beirut, Darul Qalam dan Darus Syamiyyah: 1412 H/1992 M], cetakan pertama, juz I, halaman 219-220).Jadi menurut madzab Syafi’i bahwa aurat perempuan adalah semua bagian tubuh kecuali wajah dan kedua telapak tangan.
Menurut Madzab Hanafi aurat wanita adalah aurat yang harus ditutup rapat, kecuali wajah dan kedua telapak tangan, karena perempuan perlu membukanya dalam muamalah sosial kesehariannya. Berpijak prinsip asal ini maka telapak kaki pun tidak boleh ditampakkan dan dilihat oleh laki-laki non mahram. Dalam hal ini pakar fikih Hanafi Muhammad bin Husain bin Ali at-Thuri al-Qadiri (wafat setelah 1138 H/1726 M) menjelaskan:
وَالْأَصْلُ فِي هَذَا أَنَّ الْمَرْأَةَ عَوْرَةٌ مَسْتُورَةٌ لِقَوْلِهِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: الْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ مَسْتُورَةٌ. إلَّا مَا اسْتَثْنَاهُ الشَّرْعُ وَهُمَا عُضْوَانِ. وَلِأَنَّ الْمَرْأَةَ لَا بُدَّ لَهَا مِنَ الْخُرُوجِ لِلْمُعَامَلَةِ مَعَ الْأَجَانِبِ، فَلَا بُدَّ لَهَا مِنْ إِبْدَاءِ الْوَجْهِ لِتُعْرَفَ فَتُطَالَبَ بِالثَّمَنِ وَيُرَدَّ عَلَيْهَا بِالْعَيْب. وَلَا بُدَّ مِنْ إِبْدَاءِ الْكَفِّ لِلْأَخْذِ وَالْعَطَاءِ. وَهَذَا يُفِيدُ أَنَّ الْقَدَمَ لَا يَجُوزُ النَّظَرُ إلَيْهِ.
“Hukum asal dalam hal melihat wanita adalah bahwa wanita itu sendiri adalah aurat yang harus ditutup, berdasarkan sabda Nabi SAW: ‘Wanita adalah aurat yang tertutup’. Hal ini mengecualikan apa yang dikecualikan oleh syariat, yaitu dua bagian tubuh wanita. Sebab wanita harus keluar untuk muamalah kesehariannya dan bertemu dengan laki-laki ajnabi atau yang bukan mahramnya, maka ia harus menampakkan wajahnya agar dikenali sehingga dalam jual beli ia dapat dimintai uang pembayaran dan didikembalikannya barang dagangan kepadanya ketika ada kerusakan.
Demikian pula ia harus membuka telapak tangannya untuk mengambil dan memberikan barang kepada orang lain. Ketentuan ini berkonsekuensi pada hukum lainnya yaitu bahwa telapak kaki wanita tidak boleh dilihat oleh laki-laki yang bukan mahramnya. (Muhammad bin Husain bin Ali at-Thuri al-Qadiri, Takmilah al-Bahr ar-Raiq Syarh Kanz ad-Daqaiq, [Beirut, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah: 1418 H/1998 M], cetakan pertama, tahqiq: Zakariyya ‘Umairat, juz VIII, halaman 351-352). Qaul al-Ashah Mazhab Hanafi: Telapak Kaki Wanita Bukan Aurat
Namun demikian, dalam salah satu riwayat yang kemudian menjadi qaul al-ashah dalam mazhab Abu Hanifah menyatakan bahwa kedua telapak kaki wanita boleh dilihat oleh laki-laki non mahram. Kenapa demikian? Sebab terkadang wanita perlu membuka telapak kakinya ketika berjalan telanjang kaki atau hanya memakai sandal. Sebab, tidak setiap waktu perempuan dapat menemukan khuff (semacam sepatu) yang dapat menutup kedua telapak kakinya secara rapat.
Menurut Mazhab Maliki, membagi aurat lelaki dan wanita ketika shalat dan diluar shalat kepada dua bagian. Pertama, aurat berat (mughallazah) dan aurat ringan (mukhaffafah). Aurat berat pada lelaki adalah kemaluan dan dubur, sedangkan aurat ringan selain dari kemaluan dan dubur adalah Fahd (paha) menurut mazhab ini bukanlah aurat, mereka berdalil dengan hadist nabi yang diriwayatkan oleh Aisyah RA.: “Pada perang Khaibar tersingkaplah pakaian Nabi dan nampaklah pahanya”. (HR. Bukhori dan Ahmad). Aurat berat wanita seluruh badan kecuali ujung-ujung badan dan dada. Yang dimaksud ujung badan adalah anggota ujung badan seperti tangan, kepala dan kaki. Semua ujung badan itu tidak dianggap aurat berat ketika sembayang. Mazhab Maliki membataskan apa yang dianggap aurat ringan pada wanita termasuk dada, lengan, leher, kepala dan kaki. Sedangkan muka dan dua telapak tangan tidak dianggap aurat langsung pada mazhab ini, pendapat mazhab ini banyak diikuti negara-negara Arab di Afrika Utara dan negara-negara Afrika.
Disebutkan dalam kitab Almudhawanatul Kubro Imam Malik berkata: “jika wanita melakukan shalat sedangkan rambutnya tampak atau dadanya tampak, atau punggung kakinya tampak maka hendaklah ia mengulang selama masih dalam waktunya”. Jadi, menurut imam malik batasan aurat wanita adalah semua anggota badan kecuali wajah dan dua telapak tangan.
Menurut Mazhab Hambali, aurat pada laki-laki terletak di antara pusat dan lutut dalil mazhab ini sama dengan yang digunakan oleh mazhab hanafi dan mazhab syafi’i. Berdasar firman Allah SWT.

 

“……..dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya……..” (QS. An-Nuur :31)

 

Wanita tidak boleh membuka selain muka dan kedua telapak tangan sewaktu shalat. Dalil yang digunakan sama dengan yang dipakai dalam mazhab Syafi’iyah. Dalil yang mewajibkan menutup kedua telapak kaki adalah hadist riwayat Ummu Salamah yang artinya, “Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah perempuan memakai baju dan tudung tanpa sarung?’ Nabi menjawab, ” Ya, jika memang bajunya panjang, maka tutuplah bagian punggung tapak kakinya”.
Hadist ini menunjukkan wajibnya menutup kedua belah tapak kaki, karena ia termasuk bagian tubuh yang tidak boleh dibuka semasa ihram. Baik haji atau umrah. Maka ia tidak boleh dibuka ketika shalat. Wanita sudah cukup menggunakan pakaian yang dapat menutupi bagian yang wajib saja. Berdasar hadist Ummu Salamah tadi. Tetapi ketika shalat, mereka disunnahkan memakai baju yang lebar dan panjang yang dapat menutup kedua telapak kakinya dan juga tudung kepala dan leher, serta menggunakan selendang yang diselimutkan ke atas baju yang dipakai.
Ibnu Qudamah menyatakan bahwa; ” Mayoritas ulama sepakat bahwa seorang wanita boleh membuka wajah dan mereka juga sepakat’ seorang wanita mesti mengenakan kerudung yang menutupi kepalanya. Jika seorang wanita shalat, sedangkan kepalanya terbuka, maka ia wajib mengulangi shalatnya. Imam Malik, Auza’iy dan Syafi’iy berpendirian; seluruh tubuh wanita adalah aurat kecuali muka dan kedua telapak tangan. Selain keduanya (muka dan telapak tangan) wajib untuk ditutup ketika hendak mengerjakan shalat”. Perbedaan ini disebabkan perbedaan penafsiran ayat Al-Quran surat An-Nuur.

 

“……..dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka,…….. atau para perempuan mereka” (QS. An-Nuur :31)

 

Dari 4 imam madzab diatas mengapa semua pendapatnya berbeda? Karena pandangan mereka dalam membaca sebuah ayat sudah berbeda, seperti imam hanafi metode cara membaca ayatnya menggunakan ra’yu ( logika ) dam istihsan sehingga lebih mudah, Imam Maliki dengan maslahah mursalah, Imam Hambali dengan teks hadis murni dan fatwa sahabat sehingga lebih kaku, sedangkan Imam Syafi’i dengan qiyas. Selain itu juga dipengaruhi tempat/ lokal yang berbeda-beda, sehingga nilai lokalitas turut menjadi pembeda atas produk hukum termasuk batasan aurat. Sosio kultur yang berbeda akan mengakibatkan hukum yang berbeda. Dan perbedaan tempat tinggal mereka juga berbeda sehingga mereka berpendapat sesuai kondisi situasi yang mereka tempati.
Jika dilihat dari 4 madzab di indonesia termasuk mengikuti madzab imam syafi’i. Kenapa? Karena sebagian wanita yang menutup auratnya dengan menggunakan cadar/ niqob. Tetapi juga masih banyak dikalangan remaja yang masih belum paham tentang bagaimana menggunakan jilbab yang benar. Menggunakan jilbab yang benar adalah mengulurkan jilbabnya sampai menutup dada. Masih banyak wanita yang sudah memakai pakaian tertutup. Tetapi mereka belum memahami bagaimana menutup aurat yang baik menurut pandangan islam. Ada yang dibilang sudah menutup aurat yaitu memakai celana jeans panjang, memakai baju namum dibawah siku siku sedikit. Padahal dapat dikatakan menutup aurat jika kita memakai baju panjang yang tidak ketat/ syar’i atau memakai baju sesuai syariat, dan menutup semua anggota badan kecuali telapak tangan dan wajah. Mungkin sebenarnya kita sudah tau, tapi kita enggan menggunakannya. Apalagi dengan bertambahnya zaman yang maju ini banyak sekali model – model baju yang bagus namun lengannya sepertiga. Dizaman yang sudah maju ini banyak remaja yang lebih senang mengikuti tren daripada mengikuti pandangan islam. Menurut saya mengikuti tren itu wajar, namun kita juga harus tau. Bagaimana menutup aurat yang benar. Kita boleh saja mengikuti tren namun juga harus tetap menutup aurat sesuai syariat islam.

 

Jadi, mengenai Batasan Aurat dalam Arasy Nusantara yaitu mengenai menutup aurat sudah dijelaskan bahwa aurat wanita itu seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan. Berarti baik kita shalat ataupun dalam beraktivitas sebagai seorang muslimah kita wajib menutup aurat. Karena apa Allah itu tidak hanya melihat kita pada waktu kita shalat, tapi Allah melihat kita dimanapun dan kapan pun kita berada.

 

Mengenai pakaian wanita itu dibedakan menjadi 2 yaitu mihnah (pakaian wanita di dalam rumah) seperti daster dll yang menampakkan letak perhiasan muslimah seperti leher dll, tapi jika ada yang bukan mahram harus tetap menjaga aurat. dimana pakaian muslimah itu longgar (tidak ketat), dan juga tidak menerawang.
dan Penting sekali untuk diingat, fiqih itu tidak tunggal. Satu rumusan hukum bisa relevan diterapkan pada suatu kondisi, belum tentu relevan pada kondisi lain, dan sebagai pengkaji fiqih kita tidak seharusnya terburu-buru menghukumi sesuatu tanpa melihat permasalahannya secara utuh.
Tapi juga ttp memperhatikan bagaimana fikih berkembang sesuai dengan keadaan waktu dan tempat…
dan Ikhtiyat lebih baik untuk tetap menjaga kesopanan baik kepada manusia dan Tuhan.
akan tetapi juga tetap memperhatikan bagaimana fikih berkembang sesuai dengan keadaan waktu dan tempat.

(Sumber Foto: https://www.google.com/search?tbs=sbi:AMhZZisMfeBC26xswvp9se56MjNYkfUkVsiaUtJ9yO2eF2VCMfdjUwrVQL0OACz-qtPRqNX2ZwM-wr6BiVYUVqnTzs-WqnC1UUbwOQFKrSnzbNKD8ZbU9w5UJmgmTicZFSsIgaKIteaTTwQPKMoqA-5fqqh6OboDVLll3X_1WwG-Z4RIzHnFxj95tGOe-zyr9y4DYrbCrzJTSSiK3VdjpoVbPRcWvSPp1YgvLzM9Qn6tJiHKv5YNqEA0lS-QsJtNHoLroufCe7PiMfI-N_1A9_1kyMyBy4JEB_17gbIJUFz2YN-gLeTezWfuccaz6_1Fn8LCEyRFXFPYH90u7BqVjv8h3jJqY1pTg4lHP3w)

 

Topeng Tetek Molek Antara Kepercayaan dan Mistik Sebagai Bentuk Tangkal Pandemik Covid 19 Dalam Perpektif Fikih Nusantara

 

Min_12_04_2020_21_47_53

Minggu,  12 April 2020

Pemateri    : Dr. Ahmad Mushonif M.H.I

Moderator : Nur Fizanah

*Tradisi Thethek Molek*
Warga di Dusun/Desa Wajak Kidul, Kecamatan Boyolangu, Tulungagung membangkitkan kembali tradisi thethek molek. Tradisi thethek molek dianggap sebagai sarana pengusir pagebluk (serangan penyakit secara meluas) yang diyakini sejak nenek moyang. Menurut  Yasmini (65), sesepuh desa tersebut  “Dulu kan sering ada penyakit yang meluas di masyarakat. Kami menyebutnya pagebluk. Thethek molek adalah cara nenek moyang untuk menolak pagebluk,”.
Thethek molek adalah topeng. Untuk tolak pagebluk ini, thethek molek dibuat dari pangkal pelepah kelapa yang biasa disebut bongkok atau cumplung (kelapa muda yang jatuh). Bongkok dan cumplung yang dipilih adalah yang sudah jatuh, tidak boleh diambil dari pohonnya. “Bongkok dan cumplung dipilih karena mudah diberi gambar. Karena memamng bentuknya kan sudah mirip dengan wajah,dan  tinggal diberi warna. Untuk melukis thethek molek, bahan yang dipakai adalah kapur bangunan dan jelaga dari tungku atau pantatnya belanga. Semua boleh membuat lukisan thethek molek. Namun syaratnya harus wudu dan tidak boleh batal selama melukis. Selain itu selama melukis harus sambil membacakan ayat kursi. Tidak ada bentuk baku lukisan thethek molek, asal membentuk wajah lengkap dengan mata, hidung dan mulut. Topeng thethek molek ini kemudian dipasang di depan rumah, disandarkan pada dinding. Dengan thethek molek ini, Yasmini berharap Allah cepat menarik virus corona. Yasmini menyatakan, “Corona adalah pagebluk yang terjadi di seluruh dunia. Semoga Allah segera menariknya,” terang Yasmini. Kakak kandung Yasmini, Srini (70) mengatakan warga di kampungnya masih memegang tradisi nenek moyang, seperti tradisi thethek molek. Thethek molek merupakan cara untuk mengusir pagebluk yang kerap terjadi di masa silam.

*Hadith hadith tentang memakai jimat*

Ada beberapa hadith terkait dengan penggunaan jimat sebagai sarana penangkal bahaya.

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَبْصَرَ عَلَى عَضُدِ رَجُلٍ حَلْقَةً أُرَاهُ قَالَ مِنْ صُفْرٍ فَقَالَ وَيْحَكَ مَا هَذِهِ قَالَ مِنَ الْوَاهِنَةِ قَالَ أَمَا إِنَّهَا لاَ تَزِيدُكَ إِلاَّ وَهْنًا انْبِذْهَا عَنْكَ فَإِنَّكَ لَوْ مِتَّ وَهِيَ عَلَيْكَ مَا أَفْلَحْتَ أَبَدًا
“Bahwasannya Nabi SAW melihat di tangan seorang laki-laki terdapat gelang dari tembaga, maka beliau berkata, “Celaka engkau, apa ini?” Orang itu berkata, “Untuk menangkal penyakit yang dapat menimpa tangan.” Beliau bersabda, “Ketahuilah, benda itu tidak menambah apapun kepadamu kecuali kelemahan, keluarkanlah benda itu darimu, karena sesungguhnya jika engkau mati dan benda itu masih bersamamu maka kamu tidak akan beruntung selama-lamanya”.”(HR. Ahmad)
Sahabat Abu Basyir Al-Anshari Radhiyallahu ‘Anhu berkata,

أَنَّهُ كَانَ مَعَ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم فِي بَعْضِ أَسْفَارِهِ قَالَ عَبْدُ اللهِ حَسِبْتُ أَنَّهُ قَالَ وَالنَّاسُ فِي مَبِيتِهِمْ فَأَرْسَلَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم رَسُولاً أَنْ لاَ يَبْقَيَنَّ فِي رَقَبَةِ بَعِيرٍ قِلاَدَةٌ مِنْ وَتَرٍ أَوْ قِلاَدَةٌ إِلاَّ قُطِعَتْ
“Bahwasannya beliau pernah bersama Rasulullah SAW pada salah satu perjalanan beliau –berkata Abdullah (rawi): Aku mengira beliau mengatakan-, ketika itu manusia berada pada tempat bermalam mereka, maka Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam mengutus seseorang untuk menyampaikan, “Janganlah tertinggal di leher hewan tunggangan sebuah kalung dari busur panah atau kalung apa saja kecuali diputuskan”.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani menyebutkan diantara penjelasan ulama terhadap hadits di atas, “Bahwasannya di zaman Jahiliyah dahulu mereka memakaikan kalung-kalung busur panah keras terhadap onta mereka agar tidak terkena penyakit ‘ain menurut sangkaan mereka. Maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memerintahkan mereka untuk memutuskan kalung-kalung tersebut sebagai pengajaran kepada mereka bahwa jimat-jimat itu tidak sedikitpun dapat menolak ketentuan Allah ta’ala. Ini adalah pendapat Al-Imam Malik rahimahullah tentang makna hadits ini. ”
Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu berkata, aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,
إِنَّ الرُّقَى وَالتَّمَائِمَ وَالتِّوَلَةَ شِرْكٌ

“Sesungguhnya mantra-mantra, jimat-jimat dan pelet itu syirik.” (HR. Ahmad, no. 3615, Abu Daud no. 1776, 3883 dan Ibnu Majah, no. 3530. Asy-Syaikh Syu’aib Al-Arnauth berkata, “Shahih lighairihi,” dan dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Ibni Majah, no. 2854)
Sahabat yang mulia Abu Ma’bad Abdullah bin ‘Ukaim Al-Juhani Radhiyallahu ‘Anhu berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,
مَنْ تَعَلَّقَ شَيْئًا وُكِلَ إِلَيْهِ
“Barangsiapa yang bergantung kepada sesuatu (makhluk seperti jimat dan yang lainnya) maka dia akan dibiarkan bersandar kepada makhluk tersebut (tidak ditolong oleh Allah ta’ala).”

*Tradisi thethek molek dalam tinjauan syariah*
Sebagaimana pada kasus hukum pembuatan patung, maka penggunaan azimat sebagai penangkal bahaya sebagaimana dijelaskan dalam hadith perlu dilihat konteksnya dalam tradisi Arab. Para sahabat nabi hidup pada masa yang dengan dengan jaman jahiliyah. Sedikit banyak mereka masih dipengaruhi oleh tradisi pada masa itu. Nabi mengajarkan untuk meminta perlindungan kepada Allah dan tidak pasrah kepada selain Allah. Adapun penggunaan jimat pada masa itu masih dipengaruhi oleh kepercayaan syirik. Bagaimana hukum menggunakan alat sebagai sarana datangnya pertolongan dari Allah. Dalam sebuah hadith disebutkan. Nabi SAW menggunakan air liur beliau untuk mengobati penyakit. Beliau mencampur air liur beliau dengan sedikit tanah dan diiringi doa,

بِسْم اللهِ تُرْبَةُ أَرْضِنَا بِرِيقَةِ بَعْضِنَا يُشْفَى سَقِيمُنَا بِإِذْنِ رَبِّنَا
“Dengan nama Allah , tanah dari bumi kita, dengan air liur sebagian dari kita, (dengan sebab itu) akan disembuhkan penyakit kita dengan izin Rabb kita.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Disini Nabi berdoa dengan menyebut nama Allah dan dengan menggunakan air liur beliau menggunakan tanah untuk penyembuhan. Dan tentu dengan berharap ijin dari Allah.

Al-Imam al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya dari ‘Utsman bin Abdillah bin Mauhab berkata,

أَرْسَلَنِي أَهْلِي إِلَى أُمِّ سَلَمَةَ زَوْجِ النَّبِيِ بِقَدَحٍ مِنْ مَاءٍ وَقَبَضَ إِسْرَائِيلُ ثَلَاثَ أَصَابِع وَكَانَ مِنْ قُصَّةٍ فِيهِ شَعْرٌ مِنْ شَعْرِ النَّبِيِ إِذَا أَصَابَ الْإِنْسَانَ عَيْنٌ أَوْ شَيْءٌ بَعَث إِلَيْهَا مِخْضَبَهُ فَاطَّلَعْتُ فِي الْجُلْجُلِ فَرَأَيْت شَعَرَاتٍ حُمْرًا
“Keluargaku mengutusku membawa sewadah air untuk Ummu Salamah, istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” —Israil (perawi hadits) menggenggam tiga jarinya (mengisyaratkan) ukuran wadah yang berisi beberapa helai rambut dari rambut-rambut Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.—Utsman melanjutkan, “Jika seseorang sakit karena ‘ain atau penyakit lainnya, dia akan mengirimkan suatu wadah berisi air ke Ummu Salamah. Aku melihat ke wadah dan aku melihat beberapa helai rambut kemerahan.”
Al-Hafizh Ibnu Hajar mengatakan, “Mereka biasa menyebut botol perak tempat menyimpan rambut Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu sebagai juljul. Botol itu disimpan di rumah Ummu Salamah ra.”
Seperti yang dijelaskan di atas tradisi Thethek Molek dilakukan dengan menggambar pelepah kelapa yang sudah tua, kemudian digambar. Proses penggambaran ini dilakukan dalam keadaan berwudu dan sambil membaca ayat kursi. Tujuannya adalah meminta tolong kepada allah.
Bagaimanapun pandangan dunia (world view) orang jawa berbeda dengan orang Arab. Orang jawa menggunakan symbol-simbol tertentu untuk mengekspresikan pikiran mereka kepada yang maha kuasa atau yang gaib. Dilihat dari sarananya. Gambar itu dibuat tidak untuk disembah dan tidak menyerupai makhluk hidup. Tujuannyapun bukan untuk penyembahan tetapi sebagai sarana simbolik meminta tolong kepada Allah.

Kesimpulannya ialah:
1. Hukum memakai jimat yang ada Asma Allah adalah Mubah (Boleh) dengan niat taqorrrub kepada Allah untuk menolak bala, dan jika diniatkan untuk memohon bantuan kepada selain Allah maka dihukumi haram. Catatannya asalkan tidak ada unsur penyembahan(taabbudi) terhadap benda tersebut maka diperbolehkan.
2. Gambar pada thethek molek tidak haram karena tidak berbentuk makhluk sempurna.
Sesuai dengan kesepakatan ulama berikut:

فعلم أن المجمع على تحريمه من تصوير الأكوان ما اجتمع فيه خمسة قيود عند أولي العرفان أولها ؛ كون الصورة للإنسان أو للحيوان ثانيها ؛ كونها كاملة لم يعمل فيها ما يمنع الحياة من النقصان كقطع رأس أو نصف أو بطن أو صدر أو خرق بطن أو تفريق أجزاء لجسمان ثالثها ؛ كونها في محل يعظم لا في محل يسام بالوطء والامتهان رابعها ؛ وجود ظل لها في العيان خامسها ؛ أن لا تكون لصغار البنان من النسوان   فإن انتفى قيد من هذه الخمسة . . كانت مما فيه اختلاف العلماء الأعيان . فتركها حينئذ أورع وأحوط للأديان
“Maka dapat dipahami bahwa gambar yang disepakati keharamannya adalah gambar yang terkumpul di dalamnya lima hal. Pertama, gambar berupa manusia atau hewan. Kedua, gambar dalam bentuk yang sempurna, tidak terdapat sesuatu yang mencegah hidupnya gambar tersebut, seperti kepala yang terbelah, separuh badan, perut, dada, terbelahnya perut, terpisahnya bagian tubuh. Ketiga, gambar berada di tempat yang dimuliakan, bukan berada di tempat yang biasa diinjak dan direndahkan. Keempat, terdapat bayangan dari gambar tersebut dalam pandangan mata. Kelima, gambar bukan untuk anak-anak kecil dari golongan wanita. Jika salah satu dari lima hal di atas tidak terpenuhi, maka gambar demikian merupakan gambar yang masih diperdebatkan di antara ulama. Meninggalkan (menyimpan gambar demikian) merupakan perbuatan yang lebih wira’i dan merupakan langkah hati-hati dalam beragama” (Sayyid Alawi al-Maliki al-Hasani, Majmu’ fatawa wa ar-Rasa’il, hal. 213)
3. Menggunakan benda sebagai ‘simbol’ permohonan boleh saja. Nabi pernah menaruh pelepah kurma yang menjadi simbol keberlanjutan doa selama belum kering.
4. Tetek molek dijadikan motivasi  masyarakat untuk bersama-sama menghilangkan pagebluk.
5. Dilihat dari kaedahnya melalui Washilah (alat/instrumen) yang memiliki urgensi sebagaimana tujuannya, semisalnya berdoa dengan menggunakan media berupa benda seperti jimat/rajah/patung tetek molek yang disuwuk misalnya, maka kedudukan washilah tersebut sama pentingnya dengan do’a

Legalisasi Ganja Perspektif Fikih Indonesia

WhatsApp Image 2020-03-17 at 06.30.38

 (Diskusi Isu-Isu Aktual Peneliti Center of Fikih Nusantara (C-Finus)

Selasa, 10  Maret 2020

Pemateri:  Qowwi Fuadi Rohman

Moderator:  Siti Amina

Tanaman Ganja       

Ganja atau Mariyuana berasal dari tanaman bernama Cannabis sativa. Tanaman satu ini memiliki 100 bahan kimia berbeda yang disebut dengan cannaboid. Masing-masing bahannya memiliki efek berbeda pada tubuh. Beberapa bahan kimia utama yang kerap digunakan dalam pengobatan adalah Delta-9-tetrahydrocannabinol (THC) dan cannabidol (CBD), perlu diketahui, THC merupakan senyawa yang memiliki efek mabuk atau high. Senyawa cannabinoid sebenarnya diproduksi juga oleh tubuh secara alami untuk membantu mengatur konsentrasi, gerak tubuh, rasa sakit, hingga sensasi pada indra. Namun, pada ganja sebagian senyawa ini sangatlah kuat dan bisa menyebabkan berbagai efek kesehatan serius jika disalahgunakan.

Mariyuana bisa menjadi obat bila diolah secara medis. Dustin Sulak, profesor bedah, meneliti dan membuat mariyuana untuk digunakan secara medis. Sulak merekomendasikan beberapa jenis mariyuana kepada para pasien dan mendapat hasil yang mengejutkan. Saat diberikan mariyuana, pasien yang memiliki sakit kronis mengalami perbaikan kondisi daripada sebelumnya. Kemudian pasien dengan multiple sclerosis juga mengalami lebih sedikit kejang otot daripada sebelumnya. Penelitian Sulak ini cukup kuat dan menambahkan sejarah panjang manfaat ganja yang dapat digunakan sebagai obat terpeutik. Namun masalahnya, karena tergolong barang ilegal, ganja ini sulit untuk dilakukan penelitian lebih lanjut tentang efektivitas ganja dalam dunia medis.

Khasiat ganja juga ditulis dalam kitab Tajul Muluk, kitab tersebut adalah sebuah naskah kuno yang berasal dari Arab, dibawa masuk ke Aceh oleh saudagar dan pedagang dari Persia serta Negeri Rum (Turki) sekitar abad ke-16. Naskah asli dari manuskrip kuno tersebut awalnya adalah tulisan tangan dengan menggunakan huruf dan bahasa Arab, kitab ini merupakan karangan ulama Aceh, yakni Syekh Isma’il bin Abdul Muthalib Al-Asyi yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Kitab Tajul Muluk ini secara umum  membahas masalah pengobatan. Pengobatan di dalam kitab Tajul Muluk dibahas sendiri dan terpisah pada sebuah bab, yaitu pengobatan tradisional  yang salah satu bahannya memanfaatkan tanaman ganja.

Kasu Hukum tentang Ganja di Indonesia

Di Indonesia, pernah ada kasus seorang suami yang bernama Fidelis Arie menanam ganja demi menyembuhkan penyakit langka yang di derita istrinya yaitu munculnya kista di sumsum ditulang belakang tetapi di saat istrinya berangsur pulih Fidelis ditangkap aparat BNN kab. Sanggau KALBAR pada pertengahan Februari 2017. Fidelis pun tak bisa lagi memberikan ekstrak ganja itu untuk mengobati istrinya. Tanggal 25 Maret 2017, usai 32 hari Fidelis dipenjara  istrinya pun tak kuat melawan penyakit tersebut dan meninggal dunia di RSUD setempat.

Ganja sendiri di Indonesia merupakan salah satu jenis narkotika golongan 1 sebagaimana telah disebutkan dalam UU narkotika yang mengatur bagaimana pidana orang yang mengkonsumsi, memiliki, dan menyalahgunakan narkotika. Dalam kasus Fidelis ini, ia dianggap telah menyalahgunakan ganja.

Hukum Ganja Perspektif  Fiqh

Berdasarkan pemaparan tentang ganja atau mariyuana yang ternyata memiliki khasiat untuk menyembuhkan suatu penyakit, mengindikasikan bahwa ganja bisa menjadi obat dalam kadar tertentu sepanjang itu tidak membahayakan tubuh. Meskipun begitu,efek melemahkan dan adiktif ganja yang dikonsumsi tidak sesuai kadar kebutuhan pengobatan jauh lebih membahayakan tubuh daripada manfaatnya. Dengan demikian, dalam forum kajian ini menyepakati beberapa klasifikasi terkait dengan hukum ganja.

Pertama, äl-ashlu fii ganja at-tahrim, illa maa dalla ad dalil ála tahlilihi”.  Asal hukum mengkonsumsi ganja adalah haram, disebabkan oleh kandungan ganja yang membahayakan tubuh dan berfungsi melemahkan. Namun, ada suatu penemuan yang menyebut bahwa ternyata ganja bisa dijadikan sebagai obat kanker dan juga bisa berfungsi sebagai bahan untuk anestesi. Berdasarkan fakta sementara yang ditemukan dari ganja ini, maka ada alasan kebolehan mengkonsumsi ganja dalam kadar tertentu yang diizinkan secara medis untuk keperluan pengobatan bukan konsumsi sehari-hari. Dalil untuk”pengahalalan”ganja adalah adanya keperluan pengobatan. Sepanjang belum ditemukan obat lain selain ganja, maka mengkonsumsi ganja untuk pengobatan sesuai kadar tertentu menjadi tidak apa-apa.

Kedua, “al-ashlu fii ganja at-tahlil”. Konsekuensi dari penggunaan kaidah ini untuk menilai hukum ganja secara fiqih adalah kebolehan mengkonsumsinya seperti mengkonsumi tanaman-tanaman sayur lainnya seperti bayam dan sebagainya. Namun, ganja tidak bisa memberikan kemanfaatan kepada tubuh manusia jika dikonsumsi tanpa saran dari medis. Efek yang ditimbulkan dari ganja yang dikonsumsi secara berlebihan justru dapat merusak tubuh. Karena itu, penggunaan kaidah ini untuk menghukumi ganja dengan segala manfaat dan madzaratnya tidaklah relevan.

Diskusi ini diakhiri dengan kesimpulan bahwa ganja tetaplah haram. Namun, untuk kepentingan pengobatan ganja diperbolehkan mengkonsumsinya dengan kadar tertentu sesuai petunjuk medis. Adapun wacana legalisasi ganja oleh Pemerintah Daerah Aceh, untuk saat ini dirasa tidaklah cocok. Mengingat bahaya yang ditimbulkan dengan adanya legalisasi ganja lebih berbahaya daripada manfaatnya. Dengan dilegalkannya ganja, dikhawatirkan pengedaran narkotika akan semakin meluas. Padahal dampak dari narkotika sangat merusak bangsa dan generasinya. Wallahu álam bis showab.

 

 

 

 

Dilema bitcoin: antara judi, fiktif, dan haram dalam perspektif fikih muamalah indonesia

cfinus

DILEMA BITCOIN: ANTARA JUDI, FIKTIF DAN HARAM DALAM PERSPEKTIF FIQIH MUAMALAH INDONESIA

(Diskusi Isu-Isu Aktual Peneliti Center of Fikih Nusantara (C-Finus)

Selasa, 25 Februari 2020

Pemateri:  Ibnu sholikin

Moderator:  Nur Fizanah

Bitcoin muncul  pada bulan Januari 2009,  Satoshi Nakamoto meluncurkan kode open source yang merupakan perangkat lunak Bitcoin.  Mata uang ini seperti layaknya Dolar, Pound Sterling, Rupiah, ataupun mata uang lainnya, akan tetapi hanya ada di dunia digital. Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat periode 2015-2020, KH Cholil Nafis.sebagian ulama mengatakan bahwa Bitcoin sama dengan uang karena menjadi alat tukar yang diterima oleh masyarakat umum, standar nilai dan alat saving. Namun ulama lain menolaknya sebagai pengakuan masyarakat umum karena masih banyak negara yang menolaknya.”

Apa yang diungkapkan KH Cholil memang ada benarnya. Tidak hanya  di Indonesia, di luar negeri pun kehadiran Bitcoin masih memicu perdebatan. Mulai dari politikus, kalangan perbankan, pengusaha hingga petinggi perusahaan teknologi ternama dunia, ramai-ramai mengomentari Bitcoin.  Transaksi jual beli mata uang adalah boleh dengan ketentuan: tidak untuk spekulasi, ada kebutuhan, apabila transaksi dilakukan pada mata uang sejenis, nilainya harus sama dan tunai (attaqabudh). Jika berlainan jenis, harus dengan kurs yang berlaku saat transaksi dan tunai.

Pemerintah Indonesia tidak melarang atau menerbitkan seperangkat aturan hukum untuk  melegalkan Bitcoin sebagai komoditi berjangka. Sehingga praktik yang terjadi di masyarakat menganggapnya  legal untuk membeli dan menjual Bitcoin di Indonesia sebagai aset, seperti halnya pembelian emas dan perak. Pertanyaan dalam diskusi kali ini adalah samakah antara bitcoin dengan saham? Dari permasalahan Bitcoin apa ada manfaat yang bisa diambil dari Bitcoin itu sendiri?

Perbedaan antara Bitcoin dan Saham terletak pada  kecepatan pasar, yaitu saat  pasar saham di bursa efek misalnya, perdagangan terikat oleh waktu buka (opening) dan tutup (closing) dan waktu rehat di antara periode itu. Sedangkan perdagangan aset kripto tak kenal batas waktu. Adapun untuk manfaat nya kita bisa bertransaksi hanya dalam waktu beberapa menit saja tanpa perlu risau dengan perbedaan kurs mata uang dunia pada saat itu. Sedangkan untuk penyimpanan Bitcoin sendiri dapat dilakukan di perangkat elektronik seperti Smartphone dan PC dengan mode offline ataupun online.

Persoalannya, apakah sebagai mata uang, Bitcoin saat ini fungsinya telah menggeser keberadaan rupiah sebagai mata uang yang sah untuk digunakan sebagai alat tukar di Negara Kesatuan Republik Indonesia. Jika keberadaan Bitcoin tidak memberikan madharat dan dampak buruk terhadap keberlangsungan mata uang Rupiah, yang itu berarti tidak mengganggu perekonomia nasional, maka secara fiqh muamalah keberadaan bitcoin sebagai mata uang digital  yang beredar di Indonesia tidak menjadi soal. Tetapi jika hal itu bias menyebabkan inflasi dan memicu krisis moneter atau bahkan menggeser peran Rupiah, maka pemerintah perlu memberikan kebijakan dan peraturan yang jelas mengenai Bitcoin ini agar tidak membahayakan perekonomian negara yang itu imbasnya pada perekonomian masyarakat Indonesia.

 

 

PEMULANGAN WNI EKS-ISIS KE TANAH AIR DALAM PERSPEKTIF FIQIH INDONESIA

 

prosesi discussion

PEMULANGAN WNI EKS-ISIS KE TANAH AIR DALAM PERSPEKTIF FIQIH INDONESIA

( Diskusi Isu-Isu Aktual Peneliti Center of Fikih Nusantara ( C-Finus ))

 

Pemantik  :  M. Febrianto

Moderator : Queen Adila

ISIS adalah Islamic state of  Iraq and Suriah, yaitu organisasi gerilya pendirian negara Islam di Iraq dan Suriah. ISIS bertujuan untuk membentuk negara Islam dengan system pemerintahannya berupa sistem kekhalifahan. Caranya dengan menguasai beberapa daerah di Irak dan Suriah yang mereka klaim sebagai wilayah kekuasaannya.

ISIS dibentuk pada April 2013 di Raqqa, Suriah. ISIS mengklaim kendali agama, politik dan militer atas semua Muslim di seluruh dunia. Beberapa perbuatan ISIS pun juga membuat dirinya bermusuhan dengan negara-negara lain seperti halnya Irak, Suriah, dan Amerika. ISIS mempunyai simpatisan di berbagai negara di dunia. Kurang lebih 800 WNI telah tergabung dengan ISIS di Suriah.

Pada Maret 2019, ISIS diklaim telah dikalahkan total oleh Pasukan Demokratik Suriah yang didukung oleh Amerika Serikat. Setelah kekalahan ribuan ISIS, ribuan anggotanya ingin kembali ke negara asal masing-masing yang mereka tinggalkan. Dalam konteks anggota ISIS yang berasal dari Indonesia, ada sekitar 689 WNI Eks- ISIS yang ingin kembali ke negara asalnya.

Kenyataan ini memunculkan polemik bagi Pemerintah Republik Indonesia tentang diizinkan dan tidak diizinkannya mereka pulang ke negara asal serta mendapatkan hak kenegaraannya kembali ataukah tidak.

Diskursus yang dimunculkan pada diskusi ini adalah bagaimana pemulangan Eks-ISIS itu ke Negara Kesatuan Republik Indonesia?

Fenomena kekerasan yang dilakukan oleh tantara ISIS sering disebut sebagai perbuatan terorisme. Itu tidak semata tentang pendirian negara Islam. Tetapi juga berbuntut pada perbuatan pengrusakan kehidupan dan lingkungan hidup. Selain itu, ISIS menolak berdaulat terhadap pemerintahan yang sah dan berinisiatif untuk mendirikan negaranya sendiri berdasarkan konsep khilafah. Penolakan atau yang disebut sebagai bughat ini dijelaskan dalam al-Qur’an yaitu Surat al-Maidah ayat 33, yakni “Sesungguhnya pembalasan terhadap orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya serta membuat kerusakan di muka bumi. Mereka pantas dibunuh, disalib, dipotong tangan dan kakinya secara menyilang atau dibuang dari negerinya. Demikian sebagai penghinaan untuk mereka di dunia dan di akhirat mereka mendapatkan siksaan yang besar.”

Dalam Tafsir al-Thabarii, menafsirkan Surat al-Maidah ayat 33 di atas, dijelaskan bahwa al-Qur’an memerintahkan untuk tidak menerima mereka kembali. Tetapi, dalam kaitannya dengan kemanusiaan, maka menerima mereka boleh jadi diterima secara hati nurani. Keadaan inilah yang menimbulkan polemik. Mengizinkan mereka pulang kembali juga menimbulkan madharat yang tidak sedikit. Di sinilah diskusi ini menemukan ruang konformasinya.Dalam Konferensi Internasional yang diselenggarakan oleh Universitas al-Azhar, Mesir pada Tahun 2014. Dalam pertemuan itu diputuskan bahwa ISIS dikategorikan sebagai kelompok Teroris  dan sebagaimana telah disebut dalam al-Qur’an sebagai pelaku bughat.

Dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) sediri, secara tegas KH. Ma’ruf Amin mengatakan ISIS adalah organisasi yang menyimpang dari ajaran Islam. Presiden RI Bapak Ir.H. Joko Widodo secara terang-terangan enggan memulangkan WNI EKS ISIS meskipun beberapa tokoh menginginkan mereka untuk dipulangkan. Sedangkan untuk anak-anak yang dibawah 10 tahun itu jika dilihat dari UU Perkawinan anak-anak belum tau apa-apa maka harus dipulangkan. Dan anak-anak sangat tidak mungkin terkena ideologi-ideologi radikal. Tetapi jika dilihat dari sisi psikolognya, sebaiknya pemerintah menyediakan lokal khusus untuk direhabilitas seperti ditempatkan di pesantren atau sebagainya. Pemerintah harus memastikan WNI itu bisa hilang jika mereka menjadi WNA, tetapi jika kita merujuk UUD 1945 Bab 10 Maka harus dinyatakan EKS WNI. Pasal 27 ayat 1 dan 3 ( EKS WNI ) karena tidak menjalankan kewajiban sebagai warga negara di Indonesia.

Jika merujuk pada kaidah fiqih, maka yang cocok untuk dijadikan sebagai pijakan adalah kaidah  “dar’ul mafasid muqaddamun ‘ala jalbil mashalih”, yaitu  menghalangi datangnya kemadharatan yang lebih besar itu lebih wajib daripada menarik manfaat yang kecil. Demikian dalam diskusi ini mengambil kesimpulan bahwa sebaiknya eks-ISIS yang ingin kembali ke Indonesia tidak diizinkan. (waone)