Tarawih Kualiatas atau Kuantitas

Ketika melaksanakan solat tarawih, seringkali timbul pertanyaan dalam benak saya berapakah sebenarnya jumlah rakaat sholat tarawih yang sahih menurut fikih? Saya menemukan beberapa praktik yang berbeda, ada masyarakat yang melaksanakan tarawih dengan jumlah 8 rakaat, ada juga yang 20 rakaat, ada yang 32 rakaat, bahkan saya dengar ada yang 100 rakaat.  Perbedaan jumlah rakaat tersebut mudah ditemui dalam praktik tarawih di masjid maupun di mushola-mushola di penjuru nusantara.

Penelusuran saya terhadap literatur Islam menghasilkan informasi bahwa pada mulanya, sholat tarawih itu 8 rakaat. Hal ini didasarkan pada hadist yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori  dari sahabat Abi Salamah bin Abd Ar- Rahman yang bertanya kepada  Siti Aisyah perihal sholat yang dilakukan Nabi Muhammad pada bulan Ramdhan. Siti Aisyah menjawab bahwa Rasulullah SAW melakukan sholat malam hanya 11 rakaat, tidak kurang dan tidak lebih, dengan rincian 8 rokaat dua kali salam dan diakhiri sholat 3 rakaat, baik di bulan Ramadhan maupun di bulan lain. Imam Bukhari menyatakan hadis ini berkualitas shahih.

Akan tetapi, pendalaman terhadap hadis tersebut tidak menunjukkan adanya pengkhususan terhadap sholat tarawih, karena Rasulullah juga melakukan shalat 11 rakaat di bulan-bulan selain bulan Ramadhan. Oleh karena itu, timbullah  perbedaan pendapat dalam menyimpulkan apakah hadis tersebut ditujukan pada  shalat tarawih ataukah  sholat witir karena ada hadist lain yang menyebutkan bahwa Rasulullah melakukan sholat malam tiga belas rakaat antara lain sholat witir dan 2 rakaat sholat fajar. Tarawih 8 rakaat ini di Indonesia banyak dipraktikkan oleh warga Muhammadiyah, LDII, dan jam’iyah lainya.

Adapun sholat tarawih dengan bilangan 20 rakaat sendiri banyak dilakukan oleh kaum Nahdliyin atau warga Nahdlatul Ulama. Dasar dari pelaksanaan sholat tarawih 20 rakaat ini adalah  hadist mauquf, yaitu hadist yang sanadnya tidak sampai kepada Rasulullah SAW, melainkan pada sahabat-sahabat.  Diriwayatkan oleh Imam Al-Baihaqi dalam kitab Ash- Sunan Al-Kubro para sahabat melakukan shalat malam 20 rakaat pada masa Khalifah Umar bin Khattab di bulan Ramadhan, dan dalam melakukan sholat tersebut para sahabat melakukanya secara berjamaah. Keshahihanya hadis ini diakui oleh para ulama’, antara lain Imam Nawawi dalam kitabnya Al Khulashah dan Imam Suyuthi dalam kitabnya Al Mashabih fi Shalat Tarawih, serta imam-imam lainya.  Walaupun shalat tarawih dengan 20 rakaat ini tidak pernah dilakukan secara langsung oleh Rasulullah, sebagian pendapat mengatakan bahwa apa yang dilakukan sahabat pada masa Khalifah umar bisa dijadikan sebagai hujjah untuk menentukan jumlah rakaat shalat tarawih.

Bila dirunut pada hadist yang berkaitan dengan hal di atas, dapat diceritakan bahwa pada suatu malam di bulan Ramadhan, Rosulullah hanya melakukan beberapa kali saja sholat dengan jumlah 11 rakaat secara berjamaah di masjid dan Rasulullah tidak menyebut dengan jelas bahwa itu solat tarawih jadi Rasulullah melakukan sholat jama’ah  yang mana ma’mumnya tidak mengetahui sholat apakah yang dilakukan Rasulullah. Kronologinya adalah saat bulan Ramadhan tiba, Rasulullah pada tengah malam pertama hingga malam ke tiga keluar rumah untuk melakukan solat di masjid hal itu dikuti pula oleh sahabat sahabat lainya. Pada malam ke-4, Rasulullah hanya melakukan solat subuh. Beliau mengatakan bahwa beliau khawatir solat tersebut akan di wajibkan untuk umatnya dan atau dianggap wajib oleh umatnya. Sedangkan istilah sholat tarawih sendiri baru dikenal sewaktu Khalifah Umar bin Khatab melihat banyak orang muslim melakukan sholat malam pada bulan ramadhan dengan jumlah rakaat yang berbeda-beda bahkan ada juga segolongan muslim yang tidak melakukan solat pada malam tersebut  sehingga khalifah umar ingin umat islam sama selaras dalam melakukan sholat tersebut dan akhirnya khalifah umar memerintahkan umat  muslim untuk melakukan secara berjamaah yang di imami oleh sahabat Ubay bin Ka’ab di Masjid dengan jumlah rakaat sholat tarawih pada kali itu adalah 20 rakaat. Kejadian inilah yang melatar belakangi adanya istilah sholat tarawih yang berarti  shalat istirahat karena pada saat itu sahabat-sahabat melakukan istirahat setelah 2 kali salam atau 4 rakaat dan hadist mauquf inilah yang dijadikan golongan ahli wal jama’ah melakukan sholat taraweh 20 rakaat. Sedangkan mereka yang sholat tarawih dengan 11 rakaat beserta witir dilandasi  oleh hadist yang di riwayatkan oleh siti aisyah mengenai solat yang dilakukan rasulullah yang berjumlah 11 rakaat pada malam ramadhan dan bulan lainya. padahal banyak Ulama’  yang mengungkapkan bahwa hadist itu merujuk pada solat qiyamul laili ataupun solat witir.

Terhadap perbedaan jumlah di atas, terdapat bermacam-macam penyikapan dari masyarakat. Ada masyarakat yang acuh tak acuh, ada yang toleran terhadap perbedaan tersebut, ada juga masyarakat yang mempersoalkannya, yakni menyebut penganut tarawih 20 rekaat sebagai tukang bid’ah. Yang paling ekstrem adalah disematkannya label kafir. Saya pernah menjumpai sendiri fenomena ini di daerah saya, Riau. Sungguh ironis, seorang muslim mengkafirkan muslim lainnya hanya karena perbedaan pandangan soal jumlah rekaat tarawih. Terlebih, pengkafiran itu berlangsung di bulan Ramadhan nan mulia, yang mestinya diisi oleh kaum muslim dengan perbuatan yang baik dan terpuji. Menghina, mencela, da mengkafir-kafirkan sesama muslim jelas tidak termasuk perbuatan yang baik, malah merupakan perbuatan terlarang yang seharusnya dihindari. Menurut saya, inti perbedaan antara 8 atau 20 hanyalah perdebatan untuk mencari mana yang lebih utama, bukan  untuk saling meniadakan keabsahan shalatnya.

Terlepas dari soal jumlah rekaat, menurut saya hal yang lebih penting untuk dibahas adalah soal kualitas shalat. Terkait dengan hal ini, sering sekali saya merenungkan mengapa shalat yang 20 rekaat rata-rata dilakukan dengan irama yang lebih cepat, bahkan kadagkala terkesan terburu-buru daripada shalat yang 8 rekaat. Bahkan, saya pernah dengar jamaah di salah satu pondok pesantren di Blitar Jawa Timur dapat  melakukanya kurang dari 10 menit. Pertanyaan saya, apakah imam dan makmum dapat tuma’ninah, di mana tuma’ninah itu merupakan rukun shalat. Berdasarkan kitab-kitab fiqh, tuma’ninah adalah diam sejenak minimal selama waktu yang cukup untuk membaca “Subhanallah”. Misalkan imam dapat tuma’ninah, dapatkah makmum membersamai imam dalam tuma’ninahnya? ini penting menurut saya megingat syarat sah berjamaah adalah makmum dapat membersamai imam ketika tuma’ninah dalam ruku, i’tidal, sujud an duduk di antara dua sujud.

Sebaliknya, shalat tarawih yang 8 rakaat, pada umumnya dilaksanakan dengan lambat, tenang dan memakan waktu lebih lama daripada yang 20 rekaat. Lamanya shalat 8 rekaat ini, seringkali disebabkan oleh karena imam memilih membaca ayat atau surat yang panjangsetelah membaca surat Al Fatihah, dengan nada yang lambat pula. Dalam hal ini, tuma’ninah tampaknya diperoleh, namun tidak sedikit makmum yang mengeluh kelelahan, diserang kantuk dan tidak fokus karena menunggu imam terlalu lama menyelesaikan bacaannya.

Meyikapi hal tersebut, penting kiranya untuk mengingat kembali apa sebenarnya hakikat tarawih. Menurut tinjauan kebahasaaan, tarawih memiliki arti sholat yang banyak istirahatnya, karena kata tarawih dalam tata bahasa arab merupakan bentuk jama’ dari  kata tarwihah yang berarti istirahat. Menurut saya, banyaknya istirahat ini menunjukkan bahwa tarawih adalah ibadah yang melelahkan, oleh karena itu diberi jeda untuk istirahat, yaitu pada masa antara salam shalat yang pertama dengan takbir shalat berikutnya. Berkaitan dengan hal ini, maka perlu dihindari adanya shalat tarawih yang berlebihan durasinya hingga membuat jamaah kelelahan secara berkelanjutan. Artinya, imam harus paham karakter jamaah yang dipimpinnya, apakah terbiasa shalat lama atau tidak. jika jamaahnya adalah santri senior yang terlatih shalat dalam durasi lama, atau orang yang benar-benar siap shalat lama seperti halnya jamaah Masjidil Haram, dan sang imam memiliki kualitas bacaan yang fasih lagi indah, maka tidak masalah imam memanjangkan shalat.

Namun, apabila jamaahnya terdiri dari orang yang tidak terlatih shalat lama, dan tidak siap diajak berlama-lama, maka imam tidak perlu terlalu berlebihan dalam panjangnya bacaan sehingga tidak membuat jamaahnya menggerutu atau kapok berjamaah tarawih. Yang paling penting adalah niat yang baik untuk menghadap Allah, sikap yang tenang, serta durasi yang sesuai kemampuan imam dan makmum, tidak tergesa-gesa, namun tidak melampaui batas kemampuan. Dengan demikian, berapapun jumlah rekaatnya, setiap orang dapat menikmati shalat tarawihnya sebagai bentuk penghambaan yang intim dengan Tuhan-nya di bulan yang spesial.

 

 BAYU SETIAWAN HKI-2A ( waoneZID)

PEGIAT C-Finus_door of interpretation are never shut

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *