diriku 1

Eni Setyowati

Saya menyebutnya “ping”, sebuah sensasi kecil yang membuat saya untuk segera memeriksa jaringan sosial di smartphone saya.

Pernahkan Anda mengalami seperti yang pernah saya alami ini? Dimanapun saya berada tidak bisa terpisahkan oleh yang namanya smartphone. Smartphone bagi saya adalah segala-galanya. Rasanya kita tidak bisa hidup tanpanya. Sejak mulai tidur sampai akan tidur lagi, berapa jam kita hidup bersama dengannya. Bahkan seringkali momen-momen penting tertinggalkan karena makhluk kecil tersebut. Di saat kita kumpul dengan keluarga, kita tak lepas dari smartphone. Hampir semua penghuni rumah juga mempunyai keasyikan sendiri dengan smartphonenya. Bahkan menjadikan yang jauh menjadi dekat dan yang dekat menjadi jauh. Tanpa kita sadari waktu kita telah terbuang dengan percuma. Kita telah dihipnotis oleh kecanggihan makhluk kecil tersebut.

Siapa yang salah? Apakah kita atau smartphone? Jawabnya tentunya ya kita....kita yang tidak bisa megelola penggunaan smartphone kita. Apakah kita harus terbebas dari smartphone atau laptop atau juga televisi dengan tidak menggunakan itu semua? Jawabnya tentu saja tidak bisa. Hal ini sebenarnya merupakan konflik massal yang sedang dialami oleh banyak orang bukan saya saja. Namun seringkali kita melupakan hal ini sebagai konflik, sehingga kita seringkali mengabaikannya. Tetapi jika kita analisis lebih jauh berapa waktu yang telah kita buang percuma hanya sekedar untuk “bermain-main” dengan smartphone kita. Saya mengistilahkan dengan “bermain-main” karena seringkali kita menggunakan smartphone kita hanya untuk kepentingan yang kurang bermanfaat.

Memang, saat ini kita berada di jaman era informasi yang sangat canggih yang belum pernah terjadi sebelumnya. Jika kita ingin mengetahui sesuatu, meskipun letaknya sangat jauh, namun dengan sekejap kita akan memperoleh informasi tersebut hanya dengan menekan tombol keyboard yang ada pada smartphone atau laptop kita. Berbeda dengan dulu, jika kita ingin mencari informasi maka kita harus pergi ke perpustakaan terlebih dahulu, belum lagi jika buku yang akan kita cari sudah dipinjam orang lain. Tentunya kita akan pulang dengan rasa kecewa. Namun saat ini kita tidak perlu meninggalkan rumah untuk mencari informasi tersebut, semuanya sudah ada di ujung jari kita.

Ketika teknologi memberikan kesempatan yang sama dalam hal informasi dan komunikasi, terdapat juga tekanan baru yang bersifat unik yang dihasilkan penemuan baru ini terhadap pekerjaan dan hidup kita. Teknologi adalah tambahan untuk kemampuan kita dalam mencapai keinginan. Jika kita ingin melakukan sesuatu, teknologi dapat membuatnya lebih cepat dan lebih murah. Tetapi tidak semua yang kita inginkan akan mendatangkan manfaat untuk kita. Kita sering mengorbankan keuntungan jangka panjang untuk kepentingan jangka pendek. Manusia memiliki pilihan tak terbatas yang bisa dipakai bahkan untuk mengatasi sedikit kebosanan. Ini adalah sifat manusia untuk mendapatkan kesenangan, dan jika itu keinginan kita, maka teknologi dapat melayaninya dengan baik.

Saat ini, hiburan tidak selalu berarti permainan atau tontonan, namun juga segala sesuatu yang sebenarnya menyebabkan kita mengalami gangguan dalam pekerjaan atau hidup kita termasuk internet. Ini yang pernah saya alami. Saya menyadari ada pola yang mengganggu dalam hidup saya. Sesuatu yang mengganggu itu saya sebut sebagai “ping”. Ping adalah dorongan tanpa alasan untuk menjelajahi situs-situs internet daripada mengerjakan sesuatu yang produktif. Semakin lama daya tarik “ping” justru semakin kuat. Seakan-akan ping ingin menjadi “big bos” saya. Dia ingin menguasai saya, dan dia ingin saya melayaninya.

Dimanapun ping selalu mengikuti saya. Misalnya pada saat mengikuti sebuah acara yang mulai membosankan, maka tangan ini langsung mengambil smartphone dan segera berselancar di dunia maya. Hasilnya? Saya menjadi sulit untuk berkonsentrasi dan fokus pada yang ada di depan. Saya merasa kehilangan kemampuan berpikir secara dalam tentang apapun yang saya alami karena cenderung memenuhi apa yang diinginkan ping. Ketergantungan terhadap televisi ataupun internet telah merusak kemampuan kita untuk berpikir dan terlibat dalam masalah sosial yang penting. Sekarang ini, dengan memakai smartphone, netbook, dan komputer tablet, kita akan terhubung 24 jam sehari ke segala sesuatu yang kita inginkan. Kita berada dalam kondisi mengalami gangguan secara terus-menerus yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Itu bukanlah salahnya ping, atau salahnya teknologi, namun itu salahnya kita. Tuntutan pekerjaan kita tidak bisa terlepas dengan teknologi tersebut, tetapi kita juga harus mengelolanya. Agar dapat bekerja dan hidup dengan baik, tentunya kita harus belajar memperhatikan apa yang sedang kita hadapi dan mengembangkan kemampuan untuk tetap berfokus pada tujuan kita. Fokus yang terpisah tentunya akan menyebabkan kita tidak bisa memberikan keterampilan dan energi secara penuh terhadap tugas yang sedang kita kerjakan. Parahnya, beberapa dari kita justru menghindar dan keluar dari penugasan yang membosankan ketika melihat ada hal lain yang lebih menarik untuk diperhatikan. Dapatkah kita memberi karya terbaik jika bekerja seperti itu?

Di dalam sebuah buku yang pernah saya baca tentang produktivitas, Merlin Mann, menghitung bahwa jika kita rata-rata bekerja 8 jam sehari, 50 minggu setahun, dan memeriksa jejaring sosial setiap 5 menit, untuk melihat apakah ada sesuatu di sana, artinya kita memeriksa internet 24.000 kali setahun. Itu belum termasuk waktu untuk memberikan respons terhadap jejaring sosial. Andaikan setiap kita memeriksa internet membutuhkan waktu 10 detik dan mendapatkan fokus terhadap tugas kita yang sebelumnya dicuri oleh ping, hal ini berarti selama setahun kita menghabiskan 66,6 jam untuk memeriksa apakah ada hal lain yang lebih menarik dibandingkan apa yang sedang kita kerjakan saat ini.

Ketika kita membiarkan ping mengatur hidup kita, kita berarti membiarkannya menyulitkan diri kita. Dan kita tidak menyadari kehadirannya karena ping hanya menghilangkan perhatian kita selama 10 detik. Kita tidak perlu menyingkirkan teknologi, kita hanya perlu memakainya dengan cara yang dapat meningkatkan kemampuan kita untuk menyelesaikan tugas-tugas penting. Kita harus menyusun prioritas dan mengerjakannya daripada selalu hidup dalam kondisi memberikan perhatian secara terpisah-pisah. Kita tidak akan dapat memberikan karya terbaik dan bermutu tinggi jika kita membiarkan ping mengatur hidup kita.

Dengan kata lain, kita harus melakukan transisi dari seorang konsumen pasif menjadi orang yang berpikir jernih dan efektif. Ada dua jenis berpikir jernih yaitu berpikir kritis dan berpikir kreatif. Menjadi seorang pemikir kristis, berarti seseorang yang tidak menilai dengan melihat permukaan saja, namun menilai kemasukakalan berbagai kejadian, dan mengakses relevansi kejadian-kejadian itu dengan pandangan dan gaya hidupnya sendiri. Sedangkan berpikir kreatif adalah menekankan poin-poin yang menjadi obyek pemikiran yang sangat kreatif.

Seharusnya kita melawan ping dengan pemikiran yang jernih (kritis, kreatif dan efektif). Jangan pernah kita mau menjadi budaknya ping. Oleh karena itu marilah mulai saat ini kita dapat menjadi manusia yang cerdas dalam mengatasi konflik ping ini. Gunakan seefektif mungkin jaringan sosial kita, dan gunakan untuk kebutuhan yang penting. Jangan sampai kita tertipu daya oleh mereka. Kita harus tetap fokus pada tujuan hidup kita.

2 Comments

buku murbei

Eni Setyowati

Tepatnya diawali tiga tahun yang lalu. Saat itu saya mendampingi mahasiswa KKN 2017 di desa Mulyosari - desa yang kini terkenal dengan Kampung Pelangi. Pada suatu sore, terdapat kegiatan dengan ibu-ibu PKK membuat sirup dari buah murbei. Memang, di sekitar kampung pelangi ada beberapa tanaman murbei, meskipun tak banyak. Tanaman murbei banyak ditemui di pekarangan rumah, namun hanya berfungsi sebagai tanaman pagar, bahkan dianggap sebagai tanaman liar.

Setelah hari itu, tanaman murbei selalu menari-nari di pelupuk mata. Akhirnya, rasa penasaranpun membuat saya searching tentang murbei di google. Saya telusuri buku-buku serta hasil penelitian tentang tanaman murbei. Wauuu..ternyata semakin menarik. Banyak sekali manfaat tanaman murbei bagi kesehatan.

Segera saya putar otak ini, dan segera saya cari benang merah antara spesifikasi pengetahuan saya yaitu lingkungan dengan tanaman murbei ini. Sambil membaca referensi, alhamdulillah idepun muncul. "Mengapa tanaman murbei ini tidak dibudidayakan ya? Minimal diperhatikan." Dari sinilah awal saya ingin membudidayakan tanaman murbei dengan memberinya pupuk dari limbah got. Nah...kayaknya dah cocok lah.... Pupuk limbah got vs tanaman murbei.

Akhirnya, pada tahun 2018 ide itu saya masukkan dalam proposal pengajuan hibah penelitian di kampus. Proposal segera saya buat sebagai persyaratan mengikuti hibah, dan alhamdulillah proposal lolos.

Singkat cerita, segera saya melakukan eksperimen. Bahan dan alat saya persiapkan. Mulai bibit murbei hingga limbah got dan kebutuhan membuat pupuk pun sudah siap. Ada cerita menarik tentang pengambilan limbah got ini. Bayangkan, siapa coba yang mau ambil limbat got di selokan-selokan kalau bukan saya hehehehe. Mendekati saja rasanya gak ada yang berminat. Bau yang mencekam, warna hitam dan segala embel-embel yang menjijikkan membuat semua orang menjauhinya. Namun, tidak dengan saya. Bicara tentang sampah maupun limbah, bukan hal baru bagi saya, karena disertasi saya memang bergelut tentang sampah. Hingga sejak saat itu saya dijuluki sebagai doktor sampah hehehe. Singkat cerita, limbah got akhirnya saya ambil dari selokan permukiman sekitar tempat tinggal saya dan di daerah Kedungwaru. Sebagian proses pengambilan limbah got juga dibantu oleh stafnya Mas suami di bagian persampahan. Terimakasih bapak-bapak yang membantu mencarikan limbah got. Semoga kebaikan bapak-bapak menjadi ladang pahala bagi jenengan semua...Aamiin.

Eksperimenpun saya mulai. Lokasi penelitian berada di halaman rumah saya. Sebanyak 36 tanaman murbei saya beri perlakuan. Singkat cerita, penelitian pun selesai dan alhamdulillah hasil penelitian tersebut sudah dipublikasikan di prosiding seminar nasional di Bandung.

murbei 3

Tak cukup di situ, keingintahuan tentang tanaman murbei semakin membara. Sayapun searching lagi tentang manfaat dan diversifikasi tanaman ini. Setelah mendapat beberapa referensi yang valid, segera saya mencoba membuat percobaan kecil, yaitu membuat produk dari tanaman murbei, baik dari daun maupun buahnya. Berbekal tanaman murbei dari hasil penelitian kemarin, saya mencoba membuat teh dari daun murbei, kripik daun murbei, sirup buah murbei dan selai buah murbei. Produk itu saya konsumsi sendiri. Selain rasanya enak, manfaatnya juga banyak. Kandungan antioksidan yang tinggi, tanaman murbei disinyalir dapat mencegah dan menyembuhkan miom, kista maupun kanker. Selain itu juga dapat mengatasi masalah gangguan pencernaan maupun sebagai obat penyakit mata.

Beberapa penelitian terdahulu menyebutkan bahwa tanaman murbei kaya manfaat. Hastuti, (2016) menyebutkan bahwa tanaman murbei bisa digunakan untuk obat batuk, gangguan pencernaan, bisul radang kulit. Murbei juga dapat menghambat bakteri staphylococcus aureus dan shigella dysenteriae sebesar 85%. Has (2014) menyebutkan bahwa tanaman murbei menghasilkan serat kasar ransum untuk merangsang gerakan saluran pencernaan dan sebagai sumber energi. Sugiarso (2015) menyebutkan bahwa tanaman murbei sebagai antioksidan karena mengandung antosianin.  Pudjiono (2007) menyebutkan bahwa daun tanaman murbei  dapat meningkatkan produktivitas dan kualitas kokon/ulat sutera. Tentunya masih banyak beberapa penelitian lain yang menguraikan tentang manfaat dari tanaman murbei ini.

Setahun kemudian, tepatnya di tahun 2019, kembali dengan berbekal dari tanaman murbei, saya mencoba mengajukan hibah pengabdian masyarakat tentang diversifikasi produk berbahan dasar murbei bagi santri di mahad Al-Jamiah IAIN Tulungagung. Alhamdulillah lolos juga.

Pelatihan dan pendampingan bagi santri mahadpun saya lakukan. Alhamdulillah berjalan lancar. Produk diversifikasi murbei ini kami beri nama "Mobal". Mobal berasal dari nama latin tanaman murbei yaitu morus alba. Mobal, dalam bahasa Jawa juga dapat diartikan murup, hidup (api yang nyala besar). Hal ini menandakan semangat yang membara. Meskipun produk ini belum diproduksi secara besar dan kontinyu (karena memang harus melalui proses yang panjang), tetapi alhamdulillah dapat memberikan ilmu bagi santri mahad khususnya. Semoga ke depan bisa dilanjutkan dan diproduksi serta didistribusikan dalam skala besar. Aamiin.

Hari ini, 5 Agustus 2020, saat saya membuka FB, saya diingatkan tentang tanaman murbei ini. Saya jadi teringat 3 tahun yang lalu saat ide itu datang. Segera saja saya buat tulisan untuk mengenangnya. Akhirnya, jadilah tulisan sederhana ini.

murbei 2

Kini, tanaman murbei sudah tumbuh banyak di kampus IAIN Tulungagung, tepatnya di pekarangan depan gedung Arif Mustakim. Tanaman murbei itu memang dari hasil penelitian saya dua tahun yang lalu dan hasil pengabdian masyarakat saya tahun lalu. Sengaja saya tanam di kampus, agar dapat dimanfaatkan, serta sebagai bahan penelitian khususnya dosen/mahasiswa jurusan tadris biologi.

eni 1

Seiring dengan waktu, tanaman murbei di kampus semakin besar. Buah murbei yang masakpun menggugah selera. Tak sedikit mahasiswa yang melewatinya selalu mampir untuk memetiknya. Memang manis rasa buahnya jika sudah matang. Tak apalah, alhamdulillah bermanfaat. Kini di saat pandemi korona, mahasiswapun tak ada yang berada di kampus. Namun demikian, buah murbei saya tidak sepi penggemar. Kini, bapak/ibu dosen, administrasi, security kampus juga memetiknya. Tak apa, alhamdulillah tanaman murbei saya memberi manfaat bagi banyak orang. Aamiin.

Berbicara tentang tanaman murbei, masih ada keinginan yang sampai hari ini belum tersampaikan. Pertama, saya ingin membuat buku tentang tanaman murbei. Meskipun hasil dari pengabdian masyarakat dari tanaman murbei ini sudah menjadi buku, tetapi buku yang khusus membahas tentang tanaman murbei, mulai dari sejarah, kandungan, budidaya hingga manfaatnya sangat ingin saya tulis. Kedua, saya ingin memPIRT-kan produk berbahan dasar murbei ini, sehingga menjadi produk yang legal. Ketiga, saya ingin menguji kandungan dari produk itu. Keempat, saya ingin mendsitribusikan produk ini dan menjadi produk yang bermanfaat, banyak dibutuhkan, serta produk yang milenial. Mungkin itu keinginan yang terlalu muluk, tetapi selama ada niat, iktiyar dan doa, inshaAllah akan dapat terwujud. Aamiin.

Mojopanggung, 5 Agustus 2020.

gambar air

Eni Setyowati

Di dalam kehidupan apapun perlu adanya suatu manajemen, tentunya manajemen yang baik. Apalagi kita sebagai ibu rumah tangga yang juga berkarir, manajemen dalam keluarga sangat dibutuhkan, baik itu manajemen keuangan maupun manajemen waktu. Seperti kita ketahui tentang teori manajemen, maka di dalam manajemen keluarga juga diperlukan adanya planning, organizing, actuating dan controlling. Namun yang sering kita hadapi adalah bahwa kenyataan tidak sesuai dengan perencanaan yang telah kita buat. Lalu apa yang terjadi?? Akankah kita akan kecewa ataupun marah-marah bahkan sampai stress menghadapi kenyataan yang tidak sesuai dengan harapan. Tentu saja “JANGAN DONG”, mengapa kita harus stres?? Lalu... apa yang harus kita lalukan??

Menurut saya untuk menghadapi permasalahan seperti di atas, tentunya kita harus menyadari terlebih dahulu bahwa kehidupan itu tidak semulus yang kita bayangkan dan kita harapkan. Jika kita menyadari akan hal itu, hidup kita akan lebih enjoy. Namun enjoy di sini bukan berarti kita menerima apa adanya, tetapi kita tetap harus menentukan solusi pemecahannya dari setiap permasalahan yang ada. Salah satu cara yang perlu kita lakukan adalah dengan melaksanakan “manajemen air”. Apa itu manajemen air? Manajemen air adalah manajemen atau pengelolaan yang tidak terlalu ketat harus sesuai dengan perencanaan, tetapi kita harus siap jika kenyataan tidak sesuai dengan perencanaan, sehingga biarlah mengalir seperti air, namun kita dapat menampungnya.

Hal ini seperti yang pernah saya alami. Kemarin, saat saya ke luar tiba-tiba ada yang tidak beres dengan mobil saya. Saya merasakan kenapa mobil ini tidak dingin ya...padahal AC sudah saya nyalakan. Akhirnya, saat pulang, saya menyampaikannya kepada suami...karena memang saya tidak mengerti sama sekali tentang AC. Suami pun melihat kondisi mobil dan ternyata dinamonya tidak berputar... Waktu terus berlalu, dan setelah maghrib suami harus pergi ke kantor karena memang saat ini sedang sibuk-sibuknya....maklum mulai banyak proyek...heheheheh

Tibalah pagi hari. Mulailah kami sekeluarga beraktivitas sejak pagi. Kami berempat mulai dengan kegiatannya masing-masing. Tiba-tiba saya mendengar suara mesin cuci yang beroperasi....eee ternyata si kakak sedang mencuci...sementara saya sendiri sedang bersih-bersih rumah..... Saat itu juga saya melihat suami sedang mengambil nasi (lah kok mengambil nasi, padahal belum punya lauk karena masih terlalu pagi sekitar pukul 06.00, ternyata suami ada acara di kantor. Akhirnya....suamipun setelah mengambil nasi kemudian membawa piringnya ke warung sebelah untuk membeli lauk (hehehe untungnya sebelah rumah ada warung yang sudah siap menunya sejak pagi). Ya...itulah suami saya tidak pernah malu meskipun harus mengerjakan pekerjaan perempuan. Saya sangat bersyukur sekali.

Percakapan saya dan suami pun berlanjut tentang kondisi mobil yang AC nya tidak dingin. "Wah, bagaimana ya dengan mobil ini, sementara saya harus ke kantor sampai sore, besok juga harus ke lapangan, hari Senin sampai hari Kamis harus ke Malang?" kata suami (sambil mengernyitkan dahi). Sayapun menjawabnya, "sudahlah tenang....nanti saya bawanya ke bengkel AC, meskipun ini pekerjaan laki-laki saya bisa kok melakukannya hehehehe”....

Dan tibalah waktu menunjukkan pukul 09.00 WIB. Saya dan si kecil berangkat ke bengkel....eng ing eng....mobilpun tertangani...ternyata evaporatornya bocor...yah harus diganti.... sambil menunggu mobil diperbaiki saya bisa mengajari si kecil latihan soal-soal olimpiade. Memang, saya sudah menyiapkan soal-soal di tas (karena saya berpikir pasti nanti di bengkel cukup lama) dan saat istirahat setelah melatih si kecil...akhitnya sayapun bisa menulis catatan sederhana ini.

Ternyata menerapkan manajemen dalam kehidupuan sehari-hari itu tidak semudah teori manajemen yang ada. Saya lebih enjoy menikmati manajemen air....mengalir sesuai alirannya.... Ternyata memang perlu juga kita menerapkan manajemen air. Janganlah malu untuk melakukan pekerjaan yang di luar kebiasaan, karena itu adalah luar biasa.

2 Comments

IMG-20200731-WA0027

Eni Setyowati

"Bisa membuat keluarga bahagia adalah salah satu momen paling membahagiakan dalam hidup ini. Kesenangan bermula dari kebersamaan bersama orang-orang terdekat, terutama keluarga. Keluarga adalah tempat terbaik untuk kita belajar tentang sebuah pengorbanan".

Sebenarnya, bukan sekali ini saja ketiga pendekarku masuk dapur. Setiap hari mereka selalu masuk dapur, karena kami berempat telah mempunyai tanggung jawab bersama tentang urusan dapur. Aku, sang mama, tentunya tetap mempunyai peran terbesar di dapur. Dapur juga menjadi tempat yang selalu dikunjungi suami mulai dari memasak air untuk membuat kopi, menanak singkong atau bahkan memasak. Eits...suamiku juga pintar masak lho. Sedangkan kedua buah hatiku bergantian bertugas mencuci piring dan membuang sampah. Tidak hanya mencuci piring, mereka berduapun juga biasa dengan urusan goreng-menggoreng, meskipun hanya menggoreng ayam, telur, tempe ataupun tahu.

Namun, hari ini adalah hari spesial. Seluruh umat muslim merayakan idul adha. Sejak pagi, selesai sholat id, semua umat muslim disibukkan dengan penyembelihan hewan kurban yang dilanjutkan dengan pembagian hewan kurban itu. Di momen idul adha ini, suasana guyub rukun terlihat sejak pagi. Mulai penyembelihan hewan kurban hingga pembagian hewan kurban, terjadi kolaborasi yang sangat indah. Hari ini, semua umat muslim merayakan idul adha dengan berbagai aneka masakan dari hewan kurban. Tak terkecuali dengan keluarga kecilku.

Kamipun mendapat daging kurban kambing dan sapi. Namun, daging kurban kami tidak langsung kami eksekusi, karena ternyata bumbu masakan di dapur sedang krisis. Akhirnya, kami bersepakat memasaknya sore hari saja. Nah, di sinilah kolaborasi keluarga kecilku mulai terjadi. Setelah sholat ashar, kamipun mulai beraksi. Langsung saja daging itu kukeluarkan dari freezer. Daging kambing yang menjadi pilihan pertama. Setelah keluar dari freezer, suami segera memasukkannya ke panci presto, sementara aku segera meluncur ke pasar untuk berbelanja keperluan bumbu yang habis. Ada dua rencana memasak sore ini, gulai dan rica-rica kambing.

Akupun segera meluncur ke pasar tradisional dekat rumah. Hasil catatanku kukeluarkan dari tas kecilku dan mulailah aku membeli bumbu-bumbu yang habis. Sekitar setengah jam waktu yang kubutuhkan untuk belanja di pasar. Begitu sampai di rumah, dagingpun sudah diangkat suami dari panci presto dan siap di masak. Kali ini kami memasak berdua.

Masakan pertama adalah gulai kambing. Bumbupun kusiapkan, sementara suami memotong daging kambingnya. Tak membutuhkan waktu yang lama, walhasil gulai kambingpun siap dihidangkan. Karena waktu tidak memungkinkan untuk memasak rica-rica, akhirnya sore ini rica-rica kambing masih kami pending. Semoga besok bisa memasaknya.

Tak terasa waktu semakin larut. Waktu makan malampun tiba. Kami nikmati gulai kambing ala emak dan bapak ini dengan penuh rasa cinta. Memasaknyapun dengan bumbu cinta, memakannyapun juga penuh cinta...cie cie... Alhamdulillah kami berempat menikmatinya dengan lahap.

CamScanner 07-31-2020 21.21.48

Kali ini, setelah makan malam, yang kebagian peran selanjutnya adalah kedua pendekarku (si kakak dan adik). Mereka berdua berkolaborasi mencuci piring dan membuang sampah.

Di dalam keluarga kecilku tidak ada kamus bahwa laki-laki anti dapur. Karena sudah terbiasa, suami dan anak-anak enjoy saja jika di dapur. Seringkali si kakak dan adik tiba-tiba ramai sendiri di dapur, ternyata mereka lagi membuat sesuatu masakan yang mereka inginkan. Kebiasaan ini tentunya sangat membantu mamanya. Mamanya yang seringkali "iwat iwut" kesana kemari, menjadi tidak kuatir jika meninggalkan mereka, karena mereka sudah terbiasa menyiapkan makannya sendiri. Terimakasih ya sayang karena telah membantu dan mengerti mama. I love you so much...

2 Comments

 

cengkrong

Eni Setyowati

Catatan ini terinspirasi dari kebersamaan dengan anak-anak di rumah, berbagai kegiatan mulai mengantar sekolah, menjemput hingga bercengkerama dan mendengarkan celotehan mereka menceritakan aktivitasnya di sekolah. Ditunjang oleh buku dari pak Munib Chatib, maka tak salahlah jika saya tulis catatan ini sebagai persembahan orang tua kepada anaknya, bahwa anak kita adalah bintang.

Anakmu bukanlah milikmu. Mereka adalah putra-putri Sang Hidup, yang rindu akan dirinya sendiri. Mereka lahir lewat engkau, tetapi bukan dari engkau. Mereka ada padamu, tetapi bukanlah milikmu... (Kahlil Gibran)

Setiap anak yang dilahirkan dari rahim ibunya, bagaimanapun kondisinya, dia adalah masterpiece karya agung Tuhannya, sebab Allah SWT tidak pernah membuat produk-produk gagal. Hanya kesabaran orang tualah yang diuji... (Munif Chatib)

"Saya kok gak tahu ya, bakat anak saya itu apa"? "Ah saya gak ngerti anak saya itu bakatnya apa"? "Bagaimana ya agar saya mengetahui anak saya bakat di apa"? Beberapa pertanyaan tersebut seringkali dilontarkan orang tua jika kita kumpul-kumpul di sebuah kegiatan. Pernah suatu hari ada seseorang yang bertanya kepada saya, "Bu, gimana caranya agar kita tahu bakat anak kita?"..... Hhhmmm sayapun menjawab dengan singkat, "sebenarnya sejak kecil bakat anak itu sudah terlihat, jika kita peka" sambil saya menceritakan pengalaman saya terhadap anak-anak saya. Memang kelihatannya agak susah juga melihat kebiasaan anak, sementara jika kedua orang tuanya bekerja. Saat bekerja, orang tua tidak mengetahui apa yang dilakukan anak, saat orang tua datang anak sudah capek dan tidur, kalaupun si anak belum tidur, orang tuanya yang sudah capek. Mana mungkin mereka akan peka terhadap bakat anak, tahu kebiasaannya saja tidak....hehehe. Terus apa yang harus dilakukan orang tua?, haruskah orang tua selalu mendampingi anaknya?, haruskah orang tua keluar dari tempat kerjanya?... Tidak... Itu bukanlah solusi. Jika itu yang dilakukan mungkin akan menyebabkan permasalahan baru.

Baiklah, marilah di sini kita belajar bagaimana menemukan bakat anak dari pak Munif Chatib dalam bukunya 'Orangtuanya Manusia'. Ada beberapa hal yang perlu kita ketahui: Pertama, orang tua sangat penting mengetahui rasa suka anak terhadap sebuah aktivitas. Rasa suka terhadap sebuah aktivitas itu sebenarnya berasal dari keinginan otaknya untuk mengetahui sesuatu. Ketika sesuatu itu diketahui oleh anak, dia akan melakukan berulang-ulang, karena sudah mengetahuinya. Sebaliknya, jika tidak dilakukan ulang, berarti aktivitas itu tidak disukainya. Namun, orang tua juga harus tahu bahwa tidak semua aktivitas yang disukai anak adalah bakatnya, mungkin saja ia hanya mengikuti temannya. Nah, yang penting harus diperhatikan oleh orang tua adalah 'jangan menjadi mesin pembunuh bakat anak.' Bagaimana menjadi mesin pembunuh bakat anak? Yaitu, jika melarang anak melakukan aktivitas yang disukainya, selalu menyebut anak dengan sebutan negatif, tidak memberikan kebebasan anak untuk berkekspresi, hukuman yang tidak mendidik, dan memberi tekanan anak terhadap prestasi sekolah.

Kedua, sebagai orang tua kita harus mengetahui ciri-ciri bakat anak. Setiap anak punya potensi masing-masing yang akan berkembang menjadi rasa suka. Apa saja sih ciri-ciri rasa suka yang merupakan bakat anak? (1) Aktivitas yang disukai tidak bisa dibatasi, (2) Bakat biasanya memunculkan banyak momen spesial, (3) merasa nyaman mempelajari aktivitas yang disukai, (4) bakat itu menjadikan anak fast learner (pembelajar cepat), (5) bakat terus-menerus memunculkan minat untuk memenuhi kebutuhan anak, (6) bakat selalu mencari jalan keluar, (7) bakat menghasilkan karya, dan (8) bakat menjadikan anak menyukai unjuk penampilan. Bakat itu seperti tunas, harus disiram, diberi pupuk dan dijaga agar menjadi pohon yang besar dan kuat.

Ketiga, orang tua harus mampu menjelajah kemampuan anak meskipun sekecil debu. Untuk menjelajah ini orang tua perlu kepekaan, mereka tidak akan berputus asa ketika belum menemukan kemampuan anaknya untuk saat ini, mereka akan terus mencarinya esok, lusa hingga menemukan kemampuan tersebut. Biasanya kesulitan orang tua menemukan kemampuan anaknya karena orang tua tidak peka terhadap aktivitas anak yang sebenarnya dapat dimaknai sebagai kemampuan. Selain itu orang tua seringkali 'malas' menjelajah kemampuan anaknya.

Nah, mulai sekarang, marilah kita sebagai orang tua gemar melakukan penjelajahan untuk menemukan bakat anak, yaitu dengan selalu memberi apresiasi terhadap kemampuan anak, agar dalam diri anak akan terbangun konsep diri positif. Dengan terbangunnya konsep diri anak, maka akan terbangun pulan kepercayaan diri. Kebiasaan memberikan apresiasi dapat dilakukan melalui pujian yang tepat, mendoakan kebaikan anak, dan memberikan hadiah. Selain memberikan apresiasi seperti di atas, orang tua dapat melakukan kebiasaan menulis kisah dan simbol sukses anak. Jangan sia-siakan hadirnya sang Bintang di rumah kita... Love u full my sons.

sampul buku Pena Bunda 1

Eni Setyowati

Banyak orang menganggap bahwa menulis itu sulit. Ingat, Allah telah memberi kelebihan kepada kita dibanding makhluk lain berupa akal. Salah satu tujuan diberikan akal agar manusia mampu berpikir. Berkat kemampuan berpikir itulah, pastinya kita semua juga diberi kemampuan untuk menulis. Jadi saya sangat yakin bahwa kita semua pasti bisa menulis. Menulis seperti apa? Menulis apapun. “Kalau menulis biasa saja saya bisa, sejak kecil kan kita sudah diajari menulis?” Nah...itulah, marilah kita ubah menulis yang biasa saja itu menjadi luar biasa.

Banyak orang merasa minder dan takut saat mulai menulis. Pertanyaannya...apakah rasa minder dan takut itu akan kita bawa terus-menerus, ataukah kita ingin menghilangkannya? Saya rasa semua orang mempunyai keinginan untuk menghilangkan rasa minder dan takut dalam menulis. Untuk itu...kita harus berusaha sekuat tenaga untuk menghilangkan rasa itu. Caranya bagaimana? Dengan menumbuhkan rasa percaya diri. Yakinkan bahwa diri kita bisa. Acuhkan omongan orang lain, acuhkan bisikan-bisikan syetan yang menghalangi rasa percaya diri kita. Pikirkan bahwa orang yang mencomooh tulisan kita belum tentu ia mampu membuat tulisan dan belum tentu tulisannya sebagus tulisan kita. Tulisan itu relatif, jadi jangan bingung akan kualitas tulisan kita. Kita tidak akan tahu kualitas kita, jika kita belum pernah mencoba untuk menulis.

Apakah tulisan yang bisa dijadikan buku itu harus tulisan yang berkualitas, tentang sesuatu yang waauuu.... Oh, tentu saja tidak. Apapun tulisan kita, bisa dijadikan buku, tinggal kita meramunya sedikit, maka akan bisa menjadi buku. “Apakah catatan harian kita bisa dijadikan buku?” Siapa bilang tidak bisa? Tentu sangat bisa. “Apakah tulisan saya di status facebook bisa dijadikan buku?” Sangat bisa sekali. Saya bicara seperti ini tidak omong kosong ya... Salah satu buku saya yang sudah terbit adalah kumpulan dari beberapa tulisan saya di status facebook. Kok bisa? Iya... saat itu saya berpikiran, daripada tulisan-tulisan di facebook itu berserakan, alangkah baiknya jika tulisan itu saya kumpulkan, saya ramu sedikit dan saya jadikan buku. Dan, alhamdulillah buku itu akhirnya telah terbit.

sampul buku pena bunda 2

Buku itu saya beri judul “Pena Bunda: Sebuah Cinta Tak Terbatas”. Mengapa saya memberinya judul seperti itu? Karena, buku itu berisi catatan-catatan saya yang merupakan pengalaman saya dalam mengaktualisasikan diri, serta pengalaman saya dalam kebersamaan dengan keluarga. Aktualisasi diri bagaimana yang dimaksud? Begini ceritanya, selain saya membaca buku-buku yang wajib saya baca untuk bahan mengajar atau keperluan akademis, saya juga suka membaca buku umum di berbagai bidang, baik itu buku agama, motivasi, kesehatan, maupun lainnya untuk menambah wawasan saya. Saat saya membaca itulah, saya selalu merekam isi buku, yang kemudian saya tuangkan dalam tulisan singkat. Selanjutnya, rekaman itu saya unggah di status facebook. Daripada saya mengunggah status facebook yang tidak berguna, lebih baik saya menggunggah catatan-catatan dari kegiatan saya membaca. Terkait pengalaman saya bersama dengan keluarga, entah itu kegiatan liburan, mendampingi sang anak, ataupun kegiatan di rumah, seringkali saya rekam juga dalam tulisan. Kalau dulu, waktu kita masih remaja seringkali membuat diary, saya kira hampir samalah catatan itu dengan diary. Catatan-catatan itu kemudian saya unggah di facebook. Awalnya saya hanya ingin menyimpannya di facebook saja, lambat laun saya mempunyai keinginan untuk membukukan catatan itu menjadi sebuah buku. Alhamdulillah keinginan itu terwujud.

Nah....tidak sulit kan menulis buku? Jika ada kemauan pasti bisa. Pastinya harus dengan mencoba. Apakah mungkin emak-emak bisa juga membuat buku? Woooo jangan menyepelekan emak-emak. Ingat THE POWER OF EMAK-EMAK. Emak-emak harus bisa juga donk membuat buku. “Apakah emak-emak yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga juga bisa membuat buku?” Harus bisa dan pasti bisa. Justru mereka mempunyai waktu lebih bersama keluarga, di situlah banyak cerita bersama keluarga yang bisa dituliskan, bisa juga membuat buku tentang resep masakan. Tinggal kemauan saja. Ayo para emak-emak semangat. Bayangkan jika Anda tiba-tiba mempunyai karya buku, pastinya suami dan anak-anak akan terkejut, dan akan kagum serta bangga pada Anda. Buku yang berisi catatan Anda bisa dijadikan kado ulang tahun pernikahan...keren kan? Bisa juga sebagai kado saat hari anak ataupun saat hari ibu. Ayo emak-emak kita mulai menulis dan membuat buku.

Menulis buku tidak harus sendiri, bisa juga dilakukan dengan menulis keroyokan. Jadi, dalam satu buku, terdapat banyak penulis. Kita hanya menulis sekitar 3-5 halaman saja. Jika tulisan-tulisan itu terkumpul, akan menjadi sebuah buku dengan banyak penulis. Emak-emak pastinya mempunyai komunitas kan? Entah itu komunitas pengajian, arisan, wali murid ataupun yang lain. Nah komunitas itu bisa diajak untuk menulis keroyokan dan terbitlah sebuah buku. Keren kan!!! Buku seperti ini biasa disebut dengan buku antologi atau book chapter. Jika tulisan itu sudah selesai, bagaiamana proses menjadikan buku yang bisa diterbitkan? Anda tidak usah bingung, banyak penerbit yang bisa Anda lihat di web. Tinggal Anda ingin memilih penerbit mana. Anda bisa menanyakan terkait bagaimana menerbitkan buku, pihak penerbit pastinya akan senang menjelaskan prosesnya kepada Anda. Jika masih bingung, bisa kontak saya ya.... Saya siap membantu. Anda, emak-emak yang sangat ingin menulis buku silahkan like, komen tulisan ini. Anda juga dapat inbox facebook saya (FB: Eni Setyowati) atau email ke enistain76@yahoo.com agar lebih privasi, yang selanjutnya bisa dilanjutkan komunikasi via whatsapp. Jangan ditunda-tunda, mulailah menulis dari sekarang. Salam Literasi.

7 Comments

Eni Setyowati

Entah sudah berapa kali saya telah mengikuti seminar maupun pelatihan tentang literasi. Hari ini, Selasa (28 Juli 2020) saya mengikuti kembali acara semacam itu. Kali ini diadakan oleh komunitas literasi di Tulungagung yang berjulukan Sahabat Pena Kita (SPK) Tulungagung. Anggota SPK Tulungagung berasal dari berbagai profesi. Ada mahasiswa, guru, maupun dosen. Apapun itu profesinya, tujuannya hanya satu, yaitu memajukan literasi di Tulungagung dan sekitarnya.

**********
Pertengahan Juli 2020, saya telah menjadi bagian dari komunitas SPK Tulungagung. Ceritanya, pada suatu hari ada WA dari senior literasi Tulungagung, yaitu pak Ngainun Naim. Beliau menawarkan kepada saya untuk bergabung di grup ini. Tawaran itu langsung saja saya iyakan. Akhirnya sayapun dimasukkan di grup ini oleh Pak Naim. SPK Tulungagung merupakan anak dari SPK pusat. Saya sendiri sejak 2018, juga telah bergabung menjadi anggota di SPK pusat. Baik SPK pusat maupun SPK cabang sebenarnya mempunyai tujuan yang sama yaitu untuk memajukan literasi, meskipun dengan kebijakan yang berbeda.

Terus terang, saya kurang begitu tahu, kapan sejatinya komunitas litetasi di Tulungagung yang kemudian menjadi SPK Tulungagung ini mulai aktif, karena sejak saya bergabung di grup itu, kegiatan literasi sudah aktif. Saya tidak mempermasalahkan kapan grup ini dimulai, yang penting bagi saya dapat berkontribusi di dalam grup ini.

Setoran tulisan dalam bentuk tulisan di blog merupakan ciri khas dari grup ini. Setiap minggu harus wajib menyetorkan tulisan dalam blog sesuai jadwal yang disepakati. Selain itu tulisan sunnah juga disarankan kepada anggota untuk semakin meningkatkan kualitas menulisnya.

Kebijakan untuk menulis di blog ini, memberikan dampak positif bagi saya. Blog saya yang selama ini jarang saya isi, alhamdulillah kini aktif dengan tulisan lagi. Terimakasih pada SPK Tulungagung. Teman-teman baru telah menambah saudara dan pengalaman baru bagi saya.

**********

IMG-20200728-WA0019

Diskusi dan Launching SPK Tulungagung

Saat itu saya membaca flyer yang dishare oleh pak Ngainun Naim. Ternyata adalah kegiatan diskusi sekaligus launching SPK Tulungagung. Sayapun, kemudian membatin, "oh ternyata grup ini masih baru, lha ini masih mau dilaunching". Flyer ini telah menjawab pertanyaan dalam hati saya, yang sebelumnya saya takut menanyakan di grup...hehehe.

Hari itupun tiba. Selasa, 28 Juli 2020, saatnya acara diskusi dan launching SPK. Kebetulan di hari yang sama, saya juga mempunyai agenda lain, yaitu menguji tesis 5 mahasiswa mulai pukul 08.00 WIB sampai selesai. Di pagi itu, saya segera menyiapkan segala keperluan untuk menguji tesis serta dapat mengikuti acara diskusi dan launching SPK Tulungagung. Sebelum jam 08.00, saya telah menyiapkan tempat, dua laptop, colokan dan segala keperluan lain. Tempat yang saya pilih adalah di mushola rumah. Sebenarnya, saya biasanya mengikuti webinar ataupun semacamnya berada di ruang kerja. Namun, ternyata kondisi di ruang kerja kurang bagus untuk webinar, karena banyak cahaya, akibatnya wajah saya di video selalu hitam. Tempatpun sudah siap dengan dilengkapi dua meja, karena memang ada dua laptop. Laptop satunya untuk menguji tesis dan yang satunya lagi untuk mengikuti acara launching SPK Tulungagung.

Alhamdulillah kedua kegiatan itu berjalan lancar. Ujian tesis telah berjalan selama satu jam. Saat itu saya lihat jam, menunjukkan pukul 09.00. Segera saya buka laptop satunya dan segera saya klik link zoom untuk mengikuti acara diskusi dan launching SPK Tulungagung. Sekitar beberapa menit saya tunggu, belum ada respon dari host untuk meng-admit saya. Sayapun membatin, "jangan-jangan linknya diganti, jangan-jangan saya salah klik, jangan-jangan laptop saya bermasalah, padahal sudah jam 9 lebih". Akhirnya kutanyakanlah di grup...ternyata acaranya masih di mulai jam 10.00. Ya Allah...ternyata saya terlalu bersemangat hehehe.

Sekitar pukul 09.30, forum diskusi dan launching SPK dibuka. Pada pukul 10.00 acarapun dimulai. Sebagaimana yang ada di flyer, acara ini dipandu oleh ketua SPK Tulungagung mas Thoriqul Aziz sebagai moderator, pak Dr. Ngainun Naim (penasehat SPK pusat) sebagai pengantar, dan Dr. M. Arfan Muamar (ketua SPK pusat) sebagai narasumber serta Mas Fahrudin sebagai host.

Acarapun dimulai, mas Thoriqul Aziz, sebagai moderator di awal acara menyampaikan sedikit cerita tentang SPK Tulungagung ini. Dilanjutkan acara berikutnya adalah pengantar dari Dr. Ngainun Naim. Di pengantarnya, pak Naim menyampaikan tentang terbentuknya SPK Tulungagung, kepengurusan dan kebijakan yang ada. Sebagaimana biasanya, pak Naim selalu mengajak siapa saja untuk selalu semangat membaca dan menulis. Menulis dan terus menulislah, karena jika pengen bisa menulis hanya satu syaratnya yaitu menulis itu sendiri. Pak Naim, juga menyampaikan bahwa beliau selalu siap membimbing dan memotivasi anggota grup yang merasa kesulitan memulai dalam menulis.

Acara berikutnya adalah pemaparan materi oleh narasumber, pak Dr. M. Arfan Muamar. Saya biasa memanggil beliau pak Arfan. Sungguh luar biasa yang disampaikan oleh pak Arfan. Materi pak Arfan kali ini lebih kepada mengatasi minder dalam menulis. Ini materi yang pas disampaikan di grup yang baru ini. Memang, awal ketakutan yang banyak dialami dalam menulis adalah rasa minder. Rasa minder ini dikarenakan adanya rasa takut salah, takut tulisan jelek dan ketakutan-ketakutan lainnya. Rasa ini pun pernah saya alami dulu saat awal belajar menulis. Hanya ada satu cara untuk mengatasi rasa minder ini. Pak Arfan menyebutnya harus percaya diri (PD). Ya..benar...hanya PD lah yang bisa mengatasi rasa minder. Sayapun juga merasakan, bagaimana saya dulu tidak PD menulis, tapi lambat laun saya terus berusaha. Saya harus bisa, saya harus PD, singkirkan pikiran yang macam-macam, jangan peduli komentar orang lain, jadikan komentar orang lain sebagai cambuk untuk kita tetap semangat, tunjukkan kita bisa. Setelah rasa-rasa itu telah tersemat di hati saya, rasa percaya diripun tumbuh di hati saya. Akhirnya saya mulai berani untuk menulis. Menulis dimanapun saja. Termasuk menulis status di facebook (FB).

Berbicara tentang menulis di FB, sebenarnya sangatlah sulit. Mengapa saya katakan sulit, karena status kita akan dibaca orang. Dan tentunya kita harus siap berbagai komentar, tapi biarlah...karena mungkin sudah PD menyebabkan saya sudah kebal. Selama tulisan itu tidak merugikan siapapun tak masalah. Bahkan, dari kumpulan tulisan saya di status FB itu, kini telah menjadi sebuah buku.

Kembali ke acara diskusi dan launching SPK Tulungagung. Selain paparan dari pak Arfan, alhamdulillah juga hadir penasehat SPK pusat, pak M. Khoiri yang lebih dikenal dengan sapaan pak Emcho. Pak Emcho pun menambahkan wawasan terkait dunia tulis-menulis. Dengan gaya yang santai namun berisi, pak Emcho menceritakan bagaimana pola tulisan maupun trik-trik menulis.

Benar-benar ilmu yang sangat bermanfaat bagi saya. Saya tak pernah merasa puas kalau belajar literasi. Belajar dan terus belajar selalu saya lakukan. Terimakasih kepada para narasumber dan teman-teman SPK Tulungagung, semoga acara ini membangkitkan kita dalam menulis. Semoga ini awal dari kesuksesan SPK Tulungagung ke depan. Aamiin YRA. Salam Literasi.

Oleh: Eni Setyowati

Dan agar orang-orang yang telah diberi ilmu, meyakini bahwasanya Al Quran itulah yang hak dari Tuhan-mu lalu mereka beriman dan tunduk hati mereka kepadaNya dan sesungguhnya Allah adalah Pemberi Petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus. (Q.S. Al-Hajj:  54)

Ayat di atas menunjukkan bahwa begitu tingginya kedudukan ilmu bagi manusia. Namun, manusia tidak boleh sombong dengan ilmu yang diperolehnya. Ilmu harus digunakan sesuai dengan petunjuk Al-Qur’an. Kita tahu bahwa keutamaan manusia dibanding makhluk lain adalah karena manusia diberi ilmu oleh Allah SWT. Bahkan di dalam Al-Qur’an menggunakan kata ‘ilm dalam berbagai bentuk dan artinya, sebanyak 854 kali. Salah satu pengertian ilmu seperti dalam QS. Al Baqarah ayat 31-32, adalah sebagai “proses pencapaian pengetahuan dan objek pengetahuan”. Jadi, “ilmu mencakup segala macam pengetahuan yang berguna bagi manusia dalam kehidupannya, baik masa kini maupun masa depan”.

Rasulullah SAW sudah sejak awal mengajarkan pentingnya ilmu pengetahuan. Beliau bersabda: “Carilah ilmu, karena barang siapa yang memperoleh ilmu di jalan Allah, sama halnya melakukan kesalihan; barang siapa yang membicarakan ilmu pengetahuan sama halnya memuji Allah; barang siapa yang mencarinya sama halnya memuja Allah; barang siapa yang mengajarkan pengetahuan sama halnya memberikan sedekah; dan barang siapa mengajarkan dengan maksud yang benar sama halnya dengan mengabdi kepada Allah”.

Pada dasarnya ilmu terdapat dua hal, yaitu ilmu abadi dan ilmu yang dicari. Ilmu abadi merupakan ilmu yang berdasarkan wahyu Illahi yang tertera di dalam Al-Qur’an dan Hadits yang bersifat mutlak atau hakiki, sedangkan ilmu yang dicari merupakan ilmu sains serta terapannya, dimana ia bersifat dapat berubah atau berkembang. Pada tulisan ini hanya akan membahas tentang jenis ilmu yang kedua yaitu ilmu yang dicari atau sains.

Di dalam QS. Al-‘Ankabut ayat 20, menunjukkan bahwa objek ilmu mencakup batas-batas alam materi, sehingga ilmu itu dapat dipahami, serta dianjurkan untuk melakukan observasi dan eksperimen. Selain itu, dalam QS. An-Nahl ayat 78 juga menganjurkan agar manusia menggunakan akal dan intuisinya. Anjuran menggunakan akal dan intuisi ini dikarenakan keterbatasan dari ilmu manusia. Kegiatan melakukan observasi dan eksperimen inilah yang merupakan manifestasi dari ilmu sendiri. Manifestasi ilmu itu harus dapat memberikan manfaat dan kemudahan kepada seluruh umat, serta harus mampu membawa kebahagiaan ke seluruh penjuru dan sepanjang masa.

Manifestasi ilmu ini telah mengalami perkembangan yang sangat pesat. Berbagai perkembangan ilmu di berbagai bidang menunjukkan bahwa betapa pentingnya ilmu bagi kesejahteraan umat. Sebagai contoh manifestasi ilmu kimia. Kimia, sebagai ilmu, tak terbantahkan lagi merupakan temuan kaum muslimin. Abu Musa Jabir adalah bapak ilmu kimia yang sebenarnya. Selain itu, ilmu kedokteran dan ilmu bedah juga merupakan bukti terbaik dan genius muslim. Tak diragukan lagi, ilmu kedokteran mencapai tingkat kesempurnaan di kalangan orang Yunani, tapi orang Arab mengembangkannya jauh melampaui tahapan yang dicapai leluhur mereka dan turut menyumbang peradaban dan membawa ilmu kedokteran menjadi begitu dekat dengan standar ilmu kedokteran modern.

Ilmu tentang obat-obatan, merupakan karya orang Arab. Mereka menemukan kimia farmasi dan merupakan pendiri pertama lembaga yang kini disebut apotek. Mereka mendirikan rumah sakit umum, rumah penyembuhan dan menjalankan rumah sakit tersebut. Ibnu Sina, tak diragukan lagi merupakan orang paling berbakat pada zamannya. Sebagai seorang filsuf, ahli matematika, astronom, penyair, dokter, ia meninggalkan pengaruhnya yang besar pada dua benua dan pantas mendapat gelar Aristoteles dari Timur.

Selanjutnya adalah Ibnu al-Nafis. Ibnu al-Nafis adalah ilmuwan yang berasal dari Damaskus. Ia mempunyai kontribusi yang besar dalam bidang kedokteran atau medis. Ia juga sebagai ilmuwan pertama yang menjelaskan tentang teori pembuluh darah kapiler. Teorinya secara akurat mampu menjelaskan bagaimana peredaran darah di dalam tubuh manusia. Ibnu al-Nafis juga dikenal sebagai “bapak fisiologi peredaran darah”.

Ilmuwan lainnya adalah Ibnu Khaldun. Siapa yang tidak mengenal Ibnu Khaldun? Ibnu Khaldun adalah ilmuwan yang berasal dari Tunisia. Ia juga dikenal sebagai bapak historiografi (ilmu metode pengembangan sejarah), sosiologi (ilmu tentang perilaku sosial), dan ekonomi (ilmu tentang aktivitas manusia yang berkaitan dengan produksi, distribusi dan konsumsi). Karya Ibnu Khaldun yang terkenal adalah Muqaddimah. Bahkan, ia  telah hafal Al-Qur’an sejak usia dini.

Selain beberapa ilmuwan muslim di atas, tentunya masih banyak ilmuwan muslim yang tidak saya sebutkan di sini. Contoh-contoh manifestasi ilmu di atas, menunjukkan kebebasan intelektual dari dunia Islam, dengan tetap menjaga keaslian sifat Islam. Islam telah membuktikan dirinya sebagai pendukung dan penyokong pada kehidupan ilmu pengetahuan dan peradaban.

Oleh: Eni Setyowati

Kegemaranku terhadap buku sebenarnya dimulai dari koran langganan ayah. Ayahku bukan guru atau profesi lain yang mengharuskan membaca buku, tapi ayahku adalah seorang pedagang, sedangkan ibuku hanya ibu rumah tangga yang membantu ayah dalam berdagang. Awalnya toko ayah hanya merupakan kios kecil, alhamdulillah lambat laun menjadi sebuah toko yang cukup besar. Meskipun hanya sebuah kios kecil, kegemaran ayah membaca koran tak menyurutkan niatnya untuk berlangganan koran harian.

Tentang buku, ayah jarang bahkan bisa dikatakan tidak pernah membaca buku, ya hanya dari koran itulah bacaan ayah setiap hari. Namun demikian jika bicara masalah pendidikan putra-putrinya ayah tidak kalah dengan orang tua yang berpendidikan tinggi.  Masih teringat saat itu, ayah sedang membaca koran, dalam usiaku yang masih TK, muncul rasa ingin tahuku yang sangat besar tentang bagaimana caranya membaca koran. Waktu itu terbersit pertanyaan dalam diriku bagaimana membacanya kok bentuknya berupa kolom-kolom. Akupun bertanya kepada ayah, meskipun saat itu aku belum bisa membaca dengan lancar, ayahpun mengajari urutan membaca koran. Seiring dengan waktu, aku dikenalkan juga oleh ayah dengan komik, awalnya juga bingung bagaimana urutan membaca komik dan ayahpun mengajarinya.

Masuk usia sekolah dasar, saat itu usiaku masih 5 tahun (dulu usia 5 tahun bisa masuk SD, maklum SD di kampung) baru aku mengenal namanya buku pelajaran. Di situlah aku mulai belajar membaca sehingga menjadi lancar dan menambah ilmu yang kudapatkan dari sekolah. Bicara tentang buku pelajaran atau buku diktat, aku selalu punya paling duluan dibanding teman-teman di kelas, karena ayah selalu membelikan buku secepatya jika ibu guru sudah memberitahu buku yang akan digunakan.

Waktu berlalu hingga aku menginjak remaja, selain koran, komik, buku pelajaran, aku mulai diperkenalkan dengan majalah untuk remaja. Saat itu masih teringat majalah remaja pertama yang aku beli adalah ANEKA. Hingga masuk SMA ayah selalu membelikan buku pelajaran yang paling awal, sekaligus buku penunjang (buku soal-soal) meskipun pada saat itu buku kumpulan soal-soal masih sedikit tidak seperti sekarang ini. Bahkan ayah sampai membelikannya di kota Kediri atau Malang, jika di Tulungagung tidak ada.

Kebiasaan ayah mengenalkan aku tentang dunia membaca lewat koran hingga berburu buku pelajaran, menurun pada diriku. Pada saat aku kuliah, berburu buku adalah pekerjaan yang menyenangkan jika ada waktu luang, tapi karena masih keterbatasan kiriman uang dari orang tua, berburu buku yang paling sering adalah di blok M (kios buku bekas/bajakan di jalan Majapahit kota Malang). Jikapun ke Gramedia biasanya hanya membaca sampai ber jam-jam tapi tidak membeli hehehe. Hingga kini bukuku semasa kuliah masih ada di rumah orang tua, dan masih tertata rapi di almari. Ayah dan ibu tetap menyimpannya, sengaja tidak aku bawa ke rumah karena rumah juga sudah penuh buku.

Waktu berlalu dan akhirnya aku menempuh S2 dan S3 dengan beasiswa, sehingga berburu buku dengan membelinya cukup terpenuhi. Hingga akhirnya di kamar kos terasa penuh buku, apalagi sewaktu S3. Saat inipun berburu buku masih aku lakukan, jenis bukunya pun mulai berkembang dari berbagai bidang. Di rumah rak bukupun sudah tidak muat untuk diisi buku lagi, sehingga sebagian buku terpaksa dimasukkan di almari lain, belum bukunya suami dan anak-anak....hingga rumah terasa gudang buku hehehe...

Kisahku waktu dulu, kini terkenang saat aku mengenalkan buku kepada anak-anakku. Alhamdulillah jika ada bursa buku murah atau akhir pekan kami selalu sempatkan mengunjungi toko buku. Dan kini anak-anakpun juga menyukai buku. Si sulung saat masuk SMA mulai aku perkenalkan dengan karya tulis ilmiah, dengan harapan melalui karya tulis ilmiah ia akan terbiasa membaca, menulis dan melalukan penelitian. Seperti halnya diriku, koleksi buku anakku pun kini sudah memenuhi ruangan di rumah. Bahkan koleksi majalah Bobo dan Sains Kuark si kecil mulai pertama kali langganan tidak boleh hilang atau diberikan orang lain atau diloakkan karena sesekali masih dibacanya karena cerita di majalah Bobo dan Kuark asyik-asyik.

Kini akupun selalu berdoa semoga anak-anakku pun juga akan menyukai buku, mambaca dan mampu menulis buku. Alhamdulillah, membaca buku kini digemari anak-anakku. Si sulung lebih menyukai buku tentang motivasi. Buku-buku motivasi orang sukses telah memenuhi rak bukunya. Setiap pulang acara dari luar kota, buku adalah oleh-oleh wajib yang selalu dibawanya. Demikian juga dengan si kecil, ia lebih suka komik dan cerita petualang. Beda dengan sang kakak, si kecil sudah mulai belajar menulis, apalagi ditunjang oleh program sekolahnya yang mendukung literasi. Kini si kecil telah mempunyai satu karya buku yang siap terbit. Saat ini sudah berada di penerbit, proses menunggu buku itu terbit. Selain itu si kecil kini mulai mencoba untuk mengikuti semacam lomba menulis. Baru kemarin ia menyetorkan naskah cerpennya untuk ikut lomba. Bukan kalah atau menang yang hebat, tapi prosesnya yang patut diacungi jempol. Sebagai orang tua, tentunya sangat bangga melihat anaknya mau berproses dalam dunia literasi. Semoga mereka selalu menjadi anak yang menjadi kebahagian bagi orang tuanya. Aamiin YRA.

Eni Setyowati

Di jaman now, semuanya serba modern,  serba instan dan serba canggih. Sayangnya dengan kemajuan jaman tidak diiringi dengan akhlak yang baik. Sesungguhnya akhlak yang baik itu adalah sebagian dari iman, buah perjuangan batin orang-orang yang bertakwa. Sedangkan akhlak yang buruk adalah racun yang mematikan dan pembawa kebinasaan dan kehinaan yang merendahkan, serta kejahatan yang menjauhkan manusia dari hadirat Allah, dan menyeretnya ke dalam jalan setan yang terkutuk.

Bicara tentang jaman now, saya teringat pada kandungan falsafah Jawa "serat kalatidha". Serat kalatidha merupakan gubahan Ranggawarsita yang melukiskan tentang keadaan jaman Gemblung, yaitu jaman dimana manusia dihadapkan pada sesuatu yang merepotkan dan membingungkan. Marilah kita lihat kembali terjemahan dari serat kalatidha tersebut. "Keadaan negara yang demikian merosot. Karena tidak ada lagi yang memberi teladan. Para cerdik pandai terbawa arus jaman yang penuh keragu-raguan. Suasana mencekam karena dunia sudah penuh masalah. Semua pemimpin baik, tetapi tidak menghasilkan kebaikan. Masalah semakin banyak. Hati rasanya menangis penuh kesedihan karena dipermalukan. Karena perbuatan seseorang yang selalu memberi harapan. Karena ada pamrih untuk mendapatkan sesuatu. Karena terlalu banyak kabar angin yang beredar. Hasilnya hanya mengakibatkan kesusahan."

Cuplikan terjemahan tersebut menunjukkan situasi di jaman now. Orang seringkali menyebutnya dengan jaman edan. Di jaman edan atau jaman gemblung ini persaudaraan antar sesama mulai terkikis, yang dekat seakan jauh, sebaliknya yang jauh terasa dekat. Semuanya serba maya, bahkan seringkali kita disuguhi oleh berita-berita, sikap dan perilaku yang serba maya. Pada terjemahan serat kalatidha di atas, salah satu keadaan disebutkan “terlalu banyak kabar angin”, nah saat ini hal tersebut telah terjadi. Sesungguhnya di jaman now bisa dijadikan cermin dalam menimbang hal baik dan buruk. Oleh karena itu, di jaman now ini adalah waktu yang tepat untuk berserah diri pada Tuhan dan waspada. Hal ini sejalan dengan pandangan Ranggawatsita, "beruntungnya orang yang lupa, masih lebih beruntung orang yang selalu ingat dan waspada". Dengan kewaspadaan, manusia tidak mudah tergoda dengan sesuatu yang tampak gemerlap namun menjerumuskan, dan akan mampu mengendalikan segala keinginan. Selain itu kita harus terus berikhtiar dengan melakukan kebajikan. Perihal hasil dari ikhtiar itu, hendaklah diserahkan kepada kebijaksanaan Tuhan. Inilah sikap optimis dan arif yang harus dilakukan di jaman now. Bersikap sabar juga sangat dibutuhkan di jaman now. Dengan selalu sabar manusia akan menjadi tenang. Dengan ketenangan manusia akan tahu mana yang baik dan yang buruk.

Dengan sikap-sikap di atas, inshaAllah kita akan dapat menghadapi kejahatan jaman now, yang dapat mengoyak ukhuwah islamiyah atau persaudaraan yang telah ditanamkan oleh junjungan kita Nabi Muhammad saw. Ingat...penjahat itu ibarat burung enggang, berparuh besar namun tak dapat terbang. Ia selalu berpikir serta berbuat untuk kepentingan pribadi. Tidak senang bila melihat orang lain memiliki kemampuan, dan sebaliknya sangat senang jika melihat orang lain bodoh. Ia selalu memyembunyikan borok-boroknya sendiri dan suka membongkar borok orang lain. Iri hati dan suka memfitnah. Ia suka disanjung daripada dikritik, karena merasa dirinya paling hebat, sekalipun tidak pernah membuktikan kehebatannya. Pengetahuannya terbelenggu di dalam sarangnya hingga kehebatan yang dikoar-koarkan sekadar kata-kata hampa. Di jaman now sering disebut sebagai penebar hoax.

Semoga kita selalu dihindarkan dari penjahat seperti itu. Dan kita selalu bisa menjaga ukhuwah islamiyah. Aamiin Ya Rabbal Alamin.