Renungan hari ini, 27 Juni 2018
#Hari Pilkada....jadi ingat tulisan setoran WAG beberapa bulan yang lalu tentang kepemimpinan.

MEMIMPIN DIRI SENDIRI DENGAN KESADARAN KOSMIK

Oleh: Eni Setyowati

Memimpin orang lain tidak sesulit memimpin diri sendiri. Seseorang bisa berhasil memimpin orang lain, tetapi belum tentu berhasil memimpin dirinya sendiri. Memimpin diri sendiri lebih sulit daripada memimpin orang lain. Banyak orang sukses menggerakkan orang lain, memberikan petunjuk dan membimbingnya, tetapi hal itu tidak mudah dilakukan untuk dirinya sendiri. (Imam Suprayogo)

Begitu tema tulisan kali ini tentang kepemimpinan, seketika itu saya langsung teringat dua buku yang cukup menarik bagi saya tentang kepemimpinan. Buku tersebut adalah “Memimpin Sepenuh hati” karya Imam Suprayogo dan “Cosmic Intelligence” karya Aas Rukasa. Setelah saya tuntas membaca kedua buku tersebut, ada satu hal yang saling berkorelasi antara tulisan Imam Suprayogo dan Aas Rukasa.

Dari beberapa isi dari buku Imam Suprayogo, satu hal yang harus dipahami oleh seorang pemimpin adalah kemampuan untuk memimpin diri sendiri terlebih dahulu. Bagi seorang pemimpin entah itu pemimpin jaman old maupun pemimpin jaman now, kemampuan untuk memimpin dirinyalah yang paling pertama dan utama sebelum ia mampu memimpin orang lain. Banyak pemimpin yang sukses memimpin orang lain tetapi tidak sukses memimpin dirinya sendiri. Hal ini tentunya tidak sesuai dengan perintah Allah, yaitu bahwa seorang pemimpin harus menjadi uswah atau tauladan bagi yang dipimpinnya.

Pada tulisan ini saya akan lebih memfokuskan pada memimpin diri sendiri. Salah satu isi dari buku Imam Suprayogo disebutkan bahwa “banyak pemimpin yang sukses memimpin orang lain, memimpin perusahaan, tetapi tidak mampu memimpin dirinya sendiri.” Betapa sulitnya memimpin diri sendiri, sehingga Allah menurunkan kewajiban untuk umatnya melalui puasa Ramadhan. Bagi umat muslim diwajibkan menjalankan puasa Ramadhan. Melalui puasa akan melatih seseorang untuk jujur dan melakukan hal-hal yang baik tanpa ada pengawasan. Ia akan melakukan niat sendiri, menjalankan puasa sendiri, dan mengevaluasinya sendiri. Dalam hal ini, puasa menjadi kegiatan yang sifatnya sangat pribadi. Sehingga puasa merupakan media untuk melatih manusia memimpin dirinya sendiri.

Guna mencapai kemampuan memimpin diri sendiri, diperlukan adanya suatu kesadaran. Demikian juga seperti yang dijelaskan di atas, untuk menjalankan puasa yang khusyu’ maka sangat dibutuhkan suatu kesadaran. Kesadaran memiliki arti yang begitu besar bagi kita sebagai manusia yang menjadi makhluk paling menentukan di alam ini. Di dalam bukunya Aas Rukasa disebutkan bahwa kesadaran sesungguhnya merupakan proses kuantum yang bekerja secara terintegrasi dengan pikiran dan tubuh. Kesadaran menggunakan pikiran dan tubuh kita sebagai media sekaligus alat untuk proses pembelajaran dalam meningkatkan kualitas hidup menuju jenjang yang lebih tinggi.Dari paparan di atas, dengan mengolaborasikan tulisan Imam Suprayogo dan Aas Rukasa, maka untuk mampu memimpin diri sendiri diperlukan adanya “kesadaran kosmik”.

Kesadaran kosmik yaitu sebuah kesadaran akibat intelegensia atau kecerdasan yang digali dari pengalaman transpersonal dan melalui transformasi kesadaran hingga mencapai apa yang disebut dengan kesadaran kosmik.

Kesadaran kosmik yang harus dimiliki meliputi: (1) Eliminasi diri. Dalam kurun waktu tertentu seseorang akan mengalami pembersihan ego. Ia akan merasa bahwa egonya telah membuat dirinya menderita; (2) Konsekuensi. Ia akan sampai pada pemahaman bahwa semua aktivitas di dalam hidupnya mengandung konsekuensi. Manusia itu, baik buruknya menjadi tanggung jawabnya; (3) Paradoks. Paradoks berarti berpikir itu dimulai dari jernihnya pikiran sendiri; (4) Kenyamanan dan keindahan. Dalam kondisi ini ia akan menemukan ternyata ada suatu realita yang ukuran kebahagiannya sangat besar melampaui sensor yang ia miliki. Keindahan dalam kondisi ini menjadi sumber energi hidup yang tak pernah habis; (5) Substansi. Ia akan memandang alam itu tak lain dari “Kitab” yang terhampar. Artinya, ke mana mata memandang isinya ilmu. Setiap ada masalah, jawabannya pasti ada di hadapannya. Sedemikian indahnya pemahaman, sehingga ia jadi sangat mengagumi keagungan Tuhan, dan tertarik tanpa bisa dielakkan lagi ingin bertemu dengan Penciptanya; (6) Objektif. Ia menyadari bahwa semua itu bukanlah miliknya. Ia menyadari bahwa semua yang telah dilakukannya belum bisa menjawab hal-hal yang diamati secara menyeluruh; (7) Kefanaan. Kefanaan merupakan proses yang tidak akan terlupakan. Tuhan itu memang absolut, jika diyakini maka ada, jika dirasakan maka ada, jika dibiarkan tetap ada, jika dipungkiri juga tetap ada. Kemanapun larinya, Tuhan berada tanpa jarak dan tanpa batas, tak bisa dilepaskan lagi. Pada level kesadaran kosmik, kondisi pencerahan bisa terjadi, dengan adanya tanda-tanda tertangkapnya ide-ide baru yang cemerlang, aspek keuatan, serta kenyamanan yang semakin tinggi dan luar biasa. Proses pencerahan akhirnya mencapai kondisi yang puncak,dengan diperolehnya pemahaman tentang diri dan Tuhan, atau istilahnya penemuan jati diri. Disinilah menajemen diri sendiri ataupun kemampuan memimpin diri sendiri akan dimiliki oleh seseorang.

Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa, agar seseorang sukses kepemimpinannnya ia harus menjadi uswah atau ketauladanan. Ketauladanan dapat ditunjukkan dari kemampuan ia memimpin dirinya sendiri. Untuk mampu memimpin diri sendiri seseorang harus memiliki kesadaran kosmik.

IMG_20180626_230922

Oleh: Eni Setyowati

"God, Man and Nature", kata-kata itu terpampang nyata di sebuah judul buku saat saya mengunjungi toko buku Toga Mas beberapa hari yang lalu. Pada awalnya tujuan utama saya ke Toga Mas adalah ingin membeli buku latihan persiapan USBN SD, karena saat ini si kecil memasuki kelas 6. Seperti biasa, saya menyusuri rak-rak buku di sepanjang toko baik mulai novel, buku motivasi, pendidikan, sampai pada rak paling selatan yaitu buku pelajaran. Alhasil ketemulah buku latihan USBN SD yang saya maksud dan segera saya masukkan ke dalam tas tenteng belanjaan.

Kemudian saya kembali menuju rak paling utara, di situ terdapat sekelompok buku agama dan didekatnya komik anak KKPK. Dan akhirnya keinginan tak terbendung ketika melihat koleksi KKPK yang baru. Saya ambil 2 buku untuk oleh-oleh si kecil. Kemudian saya lanjutkan menyusuri rak di sebelahnya dan tertuju pada buku warna hitam yang berjudul "Man, God and Nature", yang ditulis oleh Ahmad Sahidah, Ph.D. (Pengajar di Universitas Utara Malaysia/UUM). Tanpa pikir panjang buku tersebut akhirnya masuk ke tas belanjaan juga.

Sesampai di rumah, saya membuka sampul plastik buku hitam tersebut, di halaman judul depan bagian bawah tertuliskan "Perspektif Toshihiko Izutsu.... ". Semakin penasaran setelah melihat nama Toshihiko....(nama dari orang Jepang), tetapi ia ahli studi Al-Qur'an. Terus terang saya baru mendengar nama tersebut (maklum bidang yang saya tekuni selama ini bukan tentang itu). Akhirnya, saya buka lembar demi lembar dan saya pelajari. Tujuan pertama saya adalah ingin mengetahui siapakah Toshihiko Izutsu tersebut? Ternyata Toshihiko Izutsu adalah pakar keislaman Jepang yang karya-karyanya banyak dirujuk dan menginspirasi dalam studi Islam. Ia juga menguasai lebih dari 10 bahasa (ada yang mengatakan 30 bahasa). Ia juga pernah menjadi profesor di Keio University. Ia mengkaji Islam, dalam hal ini kitab suci Al-Qur'an dengan pendekatan semantik (yang tentunya membuat saya harus ekstra dalam mempelajari buku ini....jadi ingat Pak Emco....ahlinya bahasa...hehehe).

Dengan tertatih-tatih akhirnya saya baca dan pelajari pelan-pelan isi buku ini, dengan tujuan ingin mengetahui bagaimana relasi antara Tuhan, manusia dan alam. Ketiganya adalah tema perenial yang mencakup al-dunya wa ma fiha (dunia seisinya termasuk manusia) dan penciptanya. Berangkat dari uraian tentang masalah hubungan Tuhan dan manusia, serta implikasinya terhadap alam, penjelasan Al-Qur'an menjadi sangat penting untuk kemudian dijadikan pijakan tentang cara manusia beragama dan menjalankan keyakinannya terhadap ajaran Tuhan.

Di dalam buku ini dijelaskan bahwa Toshihiko memberikan pemahaman yang mendalam bagi orang-orang yang hendak memahami persoalan ketuhanan dan kemanusiaan. Secara tersirat, hubungan semacam ini juga menunjukkan secara tidak langsung tentang hubungan keduanya dengan alam.

Toshihiko menegaskan, bahwa Al-Qur'an bisa dipahami melalui pelbagai sudut pandang baik teologi, filsafat, sosiologi, tata bahasa maupun takwil. Mengenai Tuhan, manusia dan alam, Toshihiko menyatakan bahwa secara tersirat alam ini perlu dijaga agar ia tetap memancarkan pesona Ilahi sebagai pelajaran untuk manusia. Alam juga merupakan sarana komunikasi Tuhan dengan manusia. Al-Qur'an memandang tempat manusia dalam dua bagian yaitu alam gaib ('alam al-ghayb) dan alam yang terlihat ('alam al-shahadah).

Manusia menjalani hidup dalam dunia yang terlihat (al-shahadah). Alam yang terlihat tersebut juga disebut 'dunya' di dalam Al-Qur'an, yang mempunyai antonim dengan 'akhirah'. Menurut Toshihiko, untuk memahami hubungan Tuhan, manusia dan alam, cukuplah diperhatikan bahwa kata 'al-dunya' termasuk kelompok kata khas, yang biasa disebut sebagai kata "korelasi ", yaitu kata-kata yang berada dalam konsep korelasi seperti "suami" dan "istri", saudara laki-laki" dan "saudara perempuan", dan sebagainya. Secara semantik setiap anggota pasangan tersebut mengandalkan anggota lainnya dan berada pada dasar korelasi itu juga. Seorang laki-laki dapat menjadi seorang "suami" hanya apabila dikaitkan dengan "istri". Dengan kata lain, konsep 'suami' secara tersirat juga mengandung konsep 'istri', demikian juga sebaliknya (hal. 238-239).

Toshihiko membagi hubungan Tuhan, manusia dan alam menjadi empat bagian yaitu ontologi, komunikatif, tuan-hamba dan etik. Kesimpulan dari keempat hubungan tersebut, dapat dianalogikan kepada hubungan Tuhan dan alam, karena di dalam ilmu Tauhid bahwa selain Allah semuanya adalah makhluk. Hubungan manusia dan alam dengan sendirinya mengacu pada perintah Allah. Untuk itu, manusia harus menjaga hubungan yang baik dengan manusia serta memelihara alam karena sebagai hamba tunduk pada apa yang diperintahkan oleh sang tuan. Di satu sisi, manusia diberikan kebebasan karena bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukan (hubungan etik) dan sekaligus di sisi lain, mereka harus tunduk (hubungan tuan-hamba) berkaitan dengan ketentuan yang tidak bisa dijangkakan.

Hubungan Tuhan dan manusia yang ideal menurut Toshihiko adalah ketika manusia menjadi insan yang sempurna atau insan kamil. Pengamatan terhadap alam semesta menjadi pembangkit bagi kesadaran ilahiah. Pengetahuan yang luas akan kealaman hendak membawa seseorang pada pengetahuan tentang Allah semesta. Dengan pernyataan yang lebih tegas lagi, bahwa orang-orang yang mengenal Allah itu memperoleh pengetahuannya dari pembacaan terhadap ayat-ayat Allah yang terdapat dalam alam semesta dan dalam diri manusia, sebagaimana dalam QS. Fuhshilat ayat 53, "Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda Kami di segenap cakrawala dan pada diri mereka sendiri sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur'an itu adalah benar... ".

Tulungagung, 26 Juni 2018

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Sobat-sobat semuanya, selamat datang di blog ini.Perkenalkan, pemilik blog ini adalah Dr. Eni Setyowati, S.P., S.Pd., MM. pengajar di IAIN Tulungagung. Harapan dari blog ini, agar blog ini menjadi sebagai salah satu wadah sumber menambah wawasan, sumber inspirasi baik bagi penulis/pemilik blog maupun bagi pembaca dalam berbagai bidang.

Dengan kemauan, do'a dan keistiqomahan, penulis akan berusaha memaksimalkan blog ini untuk saling berbagai informasi dan diskusi. Baik nantinya berupa tulisan esay, pengalaman, hasil perkuliahan, materi dan tugas perkuliahan, isu-isu dalam pendidikan, saintek dan sebagainya.

Semoga bermanfaat, dan mohon maaf jika saat ini dan kedepan ada yang kurang berkenan dalam blog ini.

Waalaikumsalam Wr. Wb.

Hormat saya,

Dr. Eni Setyowati, S.Pd., MM.

foto eni-1