GOD, MAN and NATURE

IMG_20180626_230922

Oleh: Eni Setyowati

"God, Man and Nature", kata-kata itu terpampang nyata di sebuah judul buku saat saya mengunjungi toko buku Toga Mas beberapa hari yang lalu. Pada awalnya tujuan utama saya ke Toga Mas adalah ingin membeli buku latihan persiapan USBN SD, karena saat ini si kecil memasuki kelas 6. Seperti biasa, saya menyusuri rak-rak buku di sepanjang toko baik mulai novel, buku motivasi, pendidikan, sampai pada rak paling selatan yaitu buku pelajaran. Alhasil ketemulah buku latihan USBN SD yang saya maksud dan segera saya masukkan ke dalam tas tenteng belanjaan.

Kemudian saya kembali menuju rak paling utara, di situ terdapat sekelompok buku agama dan didekatnya komik anak KKPK. Dan akhirnya keinginan tak terbendung ketika melihat koleksi KKPK yang baru. Saya ambil 2 buku untuk oleh-oleh si kecil. Kemudian saya lanjutkan menyusuri rak di sebelahnya dan tertuju pada buku warna hitam yang berjudul "Man, God and Nature", yang ditulis oleh Ahmad Sahidah, Ph.D. (Pengajar di Universitas Utara Malaysia/UUM). Tanpa pikir panjang buku tersebut akhirnya masuk ke tas belanjaan juga.

Sesampai di rumah, saya membuka sampul plastik buku hitam tersebut, di halaman judul depan bagian bawah tertuliskan "Perspektif Toshihiko Izutsu.... ". Semakin penasaran setelah melihat nama Toshihiko....(nama dari orang Jepang), tetapi ia ahli studi Al-Qur'an. Terus terang saya baru mendengar nama tersebut (maklum bidang yang saya tekuni selama ini bukan tentang itu). Akhirnya, saya buka lembar demi lembar dan saya pelajari. Tujuan pertama saya adalah ingin mengetahui siapakah Toshihiko Izutsu tersebut? Ternyata Toshihiko Izutsu adalah pakar keislaman Jepang yang karya-karyanya banyak dirujuk dan menginspirasi dalam studi Islam. Ia juga menguasai lebih dari 10 bahasa (ada yang mengatakan 30 bahasa). Ia juga pernah menjadi profesor di Keio University. Ia mengkaji Islam, dalam hal ini kitab suci Al-Qur'an dengan pendekatan semantik (yang tentunya membuat saya harus ekstra dalam mempelajari buku ini....jadi ingat Pak Emco....ahlinya bahasa...hehehe).

Dengan tertatih-tatih akhirnya saya baca dan pelajari pelan-pelan isi buku ini, dengan tujuan ingin mengetahui bagaimana relasi antara Tuhan, manusia dan alam. Ketiganya adalah tema perenial yang mencakup al-dunya wa ma fiha (dunia seisinya termasuk manusia) dan penciptanya. Berangkat dari uraian tentang masalah hubungan Tuhan dan manusia, serta implikasinya terhadap alam, penjelasan Al-Qur'an menjadi sangat penting untuk kemudian dijadikan pijakan tentang cara manusia beragama dan menjalankan keyakinannya terhadap ajaran Tuhan.

Di dalam buku ini dijelaskan bahwa Toshihiko memberikan pemahaman yang mendalam bagi orang-orang yang hendak memahami persoalan ketuhanan dan kemanusiaan. Secara tersirat, hubungan semacam ini juga menunjukkan secara tidak langsung tentang hubungan keduanya dengan alam.

Toshihiko menegaskan, bahwa Al-Qur'an bisa dipahami melalui pelbagai sudut pandang baik teologi, filsafat, sosiologi, tata bahasa maupun takwil. Mengenai Tuhan, manusia dan alam, Toshihiko menyatakan bahwa secara tersirat alam ini perlu dijaga agar ia tetap memancarkan pesona Ilahi sebagai pelajaran untuk manusia. Alam juga merupakan sarana komunikasi Tuhan dengan manusia. Al-Qur'an memandang tempat manusia dalam dua bagian yaitu alam gaib ('alam al-ghayb) dan alam yang terlihat ('alam al-shahadah).

Manusia menjalani hidup dalam dunia yang terlihat (al-shahadah). Alam yang terlihat tersebut juga disebut 'dunya' di dalam Al-Qur'an, yang mempunyai antonim dengan 'akhirah'. Menurut Toshihiko, untuk memahami hubungan Tuhan, manusia dan alam, cukuplah diperhatikan bahwa kata 'al-dunya' termasuk kelompok kata khas, yang biasa disebut sebagai kata "korelasi ", yaitu kata-kata yang berada dalam konsep korelasi seperti "suami" dan "istri", saudara laki-laki" dan "saudara perempuan", dan sebagainya. Secara semantik setiap anggota pasangan tersebut mengandalkan anggota lainnya dan berada pada dasar korelasi itu juga. Seorang laki-laki dapat menjadi seorang "suami" hanya apabila dikaitkan dengan "istri". Dengan kata lain, konsep 'suami' secara tersirat juga mengandung konsep 'istri', demikian juga sebaliknya (hal. 238-239).

Toshihiko membagi hubungan Tuhan, manusia dan alam menjadi empat bagian yaitu ontologi, komunikatif, tuan-hamba dan etik. Kesimpulan dari keempat hubungan tersebut, dapat dianalogikan kepada hubungan Tuhan dan alam, karena di dalam ilmu Tauhid bahwa selain Allah semuanya adalah makhluk. Hubungan manusia dan alam dengan sendirinya mengacu pada perintah Allah. Untuk itu, manusia harus menjaga hubungan yang baik dengan manusia serta memelihara alam karena sebagai hamba tunduk pada apa yang diperintahkan oleh sang tuan. Di satu sisi, manusia diberikan kebebasan karena bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukan (hubungan etik) dan sekaligus di sisi lain, mereka harus tunduk (hubungan tuan-hamba) berkaitan dengan ketentuan yang tidak bisa dijangkakan.

Hubungan Tuhan dan manusia yang ideal menurut Toshihiko adalah ketika manusia menjadi insan yang sempurna atau insan kamil. Pengamatan terhadap alam semesta menjadi pembangkit bagi kesadaran ilahiah. Pengetahuan yang luas akan kealaman hendak membawa seseorang pada pengetahuan tentang Allah semesta. Dengan pernyataan yang lebih tegas lagi, bahwa orang-orang yang mengenal Allah itu memperoleh pengetahuannya dari pembacaan terhadap ayat-ayat Allah yang terdapat dalam alam semesta dan dalam diri manusia, sebagaimana dalam QS. Fuhshilat ayat 53, "Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda Kami di segenap cakrawala dan pada diri mereka sendiri sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur'an itu adalah benar... ".

Tulungagung, 26 Juni 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>