Monthly Archives: July 2020

2 Comments

IMG-20200731-WA0027

Eni Setyowati

"Bisa membuat keluarga bahagia adalah salah satu momen paling membahagiakan dalam hidup ini. Kesenangan bermula dari kebersamaan bersama orang-orang terdekat, terutama keluarga. Keluarga adalah tempat terbaik untuk kita belajar tentang sebuah pengorbanan".

Sebenarnya, bukan sekali ini saja ketiga pendekarku masuk dapur. Setiap hari mereka selalu masuk dapur, karena kami berempat telah mempunyai tanggung jawab bersama tentang urusan dapur. Aku, sang mama, tentunya tetap mempunyai peran terbesar di dapur. Dapur juga menjadi tempat yang selalu dikunjungi suami mulai dari memasak air untuk membuat kopi, menanak singkong atau bahkan memasak. Eits...suamiku juga pintar masak lho. Sedangkan kedua buah hatiku bergantian bertugas mencuci piring dan membuang sampah. Tidak hanya mencuci piring, mereka berduapun juga biasa dengan urusan goreng-menggoreng, meskipun hanya menggoreng ayam, telur, tempe ataupun tahu.

Namun, hari ini adalah hari spesial. Seluruh umat muslim merayakan idul adha. Sejak pagi, selesai sholat id, semua umat muslim disibukkan dengan penyembelihan hewan kurban yang dilanjutkan dengan pembagian hewan kurban itu. Di momen idul adha ini, suasana guyub rukun terlihat sejak pagi. Mulai penyembelihan hewan kurban hingga pembagian hewan kurban, terjadi kolaborasi yang sangat indah. Hari ini, semua umat muslim merayakan idul adha dengan berbagai aneka masakan dari hewan kurban. Tak terkecuali dengan keluarga kecilku.

Kamipun mendapat daging kurban kambing dan sapi. Namun, daging kurban kami tidak langsung kami eksekusi, karena ternyata bumbu masakan di dapur sedang krisis. Akhirnya, kami bersepakat memasaknya sore hari saja. Nah, di sinilah kolaborasi keluarga kecilku mulai terjadi. Setelah sholat ashar, kamipun mulai beraksi. Langsung saja daging itu kukeluarkan dari freezer. Daging kambing yang menjadi pilihan pertama. Setelah keluar dari freezer, suami segera memasukkannya ke panci presto, sementara aku segera meluncur ke pasar untuk berbelanja keperluan bumbu yang habis. Ada dua rencana memasak sore ini, gulai dan rica-rica kambing.

Akupun segera meluncur ke pasar tradisional dekat rumah. Hasil catatanku kukeluarkan dari tas kecilku dan mulailah aku membeli bumbu-bumbu yang habis. Sekitar setengah jam waktu yang kubutuhkan untuk belanja di pasar. Begitu sampai di rumah, dagingpun sudah diangkat suami dari panci presto dan siap di masak. Kali ini kami memasak berdua.

Masakan pertama adalah gulai kambing. Bumbupun kusiapkan, sementara suami memotong daging kambingnya. Tak membutuhkan waktu yang lama, walhasil gulai kambingpun siap dihidangkan. Karena waktu tidak memungkinkan untuk memasak rica-rica, akhirnya sore ini rica-rica kambing masih kami pending. Semoga besok bisa memasaknya.

Tak terasa waktu semakin larut. Waktu makan malampun tiba. Kami nikmati gulai kambing ala emak dan bapak ini dengan penuh rasa cinta. Memasaknyapun dengan bumbu cinta, memakannyapun juga penuh cinta...cie cie... Alhamdulillah kami berempat menikmatinya dengan lahap.

CamScanner 07-31-2020 21.21.48

Kali ini, setelah makan malam, yang kebagian peran selanjutnya adalah kedua pendekarku (si kakak dan adik). Mereka berdua berkolaborasi mencuci piring dan membuang sampah.

Di dalam keluarga kecilku tidak ada kamus bahwa laki-laki anti dapur. Karena sudah terbiasa, suami dan anak-anak enjoy saja jika di dapur. Seringkali si kakak dan adik tiba-tiba ramai sendiri di dapur, ternyata mereka lagi membuat sesuatu masakan yang mereka inginkan. Kebiasaan ini tentunya sangat membantu mamanya. Mamanya yang seringkali "iwat iwut" kesana kemari, menjadi tidak kuatir jika meninggalkan mereka, karena mereka sudah terbiasa menyiapkan makannya sendiri. Terimakasih ya sayang karena telah membantu dan mengerti mama. I love you so much...

2 Comments

 

cengkrong

Eni Setyowati

Catatan ini terinspirasi dari kebersamaan dengan anak-anak di rumah, berbagai kegiatan mulai mengantar sekolah, menjemput hingga bercengkerama dan mendengarkan celotehan mereka menceritakan aktivitasnya di sekolah. Ditunjang oleh buku dari pak Munib Chatib, maka tak salahlah jika saya tulis catatan ini sebagai persembahan orang tua kepada anaknya, bahwa anak kita adalah bintang.

Anakmu bukanlah milikmu. Mereka adalah putra-putri Sang Hidup, yang rindu akan dirinya sendiri. Mereka lahir lewat engkau, tetapi bukan dari engkau. Mereka ada padamu, tetapi bukanlah milikmu... (Kahlil Gibran)

Setiap anak yang dilahirkan dari rahim ibunya, bagaimanapun kondisinya, dia adalah masterpiece karya agung Tuhannya, sebab Allah SWT tidak pernah membuat produk-produk gagal. Hanya kesabaran orang tualah yang diuji... (Munif Chatib)

"Saya kok gak tahu ya, bakat anak saya itu apa"? "Ah saya gak ngerti anak saya itu bakatnya apa"? "Bagaimana ya agar saya mengetahui anak saya bakat di apa"? Beberapa pertanyaan tersebut seringkali dilontarkan orang tua jika kita kumpul-kumpul di sebuah kegiatan. Pernah suatu hari ada seseorang yang bertanya kepada saya, "Bu, gimana caranya agar kita tahu bakat anak kita?"..... Hhhmmm sayapun menjawab dengan singkat, "sebenarnya sejak kecil bakat anak itu sudah terlihat, jika kita peka" sambil saya menceritakan pengalaman saya terhadap anak-anak saya. Memang kelihatannya agak susah juga melihat kebiasaan anak, sementara jika kedua orang tuanya bekerja. Saat bekerja, orang tua tidak mengetahui apa yang dilakukan anak, saat orang tua datang anak sudah capek dan tidur, kalaupun si anak belum tidur, orang tuanya yang sudah capek. Mana mungkin mereka akan peka terhadap bakat anak, tahu kebiasaannya saja tidak....hehehe. Terus apa yang harus dilakukan orang tua?, haruskah orang tua selalu mendampingi anaknya?, haruskah orang tua keluar dari tempat kerjanya?... Tidak... Itu bukanlah solusi. Jika itu yang dilakukan mungkin akan menyebabkan permasalahan baru.

Baiklah, marilah di sini kita belajar bagaimana menemukan bakat anak dari pak Munif Chatib dalam bukunya 'Orangtuanya Manusia'. Ada beberapa hal yang perlu kita ketahui: Pertama, orang tua sangat penting mengetahui rasa suka anak terhadap sebuah aktivitas. Rasa suka terhadap sebuah aktivitas itu sebenarnya berasal dari keinginan otaknya untuk mengetahui sesuatu. Ketika sesuatu itu diketahui oleh anak, dia akan melakukan berulang-ulang, karena sudah mengetahuinya. Sebaliknya, jika tidak dilakukan ulang, berarti aktivitas itu tidak disukainya. Namun, orang tua juga harus tahu bahwa tidak semua aktivitas yang disukai anak adalah bakatnya, mungkin saja ia hanya mengikuti temannya. Nah, yang penting harus diperhatikan oleh orang tua adalah 'jangan menjadi mesin pembunuh bakat anak.' Bagaimana menjadi mesin pembunuh bakat anak? Yaitu, jika melarang anak melakukan aktivitas yang disukainya, selalu menyebut anak dengan sebutan negatif, tidak memberikan kebebasan anak untuk berkekspresi, hukuman yang tidak mendidik, dan memberi tekanan anak terhadap prestasi sekolah.

Kedua, sebagai orang tua kita harus mengetahui ciri-ciri bakat anak. Setiap anak punya potensi masing-masing yang akan berkembang menjadi rasa suka. Apa saja sih ciri-ciri rasa suka yang merupakan bakat anak? (1) Aktivitas yang disukai tidak bisa dibatasi, (2) Bakat biasanya memunculkan banyak momen spesial, (3) merasa nyaman mempelajari aktivitas yang disukai, (4) bakat itu menjadikan anak fast learner (pembelajar cepat), (5) bakat terus-menerus memunculkan minat untuk memenuhi kebutuhan anak, (6) bakat selalu mencari jalan keluar, (7) bakat menghasilkan karya, dan (8) bakat menjadikan anak menyukai unjuk penampilan. Bakat itu seperti tunas, harus disiram, diberi pupuk dan dijaga agar menjadi pohon yang besar dan kuat.

Ketiga, orang tua harus mampu menjelajah kemampuan anak meskipun sekecil debu. Untuk menjelajah ini orang tua perlu kepekaan, mereka tidak akan berputus asa ketika belum menemukan kemampuan anaknya untuk saat ini, mereka akan terus mencarinya esok, lusa hingga menemukan kemampuan tersebut. Biasanya kesulitan orang tua menemukan kemampuan anaknya karena orang tua tidak peka terhadap aktivitas anak yang sebenarnya dapat dimaknai sebagai kemampuan. Selain itu orang tua seringkali 'malas' menjelajah kemampuan anaknya.

Nah, mulai sekarang, marilah kita sebagai orang tua gemar melakukan penjelajahan untuk menemukan bakat anak, yaitu dengan selalu memberi apresiasi terhadap kemampuan anak, agar dalam diri anak akan terbangun konsep diri positif. Dengan terbangunnya konsep diri anak, maka akan terbangun pulan kepercayaan diri. Kebiasaan memberikan apresiasi dapat dilakukan melalui pujian yang tepat, mendoakan kebaikan anak, dan memberikan hadiah. Selain memberikan apresiasi seperti di atas, orang tua dapat melakukan kebiasaan menulis kisah dan simbol sukses anak. Jangan sia-siakan hadirnya sang Bintang di rumah kita... Love u full my sons.

sampul buku Pena Bunda 1

Eni Setyowati

Banyak orang menganggap bahwa menulis itu sulit. Ingat, Allah telah memberi kelebihan kepada kita dibanding makhluk lain berupa akal. Salah satu tujuan diberikan akal agar manusia mampu berpikir. Berkat kemampuan berpikir itulah, pastinya kita semua juga diberi kemampuan untuk menulis. Jadi saya sangat yakin bahwa kita semua pasti bisa menulis. Menulis seperti apa? Menulis apapun. “Kalau menulis biasa saja saya bisa, sejak kecil kan kita sudah diajari menulis?” Nah...itulah, marilah kita ubah menulis yang biasa saja itu menjadi luar biasa.

Banyak orang merasa minder dan takut saat mulai menulis. Pertanyaannya...apakah rasa minder dan takut itu akan kita bawa terus-menerus, ataukah kita ingin menghilangkannya? Saya rasa semua orang mempunyai keinginan untuk menghilangkan rasa minder dan takut dalam menulis. Untuk itu...kita harus berusaha sekuat tenaga untuk menghilangkan rasa itu. Caranya bagaimana? Dengan menumbuhkan rasa percaya diri. Yakinkan bahwa diri kita bisa. Acuhkan omongan orang lain, acuhkan bisikan-bisikan syetan yang menghalangi rasa percaya diri kita. Pikirkan bahwa orang yang mencomooh tulisan kita belum tentu ia mampu membuat tulisan dan belum tentu tulisannya sebagus tulisan kita. Tulisan itu relatif, jadi jangan bingung akan kualitas tulisan kita. Kita tidak akan tahu kualitas kita, jika kita belum pernah mencoba untuk menulis.

Apakah tulisan yang bisa dijadikan buku itu harus tulisan yang berkualitas, tentang sesuatu yang waauuu.... Oh, tentu saja tidak. Apapun tulisan kita, bisa dijadikan buku, tinggal kita meramunya sedikit, maka akan bisa menjadi buku. “Apakah catatan harian kita bisa dijadikan buku?” Siapa bilang tidak bisa? Tentu sangat bisa. “Apakah tulisan saya di status facebook bisa dijadikan buku?” Sangat bisa sekali. Saya bicara seperti ini tidak omong kosong ya... Salah satu buku saya yang sudah terbit adalah kumpulan dari beberapa tulisan saya di status facebook. Kok bisa? Iya... saat itu saya berpikiran, daripada tulisan-tulisan di facebook itu berserakan, alangkah baiknya jika tulisan itu saya kumpulkan, saya ramu sedikit dan saya jadikan buku. Dan, alhamdulillah buku itu akhirnya telah terbit.

sampul buku pena bunda 2

Buku itu saya beri judul “Pena Bunda: Sebuah Cinta Tak Terbatas”. Mengapa saya memberinya judul seperti itu? Karena, buku itu berisi catatan-catatan saya yang merupakan pengalaman saya dalam mengaktualisasikan diri, serta pengalaman saya dalam kebersamaan dengan keluarga. Aktualisasi diri bagaimana yang dimaksud? Begini ceritanya, selain saya membaca buku-buku yang wajib saya baca untuk bahan mengajar atau keperluan akademis, saya juga suka membaca buku umum di berbagai bidang, baik itu buku agama, motivasi, kesehatan, maupun lainnya untuk menambah wawasan saya. Saat saya membaca itulah, saya selalu merekam isi buku, yang kemudian saya tuangkan dalam tulisan singkat. Selanjutnya, rekaman itu saya unggah di status facebook. Daripada saya mengunggah status facebook yang tidak berguna, lebih baik saya menggunggah catatan-catatan dari kegiatan saya membaca. Terkait pengalaman saya bersama dengan keluarga, entah itu kegiatan liburan, mendampingi sang anak, ataupun kegiatan di rumah, seringkali saya rekam juga dalam tulisan. Kalau dulu, waktu kita masih remaja seringkali membuat diary, saya kira hampir samalah catatan itu dengan diary. Catatan-catatan itu kemudian saya unggah di facebook. Awalnya saya hanya ingin menyimpannya di facebook saja, lambat laun saya mempunyai keinginan untuk membukukan catatan itu menjadi sebuah buku. Alhamdulillah keinginan itu terwujud.

Nah....tidak sulit kan menulis buku? Jika ada kemauan pasti bisa. Pastinya harus dengan mencoba. Apakah mungkin emak-emak bisa juga membuat buku? Woooo jangan menyepelekan emak-emak. Ingat THE POWER OF EMAK-EMAK. Emak-emak harus bisa juga donk membuat buku. “Apakah emak-emak yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga juga bisa membuat buku?” Harus bisa dan pasti bisa. Justru mereka mempunyai waktu lebih bersama keluarga, di situlah banyak cerita bersama keluarga yang bisa dituliskan, bisa juga membuat buku tentang resep masakan. Tinggal kemauan saja. Ayo para emak-emak semangat. Bayangkan jika Anda tiba-tiba mempunyai karya buku, pastinya suami dan anak-anak akan terkejut, dan akan kagum serta bangga pada Anda. Buku yang berisi catatan Anda bisa dijadikan kado ulang tahun pernikahan...keren kan? Bisa juga sebagai kado saat hari anak ataupun saat hari ibu. Ayo emak-emak kita mulai menulis dan membuat buku.

Menulis buku tidak harus sendiri, bisa juga dilakukan dengan menulis keroyokan. Jadi, dalam satu buku, terdapat banyak penulis. Kita hanya menulis sekitar 3-5 halaman saja. Jika tulisan-tulisan itu terkumpul, akan menjadi sebuah buku dengan banyak penulis. Emak-emak pastinya mempunyai komunitas kan? Entah itu komunitas pengajian, arisan, wali murid ataupun yang lain. Nah komunitas itu bisa diajak untuk menulis keroyokan dan terbitlah sebuah buku. Keren kan!!! Buku seperti ini biasa disebut dengan buku antologi atau book chapter. Jika tulisan itu sudah selesai, bagaiamana proses menjadikan buku yang bisa diterbitkan? Anda tidak usah bingung, banyak penerbit yang bisa Anda lihat di web. Tinggal Anda ingin memilih penerbit mana. Anda bisa menanyakan terkait bagaimana menerbitkan buku, pihak penerbit pastinya akan senang menjelaskan prosesnya kepada Anda. Jika masih bingung, bisa kontak saya ya.... Saya siap membantu. Anda, emak-emak yang sangat ingin menulis buku silahkan like, komen tulisan ini. Anda juga dapat inbox facebook saya (FB: Eni Setyowati) atau email ke enistain76@yahoo.com agar lebih privasi, yang selanjutnya bisa dilanjutkan komunikasi via whatsapp. Jangan ditunda-tunda, mulailah menulis dari sekarang. Salam Literasi.

7 Comments

Eni Setyowati

Entah sudah berapa kali saya telah mengikuti seminar maupun pelatihan tentang literasi. Hari ini, Selasa (28 Juli 2020) saya mengikuti kembali acara semacam itu. Kali ini diadakan oleh komunitas literasi di Tulungagung yang berjulukan Sahabat Pena Kita (SPK) Tulungagung. Anggota SPK Tulungagung berasal dari berbagai profesi. Ada mahasiswa, guru, maupun dosen. Apapun itu profesinya, tujuannya hanya satu, yaitu memajukan literasi di Tulungagung dan sekitarnya.

**********
Pertengahan Juli 2020, saya telah menjadi bagian dari komunitas SPK Tulungagung. Ceritanya, pada suatu hari ada WA dari senior literasi Tulungagung, yaitu pak Ngainun Naim. Beliau menawarkan kepada saya untuk bergabung di grup ini. Tawaran itu langsung saja saya iyakan. Akhirnya sayapun dimasukkan di grup ini oleh Pak Naim. SPK Tulungagung merupakan anak dari SPK pusat. Saya sendiri sejak 2018, juga telah bergabung menjadi anggota di SPK pusat. Baik SPK pusat maupun SPK cabang sebenarnya mempunyai tujuan yang sama yaitu untuk memajukan literasi, meskipun dengan kebijakan yang berbeda.

Terus terang, saya kurang begitu tahu, kapan sejatinya komunitas litetasi di Tulungagung yang kemudian menjadi SPK Tulungagung ini mulai aktif, karena sejak saya bergabung di grup itu, kegiatan literasi sudah aktif. Saya tidak mempermasalahkan kapan grup ini dimulai, yang penting bagi saya dapat berkontribusi di dalam grup ini.

Setoran tulisan dalam bentuk tulisan di blog merupakan ciri khas dari grup ini. Setiap minggu harus wajib menyetorkan tulisan dalam blog sesuai jadwal yang disepakati. Selain itu tulisan sunnah juga disarankan kepada anggota untuk semakin meningkatkan kualitas menulisnya.

Kebijakan untuk menulis di blog ini, memberikan dampak positif bagi saya. Blog saya yang selama ini jarang saya isi, alhamdulillah kini aktif dengan tulisan lagi. Terimakasih pada SPK Tulungagung. Teman-teman baru telah menambah saudara dan pengalaman baru bagi saya.

**********

IMG-20200728-WA0019

Diskusi dan Launching SPK Tulungagung

Saat itu saya membaca flyer yang dishare oleh pak Ngainun Naim. Ternyata adalah kegiatan diskusi sekaligus launching SPK Tulungagung. Sayapun, kemudian membatin, "oh ternyata grup ini masih baru, lha ini masih mau dilaunching". Flyer ini telah menjawab pertanyaan dalam hati saya, yang sebelumnya saya takut menanyakan di grup...hehehe.

Hari itupun tiba. Selasa, 28 Juli 2020, saatnya acara diskusi dan launching SPK. Kebetulan di hari yang sama, saya juga mempunyai agenda lain, yaitu menguji tesis 5 mahasiswa mulai pukul 08.00 WIB sampai selesai. Di pagi itu, saya segera menyiapkan segala keperluan untuk menguji tesis serta dapat mengikuti acara diskusi dan launching SPK Tulungagung. Sebelum jam 08.00, saya telah menyiapkan tempat, dua laptop, colokan dan segala keperluan lain. Tempat yang saya pilih adalah di mushola rumah. Sebenarnya, saya biasanya mengikuti webinar ataupun semacamnya berada di ruang kerja. Namun, ternyata kondisi di ruang kerja kurang bagus untuk webinar, karena banyak cahaya, akibatnya wajah saya di video selalu hitam. Tempatpun sudah siap dengan dilengkapi dua meja, karena memang ada dua laptop. Laptop satunya untuk menguji tesis dan yang satunya lagi untuk mengikuti acara launching SPK Tulungagung.

Alhamdulillah kedua kegiatan itu berjalan lancar. Ujian tesis telah berjalan selama satu jam. Saat itu saya lihat jam, menunjukkan pukul 09.00. Segera saya buka laptop satunya dan segera saya klik link zoom untuk mengikuti acara diskusi dan launching SPK Tulungagung. Sekitar beberapa menit saya tunggu, belum ada respon dari host untuk meng-admit saya. Sayapun membatin, "jangan-jangan linknya diganti, jangan-jangan saya salah klik, jangan-jangan laptop saya bermasalah, padahal sudah jam 9 lebih". Akhirnya kutanyakanlah di grup...ternyata acaranya masih di mulai jam 10.00. Ya Allah...ternyata saya terlalu bersemangat hehehe.

Sekitar pukul 09.30, forum diskusi dan launching SPK dibuka. Pada pukul 10.00 acarapun dimulai. Sebagaimana yang ada di flyer, acara ini dipandu oleh ketua SPK Tulungagung mas Thoriqul Aziz sebagai moderator, pak Dr. Ngainun Naim (penasehat SPK pusat) sebagai pengantar, dan Dr. M. Arfan Muamar (ketua SPK pusat) sebagai narasumber serta Mas Fahrudin sebagai host.

Acarapun dimulai, mas Thoriqul Aziz, sebagai moderator di awal acara menyampaikan sedikit cerita tentang SPK Tulungagung ini. Dilanjutkan acara berikutnya adalah pengantar dari Dr. Ngainun Naim. Di pengantarnya, pak Naim menyampaikan tentang terbentuknya SPK Tulungagung, kepengurusan dan kebijakan yang ada. Sebagaimana biasanya, pak Naim selalu mengajak siapa saja untuk selalu semangat membaca dan menulis. Menulis dan terus menulislah, karena jika pengen bisa menulis hanya satu syaratnya yaitu menulis itu sendiri. Pak Naim, juga menyampaikan bahwa beliau selalu siap membimbing dan memotivasi anggota grup yang merasa kesulitan memulai dalam menulis.

Acara berikutnya adalah pemaparan materi oleh narasumber, pak Dr. M. Arfan Muamar. Saya biasa memanggil beliau pak Arfan. Sungguh luar biasa yang disampaikan oleh pak Arfan. Materi pak Arfan kali ini lebih kepada mengatasi minder dalam menulis. Ini materi yang pas disampaikan di grup yang baru ini. Memang, awal ketakutan yang banyak dialami dalam menulis adalah rasa minder. Rasa minder ini dikarenakan adanya rasa takut salah, takut tulisan jelek dan ketakutan-ketakutan lainnya. Rasa ini pun pernah saya alami dulu saat awal belajar menulis. Hanya ada satu cara untuk mengatasi rasa minder ini. Pak Arfan menyebutnya harus percaya diri (PD). Ya..benar...hanya PD lah yang bisa mengatasi rasa minder. Sayapun juga merasakan, bagaimana saya dulu tidak PD menulis, tapi lambat laun saya terus berusaha. Saya harus bisa, saya harus PD, singkirkan pikiran yang macam-macam, jangan peduli komentar orang lain, jadikan komentar orang lain sebagai cambuk untuk kita tetap semangat, tunjukkan kita bisa. Setelah rasa-rasa itu telah tersemat di hati saya, rasa percaya diripun tumbuh di hati saya. Akhirnya saya mulai berani untuk menulis. Menulis dimanapun saja. Termasuk menulis status di facebook (FB).

Berbicara tentang menulis di FB, sebenarnya sangatlah sulit. Mengapa saya katakan sulit, karena status kita akan dibaca orang. Dan tentunya kita harus siap berbagai komentar, tapi biarlah...karena mungkin sudah PD menyebabkan saya sudah kebal. Selama tulisan itu tidak merugikan siapapun tak masalah. Bahkan, dari kumpulan tulisan saya di status FB itu, kini telah menjadi sebuah buku.

Kembali ke acara diskusi dan launching SPK Tulungagung. Selain paparan dari pak Arfan, alhamdulillah juga hadir penasehat SPK pusat, pak M. Khoiri yang lebih dikenal dengan sapaan pak Emcho. Pak Emcho pun menambahkan wawasan terkait dunia tulis-menulis. Dengan gaya yang santai namun berisi, pak Emcho menceritakan bagaimana pola tulisan maupun trik-trik menulis.

Benar-benar ilmu yang sangat bermanfaat bagi saya. Saya tak pernah merasa puas kalau belajar literasi. Belajar dan terus belajar selalu saya lakukan. Terimakasih kepada para narasumber dan teman-teman SPK Tulungagung, semoga acara ini membangkitkan kita dalam menulis. Semoga ini awal dari kesuksesan SPK Tulungagung ke depan. Aamiin YRA. Salam Literasi.

Oleh: Eni Setyowati

Dan agar orang-orang yang telah diberi ilmu, meyakini bahwasanya Al Quran itulah yang hak dari Tuhan-mu lalu mereka beriman dan tunduk hati mereka kepadaNya dan sesungguhnya Allah adalah Pemberi Petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus. (Q.S. Al-Hajj:  54)

Ayat di atas menunjukkan bahwa begitu tingginya kedudukan ilmu bagi manusia. Namun, manusia tidak boleh sombong dengan ilmu yang diperolehnya. Ilmu harus digunakan sesuai dengan petunjuk Al-Qur’an. Kita tahu bahwa keutamaan manusia dibanding makhluk lain adalah karena manusia diberi ilmu oleh Allah SWT. Bahkan di dalam Al-Qur’an menggunakan kata ‘ilm dalam berbagai bentuk dan artinya, sebanyak 854 kali. Salah satu pengertian ilmu seperti dalam QS. Al Baqarah ayat 31-32, adalah sebagai “proses pencapaian pengetahuan dan objek pengetahuan”. Jadi, “ilmu mencakup segala macam pengetahuan yang berguna bagi manusia dalam kehidupannya, baik masa kini maupun masa depan”.

Rasulullah SAW sudah sejak awal mengajarkan pentingnya ilmu pengetahuan. Beliau bersabda: “Carilah ilmu, karena barang siapa yang memperoleh ilmu di jalan Allah, sama halnya melakukan kesalihan; barang siapa yang membicarakan ilmu pengetahuan sama halnya memuji Allah; barang siapa yang mencarinya sama halnya memuja Allah; barang siapa yang mengajarkan pengetahuan sama halnya memberikan sedekah; dan barang siapa mengajarkan dengan maksud yang benar sama halnya dengan mengabdi kepada Allah”.

Pada dasarnya ilmu terdapat dua hal, yaitu ilmu abadi dan ilmu yang dicari. Ilmu abadi merupakan ilmu yang berdasarkan wahyu Illahi yang tertera di dalam Al-Qur’an dan Hadits yang bersifat mutlak atau hakiki, sedangkan ilmu yang dicari merupakan ilmu sains serta terapannya, dimana ia bersifat dapat berubah atau berkembang. Pada tulisan ini hanya akan membahas tentang jenis ilmu yang kedua yaitu ilmu yang dicari atau sains.

Di dalam QS. Al-‘Ankabut ayat 20, menunjukkan bahwa objek ilmu mencakup batas-batas alam materi, sehingga ilmu itu dapat dipahami, serta dianjurkan untuk melakukan observasi dan eksperimen. Selain itu, dalam QS. An-Nahl ayat 78 juga menganjurkan agar manusia menggunakan akal dan intuisinya. Anjuran menggunakan akal dan intuisi ini dikarenakan keterbatasan dari ilmu manusia. Kegiatan melakukan observasi dan eksperimen inilah yang merupakan manifestasi dari ilmu sendiri. Manifestasi ilmu itu harus dapat memberikan manfaat dan kemudahan kepada seluruh umat, serta harus mampu membawa kebahagiaan ke seluruh penjuru dan sepanjang masa.

Manifestasi ilmu ini telah mengalami perkembangan yang sangat pesat. Berbagai perkembangan ilmu di berbagai bidang menunjukkan bahwa betapa pentingnya ilmu bagi kesejahteraan umat. Sebagai contoh manifestasi ilmu kimia. Kimia, sebagai ilmu, tak terbantahkan lagi merupakan temuan kaum muslimin. Abu Musa Jabir adalah bapak ilmu kimia yang sebenarnya. Selain itu, ilmu kedokteran dan ilmu bedah juga merupakan bukti terbaik dan genius muslim. Tak diragukan lagi, ilmu kedokteran mencapai tingkat kesempurnaan di kalangan orang Yunani, tapi orang Arab mengembangkannya jauh melampaui tahapan yang dicapai leluhur mereka dan turut menyumbang peradaban dan membawa ilmu kedokteran menjadi begitu dekat dengan standar ilmu kedokteran modern.

Ilmu tentang obat-obatan, merupakan karya orang Arab. Mereka menemukan kimia farmasi dan merupakan pendiri pertama lembaga yang kini disebut apotek. Mereka mendirikan rumah sakit umum, rumah penyembuhan dan menjalankan rumah sakit tersebut. Ibnu Sina, tak diragukan lagi merupakan orang paling berbakat pada zamannya. Sebagai seorang filsuf, ahli matematika, astronom, penyair, dokter, ia meninggalkan pengaruhnya yang besar pada dua benua dan pantas mendapat gelar Aristoteles dari Timur.

Selanjutnya adalah Ibnu al-Nafis. Ibnu al-Nafis adalah ilmuwan yang berasal dari Damaskus. Ia mempunyai kontribusi yang besar dalam bidang kedokteran atau medis. Ia juga sebagai ilmuwan pertama yang menjelaskan tentang teori pembuluh darah kapiler. Teorinya secara akurat mampu menjelaskan bagaimana peredaran darah di dalam tubuh manusia. Ibnu al-Nafis juga dikenal sebagai “bapak fisiologi peredaran darah”.

Ilmuwan lainnya adalah Ibnu Khaldun. Siapa yang tidak mengenal Ibnu Khaldun? Ibnu Khaldun adalah ilmuwan yang berasal dari Tunisia. Ia juga dikenal sebagai bapak historiografi (ilmu metode pengembangan sejarah), sosiologi (ilmu tentang perilaku sosial), dan ekonomi (ilmu tentang aktivitas manusia yang berkaitan dengan produksi, distribusi dan konsumsi). Karya Ibnu Khaldun yang terkenal adalah Muqaddimah. Bahkan, ia  telah hafal Al-Qur’an sejak usia dini.

Selain beberapa ilmuwan muslim di atas, tentunya masih banyak ilmuwan muslim yang tidak saya sebutkan di sini. Contoh-contoh manifestasi ilmu di atas, menunjukkan kebebasan intelektual dari dunia Islam, dengan tetap menjaga keaslian sifat Islam. Islam telah membuktikan dirinya sebagai pendukung dan penyokong pada kehidupan ilmu pengetahuan dan peradaban.

Oleh: Eni Setyowati

Kegemaranku terhadap buku sebenarnya dimulai dari koran langganan ayah. Ayahku bukan guru atau profesi lain yang mengharuskan membaca buku, tapi ayahku adalah seorang pedagang, sedangkan ibuku hanya ibu rumah tangga yang membantu ayah dalam berdagang. Awalnya toko ayah hanya merupakan kios kecil, alhamdulillah lambat laun menjadi sebuah toko yang cukup besar. Meskipun hanya sebuah kios kecil, kegemaran ayah membaca koran tak menyurutkan niatnya untuk berlangganan koran harian.

Tentang buku, ayah jarang bahkan bisa dikatakan tidak pernah membaca buku, ya hanya dari koran itulah bacaan ayah setiap hari. Namun demikian jika bicara masalah pendidikan putra-putrinya ayah tidak kalah dengan orang tua yang berpendidikan tinggi.  Masih teringat saat itu, ayah sedang membaca koran, dalam usiaku yang masih TK, muncul rasa ingin tahuku yang sangat besar tentang bagaimana caranya membaca koran. Waktu itu terbersit pertanyaan dalam diriku bagaimana membacanya kok bentuknya berupa kolom-kolom. Akupun bertanya kepada ayah, meskipun saat itu aku belum bisa membaca dengan lancar, ayahpun mengajari urutan membaca koran. Seiring dengan waktu, aku dikenalkan juga oleh ayah dengan komik, awalnya juga bingung bagaimana urutan membaca komik dan ayahpun mengajarinya.

Masuk usia sekolah dasar, saat itu usiaku masih 5 tahun (dulu usia 5 tahun bisa masuk SD, maklum SD di kampung) baru aku mengenal namanya buku pelajaran. Di situlah aku mulai belajar membaca sehingga menjadi lancar dan menambah ilmu yang kudapatkan dari sekolah. Bicara tentang buku pelajaran atau buku diktat, aku selalu punya paling duluan dibanding teman-teman di kelas, karena ayah selalu membelikan buku secepatya jika ibu guru sudah memberitahu buku yang akan digunakan.

Waktu berlalu hingga aku menginjak remaja, selain koran, komik, buku pelajaran, aku mulai diperkenalkan dengan majalah untuk remaja. Saat itu masih teringat majalah remaja pertama yang aku beli adalah ANEKA. Hingga masuk SMA ayah selalu membelikan buku pelajaran yang paling awal, sekaligus buku penunjang (buku soal-soal) meskipun pada saat itu buku kumpulan soal-soal masih sedikit tidak seperti sekarang ini. Bahkan ayah sampai membelikannya di kota Kediri atau Malang, jika di Tulungagung tidak ada.

Kebiasaan ayah mengenalkan aku tentang dunia membaca lewat koran hingga berburu buku pelajaran, menurun pada diriku. Pada saat aku kuliah, berburu buku adalah pekerjaan yang menyenangkan jika ada waktu luang, tapi karena masih keterbatasan kiriman uang dari orang tua, berburu buku yang paling sering adalah di blok M (kios buku bekas/bajakan di jalan Majapahit kota Malang). Jikapun ke Gramedia biasanya hanya membaca sampai ber jam-jam tapi tidak membeli hehehe. Hingga kini bukuku semasa kuliah masih ada di rumah orang tua, dan masih tertata rapi di almari. Ayah dan ibu tetap menyimpannya, sengaja tidak aku bawa ke rumah karena rumah juga sudah penuh buku.

Waktu berlalu dan akhirnya aku menempuh S2 dan S3 dengan beasiswa, sehingga berburu buku dengan membelinya cukup terpenuhi. Hingga akhirnya di kamar kos terasa penuh buku, apalagi sewaktu S3. Saat inipun berburu buku masih aku lakukan, jenis bukunya pun mulai berkembang dari berbagai bidang. Di rumah rak bukupun sudah tidak muat untuk diisi buku lagi, sehingga sebagian buku terpaksa dimasukkan di almari lain, belum bukunya suami dan anak-anak....hingga rumah terasa gudang buku hehehe...

Kisahku waktu dulu, kini terkenang saat aku mengenalkan buku kepada anak-anakku. Alhamdulillah jika ada bursa buku murah atau akhir pekan kami selalu sempatkan mengunjungi toko buku. Dan kini anak-anakpun juga menyukai buku. Si sulung saat masuk SMA mulai aku perkenalkan dengan karya tulis ilmiah, dengan harapan melalui karya tulis ilmiah ia akan terbiasa membaca, menulis dan melalukan penelitian. Seperti halnya diriku, koleksi buku anakku pun kini sudah memenuhi ruangan di rumah. Bahkan koleksi majalah Bobo dan Sains Kuark si kecil mulai pertama kali langganan tidak boleh hilang atau diberikan orang lain atau diloakkan karena sesekali masih dibacanya karena cerita di majalah Bobo dan Kuark asyik-asyik.

Kini akupun selalu berdoa semoga anak-anakku pun juga akan menyukai buku, mambaca dan mampu menulis buku. Alhamdulillah, membaca buku kini digemari anak-anakku. Si sulung lebih menyukai buku tentang motivasi. Buku-buku motivasi orang sukses telah memenuhi rak bukunya. Setiap pulang acara dari luar kota, buku adalah oleh-oleh wajib yang selalu dibawanya. Demikian juga dengan si kecil, ia lebih suka komik dan cerita petualang. Beda dengan sang kakak, si kecil sudah mulai belajar menulis, apalagi ditunjang oleh program sekolahnya yang mendukung literasi. Kini si kecil telah mempunyai satu karya buku yang siap terbit. Saat ini sudah berada di penerbit, proses menunggu buku itu terbit. Selain itu si kecil kini mulai mencoba untuk mengikuti semacam lomba menulis. Baru kemarin ia menyetorkan naskah cerpennya untuk ikut lomba. Bukan kalah atau menang yang hebat, tapi prosesnya yang patut diacungi jempol. Sebagai orang tua, tentunya sangat bangga melihat anaknya mau berproses dalam dunia literasi. Semoga mereka selalu menjadi anak yang menjadi kebahagian bagi orang tuanya. Aamiin YRA.

Eni Setyowati

Di jaman now, semuanya serba modern,  serba instan dan serba canggih. Sayangnya dengan kemajuan jaman tidak diiringi dengan akhlak yang baik. Sesungguhnya akhlak yang baik itu adalah sebagian dari iman, buah perjuangan batin orang-orang yang bertakwa. Sedangkan akhlak yang buruk adalah racun yang mematikan dan pembawa kebinasaan dan kehinaan yang merendahkan, serta kejahatan yang menjauhkan manusia dari hadirat Allah, dan menyeretnya ke dalam jalan setan yang terkutuk.

Bicara tentang jaman now, saya teringat pada kandungan falsafah Jawa "serat kalatidha". Serat kalatidha merupakan gubahan Ranggawarsita yang melukiskan tentang keadaan jaman Gemblung, yaitu jaman dimana manusia dihadapkan pada sesuatu yang merepotkan dan membingungkan. Marilah kita lihat kembali terjemahan dari serat kalatidha tersebut. "Keadaan negara yang demikian merosot. Karena tidak ada lagi yang memberi teladan. Para cerdik pandai terbawa arus jaman yang penuh keragu-raguan. Suasana mencekam karena dunia sudah penuh masalah. Semua pemimpin baik, tetapi tidak menghasilkan kebaikan. Masalah semakin banyak. Hati rasanya menangis penuh kesedihan karena dipermalukan. Karena perbuatan seseorang yang selalu memberi harapan. Karena ada pamrih untuk mendapatkan sesuatu. Karena terlalu banyak kabar angin yang beredar. Hasilnya hanya mengakibatkan kesusahan."

Cuplikan terjemahan tersebut menunjukkan situasi di jaman now. Orang seringkali menyebutnya dengan jaman edan. Di jaman edan atau jaman gemblung ini persaudaraan antar sesama mulai terkikis, yang dekat seakan jauh, sebaliknya yang jauh terasa dekat. Semuanya serba maya, bahkan seringkali kita disuguhi oleh berita-berita, sikap dan perilaku yang serba maya. Pada terjemahan serat kalatidha di atas, salah satu keadaan disebutkan “terlalu banyak kabar angin”, nah saat ini hal tersebut telah terjadi. Sesungguhnya di jaman now bisa dijadikan cermin dalam menimbang hal baik dan buruk. Oleh karena itu, di jaman now ini adalah waktu yang tepat untuk berserah diri pada Tuhan dan waspada. Hal ini sejalan dengan pandangan Ranggawatsita, "beruntungnya orang yang lupa, masih lebih beruntung orang yang selalu ingat dan waspada". Dengan kewaspadaan, manusia tidak mudah tergoda dengan sesuatu yang tampak gemerlap namun menjerumuskan, dan akan mampu mengendalikan segala keinginan. Selain itu kita harus terus berikhtiar dengan melakukan kebajikan. Perihal hasil dari ikhtiar itu, hendaklah diserahkan kepada kebijaksanaan Tuhan. Inilah sikap optimis dan arif yang harus dilakukan di jaman now. Bersikap sabar juga sangat dibutuhkan di jaman now. Dengan selalu sabar manusia akan menjadi tenang. Dengan ketenangan manusia akan tahu mana yang baik dan yang buruk.

Dengan sikap-sikap di atas, inshaAllah kita akan dapat menghadapi kejahatan jaman now, yang dapat mengoyak ukhuwah islamiyah atau persaudaraan yang telah ditanamkan oleh junjungan kita Nabi Muhammad saw. Ingat...penjahat itu ibarat burung enggang, berparuh besar namun tak dapat terbang. Ia selalu berpikir serta berbuat untuk kepentingan pribadi. Tidak senang bila melihat orang lain memiliki kemampuan, dan sebaliknya sangat senang jika melihat orang lain bodoh. Ia selalu memyembunyikan borok-boroknya sendiri dan suka membongkar borok orang lain. Iri hati dan suka memfitnah. Ia suka disanjung daripada dikritik, karena merasa dirinya paling hebat, sekalipun tidak pernah membuktikan kehebatannya. Pengetahuannya terbelenggu di dalam sarangnya hingga kehebatan yang dikoar-koarkan sekadar kata-kata hampa. Di jaman now sering disebut sebagai penebar hoax.

Semoga kita selalu dihindarkan dari penjahat seperti itu. Dan kita selalu bisa menjaga ukhuwah islamiyah. Aamiin Ya Rabbal Alamin.

Eni Setyowati

Aku menjadi gila....ya...gila.... Gila karena semangat teman-teman yang sangat membara dan membuatku ikut membara juga. Secara pribadi aku sangat ingin seperti mereka, para guru-guru hebat di SPN (Sahabat Pena Nusantara) - grup literasi pertamaku - yang selalu memberikan motivasi dan ilmunya tentang menulis, dan itu membuatku menjadi gila, gila membaca dan gila menulis.

Setiap hari berpuluh-puluh tulisan hebat dari teman-teman hebat di SPN selalu menyemangatiku dalam menulis. Dan ini membuatku gila. Betapa tidak gila, dalam keseharianku saja rasanya waktu 24 jam itu tidak cukup, mulai bangun tidur sampai akan tidur lagi kegiatan menumpuk selalu di depan mata. Maklum ibu rumah tangga yang juga bekerja dengan dua putra tanpa asisten rumah tangga, yang setiap hari pulang dari kantor sudah sore bahkan kadang malam hari. Belum lagi bersih-bersih rumah, mencuci, menyeterika, menemani belajar, namun selalu berusaha menyempatkan diri untuk membaca dan menulis sedikit-demi sedikit. Hingga banyak teman-teman yang bilang “lha seperti itu mana bisa gemuk” hehehe.

Kegilaan ini semakin menjadi saat buku motivasi menulis dari tokoh-tokoh SPN berungkali saya baca. Ada SOS nya pak Emcho, Flow nya pak Hernowo dan buku-buku yang lain. Setiap mengulang membaca buku-buku tersebut semangat selalu membara. Namun saya akui memang ada yang kurang dalam diriku selama bergabung dengan grup SPN ini, yaitu belum pernah sama sekali bisa mengikuti “Kopdar” yang diadakan setahun dua kali. Sudah lima kali kopdar dan lima kalipun aku tidak bisa hadir. Sebenarnya aku iri kepada teman-teman yang bisa hadir di Kopdar, tetapi karena situasi dan kondisi yang menyebabkanku tidak bisa menghadirinya.

Setiap kopdar selalu saja bersamaan dengan jadwal lomba si kecilku. Kebetulan kopdar selalu diadakan pada hari minggu dan kegiatan lomba si kecil juga hari minggu. Seperti halnya kopdar kelima kemarin di Kampus Unesa, aku juga bersamaan dengan acara lomba si kecil di Trenggalek. Memang semua adalah pilihan, akupun harus memilih. Dan aku harus merelakan tidak mengikuti kopdar, karena si kecil sangat membutuhkanku dalam setiap kegiatan lombanya. Aku tahu sifat si kecil, dia harus ada mamanya jika mengikuti lomba, karena itu akan memotivasi dia dan secara mental dia akan merasa nyaman jika didampingi mamanya. Namun, seiring dengan waktu dan usia aku berharap si kecil nantinya akan lebih mandiri terutama dalam menghadapi perlombaan yang sering ia ikuti. Aamiin.

Terus terang secara pribadi aku juga merasa tidak nyaman dengan teman-teman SPN, seakan-akan aku tidak mempedulikannya, tetapi bagaimana lagi... Mohon maaf yang sebesar-besarnya kepada teman-teman SPN, semoga Kopdar ke VI yang InshaAllah akan diadakan di Semarang bulan Juni 2018 aku bisa menghadirinya, semoga tidak ada halangan dan semoga apa yang dikatakan pak mantan ketua SPN “yang penting tekat dan tiket” akan dapat dilaksanakan. Aamiin YRA.

Akupun sebenarnya selalu membayangkan betapa kerennya Kopdar SPN ini, apalagi saat teman-teman membahasnya di WAG, rasanya aku hanya bisa terdiam tanpa kata.  Meskipun demikian, seluruh aturan, kebijakan, motivasi dan tulisan-tulisan hebat dari grup SPN tidak pernah kulewatkan begitu saja.  Jika ada waktu longgar aku berusaha mencatat kembali tulisan-tulisan ataupun hasil diskusi dari teman-teman SPN yang ada di WAG. Dan memang menjadi anggota WAG SPN membuatku benar-benar menjadi gila. Kegilaan ini yang bisa mengantarku untuk selalu menulis dan menulis, dan semoga dalam waktu dekat bisa segera menerbitkan buku solo. Aamiin YRA.

Tulisan lama yang masih menjadi inspirasi untuk terus berproses...

singapore 1

Oleh: Eni Setyowati

 "Dan orang-orang yang berkata: " Ya Tuhan kami anugerahkanlah kepada kami, pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwa." (QS. Al Furqon: 74)

 Bagiku, seorang ibu yang bekerja mulai pagi hingga sore hari, bahkan kadang malam hari, bisa mendengarkan cerita si buah hati adalah sebuah kebahagiaan yang tak terkira. Bagiku, bercerita adalah cara komunikasi yang paling efektif antara orang tua dengan anak. Mengapa demikian? Dengan bercerita, anak merasa bahwa dirinya ada, dan orang tua yang mendengarkan cerita anak membuat anak merasa bangga dan dihargai. Berkomunikasi melalui cerita lebih efektif daripada berkomunikasi dalam bentuk "memberi nasehat" secara "sepihak", artinya orang tua menasehati si anak dan anak akan diam mendengarkan nasehat dari orang tua. Berkomunikasi seperti ini membuat si anak akan merasa ada jarak dengan orang tua. Komunikasi ini seringkali menyebabkan anak menjadi "takut" dengan orang tua.

Ketakutan anak kepada orang tua akan menyebabkan anak melampiaskannya ke luar rumah. Di rumah si anak kelihatan menjadi anak yang baik dan penurut, tetapi di luar rumah ia menjadi anak yang brutal. Banyak kasus seperti itu. Oleh karena itu, komunikasi yang paling efektif adalah adanya saling menghargai antara orang tua dan anak. Salah satu cara komunikasi yang saling menghargai adalah dengan bercerita.

Sebagai seorang ibu, setiap kata yang anak ucapkan serasa obat penghilang kepenatan dalam diri ini. Meskipun seharian lelah bekerja, namun jika mendengar celoteh si anak hilanglah rasa lelah itu. Saya tidak tahu mukzijat apa yang diberikan Allah melalui ceritanya, sehingga menjadikan obat segala kepenatan. Namun saya yakin bahwa Allah itu Maha Penyayang, maka saya juga yakin Allah menitipkan buah hati kepada kita tidak lain untuk disayangi. Jika kita menyayangi buah hati kita, maka kita akan disayangi juga oleh Allah.

Sekarang yang menjadi pertanyaan, "Apakah ada orang tua yang tidak menyayangi anaknya?" Jawabnya "tentu saja ada". Tidak mempedulikan anak adalah salah satu bentuk orang tua yang tidak menyayangi anaknya. "Adakah orang tua yang tidak mempedulikan anaknya?" Jawabnya "tentu saja ada". "Bagaimana bentuk orang tua yang tidak mempedulikan anaknya?" Marilah kita meraba diri kita sendiri, "Apakah kita selalu menanyakan keadaan anak kita selama tidak berada di dekat kita?" "Apakah kita selalu menanyakan apa yang ia lakukan selama di sekolah?" "Apakah kita selalu menanyakan ada kejadian apa hari ini?" Jika kita tidak pernah menanyakan hal di atas kepada anak, berarti kita termasuk orang tua yang tidak peduli dengan anak. "Bagaimana sempat kita menanyakan pertanyaan seperti itu kepada anak, sedangkan pekerjaan kita saja setiap hari segunung, belum kalau lembur pulang malam, sampai di rumah anak sudah tidur". MasyaAllah....semoga kita terhindar dari itu semua. Meskipun sesibuk apapun orang tua,  menyempatkan sedikit waktu (mungkin hanya 5 menit) untuk anak, tidak harus bertemu tetapi bisa saja melalui handphone, maka akan berdampak sangat besar bagi anak. Banyak kasus anak-anak yang kurang perhatian dari orang tua menjadi anak yang liar. Naudzubillahimindzalik.....semoga kita dijauhkan dari semua itu. Semoga anak-anak kita menjadi anak sholeh dan sholehah..amin YRA.

Komunikasi dengan anak dapat dilakukan di manapun dan kapanpun. Diantara beberapa komunikasi yang paling saya sukai adalah saat saya menjemput pulang sekolah. Tidak selalu saya bisa menjemputnya, namun jika ada kesempatan saya bisa menjemput, maka kesempatan itu tidak akan saya lewatkan. Keadaan inilah yang selalu saya nantikan dan saya nikmati, yaitu di sepanjang perjalanan, tak henti-hentinya si anak bercerita tentang kegiatannya di sekolah hari itu, bercerita keseruannya bermain dengan temannya, mengikuti pembelajaran dari gurunya, bahkan cerita-cerita konyol yang ia lewati di sekolah. Dengan semangat yang membara, membuat jiwa ini ikut membara dan lebih bersemangat lagi dalam mendidik si buah hati. Semoga buah hati kita selalu dalam lindungan Allah SWT, dan menjadi penyejuk mata (qurrota a'yun) dan penyenang hati kami....Amin, dan kita sebagai orang tua dihindarkan dari hal-hal yang tidak baik dalam mendidik anak...Amin YRA.

SELAMAT HARI ANAK NASIONAL

FOTO ENI DAN YAFIZ

Eni Setyowati

Tulisan ini terinspirasi dari penulis sendiri, serta pengalaman, curhat, maupun status teman atau orang lain.

Baru-baru ini di salah satu grup literasi di WA ada salah satu teman, seorang ibu dengan tiba-tiba keluar dari grup karena pertimbangan tertentu. Padahal secara 'kewajiban' beliau telah memenuhi kewajiban seperti yang disyaratkan oleh grup. Jika dilihat dari jumlah 'pentol merah' beliau masih aman. Syarat dikeluarkan dari grup jika jumlah 'pentol merah' sebanyak tiga berturut-turut. Ada apa gerangan? Anggota yang lainpun saya kira juga bertanya-tanya, termasuk saya.

Hingga saya mencoba kilas balik pengalaman saya sebagai seorang ibu, istri, wanita bekerja, juga penulis, meskipun belum sebagai penulis produktif. Selain itu, saya juga belajar dari cerita teman-teman tentang pengalamannya sebagai wanita dan ibu. Termasuk saya sering 'mengintip' status mbak Eka Zahra yang juga teman WAG saya. Mbak Zahra adalah seorang penulis muda dan berbakat. Tulisannya selalu renyah di setiap rangkaian kalimatnya. Iapun mengalami kebimbangan tentang perannya setelah menikah. Beliau adalah pengantin baru yang tentunya harus mengalami banyak adaptasi. Maaf mbak Zahra hehehe... Ternyata memang menjadi wanita dan ibu multitasking itu tidak mudah. Semua membutuhkan konsekuensi, dan ini adalah pilihan. Dukungan dan motivasi dari orang-orang terdekat sangatlah penting. Jika orang terdekat tidak mendukung, maka wassalam... Ibarat perahu, jika nahkoda tak sejalan dengan penumpangnya, maka tidak akan sampai di tujuan. Oleh karena itu memang perlu di komunikasikan bersama. Jika seorang istri, ia harus mengomunikasikan dengan suami. Jika seorang istri dan ibu, ia harus mengomunikasikan dengan suami dan anak-anaknya. Walaupun demikian, fitrah sebagai wanita, istri dan ibu tidak boleh ditinggalkan. Haduuh... membayangkan saja sulit...saya saja juga pusing...hehehehe.... Jangan dibayangin, jalanin aja... It's ok.

Pada suatu hari, anak sulung saya pernah berkata, "perempuan itu punya kelebihan, dapat melakukan kegiatan yang berbeda-beda dalam satu waktu". Tentu saja saya terkejut mendengarnya, mungkin ia sering melihat saya melakukan beberapa pekerjaan dalam waktu yang bersamaan. Istilah jawanya, "disambi". Sebagai contoh, setiap hari, terutama di pagi hari, dalam waktu bersamaan saya bisa membersihkan rumah, 'disambi' mencuci baju, 'disambi' masak, bahkan juga 'disambi' nulis, meskipun hanya nulis status hehehe. Memang begitulah seorang ibu, harus bisa berperan ganda.

Sayapun pernah disapa seorang teman, kemudian ia berkata, "wah enak ya jadi wanita karir, gak pernah ngurusin rumah". Saya diam sekejap, dan hanya tersenyum, sengaja saya tidak menjawab panjang lebar, karena iapun belum tentu percaya dengan jawaban saya. Batin saya, 'eiittsss jangan salah!!!!' jangan dilihat dari luarnya saja....

Saya memang wanita bekerja. Setiap hari, pagi hingga sore harus ke kantor. Suami pun begitu. Tetapi, karena itu memang pilihan sejak awal, sejak kami belum menikah, maka alhamdulillah sampai saat ini tidak ada masalah. Suami dan anak-anak sangat mengerti dan mendukung peran ibunya.

Kembali memverifikasi pertanyaan teman saya tadi, meskipun saya wanita bekerja alhamdulillah pekerjaan di rumah bisa saya lakukan dengan baik. Repot... Iya sih.... Saya tidak munafik, sangat repot, bahkan emosi kadang naik turun saat kita lelah, tetapi alhamdulillah jika kita lakukan dengan senang dan penuh tanggung jawab inshaAllah akan mudah.

Saya tidak pernah menyapu, mencuci, memasak.... Eeiittss... jangan salah, saya tidak punya asisten rumah tangga sejak anak saya yang kecil masuk sekolah dasar. Setiap hari sesudah sholat Subuh saya langsung melakukan tugas bersih-bersih rumah mulai menyapu dari halaman depan sampai belakang hingga lantai atas. Jangan anggap rumah saya di perumahan yaa, rumah saya ada di kampung, ukuran 8,5 x 40 meter belum ditambah lantai atas. Pastinya menyapu dan mengepel saja capeknya minta ampun, tetapi saya sangat menikmatinya. Kemudian lanjut merebus air, karena setiap hari saya selalu membuatkan kopi untuk suami. Memasak ala kadarnya untuk suami dan anak-anak meskipun hanya menggoreng tempe menjadi kegiatan rutin di pagi hari. Belum jika waktunya mencuci, tentunya pekerjaan itu harus dilakukan dengan 'disambi'. Alhamdulillah suami dan anak-anak seringkali membantu pekerjaan saya. Meskipun anak laki-laki, saya selalu menanamkan agar mereka bisa juga melaksanakan pekerjaan rumah. Mencuci baju, menjemur, mencuci piring seringkali dibantu oleh anak-anak dan suami. Alhamdulillah dengan menanamkan kebiasaan tersebut meskipun anak saya laki-laki semua, tetapi urusan rumah tidak jadi masalah.

Apakah suami dan anak laki-laki pantas di dapur? Siapa bilang tidak pantas. Al-Qur'an pun tidak ada yang melarangnya. Bahkan saling membantu sangat dianjurkan. Setiap malam kedua anak saya bergantian bertugas mencuci piring dan membuang sampah di tempat sampah yang berada di depan rumah. Alhamdulillah mereka memahaminya. Kebiasaan ini tentunya tidak serta merta, semua melalui proses.

Ada juga seorang teman mengatakan, 'Enak ya anaknya sudah besar'. Hehehehe memang sih bagi seorang ibu apalagi ibu yang bekerja akan lebih repot jika masih mempunyai putra yang masih kecil. Sayapun juga mengalami itu. Memang, saat anak kedua saya masih kecil saya mempunyai asisten rumah tangga. Sekali lagi, semua adalah pilihan, komunikasi dengan suami dan orang terdekat adalah upaya terbaik bagi ibu pekerja yang mempunyai putra yang masih kecil.

Saya mulai bekerja saat anak sulung saya usia 2 tahun. Saat itu saya mengajar di salah satu universitas swasta di kota saya. Dengan dukungan orang tua juga, sehingga saya menitipkan anak ke orang tua saat saya bekerja. Saat itu saya belum mempunyai ART. Saya mempunyai ART setelah saya melahirkan anak kedua.

Saat anak kedua berumur 3 bulan suami harus melanjutkan kuliahnya di UNS Solo. Selang 1 bulan, tepatnya saat si kecil berumur 4 bulan, saya harus mengikuti diklat prajabatan di Surabaya. Betapa bingungnya saat itu, saya tidak punya ART, ART yang mengasuh si kecil terpaksa harus berhenti karena hamil, maklum ia adalah penganten baru. Alhamdulillah seminggu sebelum saya berangkat diklat saya mendapatkan ART yang baru, sehingga saya lebih ringan meninggalkan si kecil di rumah neneknya dan dibantu ART. Tak terbayangkan, di saat saya harus memberi ASI, si kecil harus saya tinggalkan dua minggu ke Surabaya. Saya dan suami harus di luar kota, sementara anak-anak dititipkan neneknya. Atas dukungan dari semua orang terdekat alhamdulillah semua dapat berjalan lancar.

Di saat si sulung usia 7 tahun dan si kecil 1 tahun, saya lagi-lagi dihadapkan pada pilihan yang berat. Saya harus melanjutkan kuliah S3 di Malang, sementara suami masih belum selesai kuliahnya di Solo. Sekali lagi, komunikasi dan dukungan dari orang terdekat telah memudahkan langkah kami. Setahun kemudian alhamdulillah suami lulus, hingga hanya saya yang masih kuliah. Alhamdulillah 2,5 tahun saya bisa menyelesaikan doktoral saya. Semua karena dukungan dari orang-orang tersayang. Semua pengalaman saya tersebut selalu menjadi cambuk bagi saya dalam melangkah. Ingat..tanpa ada dukungan dari orang tua, suami, anak-anak dan orang terdekat apa yang kita lakukan tak akan berhasil.

Saya tekankan lagi, keputusan yang kita ambil adalah sebuah pilihan. Bagi wanita terutama seorang ibu, pilihan menjadi wanita pekerja memang tidak mudah. Komunikasi dengan suami sangat penting, jangan sampai ada ketidakharmonisan yang disebabkan karena kesalahpahaman. Kembalikan keputusan pada hasil musyawarah. Terimalah apa yang menjadi keputusan bersama. Yakinlah keputusan itu adalah yang terbaik. Setiap orang mempunyai pemikiran yang berbeda, tidak bisa disamakan antara satu dengan lain. Oleh karena itu hargailah apa yang menjadi keputusan bersama.

Saya, selaku ibu rumah tangga yang juga sebagai wanita bekerja, tentunya sangat banyak tanggung jawab yang harus diemban. Mendidik anak, melayani suami adalah tugas utama yang tidak boleh ditinggalkan. Sementara tugas sebagai pengelola program studi yang ibaratnya menjadi orang tua bagi mahasiswapun harus dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab. Belum lagi tugas-tugas yang lain termasuk menjadi bagian dari grup ini. Semua harus dilakukan dengan baik. Meskipun saya merasa belum maksimal, namun upaya harus dilakukan untuk yang terbaik.

Bagaimana saya bisa setiap pagi menulis...rasanya tak mungkin. Pagi hari bagi saya adalah waktu untuk berlari-lari karena harus urus sana urus sini hehehe. Namun, itu tak menjadikan saya menyerah. Saya seringkali mencuri waktu untuk membaca maupun menulis dengan tidak mengeyampingkan kewajiban lainnya. Apakah suami dan anak-anak mengetahuinya? Tentu saja mereka tahu dan paham. Anak-anak alhamdulillah sangat memahami ibunya, karena ibunya selain bekerja masih bisa menyempatkan mendidik dan mengajari mereka di rumah.

Di saat anak-anak masih TK hingga SD, ibunya yang selalu menemani mereka dimanapun mereka pergi. Saat mereka mengikuti lomba saya yang selalu menemaninya. Bahkan saat harus mengikuti lomba ke luar kota atau bahkan ke luar negeri, tetap ibunyalah yang menemani. Apapun itu, ibu adalah yang paling diinginkan anak-anaknya selalu ada disampingnya. Alhamdulillah selama ini saya bisa melakukannya. Kepercayaan dari suami telah memberikan semangat bagi saya untuk bisa mendampingi anak saat mereka membutuhkan saya. Hingga, seringkali saya sendiri yang mendampingi anak-anak saat ikut lomba ke luar kota bahkan ke luar negeri. Pernah saya harus mengantar anak-anak lomba di Singapore tanpa didampingi suami. Tapi it's ok....suami sangat mendukung dan mempercayai, serta agar 'ngirit' biaya. Hehehehe.

Tidak hanya tentang anak, tentang diri sayapun, alhamdulillah suami selalu memberi restu dan kepercayaan. Termasuk saat saya harus ke luar kota untuk tugas kantor maupun untuk acara lain...hehehehehe. Demikian juga dalam hal untuk pengembangan kapasitas saya dalam tri dharna perguruan tinggi. Suami selalu tahu dan sangat mendukung. Coba bayangkan jika suami tidak memberi restu, mana mungkin saya bisa berangkat. Alhamdulillah terimakasih kepada suami dan anak-anak yang selalu mengerti ibunya.

Saya menulis ini karena simpati saya bagi wanita terutama ibu-ibu yang seringkali mengalami keraguan dalam menjalani kehidupan ini. Apapun itu, dalam berumah tangga harus mempunyai tujuan yang sama. Tujuan itu harus dikomunikasikan, karena dengan satu tujuan yang sama, maka akan menjadikan langkah semakin pasti. Hilangkan ego, saling mengerti dan memahami adalah kunci dari semuanya. Hidup adalah pilihan.

Tulisan ini dibuat di sela-sela mencuci, sambil menunggu cucian di mesin cuci hehehehe.

Tulungagung,  Juli 2020