AKU MENJADI GILA (REFLEKSI MENJADI ANGGOTA GRUP PENULIS)

Eni Setyowati

Aku menjadi gila....ya...gila.... Gila karena semangat teman-teman yang sangat membara dan membuatku ikut membara juga. Secara pribadi aku sangat ingin seperti mereka, para guru-guru hebat di SPN (Sahabat Pena Nusantara) - grup literasi pertamaku - yang selalu memberikan motivasi dan ilmunya tentang menulis, dan itu membuatku menjadi gila, gila membaca dan gila menulis.

Setiap hari berpuluh-puluh tulisan hebat dari teman-teman hebat di SPN selalu menyemangatiku dalam menulis. Dan ini membuatku gila. Betapa tidak gila, dalam keseharianku saja rasanya waktu 24 jam itu tidak cukup, mulai bangun tidur sampai akan tidur lagi kegiatan menumpuk selalu di depan mata. Maklum ibu rumah tangga yang juga bekerja dengan dua putra tanpa asisten rumah tangga, yang setiap hari pulang dari kantor sudah sore bahkan kadang malam hari. Belum lagi bersih-bersih rumah, mencuci, menyeterika, menemani belajar, namun selalu berusaha menyempatkan diri untuk membaca dan menulis sedikit-demi sedikit. Hingga banyak teman-teman yang bilang “lha seperti itu mana bisa gemuk” hehehe.

Kegilaan ini semakin menjadi saat buku motivasi menulis dari tokoh-tokoh SPN berungkali saya baca. Ada SOS nya pak Emcho, Flow nya pak Hernowo dan buku-buku yang lain. Setiap mengulang membaca buku-buku tersebut semangat selalu membara. Namun saya akui memang ada yang kurang dalam diriku selama bergabung dengan grup SPN ini, yaitu belum pernah sama sekali bisa mengikuti “Kopdar” yang diadakan setahun dua kali. Sudah lima kali kopdar dan lima kalipun aku tidak bisa hadir. Sebenarnya aku iri kepada teman-teman yang bisa hadir di Kopdar, tetapi karena situasi dan kondisi yang menyebabkanku tidak bisa menghadirinya.

Setiap kopdar selalu saja bersamaan dengan jadwal lomba si kecilku. Kebetulan kopdar selalu diadakan pada hari minggu dan kegiatan lomba si kecil juga hari minggu. Seperti halnya kopdar kelima kemarin di Kampus Unesa, aku juga bersamaan dengan acara lomba si kecil di Trenggalek. Memang semua adalah pilihan, akupun harus memilih. Dan aku harus merelakan tidak mengikuti kopdar, karena si kecil sangat membutuhkanku dalam setiap kegiatan lombanya. Aku tahu sifat si kecil, dia harus ada mamanya jika mengikuti lomba, karena itu akan memotivasi dia dan secara mental dia akan merasa nyaman jika didampingi mamanya. Namun, seiring dengan waktu dan usia aku berharap si kecil nantinya akan lebih mandiri terutama dalam menghadapi perlombaan yang sering ia ikuti. Aamiin.

Terus terang secara pribadi aku juga merasa tidak nyaman dengan teman-teman SPN, seakan-akan aku tidak mempedulikannya, tetapi bagaimana lagi... Mohon maaf yang sebesar-besarnya kepada teman-teman SPN, semoga Kopdar ke VI yang InshaAllah akan diadakan di Semarang bulan Juni 2018 aku bisa menghadirinya, semoga tidak ada halangan dan semoga apa yang dikatakan pak mantan ketua SPN “yang penting tekat dan tiket” akan dapat dilaksanakan. Aamiin YRA.

Akupun sebenarnya selalu membayangkan betapa kerennya Kopdar SPN ini, apalagi saat teman-teman membahasnya di WAG, rasanya aku hanya bisa terdiam tanpa kata.  Meskipun demikian, seluruh aturan, kebijakan, motivasi dan tulisan-tulisan hebat dari grup SPN tidak pernah kulewatkan begitu saja.  Jika ada waktu longgar aku berusaha mencatat kembali tulisan-tulisan ataupun hasil diskusi dari teman-teman SPN yang ada di WAG. Dan memang menjadi anggota WAG SPN membuatku benar-benar menjadi gila. Kegilaan ini yang bisa mengantarku untuk selalu menulis dan menulis, dan semoga dalam waktu dekat bisa segera menerbitkan buku solo. Aamiin YRA.

Tulisan lama yang masih menjadi inspirasi untuk terus berproses...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>