IBU MULTITASKING….HIDUP ADALAH PILIHAN?

FOTO ENI DAN YAFIZ

Eni Setyowati

Tulisan ini terinspirasi dari penulis sendiri, serta pengalaman, curhat, maupun status teman atau orang lain.

Baru-baru ini di salah satu grup literasi di WA ada salah satu teman, seorang ibu dengan tiba-tiba keluar dari grup karena pertimbangan tertentu. Padahal secara 'kewajiban' beliau telah memenuhi kewajiban seperti yang disyaratkan oleh grup. Jika dilihat dari jumlah 'pentol merah' beliau masih aman. Syarat dikeluarkan dari grup jika jumlah 'pentol merah' sebanyak tiga berturut-turut. Ada apa gerangan? Anggota yang lainpun saya kira juga bertanya-tanya, termasuk saya.

Hingga saya mencoba kilas balik pengalaman saya sebagai seorang ibu, istri, wanita bekerja, juga penulis, meskipun belum sebagai penulis produktif. Selain itu, saya juga belajar dari cerita teman-teman tentang pengalamannya sebagai wanita dan ibu. Termasuk saya sering 'mengintip' status mbak Eka Zahra yang juga teman WAG saya. Mbak Zahra adalah seorang penulis muda dan berbakat. Tulisannya selalu renyah di setiap rangkaian kalimatnya. Iapun mengalami kebimbangan tentang perannya setelah menikah. Beliau adalah pengantin baru yang tentunya harus mengalami banyak adaptasi. Maaf mbak Zahra hehehe... Ternyata memang menjadi wanita dan ibu multitasking itu tidak mudah. Semua membutuhkan konsekuensi, dan ini adalah pilihan. Dukungan dan motivasi dari orang-orang terdekat sangatlah penting. Jika orang terdekat tidak mendukung, maka wassalam... Ibarat perahu, jika nahkoda tak sejalan dengan penumpangnya, maka tidak akan sampai di tujuan. Oleh karena itu memang perlu di komunikasikan bersama. Jika seorang istri, ia harus mengomunikasikan dengan suami. Jika seorang istri dan ibu, ia harus mengomunikasikan dengan suami dan anak-anaknya. Walaupun demikian, fitrah sebagai wanita, istri dan ibu tidak boleh ditinggalkan. Haduuh... membayangkan saja sulit...saya saja juga pusing...hehehehe.... Jangan dibayangin, jalanin aja... It's ok.

Pada suatu hari, anak sulung saya pernah berkata, "perempuan itu punya kelebihan, dapat melakukan kegiatan yang berbeda-beda dalam satu waktu". Tentu saja saya terkejut mendengarnya, mungkin ia sering melihat saya melakukan beberapa pekerjaan dalam waktu yang bersamaan. Istilah jawanya, "disambi". Sebagai contoh, setiap hari, terutama di pagi hari, dalam waktu bersamaan saya bisa membersihkan rumah, 'disambi' mencuci baju, 'disambi' masak, bahkan juga 'disambi' nulis, meskipun hanya nulis status hehehe. Memang begitulah seorang ibu, harus bisa berperan ganda.

Sayapun pernah disapa seorang teman, kemudian ia berkata, "wah enak ya jadi wanita karir, gak pernah ngurusin rumah". Saya diam sekejap, dan hanya tersenyum, sengaja saya tidak menjawab panjang lebar, karena iapun belum tentu percaya dengan jawaban saya. Batin saya, 'eiittsss jangan salah!!!!' jangan dilihat dari luarnya saja....

Saya memang wanita bekerja. Setiap hari, pagi hingga sore harus ke kantor. Suami pun begitu. Tetapi, karena itu memang pilihan sejak awal, sejak kami belum menikah, maka alhamdulillah sampai saat ini tidak ada masalah. Suami dan anak-anak sangat mengerti dan mendukung peran ibunya.

Kembali memverifikasi pertanyaan teman saya tadi, meskipun saya wanita bekerja alhamdulillah pekerjaan di rumah bisa saya lakukan dengan baik. Repot... Iya sih.... Saya tidak munafik, sangat repot, bahkan emosi kadang naik turun saat kita lelah, tetapi alhamdulillah jika kita lakukan dengan senang dan penuh tanggung jawab inshaAllah akan mudah.

Saya tidak pernah menyapu, mencuci, memasak.... Eeiittss... jangan salah, saya tidak punya asisten rumah tangga sejak anak saya yang kecil masuk sekolah dasar. Setiap hari sesudah sholat Subuh saya langsung melakukan tugas bersih-bersih rumah mulai menyapu dari halaman depan sampai belakang hingga lantai atas. Jangan anggap rumah saya di perumahan yaa, rumah saya ada di kampung, ukuran 8,5 x 40 meter belum ditambah lantai atas. Pastinya menyapu dan mengepel saja capeknya minta ampun, tetapi saya sangat menikmatinya. Kemudian lanjut merebus air, karena setiap hari saya selalu membuatkan kopi untuk suami. Memasak ala kadarnya untuk suami dan anak-anak meskipun hanya menggoreng tempe menjadi kegiatan rutin di pagi hari. Belum jika waktunya mencuci, tentunya pekerjaan itu harus dilakukan dengan 'disambi'. Alhamdulillah suami dan anak-anak seringkali membantu pekerjaan saya. Meskipun anak laki-laki, saya selalu menanamkan agar mereka bisa juga melaksanakan pekerjaan rumah. Mencuci baju, menjemur, mencuci piring seringkali dibantu oleh anak-anak dan suami. Alhamdulillah dengan menanamkan kebiasaan tersebut meskipun anak saya laki-laki semua, tetapi urusan rumah tidak jadi masalah.

Apakah suami dan anak laki-laki pantas di dapur? Siapa bilang tidak pantas. Al-Qur'an pun tidak ada yang melarangnya. Bahkan saling membantu sangat dianjurkan. Setiap malam kedua anak saya bergantian bertugas mencuci piring dan membuang sampah di tempat sampah yang berada di depan rumah. Alhamdulillah mereka memahaminya. Kebiasaan ini tentunya tidak serta merta, semua melalui proses.

Ada juga seorang teman mengatakan, 'Enak ya anaknya sudah besar'. Hehehehe memang sih bagi seorang ibu apalagi ibu yang bekerja akan lebih repot jika masih mempunyai putra yang masih kecil. Sayapun juga mengalami itu. Memang, saat anak kedua saya masih kecil saya mempunyai asisten rumah tangga. Sekali lagi, semua adalah pilihan, komunikasi dengan suami dan orang terdekat adalah upaya terbaik bagi ibu pekerja yang mempunyai putra yang masih kecil.

Saya mulai bekerja saat anak sulung saya usia 2 tahun. Saat itu saya mengajar di salah satu universitas swasta di kota saya. Dengan dukungan orang tua juga, sehingga saya menitipkan anak ke orang tua saat saya bekerja. Saat itu saya belum mempunyai ART. Saya mempunyai ART setelah saya melahirkan anak kedua.

Saat anak kedua berumur 3 bulan suami harus melanjutkan kuliahnya di UNS Solo. Selang 1 bulan, tepatnya saat si kecil berumur 4 bulan, saya harus mengikuti diklat prajabatan di Surabaya. Betapa bingungnya saat itu, saya tidak punya ART, ART yang mengasuh si kecil terpaksa harus berhenti karena hamil, maklum ia adalah penganten baru. Alhamdulillah seminggu sebelum saya berangkat diklat saya mendapatkan ART yang baru, sehingga saya lebih ringan meninggalkan si kecil di rumah neneknya dan dibantu ART. Tak terbayangkan, di saat saya harus memberi ASI, si kecil harus saya tinggalkan dua minggu ke Surabaya. Saya dan suami harus di luar kota, sementara anak-anak dititipkan neneknya. Atas dukungan dari semua orang terdekat alhamdulillah semua dapat berjalan lancar.

Di saat si sulung usia 7 tahun dan si kecil 1 tahun, saya lagi-lagi dihadapkan pada pilihan yang berat. Saya harus melanjutkan kuliah S3 di Malang, sementara suami masih belum selesai kuliahnya di Solo. Sekali lagi, komunikasi dan dukungan dari orang terdekat telah memudahkan langkah kami. Setahun kemudian alhamdulillah suami lulus, hingga hanya saya yang masih kuliah. Alhamdulillah 2,5 tahun saya bisa menyelesaikan doktoral saya. Semua karena dukungan dari orang-orang tersayang. Semua pengalaman saya tersebut selalu menjadi cambuk bagi saya dalam melangkah. Ingat..tanpa ada dukungan dari orang tua, suami, anak-anak dan orang terdekat apa yang kita lakukan tak akan berhasil.

Saya tekankan lagi, keputusan yang kita ambil adalah sebuah pilihan. Bagi wanita terutama seorang ibu, pilihan menjadi wanita pekerja memang tidak mudah. Komunikasi dengan suami sangat penting, jangan sampai ada ketidakharmonisan yang disebabkan karena kesalahpahaman. Kembalikan keputusan pada hasil musyawarah. Terimalah apa yang menjadi keputusan bersama. Yakinlah keputusan itu adalah yang terbaik. Setiap orang mempunyai pemikiran yang berbeda, tidak bisa disamakan antara satu dengan lain. Oleh karena itu hargailah apa yang menjadi keputusan bersama.

Saya, selaku ibu rumah tangga yang juga sebagai wanita bekerja, tentunya sangat banyak tanggung jawab yang harus diemban. Mendidik anak, melayani suami adalah tugas utama yang tidak boleh ditinggalkan. Sementara tugas sebagai pengelola program studi yang ibaratnya menjadi orang tua bagi mahasiswapun harus dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab. Belum lagi tugas-tugas yang lain termasuk menjadi bagian dari grup ini. Semua harus dilakukan dengan baik. Meskipun saya merasa belum maksimal, namun upaya harus dilakukan untuk yang terbaik.

Bagaimana saya bisa setiap pagi menulis...rasanya tak mungkin. Pagi hari bagi saya adalah waktu untuk berlari-lari karena harus urus sana urus sini hehehe. Namun, itu tak menjadikan saya menyerah. Saya seringkali mencuri waktu untuk membaca maupun menulis dengan tidak mengeyampingkan kewajiban lainnya. Apakah suami dan anak-anak mengetahuinya? Tentu saja mereka tahu dan paham. Anak-anak alhamdulillah sangat memahami ibunya, karena ibunya selain bekerja masih bisa menyempatkan mendidik dan mengajari mereka di rumah.

Di saat anak-anak masih TK hingga SD, ibunya yang selalu menemani mereka dimanapun mereka pergi. Saat mereka mengikuti lomba saya yang selalu menemaninya. Bahkan saat harus mengikuti lomba ke luar kota atau bahkan ke luar negeri, tetap ibunyalah yang menemani. Apapun itu, ibu adalah yang paling diinginkan anak-anaknya selalu ada disampingnya. Alhamdulillah selama ini saya bisa melakukannya. Kepercayaan dari suami telah memberikan semangat bagi saya untuk bisa mendampingi anak saat mereka membutuhkan saya. Hingga, seringkali saya sendiri yang mendampingi anak-anak saat ikut lomba ke luar kota bahkan ke luar negeri. Pernah saya harus mengantar anak-anak lomba di Singapore tanpa didampingi suami. Tapi it's ok....suami sangat mendukung dan mempercayai, serta agar 'ngirit' biaya. Hehehehe.

Tidak hanya tentang anak, tentang diri sayapun, alhamdulillah suami selalu memberi restu dan kepercayaan. Termasuk saat saya harus ke luar kota untuk tugas kantor maupun untuk acara lain...hehehehehe. Demikian juga dalam hal untuk pengembangan kapasitas saya dalam tri dharna perguruan tinggi. Suami selalu tahu dan sangat mendukung. Coba bayangkan jika suami tidak memberi restu, mana mungkin saya bisa berangkat. Alhamdulillah terimakasih kepada suami dan anak-anak yang selalu mengerti ibunya.

Saya menulis ini karena simpati saya bagi wanita terutama ibu-ibu yang seringkali mengalami keraguan dalam menjalani kehidupan ini. Apapun itu, dalam berumah tangga harus mempunyai tujuan yang sama. Tujuan itu harus dikomunikasikan, karena dengan satu tujuan yang sama, maka akan menjadikan langkah semakin pasti. Hilangkan ego, saling mengerti dan memahami adalah kunci dari semuanya. Hidup adalah pilihan.

Tulisan ini dibuat di sela-sela mencuci, sambil menunggu cucian di mesin cuci hehehehe.

Tulungagung,  Juli 2020

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>