MENENGOK AJARAN KEARIFAN SERAT KALATIDHA MENUJU UKHUWAH ISLAMIYAH

Eni Setyowati

Di jaman now, semuanya serba modern,  serba instan dan serba canggih. Sayangnya dengan kemajuan jaman tidak diiringi dengan akhlak yang baik. Sesungguhnya akhlak yang baik itu adalah sebagian dari iman, buah perjuangan batin orang-orang yang bertakwa. Sedangkan akhlak yang buruk adalah racun yang mematikan dan pembawa kebinasaan dan kehinaan yang merendahkan, serta kejahatan yang menjauhkan manusia dari hadirat Allah, dan menyeretnya ke dalam jalan setan yang terkutuk.

Bicara tentang jaman now, saya teringat pada kandungan falsafah Jawa "serat kalatidha". Serat kalatidha merupakan gubahan Ranggawarsita yang melukiskan tentang keadaan jaman Gemblung, yaitu jaman dimana manusia dihadapkan pada sesuatu yang merepotkan dan membingungkan. Marilah kita lihat kembali terjemahan dari serat kalatidha tersebut. "Keadaan negara yang demikian merosot. Karena tidak ada lagi yang memberi teladan. Para cerdik pandai terbawa arus jaman yang penuh keragu-raguan. Suasana mencekam karena dunia sudah penuh masalah. Semua pemimpin baik, tetapi tidak menghasilkan kebaikan. Masalah semakin banyak. Hati rasanya menangis penuh kesedihan karena dipermalukan. Karena perbuatan seseorang yang selalu memberi harapan. Karena ada pamrih untuk mendapatkan sesuatu. Karena terlalu banyak kabar angin yang beredar. Hasilnya hanya mengakibatkan kesusahan."

Cuplikan terjemahan tersebut menunjukkan situasi di jaman now. Orang seringkali menyebutnya dengan jaman edan. Di jaman edan atau jaman gemblung ini persaudaraan antar sesama mulai terkikis, yang dekat seakan jauh, sebaliknya yang jauh terasa dekat. Semuanya serba maya, bahkan seringkali kita disuguhi oleh berita-berita, sikap dan perilaku yang serba maya. Pada terjemahan serat kalatidha di atas, salah satu keadaan disebutkan “terlalu banyak kabar angin”, nah saat ini hal tersebut telah terjadi. Sesungguhnya di jaman now bisa dijadikan cermin dalam menimbang hal baik dan buruk. Oleh karena itu, di jaman now ini adalah waktu yang tepat untuk berserah diri pada Tuhan dan waspada. Hal ini sejalan dengan pandangan Ranggawatsita, "beruntungnya orang yang lupa, masih lebih beruntung orang yang selalu ingat dan waspada". Dengan kewaspadaan, manusia tidak mudah tergoda dengan sesuatu yang tampak gemerlap namun menjerumuskan, dan akan mampu mengendalikan segala keinginan. Selain itu kita harus terus berikhtiar dengan melakukan kebajikan. Perihal hasil dari ikhtiar itu, hendaklah diserahkan kepada kebijaksanaan Tuhan. Inilah sikap optimis dan arif yang harus dilakukan di jaman now. Bersikap sabar juga sangat dibutuhkan di jaman now. Dengan selalu sabar manusia akan menjadi tenang. Dengan ketenangan manusia akan tahu mana yang baik dan yang buruk.

Dengan sikap-sikap di atas, inshaAllah kita akan dapat menghadapi kejahatan jaman now, yang dapat mengoyak ukhuwah islamiyah atau persaudaraan yang telah ditanamkan oleh junjungan kita Nabi Muhammad saw. Ingat...penjahat itu ibarat burung enggang, berparuh besar namun tak dapat terbang. Ia selalu berpikir serta berbuat untuk kepentingan pribadi. Tidak senang bila melihat orang lain memiliki kemampuan, dan sebaliknya sangat senang jika melihat orang lain bodoh. Ia selalu memyembunyikan borok-boroknya sendiri dan suka membongkar borok orang lain. Iri hati dan suka memfitnah. Ia suka disanjung daripada dikritik, karena merasa dirinya paling hebat, sekalipun tidak pernah membuktikan kehebatannya. Pengetahuannya terbelenggu di dalam sarangnya hingga kehebatan yang dikoar-koarkan sekadar kata-kata hampa. Di jaman now sering disebut sebagai penebar hoax.

Semoga kita selalu dihindarkan dari penjahat seperti itu. Dan kita selalu bisa menjaga ukhuwah islamiyah. Aamiin Ya Rabbal Alamin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>