DARI KORAN KE BUKU

Oleh: Eni Setyowati

Kegemaranku terhadap buku sebenarnya dimulai dari koran langganan ayah. Ayahku bukan guru atau profesi lain yang mengharuskan membaca buku, tapi ayahku adalah seorang pedagang, sedangkan ibuku hanya ibu rumah tangga yang membantu ayah dalam berdagang. Awalnya toko ayah hanya merupakan kios kecil, alhamdulillah lambat laun menjadi sebuah toko yang cukup besar. Meskipun hanya sebuah kios kecil, kegemaran ayah membaca koran tak menyurutkan niatnya untuk berlangganan koran harian.

Tentang buku, ayah jarang bahkan bisa dikatakan tidak pernah membaca buku, ya hanya dari koran itulah bacaan ayah setiap hari. Namun demikian jika bicara masalah pendidikan putra-putrinya ayah tidak kalah dengan orang tua yang berpendidikan tinggi.  Masih teringat saat itu, ayah sedang membaca koran, dalam usiaku yang masih TK, muncul rasa ingin tahuku yang sangat besar tentang bagaimana caranya membaca koran. Waktu itu terbersit pertanyaan dalam diriku bagaimana membacanya kok bentuknya berupa kolom-kolom. Akupun bertanya kepada ayah, meskipun saat itu aku belum bisa membaca dengan lancar, ayahpun mengajari urutan membaca koran. Seiring dengan waktu, aku dikenalkan juga oleh ayah dengan komik, awalnya juga bingung bagaimana urutan membaca komik dan ayahpun mengajarinya.

Masuk usia sekolah dasar, saat itu usiaku masih 5 tahun (dulu usia 5 tahun bisa masuk SD, maklum SD di kampung) baru aku mengenal namanya buku pelajaran. Di situlah aku mulai belajar membaca sehingga menjadi lancar dan menambah ilmu yang kudapatkan dari sekolah. Bicara tentang buku pelajaran atau buku diktat, aku selalu punya paling duluan dibanding teman-teman di kelas, karena ayah selalu membelikan buku secepatya jika ibu guru sudah memberitahu buku yang akan digunakan.

Waktu berlalu hingga aku menginjak remaja, selain koran, komik, buku pelajaran, aku mulai diperkenalkan dengan majalah untuk remaja. Saat itu masih teringat majalah remaja pertama yang aku beli adalah ANEKA. Hingga masuk SMA ayah selalu membelikan buku pelajaran yang paling awal, sekaligus buku penunjang (buku soal-soal) meskipun pada saat itu buku kumpulan soal-soal masih sedikit tidak seperti sekarang ini. Bahkan ayah sampai membelikannya di kota Kediri atau Malang, jika di Tulungagung tidak ada.

Kebiasaan ayah mengenalkan aku tentang dunia membaca lewat koran hingga berburu buku pelajaran, menurun pada diriku. Pada saat aku kuliah, berburu buku adalah pekerjaan yang menyenangkan jika ada waktu luang, tapi karena masih keterbatasan kiriman uang dari orang tua, berburu buku yang paling sering adalah di blok M (kios buku bekas/bajakan di jalan Majapahit kota Malang). Jikapun ke Gramedia biasanya hanya membaca sampai ber jam-jam tapi tidak membeli hehehe. Hingga kini bukuku semasa kuliah masih ada di rumah orang tua, dan masih tertata rapi di almari. Ayah dan ibu tetap menyimpannya, sengaja tidak aku bawa ke rumah karena rumah juga sudah penuh buku.

Waktu berlalu dan akhirnya aku menempuh S2 dan S3 dengan beasiswa, sehingga berburu buku dengan membelinya cukup terpenuhi. Hingga akhirnya di kamar kos terasa penuh buku, apalagi sewaktu S3. Saat inipun berburu buku masih aku lakukan, jenis bukunya pun mulai berkembang dari berbagai bidang. Di rumah rak bukupun sudah tidak muat untuk diisi buku lagi, sehingga sebagian buku terpaksa dimasukkan di almari lain, belum bukunya suami dan anak-anak....hingga rumah terasa gudang buku hehehe...

Kisahku waktu dulu, kini terkenang saat aku mengenalkan buku kepada anak-anakku. Alhamdulillah jika ada bursa buku murah atau akhir pekan kami selalu sempatkan mengunjungi toko buku. Dan kini anak-anakpun juga menyukai buku. Si sulung saat masuk SMA mulai aku perkenalkan dengan karya tulis ilmiah, dengan harapan melalui karya tulis ilmiah ia akan terbiasa membaca, menulis dan melalukan penelitian. Seperti halnya diriku, koleksi buku anakku pun kini sudah memenuhi ruangan di rumah. Bahkan koleksi majalah Bobo dan Sains Kuark si kecil mulai pertama kali langganan tidak boleh hilang atau diberikan orang lain atau diloakkan karena sesekali masih dibacanya karena cerita di majalah Bobo dan Kuark asyik-asyik.

Kini akupun selalu berdoa semoga anak-anakku pun juga akan menyukai buku, mambaca dan mampu menulis buku. Alhamdulillah, membaca buku kini digemari anak-anakku. Si sulung lebih menyukai buku tentang motivasi. Buku-buku motivasi orang sukses telah memenuhi rak bukunya. Setiap pulang acara dari luar kota, buku adalah oleh-oleh wajib yang selalu dibawanya. Demikian juga dengan si kecil, ia lebih suka komik dan cerita petualang. Beda dengan sang kakak, si kecil sudah mulai belajar menulis, apalagi ditunjang oleh program sekolahnya yang mendukung literasi. Kini si kecil telah mempunyai satu karya buku yang siap terbit. Saat ini sudah berada di penerbit, proses menunggu buku itu terbit. Selain itu si kecil kini mulai mencoba untuk mengikuti semacam lomba menulis. Baru kemarin ia menyetorkan naskah cerpennya untuk ikut lomba. Bukan kalah atau menang yang hebat, tapi prosesnya yang patut diacungi jempol. Sebagai orang tua, tentunya sangat bangga melihat anaknya mau berproses dalam dunia literasi. Semoga mereka selalu menjadi anak yang menjadi kebahagian bagi orang tuanya. Aamiin YRA.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>