MANIFESTASI ILMU (Kajian Makna Ilmu dalam Al-Qur’an)

Oleh: Eni Setyowati

Dan agar orang-orang yang telah diberi ilmu, meyakini bahwasanya Al Quran itulah yang hak dari Tuhan-mu lalu mereka beriman dan tunduk hati mereka kepadaNya dan sesungguhnya Allah adalah Pemberi Petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus. (Q.S. Al-Hajj:  54)

Ayat di atas menunjukkan bahwa begitu tingginya kedudukan ilmu bagi manusia. Namun, manusia tidak boleh sombong dengan ilmu yang diperolehnya. Ilmu harus digunakan sesuai dengan petunjuk Al-Qur’an. Kita tahu bahwa keutamaan manusia dibanding makhluk lain adalah karena manusia diberi ilmu oleh Allah SWT. Bahkan di dalam Al-Qur’an menggunakan kata ‘ilm dalam berbagai bentuk dan artinya, sebanyak 854 kali. Salah satu pengertian ilmu seperti dalam QS. Al Baqarah ayat 31-32, adalah sebagai “proses pencapaian pengetahuan dan objek pengetahuan”. Jadi, “ilmu mencakup segala macam pengetahuan yang berguna bagi manusia dalam kehidupannya, baik masa kini maupun masa depan”.

Rasulullah SAW sudah sejak awal mengajarkan pentingnya ilmu pengetahuan. Beliau bersabda: “Carilah ilmu, karena barang siapa yang memperoleh ilmu di jalan Allah, sama halnya melakukan kesalihan; barang siapa yang membicarakan ilmu pengetahuan sama halnya memuji Allah; barang siapa yang mencarinya sama halnya memuja Allah; barang siapa yang mengajarkan pengetahuan sama halnya memberikan sedekah; dan barang siapa mengajarkan dengan maksud yang benar sama halnya dengan mengabdi kepada Allah”.

Pada dasarnya ilmu terdapat dua hal, yaitu ilmu abadi dan ilmu yang dicari. Ilmu abadi merupakan ilmu yang berdasarkan wahyu Illahi yang tertera di dalam Al-Qur’an dan Hadits yang bersifat mutlak atau hakiki, sedangkan ilmu yang dicari merupakan ilmu sains serta terapannya, dimana ia bersifat dapat berubah atau berkembang. Pada tulisan ini hanya akan membahas tentang jenis ilmu yang kedua yaitu ilmu yang dicari atau sains.

Di dalam QS. Al-‘Ankabut ayat 20, menunjukkan bahwa objek ilmu mencakup batas-batas alam materi, sehingga ilmu itu dapat dipahami, serta dianjurkan untuk melakukan observasi dan eksperimen. Selain itu, dalam QS. An-Nahl ayat 78 juga menganjurkan agar manusia menggunakan akal dan intuisinya. Anjuran menggunakan akal dan intuisi ini dikarenakan keterbatasan dari ilmu manusia. Kegiatan melakukan observasi dan eksperimen inilah yang merupakan manifestasi dari ilmu sendiri. Manifestasi ilmu itu harus dapat memberikan manfaat dan kemudahan kepada seluruh umat, serta harus mampu membawa kebahagiaan ke seluruh penjuru dan sepanjang masa.

Manifestasi ilmu ini telah mengalami perkembangan yang sangat pesat. Berbagai perkembangan ilmu di berbagai bidang menunjukkan bahwa betapa pentingnya ilmu bagi kesejahteraan umat. Sebagai contoh manifestasi ilmu kimia. Kimia, sebagai ilmu, tak terbantahkan lagi merupakan temuan kaum muslimin. Abu Musa Jabir adalah bapak ilmu kimia yang sebenarnya. Selain itu, ilmu kedokteran dan ilmu bedah juga merupakan bukti terbaik dan genius muslim. Tak diragukan lagi, ilmu kedokteran mencapai tingkat kesempurnaan di kalangan orang Yunani, tapi orang Arab mengembangkannya jauh melampaui tahapan yang dicapai leluhur mereka dan turut menyumbang peradaban dan membawa ilmu kedokteran menjadi begitu dekat dengan standar ilmu kedokteran modern.

Ilmu tentang obat-obatan, merupakan karya orang Arab. Mereka menemukan kimia farmasi dan merupakan pendiri pertama lembaga yang kini disebut apotek. Mereka mendirikan rumah sakit umum, rumah penyembuhan dan menjalankan rumah sakit tersebut. Ibnu Sina, tak diragukan lagi merupakan orang paling berbakat pada zamannya. Sebagai seorang filsuf, ahli matematika, astronom, penyair, dokter, ia meninggalkan pengaruhnya yang besar pada dua benua dan pantas mendapat gelar Aristoteles dari Timur.

Selanjutnya adalah Ibnu al-Nafis. Ibnu al-Nafis adalah ilmuwan yang berasal dari Damaskus. Ia mempunyai kontribusi yang besar dalam bidang kedokteran atau medis. Ia juga sebagai ilmuwan pertama yang menjelaskan tentang teori pembuluh darah kapiler. Teorinya secara akurat mampu menjelaskan bagaimana peredaran darah di dalam tubuh manusia. Ibnu al-Nafis juga dikenal sebagai “bapak fisiologi peredaran darah”.

Ilmuwan lainnya adalah Ibnu Khaldun. Siapa yang tidak mengenal Ibnu Khaldun? Ibnu Khaldun adalah ilmuwan yang berasal dari Tunisia. Ia juga dikenal sebagai bapak historiografi (ilmu metode pengembangan sejarah), sosiologi (ilmu tentang perilaku sosial), dan ekonomi (ilmu tentang aktivitas manusia yang berkaitan dengan produksi, distribusi dan konsumsi). Karya Ibnu Khaldun yang terkenal adalah Muqaddimah. Bahkan, ia  telah hafal Al-Qur’an sejak usia dini.

Selain beberapa ilmuwan muslim di atas, tentunya masih banyak ilmuwan muslim yang tidak saya sebutkan di sini. Contoh-contoh manifestasi ilmu di atas, menunjukkan kebebasan intelektual dari dunia Islam, dengan tetap menjaga keaslian sifat Islam. Islam telah membuktikan dirinya sebagai pendukung dan penyokong pada kehidupan ilmu pengetahuan dan peradaban.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>