Monthly Archives: August 2020

6 Comments

Oleh: Eni Setyowati

Jika bukan orang Jawa pasti deh bingung dengan istilah jangan blendrang. Jangan blendrang adalah sayur bersantan yang telah nginap (dimasak hari ini, namun masih dimakan untuk besok, lusa atau beberapa hari kemudian). Pemrosesannya menjadi blendrang adalah dengan “selalu” dipanasi agar sayur tersebut tidak basi. Mungkin ini juga terjadi di daerah luar Jawa, namun mempunyai istilah yang berbeda.

Jangan blendrang adalah makanan yang penuh sensasi. Mengapa demikian, karena jangan blendrang mempunyai cita rasa yang lebih mantap daripada makanan yang masih baru. Banyak kisah yang saya alami terkait dengan jangan blendrang ini. Masih ingat puluhan tahun yang lalu. Saat itu saya berusia Sekolah Dasar. Minimal setahun sekali keluarga besar dari ibu berkumpul merayakan hari raya idul fitri. Salah satu acara rutin adalah keliling ke rumah saudara. Kami keluarga besar memilih titik kumpul di rumah nenek dan kakek. Nenek dan kakek dari ibu saya memiliki sepuluh anak, sehingga jika kami berkumpul tentunya sangat ramai sekali, karena jumlahnya mencapai sekitar empat puluhan (saat ini sudah lebih). Setelah acara di rumah nenek, biasanya kami keliling ke saudara dekat, dan kemudian ke rumah mbah buyut. Saat itu mbah buyut masih sehat. Di rumah mbah buyut inilah kami makan siang. Makan yang selalu tersedia adalah jangan blendrang koro. Jangan blendrang koro masakan mbah buyut mempunyai sensasi tersendiri. Kami tidak tahu apa yang menyebabkan jangan blendrang koro mbah buyut ini rasanya sangat mantap. Yang saya ingat, blendrang koro mbah buyut ini sampai berwarna hampir kehitaman hehehehe (kira-kira mblendrang/nginap nya sampai berapa hari ya???). Jangan blendrang koro dengan nasi hangat, ikan asin (gerih) dan krupuk terasa nikmat sekali. Apalagi kami menyantapnya setelah berkeliling, perut pas lapar-laparnya...hemmm, tak terbayangkan rasanya. Kini, mbah buyut sudah tiada, sayapun menjadi tidak begitu menyukai blendrang koro, karena blendrang koro yang paling enak adalah blendrang koro masakan mbah buyut.

Kisah tentang jangan blendrang yang selanjutnya adalah blendrang pepaya muda. Saya mengenal pertama kali blendrang pepaya muda adalah dari tetangga saya waktu masih kecil. Saat itu saya usia sekolah dasar. Saya sering bermain di tetangga belakang rumah. Rumah berdinding bambu benar-benar menggambarkan rumah yang sangat sederhana. Apalagi lantai masih tanah, tetapi rasa adem sangat terasa saat masuk di rumah itu. Di suatu siang saya diajak makan bersama. Kebetulan menggunakan jangan blendrang pepaya muda. Sayapun makan dengan lahapnya. Hingga saat saya pulang, saya menyampaikan kepada ibu, “Buk, tadi saya makan uenak di tetangga, pokoknya uenak, saya tidak tahu namanya, besok dimasakin kayak itu ya?” Ibu saya pun bingung, “apa ya yang dimakan, kok anaknya sangat suka sekali, dan ibunya diminta memasak seperti masakan tadi”. Akhirnya, ibu saya ke tetangga dan menanyakan, ternyata adalah blendrang pepaya muda. Betapa terkejut dan tertawanya ibu waktu itu. Hehehehehe. Keesokan harinya, ibu pun memasak lodeh pepaya muda ditambah kacang lotho dan daging. Saya pun memakannya. Namun, rasanya berbeda dengan yang kemarin. Saya pun bilang ke ibu, “kok rasanya tidak sama dengan yang punya tetangga kemarin?” Ibu pun kebingungan. Ibu kembali ke tetangga bertanya lagi, ternyata lodeh pepaya muda buatan tetangga hanya berisi pepaya muda saja tanpa ada kacang lotho dan daging....hehehehe, ibu pun tertawa lagi. Kata ibu selanjutnya, “lha dikasih yang lebih enak, ada dagingnya kok malah gak mau”..... Saat itulah, ibu jika memasak lodeh pepaya muda tanpa ditambah daging hehehe. Sampai kini, lodeh terfavorit saya adalah lodeh pepaya, apalagi kalo sudah menjadi blendrang.....hemmmmm rasanya bikin nendang.

Sebenarnya jangan blendrang itu banyak sekali macamnya, ada blendrang nangka muda, blendrang kacang dan lainnya, Namun, blendrang yang paling saya suka adalah blendrang pepaya muda. Hingga kinipun jika memasak lodeh saya sering memasak lodeh pepaya muda hingga menjadi blendrang hehehe.

Realita Lain Jangan Blendrang

Terdapat beberapa realita lain dari jangan blendrang. Pertama, dari segi kesehatan. Di balik cita rasa yang sangat enak, ternyata jangan blendrang mempunyai realita yang lain. Menurut Rudianto, 2013 dalam bukunya yang berjudul “Menaklukkan Hipertensi dan Diabetes (Mendeteksi, Mencegah dan Mengobati dengan Cara Medik dan Herbal), penerbit Sakkhasukma, Yogyakarta, “makanan blendrang/makanan kemarin, banyak mengandung kadar garam dan lemak yang tinggi, sehingga dapat memicu hipertensi. Jika dalam waktu yang panjang, dapat menyebabkan komplikasi yaitu kerusakan pada otak, jantung, ginjal dan mata.” Selanjutnya, Golbidi, 2012 juga menyatakan bahwa, “pola makan tinggi lemak akan berdampak pada kejadian obesitas. Obesitas berhubungan dengan endotel, yang disebabkan oleh adanya efek yang mempengaruhi keseimbangan kolesterol dan HDL. (“Golbidi, S., Mesdaghinia, A., & Laher, I. (2012). Exercise in the metabolic syndrome. Oxidative  medicine and cellular longevity, 2012, 1–13. doi: http://dx.doi.org/10.1155/2012/349710”).

Salah satu penyebab penyakit tersebut adalah gaya hidup yang tidak sehat, yang berkaitan dengan konsumsi makanan yang tidak sehat, dan disertai aktivitas fisik yang kurang. Salah satu konsumsi makanan yang tidak sehat adalah makanan bersantan dan banyak lemak. Nah...gaya hidup ini terbentuk melalui sebuah kebiasaan yang berlangsung lama, terus menerus dan didukung oleh adanya suatu komunitas. Komunitas tersebut bisa dimulai dari keluarga. Ketidaktahuan dan kebiasaan yang lama, menahun dan turun-temurun tanpa diimbangi dengan pembakaran kalori yang cukup melalui olah raga, dapat memicu peningkatan penyakit jantung koroner. Oleh karena itu perlu adanya perubahan gaya hidup. Untuk mengubahnya dibutuhkan sebuah sosok yang mampu memulai dan mengajak untuk mengubah. Mengubah gaya hidup tentunya bukanlah hal yang mudah. Perubahan perilaku sangat berhubungan dengan pemahaman dan kesadaran yang tinggi. Pemahaman dan kesadaran ini seringkali berlawanan dengan kebiasaan sebelumnya yang sudah tertanam, sehingga kondisi ini menyebabkan hal yang tidak menyenangkan. Namun demikian, peran keluarga dan komunitas sangat penting dalam membentuk kebiasaan. Demikian juga dengan kasus jangan blendrang ini. Jadi mulai sekarang kita harus hati-hati dalam mengkonsumsi jangan blendrang ini. Kurangi mengkonsumsi jangan blendrang. OK...

Kedua, realita jangan blendrang yang saat ini lagi ngetrend karena digunakan di dalam lirik lagu yang berjudul “Jangan Nget-Ngetan” dan “Tuman”. Di dalam lagu tersebut, jangan blendrang diartikan sebagai perasaan yang menggambarkan seseorang yang sedang kembali dengan mantan pacar. Jika kembali dengan mantan, maka rasanya seperti jangan blendrang (makan makanan kemarin). Inilah secuil lirik lagu jangan blendrang di kedua lagu tersebut:

Lagu “Jangan Nget-Ngetan”

Tuku ketan neng prapatan

Balikan neng mantan

Podho karo mangan jangan nget-ngetan

Lirik lagu “Tuman”

Balikan karo mantan pada karo jangan blendrang

Ho...Tuman

Nyimpen nomor gebetan jenengi patok desa

Ho...Tuman

 

Begitulan realita Jangan Blendrang, sampai saat ini tetap menjadi sensai dan melegenda.

2 Comments

Eni Setyowati 

lebah 1

Bagi umat Islam, kesadaran akan iman dan takwa serta ilmu pengetahuan dan teknologi sangat berkaitan dengan keyakinan terhadap Al-Qur’an atas pemahaman tentang kehidupan dan alam semesta yang diciptakan. Di antara sekian makhluk ciptaan Allah yang tak terhitung jumlahnya dan beraneka ragam jenis binatang dengan kelebihan dan keistimewaannya, ada makhluk kecil yang unik jika kita perhatikan secara seksama. Makhluk ini tergolong jenis serangga dan banyak memberi manfaat bagi manusia. Binatang kecil tersebut adalah ‘lebah’. Lebah sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari, yang sangat terkenal dengan khasiat madunya, yaitu dapat mengobati segala macam penyakit. Saat ini banyak obat-obatan herbal yang menggunakan bahan baku madu. Selain itu madu dapat dikonsumsi secara langsung untuk menjaga stamina tubuh. Ternyata tidak hanya madu saja yang bermanfaat dan dapat dipetik hikmahnya dari binatang lebah ini, masih banyak bagian lebah yang dapat bermanfaat bagi manusia. Seperti dalam QS. An-Nahl 68-69, disebutkan:

Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibuat manusia”. “Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam variasinya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan.”

Berdasarkan ayat di atas, marilah kita kaji apa saja yang dapat kita ambil hikmah dan manfaat dari binatang kecil bernama ‘lebah’ ini. Pada kajian ini akan dibahas tiga hal yaitu sarang lebah, manfaat madu lebah, dan sifat lebah.

Sarang Lebah

Tentunya kita sudah banyak mengetahui tentang sarang lebah, tetapi apakah selama ini kita telah mengerti bagaimana lebah membuat sarangnya tersebut? Mengapakah Allah menciptakan sarang lebah seperti itu? Jika berbicara tentang sarang lebah, saya selalu teringat dengan sebuah makanan atau lauk yang dikenal dengan nama ‘bothok tawon’. ‘Bothok tawon’ adalah makanan dari sarang lebah dengan bumbu utama yang digunakan santan, bawang putih, belimbing wuluh dan bumbu-bumbu lain. ‘Bothok tawon’ jika dihidangkan dengan nasi hangat...heeemmmm sangat lezat rasanya.

Namun sekarang marilah kita buang angan-angan bagaimana rasa dari ‘bothok tawon’ tersebut. Saat ini marilah kita pikirkan tentang bentuk dari sarang lebah itu. Dengan mengetahui bentuk sarang lebah, tentunya akan dapat meningkatkan ketaqwaan dan rasa syukur kita kepada Allah SWT. Sarang lebah berbentuk heksagonal (segi enam). Bentuk heksagonal ini adalah bentuk yang paling efektif jika dibandingkan dengan bentuk geometri yang lain. Dengan bentuknya yang heksagonal tersebut, sarang lebah mampu menjadikan mereka menyimpan lebih banyak madu dan dalam membuatnya mereka hanya menggunakan material yang amat sedikit. Subhanallah.

Perhatikan bentuk sarang lebah pada gambar berikut ini.

lebah 1

 lebah 2

Bentuk heksagonal yang simetris, jika digabungkan akan menghasilkan kombinasi ruang guna yang sempurna, yaitu tidak menghasilkan ruang-ruang sisa yang tak berguna, namun tidak pada ruang-ruang yang berpenampang lingkaran atau segilima. Pada bentuk ruang dengan penampang segitiga atau segiempat bisa jadi juga menghasilkan kombinasi yang optimal, namun bahan baku yang dibutuhkan untuk membuat bentuk-bentuk ini ternyata lebih banyak daripada yang dibutuhkan untuk membuat bentuk ruang dengan penampang heksagonal. Ruang penyimpanan berbentuk heksagonal, ternyata membutuhkan bahan baku lilin paling sedikit, dengan daya tampung terbesar.

Lebah membangun sarangnya dengan menyusun dari sudut-sudut yang berbeda, biasanya dari empat titik yang berbeda dan bertemu di tengah. Dalam tingkat kesalahannya sangat kecil bahkan tanpa kesalahan sedikitpun. Sarang berbentuk segi enam merupakan bentuk yang terbaik karena dalam hal ini lebah menyimpan madu dalam jumlah besar.

Di dalam Fakhrudin (2013), disebutkan bahwa ketika membuat sarangnya lebah memiliki perhitungan sempurna dan akurat. Para lebah mulai membuat sarangnya dengan membangun sel-sel tempat menyimpan madu dari sudut-sudut yang berbeda hingga pada akhirnya mereka bertemu di tingkat akhir dari pekerjaan tersebut yaitu terbentuklah sarang heksagonal yang simetris dan serasi.

Manfaat Madu Lebah

Di dalam QS. An-Nahl 69 yang telah disebutkan di atas, menunjukkan bahwa madu memiliki khasiat yang menyembuhkan berbagai macam penyakit. Di dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori, dikatakan bahwa seorang laki-laki menemui Rasulullah seraya berkata: “Saudara laki-laki saya sakit perut” Nabi SAW bersabda: “Suruh dia minum madu!” Lalu laki-laki itu menuruti perintah Rasulullah. Laki-laki tersebut datang lagi yang kedua kalinya, kemudian Nabi SAW bersabda: “Suruh dia minum madu!” Kemudian laki-laki tersebut datang yang ketiga kalinya sambil berkata: “Madu itu malah memperburuk sakit perutnya.” Rasulullah  pun bersabda: “Maha Benar Allah dan perut saudaramulah yang menolak.” Akhirya, Rasulullah sendiri yang meminumkannya madu dan sembuhlah saudara laki-laki tersebut.

Berdasarkan hadits di atas, menunjukkan kepada manusia betapa besarnya manfaat madu lebah bagi manusia. Marilah di sini kita lihat apa saja manfaat madu berdasarkan hasil riset ilmiah. Di dalam Thayyarah (2014), disebutkan beberapa manfaat dari lebah madu. Pertama, madu dan luka bakar. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa luka bakar yang diobati dengan madu bersih dari bakteri setelah lukanya diolesi madu selama tujuh hari. Kedua, madu kaya dengan kandungan antioksidan. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa madu juga dapat dipakai sebagai alternatif penggunaan pemanis buatan sehingga bisa memperkuat daya tahan terhadap penyempitan pembuluh nadi, penuaan dini, dan sebagainya.

Ketiga, madu dan organ pernapasan. Madu juga dapat menyembuhkan rhinitis alergi atau demam alergi yang sering terjadi di musim panas, dapat menyembuhkan sinusitis, influenza dan batuk-batuk. Keempat, madu dan penyakit mulut dan gigi. Madu juga dapat digunakan pada pengobatan penyakit radang mulut dan untuk pengobatan luka bakar pada kulit wajah dan bagus untuk bayi, untuk pengobatan gigi dan membersihkan mulut. Kelima, madu dan penyakit kulit. Berdasarkan hasil penelitian, madu juga dapat digunakan untuk penyakit bisul, anthrax jinak (radang bawah kulit), gangguan kelenjar tiroid, luka bakar pada kulit, radang kulit tropis, peremajaan sel kulit mati dan sebagainya. Keenam, madu dan penyakit jantung. Madu dapat meningkatkan kualitas sirkulasi darah, memperkuat otot jantung, memperbesar pembuluh darah, melenturkan otot jantung, dan mengatasi anemia jika dikonsumsi secara teratur sebanyak dua sendok setiap hari.

Ketujuh, madu dan organ pencernaan. Madu dapat mengobati sembelit, diare, radang mulut, radang pencernaan, lambung, atau usus dua belas jari, hepatitis, keracunan maupun mencegah radang usus besar. Kedelapan, madu dan gangguan saluran air seni. Madu membantu melancarkan air seni bagi para penderita gagal ginjal, radang ginjal, radang liver, dan penyumbatan saluran dalam tubuh. Madu dapat juga membantu menghancurkan dan membuang gumpalan dalam kandung kemih serta mengobati gangguan mengompol pada anak-anak berusia di atas tiga tahun dan gangguan buang air seni yang tidak teratur pada orang dewasa, serta mengobati schistosomiasis pada kandung kemih. Kesembilan, madu dan penyakit-penyakit syaraf dan kejiwaan. Madu dapat mengobati radang sendi, nyeri panggul, nyeri punggung, epilepsi, dan berbagai penyakit kejiwaan lainnya seperti depresi. Kesepuluh, madu dan nutrisi pada bayi. Madu penting dalam pertumbuhan bayi, pertambahan berat badannya, peningkatan jumlah eritrosit dalam darah untuk mencegah anemia dan mencegah rachitis (lemah tulang) pada anak-anak.

Kesebelas, madu dan penuaan. Madu dapat memperpanjang usia, menambah stamina orang tua, memperlambat munculnya tanda-tanda penuaan, mencegah munculnya kerutan pada wajah, uban, dan mengatasi kelelahan fisik jika dikonsumsi secara teratur. Keduabelas, madu dan penyakit mata. Madu dapat mengatasi gangguan pada kelopak mata, selaput konjungtiva, kornea, dan radang mata dengan cara diteteskan atau dioleskan. Ketigabelas, madu dan penyakit perempuan. Madu dapat mengatasi gangguan kehamilan yang biasa disebut eklamsia. Keempatbelas, madu dan pemulihan pascaoperasi. Madu juga bermanfaat untuk menjaga kadar gula darah dan stamina tubuh pascaoperasi. Selain untuk pengobatan, madu juga bermanfaat untuk alternatif pemanis bagi penderita penyakit diabetes, untuk diet, dan untuk kecantikan dan kosmetik.

Sifat Lebah

Lebah dalam proses membuat sarang sampai dengan menghasilkan madu mempunyai sifat-sifat yang patut diteladani oleh manusia. Marilah kita lihat sifat apa saja yang dimiliki oleh lebah. Pertama, kerja sama dan gotong royong. Lebah hidup dengan cara berkoloni, mereka bekerja sama dan membagi menjadi dua kelompok, ada yang bertugas mencari makanan dan ada yang bertugas menjadi pemandu perjalanan mereka ketika mengumpulkan nektar dan mencari sumber bunga. Kedua, rukun. Sikap rukun pada lebah dapat dilihat setelah lebah mendapatkan sumber bunga, maka disinilah tugas lebah pemandu untuk memberi tahu teman-teman mereka akan keberadaan sumber bunga. Lebah pemandu membawa kumpulan nektar ke sarang dan membiarkan teman-temannya mencicipinya untuk melihat kualitas nektar tersebut. Setelah dirasa nektar tersebut berkualitas, maka lebah pemandu akan membawa teman-teman mereka menuju tempat dimana nektar ditemukan.

Fakhrudin (2013) mengatakan bahwa dalam memandu teman-temannya menuju tempat dimana nektar ditemukan, ada hal yang sangat unik jika kita perhatikan. Lebah pemandu akan menari-nari di tengah sarang sambil menggoyangkan badannya. Gerakan tersebut sebagai informasi kepada teman-temannya akan lokasi dimana sumber nektar ditemukan, serta informasi seberapa jauh sumber nektar ditemukan. Seberapa lama ia menari-nari maka itulah jarak yang dapat ditempuh oleh teman-temannya dalam mendapatkan sumber nektar. Gerakan itu benar-benar memberitahu jarak nektar dengan akurat. Subhanallah!

Ketiga, sistematis dan terstruktur. Sifat sistematis dan terstruktur pada lebah dapat kita lihat pada pembuatan kamar-kamar pada sarang lebah. Menurut Al-Hefni dalam penelitiannya disebutkan bahwa lebah secara umum membangun sel-sel atau kamar-kamarnya menurut salah satu dari dua sistem. Pertama, ia membangun kamar satu demi satu sampai selesai. Kedua, ia membangun kamar-kamar secara keseluruhan dalam waktu yang sama. Beberapa cara untuk membangun kamar-kamar atau sel-sel adalah dapat dilihat dari fungsi kamar, ada kamar yang ditempati, meliputi kamar jantan, kamar betina, kamar pembantu, kamar kelompok, dan ada kamar yang tidak ditunggui, meliputi kamar untuk gudang dan kamar untuk tambahan. Jumlah kamar juga berbeda sesuai dengan perbedaan kondisi dalam seperti instink membangun sendiri atau usia lebah. Setelah sel-sel atau kamar-kamar selesai dibangun dalam sarang, lebah akan menutup sarangnya. Tutup sarang dan kamar terbagi menjadi tiga yaitu tutup yang kokoh, tutup yang tidak kokoh dan tutup bercampur. Perbedaan ini disesuaikan dengan fungsi dari masing-masing jenis lebah.

Melihat fenomena di atas, menunjukkan bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan makhluk yang diciptakanNya, seperti dalam firman-Nya QS. Al-‘Ankabut: 60: “Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rezekinya sendiri. Allah-lah yang memberi rizki kepadanya dan kepadamu dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Semua fakta yang ada pada lebah tersebut hendaknya kita tafakuri dengan penuh hikmah dan takjub atas kebesaran Allah SWT. Maha Suci Allah yang telah mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. Pujian bagi Allah, Tuhan seluruh alam, dan shalawat atas junjungan Nabi kita Muhammad SAW serta keluarga dan seluruh sahabat beliau.

Referensi:

Al-Hefni, Abd. Al-Mun’im. Sarang Lebah dan Keajaiban Al-Qur’an. Dalam Mukjizat Al-Qur’an dan As-Sunnah tentang Iptek. (Buku Kumpulan Penelitian). 1995. Jakarta: Gema Insani Press.

Fakhrudin, Zainal. 2013. Referensi Khotbah Jumat Tema Sains. Klaten: PT. Hafamira.

Thayyarah, Nadiah. 2014. Buku Pintar Sains dalam Al-Qur’an Mengerti Mukjizat Ilmiah Firman Allah. Jakarta: Zaman.

75 ku

Oleh:

Eni Setyowati

Delapan bulan sudah pandemi covid-19 melanda dunia. Sejak akhir Desember 2019 yang lalu pandemi pertama kali melanda kota Wuhan, Cina. Disusul pertengahan bulan Maret 2020 pandemi tersebut melanda negeri kita tercinta Indonesia.  Saat itu pula semuanya berubah. Bak roda berputar,  begitulah hampir semua lini kehidupan mengalami perubaban. Dari yang semula di atas,  seketika berada di bawah,  begitupun sebaliknya.  Bidang ekonomi mengalami kemerosotan,  banyak perusahaan gulung tikar,  banyak pegawai di PHK.  Bidang pendidikanpun mengalami perubahan luar biasa.  Pembelajaran tatap muka dalam sekejap beralih menjadi pembelajaran on line.  Berbagai problemapun bermunculan, namun bagaimana lagi,  semua harus seperti itu. Bidang sosialpun mengalami permasalahan. Banyaknya masyarakat yang terdampak covid-19, bantuan sosialpun semakin banyak dilakukan. Bidang psikologi tak kalah riuhnya. Banyak masyarakat yang stress. Apalagi bidang kesehatan. Pasien terkonfirm covid-19 semakin hari semakin bertambah. Tenaga kesehatan banyak berguguran, sementara vaksin belum jua ditemukan. Entah sampai kapan pandemi ini berakhir,  tidak ada yang tahu. Kita hanya bisa berdoa semoga pandemi segera berlalu. Aamiin.

Kini, di bulan Agustus 2020, saat masyarakat Indonesia merayakan dirgahayu kemerdekaan Indonesia yang ke-75, pandemi pun masih melanda. Tak bisa ditolak,  pelaksanaan peringatan kemerdekaan Indonesia pun harus dilaksanakan sangat berbeda dari sebelumnya. Dulu, beberapa bulan sebelum 17 Agustus, kita selalu disuguhi dengan kegiatan para generasi muda yang terpilih menjadi pasukan pengibar bendera (paskibraka) yang sedang ditempa mulai dari tingkat kabupaten hingga nasional. Namun,  kali ini kita tak menjumpainya. Meskipun masih ada paskibraka tingkat nasional,  itupun diambilkan dari paskibraka tahun lalu,  dan jumlahnya sangat terbatas yaitu delapan. Dulu,  kita selalu menikmati para paskibraka yang gagah berbaris saat upacara kemerdekaan dengan tiga pasukan; delapan, tujuh belas, dan empat puluh lima. Kini, tak ada lagi. Dulu, di setiap sekolah maupun instansi mengadakan upacara bendera di lapangan, kini tak ada lagi. Dulu, istana negara dipenuhi para peserta upacara, kini hanya dihadiri segelintir orang saja. Social distancing dan physical distancing harus terus dipatuhi demi mengurangi penularan covid-19 ini.

Kemerdekaan kali ini memang banyak yang berbeda dari sebelumnya. Selain adanya pandemi covid-19, kemerdekaan ini ditandai dengan slogan “Indonesia Maju” dengan logo angka 75. Mengapa Indonesia maju? Indonesia maju direpresentasikan dari dasar negara Pancasila. Pancasila sebagai pedoman dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dijadikan dasar untuk memperkokoh kedaulatan, persatuan dan kesatuan Indonesia, serta untuk menyatukan keberagaman di Indonesia. Kemerdekaan adalah kesempatan mewujudkan mimpi menjadi nyata dan kesempatan berkarya tanpa batas. Pandemi tidak boleh menjadi penghambat untuk mewujudkan mimpi itu. Namun demikian, negara harus tetap fokus untuk mengatasi pandemi ini. Karena kemerdekaan juga berarti bahwa negara benar-benar melindungi warganya. Selain itu, masyarakat harus saling peduli untuk tetap menjaga jarak demi saling melindungi dari ancaman covid-19. “Indonesia maju akan kuat. Kita kuat jika bersama.” Jadi, kunci dari makna peringatan kemerdekaan kali ini adalah tetap terjadanya spirit ketulusan, keikhlasan serta rasa syukur atas nikmat yang telah dikaruniakan kepada negeri ini. Oleh karena itu kita harus menjaga, memelihara, mempertahankan, serta mengisi kemerdekaan dengan usaha positif secara bersungguh-sungguh.

 istana 75

75 di jalan

Peringatan detik-detik kemerdekaan kali ini harus dilakukan secara virtual. Surat edaran tentang pelaksanaan upacara benderapun beredar seminggu sebelumnya. Masyarakat dihimbau mengikuti upacara kemerdekaan di rumah masing-masing melalui tayangan media TV, youtube atau yang lainnya. Tentunya ini di luar kebiasaan yang ada. Bahkan ada himbauan agar masyarakat berdiri dan hening sejenak tepat pukul 10.17 WIB untuk memperingati kemerdekaan. Tidak hanya yang di rumah,  saat di perjalananpun juga begitu. Hingga pada tanggal 17 Agustus 2020, tepat pukul 10.17 WIB kemarin,  nampak pemandangan yang sangat berbeda. Di setiap perempatan jalan, tepat pukul 10.17 WIB tersebut semua kegiatan harus dihentikan. Semua penjaja jalan berhenti, hening sejenak, serta melakukan penghormatan kepada sang saka merah putih. Beberapa petugas kepolisian, TNI, Dinas Perhubungan maupun satpol PP berjaga di setiap perempatan jalan. Bagi masyarakat yang berada di rumah, melaksanakan penghormatan di rumah masing-masing.

Memang begitulah suasana peringatan kemerdekaan Indonesia kali ini.  Rasa haru tentunya kita rasakan bersama. Sebagai bangsa Indonesia yang sangat mencintai negeri ini harus tetap semangat, harus tetap gairah meskipun negeri ini dilanda musibah yang sangat besar. Semua itu dilakukan memang untuk memulihkan negeri ini.  Sekali lagi semoga wabah Covid-19 segera berakhir.  Aamiin.

Marilah kita ambil hikmah positif dari peringatan kemerdekaan kali ini. Kita harus menjadi lebih peduli antar sesama. Selain itu dengan adanya pandemi, harus lebih meningkatkan kecintaan kita kepada negeri ini. Mungkin semua masyarakat di Indonesia telah merasakan bagaimana kemarin kita memperingati kemerdekaan RI ke 75 dengan suasana yang sangat mengharukan. Namun, dibalik itu justru telah membukakan mata hati kita bahwa kita harus selalu bersyukur, bersatu dalam melawan apapun yang mengancam negeri ini. Menjaga keutuhan negara RI merupakan wujud syukur kita kepada pahlawan yang telah mengorbankan jiwa dan raga demi kemerdekaan negara RI. Saat inilah kesempatan kita untuk berjuang melawan virus corona dengan selalu menerapkan social distancing dan protokol kesehatan yang dianjurkan oleh pemerintah.

Terakhir, sebagai penutup, marilah kita petik peringatan kemerdekaan kali sebagai pembelajaran bagi kita semua untuk terus berjuang dan bersatu melawan apapun. Peringatan kemerdekaan ini juga merupakakan catatan sejarah bagi anak cucu kita....Marilah kita tunjukkan kepada anak cucu kita kelak bagaimana perjuangan bangsa Indonesia di tengah pandemi covid-19 ini, agar menjadi pelajaran bagi mereka untuk selalu siap berkarya dan menjaga negara RI dari gangguan apapun.

6 Comments

kemerdekaanku

Oleh:

Eni Setyowati

 

Maraknya aksi teror, berita hoax, penipuan, bahkan perkenalan yang ujung-ujungnya pergi dari rumah menemui kenalannya meskipun tempatnya sangat jauh, di era digital dan media sosial ini membuat kita sebagai pembaca dan pengguna media sosial harus bersikap bijaksana dan hati-hati.

Terutama sebagai orang tua, kita harus bisa mendampingi putra-putri kita yang tentunya tak bisa lepas 100 persen dengan dunia maya ini. Apa yang harus kita lakukan untuk putra-putri kita? Apakah kita harus menekannya untuk no internet, no smartphone? Tentu bukan itu jawabnya. Kita sebagai orang tua adalah pendidik utama di dalam keluarga, maka peran orang tua dalam menyikapi permasalahan di era digital ini sangat penting. Kita harus ingat, di era digital ini, yang dibutuhkan anak bukan seorang diktator tetapi adalah seorang teman, maka kita harus bisa menjadi teman yang bijaksana bagi putra-putri kita.

Saya jadi teringat slogan di kantor-kantor pelayanan publik ataupun di sekolah-sekolah, yaitu budaya "3S (senyum, salam dan sapa)". Demikian juga yang harus kita lakukan untuk putra-putri kita di era digital ini. Kita harus membudayakan senyum, salam dan sapa. 3S sangat berperan dalam membentuk lingkungan sosial yang kondusif. Memang sikap ini yang dianjurkan untuk dilakukan dalam situasi apapun, dimanapun dan kapanpun. Dengan 3S akan timbul suasana akrab terutama dalam lingkungan keluarga.

Bagaimana implementasi 3S dalam berkomunikasi dengan putra-putri kita di era digital ini? Pertama, senyum. Selalu tersenyumlah dengan mereka. Misalnya, jika kita mengingatkan kepada putra-putri kita akan penggunaan smartphone janganlah dengan cara membentak-bentak, tetapi dengan halus dan senyuman. Pastinya mereka akan lebih senang daripada dengan banyak omelan. Jika kita memberitahu putra-putri kita tentang kabar ataupun berita di media sosial yang bersifat negatif, misalnya berita perkelahian pelajar, pacaran lewat medsos dan lain-lain sebaiknya melalui diskusi bersama dengan suasana yang menyenangkan. Kuncinya hanya satu yaitu senyuman.

Kedua, salam. Salam berarti mengucapkan salam sesuai dengan agama dan kepercayaan yang kita anut. Dengan mengucapkan salam membuat orang saling menghormati, menyayangi dan merasa diperhatikan. Demikian juga dengan putra-putri kita. Membiasakan memberi salam kepada mereka adalah sangat penting bagi karakter mereka. Apalagi di era digital ini, salam semakin terkikis. Coba kita lihat dimana-mana, tua, muda, anak kecil semua sibuk dengan smartphone nya. Jangankan memberi salam, menoleh sajapun hanya sekedar ingin tahu siapa di sebelahnya sudah jarang dilakukan. Oleh karena itu kita harus tetap membiasakan memberi salam kepada putra-putri kita, sehingga merekapun akan selalu memberi salam kepada kita dan orang-orang di sekitarnya. Selain dalam bentuk ucapan secara lisan, salampun dapat diucapkan melalui tulisan di media sosial. Misalnya kita selalu mengucapkan "assalamu'alaikum, selamat pagi" dan lain-lain di WAG keluarga atau di WA pribadi putra-putri kita setiap pagi. Hal ini akan memberikan pengertian kepada putra-putri kita akan perhatian orang tua kepada mereka. Sepertinya ini sepele, tetapi efeknya sangat besar bagi putra-putri kita. Jangan kalau menulis di WA dengan si anak atau WAG keluarga hanya jika mau mengingatkan sesuatu atau mau marah-marah saja, pasti deh akan diabaikan..hehehe... Selamat mencoba.

Ketiga, sapa. Menyapa adalah cara kita untuk lebih dekat dengan putra-putri kita. Bagaimana menyapa di era digital ini? Tak dipungkiri, putra-putri kita saat ini pasti telah mempunyai akun di media sosial, baik itu WA, FB, IG, twitter, blog atau yang lain. Kita jangan ketinggalan, sapalah mereka lewat akun-akun tersebut. Dengan menyapa lewat akun mereka, ada banyak keuntungan bagi kita sebagai orang tua. Misalnya, kita menjadi berteman dengan mereka dan kita juga akan tahu siapa saja teman-teman mereka, apa saja isi akun putra-putri kita, sekaligus kita bisa mengawasi mereka dengan cara yang halus. Kitapun juga bisa membuat grup keluarga, misalnya WAG keluarga yang anggotanya ayah, ibu dan putra-putri kita...pasti seru deh. Dengan WAG keluarga kita sama-sama saling bisa memberi kabar dan memantau, serta tempat diskusi...apalagi jika kita sebagai orang tua yang bekerja, hal ini sangat efektif. Jika kita sudah berkumpul di rumah, sempatkan untuk berkomunikasi dan berdiskusi. Jangan lupa mengingatkan kepada putra-putri kita bagaimana menggunakan medsos dengan baik, bijaksana dan mencerdaskan. Jangan sampai medsos akan menyetir kita, tetapi sebaliknya kitalah yang harus bisa menyetir medsos.

Terakhir yang perlu kita lakukan adalah ambil sisi positifnya jangan sampai dengan medsos kita akan rugi segalanya. Rugi waktu, rugi tenaga, rugi materi dan rugi mental. Gunakan medsos dengan sebaik-baiknya. Misalnya untuk sumber referensi, sumber ide positif (misalnya ide untuk karya tulis ilmiah), sumber kreativitas, sumber motivasi positif dan sebagainya. Marilah kita menjadi orang tua yang penuh perhatian dan kasih sayang di era digital ini dengan senyum, salam dan sapa.

5 Comments

diriku 1

Eni Setyowati

Saya menyebutnya “ping”, sebuah sensasi kecil yang membuat saya untuk segera memeriksa jaringan sosial di smartphone saya.

Pernahkan Anda mengalami seperti yang pernah saya alami ini? Dimanapun saya berada tidak bisa terpisahkan oleh yang namanya smartphone. Smartphone bagi saya adalah segala-galanya. Rasanya kita tidak bisa hidup tanpanya. Sejak mulai tidur sampai akan tidur lagi, berapa jam kita hidup bersama dengannya. Bahkan seringkali momen-momen penting tertinggalkan karena makhluk kecil tersebut. Di saat kita kumpul dengan keluarga, kita tak lepas dari smartphone. Hampir semua penghuni rumah juga mempunyai keasyikan sendiri dengan smartphonenya. Bahkan menjadikan yang jauh menjadi dekat dan yang dekat menjadi jauh. Tanpa kita sadari waktu kita telah terbuang dengan percuma. Kita telah dihipnotis oleh kecanggihan makhluk kecil tersebut.

Siapa yang salah? Apakah kita atau smartphone? Jawabnya tentunya ya kita....kita yang tidak bisa megelola penggunaan smartphone kita. Apakah kita harus terbebas dari smartphone atau laptop atau juga televisi dengan tidak menggunakan itu semua? Jawabnya tentu saja tidak bisa. Hal ini sebenarnya merupakan konflik massal yang sedang dialami oleh banyak orang bukan saya saja. Namun seringkali kita melupakan hal ini sebagai konflik, sehingga kita seringkali mengabaikannya. Tetapi jika kita analisis lebih jauh berapa waktu yang telah kita buang percuma hanya sekedar untuk “bermain-main” dengan smartphone kita. Saya mengistilahkan dengan “bermain-main” karena seringkali kita menggunakan smartphone kita hanya untuk kepentingan yang kurang bermanfaat.

Memang, saat ini kita berada di jaman era informasi yang sangat canggih yang belum pernah terjadi sebelumnya. Jika kita ingin mengetahui sesuatu, meskipun letaknya sangat jauh, namun dengan sekejap kita akan memperoleh informasi tersebut hanya dengan menekan tombol keyboard yang ada pada smartphone atau laptop kita. Berbeda dengan dulu, jika kita ingin mencari informasi maka kita harus pergi ke perpustakaan terlebih dahulu, belum lagi jika buku yang akan kita cari sudah dipinjam orang lain. Tentunya kita akan pulang dengan rasa kecewa. Namun saat ini kita tidak perlu meninggalkan rumah untuk mencari informasi tersebut, semuanya sudah ada di ujung jari kita.

Ketika teknologi memberikan kesempatan yang sama dalam hal informasi dan komunikasi, terdapat juga tekanan baru yang bersifat unik yang dihasilkan penemuan baru ini terhadap pekerjaan dan hidup kita. Teknologi adalah tambahan untuk kemampuan kita dalam mencapai keinginan. Jika kita ingin melakukan sesuatu, teknologi dapat membuatnya lebih cepat dan lebih murah. Tetapi tidak semua yang kita inginkan akan mendatangkan manfaat untuk kita. Kita sering mengorbankan keuntungan jangka panjang untuk kepentingan jangka pendek. Manusia memiliki pilihan tak terbatas yang bisa dipakai bahkan untuk mengatasi sedikit kebosanan. Ini adalah sifat manusia untuk mendapatkan kesenangan, dan jika itu keinginan kita, maka teknologi dapat melayaninya dengan baik.

Saat ini, hiburan tidak selalu berarti permainan atau tontonan, namun juga segala sesuatu yang sebenarnya menyebabkan kita mengalami gangguan dalam pekerjaan atau hidup kita termasuk internet. Ini yang pernah saya alami. Saya menyadari ada pola yang mengganggu dalam hidup saya. Sesuatu yang mengganggu itu saya sebut sebagai “ping”. Ping adalah dorongan tanpa alasan untuk menjelajahi situs-situs internet daripada mengerjakan sesuatu yang produktif. Semakin lama daya tarik “ping” justru semakin kuat. Seakan-akan ping ingin menjadi “big bos” saya. Dia ingin menguasai saya, dan dia ingin saya melayaninya.

Dimanapun ping selalu mengikuti saya. Misalnya pada saat mengikuti sebuah acara yang mulai membosankan, maka tangan ini langsung mengambil smartphone dan segera berselancar di dunia maya. Hasilnya? Saya menjadi sulit untuk berkonsentrasi dan fokus pada yang ada di depan. Saya merasa kehilangan kemampuan berpikir secara dalam tentang apapun yang saya alami karena cenderung memenuhi apa yang diinginkan ping. Ketergantungan terhadap televisi ataupun internet telah merusak kemampuan kita untuk berpikir dan terlibat dalam masalah sosial yang penting. Sekarang ini, dengan memakai smartphone, netbook, dan komputer tablet, kita akan terhubung 24 jam sehari ke segala sesuatu yang kita inginkan. Kita berada dalam kondisi mengalami gangguan secara terus-menerus yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Itu bukanlah salahnya ping, atau salahnya teknologi, namun itu salahnya kita. Tuntutan pekerjaan kita tidak bisa terlepas dengan teknologi tersebut, tetapi kita juga harus mengelolanya. Agar dapat bekerja dan hidup dengan baik, tentunya kita harus belajar memperhatikan apa yang sedang kita hadapi dan mengembangkan kemampuan untuk tetap berfokus pada tujuan kita. Fokus yang terpisah tentunya akan menyebabkan kita tidak bisa memberikan keterampilan dan energi secara penuh terhadap tugas yang sedang kita kerjakan. Parahnya, beberapa dari kita justru menghindar dan keluar dari penugasan yang membosankan ketika melihat ada hal lain yang lebih menarik untuk diperhatikan. Dapatkah kita memberi karya terbaik jika bekerja seperti itu?

Di dalam sebuah buku yang pernah saya baca tentang produktivitas, Merlin Mann, menghitung bahwa jika kita rata-rata bekerja 8 jam sehari, 50 minggu setahun, dan memeriksa jejaring sosial setiap 5 menit, untuk melihat apakah ada sesuatu di sana, artinya kita memeriksa internet 24.000 kali setahun. Itu belum termasuk waktu untuk memberikan respons terhadap jejaring sosial. Andaikan setiap kita memeriksa internet membutuhkan waktu 10 detik dan mendapatkan fokus terhadap tugas kita yang sebelumnya dicuri oleh ping, hal ini berarti selama setahun kita menghabiskan 66,6 jam untuk memeriksa apakah ada hal lain yang lebih menarik dibandingkan apa yang sedang kita kerjakan saat ini.

Ketika kita membiarkan ping mengatur hidup kita, kita berarti membiarkannya menyulitkan diri kita. Dan kita tidak menyadari kehadirannya karena ping hanya menghilangkan perhatian kita selama 10 detik. Kita tidak perlu menyingkirkan teknologi, kita hanya perlu memakainya dengan cara yang dapat meningkatkan kemampuan kita untuk menyelesaikan tugas-tugas penting. Kita harus menyusun prioritas dan mengerjakannya daripada selalu hidup dalam kondisi memberikan perhatian secara terpisah-pisah. Kita tidak akan dapat memberikan karya terbaik dan bermutu tinggi jika kita membiarkan ping mengatur hidup kita.

Dengan kata lain, kita harus melakukan transisi dari seorang konsumen pasif menjadi orang yang berpikir jernih dan efektif. Ada dua jenis berpikir jernih yaitu berpikir kritis dan berpikir kreatif. Menjadi seorang pemikir kristis, berarti seseorang yang tidak menilai dengan melihat permukaan saja, namun menilai kemasukakalan berbagai kejadian, dan mengakses relevansi kejadian-kejadian itu dengan pandangan dan gaya hidupnya sendiri. Sedangkan berpikir kreatif adalah menekankan poin-poin yang menjadi obyek pemikiran yang sangat kreatif.

Seharusnya kita melawan ping dengan pemikiran yang jernih (kritis, kreatif dan efektif). Jangan pernah kita mau menjadi budaknya ping. Oleh karena itu marilah mulai saat ini kita dapat menjadi manusia yang cerdas dalam mengatasi konflik ping ini. Gunakan seefektif mungkin jaringan sosial kita, dan gunakan untuk kebutuhan yang penting. Jangan sampai kita tertipu daya oleh mereka. Kita harus tetap fokus pada tujuan hidup kita.

2 Comments

buku murbei

Eni Setyowati

Tepatnya diawali tiga tahun yang lalu. Saat itu saya mendampingi mahasiswa KKN 2017 di desa Mulyosari - desa yang kini terkenal dengan Kampung Pelangi. Pada suatu sore, terdapat kegiatan dengan ibu-ibu PKK membuat sirup dari buah murbei. Memang, di sekitar kampung pelangi ada beberapa tanaman murbei, meskipun tak banyak. Tanaman murbei banyak ditemui di pekarangan rumah, namun hanya berfungsi sebagai tanaman pagar, bahkan dianggap sebagai tanaman liar.

Setelah hari itu, tanaman murbei selalu menari-nari di pelupuk mata. Akhirnya, rasa penasaranpun membuat saya searching tentang murbei di google. Saya telusuri buku-buku serta hasil penelitian tentang tanaman murbei. Wauuu..ternyata semakin menarik. Banyak sekali manfaat tanaman murbei bagi kesehatan.

Segera saya putar otak ini, dan segera saya cari benang merah antara spesifikasi pengetahuan saya yaitu lingkungan dengan tanaman murbei ini. Sambil membaca referensi, alhamdulillah idepun muncul. "Mengapa tanaman murbei ini tidak dibudidayakan ya? Minimal diperhatikan." Dari sinilah awal saya ingin membudidayakan tanaman murbei dengan memberinya pupuk dari limbah got. Nah...kayaknya dah cocok lah.... Pupuk limbah got vs tanaman murbei.

Akhirnya, pada tahun 2018 ide itu saya masukkan dalam proposal pengajuan hibah penelitian di kampus. Proposal segera saya buat sebagai persyaratan mengikuti hibah, dan alhamdulillah proposal lolos.

Singkat cerita, segera saya melakukan eksperimen. Bahan dan alat saya persiapkan. Mulai bibit murbei hingga limbah got dan kebutuhan membuat pupuk pun sudah siap. Ada cerita menarik tentang pengambilan limbah got ini. Bayangkan, siapa coba yang mau ambil limbat got di selokan-selokan kalau bukan saya hehehehe. Mendekati saja rasanya gak ada yang berminat. Bau yang mencekam, warna hitam dan segala embel-embel yang menjijikkan membuat semua orang menjauhinya. Namun, tidak dengan saya. Bicara tentang sampah maupun limbah, bukan hal baru bagi saya, karena disertasi saya memang bergelut tentang sampah. Hingga sejak saat itu saya dijuluki sebagai doktor sampah hehehe. Singkat cerita, limbah got akhirnya saya ambil dari selokan permukiman sekitar tempat tinggal saya dan di daerah Kedungwaru. Sebagian proses pengambilan limbah got juga dibantu oleh stafnya Mas suami di bagian persampahan. Terimakasih bapak-bapak yang membantu mencarikan limbah got. Semoga kebaikan bapak-bapak menjadi ladang pahala bagi jenengan semua...Aamiin.

Eksperimenpun saya mulai. Lokasi penelitian berada di halaman rumah saya. Sebanyak 36 tanaman murbei saya beri perlakuan. Singkat cerita, penelitian pun selesai dan alhamdulillah hasil penelitian tersebut sudah dipublikasikan di prosiding seminar nasional di Bandung.

murbei 3

Tak cukup di situ, keingintahuan tentang tanaman murbei semakin membara. Sayapun searching lagi tentang manfaat dan diversifikasi tanaman ini. Setelah mendapat beberapa referensi yang valid, segera saya mencoba membuat percobaan kecil, yaitu membuat produk dari tanaman murbei, baik dari daun maupun buahnya. Berbekal tanaman murbei dari hasil penelitian kemarin, saya mencoba membuat teh dari daun murbei, kripik daun murbei, sirup buah murbei dan selai buah murbei. Produk itu saya konsumsi sendiri. Selain rasanya enak, manfaatnya juga banyak. Kandungan antioksidan yang tinggi, tanaman murbei disinyalir dapat mencegah dan menyembuhkan miom, kista maupun kanker. Selain itu juga dapat mengatasi masalah gangguan pencernaan maupun sebagai obat penyakit mata.

Beberapa penelitian terdahulu menyebutkan bahwa tanaman murbei kaya manfaat. Hastuti, (2016) menyebutkan bahwa tanaman murbei bisa digunakan untuk obat batuk, gangguan pencernaan, bisul radang kulit. Murbei juga dapat menghambat bakteri staphylococcus aureus dan shigella dysenteriae sebesar 85%. Has (2014) menyebutkan bahwa tanaman murbei menghasilkan serat kasar ransum untuk merangsang gerakan saluran pencernaan dan sebagai sumber energi. Sugiarso (2015) menyebutkan bahwa tanaman murbei sebagai antioksidan karena mengandung antosianin.  Pudjiono (2007) menyebutkan bahwa daun tanaman murbei  dapat meningkatkan produktivitas dan kualitas kokon/ulat sutera. Tentunya masih banyak beberapa penelitian lain yang menguraikan tentang manfaat dari tanaman murbei ini.

Setahun kemudian, tepatnya di tahun 2019, kembali dengan berbekal dari tanaman murbei, saya mencoba mengajukan hibah pengabdian masyarakat tentang diversifikasi produk berbahan dasar murbei bagi santri di mahad Al-Jamiah IAIN Tulungagung. Alhamdulillah lolos juga.

Pelatihan dan pendampingan bagi santri mahadpun saya lakukan. Alhamdulillah berjalan lancar. Produk diversifikasi murbei ini kami beri nama "Mobal". Mobal berasal dari nama latin tanaman murbei yaitu morus alba. Mobal, dalam bahasa Jawa juga dapat diartikan murup, hidup (api yang nyala besar). Hal ini menandakan semangat yang membara. Meskipun produk ini belum diproduksi secara besar dan kontinyu (karena memang harus melalui proses yang panjang), tetapi alhamdulillah dapat memberikan ilmu bagi santri mahad khususnya. Semoga ke depan bisa dilanjutkan dan diproduksi serta didistribusikan dalam skala besar. Aamiin.

Hari ini, 5 Agustus 2020, saat saya membuka FB, saya diingatkan tentang tanaman murbei ini. Saya jadi teringat 3 tahun yang lalu saat ide itu datang. Segera saja saya buat tulisan untuk mengenangnya. Akhirnya, jadilah tulisan sederhana ini.

murbei 2

Kini, tanaman murbei sudah tumbuh banyak di kampus IAIN Tulungagung, tepatnya di pekarangan depan gedung Arif Mustakim. Tanaman murbei itu memang dari hasil penelitian saya dua tahun yang lalu dan hasil pengabdian masyarakat saya tahun lalu. Sengaja saya tanam di kampus, agar dapat dimanfaatkan, serta sebagai bahan penelitian khususnya dosen/mahasiswa jurusan tadris biologi.

eni 1

Seiring dengan waktu, tanaman murbei di kampus semakin besar. Buah murbei yang masakpun menggugah selera. Tak sedikit mahasiswa yang melewatinya selalu mampir untuk memetiknya. Memang manis rasa buahnya jika sudah matang. Tak apalah, alhamdulillah bermanfaat. Kini di saat pandemi korona, mahasiswapun tak ada yang berada di kampus. Namun demikian, buah murbei saya tidak sepi penggemar. Kini, bapak/ibu dosen, administrasi, security kampus juga memetiknya. Tak apa, alhamdulillah tanaman murbei saya memberi manfaat bagi banyak orang. Aamiin.

Berbicara tentang tanaman murbei, masih ada keinginan yang sampai hari ini belum tersampaikan. Pertama, saya ingin membuat buku tentang tanaman murbei. Meskipun hasil dari pengabdian masyarakat dari tanaman murbei ini sudah menjadi buku, tetapi buku yang khusus membahas tentang tanaman murbei, mulai dari sejarah, kandungan, budidaya hingga manfaatnya sangat ingin saya tulis. Kedua, saya ingin memPIRT-kan produk berbahan dasar murbei ini, sehingga menjadi produk yang legal. Ketiga, saya ingin menguji kandungan dari produk itu. Keempat, saya ingin mendsitribusikan produk ini dan menjadi produk yang bermanfaat, banyak dibutuhkan, serta produk yang milenial. Mungkin itu keinginan yang terlalu muluk, tetapi selama ada niat, iktiyar dan doa, inshaAllah akan dapat terwujud. Aamiin.

Mojopanggung, 5 Agustus 2020.

gambar air

Eni Setyowati

Di dalam kehidupan apapun perlu adanya suatu manajemen, tentunya manajemen yang baik. Apalagi kita sebagai ibu rumah tangga yang juga berkarir, manajemen dalam keluarga sangat dibutuhkan, baik itu manajemen keuangan maupun manajemen waktu. Seperti kita ketahui tentang teori manajemen, maka di dalam manajemen keluarga juga diperlukan adanya planning, organizing, actuating dan controlling. Namun yang sering kita hadapi adalah bahwa kenyataan tidak sesuai dengan perencanaan yang telah kita buat. Lalu apa yang terjadi?? Akankah kita akan kecewa ataupun marah-marah bahkan sampai stress menghadapi kenyataan yang tidak sesuai dengan harapan. Tentu saja “JANGAN DONG”, mengapa kita harus stres?? Lalu... apa yang harus kita lalukan??

Menurut saya untuk menghadapi permasalahan seperti di atas, tentunya kita harus menyadari terlebih dahulu bahwa kehidupan itu tidak semulus yang kita bayangkan dan kita harapkan. Jika kita menyadari akan hal itu, hidup kita akan lebih enjoy. Namun enjoy di sini bukan berarti kita menerima apa adanya, tetapi kita tetap harus menentukan solusi pemecahannya dari setiap permasalahan yang ada. Salah satu cara yang perlu kita lakukan adalah dengan melaksanakan “manajemen air”. Apa itu manajemen air? Manajemen air adalah manajemen atau pengelolaan yang tidak terlalu ketat harus sesuai dengan perencanaan, tetapi kita harus siap jika kenyataan tidak sesuai dengan perencanaan, sehingga biarlah mengalir seperti air, namun kita dapat menampungnya.

Hal ini seperti yang pernah saya alami. Kemarin, saat saya ke luar tiba-tiba ada yang tidak beres dengan mobil saya. Saya merasakan kenapa mobil ini tidak dingin ya...padahal AC sudah saya nyalakan. Akhirnya, saat pulang, saya menyampaikannya kepada suami...karena memang saya tidak mengerti sama sekali tentang AC. Suami pun melihat kondisi mobil dan ternyata dinamonya tidak berputar... Waktu terus berlalu, dan setelah maghrib suami harus pergi ke kantor karena memang saat ini sedang sibuk-sibuknya....maklum mulai banyak proyek...heheheheh

Tibalah pagi hari. Mulailah kami sekeluarga beraktivitas sejak pagi. Kami berempat mulai dengan kegiatannya masing-masing. Tiba-tiba saya mendengar suara mesin cuci yang beroperasi....eee ternyata si kakak sedang mencuci...sementara saya sendiri sedang bersih-bersih rumah..... Saat itu juga saya melihat suami sedang mengambil nasi (lah kok mengambil nasi, padahal belum punya lauk karena masih terlalu pagi sekitar pukul 06.00, ternyata suami ada acara di kantor. Akhirnya....suamipun setelah mengambil nasi kemudian membawa piringnya ke warung sebelah untuk membeli lauk (hehehe untungnya sebelah rumah ada warung yang sudah siap menunya sejak pagi). Ya...itulah suami saya tidak pernah malu meskipun harus mengerjakan pekerjaan perempuan. Saya sangat bersyukur sekali.

Percakapan saya dan suami pun berlanjut tentang kondisi mobil yang AC nya tidak dingin. "Wah, bagaimana ya dengan mobil ini, sementara saya harus ke kantor sampai sore, besok juga harus ke lapangan, hari Senin sampai hari Kamis harus ke Malang?" kata suami (sambil mengernyitkan dahi). Sayapun menjawabnya, "sudahlah tenang....nanti saya bawanya ke bengkel AC, meskipun ini pekerjaan laki-laki saya bisa kok melakukannya hehehehe”....

Dan tibalah waktu menunjukkan pukul 09.00 WIB. Saya dan si kecil berangkat ke bengkel....eng ing eng....mobilpun tertangani...ternyata evaporatornya bocor...yah harus diganti.... sambil menunggu mobil diperbaiki saya bisa mengajari si kecil latihan soal-soal olimpiade. Memang, saya sudah menyiapkan soal-soal di tas (karena saya berpikir pasti nanti di bengkel cukup lama) dan saat istirahat setelah melatih si kecil...akhitnya sayapun bisa menulis catatan sederhana ini.

Ternyata menerapkan manajemen dalam kehidupuan sehari-hari itu tidak semudah teori manajemen yang ada. Saya lebih enjoy menikmati manajemen air....mengalir sesuai alirannya.... Ternyata memang perlu juga kita menerapkan manajemen air. Janganlah malu untuk melakukan pekerjaan yang di luar kebiasaan, karena itu adalah luar biasa.