MENGELOLA KONFLIK “PING”

diriku 1

Eni Setyowati

Saya menyebutnya “ping”, sebuah sensasi kecil yang membuat saya untuk segera memeriksa jaringan sosial di smartphone saya.

Pernahkan Anda mengalami seperti yang pernah saya alami ini? Dimanapun saya berada tidak bisa terpisahkan oleh yang namanya smartphone. Smartphone bagi saya adalah segala-galanya. Rasanya kita tidak bisa hidup tanpanya. Sejak mulai tidur sampai akan tidur lagi, berapa jam kita hidup bersama dengannya. Bahkan seringkali momen-momen penting tertinggalkan karena makhluk kecil tersebut. Di saat kita kumpul dengan keluarga, kita tak lepas dari smartphone. Hampir semua penghuni rumah juga mempunyai keasyikan sendiri dengan smartphonenya. Bahkan menjadikan yang jauh menjadi dekat dan yang dekat menjadi jauh. Tanpa kita sadari waktu kita telah terbuang dengan percuma. Kita telah dihipnotis oleh kecanggihan makhluk kecil tersebut.

Siapa yang salah? Apakah kita atau smartphone? Jawabnya tentunya ya kita....kita yang tidak bisa megelola penggunaan smartphone kita. Apakah kita harus terbebas dari smartphone atau laptop atau juga televisi dengan tidak menggunakan itu semua? Jawabnya tentu saja tidak bisa. Hal ini sebenarnya merupakan konflik massal yang sedang dialami oleh banyak orang bukan saya saja. Namun seringkali kita melupakan hal ini sebagai konflik, sehingga kita seringkali mengabaikannya. Tetapi jika kita analisis lebih jauh berapa waktu yang telah kita buang percuma hanya sekedar untuk “bermain-main” dengan smartphone kita. Saya mengistilahkan dengan “bermain-main” karena seringkali kita menggunakan smartphone kita hanya untuk kepentingan yang kurang bermanfaat.

Memang, saat ini kita berada di jaman era informasi yang sangat canggih yang belum pernah terjadi sebelumnya. Jika kita ingin mengetahui sesuatu, meskipun letaknya sangat jauh, namun dengan sekejap kita akan memperoleh informasi tersebut hanya dengan menekan tombol keyboard yang ada pada smartphone atau laptop kita. Berbeda dengan dulu, jika kita ingin mencari informasi maka kita harus pergi ke perpustakaan terlebih dahulu, belum lagi jika buku yang akan kita cari sudah dipinjam orang lain. Tentunya kita akan pulang dengan rasa kecewa. Namun saat ini kita tidak perlu meninggalkan rumah untuk mencari informasi tersebut, semuanya sudah ada di ujung jari kita.

Ketika teknologi memberikan kesempatan yang sama dalam hal informasi dan komunikasi, terdapat juga tekanan baru yang bersifat unik yang dihasilkan penemuan baru ini terhadap pekerjaan dan hidup kita. Teknologi adalah tambahan untuk kemampuan kita dalam mencapai keinginan. Jika kita ingin melakukan sesuatu, teknologi dapat membuatnya lebih cepat dan lebih murah. Tetapi tidak semua yang kita inginkan akan mendatangkan manfaat untuk kita. Kita sering mengorbankan keuntungan jangka panjang untuk kepentingan jangka pendek. Manusia memiliki pilihan tak terbatas yang bisa dipakai bahkan untuk mengatasi sedikit kebosanan. Ini adalah sifat manusia untuk mendapatkan kesenangan, dan jika itu keinginan kita, maka teknologi dapat melayaninya dengan baik.

Saat ini, hiburan tidak selalu berarti permainan atau tontonan, namun juga segala sesuatu yang sebenarnya menyebabkan kita mengalami gangguan dalam pekerjaan atau hidup kita termasuk internet. Ini yang pernah saya alami. Saya menyadari ada pola yang mengganggu dalam hidup saya. Sesuatu yang mengganggu itu saya sebut sebagai “ping”. Ping adalah dorongan tanpa alasan untuk menjelajahi situs-situs internet daripada mengerjakan sesuatu yang produktif. Semakin lama daya tarik “ping” justru semakin kuat. Seakan-akan ping ingin menjadi “big bos” saya. Dia ingin menguasai saya, dan dia ingin saya melayaninya.

Dimanapun ping selalu mengikuti saya. Misalnya pada saat mengikuti sebuah acara yang mulai membosankan, maka tangan ini langsung mengambil smartphone dan segera berselancar di dunia maya. Hasilnya? Saya menjadi sulit untuk berkonsentrasi dan fokus pada yang ada di depan. Saya merasa kehilangan kemampuan berpikir secara dalam tentang apapun yang saya alami karena cenderung memenuhi apa yang diinginkan ping. Ketergantungan terhadap televisi ataupun internet telah merusak kemampuan kita untuk berpikir dan terlibat dalam masalah sosial yang penting. Sekarang ini, dengan memakai smartphone, netbook, dan komputer tablet, kita akan terhubung 24 jam sehari ke segala sesuatu yang kita inginkan. Kita berada dalam kondisi mengalami gangguan secara terus-menerus yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Itu bukanlah salahnya ping, atau salahnya teknologi, namun itu salahnya kita. Tuntutan pekerjaan kita tidak bisa terlepas dengan teknologi tersebut, tetapi kita juga harus mengelolanya. Agar dapat bekerja dan hidup dengan baik, tentunya kita harus belajar memperhatikan apa yang sedang kita hadapi dan mengembangkan kemampuan untuk tetap berfokus pada tujuan kita. Fokus yang terpisah tentunya akan menyebabkan kita tidak bisa memberikan keterampilan dan energi secara penuh terhadap tugas yang sedang kita kerjakan. Parahnya, beberapa dari kita justru menghindar dan keluar dari penugasan yang membosankan ketika melihat ada hal lain yang lebih menarik untuk diperhatikan. Dapatkah kita memberi karya terbaik jika bekerja seperti itu?

Di dalam sebuah buku yang pernah saya baca tentang produktivitas, Merlin Mann, menghitung bahwa jika kita rata-rata bekerja 8 jam sehari, 50 minggu setahun, dan memeriksa jejaring sosial setiap 5 menit, untuk melihat apakah ada sesuatu di sana, artinya kita memeriksa internet 24.000 kali setahun. Itu belum termasuk waktu untuk memberikan respons terhadap jejaring sosial. Andaikan setiap kita memeriksa internet membutuhkan waktu 10 detik dan mendapatkan fokus terhadap tugas kita yang sebelumnya dicuri oleh ping, hal ini berarti selama setahun kita menghabiskan 66,6 jam untuk memeriksa apakah ada hal lain yang lebih menarik dibandingkan apa yang sedang kita kerjakan saat ini.

Ketika kita membiarkan ping mengatur hidup kita, kita berarti membiarkannya menyulitkan diri kita. Dan kita tidak menyadari kehadirannya karena ping hanya menghilangkan perhatian kita selama 10 detik. Kita tidak perlu menyingkirkan teknologi, kita hanya perlu memakainya dengan cara yang dapat meningkatkan kemampuan kita untuk menyelesaikan tugas-tugas penting. Kita harus menyusun prioritas dan mengerjakannya daripada selalu hidup dalam kondisi memberikan perhatian secara terpisah-pisah. Kita tidak akan dapat memberikan karya terbaik dan bermutu tinggi jika kita membiarkan ping mengatur hidup kita.

Dengan kata lain, kita harus melakukan transisi dari seorang konsumen pasif menjadi orang yang berpikir jernih dan efektif. Ada dua jenis berpikir jernih yaitu berpikir kritis dan berpikir kreatif. Menjadi seorang pemikir kristis, berarti seseorang yang tidak menilai dengan melihat permukaan saja, namun menilai kemasukakalan berbagai kejadian, dan mengakses relevansi kejadian-kejadian itu dengan pandangan dan gaya hidupnya sendiri. Sedangkan berpikir kreatif adalah menekankan poin-poin yang menjadi obyek pemikiran yang sangat kreatif.

Seharusnya kita melawan ping dengan pemikiran yang jernih (kritis, kreatif dan efektif). Jangan pernah kita mau menjadi budaknya ping. Oleh karena itu marilah mulai saat ini kita dapat menjadi manusia yang cerdas dalam mengatasi konflik ping ini. Gunakan seefektif mungkin jaringan sosial kita, dan gunakan untuk kebutuhan yang penting. Jangan sampai kita tertipu daya oleh mereka. Kita harus tetap fokus pada tujuan hidup kita.

5 thoughts on “MENGELOLA KONFLIK “PING”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>