JANGAN BLENDRANG: SEBUAH REALITA

Oleh: Eni Setyowati

Jika bukan orang Jawa pasti deh bingung dengan istilah jangan blendrang. Jangan blendrang adalah sayur bersantan yang telah nginap (dimasak hari ini, namun masih dimakan untuk besok, lusa atau beberapa hari kemudian). Pemrosesannya menjadi blendrang adalah dengan “selalu” dipanasi agar sayur tersebut tidak basi. Mungkin ini juga terjadi di daerah luar Jawa, namun mempunyai istilah yang berbeda.

Jangan blendrang adalah makanan yang penuh sensasi. Mengapa demikian, karena jangan blendrang mempunyai cita rasa yang lebih mantap daripada makanan yang masih baru. Banyak kisah yang saya alami terkait dengan jangan blendrang ini. Masih ingat puluhan tahun yang lalu. Saat itu saya berusia Sekolah Dasar. Minimal setahun sekali keluarga besar dari ibu berkumpul merayakan hari raya idul fitri. Salah satu acara rutin adalah keliling ke rumah saudara. Kami keluarga besar memilih titik kumpul di rumah nenek dan kakek. Nenek dan kakek dari ibu saya memiliki sepuluh anak, sehingga jika kami berkumpul tentunya sangat ramai sekali, karena jumlahnya mencapai sekitar empat puluhan (saat ini sudah lebih). Setelah acara di rumah nenek, biasanya kami keliling ke saudara dekat, dan kemudian ke rumah mbah buyut. Saat itu mbah buyut masih sehat. Di rumah mbah buyut inilah kami makan siang. Makan yang selalu tersedia adalah jangan blendrang koro. Jangan blendrang koro masakan mbah buyut mempunyai sensasi tersendiri. Kami tidak tahu apa yang menyebabkan jangan blendrang koro mbah buyut ini rasanya sangat mantap. Yang saya ingat, blendrang koro mbah buyut ini sampai berwarna hampir kehitaman hehehehe (kira-kira mblendrang/nginap nya sampai berapa hari ya???). Jangan blendrang koro dengan nasi hangat, ikan asin (gerih) dan krupuk terasa nikmat sekali. Apalagi kami menyantapnya setelah berkeliling, perut pas lapar-laparnya...hemmm, tak terbayangkan rasanya. Kini, mbah buyut sudah tiada, sayapun menjadi tidak begitu menyukai blendrang koro, karena blendrang koro yang paling enak adalah blendrang koro masakan mbah buyut.

Kisah tentang jangan blendrang yang selanjutnya adalah blendrang pepaya muda. Saya mengenal pertama kali blendrang pepaya muda adalah dari tetangga saya waktu masih kecil. Saat itu saya usia sekolah dasar. Saya sering bermain di tetangga belakang rumah. Rumah berdinding bambu benar-benar menggambarkan rumah yang sangat sederhana. Apalagi lantai masih tanah, tetapi rasa adem sangat terasa saat masuk di rumah itu. Di suatu siang saya diajak makan bersama. Kebetulan menggunakan jangan blendrang pepaya muda. Sayapun makan dengan lahapnya. Hingga saat saya pulang, saya menyampaikan kepada ibu, “Buk, tadi saya makan uenak di tetangga, pokoknya uenak, saya tidak tahu namanya, besok dimasakin kayak itu ya?” Ibu saya pun bingung, “apa ya yang dimakan, kok anaknya sangat suka sekali, dan ibunya diminta memasak seperti masakan tadi”. Akhirnya, ibu saya ke tetangga dan menanyakan, ternyata adalah blendrang pepaya muda. Betapa terkejut dan tertawanya ibu waktu itu. Hehehehehe. Keesokan harinya, ibu pun memasak lodeh pepaya muda ditambah kacang lotho dan daging. Saya pun memakannya. Namun, rasanya berbeda dengan yang kemarin. Saya pun bilang ke ibu, “kok rasanya tidak sama dengan yang punya tetangga kemarin?” Ibu pun kebingungan. Ibu kembali ke tetangga bertanya lagi, ternyata lodeh pepaya muda buatan tetangga hanya berisi pepaya muda saja tanpa ada kacang lotho dan daging....hehehehe, ibu pun tertawa lagi. Kata ibu selanjutnya, “lha dikasih yang lebih enak, ada dagingnya kok malah gak mau”..... Saat itulah, ibu jika memasak lodeh pepaya muda tanpa ditambah daging hehehe. Sampai kini, lodeh terfavorit saya adalah lodeh pepaya, apalagi kalo sudah menjadi blendrang.....hemmmmm rasanya bikin nendang.

Sebenarnya jangan blendrang itu banyak sekali macamnya, ada blendrang nangka muda, blendrang kacang dan lainnya, Namun, blendrang yang paling saya suka adalah blendrang pepaya muda. Hingga kinipun jika memasak lodeh saya sering memasak lodeh pepaya muda hingga menjadi blendrang hehehe.

Realita Lain Jangan Blendrang

Terdapat beberapa realita lain dari jangan blendrang. Pertama, dari segi kesehatan. Di balik cita rasa yang sangat enak, ternyata jangan blendrang mempunyai realita yang lain. Menurut Rudianto, 2013 dalam bukunya yang berjudul “Menaklukkan Hipertensi dan Diabetes (Mendeteksi, Mencegah dan Mengobati dengan Cara Medik dan Herbal), penerbit Sakkhasukma, Yogyakarta, “makanan blendrang/makanan kemarin, banyak mengandung kadar garam dan lemak yang tinggi, sehingga dapat memicu hipertensi. Jika dalam waktu yang panjang, dapat menyebabkan komplikasi yaitu kerusakan pada otak, jantung, ginjal dan mata.” Selanjutnya, Golbidi, 2012 juga menyatakan bahwa, “pola makan tinggi lemak akan berdampak pada kejadian obesitas. Obesitas berhubungan dengan endotel, yang disebabkan oleh adanya efek yang mempengaruhi keseimbangan kolesterol dan HDL. (“Golbidi, S., Mesdaghinia, A., & Laher, I. (2012). Exercise in the metabolic syndrome. Oxidative  medicine and cellular longevity, 2012, 1–13. doi: http://dx.doi.org/10.1155/2012/349710”).

Salah satu penyebab penyakit tersebut adalah gaya hidup yang tidak sehat, yang berkaitan dengan konsumsi makanan yang tidak sehat, dan disertai aktivitas fisik yang kurang. Salah satu konsumsi makanan yang tidak sehat adalah makanan bersantan dan banyak lemak. Nah...gaya hidup ini terbentuk melalui sebuah kebiasaan yang berlangsung lama, terus menerus dan didukung oleh adanya suatu komunitas. Komunitas tersebut bisa dimulai dari keluarga. Ketidaktahuan dan kebiasaan yang lama, menahun dan turun-temurun tanpa diimbangi dengan pembakaran kalori yang cukup melalui olah raga, dapat memicu peningkatan penyakit jantung koroner. Oleh karena itu perlu adanya perubahan gaya hidup. Untuk mengubahnya dibutuhkan sebuah sosok yang mampu memulai dan mengajak untuk mengubah. Mengubah gaya hidup tentunya bukanlah hal yang mudah. Perubahan perilaku sangat berhubungan dengan pemahaman dan kesadaran yang tinggi. Pemahaman dan kesadaran ini seringkali berlawanan dengan kebiasaan sebelumnya yang sudah tertanam, sehingga kondisi ini menyebabkan hal yang tidak menyenangkan. Namun demikian, peran keluarga dan komunitas sangat penting dalam membentuk kebiasaan. Demikian juga dengan kasus jangan blendrang ini. Jadi mulai sekarang kita harus hati-hati dalam mengkonsumsi jangan blendrang ini. Kurangi mengkonsumsi jangan blendrang. OK...

Kedua, realita jangan blendrang yang saat ini lagi ngetrend karena digunakan di dalam lirik lagu yang berjudul “Jangan Nget-Ngetan” dan “Tuman”. Di dalam lagu tersebut, jangan blendrang diartikan sebagai perasaan yang menggambarkan seseorang yang sedang kembali dengan mantan pacar. Jika kembali dengan mantan, maka rasanya seperti jangan blendrang (makan makanan kemarin). Inilah secuil lirik lagu jangan blendrang di kedua lagu tersebut:

Lagu “Jangan Nget-Ngetan”

Tuku ketan neng prapatan

Balikan neng mantan

Podho karo mangan jangan nget-ngetan

Lirik lagu “Tuman”

Balikan karo mantan pada karo jangan blendrang

Ho...Tuman

Nyimpen nomor gebetan jenengi patok desa

Ho...Tuman

 

Begitulan realita Jangan Blendrang, sampai saat ini tetap menjadi sensai dan melegenda.

6 thoughts on “JANGAN BLENDRANG: SEBUAH REALITA

  1. Mohammad Alfin

    Hehe, mantap dan luar biasa sekali tulisan dan ilmunya.
    Terkait jangan blendrang sendiri, entah kenapa yang paling saya suka adalah blendrang pepaya muda juga. Tapi, khususnya yang dikasih kacang lotho. Istilah keren dari Ibuk, “Masak jangan testho (kates + lotho).” Sensasinya begitu luar biasa.
    Tapi, anehnya kalau makan buah pepaya yg masih segar, saya malah kurang begitu suka.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>