Monthly Archives: September 2020

Oleh:
Eni Setyowati

 jariyah buku 1

Jangankan disuruh menulis, disuruh membaca saja susahnya minta ampun. Ya...itulah kondisi saat ini di sekitar kita. Bahkan di kalangan akademisi yang berkewajiban untuk banyak membacapun, masih kesulitan untuk membudayakan membaca dan menulis, bagaimana dengan masyarakat biasa? Padahal dengan membaca kita akan menyibak sesuatu yang tersembunyi dan menyingkap tabir kebodohan. Ilmu adalah cahaya bagi hati nurani, kehidupan dan obat bagi kita yang sedang dahaga.

Apalagi jika cara kita mengajak mereka untuk membaca dan menulis kurang menarik dan kurang tepat, pasti mereka akan menyinyir kita dengan perkataan "untuk apa membaca dan menulis", toh kita bisa langsung tanya ke "mbah google". Namun demikian, saya kira kita tidak boleh patah semangat. Jangan sampai kita yang mengajak, malah kita yang ikut ikutan mereka.

Hal ini sering saya alami. Memang sangat sulit untuk membudayakan membaca apalagi disuruh untuk membeli buku....mereka akan mengatakan, "mending untuk membeli pulsa hehehe". Beberapa hal yang sering saya lakukan untuk mengajak membaca, baik itu di kalangan akedimisi maupun di kalangan masyarakat biasa adalah dengan jariyah buku (memberikan buku secara gratis) baik itu buku karya individu maupun buku keroyokan. Kesan awal yang saya lihat mereka sangat senang, tetapi tidak tahu untuk selanjutnya mereka akan membacanya atau tidak, tetapi saya kembalikan ke niat awal saya untuk mengajak mereka senang membaca. Selain menjariyahkan buku, biasanya saya juga memberi motivasi kepada mereka.

Beberapa kali yang selalu saya lakukan dalam jariyah buku adalah pada saat penutupan Praktek Pengalaman Lapangan (PPL) mahasiswa di sekolah-sekolah. Kebetulan sudah beberapa kali saya menjadi dosen pembimbing lapang mahasiswa PPL. Di akhir pelaksanaan biasanya saya memberikan kenang-kenangan beberapa buku. Selain itu juga pada saat mahasiswa melakukan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di sebuah desa, seringkali saya juga menjariyahkan buku untuk perpustakaan desa. Di kesempatan lain misalnya pada saat saya mengikuti pelatihan maupun mengikuti pengajian ibu-ibu saya juga menyempatkan untuk menjariyahkan buku kepada ibu-ibu, juga pada saat acara dharma wanita.

 jariyah buku 2

 jariyah buku 3

Beberapa kegiatan seperti itu menurut saya cukup bagus untuk memotivasi dan mengajak masyarakat untuk membudayakan membaca. Meskipun kita juga tidak bisa menyangkal bahwa sebagian dari mereka akan meremehkan, namun saya selalu kembali dari niat awal, niat yang baik InshaAllah akan mendapatkan hasil yang baik juga...Aamiin.

Saya percaya jika kita melakukan segala sesuatunya dengan hati yang tulus dan niat yang baik, hasil akan kembali kepada kita dan energi positif akan mempengaruhi kepada yang kita ajak untuk baik. Firman Allah dalam Q.S. Al Adalah ayat 7 - 8 menyebutkan, "Barang siapa berbuat kebaikan sekecil apapun perbuatan baik itu, dia akan menyaksikan hasilnya. Begitu pula yang melakukan perbuatan buruk itu, dia akan menyaksikan hasilnya." Semoga segala niat baik kita akan memberikan dampak yang baik juga....Aamiin YRA.

Eni Setyowati

 

“Siapa yang banyak kesedihannya, maka akan sakit badannya.”

(H.R. Ibn Sina dan Abu Na’im)

Beberapa waktu yang lalu saya dikagetkan oleh sebuah berita, Seorang siswa dibawah umur diperkosa dan dibunuh ramai-amai oleh 13 pemuda yang sebagian pelaku masih anak-anak di bawah umur. Kemudian, saya juga dikagetkan oleh sebuah berita, Dosen dibunuh oleh mahasiswanya, karena tidak puas dengan bimbingan skripsi yang selalu disalahkan. Keesokan harinya, saya dikagetkan lagi oleh sebuah berita, Seorang guru dipenjara karena mencubit siswanya. Keesokan harinya lagi saya dikagetkan oleh berita lagi,  seorang remaja diperkosa dan dibunuh dengan memasukkan gagang cangkul di alat vitalnya..... Berita-berita serupa hampir tiap hari bermunculan di berbagai media... Astagfirullah....ada apa dengan generasi muda saat ini? Hal inilah yang menjadi pemikiran bagi saya, tentu saja kejadian-kejadian tersebut sangat disayangkan terjadi di negeri tercinta Indonesia ini.

Lebih parah lagi, akibat dari perbuatan tersebut menjadikan korban mengalami depresi yang berat dan berkepanjangan. Apa itu depresi? Tentunya, setiap permasalahan yang menimpa pada diri seseorang dapat mengakibatkan gangguan fungsi/faal organ. Reaksi tubuh yang diakibatkan oleh gangguan fungsi/faal organ tersebut dinamakan stress, sedangkan reaksi kejiwaan seseorang terhadap stresor yang dialaminya disebut depresi. Depresi ditandai dengan kemurungan, kelesuan, ketiadaan gairah hidup, perasaan tidak berguna, putus asa dan sebagainya.

Akibat perbuatan pelaku tersebut, korban menjadi tidak bergairah hidup dan putus asa seakan hidupnya sudah tidak berguna lagi. Ini salah siapa? Tentunya kita tidak bisa menyalahkan siapa-siapa jika kejadian tersebut sudah terjadi. Namun kita harus mencegah agar kejadian-kejadian tersebut tidak akan terulang lagi. Salah satu yang harus diperbaiki adalah masalah sikap dan akhlak. Di dalam Islam dikatakan, untuk mengatasi sakit jiwa di dalamnya ‘depresi’ adalah melalui dzikr Allah dalam arti yang seluas-luasnya. Ayat dalam al-Qur’an menjelaskan:

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Al-Rad’a: 24)

Depresi, pada tahun 2020 diperkirakan akan menjadi peringkat kedua setelah penyakit jantung iskemik, dalam hal penyebab utama kecacatan di dunia. Depresi biasanya disebabkan karena: (a) kekerasan fisik, seksual dan emosional, (b) pemakaian obat-obat tertentu dan obat untuk darah tinggi, (c) adanya konflik, (d) kematian atau kehilangan, (e) genetik atau keturunan, (f) peristiwa besar, (g) penyakit berat, dan (h) masalah pribadi yang lain. Melihat penyebab depresi, dan kasus-kasus yang terjadi saat ini maka benarlah perkiraan bahwa pada tahun 2020 depresi akan menjadi peringkat kedua yang menyebabkan kecacatan di dunia. Oleh karena itu mulai dari sekarang kita harus berusaha untuk mencegah agar tidak mengalami depresi. Berdasarkan penelitian, cara untuk mencegah depresi adalah dengan olah raga, konsultasi dokter, dan menghindari alkohol.

Sebenarnya di dalam Al-Qur’an juga telah ditawarkan konsep, jika seseorang pasrah kepada Allah dan berlaku baik, maka dia tidak akan khawatir, gelisah, takut yang dapat menjadikan seseorang stress dan depresi. Firman Allah menyebutkan:

“(Tidak demikian) bahkan barang siapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Al-Baqarah: 112)

Firman Allah yang lain:

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah”, kemudian mereka tetap istiqomah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita.” (QS. Al-Ahqaf: 13)

Depresi dapat dialami oleh siapa saja, melalui tulisan ini saya akan menyampaikan beberapa hal yang dapat kita lakukan untuk mengatasi dan mencari solusinya yaitu: (1) selalu menegakkan shalat, (2) senantiasa memberikan sebagian hartanya kepada yang berhak menerimanya, (3) percaya kepada hari pembalasan, dengan kesadaran tinggi bahwa segalanya akan di balas di akhirat, (4) merasa tidak aman terhadap akan datangnya siksa Allah, (5) senantiasa menjaga kesuciannya dalam kehidupan seksual, (6) senantiasa memelihara amanat dan memenuhi janji, dan (7) senantiasa jujur dalam bersaksi, tidak berdusta.  Jika setiap orang dapat memenuhi kriteria di atas, pasti tidak akan terjadi perbuatan yang tidak baik dan tidak ada yang mengalami depresi.

Dengan kata lain marilah kita perbanyak keimanan kita, dan marilah kita tanamkan keimanan kepada anak-anak kita. Dalam Firman Allah disebutkan:

“Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mu’min supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka yang telah ada.” (QS. Al-Fath: 4)

Sebagai seorang muslim hendaknya kita menerima kenyataan yang dihadapi sebagai ujian dan mampu memetik hikmahnya, karena hal itu merupakan salah satu cara Allah menghapus dosa sebagaimana dijelaskan dalam hadits Nabi berikut:

“Dari Abi Sa’id al-Khudri dan dari Abi Huraiat, dari Nabi saw, beliau berkata: Semua musibah, kesempitan, kegundah-gulanaan, atau kesedihan hingga duri yang menusuk serang muslim, maka Allah akan menghapus kesalahannya.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, al-Turmudzi dan Ahmad).

Kita tidak boleh selalu mengeluh terhadap keadaan yang kita alami. Nabi melarang seseorang yang mengeluhkan penderitaannya, tidak mengharapkan kematiannya atau meminta mati karena pedihnya penderitaan yang dialaminya itu, sebagaimana hadits Nabi berikut.

Dari Anas bin Malik ra Rasulullah saw bersabda: “Janganlah sekali-kali seorang di antara kamu mengharapkan kematian karena penderitaan yang dialaminya. Jika harus berbuat begitu, maka hendaklah ia mengucapkan, ya Allah, hidupkanlah aku jika hidup itu lebih baik bagiku, dan matikanlah aku jika kematian itu lebih baik bagiku.” (HR. Al-Bukhari).

Selain itu kita harus menyadarkan diri bahwa segala sesuatu itu sudah ditetapkan oleh Allah sebelumnya, dan pengetahuan manusia sangat terbatas, semuanya datang dari Allah dan akan kembali kepada Nya pula, seperti dalam al-Qur’an:

Katakakanlah: “Semuanya (datang) dari sisi Allah”. (QS. Al-Nisa: 78)

Kita juga harus selalu bersabar, sebagaimana Firman Allah:

“Dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan oleh Allah.” (QS. Luqman: 17).

Sabar bukan berarti apatis dan pasif, namun dalam hal-hal tertentu dituntut sikap dan sifat agresif dan aktif, misalnya dengan cara menghilangkan emosi, mendinginkan kepala, menekan akibat emosi, rasa cemas, ketakutan yang dapat merusak jantung dan menyebabkan pendarahan darah.

Dari berbagai hal di atas, maka untuk mengatasi dan mencari solusi dari setiap persoalan yang menyebabkan depresi adalah dengan selalu kembali ‘mengingat-Nya’ dalam pengertian yang seluas-luasnya.

buku pak zaprul pertama

Oleh: Eni Setyowati

 Seringkali kita terpuruk dengan linieritas, sehingga kita merasa terkunci untuk melakukan sesuatu yang sesungguhnya bermanfaat tetapi jauh dari konsep linieritas.

Beberapa waktu yang lalu, saya membeli buku karya teman di SPK yaitu pak doktor Zaprulkhan. Buku itu lumayan berat bagi saya, baik berat kajiannya maupun berat bobotnya hehehehe. Buku yang terdiri dari tiga jilid itu membahas tentang pemikiran tokoh besar Musa Asy’arie. Mengapa saya ingin memiliknya, padahal secara keilmuan buku itu di luar bidang keilmuan saya? Tentunya ada alasannya. Selain untuk menambah wawasan, tak salah bagi saya untuk mempelajari hal-hal yang tidak saya dapatkan selama ini, bahkan ini adalah kewajiban. Bagaimana maksudnya? Begini, Pak doktor Zaprulkhan ini adalah dosen sekaligus Dekan di Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi Islam IAIN SAS Bangka Belitung. Beliau adalah ahli di bidang filsafat. Jelas sangat berbeda dengan keilmuan saya yaitu di bidang sains/ilmu alam. Namun, itulah yang membuat saya ingin mengetahui dan mempelajari juga tentang ilmu lain. Seringkali kita terpuruk dengan linieritas, sehingga kita merasa terkunci untuk melakukan sesuatu yang sesungguhnya bermanfaat tetapi jauh dari konsep linieritas. Menurut saya, lakukanlah “segala sesuatu” yang menurut kita bisa dilakukan dan bermanfaat. Penilaian Tuhan tidak sama dengan penilaian manusia. Itulah prinsip saya, sehingga saya akan selalu mencoba ingin tahu “sesuatu” meskipun itu di luar keahlian saya.

Meskipun saya belum tuntas membaca buku itu, jangankan tuntas tiga buku, buku pertama saja sampai saat ini belum khatam hehehe, maklum satu buku saja tebalnya lebih dari 400 halaman, tetapi pada catatan singkat ini saya akan mencoba menuliskan pemahaman saya dari sebagian kecil isi buku ini. Buku karya pak Zaprulkhan ini berisi tentang pemikiran Musa Asy’arie. Buku pertama berjudul “Paradigma Berpikir Kritis Musa Asy’arie, Teologi Integralistik dan Berpikir Multidimensional.”. Buku kedua berjudul “Paradigma Berpikir Profetik Musa Asy’arie, Rekonstruksi Metodologi Berpikir Profetik dan Filsafat Eksistensialis Teo-Antroposentrisme.” Buku ketiga berjudul “Paradigma Filsafat Ekonomi Islam Musa Asy’arie, Pemberdayaan Ekonomi yang Membebaskan.”. Dilihat dari judul bukunya saja, mungkin pembaca akan mengernyitkan dahinya, sambil bergeming, “waahhh berat-berat amat buku ini,” hehehehe. Jangan putus asa, semua pasti bisa kita pelajari, jika kita niat dan mau untuk terus belajar.

Pelan-pelan saya mulai membaca buku ini. Tentunya saya awali pada buku pertama. Saya cermati mulai dari daftar isi, kata pengantar dan isinya. Pelan-pelan saya membaca, mempelajari dan berusaha memahaminya, sesekali saya juga berpikir, “bagaimana menulis buku tentang pemikiran tokoh seperti ini ya?”. Terus terang saya juga berkeinginan untuk bisa menulis seperti ini. Seringkali saya membayangkan bisa menulis buku tentang pemikiran Bapak Emil Salim tentang Lingkungan, karena beliau dikenal bapak lingkungan, dan beberapa kali saya mengikuti ceramah, ulasan dan beberapa karya beliau tentang lingkungan, khususnya tentang lingkungan dan agama, sangat menarik sekali. Bismilah....semoga dapat tercapai...aamiin.

Baiklah, kita kembali pada buku pertama ini. Di bagian kata pengantar, pak Zaprulkhan menceritakan kegelisahannya tentang pudarnya ghiroh literasi khususnya di Perguruan Tinggi baik PT umum maupun PTKI di negara tercinta ini. Pudarnya ghiroh literasi ini diakibatkan rendahnya keaktifan membaca, menulis, menelaah, mengkaji, mendiskusikan dan memperdebatkan wacana-wacana pemikiran para ulama, cendekiawan, dan intelektual kita di kalangan akademis baik dosen maupun mahasiswa. Padahal dengan mempelajari pemikiran-pemikiran para ulama, cendekiawan dan intelektual tersebut akan dapat menumbuhkan ide-ide cemerlang yang bisa kita anut dan kita aktualisasikan. Selain itu, pak Zaprulkhan juga menemukan fenomena yang sangat miris dan mencengangkan, yaitu dosen dan mahasiswa kita malah lebih akrab dengan para teolog, ulama dari Timur Tengah daripada ulama dan cendekiawan bangsa sendiri. Berdasarkan kegelisahan tersebut, pak Zaprulkhan telah berhasil menulis buku tentang pemikiran Musa Asy’arie ini.

Meskipun saya belum tuntas membaca buku pertama, namun ada beberapa catatan yang bisa saya ambil secara ringkas tentang sosok Musa Asy’arie. Pada awal buku ini pak Zaprulkhan memotret sosok Musa Asy’arie sebagai science as vocation and society as vocation, yaitu orang yang terpanggil untuk mengabdikan diri dalam ranah ilmu pengetahuan sekaligus dalam ranah sosial masyarakat, sehingga pak Zarpulkhan juga menyebutnya sebagai man of ideas and man of actions, yaitu cendekiawan yang kaya ide briliant dan proaktif dalam aktivitas sosial (hal. 21). Membaca kalimat ini tentunya sangat menginspirasi saya, dan menggelitik saya seperti apa sosok Musa Asy’arie ini.

Catatan berikutnya yang bisa saya tangkap adalah tentang lima core pemikiran Musa Asy’arie, yaitu paradigma teologi integralistik, paradigma berpikir multidimensional, filsafat eksistensialis teo-antroposentris, trilogi ekonomi Islam, dan epistemologi rekonstruksi metodologi berpikir profetik. Terus terang, saya membaca istilah-istilah tersebut cukup berat, namun saya tidak putus asa. Saya terus membaca dan berusaha memahaminya. Begitu pelan-pelan saya pahami, ternyata pemikiran Musa Asy’arie ini benar-benar sebagai sesuatu yang penuh dengan ide-ide yang cemerlang. Salah satunya tentang tauhid. Bagi Musa Asy’arie, wacana tauhid sesungguhnya bukan hanya memiliki makna teologis bahwa Tuhan itu Maha Esa, yaitu Sang Pencipta alam semesta dan satu-satunya yang wajib disembah oleh manusia, tetapi juga memiliki makna kosmologis, antropologis dan kebudayaan. Wacana inilah yang oleh pak Zaprulkhan disebut paradigma teologi integralistik.

Tauhid berdimensi kosmologis ini bermakna bahwa seluruh bentuk ilmu pengetahuan, sains dan teknologi yang telah diungkap, ditemukan dan diaktualisasikan oleh manusia dalam kehidupan secara faktual pada hakikatnya sebagai perpanjangan dari ayat-ayat Tuhan yang terletak pada wajah alam semesta. Pemahaman, pengungkapan dan pembahasan tentang hakikat alam semesta memerlukan kerja sama secara harmonis antara agama, filsafat, ilmu pengetahuan, sains dan teknologi. Agama berfungsi sebagai pedoman normatif yang memberi panduan secara moral-spiritual. Filsafat merupakan sebuah pendekatan kritis-konstruktif yang bersifat open-minded terhadap berbagai bentuk ilmu pengetahuan (hal. 24). Memahami wacana di atas tentunya saya sangat setuju. Bahwa mengenal hakikat alam semesta perlu adanya ilmu yang terintegralistik. Nah....inilah salah satu alasan saya mengapa saya juga ingin mempelajari ilmu lain, yang selama ini belum/tidak saya pelajari, khususnya tentang filsafat. Alhamdulillah dengan membaca buku ini, kegelisahan saya untuk ingin mempelajari ilmu lain bisa terjawab.

Saya lanjutkan lagi. Pemikiran Musa Asy’arie ini juga menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan senantiasa terbuka untuk terus menerus dikembangkan secara terus menerus. Sedangkan sains merupakan pendekatan ilmiah yang bercorak observatif-eksperimentatif yang sangat berguna untuk menyibak dan merumuskan hukum-hukum Tuhan yang terdapat pada fenomena empiris dalam ruang semesta. Teknologi yang berlandaskan pengetahuan eksakta, bersifat teknis membantu proses kehidupan pragmatis menjadi lebih mudah, efektif dan efisien. Nah, kerjasama antara agama, filsafat, sains dan teknologi secara harmonis ini disebut paradigma berpikir multidimensional (hal. 25).

Intinya dalam memahami hakikat alam semesta harus ada kerjasama antara keempatnya. Pertama, Agama. Disebutkan bahwa terdapat signifikansi keyakinan agama bagi kehidupan manusia, yaitu menciptakan optimisme, meningkatkan hubungan sosial, mengurangi kecemasan, dan sebagai landasan untuk akhlak mulia. Kedua, Filsafat. Terdapat signifikansi filsafat bagi kehidupan manusia, antara lain sebagai pendobrak mitos-mitos palsu, sebagai penguji asumsi-asumsi dasar dalam kehidupan umat manusia seperti pandangan umum, keyakinan, ideologi serta keberagamaan, memperkaya perspektif dalam menatap kehidupan, mengajarkan orang untuk mendalaminya agar bersikap rendah hati, mengantarkan kepada kita sebuah ketidaktahuan yang terpelajar, membebaskan kita dari tirani kebiasaan, menyibak selubung palsu ideologis dan mengubah realitas, serta membebaskan kita dari keterpesonaan awam dan keterlenaan. Ketiga, Sains. Siginifikansi sains bagi kehidupan manusia antara lain: sebagai alat eksplanasi, sebagai alat prediksi, sebagai alat pengontrol, dan sebagai alat yang memudahkan proses kehidupan. Keempat, Teknologi. Signifikansi teknologi dalam kehidupan manusia antara lain di bidang ekonomi, sosial, pertahanan keamanan, lingkungan, dan kesejahteraan.

Nah, dari uraian di atas, betapa pentingnya kerjasama antara agama, filsafat, sains dan teknologi dalam memahami hakikat alam semesta ini. Untuk mampu menyatukan kerjasama tersebut, dibutuhkan kerjasama modal spiritual, pendidikan, manusia dan budaya. Modal spiritual adalah harmonisasi hubungan manusia dan Sang Pencipta. Modal pendidikan adalah penerapan pendidikan secara multikultural dalam konteks bangsa Indonesia, sehingga diperlukan pemikiran multidimensional. Modal manusia yaitu adanya individu yang berkualitas baik mentalnya, moralnya, maupun intelektualnya. Sedangkan modal budaya adalah adanya proses kreatif manusia yang aktual dalam menjawab tantangan yang dihadapi untuk mencapai kesejahteraan. Dengan berpikir multidimensional akan membangun nalar peradaban dan nalar kebudayaan. Berpikir dimensional akan mewujudkan kemaslahatan, kedamaian, keselamatan, kesejahteraan dan kebahagiaan umat manusia. Berpikir multidimensional merupakan jalinan hubungan antara moral spiritual antara manusia dan Sang Pencipta, hubungan harmonis dengan sesama manusia, serta hubungan kreatif dan inovatif dengan alam semesta. Berpikir multidimensional juga akan mengatasi pelbagai problem yang bersifat multidimensional, baik skala nasional maupun global. Dengan demikian, berpikir multidimensional akan mampu menggugah spirit inspirasi bagi terciptanya peradaban universal yang membawa kemaslahatan, kedamaian dan kebahagiaan umat manusia.