CATATAN SINGKAT BUKU KARYA PAK ZAPRULKHAN (Paradigma Berpikir Kritis Musa Asy’arie: Teologi Integralistik dan Berpikir Multidimensional – Buku Pertama)

buku pak zaprul pertama

Oleh: Eni Setyowati

 Seringkali kita terpuruk dengan linieritas, sehingga kita merasa terkunci untuk melakukan sesuatu yang sesungguhnya bermanfaat tetapi jauh dari konsep linieritas.

Beberapa waktu yang lalu, saya membeli buku karya teman di SPK yaitu pak doktor Zaprulkhan. Buku itu lumayan berat bagi saya, baik berat kajiannya maupun berat bobotnya hehehehe. Buku yang terdiri dari tiga jilid itu membahas tentang pemikiran tokoh besar Musa Asy’arie. Mengapa saya ingin memiliknya, padahal secara keilmuan buku itu di luar bidang keilmuan saya? Tentunya ada alasannya. Selain untuk menambah wawasan, tak salah bagi saya untuk mempelajari hal-hal yang tidak saya dapatkan selama ini, bahkan ini adalah kewajiban. Bagaimana maksudnya? Begini, Pak doktor Zaprulkhan ini adalah dosen sekaligus Dekan di Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi Islam IAIN SAS Bangka Belitung. Beliau adalah ahli di bidang filsafat. Jelas sangat berbeda dengan keilmuan saya yaitu di bidang sains/ilmu alam. Namun, itulah yang membuat saya ingin mengetahui dan mempelajari juga tentang ilmu lain. Seringkali kita terpuruk dengan linieritas, sehingga kita merasa terkunci untuk melakukan sesuatu yang sesungguhnya bermanfaat tetapi jauh dari konsep linieritas. Menurut saya, lakukanlah “segala sesuatu” yang menurut kita bisa dilakukan dan bermanfaat. Penilaian Tuhan tidak sama dengan penilaian manusia. Itulah prinsip saya, sehingga saya akan selalu mencoba ingin tahu “sesuatu” meskipun itu di luar keahlian saya.

Meskipun saya belum tuntas membaca buku itu, jangankan tuntas tiga buku, buku pertama saja sampai saat ini belum khatam hehehe, maklum satu buku saja tebalnya lebih dari 400 halaman, tetapi pada catatan singkat ini saya akan mencoba menuliskan pemahaman saya dari sebagian kecil isi buku ini. Buku karya pak Zaprulkhan ini berisi tentang pemikiran Musa Asy’arie. Buku pertama berjudul “Paradigma Berpikir Kritis Musa Asy’arie, Teologi Integralistik dan Berpikir Multidimensional.”. Buku kedua berjudul “Paradigma Berpikir Profetik Musa Asy’arie, Rekonstruksi Metodologi Berpikir Profetik dan Filsafat Eksistensialis Teo-Antroposentrisme.” Buku ketiga berjudul “Paradigma Filsafat Ekonomi Islam Musa Asy’arie, Pemberdayaan Ekonomi yang Membebaskan.”. Dilihat dari judul bukunya saja, mungkin pembaca akan mengernyitkan dahinya, sambil bergeming, “waahhh berat-berat amat buku ini,” hehehehe. Jangan putus asa, semua pasti bisa kita pelajari, jika kita niat dan mau untuk terus belajar.

Pelan-pelan saya mulai membaca buku ini. Tentunya saya awali pada buku pertama. Saya cermati mulai dari daftar isi, kata pengantar dan isinya. Pelan-pelan saya membaca, mempelajari dan berusaha memahaminya, sesekali saya juga berpikir, “bagaimana menulis buku tentang pemikiran tokoh seperti ini ya?”. Terus terang saya juga berkeinginan untuk bisa menulis seperti ini. Seringkali saya membayangkan bisa menulis buku tentang pemikiran Bapak Emil Salim tentang Lingkungan, karena beliau dikenal bapak lingkungan, dan beberapa kali saya mengikuti ceramah, ulasan dan beberapa karya beliau tentang lingkungan, khususnya tentang lingkungan dan agama, sangat menarik sekali. Bismilah....semoga dapat tercapai...aamiin.

Baiklah, kita kembali pada buku pertama ini. Di bagian kata pengantar, pak Zaprulkhan menceritakan kegelisahannya tentang pudarnya ghiroh literasi khususnya di Perguruan Tinggi baik PT umum maupun PTKI di negara tercinta ini. Pudarnya ghiroh literasi ini diakibatkan rendahnya keaktifan membaca, menulis, menelaah, mengkaji, mendiskusikan dan memperdebatkan wacana-wacana pemikiran para ulama, cendekiawan, dan intelektual kita di kalangan akademis baik dosen maupun mahasiswa. Padahal dengan mempelajari pemikiran-pemikiran para ulama, cendekiawan dan intelektual tersebut akan dapat menumbuhkan ide-ide cemerlang yang bisa kita anut dan kita aktualisasikan. Selain itu, pak Zaprulkhan juga menemukan fenomena yang sangat miris dan mencengangkan, yaitu dosen dan mahasiswa kita malah lebih akrab dengan para teolog, ulama dari Timur Tengah daripada ulama dan cendekiawan bangsa sendiri. Berdasarkan kegelisahan tersebut, pak Zaprulkhan telah berhasil menulis buku tentang pemikiran Musa Asy’arie ini.

Meskipun saya belum tuntas membaca buku pertama, namun ada beberapa catatan yang bisa saya ambil secara ringkas tentang sosok Musa Asy’arie. Pada awal buku ini pak Zaprulkhan memotret sosok Musa Asy’arie sebagai science as vocation and society as vocation, yaitu orang yang terpanggil untuk mengabdikan diri dalam ranah ilmu pengetahuan sekaligus dalam ranah sosial masyarakat, sehingga pak Zarpulkhan juga menyebutnya sebagai man of ideas and man of actions, yaitu cendekiawan yang kaya ide briliant dan proaktif dalam aktivitas sosial (hal. 21). Membaca kalimat ini tentunya sangat menginspirasi saya, dan menggelitik saya seperti apa sosok Musa Asy’arie ini.

Catatan berikutnya yang bisa saya tangkap adalah tentang lima core pemikiran Musa Asy’arie, yaitu paradigma teologi integralistik, paradigma berpikir multidimensional, filsafat eksistensialis teo-antroposentris, trilogi ekonomi Islam, dan epistemologi rekonstruksi metodologi berpikir profetik. Terus terang, saya membaca istilah-istilah tersebut cukup berat, namun saya tidak putus asa. Saya terus membaca dan berusaha memahaminya. Begitu pelan-pelan saya pahami, ternyata pemikiran Musa Asy’arie ini benar-benar sebagai sesuatu yang penuh dengan ide-ide yang cemerlang. Salah satunya tentang tauhid. Bagi Musa Asy’arie, wacana tauhid sesungguhnya bukan hanya memiliki makna teologis bahwa Tuhan itu Maha Esa, yaitu Sang Pencipta alam semesta dan satu-satunya yang wajib disembah oleh manusia, tetapi juga memiliki makna kosmologis, antropologis dan kebudayaan. Wacana inilah yang oleh pak Zaprulkhan disebut paradigma teologi integralistik.

Tauhid berdimensi kosmologis ini bermakna bahwa seluruh bentuk ilmu pengetahuan, sains dan teknologi yang telah diungkap, ditemukan dan diaktualisasikan oleh manusia dalam kehidupan secara faktual pada hakikatnya sebagai perpanjangan dari ayat-ayat Tuhan yang terletak pada wajah alam semesta. Pemahaman, pengungkapan dan pembahasan tentang hakikat alam semesta memerlukan kerja sama secara harmonis antara agama, filsafat, ilmu pengetahuan, sains dan teknologi. Agama berfungsi sebagai pedoman normatif yang memberi panduan secara moral-spiritual. Filsafat merupakan sebuah pendekatan kritis-konstruktif yang bersifat open-minded terhadap berbagai bentuk ilmu pengetahuan (hal. 24). Memahami wacana di atas tentunya saya sangat setuju. Bahwa mengenal hakikat alam semesta perlu adanya ilmu yang terintegralistik. Nah....inilah salah satu alasan saya mengapa saya juga ingin mempelajari ilmu lain, yang selama ini belum/tidak saya pelajari, khususnya tentang filsafat. Alhamdulillah dengan membaca buku ini, kegelisahan saya untuk ingin mempelajari ilmu lain bisa terjawab.

Saya lanjutkan lagi. Pemikiran Musa Asy’arie ini juga menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan senantiasa terbuka untuk terus menerus dikembangkan secara terus menerus. Sedangkan sains merupakan pendekatan ilmiah yang bercorak observatif-eksperimentatif yang sangat berguna untuk menyibak dan merumuskan hukum-hukum Tuhan yang terdapat pada fenomena empiris dalam ruang semesta. Teknologi yang berlandaskan pengetahuan eksakta, bersifat teknis membantu proses kehidupan pragmatis menjadi lebih mudah, efektif dan efisien. Nah, kerjasama antara agama, filsafat, sains dan teknologi secara harmonis ini disebut paradigma berpikir multidimensional (hal. 25).

Intinya dalam memahami hakikat alam semesta harus ada kerjasama antara keempatnya. Pertama, Agama. Disebutkan bahwa terdapat signifikansi keyakinan agama bagi kehidupan manusia, yaitu menciptakan optimisme, meningkatkan hubungan sosial, mengurangi kecemasan, dan sebagai landasan untuk akhlak mulia. Kedua, Filsafat. Terdapat signifikansi filsafat bagi kehidupan manusia, antara lain sebagai pendobrak mitos-mitos palsu, sebagai penguji asumsi-asumsi dasar dalam kehidupan umat manusia seperti pandangan umum, keyakinan, ideologi serta keberagamaan, memperkaya perspektif dalam menatap kehidupan, mengajarkan orang untuk mendalaminya agar bersikap rendah hati, mengantarkan kepada kita sebuah ketidaktahuan yang terpelajar, membebaskan kita dari tirani kebiasaan, menyibak selubung palsu ideologis dan mengubah realitas, serta membebaskan kita dari keterpesonaan awam dan keterlenaan. Ketiga, Sains. Siginifikansi sains bagi kehidupan manusia antara lain: sebagai alat eksplanasi, sebagai alat prediksi, sebagai alat pengontrol, dan sebagai alat yang memudahkan proses kehidupan. Keempat, Teknologi. Signifikansi teknologi dalam kehidupan manusia antara lain di bidang ekonomi, sosial, pertahanan keamanan, lingkungan, dan kesejahteraan.

Nah, dari uraian di atas, betapa pentingnya kerjasama antara agama, filsafat, sains dan teknologi dalam memahami hakikat alam semesta ini. Untuk mampu menyatukan kerjasama tersebut, dibutuhkan kerjasama modal spiritual, pendidikan, manusia dan budaya. Modal spiritual adalah harmonisasi hubungan manusia dan Sang Pencipta. Modal pendidikan adalah penerapan pendidikan secara multikultural dalam konteks bangsa Indonesia, sehingga diperlukan pemikiran multidimensional. Modal manusia yaitu adanya individu yang berkualitas baik mentalnya, moralnya, maupun intelektualnya. Sedangkan modal budaya adalah adanya proses kreatif manusia yang aktual dalam menjawab tantangan yang dihadapi untuk mencapai kesejahteraan. Dengan berpikir multidimensional akan membangun nalar peradaban dan nalar kebudayaan. Berpikir dimensional akan mewujudkan kemaslahatan, kedamaian, keselamatan, kesejahteraan dan kebahagiaan umat manusia. Berpikir multidimensional merupakan jalinan hubungan antara moral spiritual antara manusia dan Sang Pencipta, hubungan harmonis dengan sesama manusia, serta hubungan kreatif dan inovatif dengan alam semesta. Berpikir multidimensional juga akan mengatasi pelbagai problem yang bersifat multidimensional, baik skala nasional maupun global. Dengan demikian, berpikir multidimensional akan mampu menggugah spirit inspirasi bagi terciptanya peradaban universal yang membawa kemaslahatan, kedamaian dan kebahagiaan umat manusia.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>