DEPRESI: CARA MENGATASI DAN MENCARI SOLUSI

Eni Setyowati

 

“Siapa yang banyak kesedihannya, maka akan sakit badannya.”

(H.R. Ibn Sina dan Abu Na’im)

Beberapa waktu yang lalu saya dikagetkan oleh sebuah berita, Seorang siswa dibawah umur diperkosa dan dibunuh ramai-amai oleh 13 pemuda yang sebagian pelaku masih anak-anak di bawah umur. Kemudian, saya juga dikagetkan oleh sebuah berita, Dosen dibunuh oleh mahasiswanya, karena tidak puas dengan bimbingan skripsi yang selalu disalahkan. Keesokan harinya, saya dikagetkan lagi oleh sebuah berita, Seorang guru dipenjara karena mencubit siswanya. Keesokan harinya lagi saya dikagetkan oleh berita lagi,  seorang remaja diperkosa dan dibunuh dengan memasukkan gagang cangkul di alat vitalnya..... Berita-berita serupa hampir tiap hari bermunculan di berbagai media... Astagfirullah....ada apa dengan generasi muda saat ini? Hal inilah yang menjadi pemikiran bagi saya, tentu saja kejadian-kejadian tersebut sangat disayangkan terjadi di negeri tercinta Indonesia ini.

Lebih parah lagi, akibat dari perbuatan tersebut menjadikan korban mengalami depresi yang berat dan berkepanjangan. Apa itu depresi? Tentunya, setiap permasalahan yang menimpa pada diri seseorang dapat mengakibatkan gangguan fungsi/faal organ. Reaksi tubuh yang diakibatkan oleh gangguan fungsi/faal organ tersebut dinamakan stress, sedangkan reaksi kejiwaan seseorang terhadap stresor yang dialaminya disebut depresi. Depresi ditandai dengan kemurungan, kelesuan, ketiadaan gairah hidup, perasaan tidak berguna, putus asa dan sebagainya.

Akibat perbuatan pelaku tersebut, korban menjadi tidak bergairah hidup dan putus asa seakan hidupnya sudah tidak berguna lagi. Ini salah siapa? Tentunya kita tidak bisa menyalahkan siapa-siapa jika kejadian tersebut sudah terjadi. Namun kita harus mencegah agar kejadian-kejadian tersebut tidak akan terulang lagi. Salah satu yang harus diperbaiki adalah masalah sikap dan akhlak. Di dalam Islam dikatakan, untuk mengatasi sakit jiwa di dalamnya ‘depresi’ adalah melalui dzikr Allah dalam arti yang seluas-luasnya. Ayat dalam al-Qur’an menjelaskan:

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Al-Rad’a: 24)

Depresi, pada tahun 2020 diperkirakan akan menjadi peringkat kedua setelah penyakit jantung iskemik, dalam hal penyebab utama kecacatan di dunia. Depresi biasanya disebabkan karena: (a) kekerasan fisik, seksual dan emosional, (b) pemakaian obat-obat tertentu dan obat untuk darah tinggi, (c) adanya konflik, (d) kematian atau kehilangan, (e) genetik atau keturunan, (f) peristiwa besar, (g) penyakit berat, dan (h) masalah pribadi yang lain. Melihat penyebab depresi, dan kasus-kasus yang terjadi saat ini maka benarlah perkiraan bahwa pada tahun 2020 depresi akan menjadi peringkat kedua yang menyebabkan kecacatan di dunia. Oleh karena itu mulai dari sekarang kita harus berusaha untuk mencegah agar tidak mengalami depresi. Berdasarkan penelitian, cara untuk mencegah depresi adalah dengan olah raga, konsultasi dokter, dan menghindari alkohol.

Sebenarnya di dalam Al-Qur’an juga telah ditawarkan konsep, jika seseorang pasrah kepada Allah dan berlaku baik, maka dia tidak akan khawatir, gelisah, takut yang dapat menjadikan seseorang stress dan depresi. Firman Allah menyebutkan:

“(Tidak demikian) bahkan barang siapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Al-Baqarah: 112)

Firman Allah yang lain:

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah”, kemudian mereka tetap istiqomah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita.” (QS. Al-Ahqaf: 13)

Depresi dapat dialami oleh siapa saja, melalui tulisan ini saya akan menyampaikan beberapa hal yang dapat kita lakukan untuk mengatasi dan mencari solusinya yaitu: (1) selalu menegakkan shalat, (2) senantiasa memberikan sebagian hartanya kepada yang berhak menerimanya, (3) percaya kepada hari pembalasan, dengan kesadaran tinggi bahwa segalanya akan di balas di akhirat, (4) merasa tidak aman terhadap akan datangnya siksa Allah, (5) senantiasa menjaga kesuciannya dalam kehidupan seksual, (6) senantiasa memelihara amanat dan memenuhi janji, dan (7) senantiasa jujur dalam bersaksi, tidak berdusta.  Jika setiap orang dapat memenuhi kriteria di atas, pasti tidak akan terjadi perbuatan yang tidak baik dan tidak ada yang mengalami depresi.

Dengan kata lain marilah kita perbanyak keimanan kita, dan marilah kita tanamkan keimanan kepada anak-anak kita. Dalam Firman Allah disebutkan:

“Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mu’min supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka yang telah ada.” (QS. Al-Fath: 4)

Sebagai seorang muslim hendaknya kita menerima kenyataan yang dihadapi sebagai ujian dan mampu memetik hikmahnya, karena hal itu merupakan salah satu cara Allah menghapus dosa sebagaimana dijelaskan dalam hadits Nabi berikut:

“Dari Abi Sa’id al-Khudri dan dari Abi Huraiat, dari Nabi saw, beliau berkata: Semua musibah, kesempitan, kegundah-gulanaan, atau kesedihan hingga duri yang menusuk serang muslim, maka Allah akan menghapus kesalahannya.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, al-Turmudzi dan Ahmad).

Kita tidak boleh selalu mengeluh terhadap keadaan yang kita alami. Nabi melarang seseorang yang mengeluhkan penderitaannya, tidak mengharapkan kematiannya atau meminta mati karena pedihnya penderitaan yang dialaminya itu, sebagaimana hadits Nabi berikut.

Dari Anas bin Malik ra Rasulullah saw bersabda: “Janganlah sekali-kali seorang di antara kamu mengharapkan kematian karena penderitaan yang dialaminya. Jika harus berbuat begitu, maka hendaklah ia mengucapkan, ya Allah, hidupkanlah aku jika hidup itu lebih baik bagiku, dan matikanlah aku jika kematian itu lebih baik bagiku.” (HR. Al-Bukhari).

Selain itu kita harus menyadarkan diri bahwa segala sesuatu itu sudah ditetapkan oleh Allah sebelumnya, dan pengetahuan manusia sangat terbatas, semuanya datang dari Allah dan akan kembali kepada Nya pula, seperti dalam al-Qur’an:

Katakakanlah: “Semuanya (datang) dari sisi Allah”. (QS. Al-Nisa: 78)

Kita juga harus selalu bersabar, sebagaimana Firman Allah:

“Dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan oleh Allah.” (QS. Luqman: 17).

Sabar bukan berarti apatis dan pasif, namun dalam hal-hal tertentu dituntut sikap dan sifat agresif dan aktif, misalnya dengan cara menghilangkan emosi, mendinginkan kepala, menekan akibat emosi, rasa cemas, ketakutan yang dapat merusak jantung dan menyebabkan pendarahan darah.

Dari berbagai hal di atas, maka untuk mengatasi dan mencari solusi dari setiap persoalan yang menyebabkan depresi adalah dengan selalu kembali ‘mengingat-Nya’ dalam pengertian yang seluas-luasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>