Monthly Archives: January 2021

lapas

Oleh: Eni Setyowati

Salah satu tri dharma perguruan tinggi adalah pengabdian kepada masyarakat. Setiap dosen/pendidik di perguruan tinggi berkewajiban untuk melakukan pengabdian kepada masyarakat. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini berbeda-beda, misalnya dengan melakukan kegiatan membantu masyarakat di lapangan dalam jangka waktu yang cukup lama ataupun cukup dengan memberikan semacam edukasi atau penyuluhan kepada masyarakat. Apapun itu, harapan dari pengabdian ini adalah menjadikan masyarakat lebih maju, berkembang dan bisa mandiri.

Hari Kamis, 1 Oktober 2020, bertepatan dengan Hari Kesaktian Pancasila, saya mendapatkan amanah untuk melakukan pengabdian kepada masyarakat di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kabupaten Tulungagung. Kegiatan pengabdian di Lapas ini merupakan kegiatan rutin mingguan yang diadakan oleh Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LP2M) IAIN Tulungagung. Kegiatan yang dilakukan adalah memberikan edukasi kepada saudara-saudara (narapidana) yang ada di Lapas. Kegiatan ini dibagi menjadi dua, yaitu kegiatan oleh bapak-bapak dosen yang diperuntukkan bagi saudara di Lapas laki-laki, dan kegiatan oleh ibu-ibu dosen bagi saudara di Lapas perempuan.

Ini bukan kali pertama saya mengunjungi lapas untuk kegiatan yang sama, entah sudah berapa kali saya lupa, tetapi jika lima kali inshaAllah lebih. Tepat pukul 13.30 WIB saya tiba di lapas. Sayapun segera menuju pintu besi dan memencet bel, petugaspun membuka jendela kecil dan mempersilahkan saya masuk setelah saya menyampaikan bahwa saya dari IAIN Tulungagung. Pintu yang tak terlalu lebarpun dibuka, dan saya masuk. Setiap pengunjung harus menerapkan protokol kesehatan, suhupun di cek, alhamdulillah normal. Segera saya diminta untuk memberikan KTP dan saya diberi ID kartu pengunjunga, serta dipersilahkan menuju ruang lapas perempuan.

Begitu tiba di ruang perempuan, sayapun menyapa petugas Sipir yang menjaga, alhamdulillah sejak dulu petugasnya sama, sehingga saya sudah kenal. Kamipun mengobrol, sembari menunggu mereka menyiapkan tempat untuk berdiskusi. Kurang lebih ada 19 orang yang berada di lapas perempuan. Setelah tempat ditata rapi, acara diskusi pun dimulai. Saya mulai dengan perkenalan diri, dan menyampaikan maksud kedatangan saya. Alhamdulillah mereka sangat senang sekali. Saat berangkat saya berjaga-jaga membawa mesker untuk diberikan kepada mereka. Dan benar mereka tidak mengenakan masker, karena mungkin mereka berada di dalam, seperti halnya di rumah. Namun, demi menjaga kesehatan alhamdulillah masker yang saya bawa tidak mubazir. Maskerpun saya berikan dan dipakai, sehingga kamipun berbincang-bincang cukup tenang karena sudah mengenakan masker. Kemudian saya bagikan materi yang akan didiskusikan hari ini, cukup singkat, jelas dan padat yaitu dua lembar hehehe. Agar mereka semangat, tak lupa seperti yang sering saya lakukan di tempat lain, kali ini saya juga melakukan jariyah buku. Saya memberikan dua buah buku karya saya, yang menurut saya cocok dibaca oleh peremuan atau ibu-ibu. Lumayan untuk menambah wawasan mereka. Semoga buku saya bermanfaat bagi mereka. Aamiin.

Beberapa kali saya melakukan kegiatan ini ada satu yang menurut saya harus ditekankan, yaitu memotivasi mereka para penghuni lapas. Secara mental, tentunya mereka saat ini membutuhkan dorongan untuk bangkit. Kasus yang menimpa mereka, saya yakin menyebabkan mereka depresi, stress, ataupun sedih yang amat dalam. Bahkan, dulu… saat saya ke lapas, ada salah satu dari mereka yang cerita bagaimana dia sampai masuk ke lapas, kemudian setelah itu diceraikan suaminya, anaknya dua di bawa suaminya. Dia sempat mencoba bunuh diri dengan meminum racun serangga. Tentunya banyak sekali kisah-kisah dari mereka.

Apapun itu kasusnya, saat ini mereka membutuhkan motivasi untuk tidak putus asa dan selalu bersemangat menyongsong kehidupan di masa depan yang lebih baik. Hari ini saya menyampaikan materi yang tak jauh dari upaya untuk memberi semangat kepada mereka. Saya menyampaikan materi tentang refleksi diri. Marilah kita semua merefleksi diri masing-masing. Memulai dari nol bukanlah suatu kekalahan, tetapi itu adalah kekukatan bagi kita untuk bangkit.

Hidup bagai roda berputar, kadang posisi kita di atas kadang juga di bawah. Seringkali saat kita telah berada di atas, kita tak menyadari suatu saat kita bisa berada di bawah. Sehingga saat kita benar-benar berada di bawah kita tak sanggup menghadapi kenyataan tersebut. Banyak kejadian yang seharusnya tidak perlu terjadi, misalnya saat kondisi kita terpuruk, seseorang mengambil jalan pintas, misalnya bunuh diri sebagai jalan penyelesaiannya. Memang sekilas dengan bunuh diri permasalahan sudah teratasi, tetapi kenyataannya tidak seperti itu. Banyak yang harus dipertanggungjawabkan baik di dunia maupun di akhirat. Allahpun melaknat perbuatan bunuh diri maupun putus asa. Firman Allah QS. An Nisa’ 29-30 menyebutkan:

“Dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. Dan barang siapa berbuat demikian dengan melanggar hak dan aniaya, maka Kami kelak akan memasukkannya ke dalam neraka. Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.”

Seringkali kebahagiaan dan kesedihan, keberhasilan dan kegagalan silih berganti menyapa. Di saat kebahagiaan dan keberhasilan menyapa, seringkali kita larut dalam kebahagiaan itu, hingga kita lupa bersyukur, akhirnya kesombongan dan keangkuhanlah yang muncul. Semoga kita dijauhkan dari yang seperti itu...Aamiin.

Belajar dan teruslah belajar menyusuri setiap perjalanan yang telah kita lalui serta selalu berusahalah memperbaiki jalan buruk yang pernah kita lalui dan selalu meningkatkan jalan baik yang pernah kita lakukan. Berdoa dan teruslah berdoa, berikhtiar dan teruslah berikhtiar, memohon ampun serta tak lupa selalu bersyukur, itulah yang harus kita lakukan dalam menghadapi semuanya, baik di saat senang maupun susah. Ingat, Allah menganugerahi kita sebuah akal yang tidak dimiliki oleh makhluk lain. Allah menganugerahi akal dengan maksud untuk berpikir bukan untuk menyerah. Dengan akal berarti Allah juga menganugerahi kecerdasan kepada kita. Salah satu kecerdasan yang diberikan kepada kita adalah "Advertisy Quotient", atau kecerdasan menghadapi masa-masa sulit. AQ adalah kecerdasan yang dimiliki seseorang untuk mengatasi kesulitan dan sanggup untuk bertahan hidup, dalam hal ini tidak mudah menyerah dalam menghadapi setiap kesulitan hidup. Orang yang tahan menghadapi kesulitan tidak akan menghindari, tapi akan mengahadapinya tanpa pantang menyerah pada rasa tidak berdaya dan putus asa.

Setiap kesulitan pasti ada kemudahan, dan Allah tidak akan menguji makhluknya di luar kemampuan makhluknya, oleh karena itu jika kita telah merasa jatuh, maka lebih baik kita memulai dari nol dan bangkit kembali daripada kita berputus asa. Memulai dari nol bukan berarti kita kalah, tetapi disitulah menunjukkan kekuatan selalu ada pada diri kita. Ingat, ketika Allah memberikan tanggung jawab yang besar kepada kita, disitulah Dia juga memperlengkapkan kekuatan yang besar kepada kita. Mintalah pertolongan dalam menghadapi kesulitan dengan bersabar dan melaksanakan shalat, seperti dalam firman Allah QS. Al-Baqarah: 45 berikut.

“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’”.

Semoga kita semua selalu dalam lindungan Allah SWT. Amiin Ya Rabbal Alamin.

Begitulan saya menyampaikan sedikit ajakan untuk selalu bersemangat dan tidak berputus asa. Satu jam telah berlalu, dan acarapun saya akhiri. Tak lupa saya menyampaikan terimakasih kepada mereka yang telah meluangkan waktu untuk berdiskusi dan saya sekali lagi berpesan agar mereka tetap semangat menatap masa depan, meninggalkan yang tidak baik dan memupuk yang baik. Di sesi akhir yang tak boleh terlewatkan adalah sesi foto bersama. Alhamdulillah acara berjalan lancar. Acara diakhiri dengan do’a bersama dan saya pun pamit.

komunikasi pembelajaran

Oleh: Eni Setyowati

Komunikasi sebagaimana yang telah kita ketahui bersama merupakan sebuah alat/sarana bagi manusia yang berkedudukan sebagai makhluk sosial. Sebagai makhluk sosial, manusia membutuhkan orang lain. Proses ini dinamakan sebagai interaksi. Di dalam berinteraksi, tentunya selalu terjadi komunikasi. Demikian juga yang terjadi di dalam proses pembelajaran. Di dalam proses pembelajaran selalu terjadi interaksi antara pendidik dan peserta didik. Agar proses pembelajaran dapat berjalan lancar dan efektif, maka diperlukan komunikasi yang baik.

Komunikasi tidak hanya sebatas bertukar informasi semata, tetapi komunikasi memiliki banyak fungsi, salah satunya adalah sebagai fungsi pendidikan. Di dalam pendidikan, komunikasi berperan sebagai sarana pengalihan ilmu pengetahuan, sehingga mendorong terjadinya perkembangan intelektual serta pembentukan watak dan keterampilan. Komunikasi sebagai sarana pengalihan ilmu pengetahuan dapat terjadi antara pendidik dengan peserta didik, serta antar peserta didik itu sendiri.

Terdapat tiga format komunikasi di dalam proses pembelajaran, antara lain format komunikasi intrapersonal,  format komunikasi interpersonal, dan format komunikasi kelompok kecil. Pertama, format komunikasi intrapersonal. Komunikasi intrapersonal dapat kita sebut sebagai komunikasi dengan diri sendiri. Tentu banyak yang bertanya, “Bagaimana komunikasi dengan diri sendiri?” Di dalam komunikasi ini, seseorang akan berperan sebagai pengirim sekaligus penerima pesan. Ia akan berbicara kepada dirinya sendiri, berdialog, bertanya serta menjawab pertanyaannya sendiri. Apa saja bentuk dari komunikasi intrapersonal ini? Di dalam komunikasi intrapersonal, kita mengalami yang namanya persepsi, ideasi, dan transmisi. Persepsi merupakan penginderaan terhadap suatu kesan yang timbul dalam diri manusia terhadap apa yang dihadapinya. Biasanya persepsi ini diawali dengan sensasi yang dipengaruhi dari pengalaman, kebiasaan, maupun kebutuhan. Contoh, saat kita menghadiri suatu acara yang sangat megah, yang mana kita tak pernah membayangkannya, maka akan timbul sensasi di dalam diri kita yang diekspresikan dengan “melongo”, ataupun berkomentar, “wah..acaranya megah sekali”. Nah contoh ini adalah bentuk komunikasi intrapersonal, dimana kita mengalami persepsi. Selanjutnya ideasi. Ideasi biasanya ditandai dengan proses mengkonsepsi terhadap apa yang dipersepsi. Pada ideasi ini kita akan melakukan seleksi terhadap semua informasi, pengetahuan ataupun pengalaman. Terakhir kita akan mengalami transmisi. Transmisi ini merupakan sebuah penalaran. Di dalam proses transmisi ini, hasil dari komunikasi itu akan menghasilkan suatu pernyataan yang meyakinkan, sistematis dan logis.

Selain kita mengalami persepsi, ideasi dan transmisi, tentunya dipengaruhi juga oleh memori dan penalaran. Memori memegang penting di dalam komunikasi. Bayangkan jika kita tidak mempunyai memori, tentunya kita tidak dapat menyimpan apapun yang kita hadapi. Melalui memori ini kita melakukan perekaman, penyimpanan dan pemanggilan. Perekaman merupakan pencatatan informasi. Penyimpanan merupakan seberapa lama informasi itu ada bersama kita. Memoripun ada memori jangka pendek dan jangka panjang. Sedangkan pemanggilan merupakan pengingat kembali terhadap informasi yang telah kita simpan. Selanjutnya penalaran. Penalaran disebut juga sebagai proses berpikir. Daya nalar seseorang tentunya akan membedakannya dengan orang lain. Menalar berarti proses jalannya pikiran menuju suatu kesimpulan. Misalnya, jika kita melihat sampah ada di dekat kita, kita akan mengambil dan membungnya ke tempat sampah. Pad proses itu, penalaran kita bekarja. Di dalam pembelajaran, proses bernalar ini sangat diperlukan, khususnya dalam memahami materi pembelajaran.

Kedua, format komunikasi interpersonal. Komunikasi interpersonal merupakan komunikasi antara individu dengan individu lain. Di dalam komunikasi interpersonal ini kita akan mengalami afeksi, inklusif dan kontrol. Afeksi merupakan keinginan untuk mendapatkan perhatian atau kasih sayang. Inklusif merupakan keinginan untuk menjadi bagian dari kelompok tertentu. Kontrol merupakan keinginan untuk memengaruhi orang atau peristiwa tertentu. Kita membutuhkan komunikasi interpersonal, karena adanya kebutuhan kita akan rasa aman, rasa memiliki, mendapatkan harga diri maupun untuk aktualisasi diri. Di dalam pembelajaran, komunikasi ini dapat terjadi antara pendidik dengan peserta didik, maupun peserta didik dengan peserta didik. Agar komunikasi interpersonal dapat berjalan lancar, maka komunikasi itu harus efektif.

Ketiga, format komunikasi kelompok kecil. Sebagai, makhluk sosial, tentunya kita akan membentuk hubungan atau mengelompok, baik dalam kelompok kecil maupun besar. Di dalam pembelajaran, yang dinamakan kelompok adalah kelompok belajar misalnya 4-8 orang, kelompok kelas, atau yang lainnya. Di antara anggota kelompok itu tentunya akan terjadi interaksi. Melalui komunikasi, akan terjadi proses memengaruhi satu sama lain, mendapatkan keputusan bersama, menentukan tujuan bersama, mengambil peranan ataupun kegiatan lainnya. Apalagi di jaman sekarang ini, pembelajaran dilakukan secara stundent centered, maka pembelajaran kolaborasi dan kooperatif merupakan salah satu model pembelajaran yang dipilih. Diharapkan dengan pembelajaran kolaborasi dan kooperatif akan menemukan banyak ide dan gagasan serta solusi yang ditawarkan. Hasil penelitian Bastrom pada tahun 1970 menyebutkan bahwa jika jumlah anggota kelompok ada 2, maka jumlah kemungkinan terjadinya interaksi sebanyak 2. Jika jumlah anggota kelompok 2, jumlah kemungkinan terjadinya interaksi sebanyak 9. Jika jumlah anggota kelompok 3, jumlah kemungkinan terjadinya interaksi sebanyak 28. Jika jumlah kelompoknya 5, jumlah  kemungkinan terjadinya komunikasi sebanyak 75. Jika jumlah anggota kelompok 6, jumlah kemungkinan terjadinya interaksi sebanyak 186. Jika jumlah anggota kelompok 7, jumlah kemungkinan terjadinya interaksi sebanyak 441. Jika jumlah anggota kelompok 8, jumlah kemungkinan terjadinya interaksi sebanyak 1056. Berdasarkan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa proses terjadinya interaksi melonjak tajam seiring dengan kenaikan jumlah anggota kelompok. Namun demikian, bukan berarti bahwa semakin banyak jumlah anggota kelompok, maka interaksi akan semakin efektif. Dalam hal ini, pendidik harus dapat mengadopsi sesuatu yang baik agar tujuan pembelajaran tercapai.

Hal-hal yang perlu diperhatikan agar komunikasi di dalam kelompok dapat efektif adalah: (1) hanya materi yang sulit yang perlu adanya pembelajaran kelompok. Selain itu pendidik juga harus memperhatikan level pengetahuan yang menjadi tagihan di dalam indikator. (2) Pendidik harus merancang bentuk interaksi dalam kelompok secara jelas dan tegas. (3) Pendidik harus memastikan bahwa pola interaksi dan komunikasi adalah tindakan berkolaborasi dan bukan “mengajari” antara siswa yang pintar dan kurang pinta, dan (4) Di dalam kelompok tidak melakukan kegiatan meringkas materi.

Nah, berdasarakan uraian di atas, maka kita sebagai pendidik harus benar-benar mempunyai kreativitas dalam menentukan pola interaksi yang ada, agar tujuan pembelajaran dapat tercapai. Sebagai pendidik, jangan segan-segan belajar dan terus belajar. Jaman milenial ini tidak ada kata “pendidik lebih pintar dari peserta didik”, bahkan bisa terjadi sebaliknya. Ilmu pengetahuan yang dapat diakses dengan mudah akan menjadikan dunia menjadi berubah. Siapa yang mau mencari ilmu pengetahuan, maka ia yang akan mampu beradaptasi dengan perubahan jaman. Selamat berkreasi dan terus belajar!!!!

 

bahasa

Oleh: Eni Setyowati

Pasti kita telah mengetahui bahwa bahasa adalah faktor penting di dalam komunikasi. Coba kita bayangkan apabila kita tidak mempunyai bahasa tentunya akan kacau dunia ini. Namun beberapa teori menyebutkan bahwa bahasa nonverbal diduga lebih awal lahir daripada bahasa verbal. Yang termasuk bahasa nonverbal adalah isyarat, postur, gerak tubuh, gambar, patung dan lain-lain. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya ditemukan gambar-gambar pada tulang, tanduk, cadas dan dinding gua di Spanyol dan Perancis Selatan sekitar 90.000 sampai 40.000 tahun yag lalu. Kemudian sekitar 35.000 tahun yang lalu Cro Magnon mulai  menggunakan bahasa lisan (bahasa verbal). Dan sekitar 10.000 tahun yang lalu mulai mengalami kemajuan meskipun belum bisa menulis, barulah sekitar 5000 tahun yang lalu, era tulisan dimulai dari bahasa lisan yang terus berkembang.

Bahasa sendiri diartikan sebagai sebuah sistem lambang bunyi yang digunakan oleh manusia sebagai alat komunikasi atau alat interaksi sossial. Sebagai suatu sistem, maka bahasa mempunyai struktur dan kaidah tertentu yang harus ditaati. Seiring dengan kemajuan kehidupan manusia, kini sudah ada sekitar 10.000 bahasa dan dialek di seluruh dunia. Seringkali kita tidak menyadari bahwa bahasa mempunyai fungsi yang sangat penting bagi manusia. Menurut Larry L. Barker, bahasa mempunyai tiga fungsi, yaitu fungsi penamaan, fungsi interaksi dan fungsi transmisi informasi. Sebagai fungsi penamaan, bahasa dapat mengidentifikasi  obyek, tindakan atau orang, sehingga dapat berkomunikasi. Sebagai fungsi interaksi, bahasa dapat menekankan berbagai gagasan dan emosi yang dapat mengundang simpati, pengertian atau bahkan kemarahan. Sedangkan sebagai fungsi transmisi informasi, bahasa dapat menghubungkan masa lalu, masa kini maupun masa depan.

Selain itu, bahasa juga dapat sebagai alat untuk mengenal dunia sekitar, alat untuk memahami lingkungan, alat untuk mengembangkan pengetahuan, serta sebagai alat perekat dalam hidup bermasyarakat. Dan yang paling utama, bahasa juga sebagai alat untuk mengembangkan kemampuan berpikir logis. Bagaimana bahasa bisa mengembangkan kemampuan berpikir logis? Yaitu, bahasa dapat membantu menyusun struktur pengetahuan menjadi logis dan mudah diterima oleh orang lain. Coba kita bayangkan, betapa cemerlangpun suatu ide, jika tidak disusun dalam suatu kata atau kalimat yang teratur, sistematis dan logis, pastinya ide itu akan hancur.

Bahasa sebagai alat untuk mengembangkan kemampuan berpikir logis, maka kita harus memahami apa itu logika. Logika adalah ilmu berpikir yang tepat, sehingga seringkali disebut logika sebagai teknik berpikir. Sedangkan bahasa merupakan alat dari logika. Disamping alat logika, bahasa juga sebagai alat berpikir ilmiah. Tanpa mempunyai kemampuan berbahasa, seseorang tidak dapat melakukan kegiatan berpikir secara sistematis dan teratur dalam menggapai ilmu pengetahuan.

Seperti telah dijelaskan di atas, bahwa bahasa nonverbal lahir terlebih dahulu dibandingkan bahasa verbal. Hingga kini, aktivitas manusia dalam berkomunikasi yang paling mudah dikenali adalah komunikasi dengan bahasa verbal. Komunikasi dengan bahasa verbal yang ada meliputi komunikasi lisan maupun tulisan. Namun demikian, komunikasi dengan bahasa nonverbal juga sangat penting. Seringkali kita sulit membedakan atau memisahkan antara komunikasi dengan bahasa verbal dan nonverbal, karena keduanya terjadi secara bersamaan dan jalin-menjalin dalam komunikasi sehari-hari. Komunikasi dengan bahasa nonverbal berfungsi untuk meyakinkan apa yang diucapkannya, menunjukkan perasaan dan emosi yang tidak bisa disampaikan lewat kata-kata, menunjukkan jati diri, serta menambah dan melengkapi ucapan yang belum sempurna.

Di dalam komunikasi bahasa nonverbal seperti tingkah laku, bahasa tubuh (gerakan badan, tangan, kaki, mata, ekspresi wajah, sentuhan, sikap tubuh, waktu, warna dan aroma) sangat diperlukan. Oleh karena itu bahasa verbal dan nonverbal adalah modal untuk berkomunikasi, mereka saling menguatkan. Dengan menguasai bahasa verbal dan nonverbal dengan baik, maka komunikasi akan menjadi berkualitas. Apa yang harus dilakukan agar komunikasi dapat berkualitas? Ada beberapa hal yang perlu diketahui, antara lain (1) kita harus memahami bahwa kualitas bahasa adalah cerminan kualitas budaya, kalimat yang keluar dari mulut kita adalah menunjukkan kualitas kita. (2) Ingat kita sebagai komunikator. Oleh karena itu kita harus bisa mempertimbangkan untuk berbicara dengan porsi yang tepat, tujuan yang tepat, dan dengan cara yang tepat. (3) Kita harus menjadi pembicara yang efektif dan efisien. Efektif artinya tepat sasaran dan efisien artinya tepat waktu, dan (4) Kita harus membawa energi positif dalam pembicaraan.

Sedangkan komunikasi dengan bahasa nonverbal yang harus kita perhatikan adalah: (1) Isyarat tangan. Di dalam berkomunikasi kita tidak bisa hanya mengandalkan komunikasi verbal semata. Tangan dan jari bisa dijadikan sebagai penguat pesan. (2) Gerakan kepala. Sebaiknya saat kita berbicara dengan posisi kepala tegak (90 derajat) karena menandakan kita yang serius dan berhati-hati. (3) Cara berjalan. Cara berjalan juga menunjukkan emosi. (4) Kontak mata dan pandangan. Mempertahankan pandangan/kontak mata saat berbicara dengan mitra bicara adalah lambang penghormatan. (5) Ruang dan jarak. Kita harus mampu menciptakan jarak yang ideal dalam artian fisik dan psikis dengan lawan bicara. (6) Nada suara. Nada suara juga perlu diperhatikan dalam komunikasi. (7) Sentuhan. Sentuhan merupakan penguat dan stimulus yang bisa digunakan dalam komunikasi. (9) Ekspresi wajah. Ekspresi wajah adalah cerminan hati.

Pertanyaan lain pasti akan muncul. Bagaimana agar kita bisa menguasai komunikasi dengan bahasa verbal maupun nonverbal dengan baik? Tentunya jawabannya adalah dengan latihan dan berusaha. Tidak ada sesuatupun untuk kita dapat dengan baik tanpa adanya usaha. Bagaimana kita berusaha? Tentunya berusaha mencari referensi seperti buku-buku tentang komunikasi, buku motivator atau buku lain yang menunjang, lalu dibaca, dipelajari dan tentunya diterapkan. Jika memungkinkan, bisa mengikuti seminar, workshop ataupun kegiatan lain yang mendukung. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa kreativitas seseorang hanya 30% yang ditentukan oleh bakat, selebihnya 70% ditentukan oleh latihan. Maka jangan pernah mengatakan “saya tidak bisa, karena itu bukan bakat saya.” Melalui latihan yang terus menerus, tentunya akan menjadi sebuah kebiasaan.

Kebiasaan berkomunikasi yang baik akan memberikan banyak manfaat, antara lain: (1) komunikasi yang baik dengan orang lain akan membantu dalam karir dan pergaulan, (2) komunikasi yang baik akan menempatkan seseorang pada posisi yang dihormati dan dihargai, (3) komunikasi yang baik juga memberikan efek positif bagi kesehatan. Menurut psikiater, orang yang kurang komunikasi akan mudah terkena gangguan kejiwaan, seperti depresi dan kurang percaya diri, sehingga memiliki kecenderungan cepat mati dibandingkan dengan orang yang senang berkomunikasi dengan baik. Ini tentunya sejalan dengan pesan Rasulullah Muhammad SAW, yang menganjurkan umatnya untuk rajin bersilaturahmi yang di dalam kegiatan bersilaturahmi ada komunikasi.

Berdasarkan uraian di atas, menunjukkan bahwa di dalam komunikasi diperlukan kolaborasi bahasa verbal maupun nonverbal yang kuat. Ini berarti bahwa bahasa sebagai pengembang kemampuan untuk berpikir logis. Dengan berpikir logis, maka melalui komunikasi kita akan mampu menganalisis masalah dan mencari solusi terhadap berbagai masalah, kita akan mampu mendukung nilai-nilai dan karakter yang baik serta membina hubungan yang baik, serta akan membantu mencapai tujuan dan prestasi yang baik. Oleh karena itu, kita tidak ada alasan lagi untuk tidak menganggap pentingnya komunikasi, baik itu komunikasi dengan bahasa verbal maupun nonverbal.

 

kreatif 1

Oleh: Eni Setyowati

 “Suatu ide yang dikembangkan dan dijadikan tindakan, lebih penting daripada 

ide yang hadir hanya sebagai ide”

Edward de Bono

 

Tentunya setiap hari kita pasti telah menyelesaikan masalah, berinovasi, mendesain sesuatu, menulis, berpikir, serta membuat strategi. Nah, sebenarnya jika kita adalah orang yang bekerja menggunakan pikiran, maka kita bisa disebut seorang “kreatif”. Namun, seringkali kita tidak dipersiapkan menjadi kreatif. Mengapa demikian?, faktanya, mungkin kita bahkan takut ketika mendengar kata kreatif digunakan pada diri kita, karena kata kreatif seringkali disematkan pada seseorang yang sangat sibuk dan super. Padahal sebenarnya siapapun yang bertanggung jawab menyelesaikan masalah, membuat strategi maupun berpikir, maka mereka adalah orang yang kreatif, meskipun mereka menjadi kreatif dengan tak sengaja.

Nah, kali ini kita harus mengakui bahwa kita adalah orang yang “kreatif”. Kita harus percaya diri, meskipun kita menganggap kreatif yang ada pada diri kita karena kreatif yang tak disengaja. Baiklah, setelah kita mengakui bahwa diri kita adalah orang yang kreatif maka apa yang harus kita lakukan? Ingat, sebagai orang kreatif, kita akan selalu berada di posisi yang menuntut kita untuk menghasilkan ide-ide brilian dengan segera. Tentunya ini bukanlah hal yang mudah. Ingat, “jika kita ingin menyampaikan ide yang tepat pada waktu yang tepat, maka kita harus memulai prosesnya jauh sebelum kita membutuhkan ide tersebut.” Bagaimana caranya? Tentunya kita harus membiasakan diri berlatih agar bisa membantu memfokuskan energi kreatif kita. Latihan akan membuat kita tetap konsisten dan produktif dalam jangka waktu yang lama, tanpa mengalami kelelahan.

Ide-ide yang dapat membantu kita menjadi orang kreatif antara lain: Paertama, Ingat, “Hal yang penting bukanlah apa yang kita ketahui, tetapi apa yang kita lakukan”. Kita   akan dapat mengeluarkan kreativitas terpendam kita melalui prinsip latihan teratur dan terfokus.   Jika kita fokus dan tekun, tentunya akan mendapatkan hasil yang sepadan. Kedua, Ingat, “Kita harus mampu mengendalikan petumbuhan kita sendiri”. Apapun situasinya, kita   adalah pengendali satu-satunya dari perkembangan kreatif kita sendiri. Ini bukan tanggung jawab   orang lain. Namun, seringkali banyak orang menyia-nyiakan hidupnya dengan menyalahkan orang   lain untuk masalahnya sendiri. Oleh karena itu, kita harus mampu mengendalikan diri kita sendiri. Ketiga, Ingat, “Kreatif membutuhkan waktu”. Seperti halnya sesuatu yang berharga tentunya perlu waktu  dan dedikasi. Kitalah yang bisa mempengaruhi komitmen dari waktu ke waktu, jika ada kendala dari luar. Latihanlah yang bisa menjaga kita. Kita harus siap meningkatkan kinerja, bukan menjadi produktif hanya untuk waktu yang singkat. Keempat, Ingat, “Kreatif adalah sesuatu yang lebih dari sekedar pekerjaan kita”. Saat ini seringkali kita   semakin sulit mengkotak-kotak hidup kita antara “pekerjaan”, “rumah”, “relasi”, “hobi” dan   lainnya. Setiap hidup kita akan saling mempengaruhi, kurangnya komitmen di satu bidang akan   mempengaruhi bidang yang lain. Dan Kelima, Ingat, “Kreatif membutuhkan fokus, relasi, energi, stimulant dan waktu”. Fokus adalah perjuangan yang besar. Seringkali ada begitu banyak pekerjaan yang tidak efektif karena kurang jelas sebenarnya apa yang mau kita lakukan. Salah satu sumber paling hebat dari inspirasi adalah orang lain. Oleh karena itu, relasi harus dapat kita kelola agar apa yang kita lakukan bisa maju. Energi merupakan motor penggerak bagi kita untuk menjadi kreatif. Agar kita menjadi yang terbaik, maka kita harus berlatih memanajemen energi. Stimulus atau rangsangan seringkali kita butuhkan untuk menjaga komitmen kita dalam berkreativitas. Waktu harus dikelola dengan baik, karena waktu adalah mata uang produktivitas, dan bagaimana kita mengelolanya akan menentukan kesuksesan atau kegagalan.

Ide-ide di atas tentunya menjadi catatan bagi kita agar kita menjadi manusia kreatif, apapun bidang kita. Berkreasi adalah melihat semua kemungkinan. Sedangkan proses kreatif adalah pencarian tanpa henti terhadap kemungkinan. Namun, di sisi lain kita banyak keterbatasan. Seringkali kita mengalami tarik ulur antara kemungkinan dan realitas. Oleh karena itu kita tidak bisa menunggu inspirasi, namun kita harus mengejarnya. Ayo kita bangkit, selalu semangat, Ingat….sesungguhnya kita semua adalah orang yang kreatif. Gunakan waktu sebaik mungkin. Waktu yang hilang tidak akan pernah ditemukan lagi. Menyia-nyiakan waktu berarti kita telah menyia-nyiakan diri kita sendiri.

 

Al Qurán

Oleh: Eni Setyowati

 Al-Qur’an adalah petunjuk suci bagi umat Islam dalam berbagai aspek kehidupan, baik di dunia maupun di akhirat. Di dalam Al-Qur’an berisi sunatullah, yaitu hukum tentang alam, tentang semua makhlukNya. Sunatullah di dalam Al-Qur’an mempunyai cakupan yang sangat luas, sementara manusia sangat terbatas. Di dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, terdapat dua pendekatan hubungannya dengan sunatullah di dalam Al-Qur’an. Pendekatan pertama adalah pendekatan ke hulu, dan pendekatan kedua adalah pendekatan ke hilir.

Pertama, pendekatan ke hulu diartikan dengan mencari ayat Al-Qur’an yang mendukung, membenarkan dan mengkonfirmasikan temuan iptek tersebut. Jika ayat tersebut mengandung makna yang jelas dan langsung, maka temuan iptek itu dapat dicari relevansinya dengan ayat di dalam Al-Qur’an. Sehingga dapat dikatakan terdapat korespondensi satu-satu antara temuan iptek dengan ayat di dalam Al-Qur’an. Selain itu jika di alam ayat Al-Qur’an menerangkan tentang fenomena, maka fenomena tersebut dapat dianalisis dengan berbagai displin iptek yang berlainan. Pendekatan hulu ini merupakan petualangan pemikiran manusia untuk mendapatkan jalan pemikiran logis yang menghubungkan iptek dan ayat Al-Qur’an.

Kedua, Pendekatan ke hilir dilakukan dengan menyusuri satu atau beberapa iptek yang kemudian diharapkan bermuara menuju satu atau beberapa temuan iptek. Penyusuran ini dilakukan melalui penelitian dan pengembangan. Dalam hal ini, ayat di dalam Al-Qur’an yang mengandung banyak makna dapat menjadikan inspirasi untuk berbagai topik penelitian. Pendekatan ke hilir ini membutuhkan pengamatan, pengukuran, perhitungan, perlengkapan, biaya maupun kerja keras serta ketekunan.

Berdasarkan penjelasan di atas, maka ayat Al-Qur’an dapat memberi inspirasi bagi peneliti untuk merumuskan penelitian dan pengembangan. Al-Qur’an harus dikupas untuk memecahkan kode dalam menangkap isyarat iptek. Sebagai contoh salah satu teknologi yang diilhami dari sunatullah adalah teknologi yang diilhami dari Riwayat HR Bukhari Mulsim, “Mulailah berpuasa setelah merukyat hilal dan beridul fiitri-lah setelah merukyatnya; jika langit tertutup awan lakukanlah pengkadaran.” Berdasarkan hadits tersebut, maka ditemukanlah teleskop rukyat. Sistem ini menggunakan teknologi mutakhir yaitu terdapat filter substrasi, pengolahan citra, perekaman video, komputer serta telekomunikasi. Dengan penemuan teleskop ini, maka pelaksanaan rukyatul hilal dapat menjadi lebih mudah dan dapat dipancarkan secara luas di media telekomunikasi baik TV maupun media yang lain.

Oleh karena itu tak salahlah jika kita menyebut bahwa Al-Qur’an adalah lautan ilmu Allah SWT. Ayat-ayatnya dapat diibaratkan mata air dan sumber yang mengalirkan sungai-sungai ilmu pengetahuan dan teknologi guna mencapai temuan-temuannya. Tidak diragukan lagi bahwa Al-Qur’an adalah peletak dasar kemajuan iptek. Oleh karena itu, manusia dituntut memiliki kesadaran spiritual dan moral sehingga ia tak akan tercerabut dari eksistensinya sebagai makhluk Allah yang beriman dan bertakwa.