PENDEKATAN, METODE, STRATEGI, DAN TEKNIK DALAM PEMBELAJARAN

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Kemahiran berbicara (maharatul kalam) merupakan salah satu kemahiran berbahasa yang aktif-produktif, kemampuan berbicara menuntut penguasaan terhadap beberapa aspek dan kaidah penggunaan bahasa (Djiwandono, 1996). Secara umum, proses pembelajaran maharah kalam tidak jauh berbeda dengan pembelajaran kemahiran berbahasa lainnya yang bersifat gradual. Namun masing- masing dari maharah memiliki ciri dalam proses pembelajarannya.
Oleh karena itu dalam makalah ini akan dibahas secara umum tentang Pendekatan, Metode, Strategi, dan Teknik Pembelajaran Maharah Kalam yang diharapkan mampu memberikan kemudahan dan pemahaman bagi para pendidik maupun peserta didik dalam proses pembelajaran Maharatul Kalam.
B. RUMUSAN MASALAH
a. Apa yang dimaksud dengan Pendekatan dalam Pembelajaran Maharatul Kalam serta pembagiannya ?
b. Apa yang dimaksud dengan Metode dalam Pembelajaran Maharatul Kalam serta pembagiannya ?
c. Apa yang dimaksud dengan Strategi dalam Pembelajaran Maharatul Kalam serta pembagiannya ?
d. Apa yang dimaksud dengan Teknik dalam Pembelajaran Maharatul Kalam serta pembagiannya ?
C. TUJUAN PENULISAN
a. Mendeskripsikan tentang Pendekatan dalam Pembelajaran Maharatul Kalam serta pembagiannya
b. Mendeskripsikan tentang Metode dalam Pembelajaran Maharatul Kalam serta pembagiannya
c. Mendeskripsikan tentang Strategi dalam Pembelajaran Maharatul Kalam serta pembagiannya
d. Mendeskripsikan tentang Teknik dalam Pembelajaran Maharatul Kalam serta pembagiannya
BAB II
PEMBAHASAN

A. PENDEKATAN PEMBELAJARAN MAHARATUL KALAM
1. Pengertian Pendekatan (Madkhal/ approach)
Pendekatan adalah seperangkat asumsi berkenaan dengan hakikat bahasa dan belajar mengajar bahasa bersifat aksiomatis.
2. Macam- Macam Pendekatan
Berikut adalah paparan tentang macam-macam pendekatan, diantaranya adalah :
a. Pendekatan Humanistik (Humanistic Approach)
Pendekatan ini memberi tempat yang utama pada peserta didik karena mereka adalah subjek utama dalam kegiatan pendidikan. Pendekatan ini berasumsi bahwa peserta didik memiliki potensi, kekuatan, dan kemampuan untuk berkembang serta memiliki kebutuhan emosional, spiritual, dan intelektual yang harus diperhatikan. Penyampaian materi tidak dijadikan sebagai suatu yang menekan, membebani, melainkan bagaimana penguasaan bahasa menjadi kebutuhan peserta didik sebagaimana kebutuhan lainnya.
Langkah pertama untuk merealisasikan tujuan hal itu adalah memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk bercakap tentang diri dan perasaannya serta bergantian mengungkapkan berbagai hal mengenai diri mereka. Proses ini bisa memenuhi kebutuhan pembelajar untuk aktualisasi diri.
b. Pendekatan Teknik (Media-Based Approach)
Pendekatan yang didasarkan pada pemanfaatan media pembelajaran dan teknik-teknik pendidikan. Pendekatan ini berpendapat bahwa media dan teknik pembelajaran sangat berperan dalam menyampaikan pengalaman belajar serta bisa mengubah pengalaman belajar menjadi pengalaman yang nyata (terindra).
Pendekatan ini bertujuan untuk memberikan cara untuk menjelaskan materi – materi dengan menggunakan gambar-gambar, peta, lukisan, menghadirkan contoh yang nyata, kartun dan lain sebagainya yang sekiranya dapat membantu memahamkan siswa tentang pesan-pesan kata bahasa asing.
c. Pendekatan Mendengar-Mengucapkan (Aural Oral Approach)
Pendekatan ini mengandaikan bahwa bahasa adalah apa yang didengar dan diucapkan, bukan simbol. Sedangkan tulisan hanyalah representasi dari ujaran. Dari asumsi ini dapat dikatakan bahwa bahasa adalah ujaran. Pembelajaran bahasa harus dimulai dengan mendengarkan bunyi-bunyi bahasa yang berbentuk kata dan kalimat. Jadi pendidik meminta peserta didiknya menirukan pelafalan kata/kalimat untuk dihafal, sebelum membaca dan menulis diajarkan.
Asumsi lain dari pendekatan ini bahwa bahasa adalah kebiasaan. Suatu prilaku akan menjadi kebiasaan apabila diulang berkali-kali. Oleh karena itu, pembelajaran bahasa Arab dengan pendekatan aural oral approach ini menuntut adanya kegiatan pembelajaran bahasa yang dilakukan dengan teknik pengulangan atau repetisi.
d. Pendekatan Komunikatif (Communicative approach)
Pendekatan yang menitikberatkan pengajaran bahasa secara konunikatif artinya pengajaran yang dilandasi oleh teori komunikatif atau fungsi bahasa. Tujuan pengajaran bahasa dalam pendekatan ini adalah untuk mengembangkan kemampuan komunikatif serta prosedur pengajaran ketrampilan berbahasa yang saling memiliki ketergantungan antara bahasa dan komunikasi.
Menurut Hymes, terdapat empat faktor yang menjadi pembangun dan menjadi ciri penanda kompetensi komunikatif ini, yaitu kegramatikalan (penguasaan tata bahasa secara baik), keberterimaan (saling dapat dipahami dan memahami), ketepatan (konteks dengan situasi yang berkembang), dan keterlaksanaan (praktik yang dilakukan secara terus-menerus). Tujuan pengajaran bahasa adalah untuk menolong pembelajar mencapai kemampuan komunikatif.
B. METODE PEMBELAJARAN MAHARATUL KALAM
1. Pengertian Metode (Thariqah/Method)
Metode adalah perencanaan secara menyeluruh yang terkait dengan penyajian bahan ajar bahasa secara sistematis dan bersifat prosedural digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan (Richards dan Rodgers, 1986).
2. Macam – Macam Metode
Berikut metode-metode yang telah berkembang dalam pembelajaran, yaitu
a. Metode Nahwu wa tarjamah
Dari yang telah kita ketahui bahwa dalam penerapan metode ini banyak menekankan pada penggunaan nahwu (tata bahasa) dan praktik penerjemahan dari bahasa dan ke dalam bahasa sasaran. Metode ini bahkan harus kita akui sebagai metode yang paling populer digunakan dalam pembelajaran bahasa baik di sekolah, pesantren maupun di perguruan tinggi.
b. Thariqah Mubassyaroh (Metode Langsung/Direct Method)
Metode ini lahir sebagai reaksi terhadap penggunaan metode nahwu wa tarjamah yang mengajarkan bahasa seperti bahasa yang mati. Metode ini memberikan banyak waktu untuk melatih keterampilan berbicara sebagai ganti dari keterampilan membaca , menulis, dan menterjemahkan.
Dalam prakteknya, metode ini selalu mengaitkan antara kata-kata yang diajarkan menggunakan model meniru dan menghapal dengan objek-objek yang ditunjuk oleh kata-kata tersebut, antara suatu kalimat dengan situasi yang diungkapkannya. Dengan demikian metode ini dinamakan metode langsung.
c. Thariqah Sam’iyah Syafawiyah (Audio Lingual Method)
Asumsi-asumsi yang digunakan oleh metode ini antara lain :
i. Essensi bahasa adalah berbicara. Sedangkan menulis merupakan bagian dari gambaran berbicara. Oleh karena itu perhatian dalam pengajaran bahasa asing hendaklah dicurahkan untuk tercapainya keterampilan berbicara, bukannya keterampilan membaca atau menulis.
ii. Proses pengajaran bahasa hendaklah mengikuti urutan – urutan tertentu, yaitu : mendengar, berbicara, membaca, dan menulis.
iii. Metode pemerolehan bahasa adalah dengan pembentukan kebiasaan-kebiasaan dalam bahasa, yaitu dengan jalan berlatih secara bertahap.
d. Metode Eklektik
Metode ini muncul sebagai respon atas munculnya ketiga metode di atas. Asumsi-asumsi metode ini adalah :
i. Tak ada satu metode pun yang sempurna, sebagaimana halnya tidak ada satu metode pun yang salah total. Tiap- tiap metode mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing-masing.
ii. Prinsip utama dalam pengajaran terpusat pada pembelajar dan kebutuhannya. Bukannya kepada metode tertentu tanpa memperhitungkan kebutuhan pembelajar. Seorang guru hendaklah merasa bebas dalam memilih metode yang akan digunakannya sesuai dengan kondisi siswa, dan dengan tidak menutup mata dari berbagai penemuan baru dalam metodologi pengajaran. Seorang guru mungkin dapat memilih satu metode atau beberapa metode yang sesuai dengan kebutuhan siswa dan situasi belajar-mengajar.

C. STRATEGI PEMBELAJARAN MAHARATUL KALAM
1. Pengertian Strategi
Strategi merupakan rencana yang cermat mengenai kegiatan untuk mencapai sasaran khusus. Sedangkan dalam konteks pembelajaran, strategi adalah kemampuan internal seseorang untuk berpikir, memecahkan masalah, dan mengambil keputusan. Artinya bahwa proses pembelajaran akan menyebabkan peserta didik berpikir untuk menganalisis, memecahkan masalah dalam mengambil keputusan. Peserta didik akan mempunyai kontrol yang tinggi yaitu analisis yang tajam, tepat dan akurat.
2. Strategi sebagai dasar pembelajaran khususnya Bahasa Arab meliputi empat komponen utama yaitu:
i. Mengefektikan tujuan pembelajaran
Keaktifan belajar siswa dalam bahasa menjadi kunci, baik aktif belajar maupun pengembangan materi kebahasaan. Strategi yang diambil harus senantiasa bermuara untuk menciptakan keaktifan, baik secara fisik maupun mental, akan tetapi aktif mental lebih diutamakan.
ii. Menentukan kembali pendekatan pembelajaran
Dalam belajar bahasa, seseorang diberi kebebasan untuk menggunakan strategi yang sesuai dengan situasi dan kondisi. Namun, yang perlu diperhatikan adalah strategi yang dapat menggugah semangat untuk mengembangkan ilmu yang telah diterima. Sehingga peserta didik setelah belajar merasa ilmu yang sedang dipelajari bermanfaat dan mempunyai keberanian untuk mengekspresikan ide atau gagasan kepada teman
iii. Menetapkan langkah-langkah yang ditempuh sejak awal sampai akhir.
Belajar bahasa Arab khususnya maharatul kalam harus mengikuti pola tadarruj (dari yang mudah sampai ke yang sulit).
iv. Menetapkan ukuran keberhasilan
Dalam strategi pembelajaran suatu kegiatan pembelajaran yang dikerjakan pendidik dan peserta didik dilakukan secara optimal agar pembelajaran dapat tercapai secara efektif dan efisien atau sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai sebelumnya.

D. TEKNIK PEMBELAJARAN MAHARATUL KALAM
1. Pengertian Teknik (Uslub/Technique)
Teknik adalah implementasi perencanaan pembelajaran di dalam kelas berupa berbagai macam cara dan kiat (trick) untuk menyajikan bahan ajar dalam rangka mencapai tujuan khusus pembelajaran.
2. Berikut beberapa teknik dam pembelajaran bahasa Arab ( Maharatul Kalam ) :
i. Prakomunikatif adalah pola aktivitas pembelajaran maharah al-kalam pada tingkatan prakomunikatif menuntut pengajar/guru lebih dapat menyediakan materi yang lebih bervariatif sehingga akan membawa siswa lebih merasa belajar. Dengan teknik-teknik yang pada tahapan prakomunikatif diharapkan siswa dapat memahami pembelajaran dasar maharah al-kalam.
Teknik yang dapat diterapkan dalam aktivitas latihan prakomunikatif secara bertahap adalah sebagai berikut:
a. Al-hifz ala al-hiwar (hafalan dialog)
Dalam teknik ini latihan meniru dan menghafalkan dialog-dialog mengenai berbagai macam situasi dan kesempatan. Melalui latihan ini diharapkan pelajar dapat mencapai kemahiran yang baik dalam percakapan dan latihan tersebut dilakukan secara terus-menerus.
b. Al-hiwar bil al-shuwar (dialog melalui gambar)
Melalui teknik ini diharapkan dapat memahami fakta melalui gramar yang diungkapkan secara lisan sesuai dengan tingkatan siswa, guru dalam hal ini membawa gambar-gambar dan menunjukkkan satu persatu kepada siswa dengan menggunakan metode tanya jawab sehingga terciptalah kondisi yang sesuai diinginkan maksud dari media gambar tersebut.
هذا كثاب ما هذا ؟
هذه كراسة ما هذه ؟
ذلك باب ما تلك ؟
تلك مجلة ما تلك ؟

c. Al-hiwar al-muwajjah (dialog terpimpin)
Pada teknik ini diupayakan siswa dapat melengkapi pembicaraan yang sesuai dengan situasi tertentu dengan keadaan yang dilatihkan. Pada prakteknya guru dapat memberikan contoh tanya jawab dalam bahasa Arab, misalnya tentang shalat tarawih. Dalam tanya jawab ini guru memberikan kalimat-kalimat untuk dapat direspon oleh siswa, misalnya:
انا اريد أن أذهب الى مسج الكرامة بمرتافورا معك اريد أن أدهب الى مسجد الكرامة بمرتافورا هدالليل لصلات التراويح, و أنت ؟
لا, لا أدهب الى هاك, بل أذهب الى المصلى قريب من المدرسة

d. Al-tamtsil al-suluki (dramatisasi tindakan)
Pada teknik ini diharapkan siswa dapat mengungkapkan suatu aktivitas secara lisan. Guru melakukan upaya tindakan tertentu seperti tersenyum, tertawa duduk, dan sebagainya, kemudian siswa dapat memberikan jawaban sesuai dengan tindakan guru tersebut.
أنت تتبسم ماذ أعمل ؟
أنت تضحك
أنت تجلس على الكرسي

e. Tathbiq al-namadzij
Pada teknik ini diharapkan siswa dapat mengungkapkan kalimat lengkap melalui pola-pola kalimat yang belum disempurnakan. Melalui praktik pola dengan menyempurnakan kalimat tertentu yang didahului soal-soal yang tidak lengkap, acak, atau penambahan yang sudah lengkap. Dalam prakteknya dapat melalui pola kalimat antara lain penambahan, penyisipan, substitusi, integrasi, menyusun, melengkapi dan lain-lain.

ii. Komunikatif adalah pola aktivitas dalam pembelajaran Maharatul Kalam yang lebih mengandalkan kreativitas para pelajar dalam melakukan latihan. Pada tahap ini keterlibatan guru secara langsung mulai dikurangi untuk memberi kesempatan kepada mereka mengembangkan kemampuan sendiri. Para pelajar pada tahap ini ditekankan untuk lebih banyak berbicara daripada guru. Sedangkan penyajian latihan diberikan secara bertahap dan dianjurkan agar materi latihan dipilih sesuai dengan kondisi kelas.
Teknik yang dapat diterapkan dalam aktivitas komunikatif secara bertahap adalah sebagai berikut:
a. Percakapan kelompok (al-hiwar al-jama’i)
Dalam satu kelas para pelajar dibagi ke dalam kelompok-kelompok sesuai kebutuhan. Setiap kelompok diberi judul cerita yang sederhana.
b. Bermain peran (al-tamtsil)
Pada aktivitas ini guru memberikan tugas peran tertentu yang harus dilakukan oleh para pelajar. Peran yang diberikan harus disesuaikan dengan tingkat penguasaan bahasa para pelajar.
c. Praktik ungkapan sosial (tathbiq al-tabirat al-ijtima’iyyah)
Ungkapan sosial maksudnya adalah priaku-prilaku sosial saat berkomunikasi yang diungkapkan secara lisan, misalnya memberi hormat, mengungkapkan rasa kagum, gembira, ucapan perpisahan, dan lain-lain.
d. Praktek lapangan (al-mumarasah fi al-mujtama’)
Praktik lapangan disini adaah bercakap-cakap dengan penutur asli bahasa Arab di luar kelas.

BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
1. Pendekatan adalah seperangkat asumsi berkenaan dengan hakikat bahasa dan belajar mengajar bahasa bersifat aksiomatis. Macam- Macam Pendekatan yaitu sebagai berikut :
a. Pendekatan Humanistik (Humanistic Approach)
b. Pendekatan Teknik (Media-Based Approach)
c. Pendekatan Mendengar-Mengucapkan (Aural Oral Approach)
d. Pendekatan Komunikatif (Communicative approach)
2. Metode adalah perencanaan secara menyeluruh yang terkait dengan penyajian bahan ajar bahasa secara sistematis dan bersifat prosedural digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan (Richards dan Rodgers, 1986). Macam – Macam Metode yakni :
a. Metode Nahwu wa tarjamah
b. Thariqah Mubassyaroh (Metode Langsung/Direct Method)
c. Thariqah Sam’iyah Syafawiyah (Audio Lingual Method)
d. Metode Eklektik
3. Strategi merupakan rencana yang cermat mengenai kegiatan untuk mencapai sasaran khusus. Sedangkan dalam konteks pembelajaran, strategi adalah kemampuan internal seseorang untuk berpikir, memecahkan masalah, dan mengambil keputusan. Strategi sebagai dasar pembelajaran khususnya Bahasa Arab meliputi empat komponen utama yaitu:
a. Mengefektikan tujuan pembelajaran
b. Menentukan kembali pendekatan pembelajaran
c. Menetapkan langkah-langkah yang ditempuh sejak awal sampai akhir
d. Menetapkan ukuran keberhasilan
4. Teknik adalah implementasi perencanaan pembelajarandalam rangka mencapai tujuan khusus pembelajaran. Berikut beberapa teknik dam pembelajaran bahasa Arab ( Maharatul Kalam ) : Prakomunikatif dan Komunikatif

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *