Monthly Archives: November 2013

Khutbah Jum’at

KHUTBAH JUM’AT:

Antara Pesan Sosial-Religius dan Pengantar Tidur

Oleh: Kutbuddin Aibak )*

Shalat berjamaah memang lebih baik dan lebih utama daripada shalat sendiri, karena shalat berjamaah selain mendapatkan keutamaan (pahala) yang berlipat-lipat sebagaimana digambarkan dalam hadits Rasulullah Saw.: shalat jama’a afdhal min shalat al-fardi bi sab’atin wa ‘isyrina darajah, shalat jamaah juga dapat mendatangkan sekian banyak efek dimensi sosial. Misalnya bahwa dalam shalat berjamaah tidak ada unsur perbedaan, antara kaya dengan miskin, pejabat dengan rakyat, kiai dengan orang awam dan seterusnya, karena pada waktu shalat semuanya di mata Allah sama, mereka menempati shaf (baris) yang sama. Walaupun demikian, kenyataannya di masyarakat masih sangat kurang kesadarannya atas shalat berjamaah ini. Bahkan sampai muncul sebuah asumsi, bahwa jangankan shalat berjamaah, shalat sendiri saja kadang-kadang, dan itu pun kalau ingat.

Kalau pada umumnya, shalat dengan berjamaah itu tidak wajib, maka terdapat satu macam shalat yang harus (wajib) dilaksanakan secara berjamaah, tidak boleh tidak. Shalat tersebut adalah ibadah shalat jum’at, terlepas adanya perbedaan pendapat dan prakteknya, yaitu adanya golongan yang memakai dua adzan dan ada yang hanya adzan satu kali. Termasuk dalam rangkaian shalat jum’at adalah khutbah, khutbah sebanyak dua kali. Khutbah ini dilakukan sebelum shalat jum’at didirikan, berbeda dengan shalat idul fitri maupun idul adha yang dilaksanakan setelah shalat ‘id. Ada sebuah fenomena yang perlu dicermati terkait dengan khutbah jum’at ini.

 Antara Pesan Sosial-Religius dan Pengantar Tidur

Semua umat Islam harus mengikuti khutbah jum’at, karena khutbah jum’at merupakan rukun shalat jum’at. Sehingga bagi seseorang yang tidak punya ‘udzur, maka tidak diperbolehkan meninggalkan khutbah ini. Walaupun pada kenyataannya seringkali masyarakat awam lebih senang berangkat shalat jum’at menjelang shalat itu mau dilaksanakan, sehingga pada saat khutbah kedua mereka baru datang.

Pada keadaan yang hampir sama juga dialami oleh jamaah shalat jum’at yang datang terlebih dahulu. Seringkali dan mungkin dapat dipastikan bahwa setiap jum’at dan setiap khutbah disampaikan terdapat orang-orang yang lebih enjoy ngomong (berbincang-bincang) dengan jamaah lainnya. Padahal ketika khutbah disampaikan para jamaah shalat jum’at dilarang untuk berbincang-bincang. Lebih ironis lagi, sebenarnya mereka juga sudah tahu dan mengerti kalau dilarang berbicara pada saat khutbah dibacakan, tetapi mereka tidak mau tahu dan tetap asyik berbincang-bincang. Seringkali juga mereka adalah orang-orang awam, walaupun juga tidak sedikit diantara mereka adalah orang-orang yang mengerti ajaran Islam (bukan awam). Kalau yang berbincang-bincang itu adalah anak kecil tentu tidak menjadi masalah, tetapi mereka adalah remaja, pemuda, dan bahkan orang dewasa. Selama khutbah dilaksanakan, mereka tetap saja ‘khutbah’ sendiri dengan teman-temannya. Bahkan andaikan khutbah itu tidak ada akhirnya, maka mungkin mereka juga berbincang-bincang, ngobrol terus menerus sampai shalat jum’at dilaksanakan. Pada akhirnya, bagi mereka keberadaan khutbah tidak pernah dihiraukan, ada khutbah atau tidak adalah sama saja.

Pornografi dan Pornoaksi: Virus Peradaban

PORNOGRAFI DAN PORNOAKSI SEBAGAI VIRUS PERADABAN

Oleh: Kutbuddin Aibak *)

 Perkembangan dan kebebasan media massa merupakan tolok ukur kemajuan dunia informasi. Kemajuan dunia informasi ini dapat kita saksikan di seluruh belahan dunia, termasuk di Indonesia, media cetak dan elektronik telah berkembang cukup pesat. Secara kuantitas media seperti koran, tabloid, televisi, VCD, dan internet sangat jauh meningkat. Namun peningkatan ini sayangnya tidak dibarengi dengan peningkatan kualitas. Bila dicermati isinya, banyak media yang tidak berbobot dan terkesan hanya memenuhi alasan selera pasar. Salah satu yang ditonjolkan adalah eksploitasi seksual. Kasus-kasus pornografi yang mencuat beberapa waktu lalu —dan sekarang juga masih terjadi— adalah bukti akan rendahnya kualitas kebanyakan media yang ada.

Terlepas dari perdebatan tentang definisi pornografi dan pornoaksi, bila media-media itu dicermati dari sudut pandang isi dan gambarnya, tidak ada asosiasi lain kecuali orientasi seksual. Gambar atau foto perempuan dengan pakaian minim (bahkan ada yang hanya ditutupi dengan daun pisang) serta narasi yang dituturkan secara vulgar jelas-jelas tidak dapat diasosiasikan lain selain seksual. Celakanya, media semacam ini secara bebas bisa diperoleh dengan mudah di kios-kios kecil pinggir jalan maupun di perempatan lampu lalu lintas. Siapa pun bisa mengakses tanpa melihat batas usia, tentu dengan harga yang sangat murah.

Lahan subur bagi berkembangnya pornografi dan pornoaksi yang sangat meresahkan adalah juga melalui VCD. Jutaan keeping VCD porno yang beredar di masyarakat, siap untuk ditonton oleh siapapun dan dimanapun. Dengan hanya bermodal beberapa lembar uang ribuan, orang yang tingkat ekonominya rendah sekalipun dapat menikmati tayangan yang sarat dengan unsur seksual vulgar tersebut. Tayangan TV pun tidak ketinggalan mulai berani turut ambil bagian dalam menayangkan eksploitasi seksual. Demikian juga dengan sejumlah video klip bagi dari lagu-lagu Barat maupun dalam negeri hampir dapat dikatakan sealu menonjolkan unsur seksual. Kasus Inul misalnya, semakin menambah panjang daftar pornografi dan pornoaksi. Iklan dan film pun tidak jauh berbeda. Bahkan perkembangan yang terakhir, pornografi dan pornoaksi sudah merambah pada telepon genggam (HP).

Pornografi dan pornoaksi yang tampil dalam dunia “abstrak” di tabloid, VCD, TV, internet, dan HP ternyata menemukan bentuk “kongkret”-nya di tengah masyarakat. Hadirnya sejumlah tempat hiburan yang membuka pintu lebar-lebar bagi eksploitasi seksual cukup untuk dikatakan “gayung bersambut”. Tempat-tempat semacam itu seakan menjadi media penyaluran yang pas dari apa yang telah mereka lihat di tabloid, TV, VCD, internet maupun HP. Adanya transaksi seks di sejumlah cafe dan diskotik bukan menjadi rahasia lagi. Kalau dulu, kehidupan seks bebas dilakukan untuk tujuan mencari uang, tetapi sekarang sudah merambah ke arah sekadar “just have a fun”.

Jika kehidupan masyarakat dibombardir secara terus menerus dengan suguhan atau menu yang tidak mengindahkan batas-batas nilai kesopanan dan kesusilaan, bukan tidak mungkin masyarakat akan sampai pada satu titik dimana pornografi dan pornoaksi tidak lagi dianggap sebagai suatu yang tabu dan asusila. Masyarakat akan menjadi terbiasa dan menganggap semua itu sebagai kewajaran. Diawali dengan terbiasa melihat dan membaca, lama kelamaan perilaku pun berubah. Perasaan malu sudah tidak ada lagi, dan berkembanglah sikap apatis. Akhirnya orang merasa bebas merdeka untuk melakukan apapun tanpa adanya kontrol masyarakat.

Inikah Islam (Kita)?

INIKAH ISLAM (KITA)?

Oleh  Kutbuddin Aibak )*

Sekitar satu tahun yang lalu, dunia Islam di negeri ini kembali ternodai oleh aksi-aksi beberapa pihak yang tidak mengindahkan kemajemukan atau keberagaman dalam beragama. Aksi ini mereka lancarkan pada saat seseorang akan dan sedang mendiskusikan pemikiran-pemikirannya dengan beberapa elemen masyarakat terpelajar Indonesia. Tak pelak, pada akhirnya diskusi yang sedang digelar pun bubar, dan rencana-rencana diskusi yang lain pun juga dibatalkan. Fenonema yang terkait dengan hal ini tidak lain adalah keberadaan Irshad Manji.

Irshad Manji merupakan seorang feminis teolog asal Kanada yang menulis buku “Beriman Tanpa Rasa Takut” dan “Allah, Liberty and Love yang ditolak oleh beberapa kelompok anti dialog dan pro kekerasan, baik di Jakarta, Solo maupun Yogyakarta. Di Yogyakarta (9 Mei), pada saat Irshad Manji diskusi dengan LKiS (Lembaga Kajian Islam dan Sosial) tiba-tiba dibubarkan oleh ormas Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), bahkan sampai melakukan pengrusakan. Demikian juga rencana diskusi yang akan digelar di UIN Sunan Kalijaga dan CRCS (Center for Religious and Cross-Cultural Studies) Universitas Gajah Mada juga dibatalkan.

Alasan utama atas penolakan tersebut karena aspek personal Irshad Manji sendiri, yaitu bahwa dia adalah seorang lesbi. Memang dia beragama Islam, akan tetapi karena sebagai lesbian maka pada akhirnya beberapa elemen masyarakat kita menolak kehadirannya. Seperti inikah Islam yang dianut oleh mayoritas penduduk Indonesia ini? Begitu kaku, rigit, dan tertutupkah pemahaman Islam mereka sehingga tidak menerima sekian banyak perbedaan yang ada? Pada umumnya, bukankah yang ditolak itu adalah pemikiran-pemikiran seseorang dengan berbagai praktek dan implikasinya? Akan tetapi, kenapa penolakan yang mereka lancarkan itu berdasar atas aspek personal-individual belaka? Dan seabrek pertanyaan-pertanyaan lainnya yang tidak akan terjawab oleh seseorang yang terpatri pada golongan yang eksklusif dan anti pluralisme.

Islam: Saya, Anda, Kita atau Siapa?

Pada hakikatnya, agama Islam memiliki ajaran-ajaran yang universal. Ajaran-ajarannya tidak hanya dikhususkan bagi umat Islam saja, akan tetapi lebih luas dari itu, Islam untuk alam semesta, Islam untuk seluruh umat manusia. Universalitas ajaran-ajaran Islam dapat ditelaah dari sekian banyak dan semua aspek kehidupan manusia; mulai dari aspek akidah, ibadah, akhlak, ekonomi, sosial, pendidikan, kebudayaan, dan sebagainya, termasuk hubungan antara manusia dengan manusia lainnya, dan dengan alam semesta.

Pada kenyataannya, sebagai sesuatu yang tidak bisa dielakkan dan dinafikan bahwa berdasar atas keyakinan dan pemahaman seseorang atas ajaran agama yang diyakininya, maka muncullah sekian banyak pemahaman dan seabrek perbedaan yang pada akhirnya keragaman dalam keberagamaan itu tidak hanya berwujud pada keyakinan secara individual, tetapi juga secara kolektif-massal, serta berwujud pada aspek praktisnya, mulai dari norma-norma, perilaku keseharian dan ritual peribadatan.

Bahkan, perbedaan-perbedaan itu pada akhirnya juga memunculkan sikap-sikap fanatis, sikap-sikap yang meyakini kebenaran atas apa yang ada pada dirinya sendiri dan kelompoknya, dengan mengesampingkan kebenaran orang lain dan kelompok lain. Lebih fatal lagi, mereka mengkafirkan kelompok atau golongan yang tidak sepaham dengan mereka. Sungguh sebuah fenomena yang amat sangat jauh dari nilai-nilai Islam itu sendiri.

Haji: Ibadah Personal dan Sosial

HAJI:
ANTARA IBADAH PERSONAL DAN SOSIAL
Oleh Kutbuddin Aibak )*

Haji merupakan rukun Islam yang kelima; ritual ibadah yang wajib dilakukan oleh setiap umat Islam yang sudah mampu. Maksud mampu dalam hal ini tidak hanya mampu dalam hal materi (biaya) semata, tetapi juga mampu dalam hal jasmani maupun rohani/psikis. Ibadah ini sedikit berbeda dengan ibadah-ibadah lainnya, ibadah yang membutuhkan totalitas diri, ibadah yang tidak bisa dilaksanakan kecuali hanya di ‘Rumah Allah’ (Baitullah).
Sebagai ibadah jasmaniah-maliyah-ruhiyah, haji tidak hanya membutuhkan adanya jasmani yang sehat, tetapi juga membutuhkan biaya yang tidak sedikit dan rohani yang sehat/matang pula. Memang syarat mampu dalam melaksanakan ibadah haji ini adalah mampu dalam hal biaya; artinya bagi siapa saja yang sudah mempunyai biaya yang cukup maka dia wajib melaksanakan ibadah haji, dan bahkan dalam pelaksanaannya tidak bisa ditunda lagi. Penundaan secara sengaja atas ibadah ini selain berdosa juga seringkali menyebabkan hal-hal negatif yang tidak diinginkan, dan kadang-kadang di luar keampuan manusia.
Akan tetapi, pada perkembangannya mampu dalam hal biaya masih terdapat unsur lain yang perlu dipertimbangkan lagi. Unsur lain yang perlu dipertimbangkan lagi tersebut misalnya kesehatan fisik, dan termasuk kesehatan jiwa (psikis). Artinya, kewajiban melakukan ibadah haji tersebut bisa ditunda apabila orang yang akan melakukan ibadah haji menderita sakit parah, sehingga harus menunggu kesembuhannya terlebih dahulu. Demikian juga ketika seseorang sudah berkewajiban melakukan ibadah haji, tetapi kondisi jiwa (psikis)nya kurang normal, maka boleh jadi penundaan atas ibadahnya merupakan langkah yang tidak perlu disalahkan. Walaupun pada kenyataannya, tidak sedikit dari calon jamaah haji yang nekat berangkat dengan kondisi fisik yang kurang memungkinkan. Hal demikian bisa saja terjadi ketika calon jamaah haji memiliki niat (kemauan) yang kuat dan yakin atas kekuasaan Allah SWT.
Lebih dari itu, sebenarnya ada sebuah fenomena yang perlu dipertimbangkan dan perlu mendapatkan perhatian, khususnya oleh orang-orang yang akan dan sudah melaksanakan ibadah haji. Fenomena tersebut adalah kemiskinan dan keterbelakangan. Hal ini menjadi sangat penting, karena pada kenyataannya orang-orang yang memiliki kepedulian sosial (sense of social) terhadap masyarakat miskin ini masih belum banyak. Kebanyakan masyarakat kita tidak mau tahu dengan kondisi lingkungan sekitarnya; bagaimana kondisi tetangga sekitar dan masyarakat sekitarnya. Apa yang dimaksud dalam uraian ini adalah bagaimana kita bisa mengedepankan dimensi-dimensi sosial yang pada kenyataannya kadang-kadang jauh lebih penting dibanding dengan ibadah mahdhah.
Sebagaimana dalam pelaksanaan ibadah haji, hal yang perlu dipertimbangkan dan mendapatkan perhatian adalah bagaimana perasaan (komitmen) kita terhadap masyarakat miskin, apakah ibadah haji memang kebutuhan yang sangat mendesak, apakah tidak lebih baik ketika kita lebih mementingkan masyarakat miskin di sekitar kita, karena banyak sekali masyarakat miskin yang membutuhkan uluran tangan kita. Artinya kita bisa saja menunda keberangkatan untuk melaksanakan ibadah haji, karena faktor sosial yang seringkali jauh lebih penting. Pertanyaan sederhana yang perlu dimunculkan adalah untuk apa kita melaksanakan ibadah haji sedang tetangga kita dalam keadaan kesusahan dan kelaparan, masyarakat sekitar kita sedang kesulitan ekonomi dan lain sebagainya. Apakah tidak lebih baik menunda ibadah haji karena alasan sosial yang jauh lebih penting. Dan sederetan pertanyaan atau pertimbangan lainnya yang perlu dikedepankan. Karena ibadah haji adalah ibadah individual (personal), sedangkan membantu masyarakat miskin adalah ibadah sosial.
Lebih parah lagi jika orang yang melaksanakan ibadah haji adalah orang yang sudah pernah melakukan ibadah haji. Artinya ada seseorang yang melaksanakan ibadah haji lebih dari satu kali. Dalam pandangan kita, mungkin ibadah haji yang dilakukan oleh orang yang seperti ini —yang lebih dari satu— adalah ibadah haji yang ‘sia-sia’. Alasannya sederhana saja, karena mengapa atau untuk apa melakukan ibadah haji lebih dari satu kali, padahal di saat yang sama seseorang itu masih belum bisa memperbaiki akhlak-moralnya, masih sering melakukan hal-hal yang tidak semestinya dilakukan oleh seseorang yang telah melakukan ibadah haji. Lebih dari itu, dan mungkin ini yang lebih penting, bahwa banyak orang-orang miskin di sekitarnya yang membutuhkan ‘bunga-bunga sosial’ mereka. Jangankan ibadah haji yang kedua, ketiga dan seterusnya, ibadah haji pertama yang kemudian dibatalkan karena alasan sosial-kemasyarakatan mungkin akan dipandang oleh Allah sebagai ibadah yang lebih baik dan memiliki atau mendapatkan pahala yang sama dengan orang yang telah melakukan ibadah haji. Dan bahkan mungkin dia akan dicatat oleh Allah sebagai orang yang benar-benar melakukan ibadah haji. Bukankah hal ini merupakan sesuatu hal yang mungkin saja terjadi di ‘mata’ Allah. Dalam hal ini, lain dan tidak adalah bagaimana sebenarnya kita dapat lebih mengedepankan dimensi-dimensi (kepentingan) sosial (sense of social) di atas kepentingan dan ambisi pribadi (individual). Semoga para jama’ah haji tahun ini benar-benar menjadi haji mabrur dan masyarakat sekitar dapat merasakan serta menikmati kemabrurannya, Amin. Labbaik Allahumma Labbaik. Wa Allahu A’lam

Problema Nikah Sirri

PROBLEMA NIKAH SIRRI

Oleh: Kutbuddin Aibak *)

 Pendahuluan

Beberapa tahun lalu, kita sering mendengar berbagai isu atau fenomena yang mengusik berbagai kalangan. Fenomena keagamaan ini muncul bukan tanpa adanya faktor-faktor yang melatarbelakanginya. Akan tetapi, sebagaimana kita ketahui bahwa dalam banyak hal, sebuah fenomena itu muncul karena dilatarbelakangi oleh berbagai faktor, baik langsung maupun tidak langsung, intern maupun ekstern dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Demikian juga fenomena yang terjadi pada tahun lalu, munculnya perdebatan atas pemidanaan nikah sirri. Sebagaimana Rancangan Undang-Undang tentang Hukum Material Peradilan Bidang Perkawinan (RUU HMPBP). Masyarakat pun kian gencar memperbincangkan sanksi pidana bagi pelaku nikah sirri, mut’ah (kontrak), perkawinan kedua, ketiga dan keempat, perceraian tanpa di muka pengadilan, melakukan perzinaan dan menolak bertanggung jawab, menikahkan atau menjadi wali nikah.

Perdebatan dan kontroversi atas kasus pemidanaan nikah sirri ini terjadi tidak lain karena disebabkan oleh beberapa hal, antara lain karena adanya ’perang dingin’ antara wilayah negara dengan wilayah agama. Di sisi lain, ada kemungkinan nikah sirri ini menyebabkan atau mendatangkan kemadharatan. Dan mungkin hal yang terakhir ini yang banyak terjadi di kehidupan masyarakat Indonesia, sehingga diperlukan pengaturan tersendiri melalui perundang-undangan.

Fenomena paling mutakhir terkait dengan anak yang dihasilkan dari hubungan gelap. Sebagaimana diputuskan oleh Mahkamah Konstitusi (MK) beberapa hari yang lalu (17/2) bahwa anak yang lahir di luar perkawinan memiliki hubungan perdata dengan ayah biologis. Lebih lanjut dijelaskan bahwa aturan itu mengikat terhadap segala bentuk pernikahan tidak resmi, mulai dari pernikahan sirri, perzinaan, perselingkuhan hingga kumpul kebo. Dalam kasus pernikahan sirri yang terakhir ini, Machica Mochtar mengajukan gugatan uji materi pasal 43 ayat (1) UU Perkawinan.

Perlu ditegaskan bahwa perkawinan merupakan titik awal dalam membentuk rumah tangga, sehingga sudah semestinya persoalan rumah tangga menjadi prioritas utama yang yang menjadi pondasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Artinya, rumah tangga yang diwujudkan melalui perkawinan harus diatur secara tegas dalam hukum dan perundang-undangan agar dapat tercapai adanya kepastian hukum, sehingga terhindar dari kemadharatan dalam kehidupan bermasyarakat. Apalagi tujuan perkawinan adalah untuk membina rumah tangga bahagia sejahtera dunia akhirat, mawaddah wa rahmah. Firman Allah dalam surat ar-Rum ayat 21 yang artinya: Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir”.

Teroris Intelektual

TERORIS INTELEKTUAL

Oleh: Kutbuddin Aibak )*

Dalam buku Conference of the Book (2001), Guru Besar Hukum Islam University of California Los Angeles, Khaled M. Abou El Fadl menyatakan bahwa teroris intelektual adalah pemeras emosi. Teroris-teroris ini yang kerap kali bersikap diskriminatif terhadap ras, jenis kelamin, kelas, atau fanatik dalam beragama, dan menggunakan bahasa teror. Teroris intelektual ini sama kejinya dengan teroris yang menggunakan kekerasan.

***

Konon, bangsa kita —tidak bisa dipungkiri— sebagai bangsa yang mengedepankan nilai-nilai luhur yang diwariskan nenek moyang, dan kebanyakan adalah nilai-nilai yang positif yang tidak bertentangan dengan agama Islam. Akan tetapi, mengapa sekarang nilai-nilai itu mulai luntur? Bahkan predikat-predikat negatif mulai dilekatkan pada bangsa ini, mulai dari negeri/bangsa yang terbelakang, korup sampai pada teroris.

Terkait issu (predikat) yang terakhir (teroris), kita benar-benar tidak habis pikir, bangsa yang mayoritas penduduknya beragama Islam, ternyata kasus-kasus teroris terjadi dimana-mana. Kita bisa menyaksikan beberapa tahun terakhir ini, dalam setiap hari dan minggunya, kehidupan masyarakat Indonesia dipenuhi dengan berbagai informasi tentang terorisme. Informasi-informasi tentang terorisme itu ditayangkan oleh semua stasiun televisi (media elektronik) dan media cetak; baik informasi-informasi yang dikemas dalam sebuah berita atau liputan maupun informasi-informasi dari mulut ke mulut. Pendek kata, tiada hari tanpa informasi terorisme. Sampai sekarang perburuan terhadap mereka yang terlibat jaringan teroris terus dilakukan.

Informasi-informasi terorisme ini didengar, dilihat, dan diperbincangkan oleh hampir semua kalangan/golongan, dari anak-anak hingga orang tua. Termasuk perbincangan secara ilmiah yang dimuat dalam berbagai media cetak. Akal pikiran atau nalar masyarakat Indonesia sudah penuh dengan hal-hal yang terkait dengan terorisme. Sampai-sampai mereka sepakat untuk memunculkan satu statemen bahwa teroris itu adalah mereka yang melakukan kekerasan dengan cara melakukan pengeboman (bom bunuh diri).

Statemen tersebut mungkin benar, dan tidak ada salahnya; akan tetapi bila kita mencermati secara mendasar, maka akan kita temukan bentuk teroris yang lain, yang mungkin memiliki akibat yang sama seriusnya. Satu bentuk teroris yang mungkin kita tidak pernah menganggapnya teroris, dan bahkan tidak pernah tersirat sedikit pun dalam pikiran kita. Satu bentuk teroris ini adalah teroris intelektual.

Terminologi Teoris Intelektual

Secara sepintas, mungkin kita beranggapan bahwa pernyataan Abou El Fadl tersebut tidak berdasar sama sekali. Karena pada kenyataannya, yang dinamakan teroris adalah mereka yang selalu menggunakan kekerasan dalam menyampaikan sesuatu. Lebih khusus lagi, merujuk kepada berbagai kasus yang ada di negari kita, yang dinamakan teroris adalah mereka yang melakukan pengeboman di berbagai tempat (bom bunuh diri); mulai dari bom Bali, Jakarta dan tempat-tempat lain yang tidak hanya terjadi sekali.

Akan tetapi, apabila kita menelaah lebih serius dan mendalam, kita mungkin akan bersuara serempak bahwa apa yang dikatakan Abou El Fadl adalah benar dan cukup berdasar. Hal ini dikarenakan menurut sifatnya, teror adalah penghentian penggunaan nalar, dan tidak adanya keseimbangan nalar, dan dengan sendirinya berarti musyawarah itu terhenti. Selain itu, juga karena menurut esensinya, kemampuan untuk bernalar berarti kemampuan untuk memahami dan membedakan.

Kalau kita menengok jauh ke belakang, yaitu Islam pada masa klasik, maka kita akan menemukan berbagai ragam perbedaan pendapat (misalnya di bidang fiqh/hukum Islam adanya berbagai mazhab) sungguh benar-benar ada dan itu dihargai. Dinamika perbedaan faham keagamaan sungguh luar biasa, dan hal ini juga yang menyebabkan Islam sampai pada kejayaan atau keemasannya. Jargon ikhtilafu ummati rahmatun (bahwa perbedaan pendapat di antara umatku itu adalah rahmat), yang konon itu adalah hadis Nabi, benar-benar hidup dan dirasakan keharmonisannya.

Akan tetapi, setelah masa itu sampai sekarang, perbedaan-perbedaan yang ada sudah dianggap bukan merupakan rahmat lagi, melainkan seolah-olah sebagai sebuah bencana atau sumber konflik. Apalagi jika ada pihak-pihak tertentu yang ikut campur di dalamnya, maka eksistensi perbedaan-perbedaan itu semakin ‘membahayakan’. Lebih nampak atas hal ini adalah fenomena pluralitas yang ada di negeri ini, Indonesia.

Pluralitas yang dimiliki oleh bangsa kita sebenarnya memang merupakan kekayaan tersendiri yang perlu dijaga dan dilestarikan serta dibanggakan. Akan tetapi, beberapa tahun terakhir ini pluralitas itu seolah-olah sirna. Karena berbagai perbedaan yang ada dan yang mungkin baru bermunculan harus ‘dipeti-eskan’, harus dikubur untuk selama-lamanya. Kebebasan berpikir, mengemukakan berpendapat di depan umum, perbedaan keyakinan dan sebagainya dibatasi, kalau tidak boleh dikatakan dilarang, bahkan sampai dihukumi haram.

Kita Teroris Intelektual?

Sebagaimana kita ketahui bersama, bahwa pluralitas bangsa kita terdapat dalam berbagai hal; mulai dari suku, bahasa, agama/keyakinan, budaya, adat istiadat, dan sebagainya, termasuk juga pendidikan. Hal ini merupakan keniscayaan dan sekaligus sebagai sunnatullah yang tidak bisa dihindari.

Keberagaman kebudayaan bangsa kita merupakan anugerah Tuhan Yang Maha Esa, yang harus disyukuri dan dilestarikan. Jangan sampai keberagaman (pluralitas) ini menjadi benih-benih konflik di antara sesama penduduk Indonesia, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana kita menyikapinya sebagai elemen-elemen yang mempersatukan kita dan memperkuat persatuan bangsa Indonesia.

Sekian banyak pluralitas yang ada pada bangsa ini jangan sampai sirna oleh paradigma, nalar maupun sikap-sikap yang membatasi kebebasannya dalam berkreasi. Musyawarah (negosiasi) mufakat harus selalu dikedepankan, ketika terjadi perbedaan pendapat. Demikian juga perbedaan-perbedaan yang terjadi pada pluralitas yang lainnya. Dalam hal ini sikap inklusif harus selalu dikedepankan dalam berbagai pluralitas, jika kita ingin menjaga kebebasan dalam berkreasi, baik dalam wacana, paradigma, kebijakan maupun dalam bentuk perilaku. Tentunya, kebebasan dalam berkreasi dan dalam menjaga pluralitas ini harus dilandasi dengan moralitas yang tinggi.

Sikap-sikap inklusif-pluralis dalam hidup keberagaman harus selalu dijaga, baik dalam bidang agama/kepercayaan, adat-istiadat, pendidikan/kebudayaan maupun berbagai bidang kehidupan lainnya. Apabila tidak bisa demikian, maka pembatasan keunikan dan keberagaman budaya, agama dan lain-lain juga merupakan bentuk teroris. Dan ingat, bahwa terorisme merupakan bentuk yang sama sekali tidak berbudaya. Dengan demikian, kalau kita merujuk pada pendapat Abou El Fadl, maka jelas bahwa sikap-sikap anti pluralitas juga merupakan teroris intelektual. Wa Allahu A’lam.

Waria Juga Manusia

WARIA JUGA MANUSIA

Oleh  Kutbuddin Aibak )*

Dalam ajaran Islam telah ditegaskan bahwa Allah hanya menciptakan manusia dari jenis laki-laki dan perempuan. Laki-laki dengan ciri-ciri khusus kelaki-lakiannya, mulai dari kumis, jakun, jenggot sampai penis dan testis serta sperma. Sedangkan perempuan juga memiliki ciri-ciri khusus sesuai dengan kodratnya, mulai dari payudara, vagina, rahim dan ovum. Jadi, laki-laki dan perempuan sudah jelas dengan ciri khusus organ dalam dan organ luarnya, dan tentu saja keduanya berbeda satu sama lain.

Akan tetapi pada kenyataannya, ada manusia dengan jenis kelamin selain laki-laki dan perempuan. Jumlah mereka ternyata juga tidak sedikit. Namun pada kenyataannya juga, kaum laki-laki dan kaum perempuan normal mengucilkan mereka, tidak mau tahu dengan keberadaan mereka. Dan bahkan kehadirannya dianggap menjadi penyakit masyarakat. Sedemikian hinakah mereka?

Perlu dipahami bahwa manusia dengan jenis kelamin bukan laki-laki dan bukan perempuan, di masyarakat lebih sering dikenal dengan sebutan waria, wandu, banci; yang dalam bahasa agama (fiqih) disebut khuntsa. Mereka menjadi seperti itu tentu ada banyak faktor yang melingkupi dan menyebabkannya. Beberapa faktor itu antara lain hereditas (faktor keturunan) atau bawaan sejak lahir, dan faktor sosial (pendidikan).

Faktor hereditas (bawaan sejak lahir); pada faktor yang pertama ini tentu bukan atas kesalahan yang dilakukan oleh keluarga (orang tua) ataupun lingkungan masyarakat, akan tetapi murni karena sejak lahir memang sudah tidak/kurang normal. Misalnya memiliki alat kelamin ganda; penis dan vagina yang berfungsi kedua-duanya atau salah satunya. Atau memiliki organ tubuh yang bertentangan antara bagian dalam dengan luar. Misalnya memiliki vagina tetapi tidak memiliki rahim, atau memiliki penis tetapi juga memiliki rahim, dan seterusnya. Atas kasus ini, maka solusi yang diberikan kepada mereka tidaklah terlalu sulit, karena bagian organ mana yang kurang sempurna itu disempurnakan melalui operasi; atau ketika organ tubuhnya bertentangan antara dalam dengan luar, maka mana yang lebih dominan itu yang dijadikan pedoman untuk kemudian dilakukan operasi penggantian dalam rangka penyempurnaan. Sehingga jenis kelaminnya menjadi benar-benar jelas, laki-laki atau perempuan.

Akan tetapi, di sisi lain, mereka yang lahir tidak normal jenis/organ kelaminnya (banci alami) bisa mudah mengalami kelainan psikis dan sosial, akibat masyarakat yang tidak memperlakukannya secara wajar, yang pada gilirannya bisa menjerumuskannya ke dalam dunia pelacuran dan menjadi sasaran kaum homo yang sangat berbahaya bagi dirinya dan masyarakat. Sebab perbuatan anal sex (hubungan seks melalui anus) dan oral sex (hubungan seks melalui mulut) yang biasa dilakukan oleh kaum homo bisa menyebabkan terjangkitnya penyakit AIDS yang sangat ganas. Oleh karena itu, untuk mendefinitifkan jenis kelamin mereka, maka harus dilakukan operasi penyempurnaan.

Sedangkan faktor sosial merupakan faktor yang sebenarnya juga tidak bisa dipisahkan dari faktor yang pertama (bawaan lahir). Hal ini disebabkan karena pada kenyataannya ketidak-normalan jenis kelamin menjadikan masyarakat acuh tak acuh, apatis, dan mengucilkan mereka. Apalagi bila hal ini berwujud pada tingkah laku keseharian mereka yang juga tidak normal. Sehingga hal ini berdampak pada kondisi psikis mereka dan menjadi beban berat bagi mereka. Pada akhirnya, mereka mencari pelampiasan untuk berinteraksi dengan orang-orang yang mau menerima keberadaan mereka, dan seringkali yang menerima mereka adalah orang-orang yang sejenis dengan mereka. Hal ini mereka lakukan tidak hanya sebatas interaksi belaka, tetapi juga sampai pada hubungan seksual, homoseksual dan lesbian.

Bila dikaji lebih mendalam, siapa sih mereka itu? Siapa sebenarnya para waria/banci itu? Laki-laki yang berperilaku mirip perempuan atau bagaimana? Kita tidak bisa menafikan bahwa secara fisik, mereka memiliki ukuran tubuh yang sedang atau gemuk, tinggi, seperti layaknya laki-laki tetapi berpenampilan seperti perempuan. Mereka seolah-olah tampak garang dan kuat, tapi suaranya lemah lembut dan mendesah.

Jika jenis kelamin para waria/banci itu benar-benar laki-laki (memiliki penis dan testis) tetapi berperilaku seperti perempuan, maka tidak perlu dilakukan operasi kelamin. Hal yang perlu diberikan kepada mereka adalah pemahaman dan pemahaman, pendidikan mental, moral-spiritual. Pemerintah dan masyarakat harus bekerja sama untuk mendefinitifkan status mereka. Mengidentifikasi mereka, mengumpulkan dan melakukan pembinaan secara intens, sehingga menjadi manusia normal. Pemerintah memberikan fasilitas kepada mereka dalam upaya penyembuhan dengan berbagai kebutuhan yang ada, dan masyarakat turut serta membantu dan memotivasi mereka agar mereka menyadari dan mau berubah. Jangan pernah lagi menganggap mereka sebagai penyakit masyarakat, aib keluarga (masyarakat), dan biang penyakit-penyakit ganas-mematikan.

Apabila kita mau berpikir secara jernih, sebenarnya siapa yang mau ditakdirkan atau dilahirkan dalam kondisi jenis kelamin yang tidak normal, tentu tidak ada satu manusia pun yang mau dilahirkan dalam kondisi seperti itu. Jika mereka menjadi seperti itu karena lingkungan (keluarga/masyarakat), maka keluarga/masyarakat harus benar-benar memahami hakikat jenis kelamin mereka secara proporsional, dan tidak memberikan perlakuan yang bertentangan.

Semoga keberadaan kaum waria/banci bisa lebih diperhatikan dan dipertimbangkan oleh masyarakat luas bahwa mereka juga termasuk warga negara yang hidup di masyarakat yang tidak bisa dinafikan. Tetapi dengan tidak membiarkan mereka melakukan perilaku yang menyimpang secara terus menerus, melainkan membantu mereka untuk kembali ke ‘jalan yang benar’. Mendefinitifkan status atau jenis kelamin mereka, karena hal ini sangat penting dan berlanjut pada kejelasan status-status yang lain, mulai dari status warga negara yang berhak mendapatkan kesamaan perlakuan dalam berbagai bidang, status perkawinan sampai status kewarisan (ahli waris). Lebih dari itu, kaum waria (banci) juga harus menyadari bahwa perilaku mereka bertentangan dengan berbagai norma, baik agama maupun susila. Wa Allahu A’lam

Pemulung

ANTARA PEMULUNG DAN AGEN BESI TUA

Oleh: Kutbuddin Aibak )*

Akhir-akhir ini kita seringkali melihat adanya fenomena baru yang dilakukan oleh sebagian anggota masyarakat kita dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Sebuah aktivitas dan kreativitas yang perlu mendapatkan ‘penghargaan’ atas jerih payah mereka dalam berjuang memenuhi kebutuhan ekonomi secara mandiri. Beberapa aktivitas dan kreativitas itu tampak seperti bermunculannya cafe-cafe atau kedai minuman, toko-toko peracangan, semakin maraknya agen penerima besi tua (barang-barang rosokan), dan fenomena pemulung. Dalam kesempatan ini, penulis hanya akan mengulas dua fenomena yang terakhir ini.

Fenomena pemulung misalnya, kita dapat menyaksikan bahwa jumlah mereka semakin banyak dan kreatif. Kalau dulu, pemulung itu identik dengan orang tua baik laki-laki maupun perempuan, sekarang anak-anak atau remaja pun juga tidak mau ketinggalan. Kalau dulu, mereka hanya mencari rosokan di tempat-tempat tertentu di Tempat Pembuangan Akhir (TPA), tapi sekarang mereka telah masuk di lingkungan rumah-rumah penduduk baik di desa maupun di kota. Harapan mereka tidak lain adalah agar mendapat keuntungan yang berlebih.

Namun, seiring dengan waktu dan tuntutan ekonomi yang semakin bertambah, pendapatan mereka dari memulung dirasa tidak mencukupi dan semakin kurang. Hal ini mungkin manusiawi karena semakin mereka mendapatkan keuntungan yang banyak, mereka semakin ingin terus mendapatkan keuntungan yang berlipat dan dapat membeli barang-barang atau kebutuhan yang awalnya tidak pernah bisa dibeli. Akan tetapi, ketika mereka tidak mendapatkan keuntungan sebagaimana yang diinginkan, maka apa yang terjadi? Ternyata, mereka berbelok arah dan mulai berani mengambil barang-barang milik warga atau penduduk yang masih layak pakai. Dan pada tingkatan negatif selanjutnya, mereka mulai berani mengambil barang-barang yang ada di dalam rumah penduduk (mencuri). Pada akhirnya, sasaran mereka tidak hanya barang-barang sederhana, tetapi juga uang dan bahkan barang-barang mewah.

Fenomena negatif yang terakhir inilah yang mungkin menyebabkan masyarakat berlaku kurang baik (baca: marah) kepada mereka (pemulung), sehingga kita tidak jarang menemukan papan di suatu tempat bertuliskan “Pemulung Dilarang Masuk”. Andai para pemulung itu tidak melakukan pencurian, mungkin masyarakat akan berlaku lebih baik kepada mereka dan memasang papan yang bertuliskan “Pemulung Silahkan Duduk”. Artinya, para pemulung bisa diterima penduduk, dan bahkan barang-barang yang sudah tidak mereka pakai akan diberikan kepada para pemulung itu.

Sedangkan kreativitas mereka tampak dalam berbagai cara dalam mengumpulkan atau mencari barang-barang rosokan. Kalau dulu, mereka mencari rosokan dengan membawa sepeda beserta rombong (tempat rosokan) dan berhenti di pinggir jalan atau perempatan lalu memberikan imbalan berupa makanan kecil seperti kerupuk atau hewan seperti keong, atau mainan anak-anak. Seiring berjalannya waktu, saat ini cara tersebut sudah sangat jarang kita jumpai, bahkan mungkin sudah tidak ada. Sekarang, mereka telah menggantinya dengan uang. Artinya rosokan itu dikumpulkan dengan cara membeli dari anggota masyarakat, baik dengan menggunakan sepeda maupun motor.

Demikian juga dengan agen-agen penerima besi tua misalnya, hampir di setiap ruas jalan kita bisa menyaksikan tempat-tempat khusus yang bertuliskan “Terima Besi Tua (Rosokan)”. Agen-agen penerima besi tua ini kelihatannya semakin menjamur. Bagaimana tidak? ‘Profesi’ yang satu ini ternyata tidak begitu membutuhkan modal yang banyak untuk mendatangkan keuntungan yang melimpah. Paling tidak, cukup dengan menyediakan tempat, lalu papan ukuran kecil yang bertuliskan “Di sini Terima Besi Tua (Rosokan)”, dan modal yang sedikit. Dengan sendirinya, para pemulung akan mendatangi agen-agen tersebut, dan tentu dengan harga yang bersaing. Agen yang memberikan harga sedikit lebih tinggi di banding lainnya, tentu akan lebih banyak didatangi para pemulung.

Di era sekarang, agen ini ternyata juga semakin kreatif, mereka tidak hanya cukup diam dan menunggu kedatangan pemulung-pemulung itu, akan tetapi agen-agen itu bergerak/berjalan dengan menggunakan mobil box terbuka, dengan mengunakan pengeras suara plus lagu-lagu sebagai simbol atau tanda agar mudah dipahami oleh masyarakat. Cara kreatif ini dilakukan tidak lain karena pada kenyataannya jumlah agen penerima rosokan itu semakin banyak, siapa yang kreatif tentu mendapat untung yang banyak.

Terlepas dari hal-hal yang negatif, sebenarnya antara pemulung dan agen besi tua memiliki hubungan simbiosis mutualisme (hubungan yang saling menguntungkan). Demikian juga antara pemulung-agen dan masyarakat memiliki hubungan simbiosis mutualisme. Boleh jadi, mereka melakukan hal ini dikarenakan sulitnya mencari pekerjaan. Kalau pun ada pekerjaan, pendapatannya tidak bisa mencukupi kebutuhan keluarga sehari-hari. Tentu hal ini (terutama pemulung) merupakan ‘pekerjaan’ yang lebih baik daripada mereka mencuri atau merampok. Pendapatan mereka pun halal, bukan haram, sehingga makanan yang dimakannya pun merupakan makanan halal karena dihasilkan dari cara yang halal (bukan dengan mengambil barang-barang rosokan yang masih layak pakai atau bahkan didapat dari mencuri).

Di sisi lain, apa yang dilakukan pemulung dan agen besi tua ini mungkin termasuk perbuatan yang terpuji, karena mereka ikut membantu membersihkan lingkungan, menjaga kebersihan lingkungan. Ketika lingkungan bersih, hidup menjadi sehat dan nyaman. Bukankah kebersihan itu sebagian dari iman? Mereka juga termasuk ‘pejuang-pejuang’ yang gigih dalam memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.

Pada akhirnya, kita tidak bisa menafikan bahwa pada kenyataannya para pemulung itu dapat menyekolahkan anak-anaknya sampai jenjang perguruan tinggi, anak-anaknya menjadi anak-anak yang sukses; menjadi kaya raya, hidup serba berkecukupan, memiliki mobil, (boleh jadi) melebihi pendapatan pegawai negeri, dan bahkan tidak sedikit dari mereka yang kemudian melaksanakan rukun Islam kelima yaitu naik haji (ihram).

Akhirnya, bagaimana pun juga menjadi pemulung lebih baik daripada menjadi pencuri. Lebih baik menjadi pemulung daripada menjadi pegawai atau pejabat tetapi korupsi. Kalau kita bisa dan mampu, maka yang lebih baik adalah menjadi pegawai atau pejabat yang benar-benar melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya serta dilandasi dengan rasa ikhlas semata-mata mengharap ridha Allah, sehingga harta yang didapatkan benar-benar halal dan bermanfaat dunia-akhirat. Jadilah pemulung yang taqwa, agen besi tua yang taqwa, pegawai atau pejabat yang taqwa. Jadilah ‘pemulung-pemulung’ ridha Allah. Oleh karena itu, sudah sepatutnya kita harus merenungkan firman Allah dalam surat al-Jumu’ah ayat 10: Apabila Telah ditunaikan shalat, Maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. Wa Allahu A’lam.

Mereka Bukan Pengemis

MEREKA BUKAN PENGEMIS?

Oleh: Kutbuddin Aibak )*

Dalam hidup dan kehidupan ini, terdapat banyak fenomena yang tidak bisa kita hindari. Walaupun seringkali kita belum tahu dan kurang bisa memahami atas berbagai fenomena-fenomena itu. Di antara sekian banyak fenomena itu antara lain adalah adanya kehidupan yang berbeda antara seseorang dengan seseorang lainnya, baik dalam hal pekerjaan, kekayaan (harta benda) maupun status sosial; dari pengamen sampai presiden, dari pengemis sampai penderma (dermawan), dari penjual koran sampai penjual kehormatan; dan seterusnya.

Akan tetapi, dalam kesempatan ini penulis tidak akan menguraikan semua fenomena-fenomena kehidupan tersebut. Secara khusus, penulis hanya ingin mengkritisi salah satu fenomena kehidupan itu, yaitu fenomena maraknya para peminta-minta (pengemis).

Peminta-minta: Profesi Baru?

Fenomena pengemis atau peminta-minta, atau apa pun namanya memang tidak bisa dipisahkan dari lingkungan kita, dimana kita bertempat tinggal, dan dari kehidupan kita. Karena memang demikianlah kehidupan dunia ini, semua serba dualistis; ada siang ada malam, ada baik ada buruk, ada benar ada salah, ada kaya ada miskin, ada pengemis ada penderma, dan sebagainya.

Dualisme kehidupan ini sudah menjadi rahasia umum. Setiap orang, siapa pun dia, sudah tahu dan mengerti akan dualisme kehidupan ini. Namun, pada kenyataannya tidak sedikit dari kita seringkali kurang bisa dan bahkan tidak mau menerimanya. Lebih fatal lagi, kita selalu beranggapan dan berkeyakinan bahwa kitalah yang benar, kita yang jujur, kita yang baik; seolah-olah kita adalah orang yang suci, tidak pernah berbuat jelek dan salah, serta selain kita adalah orang-orang yang .buruk dan salah.

Hal demikian harus dipahamkan kepada semua orang, terutama kepada mereka yang mengklaim dirinya sebagai ‘orang suci’. Karena apabila hal ini tidak dipahamkan kepada mereka, maka ada kemungkinan mereka tidak siap atas berbagai hal negatif yang akan mereka alami, yang mungkin akan menyebabkan mereka depresi, stress dan bahkan bunuh diri.

Pada sisi lain, kita juga menjumpai golongan masyarakat yang diklaim sebagai ‘sampah masyarakat’. Mereka adalah orang-orang yang aktivitas (pekerjaan)nya meminta-minta, mengganggu dan menyusahkan orang lain. Bahkan akhir-akhir ini, golongan masyarakat yang satu ini cukup menyita perhatian kita. Bagaimana tidak? Maraknya pengemis (peminta-minta) seolah-olah telah menjadi profesi baru bagi sementara orang. Bagi mereka, inilah pekerjaan yang mengenakkan, tidak perlu banyak keluar keringat, tapi menghasilkan banyak uang.

Lebih dari itu, karena maraknya peminta-minta dengan berbagai macam caranya ini menyebabkan sulit dikenali, siapa peminta-minta yang sebenarnya dan siapa yang sengaja menjadi peminta-minta. Apalagi, kita bisa menjumpai siapa saja yang menjadi peminta-minta itu, ada anak kecil (di bawah lima tahun), anak usia sekolah dasar, anak usia sekolah lanjutan pertama dan atas, dan bahkan dari golongan orang tua dan nenek-kakek. Benar-benar lengkap, dari semua jenis dan umur ada.

Mereka Mengajari Kita untuk Bersedekah

Terlepas dari fenomena di atas, pengemis dengan berbagai macam caranya; ada satu hal positif yang sebenarnya harus kita pahami dan kita sadari. Hal positif itu adalah bahwa mereka (para pengemis) itu telah mengajari kita tentang solidaritas sosial, sikap welas asih terhadap sesama, sikap mementingkan orang lain, dan mengajari kita untuk terbiasa mensedekahkan sebagian kecil dari harta benda yang kita miliki dan yang telah diberikan Allah kepada kita.

Pada hakekatnya, disadari atau tidak, mereka sebenarnya telah mengingatkan kita akan harta benda (kekayaan) yang kita miliki. Bahwa pada harta benda yang kita miliki itu terdapat hak-hak orang lain (fakir-miskin), dan hak-hak itu harus kita penuhi karena hal itu merupakan kewajiban kita. Sungguh beruntung bagi siapa saja yang telah diingatkan oleh mereka, sebab tidak sedikit dari kita yang lupa akan kewajiban itu, dan bahkan kita dengan sengaja tidak mau tahu. Na’udzubillahi min dzalik.

Oleh karena itu, kalau di berbagai tempat di kota-kota besar maupun di desa-desa seringkali kita menemukan papan yang bertuliskan: “Pengemis dilarang masuk”, “Ngamen gratis” maupun sticker-sticker yang ditempelkan di setiap rumah warga negara Indonesia yang bertuliskan “Tidak menerima sumbangan apa pun tanpa izin aparat (kepala) desa”; maka mungkin ada baiknya jika hal itu dirubah semua menjadi hal yang sebaliknya —terlepas dari berbagai kasus yang pernah terjadi bahwa tidak sedikit di antara mereka yang melakukan penipuan bahkan pencurian.

Mungkin ada baiknya, dan memang lebih baik menjadi peminta-minta daripada menjadi penjabat yang mencari rezeki dengan jalan yang haram, jalan yang dilarang oleh agama, korupsi misalnya. Karena dengan cara meminta-minta, seseorang mencari dan mendapatkan rezeki (uang atau lainnya) secara halal, dengan cara yang baik, walaupun hal ini juga dibenci oleh agama, karena menjadikan seseorang malas bekerja.

Sebenarnya, sebagai umat Islam tentu kita sudah tahu akan ajaran dan ajakan untuk berbuat baik, yaitu mendermakan sebagian harta kita. Allah Swt. melalui al-Qur’an dalam banyak ayatnya juga selalu mengingatkan kita untuk selalu mensedekahkan sebagian kecil dari harta kita, dan mengingatkan kita bahwa pada harta kekayaan kita ada kewajiban yang harus ditunaikan.

Hal demikian juga dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw., sehingga beliau pernah mengatakan bahwa “al-yadul ‘ulya khoirun min yadissufla”, artinya tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Maksudnya bahwa mensedekahkan sebagian harta kita kepada orang lain yang berhak itu lebih baik daripada meminta-minta. Bersedekahlah, berinfaqlah, dan berlomba-lombalah menuju jalan (ridha) Allah sebelum  datang ‘tamu’ yang tidak bisa kita tolak kedatangannya dan tidak akan pernah datang jika diundang tanpa seizin Allah, dialah kematian. Jangan sampai kita menyesal dikemudian hari. Mari kita gunakan dan kita isi hidup ini dengan banyak beramal shaleh.

Sebagai untaian kalimat akhir dari uraian ini, maka baiknya kita simak dan kita pahami firman Allah Swt. dalam surat al-Munafiqun ayat 9-10: “Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi. Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: “Ya Rabb-ku, Mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?” Wa Allahu A’lam

Teologi Lingkungan

TEOLOGI LINGKUNGAN: LANGKAH AWAL MEMINIMALISIR BENCANA

Oleh  Kutbuddin Aibak )*

Ada sebuah fenomena yang kerap kali manusia lupa, atau bahkan kita dengan sengaja melupakannya serta bersikap acuh tak acuh. Sebuah fenomena yang tidak bisa dipisahkan dari hidup dan kehidupan manusia sebagai khalifah Allah di bumi. Fenomena tersebut adalah keseimbangan, keselarasan dan keserasian antara manusia dengan alam (lingkungan).

Mengapa berbagai bencana terjadi di negeri yang konon subur makmur ini. Mengapa terjadi gempa, tanah longsor, banjir, berbagai penyakit dan bencana lainnya. Musibah-musibah yang terjadi dan dialami bangsa kita, tidak lain karena kita kurang mempunyai kepedulian terhadap lingkungan, sering kali kita bertindak ceroboh; membuang sampah sembarangan, menebang pohon secara liar, kita belum bisa memahami bagaimana konsep hidup sehat sebenarnya, dan seterusnya. Bahkan kita tidak mempunyai kepedulian itu sama sekali.

Di lain pihak, kita sering kali menganggap bahwa alam (lingkungan) akan dan selalu memberikan keuntungan dan manfaat kepada kita. Dan kita selalu mengambil manfaat yang sebesar-besarnya atas alam (lingkungan), tanpa memperdulikan keberadaannya. Akhirnya, eksploitasi-eksploitasi terhadap lingkungan terjadi dimana-mana.

Kesatuan manusia dan alam adalah sunnatullah

Manusia dan alam ibarat dua sisi mata uang, antara satu dengan yang lainnya tidak bisa saling meniadakan. Manusia dalam hidup dan kehidupannya membutuhkan alam, demikian juga sebaliknya, alam membutuhkan manusia. Kesatuan manusia dan alam merupakan fitrah kehidupan (sunnatullah).

Sebagai sunnatullah (hukum alam), keberadaan alam (lingkungan) harus benar-benar diperhatikan, dijaga dan dilestarikan. Ketika kita memberikan hal-hal yang baik kepada alam, maka mereka juga akan membalasnya dengan kebaikan. Demikian juga ketika kita memperlakukannya secara buruk, maka kita akan mendapatkan keburukan pula.

Keharmonisan hubungan antara manusia dengan alam (lingkungan) merupakan ‘harga mati’. Bila manusia ingin hidup bahagia dan sejahtera, jauh dari marabahaya, bencana; maka salah satu kuncinya adalah manusia harus menjalin dan menjaga hubungan yang harmonis dengan lingkungan. Hal ini tidak lain, karena berbagai musibah yang dialami bangsa kita, lebih disebabkan kurangnya kepekaan kita terhadap lingkungan. Mengapa alam ‘marah’?, tidak lain karena dosa-dosa sosial yang telah kita perbuat terhadap mereka (alam).

Di samping itu, Allah Swt., Tuhan semesta alam (rabb al-‘alamin) memang sudah memerintahkan kepada kita untuk selalu menjaga hubungan baik dengan alam lingkungan (habl min al-‘alam), disamping dua hubungan yang lain yaitu hubungan dengan Allah (habl min Allah), dan hubungan dengan sesama manusia (habl min al-nas).

Dalam banyak ayat disebutkan bagaimana alam ini diciptakan, bagaimana bumi dihamparkan, bagaimana laut ditundukkan bagi manusia, dan bagaimana gunung-gunung itu ditancapkan, dan berbagai pernyataan lainnya dalam al-Qur’an. Pada intinya, kita diperintah untuk mempelajari kejadian alam semesta ini. Sehingga bila suatu ketika terdapat hal-hal yang ‘ganjil’ yang terjadi pada alam, maka manusia diharapkan akan bisa mencarikan solusinya sesuai dengan ilmu yang telah dipelajari dan dikuasainya.

Lebih dari itu, tujuan Allah menyuruh manusia untuk menjaga hubungan yang harmonis dengan lingkungan, dengan mempelajari berbagai seluk-beluknya adalah dalam rangka menunjukkan bahwa Allah, Tuhan alam semesta ini adalah Dzat Yang Maha Kuasa, Maha Pencipta, Yang Maha luas ilmu-Nya dan manusia tidak akan pernah bisa menandingi-Nya. Sehingga manusia akan selalu meminta pertolongan kepada-Nya dalam menyelesaikan berbagai masalah (bencana/musibah) yang terjadi, dan akhirnya berserah diri kepada-Nya, ber-tasbih, memuji keagungan dan kebesaran-Nya. Inilah yang dimaksud dengan konsep teologi lingkungan, yaitu memahami berbagai ciptaan Tuhan (alam lingkungan) dan menjalin hubungan dengannya berlandaskan pada nilai-nilai agama, nilai-nilai ketuhanan.

Nilai-nilai teologis inilah yang sebenarnya diajarkan Tuhan kepada kita semua. Allah mengajarkan kepada kita bagaimana menguak berbagai hikmah, mengambil pelajaran, ibrah dari berbagai macam ciptaan-Nya. Karena tidak ada satu pun dari semua ciptaan-Nya yang sia-sia. Nilai-nilai teologis ini pula yang akan mengantarkan manusia untuk sampai kepada Tuhan (percaya dan beriman). Bagi mereka yang sudah beriman, akan semakin meningkatkan keimanannya; dan bagi mereka yang belum beriman akan tersingkap “kegelapannya” dan seraya meng-Esakan Tuhan. Sehingga pada akhirnya kita akan bisa memperlakukan alam sekitar ini sebagaimana mestinya.

Dengan demikian jelas, bahwa terjadinya musibah dan berbagai bencana, tidak lain karena adanya hubungan yang tidak harmonis antara manusia dengan alam. Hubungan harmonis yang diperintahkan Tuhan tidak diindahkan dan tidak di-gubris. Oleh karena itu, hubungan yang harmonis antara manusia dengan alam harus selalu dijaga dan dilestarikan. Hubungan simbiosis-mutualisme, hubungan yang saling menguntungkan perlu dan harus selalu dikedepankan dalam rangka meminimalisir berbagai musibah atau bencana yang selama ini menimpa bangsa kita.

Untuk mengakhiri tulisan ini, ada baiknya dikutip beberapa ayat dalam surat al-Ghâsyiyah: afalâ yanzhurûna ilâ al-ibili kaifa khuliqat, wa ilâ al-samâ’i kaifa rufi’at, wa ilâ al-jibâli kaifa nushibat, wa ilâ al-ardhi kaifa suthihat, fadzakkir inamâ anta mudzakkir (maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan, dan langit, bagaimana ia ditinggikan? dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan? dan bumi bagaimana ia dihamparkan? maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan).

Sekecil apa pun perbuatan baik kita, terhadap lingkungan atau pun lainnya, tentu akan mendapatkan balasan pahala dari Allah Swt., demikian juga sekecil apapun perbuatan buruk kita, pasti akan dimintai pertanggungjawaban. Mari kita ciptakan lingkungan yang sehat, kita tingkatkan sikap kepedulian sosial terutama terhadap lingkungan, dan kita sebarluaskan gerakan cinta lingkungan dengan berlandaskan pada nilai-nilai agama. Wa Allah A’lam.