Lembaga Pemasyarakatan

LEMBAGA PEMASYARAKATAN

(Antara Proses Rehabilitasi dan Fitrah Kehidupan Manusia)

Oleh: Kutbuddin Aibak )*

Ada sesuatu yang menarik, yang perlu dicermati oleh semua orang terkait dengan rumah tahanan. Dari segi fisik konstruksi bangunannya, rumah tahanan atau Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) sebenarnya tidak jauh berbeda dengan bentuk rumah-rumah pada umumnya. Akan tetapi bangunan yang satu ini dianggap mempunyai hal-hal “misterius” yang acapkali dianggap sebagai bangunan yang “menakutkan”.

Ditinjau dari segi fungsinya, rumah tahanan (penjara) digunakan untuk menahan —tempat tinggal— orang-orang yang berbuat kesalahan; untuk orang-orang yang telah berbuat kejahatan dan diputuskan oleh pengadilan sebagai orang yang salah (jahat). Penghuni rumah tersebut sama dengan penghuni rumah-rumah pada umumnya. Walaupun pada hakekatnya, secara khusus para penghuni rumah yang satu ini adalah mereka-mereka yang telah berbuat kesalahan (kejahatan).

Di Indonesia, dalam segi kuantitasnya rumah-rumah tahanan tersebut telah banyak jumlahnya. Sampai-sampai rumah tahanan tersebut tidak mencukupi untuk ditempati oleh orang-orang yang telah berbuat salah (jahat). Karena semakin hari semakin bertambah banyak jumlah orang yang berbuat salah/jahat. Hal demikian tentu juga terjadi di kabupaten Tulungagung.

Antara Klaim Masyarakat dan Fitrah Kehidupan Manusia

Perlu dipahami, bahwa keberadaan rumah tahanan memang sudah seharusnya dan tidak bisa dipisahkan dari hidup dan kehidupan manusia. Apalagi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Karena dalam hidup dan kehidupannya, manusia seringkali berbuat kesalahan/kejahatan; ada warga masyarakat atau warga negara yang baik dan ada yang jahat. Akan tetapi, permasalahnnya adalah bagaimana keberadaan orang-orang yang berada atau tinggal di dalam lapas?

Keberadaan orang-orang yang tinggal di dalam rumah tahanan atau lembaga pemasyarakatan yang nota bene mereka adalah orang-orang yang telah berbuat jahat tidak begitu bisa diterima oleh masyarakat. Seolah-olah masyarakat sudah sepakat bahwa mereka adalah orang-orang yang jahat, orang-orang yang kotor yang menjadi sampah masyarakat—terlepas dari adanya rekayasa, politisasi dan lain-lain.

Dan, klaim mereka terhadap orang-orang yang telah berbuat jahat itu ternyata tidak hanya berhenti di situ saja, yaitu ketika orang yang berbuat jahat itu dipenjara, akan tetapi mereka tetap mengklaim bahwa orang-orang tersebut tetap sebagai orang-orang yang berbuat jahat, mereka akan dan tetap sebagai sampah masyarakat. Meskipun mereka sudah bebas dari hukuman tahanannya, mereka tetap dianggap akan dan selalu meresahkan masyarakat. Bahkan sampai anak dan keluarganya juga menerima imbasnya atas kesalahan atau kejahatan yang telah diperbuatnya. Apalagi jika kejahatan yang mereka lakukan tergolong dalam kejahatan yang besar. Jelas, masyarakat lebih tidak bisa menerimanya lagi.

Klaim masyarakat terhadap mereka yang telah berbuat salah/jahat sebenarnya tidak pada tempatnya, dan klaim seperti itu sebenarnya tidak boleh terjadi, serta terlalu berlebihan. Karena manusia (siapa pun) dalam hidup dan kehidupannya akan dan selalu berada pada dua posisi, salah dan benar; kadang-kadang ia benar dan kadang-kadang juga salah; ia selalu berusaha berbuat baik, tapi kadang-kadang ia terjerumus pada kejahatan. Sehingga pemahaman terhadap ajaran agama, kesadaran dan kedewasaan dibutuhkan untuk meminimalisir kesalahan itu. Al-Insan mahal al-khatha’ wa an-nisyan (manusia itu tempatnya salah dan lupa).

Manusia sebenarnya memang tidak akan pernah bisa luput dari yang namanya kesalahan. Seberapa pun pandainya dia, seberapa pun ‘alim-nya dia, karena ia adalah manusia, maka kemungkinan besar dia akan (pernah) berbuat kesalahan. Akan tetapi, jangan sampai terulang lagi kesalahan yang sama dalam proses kehidupan ini.

Seseorang berbuat salah atau jahat sebenarnya tidak hanya merupakan siklus kehidupan manusia, bahwa suatu saat ia akan berbuat salah/jahat dan pada saat yang lain ia akan berbuat benar/baik. Akan tetapi, hal tersebut merupakan fitrah kehidupan manusia, bahwa manusia itu tidak akan selamanya berada dalam kebenaran dan kebaikan. Dan yang lebih penting dari itu, kesalahan adalah merupakan sebuah proses dalam kehidupan yang harus dialami manusia dalam rangka mencapai kebahagiaan, dalam rangka mencapai kehidupan yang lebih baik. Bahkan dalam konsepsi agama (Islam), hal seperti ini merupakan salah satu bentuk ujian atau cobaan dari Tuhan, Allah Swt.

Kesalahan yang pada titik kulminasi (puncak)-nya adalah berupa kejahatan, yang akhirnya bagi mereka yang melakukan akan dihukum dan ditahan/dipenjara sebenarnya merupakan proses kehidupan manusia dalam rangka mencapai kebaikan tersebut. Dengan kata lain, rumah tahanan atau lembaga pemasyarakatan (penjara) sebenarnya merupakan tempat untuk merenung, memikirkan dan kemudian merehabilitasi atas segala kesalahan dan kejahatan yang telah dilakukannya, seraya bertaubat dan meminta pertolongan kepada Allah. Sehingga ketika mereka bebas dari penjara, mereka —kalau sadar dan insyaf— akan memperbaiki kehidupannya, menatap masa depan dengan penuh percaya diri dan berlandaskan pada ajaran-ajaran agama (Islam).

Akan tetapi, apakah mereka sadar tentang fitrah kehidupan itu, dan demikian pula dengan masyarakat, apakah masyarakat juga sadar bahwa hal itu semua merupakan fitrah kehidupan? Salah satu ujian atau cobaan dari Allah?

Sehingga bila ada usaha untuk kearah kebaikan itu terwujud, maka klaim masyarakat tersebut tidak akan pernah terjadi. Kalaupun toh sudah ada kemauan untuk berbuat baik, sedangkan masyarakat tidak mau tahu —cuek— terhadap apa yang dilakukannya, maka masyarakatlah yang sebenarnya tidak mengerti tentang fitrah manusia itu sendiri, dan mereka perlu disadarkan.

Walaupun sebenarnya proses rehabilitasi itu tidaklah semudah itu. Ia memerlukan proses yang cukup lama, setahap demi setahap. Bahkan bila perlu, pihak yang ingin merehabilitasi dirinya itu harus didampingi oleh seseorang yang benar-benar bisa mengarahkan, pendamping terapi psikologi, mungkin juga seorang tokoh agama.

Pada akhirnya, hal yang lebih penting sebagai sesama anggota masyarakat dan sebagai manusia yang beragama adalah bagaimana kita bisa menerima kehadiran mereka, membantu mereka dalam proses rehabilitasi keberadaannya. Dan memaafkan segala kesalahan (kejahatan) mereka, baik sebelum maupun setelah dihukum. Sehingga sebagai anggota masyarakat dan warga negara, kita bisa bersatu, saling bahu membahu dalam kehidupan bermasyarakat, dan dalam rangka membangun dan memajukan berbagai sendi kehidupan masyarakat, karena bagaimanapun juga lebih baik menjadi bekas penjahat yang kemudian memperbaiki hidupnya daripada menjadi bekas dermawan, atau bekas orang yang baik, mantan/bekas seorang yang ‘alim. Siapkah kita sebagai anggota masyarakat? Wa Allahu A’lam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>