Dosa-dosa Sosial Kita

DOSA-DOSA SOSIAL KITA

Oleh  Kutbuddin Aibak )*

Inna lillahi wa inna ilahi rajiun. Itulah satu ungkapan yang pantas kita ucapkan bagi kondisi bangsa kita sekarang ini. Bagaimana tidak? Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun pun juga terus berganti; akan tetapi dalam kenyataannya, musibah demi musibah yang silih berganti dan terus menerus menimpa bangsa kita, belum juga ‘bosan’, belum juga hengkang dari hadapan kita. Seolah-olah tiada hari tanpa musibah.

Jika kita menengok tujuh tahun yang lalu, di penghujung tahun 2006 dan di awal tahun 2007, serentetan musibah terus menerus menimpa bangsa kita. Mulai dari lumpur Lapindo, musibah banjir, tanah longsor, dan seterusnya. Bahkan buruknya cuaca yang masih menyelimuti, menyebabkan sekian banyak musibah bagi bangsa kita. Lautan luas yang biasanya mendatangkan penghidupan bagi rakyat Indonesia, hari ini dia ‘marah besar’, sehingga apa saja yang melintas di atasnya langsung dilumat dan dihempaskan. Mulai dari perahu nelayan yang terbalik, kapal-kapal besar yang terdampar dan tenggelam yang memakan banyak korban. Pada akhirnya, untuk sementara waktu semua pelayaran dihentikan.

Demikian juga dengan wilayah udara, yang biasanya sebagai jalan transportasi yang relatif cepat dan mendatangkan pendapatan bagi negara, hari ini juga sedang ‘marah’. Yang terakhir, korban dari keganasan cuaca ini adalah hilangnya pesawat Adam Air yang sampai saat ini belum ditemukan. Dengan cuaca buruknya, dia menghalangi semua transportasi udara, sehingga dari dan tujuan kemana saja untuk sementara waktu juga dihentikan.

Musibah-musibah itu pun ternyata juga tetap menyelimuti negeri ini sampai di penghujung tahun 2013 ini. Belum lagi musibah-musibah yang terjadi di belahan dunia lainnya. Secara khusus di Indonesia, jika dicermati sebenarnya ada apa, kenapa dan mengapa? Oh… negeriku! Dimana dan kemana predikat yang engkau sandang sebagai negeri yang tentram, gemah ripah loh jinawi, toto tentrem karto rahardjo? Dan serentetan pertanyaan lainnya.

Alam (lingkungan) juga ‘manusia’

Musibah demi musibah yang terus menerus menimpa dan dialami bangsa kita, tidak lain sebenarnya adalah merupakan akibat dari proses yang cukup panjang, proses ketidakadilan kita terhadap mereka (alam lingkungan). Sikap dan perilaku yang zhalim yang kita berikan kepada mereka. Kita telah mengeksploitasi mereka, kita telah merampas hak-hak mereka. Mereka telah memberikan kepada kita manfaat yang besar dan memenuhi berbagai kebutuhan kita, tetapi kita tidak sedikit pun memberikan kemanfaatan pada mereka, bahkan kita mungkin termasuk orang-orang yang rakus.

Ingatlah, bahwa alam itu adalah ‘manusia’ (makhluk), dia mengetahui dan  merasakan apa yang telah diperbuat manusia terhadapnya. Ketika kebaikan itu kita berikan kepadanya, maka mereka juga akan memberikan kebaikan kepada kita. Akan tetapi lain, jika kita (manusia) berbuat kezhaliman padanya dan hal itu berjalan terus menerus dan bertahun-tahun, maka tentu ‘rasa sakit’ itu akan semakin mendalam. Sehingga menjadi kemarahan yang luar biasa, dan suatu saat akan menjadi bom waktu yang siap meledak. Boleh jadi apa yang sekarang dirasakan dan dialami bangsa kita merupakan puncak ‘kemarahan’ mereka, dan boleh jadi pula hal itu merupakan sebagian kecil dari awal kemarahannya.

Hutan yang tidak dijaga dan dipelihara dengan baik, maka akan mendatangkan bahaya yang cukup besar bagi kita, paling tidak bagi mereka yang tinggal di sekitarnya. Pembalakan liar, ilegal logging, dan seterusnya merupakan perilaku yang merugikan, baik bagi alam, manusia maupun bagi negara. Banjir, tanah longsor dan musibah lainnya merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kezhaliman yang kita perbuat.

Hal tersebut pada akhirnya juga berimbas pada terganggunya ekosistem laut. Ekosistem laut yang seharusnya kita jaga demi keseimbangan alam, ternyata tidak bisa kita jaga, karena berbagai perilaku buruk yang telah kita lakukan. Berbagai pencurian terhadap kekayaan laut, transaksi terlarang yang dilakukan di atas atau di dalam laut dan lain sebagainya, telah menjadikan laut yang pada awalnya menjadi teman yang penuh dengan kemesraan, berubah menjadi musuh yang menyeramkan. Ombak yang cukup tinggi, melalap habis apa saja yang ada di depannya. Terakhir, musibah tenggelamnya kapal Senopati yang memakan korban ratusan jiwa. Belum lagi musibah-musibah yang terjadi di rentang waktu tahun 2007 sampai dengan 2013.

Sebenarnya, langsung atau tidak langsung, alam (lingkungan) telah ‘marah’ kepada kita. Secara langsung, alam marah karena perbuatan buruk kita terhadapnya, dan kita tidak pernah berbuat baik kepadanya. Secara tidak langsung, alam marah karena dia terus menerus melihat dan menyaksikan perbuatan zhalim yang kita lakukan setiap hari, baik dalam hubungannya dengan Allah maupun dengan sesama manusia. Sehingga muncul dibenak ‘pikiran’ mereka: Kok ada ya manusia seperti itu ???

Di pihak lain, mungkin saja alam (lingkungan) telah membantu menyadarkan kita untuk kembali kepada jalan kebaikan, membantu kita untuk kembali kepada Tuhan. Ketika manusia telah diingatkan dengan cara baik-baik tetapi tidak kunjung kembali kepada Tuhan, akhirnya mereka mengingatkan manusia dengan kemarahan. Bahkan bisa jadi hal ini merupakan peringatan Tuhan, rasa kasih dan sayang Tuhan (rahman rahim-Nya) kepada kita semua untuk kembali mengingat-Nya, menjalin hubungan yang harmonis dengan-Nya maupun dengan semua makhluk-Nya.

Sebagai kalimat terakhir dalam tulisan ini, perlu ditegaskan bahwa perbuatan-perbuatan zhalim baik terhadap alam lingkungan maupun sesama manusia adalah merupakan dosa-dosa sosial. Dosa-dosa yang harus dipertanggungjawabkan tidak hanya kepada Tuhan saja, tetapi juga kepada mereka (alam dan manusia). Zhahara al-fasadu fi al-barri wa al-bahri bima kasabat aydi al-nas (“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh ulah tangan [perbuatan zhalim] manusia”).

Insyaflah, sadarlah wahai manusia, berhentilah berbuat zhalim dan segeralah kembali kepada Tuhan, Allah Swt. dengan taubatan nashuha, karena sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat. Wa Allahu A’lam bi al-Sawab

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>