Mereka Bukan Pengemis

MEREKA BUKAN PENGEMIS?

Oleh: Kutbuddin Aibak )*

Dalam hidup dan kehidupan ini, terdapat banyak fenomena yang tidak bisa kita hindari. Walaupun seringkali kita belum tahu dan kurang bisa memahami atas berbagai fenomena-fenomena itu. Di antara sekian banyak fenomena itu antara lain adalah adanya kehidupan yang berbeda antara seseorang dengan seseorang lainnya, baik dalam hal pekerjaan, kekayaan (harta benda) maupun status sosial; dari pengamen sampai presiden, dari pengemis sampai penderma (dermawan), dari penjual koran sampai penjual kehormatan; dan seterusnya.

Akan tetapi, dalam kesempatan ini penulis tidak akan menguraikan semua fenomena-fenomena kehidupan tersebut. Secara khusus, penulis hanya ingin mengkritisi salah satu fenomena kehidupan itu, yaitu fenomena maraknya para peminta-minta (pengemis).

Peminta-minta: Profesi Baru?

Fenomena pengemis atau peminta-minta, atau apa pun namanya memang tidak bisa dipisahkan dari lingkungan kita, dimana kita bertempat tinggal, dan dari kehidupan kita. Karena memang demikianlah kehidupan dunia ini, semua serba dualistis; ada siang ada malam, ada baik ada buruk, ada benar ada salah, ada kaya ada miskin, ada pengemis ada penderma, dan sebagainya.

Dualisme kehidupan ini sudah menjadi rahasia umum. Setiap orang, siapa pun dia, sudah tahu dan mengerti akan dualisme kehidupan ini. Namun, pada kenyataannya tidak sedikit dari kita seringkali kurang bisa dan bahkan tidak mau menerimanya. Lebih fatal lagi, kita selalu beranggapan dan berkeyakinan bahwa kitalah yang benar, kita yang jujur, kita yang baik; seolah-olah kita adalah orang yang suci, tidak pernah berbuat jelek dan salah, serta selain kita adalah orang-orang yang .buruk dan salah.

Hal demikian harus dipahamkan kepada semua orang, terutama kepada mereka yang mengklaim dirinya sebagai ‘orang suci’. Karena apabila hal ini tidak dipahamkan kepada mereka, maka ada kemungkinan mereka tidak siap atas berbagai hal negatif yang akan mereka alami, yang mungkin akan menyebabkan mereka depresi, stress dan bahkan bunuh diri.

Pada sisi lain, kita juga menjumpai golongan masyarakat yang diklaim sebagai ‘sampah masyarakat’. Mereka adalah orang-orang yang aktivitas (pekerjaan)nya meminta-minta, mengganggu dan menyusahkan orang lain. Bahkan akhir-akhir ini, golongan masyarakat yang satu ini cukup menyita perhatian kita. Bagaimana tidak? Maraknya pengemis (peminta-minta) seolah-olah telah menjadi profesi baru bagi sementara orang. Bagi mereka, inilah pekerjaan yang mengenakkan, tidak perlu banyak keluar keringat, tapi menghasilkan banyak uang.

Lebih dari itu, karena maraknya peminta-minta dengan berbagai macam caranya ini menyebabkan sulit dikenali, siapa peminta-minta yang sebenarnya dan siapa yang sengaja menjadi peminta-minta. Apalagi, kita bisa menjumpai siapa saja yang menjadi peminta-minta itu, ada anak kecil (di bawah lima tahun), anak usia sekolah dasar, anak usia sekolah lanjutan pertama dan atas, dan bahkan dari golongan orang tua dan nenek-kakek. Benar-benar lengkap, dari semua jenis dan umur ada.

Mereka Mengajari Kita untuk Bersedekah

Terlepas dari fenomena di atas, pengemis dengan berbagai macam caranya; ada satu hal positif yang sebenarnya harus kita pahami dan kita sadari. Hal positif itu adalah bahwa mereka (para pengemis) itu telah mengajari kita tentang solidaritas sosial, sikap welas asih terhadap sesama, sikap mementingkan orang lain, dan mengajari kita untuk terbiasa mensedekahkan sebagian kecil dari harta benda yang kita miliki dan yang telah diberikan Allah kepada kita.

Pada hakekatnya, disadari atau tidak, mereka sebenarnya telah mengingatkan kita akan harta benda (kekayaan) yang kita miliki. Bahwa pada harta benda yang kita miliki itu terdapat hak-hak orang lain (fakir-miskin), dan hak-hak itu harus kita penuhi karena hal itu merupakan kewajiban kita. Sungguh beruntung bagi siapa saja yang telah diingatkan oleh mereka, sebab tidak sedikit dari kita yang lupa akan kewajiban itu, dan bahkan kita dengan sengaja tidak mau tahu. Na’udzubillahi min dzalik.

Oleh karena itu, kalau di berbagai tempat di kota-kota besar maupun di desa-desa seringkali kita menemukan papan yang bertuliskan: “Pengemis dilarang masuk”, “Ngamen gratis” maupun sticker-sticker yang ditempelkan di setiap rumah warga negara Indonesia yang bertuliskan “Tidak menerima sumbangan apa pun tanpa izin aparat (kepala) desa”; maka mungkin ada baiknya jika hal itu dirubah semua menjadi hal yang sebaliknya —terlepas dari berbagai kasus yang pernah terjadi bahwa tidak sedikit di antara mereka yang melakukan penipuan bahkan pencurian.

Mungkin ada baiknya, dan memang lebih baik menjadi peminta-minta daripada menjadi penjabat yang mencari rezeki dengan jalan yang haram, jalan yang dilarang oleh agama, korupsi misalnya. Karena dengan cara meminta-minta, seseorang mencari dan mendapatkan rezeki (uang atau lainnya) secara halal, dengan cara yang baik, walaupun hal ini juga dibenci oleh agama, karena menjadikan seseorang malas bekerja.

Sebenarnya, sebagai umat Islam tentu kita sudah tahu akan ajaran dan ajakan untuk berbuat baik, yaitu mendermakan sebagian harta kita. Allah Swt. melalui al-Qur’an dalam banyak ayatnya juga selalu mengingatkan kita untuk selalu mensedekahkan sebagian kecil dari harta kita, dan mengingatkan kita bahwa pada harta kekayaan kita ada kewajiban yang harus ditunaikan.

Hal demikian juga dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw., sehingga beliau pernah mengatakan bahwa “al-yadul ‘ulya khoirun min yadissufla”, artinya tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Maksudnya bahwa mensedekahkan sebagian harta kita kepada orang lain yang berhak itu lebih baik daripada meminta-minta. Bersedekahlah, berinfaqlah, dan berlomba-lombalah menuju jalan (ridha) Allah sebelum  datang ‘tamu’ yang tidak bisa kita tolak kedatangannya dan tidak akan pernah datang jika diundang tanpa seizin Allah, dialah kematian. Jangan sampai kita menyesal dikemudian hari. Mari kita gunakan dan kita isi hidup ini dengan banyak beramal shaleh.

Sebagai untaian kalimat akhir dari uraian ini, maka baiknya kita simak dan kita pahami firman Allah Swt. dalam surat al-Munafiqun ayat 9-10: “Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi. Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: “Ya Rabb-ku, Mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?” Wa Allahu A’lam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>