Pemulung

ANTARA PEMULUNG DAN AGEN BESI TUA

Oleh: Kutbuddin Aibak )*

Akhir-akhir ini kita seringkali melihat adanya fenomena baru yang dilakukan oleh sebagian anggota masyarakat kita dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Sebuah aktivitas dan kreativitas yang perlu mendapatkan ‘penghargaan’ atas jerih payah mereka dalam berjuang memenuhi kebutuhan ekonomi secara mandiri. Beberapa aktivitas dan kreativitas itu tampak seperti bermunculannya cafe-cafe atau kedai minuman, toko-toko peracangan, semakin maraknya agen penerima besi tua (barang-barang rosokan), dan fenomena pemulung. Dalam kesempatan ini, penulis hanya akan mengulas dua fenomena yang terakhir ini.

Fenomena pemulung misalnya, kita dapat menyaksikan bahwa jumlah mereka semakin banyak dan kreatif. Kalau dulu, pemulung itu identik dengan orang tua baik laki-laki maupun perempuan, sekarang anak-anak atau remaja pun juga tidak mau ketinggalan. Kalau dulu, mereka hanya mencari rosokan di tempat-tempat tertentu di Tempat Pembuangan Akhir (TPA), tapi sekarang mereka telah masuk di lingkungan rumah-rumah penduduk baik di desa maupun di kota. Harapan mereka tidak lain adalah agar mendapat keuntungan yang berlebih.

Namun, seiring dengan waktu dan tuntutan ekonomi yang semakin bertambah, pendapatan mereka dari memulung dirasa tidak mencukupi dan semakin kurang. Hal ini mungkin manusiawi karena semakin mereka mendapatkan keuntungan yang banyak, mereka semakin ingin terus mendapatkan keuntungan yang berlipat dan dapat membeli barang-barang atau kebutuhan yang awalnya tidak pernah bisa dibeli. Akan tetapi, ketika mereka tidak mendapatkan keuntungan sebagaimana yang diinginkan, maka apa yang terjadi? Ternyata, mereka berbelok arah dan mulai berani mengambil barang-barang milik warga atau penduduk yang masih layak pakai. Dan pada tingkatan negatif selanjutnya, mereka mulai berani mengambil barang-barang yang ada di dalam rumah penduduk (mencuri). Pada akhirnya, sasaran mereka tidak hanya barang-barang sederhana, tetapi juga uang dan bahkan barang-barang mewah.

Fenomena negatif yang terakhir inilah yang mungkin menyebabkan masyarakat berlaku kurang baik (baca: marah) kepada mereka (pemulung), sehingga kita tidak jarang menemukan papan di suatu tempat bertuliskan “Pemulung Dilarang Masuk”. Andai para pemulung itu tidak melakukan pencurian, mungkin masyarakat akan berlaku lebih baik kepada mereka dan memasang papan yang bertuliskan “Pemulung Silahkan Duduk”. Artinya, para pemulung bisa diterima penduduk, dan bahkan barang-barang yang sudah tidak mereka pakai akan diberikan kepada para pemulung itu.

Sedangkan kreativitas mereka tampak dalam berbagai cara dalam mengumpulkan atau mencari barang-barang rosokan. Kalau dulu, mereka mencari rosokan dengan membawa sepeda beserta rombong (tempat rosokan) dan berhenti di pinggir jalan atau perempatan lalu memberikan imbalan berupa makanan kecil seperti kerupuk atau hewan seperti keong, atau mainan anak-anak. Seiring berjalannya waktu, saat ini cara tersebut sudah sangat jarang kita jumpai, bahkan mungkin sudah tidak ada. Sekarang, mereka telah menggantinya dengan uang. Artinya rosokan itu dikumpulkan dengan cara membeli dari anggota masyarakat, baik dengan menggunakan sepeda maupun motor.

Demikian juga dengan agen-agen penerima besi tua misalnya, hampir di setiap ruas jalan kita bisa menyaksikan tempat-tempat khusus yang bertuliskan “Terima Besi Tua (Rosokan)”. Agen-agen penerima besi tua ini kelihatannya semakin menjamur. Bagaimana tidak? ‘Profesi’ yang satu ini ternyata tidak begitu membutuhkan modal yang banyak untuk mendatangkan keuntungan yang melimpah. Paling tidak, cukup dengan menyediakan tempat, lalu papan ukuran kecil yang bertuliskan “Di sini Terima Besi Tua (Rosokan)”, dan modal yang sedikit. Dengan sendirinya, para pemulung akan mendatangi agen-agen tersebut, dan tentu dengan harga yang bersaing. Agen yang memberikan harga sedikit lebih tinggi di banding lainnya, tentu akan lebih banyak didatangi para pemulung.

Di era sekarang, agen ini ternyata juga semakin kreatif, mereka tidak hanya cukup diam dan menunggu kedatangan pemulung-pemulung itu, akan tetapi agen-agen itu bergerak/berjalan dengan menggunakan mobil box terbuka, dengan mengunakan pengeras suara plus lagu-lagu sebagai simbol atau tanda agar mudah dipahami oleh masyarakat. Cara kreatif ini dilakukan tidak lain karena pada kenyataannya jumlah agen penerima rosokan itu semakin banyak, siapa yang kreatif tentu mendapat untung yang banyak.

Terlepas dari hal-hal yang negatif, sebenarnya antara pemulung dan agen besi tua memiliki hubungan simbiosis mutualisme (hubungan yang saling menguntungkan). Demikian juga antara pemulung-agen dan masyarakat memiliki hubungan simbiosis mutualisme. Boleh jadi, mereka melakukan hal ini dikarenakan sulitnya mencari pekerjaan. Kalau pun ada pekerjaan, pendapatannya tidak bisa mencukupi kebutuhan keluarga sehari-hari. Tentu hal ini (terutama pemulung) merupakan ‘pekerjaan’ yang lebih baik daripada mereka mencuri atau merampok. Pendapatan mereka pun halal, bukan haram, sehingga makanan yang dimakannya pun merupakan makanan halal karena dihasilkan dari cara yang halal (bukan dengan mengambil barang-barang rosokan yang masih layak pakai atau bahkan didapat dari mencuri).

Di sisi lain, apa yang dilakukan pemulung dan agen besi tua ini mungkin termasuk perbuatan yang terpuji, karena mereka ikut membantu membersihkan lingkungan, menjaga kebersihan lingkungan. Ketika lingkungan bersih, hidup menjadi sehat dan nyaman. Bukankah kebersihan itu sebagian dari iman? Mereka juga termasuk ‘pejuang-pejuang’ yang gigih dalam memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.

Pada akhirnya, kita tidak bisa menafikan bahwa pada kenyataannya para pemulung itu dapat menyekolahkan anak-anaknya sampai jenjang perguruan tinggi, anak-anaknya menjadi anak-anak yang sukses; menjadi kaya raya, hidup serba berkecukupan, memiliki mobil, (boleh jadi) melebihi pendapatan pegawai negeri, dan bahkan tidak sedikit dari mereka yang kemudian melaksanakan rukun Islam kelima yaitu naik haji (ihram).

Akhirnya, bagaimana pun juga menjadi pemulung lebih baik daripada menjadi pencuri. Lebih baik menjadi pemulung daripada menjadi pegawai atau pejabat tetapi korupsi. Kalau kita bisa dan mampu, maka yang lebih baik adalah menjadi pegawai atau pejabat yang benar-benar melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya serta dilandasi dengan rasa ikhlas semata-mata mengharap ridha Allah, sehingga harta yang didapatkan benar-benar halal dan bermanfaat dunia-akhirat. Jadilah pemulung yang taqwa, agen besi tua yang taqwa, pegawai atau pejabat yang taqwa. Jadilah ‘pemulung-pemulung’ ridha Allah. Oleh karena itu, sudah sepatutnya kita harus merenungkan firman Allah dalam surat al-Jumu’ah ayat 10: Apabila Telah ditunaikan shalat, Maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. Wa Allahu A’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>