Waria Juga Manusia

WARIA JUGA MANUSIA

Oleh  Kutbuddin Aibak )*

Dalam ajaran Islam telah ditegaskan bahwa Allah hanya menciptakan manusia dari jenis laki-laki dan perempuan. Laki-laki dengan ciri-ciri khusus kelaki-lakiannya, mulai dari kumis, jakun, jenggot sampai penis dan testis serta sperma. Sedangkan perempuan juga memiliki ciri-ciri khusus sesuai dengan kodratnya, mulai dari payudara, vagina, rahim dan ovum. Jadi, laki-laki dan perempuan sudah jelas dengan ciri khusus organ dalam dan organ luarnya, dan tentu saja keduanya berbeda satu sama lain.

Akan tetapi pada kenyataannya, ada manusia dengan jenis kelamin selain laki-laki dan perempuan. Jumlah mereka ternyata juga tidak sedikit. Namun pada kenyataannya juga, kaum laki-laki dan kaum perempuan normal mengucilkan mereka, tidak mau tahu dengan keberadaan mereka. Dan bahkan kehadirannya dianggap menjadi penyakit masyarakat. Sedemikian hinakah mereka?

Perlu dipahami bahwa manusia dengan jenis kelamin bukan laki-laki dan bukan perempuan, di masyarakat lebih sering dikenal dengan sebutan waria, wandu, banci; yang dalam bahasa agama (fiqih) disebut khuntsa. Mereka menjadi seperti itu tentu ada banyak faktor yang melingkupi dan menyebabkannya. Beberapa faktor itu antara lain hereditas (faktor keturunan) atau bawaan sejak lahir, dan faktor sosial (pendidikan).

Faktor hereditas (bawaan sejak lahir); pada faktor yang pertama ini tentu bukan atas kesalahan yang dilakukan oleh keluarga (orang tua) ataupun lingkungan masyarakat, akan tetapi murni karena sejak lahir memang sudah tidak/kurang normal. Misalnya memiliki alat kelamin ganda; penis dan vagina yang berfungsi kedua-duanya atau salah satunya. Atau memiliki organ tubuh yang bertentangan antara bagian dalam dengan luar. Misalnya memiliki vagina tetapi tidak memiliki rahim, atau memiliki penis tetapi juga memiliki rahim, dan seterusnya. Atas kasus ini, maka solusi yang diberikan kepada mereka tidaklah terlalu sulit, karena bagian organ mana yang kurang sempurna itu disempurnakan melalui operasi; atau ketika organ tubuhnya bertentangan antara dalam dengan luar, maka mana yang lebih dominan itu yang dijadikan pedoman untuk kemudian dilakukan operasi penggantian dalam rangka penyempurnaan. Sehingga jenis kelaminnya menjadi benar-benar jelas, laki-laki atau perempuan.

Akan tetapi, di sisi lain, mereka yang lahir tidak normal jenis/organ kelaminnya (banci alami) bisa mudah mengalami kelainan psikis dan sosial, akibat masyarakat yang tidak memperlakukannya secara wajar, yang pada gilirannya bisa menjerumuskannya ke dalam dunia pelacuran dan menjadi sasaran kaum homo yang sangat berbahaya bagi dirinya dan masyarakat. Sebab perbuatan anal sex (hubungan seks melalui anus) dan oral sex (hubungan seks melalui mulut) yang biasa dilakukan oleh kaum homo bisa menyebabkan terjangkitnya penyakit AIDS yang sangat ganas. Oleh karena itu, untuk mendefinitifkan jenis kelamin mereka, maka harus dilakukan operasi penyempurnaan.

Sedangkan faktor sosial merupakan faktor yang sebenarnya juga tidak bisa dipisahkan dari faktor yang pertama (bawaan lahir). Hal ini disebabkan karena pada kenyataannya ketidak-normalan jenis kelamin menjadikan masyarakat acuh tak acuh, apatis, dan mengucilkan mereka. Apalagi bila hal ini berwujud pada tingkah laku keseharian mereka yang juga tidak normal. Sehingga hal ini berdampak pada kondisi psikis mereka dan menjadi beban berat bagi mereka. Pada akhirnya, mereka mencari pelampiasan untuk berinteraksi dengan orang-orang yang mau menerima keberadaan mereka, dan seringkali yang menerima mereka adalah orang-orang yang sejenis dengan mereka. Hal ini mereka lakukan tidak hanya sebatas interaksi belaka, tetapi juga sampai pada hubungan seksual, homoseksual dan lesbian.

Bila dikaji lebih mendalam, siapa sih mereka itu? Siapa sebenarnya para waria/banci itu? Laki-laki yang berperilaku mirip perempuan atau bagaimana? Kita tidak bisa menafikan bahwa secara fisik, mereka memiliki ukuran tubuh yang sedang atau gemuk, tinggi, seperti layaknya laki-laki tetapi berpenampilan seperti perempuan. Mereka seolah-olah tampak garang dan kuat, tapi suaranya lemah lembut dan mendesah.

Jika jenis kelamin para waria/banci itu benar-benar laki-laki (memiliki penis dan testis) tetapi berperilaku seperti perempuan, maka tidak perlu dilakukan operasi kelamin. Hal yang perlu diberikan kepada mereka adalah pemahaman dan pemahaman, pendidikan mental, moral-spiritual. Pemerintah dan masyarakat harus bekerja sama untuk mendefinitifkan status mereka. Mengidentifikasi mereka, mengumpulkan dan melakukan pembinaan secara intens, sehingga menjadi manusia normal. Pemerintah memberikan fasilitas kepada mereka dalam upaya penyembuhan dengan berbagai kebutuhan yang ada, dan masyarakat turut serta membantu dan memotivasi mereka agar mereka menyadari dan mau berubah. Jangan pernah lagi menganggap mereka sebagai penyakit masyarakat, aib keluarga (masyarakat), dan biang penyakit-penyakit ganas-mematikan.

Apabila kita mau berpikir secara jernih, sebenarnya siapa yang mau ditakdirkan atau dilahirkan dalam kondisi jenis kelamin yang tidak normal, tentu tidak ada satu manusia pun yang mau dilahirkan dalam kondisi seperti itu. Jika mereka menjadi seperti itu karena lingkungan (keluarga/masyarakat), maka keluarga/masyarakat harus benar-benar memahami hakikat jenis kelamin mereka secara proporsional, dan tidak memberikan perlakuan yang bertentangan.

Semoga keberadaan kaum waria/banci bisa lebih diperhatikan dan dipertimbangkan oleh masyarakat luas bahwa mereka juga termasuk warga negara yang hidup di masyarakat yang tidak bisa dinafikan. Tetapi dengan tidak membiarkan mereka melakukan perilaku yang menyimpang secara terus menerus, melainkan membantu mereka untuk kembali ke ‘jalan yang benar’. Mendefinitifkan status atau jenis kelamin mereka, karena hal ini sangat penting dan berlanjut pada kejelasan status-status yang lain, mulai dari status warga negara yang berhak mendapatkan kesamaan perlakuan dalam berbagai bidang, status perkawinan sampai status kewarisan (ahli waris). Lebih dari itu, kaum waria (banci) juga harus menyadari bahwa perilaku mereka bertentangan dengan berbagai norma, baik agama maupun susila. Wa Allahu A’lam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>