Teroris Intelektual

TERORIS INTELEKTUAL

Oleh: Kutbuddin Aibak )*

Dalam buku Conference of the Book (2001), Guru Besar Hukum Islam University of California Los Angeles, Khaled M. Abou El Fadl menyatakan bahwa teroris intelektual adalah pemeras emosi. Teroris-teroris ini yang kerap kali bersikap diskriminatif terhadap ras, jenis kelamin, kelas, atau fanatik dalam beragama, dan menggunakan bahasa teror. Teroris intelektual ini sama kejinya dengan teroris yang menggunakan kekerasan.

***

Konon, bangsa kita —tidak bisa dipungkiri— sebagai bangsa yang mengedepankan nilai-nilai luhur yang diwariskan nenek moyang, dan kebanyakan adalah nilai-nilai yang positif yang tidak bertentangan dengan agama Islam. Akan tetapi, mengapa sekarang nilai-nilai itu mulai luntur? Bahkan predikat-predikat negatif mulai dilekatkan pada bangsa ini, mulai dari negeri/bangsa yang terbelakang, korup sampai pada teroris.

Terkait issu (predikat) yang terakhir (teroris), kita benar-benar tidak habis pikir, bangsa yang mayoritas penduduknya beragama Islam, ternyata kasus-kasus teroris terjadi dimana-mana. Kita bisa menyaksikan beberapa tahun terakhir ini, dalam setiap hari dan minggunya, kehidupan masyarakat Indonesia dipenuhi dengan berbagai informasi tentang terorisme. Informasi-informasi tentang terorisme itu ditayangkan oleh semua stasiun televisi (media elektronik) dan media cetak; baik informasi-informasi yang dikemas dalam sebuah berita atau liputan maupun informasi-informasi dari mulut ke mulut. Pendek kata, tiada hari tanpa informasi terorisme. Sampai sekarang perburuan terhadap mereka yang terlibat jaringan teroris terus dilakukan.

Informasi-informasi terorisme ini didengar, dilihat, dan diperbincangkan oleh hampir semua kalangan/golongan, dari anak-anak hingga orang tua. Termasuk perbincangan secara ilmiah yang dimuat dalam berbagai media cetak. Akal pikiran atau nalar masyarakat Indonesia sudah penuh dengan hal-hal yang terkait dengan terorisme. Sampai-sampai mereka sepakat untuk memunculkan satu statemen bahwa teroris itu adalah mereka yang melakukan kekerasan dengan cara melakukan pengeboman (bom bunuh diri).

Statemen tersebut mungkin benar, dan tidak ada salahnya; akan tetapi bila kita mencermati secara mendasar, maka akan kita temukan bentuk teroris yang lain, yang mungkin memiliki akibat yang sama seriusnya. Satu bentuk teroris yang mungkin kita tidak pernah menganggapnya teroris, dan bahkan tidak pernah tersirat sedikit pun dalam pikiran kita. Satu bentuk teroris ini adalah teroris intelektual.

Terminologi Teoris Intelektual

Secara sepintas, mungkin kita beranggapan bahwa pernyataan Abou El Fadl tersebut tidak berdasar sama sekali. Karena pada kenyataannya, yang dinamakan teroris adalah mereka yang selalu menggunakan kekerasan dalam menyampaikan sesuatu. Lebih khusus lagi, merujuk kepada berbagai kasus yang ada di negari kita, yang dinamakan teroris adalah mereka yang melakukan pengeboman di berbagai tempat (bom bunuh diri); mulai dari bom Bali, Jakarta dan tempat-tempat lain yang tidak hanya terjadi sekali.

Akan tetapi, apabila kita menelaah lebih serius dan mendalam, kita mungkin akan bersuara serempak bahwa apa yang dikatakan Abou El Fadl adalah benar dan cukup berdasar. Hal ini dikarenakan menurut sifatnya, teror adalah penghentian penggunaan nalar, dan tidak adanya keseimbangan nalar, dan dengan sendirinya berarti musyawarah itu terhenti. Selain itu, juga karena menurut esensinya, kemampuan untuk bernalar berarti kemampuan untuk memahami dan membedakan.

Kalau kita menengok jauh ke belakang, yaitu Islam pada masa klasik, maka kita akan menemukan berbagai ragam perbedaan pendapat (misalnya di bidang fiqh/hukum Islam adanya berbagai mazhab) sungguh benar-benar ada dan itu dihargai. Dinamika perbedaan faham keagamaan sungguh luar biasa, dan hal ini juga yang menyebabkan Islam sampai pada kejayaan atau keemasannya. Jargon ikhtilafu ummati rahmatun (bahwa perbedaan pendapat di antara umatku itu adalah rahmat), yang konon itu adalah hadis Nabi, benar-benar hidup dan dirasakan keharmonisannya.

Akan tetapi, setelah masa itu sampai sekarang, perbedaan-perbedaan yang ada sudah dianggap bukan merupakan rahmat lagi, melainkan seolah-olah sebagai sebuah bencana atau sumber konflik. Apalagi jika ada pihak-pihak tertentu yang ikut campur di dalamnya, maka eksistensi perbedaan-perbedaan itu semakin ‘membahayakan’. Lebih nampak atas hal ini adalah fenomena pluralitas yang ada di negeri ini, Indonesia.

Pluralitas yang dimiliki oleh bangsa kita sebenarnya memang merupakan kekayaan tersendiri yang perlu dijaga dan dilestarikan serta dibanggakan. Akan tetapi, beberapa tahun terakhir ini pluralitas itu seolah-olah sirna. Karena berbagai perbedaan yang ada dan yang mungkin baru bermunculan harus ‘dipeti-eskan’, harus dikubur untuk selama-lamanya. Kebebasan berpikir, mengemukakan berpendapat di depan umum, perbedaan keyakinan dan sebagainya dibatasi, kalau tidak boleh dikatakan dilarang, bahkan sampai dihukumi haram.

Kita Teroris Intelektual?

Sebagaimana kita ketahui bersama, bahwa pluralitas bangsa kita terdapat dalam berbagai hal; mulai dari suku, bahasa, agama/keyakinan, budaya, adat istiadat, dan sebagainya, termasuk juga pendidikan. Hal ini merupakan keniscayaan dan sekaligus sebagai sunnatullah yang tidak bisa dihindari.

Keberagaman kebudayaan bangsa kita merupakan anugerah Tuhan Yang Maha Esa, yang harus disyukuri dan dilestarikan. Jangan sampai keberagaman (pluralitas) ini menjadi benih-benih konflik di antara sesama penduduk Indonesia, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana kita menyikapinya sebagai elemen-elemen yang mempersatukan kita dan memperkuat persatuan bangsa Indonesia.

Sekian banyak pluralitas yang ada pada bangsa ini jangan sampai sirna oleh paradigma, nalar maupun sikap-sikap yang membatasi kebebasannya dalam berkreasi. Musyawarah (negosiasi) mufakat harus selalu dikedepankan, ketika terjadi perbedaan pendapat. Demikian juga perbedaan-perbedaan yang terjadi pada pluralitas yang lainnya. Dalam hal ini sikap inklusif harus selalu dikedepankan dalam berbagai pluralitas, jika kita ingin menjaga kebebasan dalam berkreasi, baik dalam wacana, paradigma, kebijakan maupun dalam bentuk perilaku. Tentunya, kebebasan dalam berkreasi dan dalam menjaga pluralitas ini harus dilandasi dengan moralitas yang tinggi.

Sikap-sikap inklusif-pluralis dalam hidup keberagaman harus selalu dijaga, baik dalam bidang agama/kepercayaan, adat-istiadat, pendidikan/kebudayaan maupun berbagai bidang kehidupan lainnya. Apabila tidak bisa demikian, maka pembatasan keunikan dan keberagaman budaya, agama dan lain-lain juga merupakan bentuk teroris. Dan ingat, bahwa terorisme merupakan bentuk yang sama sekali tidak berbudaya. Dengan demikian, kalau kita merujuk pada pendapat Abou El Fadl, maka jelas bahwa sikap-sikap anti pluralitas juga merupakan teroris intelektual. Wa Allahu A’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>