Haji: Ibadah Personal dan Sosial

HAJI:
ANTARA IBADAH PERSONAL DAN SOSIAL
Oleh Kutbuddin Aibak )*

Haji merupakan rukun Islam yang kelima; ritual ibadah yang wajib dilakukan oleh setiap umat Islam yang sudah mampu. Maksud mampu dalam hal ini tidak hanya mampu dalam hal materi (biaya) semata, tetapi juga mampu dalam hal jasmani maupun rohani/psikis. Ibadah ini sedikit berbeda dengan ibadah-ibadah lainnya, ibadah yang membutuhkan totalitas diri, ibadah yang tidak bisa dilaksanakan kecuali hanya di ‘Rumah Allah’ (Baitullah).
Sebagai ibadah jasmaniah-maliyah-ruhiyah, haji tidak hanya membutuhkan adanya jasmani yang sehat, tetapi juga membutuhkan biaya yang tidak sedikit dan rohani yang sehat/matang pula. Memang syarat mampu dalam melaksanakan ibadah haji ini adalah mampu dalam hal biaya; artinya bagi siapa saja yang sudah mempunyai biaya yang cukup maka dia wajib melaksanakan ibadah haji, dan bahkan dalam pelaksanaannya tidak bisa ditunda lagi. Penundaan secara sengaja atas ibadah ini selain berdosa juga seringkali menyebabkan hal-hal negatif yang tidak diinginkan, dan kadang-kadang di luar keampuan manusia.
Akan tetapi, pada perkembangannya mampu dalam hal biaya masih terdapat unsur lain yang perlu dipertimbangkan lagi. Unsur lain yang perlu dipertimbangkan lagi tersebut misalnya kesehatan fisik, dan termasuk kesehatan jiwa (psikis). Artinya, kewajiban melakukan ibadah haji tersebut bisa ditunda apabila orang yang akan melakukan ibadah haji menderita sakit parah, sehingga harus menunggu kesembuhannya terlebih dahulu. Demikian juga ketika seseorang sudah berkewajiban melakukan ibadah haji, tetapi kondisi jiwa (psikis)nya kurang normal, maka boleh jadi penundaan atas ibadahnya merupakan langkah yang tidak perlu disalahkan. Walaupun pada kenyataannya, tidak sedikit dari calon jamaah haji yang nekat berangkat dengan kondisi fisik yang kurang memungkinkan. Hal demikian bisa saja terjadi ketika calon jamaah haji memiliki niat (kemauan) yang kuat dan yakin atas kekuasaan Allah SWT.
Lebih dari itu, sebenarnya ada sebuah fenomena yang perlu dipertimbangkan dan perlu mendapatkan perhatian, khususnya oleh orang-orang yang akan dan sudah melaksanakan ibadah haji. Fenomena tersebut adalah kemiskinan dan keterbelakangan. Hal ini menjadi sangat penting, karena pada kenyataannya orang-orang yang memiliki kepedulian sosial (sense of social) terhadap masyarakat miskin ini masih belum banyak. Kebanyakan masyarakat kita tidak mau tahu dengan kondisi lingkungan sekitarnya; bagaimana kondisi tetangga sekitar dan masyarakat sekitarnya. Apa yang dimaksud dalam uraian ini adalah bagaimana kita bisa mengedepankan dimensi-dimensi sosial yang pada kenyataannya kadang-kadang jauh lebih penting dibanding dengan ibadah mahdhah.
Sebagaimana dalam pelaksanaan ibadah haji, hal yang perlu dipertimbangkan dan mendapatkan perhatian adalah bagaimana perasaan (komitmen) kita terhadap masyarakat miskin, apakah ibadah haji memang kebutuhan yang sangat mendesak, apakah tidak lebih baik ketika kita lebih mementingkan masyarakat miskin di sekitar kita, karena banyak sekali masyarakat miskin yang membutuhkan uluran tangan kita. Artinya kita bisa saja menunda keberangkatan untuk melaksanakan ibadah haji, karena faktor sosial yang seringkali jauh lebih penting. Pertanyaan sederhana yang perlu dimunculkan adalah untuk apa kita melaksanakan ibadah haji sedang tetangga kita dalam keadaan kesusahan dan kelaparan, masyarakat sekitar kita sedang kesulitan ekonomi dan lain sebagainya. Apakah tidak lebih baik menunda ibadah haji karena alasan sosial yang jauh lebih penting. Dan sederetan pertanyaan atau pertimbangan lainnya yang perlu dikedepankan. Karena ibadah haji adalah ibadah individual (personal), sedangkan membantu masyarakat miskin adalah ibadah sosial.
Lebih parah lagi jika orang yang melaksanakan ibadah haji adalah orang yang sudah pernah melakukan ibadah haji. Artinya ada seseorang yang melaksanakan ibadah haji lebih dari satu kali. Dalam pandangan kita, mungkin ibadah haji yang dilakukan oleh orang yang seperti ini —yang lebih dari satu— adalah ibadah haji yang ‘sia-sia’. Alasannya sederhana saja, karena mengapa atau untuk apa melakukan ibadah haji lebih dari satu kali, padahal di saat yang sama seseorang itu masih belum bisa memperbaiki akhlak-moralnya, masih sering melakukan hal-hal yang tidak semestinya dilakukan oleh seseorang yang telah melakukan ibadah haji. Lebih dari itu, dan mungkin ini yang lebih penting, bahwa banyak orang-orang miskin di sekitarnya yang membutuhkan ‘bunga-bunga sosial’ mereka. Jangankan ibadah haji yang kedua, ketiga dan seterusnya, ibadah haji pertama yang kemudian dibatalkan karena alasan sosial-kemasyarakatan mungkin akan dipandang oleh Allah sebagai ibadah yang lebih baik dan memiliki atau mendapatkan pahala yang sama dengan orang yang telah melakukan ibadah haji. Dan bahkan mungkin dia akan dicatat oleh Allah sebagai orang yang benar-benar melakukan ibadah haji. Bukankah hal ini merupakan sesuatu hal yang mungkin saja terjadi di ‘mata’ Allah. Dalam hal ini, lain dan tidak adalah bagaimana sebenarnya kita dapat lebih mengedepankan dimensi-dimensi (kepentingan) sosial (sense of social) di atas kepentingan dan ambisi pribadi (individual). Semoga para jama’ah haji tahun ini benar-benar menjadi haji mabrur dan masyarakat sekitar dapat merasakan serta menikmati kemabrurannya, Amin. Labbaik Allahumma Labbaik. Wa Allahu A’lam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>