Inikah Islam (Kita)?

INIKAH ISLAM (KITA)?

Oleh  Kutbuddin Aibak )*

Sekitar satu tahun yang lalu, dunia Islam di negeri ini kembali ternodai oleh aksi-aksi beberapa pihak yang tidak mengindahkan kemajemukan atau keberagaman dalam beragama. Aksi ini mereka lancarkan pada saat seseorang akan dan sedang mendiskusikan pemikiran-pemikirannya dengan beberapa elemen masyarakat terpelajar Indonesia. Tak pelak, pada akhirnya diskusi yang sedang digelar pun bubar, dan rencana-rencana diskusi yang lain pun juga dibatalkan. Fenonema yang terkait dengan hal ini tidak lain adalah keberadaan Irshad Manji.

Irshad Manji merupakan seorang feminis teolog asal Kanada yang menulis buku “Beriman Tanpa Rasa Takut” dan “Allah, Liberty and Love yang ditolak oleh beberapa kelompok anti dialog dan pro kekerasan, baik di Jakarta, Solo maupun Yogyakarta. Di Yogyakarta (9 Mei), pada saat Irshad Manji diskusi dengan LKiS (Lembaga Kajian Islam dan Sosial) tiba-tiba dibubarkan oleh ormas Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), bahkan sampai melakukan pengrusakan. Demikian juga rencana diskusi yang akan digelar di UIN Sunan Kalijaga dan CRCS (Center for Religious and Cross-Cultural Studies) Universitas Gajah Mada juga dibatalkan.

Alasan utama atas penolakan tersebut karena aspek personal Irshad Manji sendiri, yaitu bahwa dia adalah seorang lesbi. Memang dia beragama Islam, akan tetapi karena sebagai lesbian maka pada akhirnya beberapa elemen masyarakat kita menolak kehadirannya. Seperti inikah Islam yang dianut oleh mayoritas penduduk Indonesia ini? Begitu kaku, rigit, dan tertutupkah pemahaman Islam mereka sehingga tidak menerima sekian banyak perbedaan yang ada? Pada umumnya, bukankah yang ditolak itu adalah pemikiran-pemikiran seseorang dengan berbagai praktek dan implikasinya? Akan tetapi, kenapa penolakan yang mereka lancarkan itu berdasar atas aspek personal-individual belaka? Dan seabrek pertanyaan-pertanyaan lainnya yang tidak akan terjawab oleh seseorang yang terpatri pada golongan yang eksklusif dan anti pluralisme.

Islam: Saya, Anda, Kita atau Siapa?

Pada hakikatnya, agama Islam memiliki ajaran-ajaran yang universal. Ajaran-ajarannya tidak hanya dikhususkan bagi umat Islam saja, akan tetapi lebih luas dari itu, Islam untuk alam semesta, Islam untuk seluruh umat manusia. Universalitas ajaran-ajaran Islam dapat ditelaah dari sekian banyak dan semua aspek kehidupan manusia; mulai dari aspek akidah, ibadah, akhlak, ekonomi, sosial, pendidikan, kebudayaan, dan sebagainya, termasuk hubungan antara manusia dengan manusia lainnya, dan dengan alam semesta.

Pada kenyataannya, sebagai sesuatu yang tidak bisa dielakkan dan dinafikan bahwa berdasar atas keyakinan dan pemahaman seseorang atas ajaran agama yang diyakininya, maka muncullah sekian banyak pemahaman dan seabrek perbedaan yang pada akhirnya keragaman dalam keberagamaan itu tidak hanya berwujud pada keyakinan secara individual, tetapi juga secara kolektif-massal, serta berwujud pada aspek praktisnya, mulai dari norma-norma, perilaku keseharian dan ritual peribadatan.

Bahkan, perbedaan-perbedaan itu pada akhirnya juga memunculkan sikap-sikap fanatis, sikap-sikap yang meyakini kebenaran atas apa yang ada pada dirinya sendiri dan kelompoknya, dengan mengesampingkan kebenaran orang lain dan kelompok lain. Lebih fatal lagi, mereka mengkafirkan kelompok atau golongan yang tidak sepaham dengan mereka. Sungguh sebuah fenomena yang amat sangat jauh dari nilai-nilai Islam itu sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>