Khutbah Jum’at

KHUTBAH JUM’AT:

Antara Pesan Sosial-Religius dan Pengantar Tidur

Oleh: Kutbuddin Aibak )*

Shalat berjamaah memang lebih baik dan lebih utama daripada shalat sendiri, karena shalat berjamaah selain mendapatkan keutamaan (pahala) yang berlipat-lipat sebagaimana digambarkan dalam hadits Rasulullah Saw.: shalat jama’a afdhal min shalat al-fardi bi sab’atin wa ‘isyrina darajah, shalat jamaah juga dapat mendatangkan sekian banyak efek dimensi sosial. Misalnya bahwa dalam shalat berjamaah tidak ada unsur perbedaan, antara kaya dengan miskin, pejabat dengan rakyat, kiai dengan orang awam dan seterusnya, karena pada waktu shalat semuanya di mata Allah sama, mereka menempati shaf (baris) yang sama. Walaupun demikian, kenyataannya di masyarakat masih sangat kurang kesadarannya atas shalat berjamaah ini. Bahkan sampai muncul sebuah asumsi, bahwa jangankan shalat berjamaah, shalat sendiri saja kadang-kadang, dan itu pun kalau ingat.

Kalau pada umumnya, shalat dengan berjamaah itu tidak wajib, maka terdapat satu macam shalat yang harus (wajib) dilaksanakan secara berjamaah, tidak boleh tidak. Shalat tersebut adalah ibadah shalat jum’at, terlepas adanya perbedaan pendapat dan prakteknya, yaitu adanya golongan yang memakai dua adzan dan ada yang hanya adzan satu kali. Termasuk dalam rangkaian shalat jum’at adalah khutbah, khutbah sebanyak dua kali. Khutbah ini dilakukan sebelum shalat jum’at didirikan, berbeda dengan shalat idul fitri maupun idul adha yang dilaksanakan setelah shalat ‘id. Ada sebuah fenomena yang perlu dicermati terkait dengan khutbah jum’at ini.

 Antara Pesan Sosial-Religius dan Pengantar Tidur

Semua umat Islam harus mengikuti khutbah jum’at, karena khutbah jum’at merupakan rukun shalat jum’at. Sehingga bagi seseorang yang tidak punya ‘udzur, maka tidak diperbolehkan meninggalkan khutbah ini. Walaupun pada kenyataannya seringkali masyarakat awam lebih senang berangkat shalat jum’at menjelang shalat itu mau dilaksanakan, sehingga pada saat khutbah kedua mereka baru datang.

Pada keadaan yang hampir sama juga dialami oleh jamaah shalat jum’at yang datang terlebih dahulu. Seringkali dan mungkin dapat dipastikan bahwa setiap jum’at dan setiap khutbah disampaikan terdapat orang-orang yang lebih enjoy ngomong (berbincang-bincang) dengan jamaah lainnya. Padahal ketika khutbah disampaikan para jamaah shalat jum’at dilarang untuk berbincang-bincang. Lebih ironis lagi, sebenarnya mereka juga sudah tahu dan mengerti kalau dilarang berbicara pada saat khutbah dibacakan, tetapi mereka tidak mau tahu dan tetap asyik berbincang-bincang. Seringkali juga mereka adalah orang-orang awam, walaupun juga tidak sedikit diantara mereka adalah orang-orang yang mengerti ajaran Islam (bukan awam). Kalau yang berbincang-bincang itu adalah anak kecil tentu tidak menjadi masalah, tetapi mereka adalah remaja, pemuda, dan bahkan orang dewasa. Selama khutbah dilaksanakan, mereka tetap saja ‘khutbah’ sendiri dengan teman-temannya. Bahkan andaikan khutbah itu tidak ada akhirnya, maka mungkin mereka juga berbincang-bincang, ngobrol terus menerus sampai shalat jum’at dilaksanakan. Pada akhirnya, bagi mereka keberadaan khutbah tidak pernah dihiraukan, ada khutbah atau tidak adalah sama saja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>