Khutbah Jum’at

Fenomena lain yang juga hampir sama adalah bergesernya eksistensi dan esensi khutbah jum’at dari tuntunan menjadi tontonan. Kalau beberapa puluh tahun yang lalu, khutbah jum’at merupakan wahana yang cukup tepat untuk mensyiarkan ajaran Islam, nilai-nilai moral Islam yang dapat dijadikan sebagai tuntunan dan pedoman hidup; maka sekarang syiar itu telah dan hanya menjadi tontonan belaka, bak sinetron atau film yang ditayangkan di televisi. Pesan-pesan rohaniah-duniawi-ukhrawi tidak pernah digubris, tidak pernah diperhatikan, apalagi dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari. Apa yang mereka dengar dalam khutbah hanyalah sekadarnya saja, selesai khutbah hilanglah pesan-pesan itu. Ibarat pesan yang masuk lewat telinga kanan, tetapi pada saat yang sama keluar melalui telinga kiri, begitu seterusnya. Hal yang tidak jauh berbeda juga terjadi dalam dakwah Islamiyah, baik pengajian, tabligh akbar maupun forum-forum lainnya. Oleh karena itu mereka (yang termasuk orang ‘awam’) kalau tidak datang belakangan, datang lebih awal tetapi sesampainya di masjid mereka asyik ngobrol dengan jamaah lainnya.

Lebih dari itu, dalam khutbah jum’at juga didapati fenomena lain yang memiliki persamaan dengan fenomena-fenomena di atas. Fenomena dimaksud adalah adanya jamaah shalat jum’at yang tidur pada saat khutbah disampaikan. Terlepas apakah tidurnya disengaja atau tidak disengaja, yang jelas mereka tidur dalam posisi duduk bersila. Pada kenyataannya, jumlah orang yang tidur pada saat khutbah disampaikan tidaklah sedikit, lalu untuk apa mereka datang kalau kemudian tidur dan tidak mendengarkan khutbah yang disampaikan oleh khatib. Kondisi dan keadaan seperti ini pada akhirnya juga menyebabkan tidak pernah tersampaikannya pesan-pesan ukhrawi, sehingga ada khutbah setiap seminggu sekali atau tidak adalah sama saja, tidak ada fungsi dan gunanya. Yang lebih ironis lagi adalah ketika selesai shalat jum’at, apabila mereka ditanya tentang apa yang disampaikan khatib dalam khutbah jum’at, mereka mungkin akan menjawab tidak tahu sama sekali. Belum lagi, apabila khutbah yang disampaikan itu terlalu panjang, sehingga para jamaah yang tidur semakin nyenyak (pulas) dan yang tidak tidur mungkin tambah nggrundel. Karena tidak bisa dipungkiri, masyarakat kita, awam khususnya adalah masyarakat yang senang terhadap khutbah yang pendek-pendek, cepat selesai dan segera pulang.

Ketika khutbah selesai dan shalat jum’at selesai dilaksanakan, ternyata memang benar, mereka tidak jarang langsung pulang, lamcling (salam langsung plencing). Mereka tidak mengikuti ritual ibadah selanjutnya, yaitu wiridan dan berdoa bersama-sama. Padahal bisa jadi ketika sampai di rumah mereka juga akan tidur lagi. Bagi mereka yang bekerja, mereka sesegera mungkin berangkat untuk bekerja, seolah-olah ibadah shalat jum’at adalah ibadah yang mengganggu aktivitas mereka dalam bekerja, dan seterusnya. Fenomena-fenomena seperti inilah yang terjadi di masyarakat kita, dan semestinya kita sadar dan menyadarkan mereka yang belum mengerti, agar mau melaksanakan perintah agama secara lebih tekun dan istiqamah. Karena bagaimana pun juga, fenomena seperti ini merupakan salah satu dari sekian banyak faktor yang ikut menyebabkan umat Islam sulit untuk maju. Wa Allahu A’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>