Monthly Archives: December 2013

Zakat dan Pajak

ZAKAT DAN PAJAK

Oleh: Kutbuddin Aibak )*

Pada tanggal 1 Juli 2011 lalu, Harian Jawa Pos Radar Tulungagung telah memberitakan bahwa kesadaran masyarakat Tulungagung untuk membayar pajak belum maksimal. Terbukti masih ada delapan (8) kecamatan yang pembayaran pajaknya belum terpenuhi 100%, yaitu kecamatan Kedungwaru, Tulungagung, Kauman, Boyolangu, Ngunut, Rejotangan, Pucanglaban dan Campurdarat. Atau sekitar 8,6% masyarakat Tulungagung yang belum taat membayar pajak. Hal ini tentu saja tidak bisa dibiarkan begitu saja, karena boleh jadi di daerah/kabupaten lain juga masih ada yang belum taat membayar pajak. Atas dasar fenomena tersebut, maka penulis berinisiatif untuk memberikan sumbangsih pemikiran atas problem tersebut melalui tulisan ini.

Sebagaimana kita pahami bersama, Islam mengajarkan bahwa harta kekayaan itu bukan merupakan tujuan hidup, tetapi sebagai wasilah untuk saling memberi manfaat dan memenuhi kebutuhan. Bagi orang yang berwawasan demikian, maka harta kekayaannya akan membawa kebaikan bagi dirinya maupun bagi masyarakat, dan sebaliknya bagi orang yang memandang harta kekayaan sebagai tujuan hidupnya dan sebagai sumber kenikmatannya, maka akan berubah menjadi inti syahwat yang berimplikasi merusak dan membuka berbagai kemungkinan penderitaan.

Ajaran Islam tidak menyukai adanya penumpukan kekayaan (taksid al-amwal) hanya terpusat pada beberapa gelintir orang saja dalam suatu masyarakat, karena akan melahirkan pola kehidupan mewah pada sekelompok kecil, juga dapat mendorong timbulnya penindasan dan penderitaan. Oleh karena itu, sebagai makhluk sosial, manusia (umat Islam) harus mengeluarkan atau memberikan sebagian harta kekayaannya —ketika sudah mencapai satu nishab— kepada mereka yang berhak (mustahiq), sebagai pelaksanaan atas perintah Allah.

Bukan Tiban, Tapi Istisqa’

BUKAN TIBAN, TAPI SHALAT ISTISQA’

Oleh  Kutbuddin Aibak )*

Ada sebuah fenomena di masyarakat Jawa yang perlu mendapatkan perhatian serius. Fenomena itu tidak lain adalah tradisi tiban. Tradisi ini digelar pada saat terjadinya kemarau panjang, yang menyebabkan banyak lahan yang mengalami kekeringan, tanaman tumbuh tidak sehat dan bahkan mati.

Dalam prakteknya, tradisi tiban ini dilakukan oleh belasan lelaki dewasa yang saling menyabet. Luka bekas sabetan sampai berdarah di punggung seolah tidak dirasakan. Mereka terus saja saling menyabet, sampai ada orang dewasa lainnya yang memisahkan. Inilah kesenian tradisional tiban.

Sebagai contoh di salah satu desa di Kabupaten Tulungagung, dalam pelaksanaannya, tradisi tiban digelar pada pukul 13.00 hingga sore hari. Dengan bergantian para peserta tiban maju ke tengah arena. Setelah melepaskan baju, mereka lantas menerima pecut dari lidi yang diambil dari pohon aren. Dengan iringan musik tradisional, para peserta tiban berlaga di arena. Di sana menunggu musuh yang masih bertahan dari sabetan lawan sebelumnya.

Dalam tradisi ini, masing-masing peserta mendapat kesempatan untuk menyabet. Beberapa sabetan yang tidak bisa ditangkis, akhirnya mengenai punggung. Beberapa dari luka sabetan tadi mengeluarkan darah. Meskipun demikian, mereka tak lantas mundur, peserta masih saja terus menari dan siap membalas menyabet. Sabet menyabet antara satu pihak dengan pihak lainnya ini dilakukan secara bergantian. Kalau sabetan seseorang tidak bisa mengenai lawan atau bisa ditangkis, maka dia tidak boleh mengulanginya. Setelah suasana semakin panas, keduanya lantas dipisah.

Zakat Fitrah: Konsumtif ke Produktif

ZAKAT FITRAH: Dari Konsumtif ke Produktif

Oleh: Kutbuddin Aibak *)

Sudah menjadi rahasia umum bahwa di bulan Ramadan selain diwajibkan melaksanakan ibadah puasa, umat Islam juga diwajibkan membayar atau mengeluarkan zakat fitrah. Karena mengeluarkan (membayar) zakat itu termasuk rukun Islam yang harus ditunaikan. Secara khusus, zakat fitrah hanya dikeluarkan pada waktu bulan Ramadan, dimana waktu yang paling utama adalah setelah terbenamnya matahari di akhir Ramadan sampai sebelum dilaksanakan shalat ‘idul fitri.

Apabila kita mencermati bagaimana pelaksanaan pembayaran zakat di masa klasik, mulai masa Nabi Muhammad Saw. sampai Khulafaur Rasyidun, zakat benar-benar menjadi ujung tombak kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat Islam. Hal ini terus berlanjut sampai pada masa Tabiin. Umat Islam yang kurang mampu benar-benar diperhatikan dan kesejahteraannya terpenuhi.

Kenyataan itu bisa kita kritisi dari peristiwa yang terjadi pada masa Khalifah yang pertama, Abu Bakar ash-Shiddiq r.a. Pada masa Khalifah yang pertama ini, disebabkan karena meninggalnya Rasulullah Saw., maka tidak sedikit umat Islam yang murtad, keluar dari Islam dan orang-orang yang enggan membayar zakat. Apa yang terjadi atas mereka? Kebijakan apa yang ditempuh oleh Khalifah Abu Bakar? Tidak lain bahwa Khalifah memerangi mereka, karena orang yang enggan membayar zakat sama dengan orang murtad. Sungguh sedemikian penting keberadaan zakat dalam Islam.

Hal tersebut juga bisa kita cermati dari keadaan masyarakat Islam di bawah kepemimpinan Khalifah Umar ibn Abdul Aziz. Keberadaan masyarakat Islam di bawah kepemimpinan beliau benar-benar sejahtera dan makmur berkat optimalisasi zakat. Pada masa ini saking sejahtera masyarakatnya, sampai-sampai Khalifah mentasarufkan zakat yang ada ke luar negeri, di luar wilayah kekuasaan Khalifah. Penunaian zakat tidak hanya untuk kesejahteraan masyarakat, akan tetapi juga untuk negara.

Zakat: Ibadah Sosial dan Religius

ZAKAT:

ANTARA IBADAH SOSIAL DAN RELIGIUS

Oleh: Kutbuddin Aibak *)

 Islam mengajarkan kepada umat manusia agar dalam hidup dan kehidupannya dapat menjaga keseimbangan, keserasian dan keharmonisan dalam berbagai bidang kehidupan. Menjaga keserasian dan keseimbangan aspek jasmaniah dan rohaniah, material spiritual, aspek individual dan sosial, serta aspek duniawi dan ukhrawi. Keseimbangan, keserasian dan keharmonisan yang harus dijaga dalam berbagai aspek kehidupan ini tidak lain dalam rangka menciptakan kebahagiaan dan kesejahteraan hidup manusia.

Apalagi umat Islam, orang-orang yang telah memeluk agama Islam, menjadikan Islam sebagai way of life, maka tentu sudah menjadi keharusan bagi mereka untuk menjaga keseimbangan dan keserasian aspek-aspek kehidupan tersebut. Orang-orang yang belum berhasil atau tidak mau menjaga keseimbangan, tentu adalah orang-orang yang akan merugi dalam hidup dan kehidupannya, baik di dunia maupun di akhirat.

Secara khusus, bentuk keseimbangan dan keserasian yang harus dijaga oleh umat Islam dalam uraian ini adalah hubungan antara manusia dengan Allah dan dengan sesama manusia. Dalam hal ini sebagai suatu ibadah yang berdimensi sosial dan yang harus dijaga dalam rangka menyeimbangkan hubungan dengan sesama manusia adalah penunaian (pembayaran) zakat. Zakat sebagai praktek ibadah sosial merupakan salah satu bentuk ibadah yang harus ditunaikan oleh umat Islam, dan termasuk salah satu rukun Islam.

Sebagai salah satu pondasi ajaran Islam, zakat merupakan kewajiban yang harus dikeluarkan oleh umat Islam yang telah memenuhi persyaratan-persyaratan tertentu. Kewajiban mengeluarkan zakat ini tidak hanya terbatas pada zakat jiwa (zakat fitrah) saja, tetapi juga zakat mal (harta benda) termasuk zakat profesi.. Dalam hal ini, kesadaran untuk menumbuhkan jiwa sosial-religius sangat penting dan perlu dikedepankan oleh semua umat Islam. Sehingga pada akhirnya diharapkan bentuk-bentuk kesenjangan sosial yang selama ini dirasakan oleh umat Islam akan dengan sendirinya terhapus.