Zakat: Ibadah Sosial dan Religius

Pada kenyataannya menumbuhkan sikap dan jiwa sosial-religius ini tidak mudah, cukup sulit dan membutuhkan waktu dalam prosesnya. Bisa saja kesadaran ini muncul secara instan, tetapi kesadaran yang instan ini tentu tidak akan berjalan lama. Mereka sadar pada saat suatu waktu, tetapi di waktu yang lain dan dalam waktu yang relatif lama, mereka sudah dan mudah melupakannya. Sehingga perlu di-manage agar kesadaran sosial-religius ini berjalan dan bertahan dalam waktu yang lama dan bahkan seterusnya.

Menumbuhkan sikap sosial-religius kepada masyarakat bahwa menunaikan zakat dalam bentuk apapun dan atas apa pun merupakan perintah Allah dan kewajiban manusia sebagai makhluk Tuhan dan makhluk sosial. Dan bahkan bila perlu dibentuk semacam kontrak sosial diantara sesama mereka, sehingga kesenjangan-kesenjangan dan sekat-sekat sosial dapat diminimalisir. Dan lambat laun masyarakat ekonomi kebawah, fakir miskin dan anak-anak terlantar dapat terangkat derajat ekonomi dan status sosialnya. Tetapi hal ini bukanlah merupakan hal yang mudah.

Sebenarnya kalau dicermati tidak hanya zakat yang merupakan ibadah sosial-religius, tetapi masih banyak bentuk-bentuk sosial-religius lainnya, seperti infaq, shadaqah, hadiah atau pun bentuk-bentuk pemberian lain yang selalu mengedepankan sisi sosial-religiusnya. Dengan kata lain, dalam bentuk ibadah mahdhah (wajib), zakat memang harus dikeluarkan bagi orang yang mampu dan telah memenuhi persyaratan, dan ini menjadi kunci kesuksesan sosial seseorang dalam dimensi kehidupan sosial lainnya. Artinya, ketika seseorang memiliki kesadaran yang tinggi atas kewajiban menunaikan zakat, maka ibadah-ibadah sosial lainnya yang termasuk dalam kategori sunnah akan dengan sendirinya mengikuti kesadaran itu. Walaupun tidak dapat dipungkiri, bahwa orang yang mempunyai kesadaran atas kewajiban ini masih minim sekali. Karena mereka lebih sering kedunyan (mempertahankan harta benda yang dimilikinya tanpa mau membagi-bagi sebagian kecil dari hartanya, harta benda adalah segala-galanya).

Pada sisi lain, terdapat sebuah fenomena yang cukup unik, sebuah fenomena yang menjadi kebalikan atas fenomena di atas. Fenomena tersebut adalah adanya kesadaran masyarakat Islam awam yang tetap melaksanakan atau menunaikan zakat walaupun pada kenyataannya harta benda yang dimilikinya belum mencapai satu nishab (batas minimal bagi seseorang berkewajiban untuk mengeluarkan zakat). Hal ini bisa kita lihat dalam masyarakat petani, ketika mereka mendapatkan hasil dari tanamannya dan sudah dihitung atau dikalkulasi dengan berbagai biaya pemeliharaan, dan ternyata hanya kembali modal atau bahkan kadang-kadang malah rugi. Atau mereka tahu bahwa harta benda atau penghasilannya belum mencapai satu nishab, tetapi mereka tetap mengeluarkan sebagian penghasilannya untuk diberikan kepada tetangga sekitarnya (fakir miskin). Kenyataan seperti ini bukan kemudian harus disalahkan, tetapi justru sikap-sikap yang demikian inilah yang perlu ditumbuh-kembangkan pada diri masyarakat kita, agar sikap-sikap yang mengedepankan dimensi sosial lebih diutamakan daripada kepentingan pribadi yang seringkali bersifat sesaat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>