Zakat Fitrah: Konsumtif ke Produktif

Berangkat dari kenyataan tersebut —dan memang pada hakikatnya— zakat memang diperuntukkan bagi orang-orang yang kurang mampu (fakir miskin), kewajiban si kaya untuk memperhatikan si miskin, dan sebaliknya, hak si miskin atas harta yang dimiliki oleh si kaya. Sehingga penunaian zakat selain untuk mensucikan harta kekayaan dan jiwanya, dan agar tidak hanya dimiliki oleh si kaya saja, the have (muzakki); penunaian zakat harus membawa kemaslahatan bagi kaum ‘miskin papa’ (mustahiq) dan menjadikannya sejahtera, tidak berada dalam kekurangan.

Keberadaan zakat sebagaimana uraian singkat di atas, semestinya menjadi rujukan bagi umat Islam, secara khusus para pengelola zakat (formal dan informal), bahwa ending dari penunaian zakat itu adalah kesejahteraan, kemakmuran, dan kemaslahatan. Baik zakat mal (harta benda) maupun zakat fitrah (jiwa). Akan tetapi pada kenyataannya, bila kita mencermati kondisi bangsa ini, ternyata masih jauh dari tujuan-tujuan penunaian zakat.

Zakat mal (harta benda) semestinya menjadi salah satu unsur yang menjadikan bangsa kita ini sejahtera. Akan tetapi karena belum ada kejelasan siapa saja yang the have, maka pengumpulan zakat mal tidak bisa maksimal. Ketidakjelasan tersebut dikarenakan banyak faktor, antara lain kaum the have sengaja atau tidak sengaja, tidak mau mengeluarkan zakatnya, berdalih tidak masuk kategori muzakki, atau harta yang dimiliki belum ada satu nisab, dan seterusnya. Di samping itu dan pada akhirnya, keberadaan lembaga zakat (BAZ/LAZ) kurang bisa maksimal dalam pengelolaan zakat, karena yang mengeluarkan zakat juga tidak maksimal.

Sedangkan zakat fitrah, berdasar atas tradisi yang selama ini ada dan sudah bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun, penunaian zakat fitrah hanya berkutat pada sisi pentasarufan yang sifatnya konsumtif. Pada akhirnya, selesai zakat fitrah ditasarufkan, selang 1 atau 2 hari zakat itu sudah habis, karena dimasak dan lalu dimakan. Begitu, begitu, dan begitu saja. Kalau hal ini tetap saja seperti itu, kemungkinan dan bisa dipastikan masyarakat kaum lemah akan terus menjadi kaum lemah, kaum yang membutuhkan belas kasihan orang lain. Mereka tidak akan pernah terberdayakan, dan tidak akan pernah beranjak dari mustahiq menjadi muzakki.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>