Bukan Tiban, Tapi Istisqa’

Tentu hal ini sangat bertentangan dengan ajaran Islam, karena Islam tidak mengajarkan tradisi tiban. Padahal apabila kita bertanya kepada mereka yang menggelar tradisi tiban itu, apa agama mereka, jawabannya adalah mereka termasuk orang Islam. Sungguh sangat disayangkan. Apalagi dalam prakteknya, antara peserta satu dengan lainnya saling sabet menyabet (cambuk menyambuk) yang tentu saja sakit rasanya dan bahkan ada yang sampai berdarah-darah. Lalu bagaimana kalau sesudah tiban itu dilaksanakan beberapa saat kemudian turun hujan? Apakah hal ini bukan karena tiban? Apakah tidak berarti bahwa tiban itu manjur untuk mendatangkan hujan? Dan ternyata di Desa Tanjungsari dan sekitarnya setelah dilakukan tiban, benar-benar turun hujan. Saya kira hal ini bukan karena tiban, tetapi karena rahmat Tuhan, Allah Swt. yang turun pada saat itu.

Tradisi Jawa, apa pun itu, mungkin harus tetap dijaga dan dipelihara serta mungkin juga dilestarikan. Akan tetapi, jika tradisi itu bertentangan dengan ajaran Islam, haruskah kemudian dilestarikan? Kalau tradisi itu membuat seseorang atau banyak orang merasa sakit fisik (kesakitan); masihkah tradisi itu perlu dijaga? Apalagi tradisi ini hampir mirip dengan praktek kemusyrikan, karena meminta hujan bukan dengan cara yang dibenarkan oleh Islam.

Sebagai umat Islam, mungkin tradisi ini perlu diluruskan. Karena selain mendatangkan mudarat (kerusakan/kerugian) bagi orang yang melakukan tiban, juga karena tradisi ini bertentangan dengan ajaran Islam. Mungkin yang melakukan tradisi tiban ini adalah orang-orang Islam awam, sehingga mereka belum tahu apa yang seharusnya dilakukan ketika terjadi kemarau berkepanjangan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>