Bukan Tiban, Tapi Istisqa’

Ketika terjadi kemarau berkepanjangan, Islam menyuruh untuk melakukan shalat istisqa’. Shalat istisqa’ adalah shalat yang dilakukan untuk meminta hujan. Shalat ini termasuk salah satu shalat sunat di antara sekian banyak shalat sunat dalam Islam. Caranya; laki-laki dan perempuan, tua-muda, dewasa dan anak-anak pergi beramai-ramai ke tanah lapang, demikian juga dengan orang yang lemah. Sebelum pergi, hendaklah salah seorang yang pandai (tokoh, ulama/kyai) di antara mereka memberi nasihat supaya mereka bertaubat dari segala kesalahan dan berhenti dari kezaliman, serta beramal kebaikan, karena pekerjaan yang tidak baik itu merupakan penyebab hilangnya rezeki dan penyebab kemurkaan Allah, sedangkan amal kebaikan itu menjadikan datangnya keridhoan dan rahmat Allah.

Masyarakat dalam satu desa misalnya, sebelum keluar beramai-ramai, hendaklah berpuasa selama 4 hari terlebih dahulu secara berturut-turut. Sesudah 3 hari berpuasa, keluarlah mereka pada hari yang keempat ke tanah lapang (tempat yang luas) pagi-pagi, dan mereka masih dalam keadaan berpuasa. Mereka keluar memakai pakaian biasa (menutup aurat), dalam keadaan suci (berwudlu), berjalan dengan tenang serta merendahkan diri dengan sungguh-sungguh mengharap pertolongan Allah Swt. Sesampainya mereka di tanah lapang, langsung shalat 2 rakaat dan diteruskan dengan khutbah. Khutbah ini diawali dengan membaca istighfar (meminta ampun kepada Allah) sebanyak 9 kali dalam khutbah pertama, dan 7 kali dalam khutbah kedua, kemudian puji-pujian, syahadat, dan shalawat, lalu memberi nasihat tentang apa-apa yang pantas dan baik dinasehatkan pada saat itu supaya mereka bertaubat dan kemudian berdoa (Rasjid, 2006: 141-142).

Inilah cara yang benar dan tepat, serta cara yang disunnahkan bagi umat Islam, meskipun cara ini sangat jarang dilakukan oleh umat Islam sendiri— bukan dengan cara sabet menyabet sebagaimana tradisi tiban. Mungkin masyarakat perlu disadarkan atas semua ini. Mungkin tiban tetap dilakukan dalam kerangka pelestarian tradisi Jawa dengan tidak meninggalkan shalat istisqa’ yang disunnahkan dalam Islam. Wa Allahu A’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>