Zakat dan Pajak

Menurut Masdar F. Mas’udi, pembayaran pajak dengan niat zakat akan menumbuhkan kesadaran bahwa pajak yang dibayarkan itu bukan sebagai persembahan atau pembayaran utang kepada negara, melainkan kewajiban yang harus ditunaikan karena Allah Swt. sesuai dengan perintah-Nya. Ikrar batiniah ini dapat menjadikan pembayaran pajak ini bersifat duniawi namun bernilai ukhrawi, dan sekaligus memberikan efek pembebasan dari kungkungan negara.

Ide penggabungan antara zakat dan pajak yang digagas oleh Masdar ini merupakan ide yang memang sangat kontroversial dan sering disalahpahami sebagai upaya untuk menyamakan antara zakat dan pajak. Dalam hal ini, Masdar sebenarnya hanya ingin mengatakan bahwa zakat adalah konsep etik dan moral untuk pajak.

Terlepas dari berbagai perbedaan yang ada, sebagai seorang mukmin dan muslim, tentunya hal yang perlu dikedepankan dalam kaitannya dengan zakat dan pajak ini adalah sebuah konsep tentang kemaslahatan dan keadilan. Artinya, sebagai seorang yang beriman, tentu dia harus mengeluarkan zakat sebagai kewajiban vertikalnya kepada Allah Swt.; dan sebagai warga negara, tentu dia juga harus mengeluarkan pajak sebagai kewajiban horisontalnya kepada pemerintah (negara). Hal tersebut tentu akan mendatangkan kemaslahatan (kebaikan), baik kemaslahatan bagi dirinya sendiri dan keluarga maupun kemaslahatan masyarakat umum; dan pada akhirnya juga akan tercipta sebuah keadilan.

Sebagai umat Islam dan warga negara yang baik, sikap yang bijak dan yang perlu dikedepankan atas gagasan kontroversial yang dikemukakan Masdar adalah: (1) bila kita termasuk orang yang kaya, maka kita tidak boleh mengikuti pendapat tersebut; artinya kita tetapi membayar pajak dan zakat, bahkan ‘bunga-bunga sosial’ lainnya seperti infaq, shadaqah, wakaf, hibah, dan lain sebagainya. (2) Jika kita termasuk golongan menengah (kaya tidak, miskin juga tidak), maka kita tetap membayar keduanya. (3) Kalau kita termasuk orang tidak mampu membayar kedua-duanya sekaligus, maka kita bisa mengikuti pendapat Masdar, yaitu membayar pajak dengan niat zakat. (4) Bila kita termasuk orang yang tidak mampu membayar salah satunya (zakat tidak dan pajak juga tidak), karena kita termasuk golongan yang berada di bawah kemiskinan, maka terhadap golongan ini tentu saja dibebaskan dari beban tersebut, dan bahkan merekalah yang berhak menerima zakat dan pendayagunaan atas pajak. Semoga kita termasuk orang-orang yang sadar atas kedua kewajiban itu dan bisa melaksanakannya. Bukan malah sebaliknya, menjadi pembangkang dan mafia-mafia pajak. Wa Allahu A’lam

“Hari gini nggak bayar pajak…Apa kata dunia…”,

“Hari gini nggak bayar zakat…Apa kata akhirat…”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>