Category Archives: Uncategorized

OPTIMALISASI ZAKAT

OPTIMALISASI ZAKAT: Sebuah Upaya Pemberdayaan Zakat dari Konsumtif-Produktif Pasif ke Produktif Aktif[1]

Oleh: Kutbuddin Aibak

Pendahuluan

Islam mengajarkan kepada umat manusia agar dalam hidup dan kehidupannya dapat menjaga keseimbangan, keserasian dan keharmonisan dalam berbagai bidang kehidupan. Menjaga keserasian dan keseimbangan aspek jasmaniah dan rohaniah, material spiritual, aspek individual dan sosial, serta aspek duniawi dan ukhrawi. Keseimbangan, keserasian dan keharmonisan yang harus dijaga dalam berbagai aspek kehidupan ini tidak lain dalam rangka menciptakan kebahagiaan dan kesejahteraan hidup manusia.

Apalagi umat Islam, orang-orang yang telah memeluk agama Islam, menjadikan Islam sebagai way of life, maka tentu sudah menjadi keharusan bagi mereka untuk menjaga keseimbangan dan keserasian aspek-aspek kehidupan tersebut. Orang-orang yang belum berhasil atau tidak mau menjaga keseimbangan, tentu adalah orang-orang yang akan merugi dalam hidup dan kehidupannya, baik di dunia maupun di akhirat.

Secara khusus, bentuk keseimbangan dan keserasian yang harus dijaga oleh umat Islam dalam uraian ini adalah hubungan antara manusia dengan Allah dan dengan sesama manusia. Dalam hal ini sebagai suatu ibadah yang berdimensi sosial dan yang harus dijaga dalam rangka menyeimbangkan hubungan dengan sesama manusia adalah penunaian (pembayaran) zakat. Zakat sebagai praktek ibadah sosial merupakan salah satu bentuk ibadah yang harus ditunaikan oleh umat Islam, dan termasuk salah satu rukun Islam.[2]

Sebagai salah satu pondasi ajaran Islam, zakat merupakan kewajiban yang harus dikeluarkan oleh umat Islam yang telah memenuhi persyaratan-persyaratan tertentu. Kewajiban mengeluarkan zakat ini tidak hanya terbatas pada zakat jiwa (zakat fitrah) saja, tetapi juga zakat mal (harta benda) termasuk zakat profesi. Dalam hal ini, kesadaran untuk menumbuhkan jiwa sosial-religius sangat penting dan perlu dikedepankan oleh semua umat Islam. Sehingga pada akhirnya diharapkan bentuk-bentuk kesenjangan sosial yang selama ini dirasakan oleh umat Islam akan dengan sendirinya terhapus.[3]

Zakat dan Pajak

ZAKAT DAN PAJAK

Oleh: Kutbuddin Aibak )*

Pada tanggal 1 Juli 2011 lalu, Harian Jawa Pos Radar Tulungagung telah memberitakan bahwa kesadaran masyarakat Tulungagung untuk membayar pajak belum maksimal. Terbukti masih ada delapan (8) kecamatan yang pembayaran pajaknya belum terpenuhi 100%, yaitu kecamatan Kedungwaru, Tulungagung, Kauman, Boyolangu, Ngunut, Rejotangan, Pucanglaban dan Campurdarat. Atau sekitar 8,6% masyarakat Tulungagung yang belum taat membayar pajak. Hal ini tentu saja tidak bisa dibiarkan begitu saja, karena boleh jadi di daerah/kabupaten lain juga masih ada yang belum taat membayar pajak. Atas dasar fenomena tersebut, maka penulis berinisiatif untuk memberikan sumbangsih pemikiran atas problem tersebut melalui tulisan ini.

Sebagaimana kita pahami bersama, Islam mengajarkan bahwa harta kekayaan itu bukan merupakan tujuan hidup, tetapi sebagai wasilah untuk saling memberi manfaat dan memenuhi kebutuhan. Bagi orang yang berwawasan demikian, maka harta kekayaannya akan membawa kebaikan bagi dirinya maupun bagi masyarakat, dan sebaliknya bagi orang yang memandang harta kekayaan sebagai tujuan hidupnya dan sebagai sumber kenikmatannya, maka akan berubah menjadi inti syahwat yang berimplikasi merusak dan membuka berbagai kemungkinan penderitaan.

Ajaran Islam tidak menyukai adanya penumpukan kekayaan (taksid al-amwal) hanya terpusat pada beberapa gelintir orang saja dalam suatu masyarakat, karena akan melahirkan pola kehidupan mewah pada sekelompok kecil, juga dapat mendorong timbulnya penindasan dan penderitaan. Oleh karena itu, sebagai makhluk sosial, manusia (umat Islam) harus mengeluarkan atau memberikan sebagian harta kekayaannya —ketika sudah mencapai satu nishab— kepada mereka yang berhak (mustahiq), sebagai pelaksanaan atas perintah Allah.

Bukan Tiban, Tapi Istisqa’

BUKAN TIBAN, TAPI SHALAT ISTISQA’

Oleh  Kutbuddin Aibak )*

Ada sebuah fenomena di masyarakat Jawa yang perlu mendapatkan perhatian serius. Fenomena itu tidak lain adalah tradisi tiban. Tradisi ini digelar pada saat terjadinya kemarau panjang, yang menyebabkan banyak lahan yang mengalami kekeringan, tanaman tumbuh tidak sehat dan bahkan mati.

Dalam prakteknya, tradisi tiban ini dilakukan oleh belasan lelaki dewasa yang saling menyabet. Luka bekas sabetan sampai berdarah di punggung seolah tidak dirasakan. Mereka terus saja saling menyabet, sampai ada orang dewasa lainnya yang memisahkan. Inilah kesenian tradisional tiban.

Sebagai contoh di salah satu desa di Kabupaten Tulungagung, dalam pelaksanaannya, tradisi tiban digelar pada pukul 13.00 hingga sore hari. Dengan bergantian para peserta tiban maju ke tengah arena. Setelah melepaskan baju, mereka lantas menerima pecut dari lidi yang diambil dari pohon aren. Dengan iringan musik tradisional, para peserta tiban berlaga di arena. Di sana menunggu musuh yang masih bertahan dari sabetan lawan sebelumnya.

Dalam tradisi ini, masing-masing peserta mendapat kesempatan untuk menyabet. Beberapa sabetan yang tidak bisa ditangkis, akhirnya mengenai punggung. Beberapa dari luka sabetan tadi mengeluarkan darah. Meskipun demikian, mereka tak lantas mundur, peserta masih saja terus menari dan siap membalas menyabet. Sabet menyabet antara satu pihak dengan pihak lainnya ini dilakukan secara bergantian. Kalau sabetan seseorang tidak bisa mengenai lawan atau bisa ditangkis, maka dia tidak boleh mengulanginya. Setelah suasana semakin panas, keduanya lantas dipisah.

Zakat Fitrah: Konsumtif ke Produktif

ZAKAT FITRAH: Dari Konsumtif ke Produktif

Oleh: Kutbuddin Aibak *)

Sudah menjadi rahasia umum bahwa di bulan Ramadan selain diwajibkan melaksanakan ibadah puasa, umat Islam juga diwajibkan membayar atau mengeluarkan zakat fitrah. Karena mengeluarkan (membayar) zakat itu termasuk rukun Islam yang harus ditunaikan. Secara khusus, zakat fitrah hanya dikeluarkan pada waktu bulan Ramadan, dimana waktu yang paling utama adalah setelah terbenamnya matahari di akhir Ramadan sampai sebelum dilaksanakan shalat ‘idul fitri.

Apabila kita mencermati bagaimana pelaksanaan pembayaran zakat di masa klasik, mulai masa Nabi Muhammad Saw. sampai Khulafaur Rasyidun, zakat benar-benar menjadi ujung tombak kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat Islam. Hal ini terus berlanjut sampai pada masa Tabiin. Umat Islam yang kurang mampu benar-benar diperhatikan dan kesejahteraannya terpenuhi.

Kenyataan itu bisa kita kritisi dari peristiwa yang terjadi pada masa Khalifah yang pertama, Abu Bakar ash-Shiddiq r.a. Pada masa Khalifah yang pertama ini, disebabkan karena meninggalnya Rasulullah Saw., maka tidak sedikit umat Islam yang murtad, keluar dari Islam dan orang-orang yang enggan membayar zakat. Apa yang terjadi atas mereka? Kebijakan apa yang ditempuh oleh Khalifah Abu Bakar? Tidak lain bahwa Khalifah memerangi mereka, karena orang yang enggan membayar zakat sama dengan orang murtad. Sungguh sedemikian penting keberadaan zakat dalam Islam.

Hal tersebut juga bisa kita cermati dari keadaan masyarakat Islam di bawah kepemimpinan Khalifah Umar ibn Abdul Aziz. Keberadaan masyarakat Islam di bawah kepemimpinan beliau benar-benar sejahtera dan makmur berkat optimalisasi zakat. Pada masa ini saking sejahtera masyarakatnya, sampai-sampai Khalifah mentasarufkan zakat yang ada ke luar negeri, di luar wilayah kekuasaan Khalifah. Penunaian zakat tidak hanya untuk kesejahteraan masyarakat, akan tetapi juga untuk negara.

Zakat: Ibadah Sosial dan Religius

ZAKAT:

ANTARA IBADAH SOSIAL DAN RELIGIUS

Oleh: Kutbuddin Aibak *)

 Islam mengajarkan kepada umat manusia agar dalam hidup dan kehidupannya dapat menjaga keseimbangan, keserasian dan keharmonisan dalam berbagai bidang kehidupan. Menjaga keserasian dan keseimbangan aspek jasmaniah dan rohaniah, material spiritual, aspek individual dan sosial, serta aspek duniawi dan ukhrawi. Keseimbangan, keserasian dan keharmonisan yang harus dijaga dalam berbagai aspek kehidupan ini tidak lain dalam rangka menciptakan kebahagiaan dan kesejahteraan hidup manusia.

Apalagi umat Islam, orang-orang yang telah memeluk agama Islam, menjadikan Islam sebagai way of life, maka tentu sudah menjadi keharusan bagi mereka untuk menjaga keseimbangan dan keserasian aspek-aspek kehidupan tersebut. Orang-orang yang belum berhasil atau tidak mau menjaga keseimbangan, tentu adalah orang-orang yang akan merugi dalam hidup dan kehidupannya, baik di dunia maupun di akhirat.

Secara khusus, bentuk keseimbangan dan keserasian yang harus dijaga oleh umat Islam dalam uraian ini adalah hubungan antara manusia dengan Allah dan dengan sesama manusia. Dalam hal ini sebagai suatu ibadah yang berdimensi sosial dan yang harus dijaga dalam rangka menyeimbangkan hubungan dengan sesama manusia adalah penunaian (pembayaran) zakat. Zakat sebagai praktek ibadah sosial merupakan salah satu bentuk ibadah yang harus ditunaikan oleh umat Islam, dan termasuk salah satu rukun Islam.

Sebagai salah satu pondasi ajaran Islam, zakat merupakan kewajiban yang harus dikeluarkan oleh umat Islam yang telah memenuhi persyaratan-persyaratan tertentu. Kewajiban mengeluarkan zakat ini tidak hanya terbatas pada zakat jiwa (zakat fitrah) saja, tetapi juga zakat mal (harta benda) termasuk zakat profesi.. Dalam hal ini, kesadaran untuk menumbuhkan jiwa sosial-religius sangat penting dan perlu dikedepankan oleh semua umat Islam. Sehingga pada akhirnya diharapkan bentuk-bentuk kesenjangan sosial yang selama ini dirasakan oleh umat Islam akan dengan sendirinya terhapus.

Khutbah Jum’at

KHUTBAH JUM’AT:

Antara Pesan Sosial-Religius dan Pengantar Tidur

Oleh: Kutbuddin Aibak )*

Shalat berjamaah memang lebih baik dan lebih utama daripada shalat sendiri, karena shalat berjamaah selain mendapatkan keutamaan (pahala) yang berlipat-lipat sebagaimana digambarkan dalam hadits Rasulullah Saw.: shalat jama’a afdhal min shalat al-fardi bi sab’atin wa ‘isyrina darajah, shalat jamaah juga dapat mendatangkan sekian banyak efek dimensi sosial. Misalnya bahwa dalam shalat berjamaah tidak ada unsur perbedaan, antara kaya dengan miskin, pejabat dengan rakyat, kiai dengan orang awam dan seterusnya, karena pada waktu shalat semuanya di mata Allah sama, mereka menempati shaf (baris) yang sama. Walaupun demikian, kenyataannya di masyarakat masih sangat kurang kesadarannya atas shalat berjamaah ini. Bahkan sampai muncul sebuah asumsi, bahwa jangankan shalat berjamaah, shalat sendiri saja kadang-kadang, dan itu pun kalau ingat.

Kalau pada umumnya, shalat dengan berjamaah itu tidak wajib, maka terdapat satu macam shalat yang harus (wajib) dilaksanakan secara berjamaah, tidak boleh tidak. Shalat tersebut adalah ibadah shalat jum’at, terlepas adanya perbedaan pendapat dan prakteknya, yaitu adanya golongan yang memakai dua adzan dan ada yang hanya adzan satu kali. Termasuk dalam rangkaian shalat jum’at adalah khutbah, khutbah sebanyak dua kali. Khutbah ini dilakukan sebelum shalat jum’at didirikan, berbeda dengan shalat idul fitri maupun idul adha yang dilaksanakan setelah shalat ‘id. Ada sebuah fenomena yang perlu dicermati terkait dengan khutbah jum’at ini.

 Antara Pesan Sosial-Religius dan Pengantar Tidur

Semua umat Islam harus mengikuti khutbah jum’at, karena khutbah jum’at merupakan rukun shalat jum’at. Sehingga bagi seseorang yang tidak punya ‘udzur, maka tidak diperbolehkan meninggalkan khutbah ini. Walaupun pada kenyataannya seringkali masyarakat awam lebih senang berangkat shalat jum’at menjelang shalat itu mau dilaksanakan, sehingga pada saat khutbah kedua mereka baru datang.

Pada keadaan yang hampir sama juga dialami oleh jamaah shalat jum’at yang datang terlebih dahulu. Seringkali dan mungkin dapat dipastikan bahwa setiap jum’at dan setiap khutbah disampaikan terdapat orang-orang yang lebih enjoy ngomong (berbincang-bincang) dengan jamaah lainnya. Padahal ketika khutbah disampaikan para jamaah shalat jum’at dilarang untuk berbincang-bincang. Lebih ironis lagi, sebenarnya mereka juga sudah tahu dan mengerti kalau dilarang berbicara pada saat khutbah dibacakan, tetapi mereka tidak mau tahu dan tetap asyik berbincang-bincang. Seringkali juga mereka adalah orang-orang awam, walaupun juga tidak sedikit diantara mereka adalah orang-orang yang mengerti ajaran Islam (bukan awam). Kalau yang berbincang-bincang itu adalah anak kecil tentu tidak menjadi masalah, tetapi mereka adalah remaja, pemuda, dan bahkan orang dewasa. Selama khutbah dilaksanakan, mereka tetap saja ‘khutbah’ sendiri dengan teman-temannya. Bahkan andaikan khutbah itu tidak ada akhirnya, maka mungkin mereka juga berbincang-bincang, ngobrol terus menerus sampai shalat jum’at dilaksanakan. Pada akhirnya, bagi mereka keberadaan khutbah tidak pernah dihiraukan, ada khutbah atau tidak adalah sama saja.

Pornografi dan Pornoaksi: Virus Peradaban

PORNOGRAFI DAN PORNOAKSI SEBAGAI VIRUS PERADABAN

Oleh: Kutbuddin Aibak *)

 Perkembangan dan kebebasan media massa merupakan tolok ukur kemajuan dunia informasi. Kemajuan dunia informasi ini dapat kita saksikan di seluruh belahan dunia, termasuk di Indonesia, media cetak dan elektronik telah berkembang cukup pesat. Secara kuantitas media seperti koran, tabloid, televisi, VCD, dan internet sangat jauh meningkat. Namun peningkatan ini sayangnya tidak dibarengi dengan peningkatan kualitas. Bila dicermati isinya, banyak media yang tidak berbobot dan terkesan hanya memenuhi alasan selera pasar. Salah satu yang ditonjolkan adalah eksploitasi seksual. Kasus-kasus pornografi yang mencuat beberapa waktu lalu —dan sekarang juga masih terjadi— adalah bukti akan rendahnya kualitas kebanyakan media yang ada.

Terlepas dari perdebatan tentang definisi pornografi dan pornoaksi, bila media-media itu dicermati dari sudut pandang isi dan gambarnya, tidak ada asosiasi lain kecuali orientasi seksual. Gambar atau foto perempuan dengan pakaian minim (bahkan ada yang hanya ditutupi dengan daun pisang) serta narasi yang dituturkan secara vulgar jelas-jelas tidak dapat diasosiasikan lain selain seksual. Celakanya, media semacam ini secara bebas bisa diperoleh dengan mudah di kios-kios kecil pinggir jalan maupun di perempatan lampu lalu lintas. Siapa pun bisa mengakses tanpa melihat batas usia, tentu dengan harga yang sangat murah.

Lahan subur bagi berkembangnya pornografi dan pornoaksi yang sangat meresahkan adalah juga melalui VCD. Jutaan keeping VCD porno yang beredar di masyarakat, siap untuk ditonton oleh siapapun dan dimanapun. Dengan hanya bermodal beberapa lembar uang ribuan, orang yang tingkat ekonominya rendah sekalipun dapat menikmati tayangan yang sarat dengan unsur seksual vulgar tersebut. Tayangan TV pun tidak ketinggalan mulai berani turut ambil bagian dalam menayangkan eksploitasi seksual. Demikian juga dengan sejumlah video klip bagi dari lagu-lagu Barat maupun dalam negeri hampir dapat dikatakan sealu menonjolkan unsur seksual. Kasus Inul misalnya, semakin menambah panjang daftar pornografi dan pornoaksi. Iklan dan film pun tidak jauh berbeda. Bahkan perkembangan yang terakhir, pornografi dan pornoaksi sudah merambah pada telepon genggam (HP).

Pornografi dan pornoaksi yang tampil dalam dunia “abstrak” di tabloid, VCD, TV, internet, dan HP ternyata menemukan bentuk “kongkret”-nya di tengah masyarakat. Hadirnya sejumlah tempat hiburan yang membuka pintu lebar-lebar bagi eksploitasi seksual cukup untuk dikatakan “gayung bersambut”. Tempat-tempat semacam itu seakan menjadi media penyaluran yang pas dari apa yang telah mereka lihat di tabloid, TV, VCD, internet maupun HP. Adanya transaksi seks di sejumlah cafe dan diskotik bukan menjadi rahasia lagi. Kalau dulu, kehidupan seks bebas dilakukan untuk tujuan mencari uang, tetapi sekarang sudah merambah ke arah sekadar “just have a fun”.

Jika kehidupan masyarakat dibombardir secara terus menerus dengan suguhan atau menu yang tidak mengindahkan batas-batas nilai kesopanan dan kesusilaan, bukan tidak mungkin masyarakat akan sampai pada satu titik dimana pornografi dan pornoaksi tidak lagi dianggap sebagai suatu yang tabu dan asusila. Masyarakat akan menjadi terbiasa dan menganggap semua itu sebagai kewajaran. Diawali dengan terbiasa melihat dan membaca, lama kelamaan perilaku pun berubah. Perasaan malu sudah tidak ada lagi, dan berkembanglah sikap apatis. Akhirnya orang merasa bebas merdeka untuk melakukan apapun tanpa adanya kontrol masyarakat.

Inikah Islam (Kita)?

INIKAH ISLAM (KITA)?

Oleh  Kutbuddin Aibak )*

Sekitar satu tahun yang lalu, dunia Islam di negeri ini kembali ternodai oleh aksi-aksi beberapa pihak yang tidak mengindahkan kemajemukan atau keberagaman dalam beragama. Aksi ini mereka lancarkan pada saat seseorang akan dan sedang mendiskusikan pemikiran-pemikirannya dengan beberapa elemen masyarakat terpelajar Indonesia. Tak pelak, pada akhirnya diskusi yang sedang digelar pun bubar, dan rencana-rencana diskusi yang lain pun juga dibatalkan. Fenonema yang terkait dengan hal ini tidak lain adalah keberadaan Irshad Manji.

Irshad Manji merupakan seorang feminis teolog asal Kanada yang menulis buku “Beriman Tanpa Rasa Takut” dan “Allah, Liberty and Love yang ditolak oleh beberapa kelompok anti dialog dan pro kekerasan, baik di Jakarta, Solo maupun Yogyakarta. Di Yogyakarta (9 Mei), pada saat Irshad Manji diskusi dengan LKiS (Lembaga Kajian Islam dan Sosial) tiba-tiba dibubarkan oleh ormas Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), bahkan sampai melakukan pengrusakan. Demikian juga rencana diskusi yang akan digelar di UIN Sunan Kalijaga dan CRCS (Center for Religious and Cross-Cultural Studies) Universitas Gajah Mada juga dibatalkan.

Alasan utama atas penolakan tersebut karena aspek personal Irshad Manji sendiri, yaitu bahwa dia adalah seorang lesbi. Memang dia beragama Islam, akan tetapi karena sebagai lesbian maka pada akhirnya beberapa elemen masyarakat kita menolak kehadirannya. Seperti inikah Islam yang dianut oleh mayoritas penduduk Indonesia ini? Begitu kaku, rigit, dan tertutupkah pemahaman Islam mereka sehingga tidak menerima sekian banyak perbedaan yang ada? Pada umumnya, bukankah yang ditolak itu adalah pemikiran-pemikiran seseorang dengan berbagai praktek dan implikasinya? Akan tetapi, kenapa penolakan yang mereka lancarkan itu berdasar atas aspek personal-individual belaka? Dan seabrek pertanyaan-pertanyaan lainnya yang tidak akan terjawab oleh seseorang yang terpatri pada golongan yang eksklusif dan anti pluralisme.

Islam: Saya, Anda, Kita atau Siapa?

Pada hakikatnya, agama Islam memiliki ajaran-ajaran yang universal. Ajaran-ajarannya tidak hanya dikhususkan bagi umat Islam saja, akan tetapi lebih luas dari itu, Islam untuk alam semesta, Islam untuk seluruh umat manusia. Universalitas ajaran-ajaran Islam dapat ditelaah dari sekian banyak dan semua aspek kehidupan manusia; mulai dari aspek akidah, ibadah, akhlak, ekonomi, sosial, pendidikan, kebudayaan, dan sebagainya, termasuk hubungan antara manusia dengan manusia lainnya, dan dengan alam semesta.

Pada kenyataannya, sebagai sesuatu yang tidak bisa dielakkan dan dinafikan bahwa berdasar atas keyakinan dan pemahaman seseorang atas ajaran agama yang diyakininya, maka muncullah sekian banyak pemahaman dan seabrek perbedaan yang pada akhirnya keragaman dalam keberagamaan itu tidak hanya berwujud pada keyakinan secara individual, tetapi juga secara kolektif-massal, serta berwujud pada aspek praktisnya, mulai dari norma-norma, perilaku keseharian dan ritual peribadatan.

Bahkan, perbedaan-perbedaan itu pada akhirnya juga memunculkan sikap-sikap fanatis, sikap-sikap yang meyakini kebenaran atas apa yang ada pada dirinya sendiri dan kelompoknya, dengan mengesampingkan kebenaran orang lain dan kelompok lain. Lebih fatal lagi, mereka mengkafirkan kelompok atau golongan yang tidak sepaham dengan mereka. Sungguh sebuah fenomena yang amat sangat jauh dari nilai-nilai Islam itu sendiri.

Haji: Ibadah Personal dan Sosial

HAJI:
ANTARA IBADAH PERSONAL DAN SOSIAL
Oleh Kutbuddin Aibak )*

Haji merupakan rukun Islam yang kelima; ritual ibadah yang wajib dilakukan oleh setiap umat Islam yang sudah mampu. Maksud mampu dalam hal ini tidak hanya mampu dalam hal materi (biaya) semata, tetapi juga mampu dalam hal jasmani maupun rohani/psikis. Ibadah ini sedikit berbeda dengan ibadah-ibadah lainnya, ibadah yang membutuhkan totalitas diri, ibadah yang tidak bisa dilaksanakan kecuali hanya di ‘Rumah Allah’ (Baitullah).
Sebagai ibadah jasmaniah-maliyah-ruhiyah, haji tidak hanya membutuhkan adanya jasmani yang sehat, tetapi juga membutuhkan biaya yang tidak sedikit dan rohani yang sehat/matang pula. Memang syarat mampu dalam melaksanakan ibadah haji ini adalah mampu dalam hal biaya; artinya bagi siapa saja yang sudah mempunyai biaya yang cukup maka dia wajib melaksanakan ibadah haji, dan bahkan dalam pelaksanaannya tidak bisa ditunda lagi. Penundaan secara sengaja atas ibadah ini selain berdosa juga seringkali menyebabkan hal-hal negatif yang tidak diinginkan, dan kadang-kadang di luar keampuan manusia.
Akan tetapi, pada perkembangannya mampu dalam hal biaya masih terdapat unsur lain yang perlu dipertimbangkan lagi. Unsur lain yang perlu dipertimbangkan lagi tersebut misalnya kesehatan fisik, dan termasuk kesehatan jiwa (psikis). Artinya, kewajiban melakukan ibadah haji tersebut bisa ditunda apabila orang yang akan melakukan ibadah haji menderita sakit parah, sehingga harus menunggu kesembuhannya terlebih dahulu. Demikian juga ketika seseorang sudah berkewajiban melakukan ibadah haji, tetapi kondisi jiwa (psikis)nya kurang normal, maka boleh jadi penundaan atas ibadahnya merupakan langkah yang tidak perlu disalahkan. Walaupun pada kenyataannya, tidak sedikit dari calon jamaah haji yang nekat berangkat dengan kondisi fisik yang kurang memungkinkan. Hal demikian bisa saja terjadi ketika calon jamaah haji memiliki niat (kemauan) yang kuat dan yakin atas kekuasaan Allah SWT.
Lebih dari itu, sebenarnya ada sebuah fenomena yang perlu dipertimbangkan dan perlu mendapatkan perhatian, khususnya oleh orang-orang yang akan dan sudah melaksanakan ibadah haji. Fenomena tersebut adalah kemiskinan dan keterbelakangan. Hal ini menjadi sangat penting, karena pada kenyataannya orang-orang yang memiliki kepedulian sosial (sense of social) terhadap masyarakat miskin ini masih belum banyak. Kebanyakan masyarakat kita tidak mau tahu dengan kondisi lingkungan sekitarnya; bagaimana kondisi tetangga sekitar dan masyarakat sekitarnya. Apa yang dimaksud dalam uraian ini adalah bagaimana kita bisa mengedepankan dimensi-dimensi sosial yang pada kenyataannya kadang-kadang jauh lebih penting dibanding dengan ibadah mahdhah.
Sebagaimana dalam pelaksanaan ibadah haji, hal yang perlu dipertimbangkan dan mendapatkan perhatian adalah bagaimana perasaan (komitmen) kita terhadap masyarakat miskin, apakah ibadah haji memang kebutuhan yang sangat mendesak, apakah tidak lebih baik ketika kita lebih mementingkan masyarakat miskin di sekitar kita, karena banyak sekali masyarakat miskin yang membutuhkan uluran tangan kita. Artinya kita bisa saja menunda keberangkatan untuk melaksanakan ibadah haji, karena faktor sosial yang seringkali jauh lebih penting. Pertanyaan sederhana yang perlu dimunculkan adalah untuk apa kita melaksanakan ibadah haji sedang tetangga kita dalam keadaan kesusahan dan kelaparan, masyarakat sekitar kita sedang kesulitan ekonomi dan lain sebagainya. Apakah tidak lebih baik menunda ibadah haji karena alasan sosial yang jauh lebih penting. Dan sederetan pertanyaan atau pertimbangan lainnya yang perlu dikedepankan. Karena ibadah haji adalah ibadah individual (personal), sedangkan membantu masyarakat miskin adalah ibadah sosial.
Lebih parah lagi jika orang yang melaksanakan ibadah haji adalah orang yang sudah pernah melakukan ibadah haji. Artinya ada seseorang yang melaksanakan ibadah haji lebih dari satu kali. Dalam pandangan kita, mungkin ibadah haji yang dilakukan oleh orang yang seperti ini —yang lebih dari satu— adalah ibadah haji yang ‘sia-sia’. Alasannya sederhana saja, karena mengapa atau untuk apa melakukan ibadah haji lebih dari satu kali, padahal di saat yang sama seseorang itu masih belum bisa memperbaiki akhlak-moralnya, masih sering melakukan hal-hal yang tidak semestinya dilakukan oleh seseorang yang telah melakukan ibadah haji. Lebih dari itu, dan mungkin ini yang lebih penting, bahwa banyak orang-orang miskin di sekitarnya yang membutuhkan ‘bunga-bunga sosial’ mereka. Jangankan ibadah haji yang kedua, ketiga dan seterusnya, ibadah haji pertama yang kemudian dibatalkan karena alasan sosial-kemasyarakatan mungkin akan dipandang oleh Allah sebagai ibadah yang lebih baik dan memiliki atau mendapatkan pahala yang sama dengan orang yang telah melakukan ibadah haji. Dan bahkan mungkin dia akan dicatat oleh Allah sebagai orang yang benar-benar melakukan ibadah haji. Bukankah hal ini merupakan sesuatu hal yang mungkin saja terjadi di ‘mata’ Allah. Dalam hal ini, lain dan tidak adalah bagaimana sebenarnya kita dapat lebih mengedepankan dimensi-dimensi (kepentingan) sosial (sense of social) di atas kepentingan dan ambisi pribadi (individual). Semoga para jama’ah haji tahun ini benar-benar menjadi haji mabrur dan masyarakat sekitar dapat merasakan serta menikmati kemabrurannya, Amin. Labbaik Allahumma Labbaik. Wa Allahu A’lam

Problema Nikah Sirri

PROBLEMA NIKAH SIRRI

Oleh: Kutbuddin Aibak *)

 Pendahuluan

Beberapa tahun lalu, kita sering mendengar berbagai isu atau fenomena yang mengusik berbagai kalangan. Fenomena keagamaan ini muncul bukan tanpa adanya faktor-faktor yang melatarbelakanginya. Akan tetapi, sebagaimana kita ketahui bahwa dalam banyak hal, sebuah fenomena itu muncul karena dilatarbelakangi oleh berbagai faktor, baik langsung maupun tidak langsung, intern maupun ekstern dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Demikian juga fenomena yang terjadi pada tahun lalu, munculnya perdebatan atas pemidanaan nikah sirri. Sebagaimana Rancangan Undang-Undang tentang Hukum Material Peradilan Bidang Perkawinan (RUU HMPBP). Masyarakat pun kian gencar memperbincangkan sanksi pidana bagi pelaku nikah sirri, mut’ah (kontrak), perkawinan kedua, ketiga dan keempat, perceraian tanpa di muka pengadilan, melakukan perzinaan dan menolak bertanggung jawab, menikahkan atau menjadi wali nikah.

Perdebatan dan kontroversi atas kasus pemidanaan nikah sirri ini terjadi tidak lain karena disebabkan oleh beberapa hal, antara lain karena adanya ’perang dingin’ antara wilayah negara dengan wilayah agama. Di sisi lain, ada kemungkinan nikah sirri ini menyebabkan atau mendatangkan kemadharatan. Dan mungkin hal yang terakhir ini yang banyak terjadi di kehidupan masyarakat Indonesia, sehingga diperlukan pengaturan tersendiri melalui perundang-undangan.

Fenomena paling mutakhir terkait dengan anak yang dihasilkan dari hubungan gelap. Sebagaimana diputuskan oleh Mahkamah Konstitusi (MK) beberapa hari yang lalu (17/2) bahwa anak yang lahir di luar perkawinan memiliki hubungan perdata dengan ayah biologis. Lebih lanjut dijelaskan bahwa aturan itu mengikat terhadap segala bentuk pernikahan tidak resmi, mulai dari pernikahan sirri, perzinaan, perselingkuhan hingga kumpul kebo. Dalam kasus pernikahan sirri yang terakhir ini, Machica Mochtar mengajukan gugatan uji materi pasal 43 ayat (1) UU Perkawinan.

Perlu ditegaskan bahwa perkawinan merupakan titik awal dalam membentuk rumah tangga, sehingga sudah semestinya persoalan rumah tangga menjadi prioritas utama yang yang menjadi pondasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Artinya, rumah tangga yang diwujudkan melalui perkawinan harus diatur secara tegas dalam hukum dan perundang-undangan agar dapat tercapai adanya kepastian hukum, sehingga terhindar dari kemadharatan dalam kehidupan bermasyarakat. Apalagi tujuan perkawinan adalah untuk membina rumah tangga bahagia sejahtera dunia akhirat, mawaddah wa rahmah. Firman Allah dalam surat ar-Rum ayat 21 yang artinya: Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir”.