Teroris Intelektual

TERORIS INTELEKTUAL

Oleh: Kutbuddin Aibak )*

Dalam buku Conference of the Book (2001), Guru Besar Hukum Islam University of California Los Angeles, Khaled M. Abou El Fadl menyatakan bahwa teroris intelektual adalah pemeras emosi. Teroris-teroris ini yang kerap kali bersikap diskriminatif terhadap ras, jenis kelamin, kelas, atau fanatik dalam beragama, dan menggunakan bahasa teror. Teroris intelektual ini sama kejinya dengan teroris yang menggunakan kekerasan.

***

Konon, bangsa kita —tidak bisa dipungkiri— sebagai bangsa yang mengedepankan nilai-nilai luhur yang diwariskan nenek moyang, dan kebanyakan adalah nilai-nilai yang positif yang tidak bertentangan dengan agama Islam. Akan tetapi, mengapa sekarang nilai-nilai itu mulai luntur? Bahkan predikat-predikat negatif mulai dilekatkan pada bangsa ini, mulai dari negeri/bangsa yang terbelakang, korup sampai pada teroris.

Terkait issu (predikat) yang terakhir (teroris), kita benar-benar tidak habis pikir, bangsa yang mayoritas penduduknya beragama Islam, ternyata kasus-kasus teroris terjadi dimana-mana. Kita bisa menyaksikan beberapa tahun terakhir ini, dalam setiap hari dan minggunya, kehidupan masyarakat Indonesia dipenuhi dengan berbagai informasi tentang terorisme. Informasi-informasi tentang terorisme itu ditayangkan oleh semua stasiun televisi (media elektronik) dan media cetak; baik informasi-informasi yang dikemas dalam sebuah berita atau liputan maupun informasi-informasi dari mulut ke mulut. Pendek kata, tiada hari tanpa informasi terorisme. Sampai sekarang perburuan terhadap mereka yang terlibat jaringan teroris terus dilakukan.

Informasi-informasi terorisme ini didengar, dilihat, dan diperbincangkan oleh hampir semua kalangan/golongan, dari anak-anak hingga orang tua. Termasuk perbincangan secara ilmiah yang dimuat dalam berbagai media cetak. Akal pikiran atau nalar masyarakat Indonesia sudah penuh dengan hal-hal yang terkait dengan terorisme. Sampai-sampai mereka sepakat untuk memunculkan satu statemen bahwa teroris itu adalah mereka yang melakukan kekerasan dengan cara melakukan pengeboman (bom bunuh diri).

Statemen tersebut mungkin benar, dan tidak ada salahnya; akan tetapi bila kita mencermati secara mendasar, maka akan kita temukan bentuk teroris yang lain, yang mungkin memiliki akibat yang sama seriusnya. Satu bentuk teroris yang mungkin kita tidak pernah menganggapnya teroris, dan bahkan tidak pernah tersirat sedikit pun dalam pikiran kita. Satu bentuk teroris ini adalah teroris intelektual.

Terminologi Teoris Intelektual

Secara sepintas, mungkin kita beranggapan bahwa pernyataan Abou El Fadl tersebut tidak berdasar sama sekali. Karena pada kenyataannya, yang dinamakan teroris adalah mereka yang selalu menggunakan kekerasan dalam menyampaikan sesuatu. Lebih khusus lagi, merujuk kepada berbagai kasus yang ada di negari kita, yang dinamakan teroris adalah mereka yang melakukan pengeboman di berbagai tempat (bom bunuh diri); mulai dari bom Bali, Jakarta dan tempat-tempat lain yang tidak hanya terjadi sekali.

Akan tetapi, apabila kita menelaah lebih serius dan mendalam, kita mungkin akan bersuara serempak bahwa apa yang dikatakan Abou El Fadl adalah benar dan cukup berdasar. Hal ini dikarenakan menurut sifatnya, teror adalah penghentian penggunaan nalar, dan tidak adanya keseimbangan nalar, dan dengan sendirinya berarti musyawarah itu terhenti. Selain itu, juga karena menurut esensinya, kemampuan untuk bernalar berarti kemampuan untuk memahami dan membedakan.

Kalau kita menengok jauh ke belakang, yaitu Islam pada masa klasik, maka kita akan menemukan berbagai ragam perbedaan pendapat (misalnya di bidang fiqh/hukum Islam adanya berbagai mazhab) sungguh benar-benar ada dan itu dihargai. Dinamika perbedaan faham keagamaan sungguh luar biasa, dan hal ini juga yang menyebabkan Islam sampai pada kejayaan atau keemasannya. Jargon ikhtilafu ummati rahmatun (bahwa perbedaan pendapat di antara umatku itu adalah rahmat), yang konon itu adalah hadis Nabi, benar-benar hidup dan dirasakan keharmonisannya.

Akan tetapi, setelah masa itu sampai sekarang, perbedaan-perbedaan yang ada sudah dianggap bukan merupakan rahmat lagi, melainkan seolah-olah sebagai sebuah bencana atau sumber konflik. Apalagi jika ada pihak-pihak tertentu yang ikut campur di dalamnya, maka eksistensi perbedaan-perbedaan itu semakin ‘membahayakan’. Lebih nampak atas hal ini adalah fenomena pluralitas yang ada di negeri ini, Indonesia.

Pluralitas yang dimiliki oleh bangsa kita sebenarnya memang merupakan kekayaan tersendiri yang perlu dijaga dan dilestarikan serta dibanggakan. Akan tetapi, beberapa tahun terakhir ini pluralitas itu seolah-olah sirna. Karena berbagai perbedaan yang ada dan yang mungkin baru bermunculan harus ‘dipeti-eskan’, harus dikubur untuk selama-lamanya. Kebebasan berpikir, mengemukakan berpendapat di depan umum, perbedaan keyakinan dan sebagainya dibatasi, kalau tidak boleh dikatakan dilarang, bahkan sampai dihukumi haram.

Kita Teroris Intelektual?

Sebagaimana kita ketahui bersama, bahwa pluralitas bangsa kita terdapat dalam berbagai hal; mulai dari suku, bahasa, agama/keyakinan, budaya, adat istiadat, dan sebagainya, termasuk juga pendidikan. Hal ini merupakan keniscayaan dan sekaligus sebagai sunnatullah yang tidak bisa dihindari.

Keberagaman kebudayaan bangsa kita merupakan anugerah Tuhan Yang Maha Esa, yang harus disyukuri dan dilestarikan. Jangan sampai keberagaman (pluralitas) ini menjadi benih-benih konflik di antara sesama penduduk Indonesia, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana kita menyikapinya sebagai elemen-elemen yang mempersatukan kita dan memperkuat persatuan bangsa Indonesia.

Sekian banyak pluralitas yang ada pada bangsa ini jangan sampai sirna oleh paradigma, nalar maupun sikap-sikap yang membatasi kebebasannya dalam berkreasi. Musyawarah (negosiasi) mufakat harus selalu dikedepankan, ketika terjadi perbedaan pendapat. Demikian juga perbedaan-perbedaan yang terjadi pada pluralitas yang lainnya. Dalam hal ini sikap inklusif harus selalu dikedepankan dalam berbagai pluralitas, jika kita ingin menjaga kebebasan dalam berkreasi, baik dalam wacana, paradigma, kebijakan maupun dalam bentuk perilaku. Tentunya, kebebasan dalam berkreasi dan dalam menjaga pluralitas ini harus dilandasi dengan moralitas yang tinggi.

Sikap-sikap inklusif-pluralis dalam hidup keberagaman harus selalu dijaga, baik dalam bidang agama/kepercayaan, adat-istiadat, pendidikan/kebudayaan maupun berbagai bidang kehidupan lainnya. Apabila tidak bisa demikian, maka pembatasan keunikan dan keberagaman budaya, agama dan lain-lain juga merupakan bentuk teroris. Dan ingat, bahwa terorisme merupakan bentuk yang sama sekali tidak berbudaya. Dengan demikian, kalau kita merujuk pada pendapat Abou El Fadl, maka jelas bahwa sikap-sikap anti pluralitas juga merupakan teroris intelektual. Wa Allahu A’lam.

Waria Juga Manusia

WARIA JUGA MANUSIA

Oleh  Kutbuddin Aibak )*

Dalam ajaran Islam telah ditegaskan bahwa Allah hanya menciptakan manusia dari jenis laki-laki dan perempuan. Laki-laki dengan ciri-ciri khusus kelaki-lakiannya, mulai dari kumis, jakun, jenggot sampai penis dan testis serta sperma. Sedangkan perempuan juga memiliki ciri-ciri khusus sesuai dengan kodratnya, mulai dari payudara, vagina, rahim dan ovum. Jadi, laki-laki dan perempuan sudah jelas dengan ciri khusus organ dalam dan organ luarnya, dan tentu saja keduanya berbeda satu sama lain.

Akan tetapi pada kenyataannya, ada manusia dengan jenis kelamin selain laki-laki dan perempuan. Jumlah mereka ternyata juga tidak sedikit. Namun pada kenyataannya juga, kaum laki-laki dan kaum perempuan normal mengucilkan mereka, tidak mau tahu dengan keberadaan mereka. Dan bahkan kehadirannya dianggap menjadi penyakit masyarakat. Sedemikian hinakah mereka?

Perlu dipahami bahwa manusia dengan jenis kelamin bukan laki-laki dan bukan perempuan, di masyarakat lebih sering dikenal dengan sebutan waria, wandu, banci; yang dalam bahasa agama (fiqih) disebut khuntsa. Mereka menjadi seperti itu tentu ada banyak faktor yang melingkupi dan menyebabkannya. Beberapa faktor itu antara lain hereditas (faktor keturunan) atau bawaan sejak lahir, dan faktor sosial (pendidikan).

Faktor hereditas (bawaan sejak lahir); pada faktor yang pertama ini tentu bukan atas kesalahan yang dilakukan oleh keluarga (orang tua) ataupun lingkungan masyarakat, akan tetapi murni karena sejak lahir memang sudah tidak/kurang normal. Misalnya memiliki alat kelamin ganda; penis dan vagina yang berfungsi kedua-duanya atau salah satunya. Atau memiliki organ tubuh yang bertentangan antara bagian dalam dengan luar. Misalnya memiliki vagina tetapi tidak memiliki rahim, atau memiliki penis tetapi juga memiliki rahim, dan seterusnya. Atas kasus ini, maka solusi yang diberikan kepada mereka tidaklah terlalu sulit, karena bagian organ mana yang kurang sempurna itu disempurnakan melalui operasi; atau ketika organ tubuhnya bertentangan antara dalam dengan luar, maka mana yang lebih dominan itu yang dijadikan pedoman untuk kemudian dilakukan operasi penggantian dalam rangka penyempurnaan. Sehingga jenis kelaminnya menjadi benar-benar jelas, laki-laki atau perempuan.

Akan tetapi, di sisi lain, mereka yang lahir tidak normal jenis/organ kelaminnya (banci alami) bisa mudah mengalami kelainan psikis dan sosial, akibat masyarakat yang tidak memperlakukannya secara wajar, yang pada gilirannya bisa menjerumuskannya ke dalam dunia pelacuran dan menjadi sasaran kaum homo yang sangat berbahaya bagi dirinya dan masyarakat. Sebab perbuatan anal sex (hubungan seks melalui anus) dan oral sex (hubungan seks melalui mulut) yang biasa dilakukan oleh kaum homo bisa menyebabkan terjangkitnya penyakit AIDS yang sangat ganas. Oleh karena itu, untuk mendefinitifkan jenis kelamin mereka, maka harus dilakukan operasi penyempurnaan.

Sedangkan faktor sosial merupakan faktor yang sebenarnya juga tidak bisa dipisahkan dari faktor yang pertama (bawaan lahir). Hal ini disebabkan karena pada kenyataannya ketidak-normalan jenis kelamin menjadikan masyarakat acuh tak acuh, apatis, dan mengucilkan mereka. Apalagi bila hal ini berwujud pada tingkah laku keseharian mereka yang juga tidak normal. Sehingga hal ini berdampak pada kondisi psikis mereka dan menjadi beban berat bagi mereka. Pada akhirnya, mereka mencari pelampiasan untuk berinteraksi dengan orang-orang yang mau menerima keberadaan mereka, dan seringkali yang menerima mereka adalah orang-orang yang sejenis dengan mereka. Hal ini mereka lakukan tidak hanya sebatas interaksi belaka, tetapi juga sampai pada hubungan seksual, homoseksual dan lesbian.

Bila dikaji lebih mendalam, siapa sih mereka itu? Siapa sebenarnya para waria/banci itu? Laki-laki yang berperilaku mirip perempuan atau bagaimana? Kita tidak bisa menafikan bahwa secara fisik, mereka memiliki ukuran tubuh yang sedang atau gemuk, tinggi, seperti layaknya laki-laki tetapi berpenampilan seperti perempuan. Mereka seolah-olah tampak garang dan kuat, tapi suaranya lemah lembut dan mendesah.

Jika jenis kelamin para waria/banci itu benar-benar laki-laki (memiliki penis dan testis) tetapi berperilaku seperti perempuan, maka tidak perlu dilakukan operasi kelamin. Hal yang perlu diberikan kepada mereka adalah pemahaman dan pemahaman, pendidikan mental, moral-spiritual. Pemerintah dan masyarakat harus bekerja sama untuk mendefinitifkan status mereka. Mengidentifikasi mereka, mengumpulkan dan melakukan pembinaan secara intens, sehingga menjadi manusia normal. Pemerintah memberikan fasilitas kepada mereka dalam upaya penyembuhan dengan berbagai kebutuhan yang ada, dan masyarakat turut serta membantu dan memotivasi mereka agar mereka menyadari dan mau berubah. Jangan pernah lagi menganggap mereka sebagai penyakit masyarakat, aib keluarga (masyarakat), dan biang penyakit-penyakit ganas-mematikan.

Apabila kita mau berpikir secara jernih, sebenarnya siapa yang mau ditakdirkan atau dilahirkan dalam kondisi jenis kelamin yang tidak normal, tentu tidak ada satu manusia pun yang mau dilahirkan dalam kondisi seperti itu. Jika mereka menjadi seperti itu karena lingkungan (keluarga/masyarakat), maka keluarga/masyarakat harus benar-benar memahami hakikat jenis kelamin mereka secara proporsional, dan tidak memberikan perlakuan yang bertentangan.

Semoga keberadaan kaum waria/banci bisa lebih diperhatikan dan dipertimbangkan oleh masyarakat luas bahwa mereka juga termasuk warga negara yang hidup di masyarakat yang tidak bisa dinafikan. Tetapi dengan tidak membiarkan mereka melakukan perilaku yang menyimpang secara terus menerus, melainkan membantu mereka untuk kembali ke ‘jalan yang benar’. Mendefinitifkan status atau jenis kelamin mereka, karena hal ini sangat penting dan berlanjut pada kejelasan status-status yang lain, mulai dari status warga negara yang berhak mendapatkan kesamaan perlakuan dalam berbagai bidang, status perkawinan sampai status kewarisan (ahli waris). Lebih dari itu, kaum waria (banci) juga harus menyadari bahwa perilaku mereka bertentangan dengan berbagai norma, baik agama maupun susila. Wa Allahu A’lam

Pemulung

ANTARA PEMULUNG DAN AGEN BESI TUA

Oleh: Kutbuddin Aibak )*

Akhir-akhir ini kita seringkali melihat adanya fenomena baru yang dilakukan oleh sebagian anggota masyarakat kita dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Sebuah aktivitas dan kreativitas yang perlu mendapatkan ‘penghargaan’ atas jerih payah mereka dalam berjuang memenuhi kebutuhan ekonomi secara mandiri. Beberapa aktivitas dan kreativitas itu tampak seperti bermunculannya cafe-cafe atau kedai minuman, toko-toko peracangan, semakin maraknya agen penerima besi tua (barang-barang rosokan), dan fenomena pemulung. Dalam kesempatan ini, penulis hanya akan mengulas dua fenomena yang terakhir ini.

Fenomena pemulung misalnya, kita dapat menyaksikan bahwa jumlah mereka semakin banyak dan kreatif. Kalau dulu, pemulung itu identik dengan orang tua baik laki-laki maupun perempuan, sekarang anak-anak atau remaja pun juga tidak mau ketinggalan. Kalau dulu, mereka hanya mencari rosokan di tempat-tempat tertentu di Tempat Pembuangan Akhir (TPA), tapi sekarang mereka telah masuk di lingkungan rumah-rumah penduduk baik di desa maupun di kota. Harapan mereka tidak lain adalah agar mendapat keuntungan yang berlebih.

Namun, seiring dengan waktu dan tuntutan ekonomi yang semakin bertambah, pendapatan mereka dari memulung dirasa tidak mencukupi dan semakin kurang. Hal ini mungkin manusiawi karena semakin mereka mendapatkan keuntungan yang banyak, mereka semakin ingin terus mendapatkan keuntungan yang berlipat dan dapat membeli barang-barang atau kebutuhan yang awalnya tidak pernah bisa dibeli. Akan tetapi, ketika mereka tidak mendapatkan keuntungan sebagaimana yang diinginkan, maka apa yang terjadi? Ternyata, mereka berbelok arah dan mulai berani mengambil barang-barang milik warga atau penduduk yang masih layak pakai. Dan pada tingkatan negatif selanjutnya, mereka mulai berani mengambil barang-barang yang ada di dalam rumah penduduk (mencuri). Pada akhirnya, sasaran mereka tidak hanya barang-barang sederhana, tetapi juga uang dan bahkan barang-barang mewah.

Fenomena negatif yang terakhir inilah yang mungkin menyebabkan masyarakat berlaku kurang baik (baca: marah) kepada mereka (pemulung), sehingga kita tidak jarang menemukan papan di suatu tempat bertuliskan “Pemulung Dilarang Masuk”. Andai para pemulung itu tidak melakukan pencurian, mungkin masyarakat akan berlaku lebih baik kepada mereka dan memasang papan yang bertuliskan “Pemulung Silahkan Duduk”. Artinya, para pemulung bisa diterima penduduk, dan bahkan barang-barang yang sudah tidak mereka pakai akan diberikan kepada para pemulung itu.

Sedangkan kreativitas mereka tampak dalam berbagai cara dalam mengumpulkan atau mencari barang-barang rosokan. Kalau dulu, mereka mencari rosokan dengan membawa sepeda beserta rombong (tempat rosokan) dan berhenti di pinggir jalan atau perempatan lalu memberikan imbalan berupa makanan kecil seperti kerupuk atau hewan seperti keong, atau mainan anak-anak. Seiring berjalannya waktu, saat ini cara tersebut sudah sangat jarang kita jumpai, bahkan mungkin sudah tidak ada. Sekarang, mereka telah menggantinya dengan uang. Artinya rosokan itu dikumpulkan dengan cara membeli dari anggota masyarakat, baik dengan menggunakan sepeda maupun motor.

Demikian juga dengan agen-agen penerima besi tua misalnya, hampir di setiap ruas jalan kita bisa menyaksikan tempat-tempat khusus yang bertuliskan “Terima Besi Tua (Rosokan)”. Agen-agen penerima besi tua ini kelihatannya semakin menjamur. Bagaimana tidak? ‘Profesi’ yang satu ini ternyata tidak begitu membutuhkan modal yang banyak untuk mendatangkan keuntungan yang melimpah. Paling tidak, cukup dengan menyediakan tempat, lalu papan ukuran kecil yang bertuliskan “Di sini Terima Besi Tua (Rosokan)”, dan modal yang sedikit. Dengan sendirinya, para pemulung akan mendatangi agen-agen tersebut, dan tentu dengan harga yang bersaing. Agen yang memberikan harga sedikit lebih tinggi di banding lainnya, tentu akan lebih banyak didatangi para pemulung.

Di era sekarang, agen ini ternyata juga semakin kreatif, mereka tidak hanya cukup diam dan menunggu kedatangan pemulung-pemulung itu, akan tetapi agen-agen itu bergerak/berjalan dengan menggunakan mobil box terbuka, dengan mengunakan pengeras suara plus lagu-lagu sebagai simbol atau tanda agar mudah dipahami oleh masyarakat. Cara kreatif ini dilakukan tidak lain karena pada kenyataannya jumlah agen penerima rosokan itu semakin banyak, siapa yang kreatif tentu mendapat untung yang banyak.

Terlepas dari hal-hal yang negatif, sebenarnya antara pemulung dan agen besi tua memiliki hubungan simbiosis mutualisme (hubungan yang saling menguntungkan). Demikian juga antara pemulung-agen dan masyarakat memiliki hubungan simbiosis mutualisme. Boleh jadi, mereka melakukan hal ini dikarenakan sulitnya mencari pekerjaan. Kalau pun ada pekerjaan, pendapatannya tidak bisa mencukupi kebutuhan keluarga sehari-hari. Tentu hal ini (terutama pemulung) merupakan ‘pekerjaan’ yang lebih baik daripada mereka mencuri atau merampok. Pendapatan mereka pun halal, bukan haram, sehingga makanan yang dimakannya pun merupakan makanan halal karena dihasilkan dari cara yang halal (bukan dengan mengambil barang-barang rosokan yang masih layak pakai atau bahkan didapat dari mencuri).

Di sisi lain, apa yang dilakukan pemulung dan agen besi tua ini mungkin termasuk perbuatan yang terpuji, karena mereka ikut membantu membersihkan lingkungan, menjaga kebersihan lingkungan. Ketika lingkungan bersih, hidup menjadi sehat dan nyaman. Bukankah kebersihan itu sebagian dari iman? Mereka juga termasuk ‘pejuang-pejuang’ yang gigih dalam memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.

Pada akhirnya, kita tidak bisa menafikan bahwa pada kenyataannya para pemulung itu dapat menyekolahkan anak-anaknya sampai jenjang perguruan tinggi, anak-anaknya menjadi anak-anak yang sukses; menjadi kaya raya, hidup serba berkecukupan, memiliki mobil, (boleh jadi) melebihi pendapatan pegawai negeri, dan bahkan tidak sedikit dari mereka yang kemudian melaksanakan rukun Islam kelima yaitu naik haji (ihram).

Akhirnya, bagaimana pun juga menjadi pemulung lebih baik daripada menjadi pencuri. Lebih baik menjadi pemulung daripada menjadi pegawai atau pejabat tetapi korupsi. Kalau kita bisa dan mampu, maka yang lebih baik adalah menjadi pegawai atau pejabat yang benar-benar melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya serta dilandasi dengan rasa ikhlas semata-mata mengharap ridha Allah, sehingga harta yang didapatkan benar-benar halal dan bermanfaat dunia-akhirat. Jadilah pemulung yang taqwa, agen besi tua yang taqwa, pegawai atau pejabat yang taqwa. Jadilah ‘pemulung-pemulung’ ridha Allah. Oleh karena itu, sudah sepatutnya kita harus merenungkan firman Allah dalam surat al-Jumu’ah ayat 10: Apabila Telah ditunaikan shalat, Maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. Wa Allahu A’lam.

Mereka Bukan Pengemis

MEREKA BUKAN PENGEMIS?

Oleh: Kutbuddin Aibak )*

Dalam hidup dan kehidupan ini, terdapat banyak fenomena yang tidak bisa kita hindari. Walaupun seringkali kita belum tahu dan kurang bisa memahami atas berbagai fenomena-fenomena itu. Di antara sekian banyak fenomena itu antara lain adalah adanya kehidupan yang berbeda antara seseorang dengan seseorang lainnya, baik dalam hal pekerjaan, kekayaan (harta benda) maupun status sosial; dari pengamen sampai presiden, dari pengemis sampai penderma (dermawan), dari penjual koran sampai penjual kehormatan; dan seterusnya.

Akan tetapi, dalam kesempatan ini penulis tidak akan menguraikan semua fenomena-fenomena kehidupan tersebut. Secara khusus, penulis hanya ingin mengkritisi salah satu fenomena kehidupan itu, yaitu fenomena maraknya para peminta-minta (pengemis).

Peminta-minta: Profesi Baru?

Fenomena pengemis atau peminta-minta, atau apa pun namanya memang tidak bisa dipisahkan dari lingkungan kita, dimana kita bertempat tinggal, dan dari kehidupan kita. Karena memang demikianlah kehidupan dunia ini, semua serba dualistis; ada siang ada malam, ada baik ada buruk, ada benar ada salah, ada kaya ada miskin, ada pengemis ada penderma, dan sebagainya.

Dualisme kehidupan ini sudah menjadi rahasia umum. Setiap orang, siapa pun dia, sudah tahu dan mengerti akan dualisme kehidupan ini. Namun, pada kenyataannya tidak sedikit dari kita seringkali kurang bisa dan bahkan tidak mau menerimanya. Lebih fatal lagi, kita selalu beranggapan dan berkeyakinan bahwa kitalah yang benar, kita yang jujur, kita yang baik; seolah-olah kita adalah orang yang suci, tidak pernah berbuat jelek dan salah, serta selain kita adalah orang-orang yang .buruk dan salah.

Hal demikian harus dipahamkan kepada semua orang, terutama kepada mereka yang mengklaim dirinya sebagai ‘orang suci’. Karena apabila hal ini tidak dipahamkan kepada mereka, maka ada kemungkinan mereka tidak siap atas berbagai hal negatif yang akan mereka alami, yang mungkin akan menyebabkan mereka depresi, stress dan bahkan bunuh diri.

Pada sisi lain, kita juga menjumpai golongan masyarakat yang diklaim sebagai ‘sampah masyarakat’. Mereka adalah orang-orang yang aktivitas (pekerjaan)nya meminta-minta, mengganggu dan menyusahkan orang lain. Bahkan akhir-akhir ini, golongan masyarakat yang satu ini cukup menyita perhatian kita. Bagaimana tidak? Maraknya pengemis (peminta-minta) seolah-olah telah menjadi profesi baru bagi sementara orang. Bagi mereka, inilah pekerjaan yang mengenakkan, tidak perlu banyak keluar keringat, tapi menghasilkan banyak uang.

Lebih dari itu, karena maraknya peminta-minta dengan berbagai macam caranya ini menyebabkan sulit dikenali, siapa peminta-minta yang sebenarnya dan siapa yang sengaja menjadi peminta-minta. Apalagi, kita bisa menjumpai siapa saja yang menjadi peminta-minta itu, ada anak kecil (di bawah lima tahun), anak usia sekolah dasar, anak usia sekolah lanjutan pertama dan atas, dan bahkan dari golongan orang tua dan nenek-kakek. Benar-benar lengkap, dari semua jenis dan umur ada.

Mereka Mengajari Kita untuk Bersedekah

Terlepas dari fenomena di atas, pengemis dengan berbagai macam caranya; ada satu hal positif yang sebenarnya harus kita pahami dan kita sadari. Hal positif itu adalah bahwa mereka (para pengemis) itu telah mengajari kita tentang solidaritas sosial, sikap welas asih terhadap sesama, sikap mementingkan orang lain, dan mengajari kita untuk terbiasa mensedekahkan sebagian kecil dari harta benda yang kita miliki dan yang telah diberikan Allah kepada kita.

Pada hakekatnya, disadari atau tidak, mereka sebenarnya telah mengingatkan kita akan harta benda (kekayaan) yang kita miliki. Bahwa pada harta benda yang kita miliki itu terdapat hak-hak orang lain (fakir-miskin), dan hak-hak itu harus kita penuhi karena hal itu merupakan kewajiban kita. Sungguh beruntung bagi siapa saja yang telah diingatkan oleh mereka, sebab tidak sedikit dari kita yang lupa akan kewajiban itu, dan bahkan kita dengan sengaja tidak mau tahu. Na’udzubillahi min dzalik.

Oleh karena itu, kalau di berbagai tempat di kota-kota besar maupun di desa-desa seringkali kita menemukan papan yang bertuliskan: “Pengemis dilarang masuk”, “Ngamen gratis” maupun sticker-sticker yang ditempelkan di setiap rumah warga negara Indonesia yang bertuliskan “Tidak menerima sumbangan apa pun tanpa izin aparat (kepala) desa”; maka mungkin ada baiknya jika hal itu dirubah semua menjadi hal yang sebaliknya —terlepas dari berbagai kasus yang pernah terjadi bahwa tidak sedikit di antara mereka yang melakukan penipuan bahkan pencurian.

Mungkin ada baiknya, dan memang lebih baik menjadi peminta-minta daripada menjadi penjabat yang mencari rezeki dengan jalan yang haram, jalan yang dilarang oleh agama, korupsi misalnya. Karena dengan cara meminta-minta, seseorang mencari dan mendapatkan rezeki (uang atau lainnya) secara halal, dengan cara yang baik, walaupun hal ini juga dibenci oleh agama, karena menjadikan seseorang malas bekerja.

Sebenarnya, sebagai umat Islam tentu kita sudah tahu akan ajaran dan ajakan untuk berbuat baik, yaitu mendermakan sebagian harta kita. Allah Swt. melalui al-Qur’an dalam banyak ayatnya juga selalu mengingatkan kita untuk selalu mensedekahkan sebagian kecil dari harta kita, dan mengingatkan kita bahwa pada harta kekayaan kita ada kewajiban yang harus ditunaikan.

Hal demikian juga dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw., sehingga beliau pernah mengatakan bahwa “al-yadul ‘ulya khoirun min yadissufla”, artinya tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Maksudnya bahwa mensedekahkan sebagian harta kita kepada orang lain yang berhak itu lebih baik daripada meminta-minta. Bersedekahlah, berinfaqlah, dan berlomba-lombalah menuju jalan (ridha) Allah sebelum  datang ‘tamu’ yang tidak bisa kita tolak kedatangannya dan tidak akan pernah datang jika diundang tanpa seizin Allah, dialah kematian. Jangan sampai kita menyesal dikemudian hari. Mari kita gunakan dan kita isi hidup ini dengan banyak beramal shaleh.

Sebagai untaian kalimat akhir dari uraian ini, maka baiknya kita simak dan kita pahami firman Allah Swt. dalam surat al-Munafiqun ayat 9-10: “Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi. Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: “Ya Rabb-ku, Mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?” Wa Allahu A’lam

Teologi Lingkungan

TEOLOGI LINGKUNGAN: LANGKAH AWAL MEMINIMALISIR BENCANA

Oleh  Kutbuddin Aibak )*

Ada sebuah fenomena yang kerap kali manusia lupa, atau bahkan kita dengan sengaja melupakannya serta bersikap acuh tak acuh. Sebuah fenomena yang tidak bisa dipisahkan dari hidup dan kehidupan manusia sebagai khalifah Allah di bumi. Fenomena tersebut adalah keseimbangan, keselarasan dan keserasian antara manusia dengan alam (lingkungan).

Mengapa berbagai bencana terjadi di negeri yang konon subur makmur ini. Mengapa terjadi gempa, tanah longsor, banjir, berbagai penyakit dan bencana lainnya. Musibah-musibah yang terjadi dan dialami bangsa kita, tidak lain karena kita kurang mempunyai kepedulian terhadap lingkungan, sering kali kita bertindak ceroboh; membuang sampah sembarangan, menebang pohon secara liar, kita belum bisa memahami bagaimana konsep hidup sehat sebenarnya, dan seterusnya. Bahkan kita tidak mempunyai kepedulian itu sama sekali.

Di lain pihak, kita sering kali menganggap bahwa alam (lingkungan) akan dan selalu memberikan keuntungan dan manfaat kepada kita. Dan kita selalu mengambil manfaat yang sebesar-besarnya atas alam (lingkungan), tanpa memperdulikan keberadaannya. Akhirnya, eksploitasi-eksploitasi terhadap lingkungan terjadi dimana-mana.

Kesatuan manusia dan alam adalah sunnatullah

Manusia dan alam ibarat dua sisi mata uang, antara satu dengan yang lainnya tidak bisa saling meniadakan. Manusia dalam hidup dan kehidupannya membutuhkan alam, demikian juga sebaliknya, alam membutuhkan manusia. Kesatuan manusia dan alam merupakan fitrah kehidupan (sunnatullah).

Sebagai sunnatullah (hukum alam), keberadaan alam (lingkungan) harus benar-benar diperhatikan, dijaga dan dilestarikan. Ketika kita memberikan hal-hal yang baik kepada alam, maka mereka juga akan membalasnya dengan kebaikan. Demikian juga ketika kita memperlakukannya secara buruk, maka kita akan mendapatkan keburukan pula.

Keharmonisan hubungan antara manusia dengan alam (lingkungan) merupakan ‘harga mati’. Bila manusia ingin hidup bahagia dan sejahtera, jauh dari marabahaya, bencana; maka salah satu kuncinya adalah manusia harus menjalin dan menjaga hubungan yang harmonis dengan lingkungan. Hal ini tidak lain, karena berbagai musibah yang dialami bangsa kita, lebih disebabkan kurangnya kepekaan kita terhadap lingkungan. Mengapa alam ‘marah’?, tidak lain karena dosa-dosa sosial yang telah kita perbuat terhadap mereka (alam).

Di samping itu, Allah Swt., Tuhan semesta alam (rabb al-‘alamin) memang sudah memerintahkan kepada kita untuk selalu menjaga hubungan baik dengan alam lingkungan (habl min al-‘alam), disamping dua hubungan yang lain yaitu hubungan dengan Allah (habl min Allah), dan hubungan dengan sesama manusia (habl min al-nas).

Dalam banyak ayat disebutkan bagaimana alam ini diciptakan, bagaimana bumi dihamparkan, bagaimana laut ditundukkan bagi manusia, dan bagaimana gunung-gunung itu ditancapkan, dan berbagai pernyataan lainnya dalam al-Qur’an. Pada intinya, kita diperintah untuk mempelajari kejadian alam semesta ini. Sehingga bila suatu ketika terdapat hal-hal yang ‘ganjil’ yang terjadi pada alam, maka manusia diharapkan akan bisa mencarikan solusinya sesuai dengan ilmu yang telah dipelajari dan dikuasainya.

Lebih dari itu, tujuan Allah menyuruh manusia untuk menjaga hubungan yang harmonis dengan lingkungan, dengan mempelajari berbagai seluk-beluknya adalah dalam rangka menunjukkan bahwa Allah, Tuhan alam semesta ini adalah Dzat Yang Maha Kuasa, Maha Pencipta, Yang Maha luas ilmu-Nya dan manusia tidak akan pernah bisa menandingi-Nya. Sehingga manusia akan selalu meminta pertolongan kepada-Nya dalam menyelesaikan berbagai masalah (bencana/musibah) yang terjadi, dan akhirnya berserah diri kepada-Nya, ber-tasbih, memuji keagungan dan kebesaran-Nya. Inilah yang dimaksud dengan konsep teologi lingkungan, yaitu memahami berbagai ciptaan Tuhan (alam lingkungan) dan menjalin hubungan dengannya berlandaskan pada nilai-nilai agama, nilai-nilai ketuhanan.

Nilai-nilai teologis inilah yang sebenarnya diajarkan Tuhan kepada kita semua. Allah mengajarkan kepada kita bagaimana menguak berbagai hikmah, mengambil pelajaran, ibrah dari berbagai macam ciptaan-Nya. Karena tidak ada satu pun dari semua ciptaan-Nya yang sia-sia. Nilai-nilai teologis ini pula yang akan mengantarkan manusia untuk sampai kepada Tuhan (percaya dan beriman). Bagi mereka yang sudah beriman, akan semakin meningkatkan keimanannya; dan bagi mereka yang belum beriman akan tersingkap “kegelapannya” dan seraya meng-Esakan Tuhan. Sehingga pada akhirnya kita akan bisa memperlakukan alam sekitar ini sebagaimana mestinya.

Dengan demikian jelas, bahwa terjadinya musibah dan berbagai bencana, tidak lain karena adanya hubungan yang tidak harmonis antara manusia dengan alam. Hubungan harmonis yang diperintahkan Tuhan tidak diindahkan dan tidak di-gubris. Oleh karena itu, hubungan yang harmonis antara manusia dengan alam harus selalu dijaga dan dilestarikan. Hubungan simbiosis-mutualisme, hubungan yang saling menguntungkan perlu dan harus selalu dikedepankan dalam rangka meminimalisir berbagai musibah atau bencana yang selama ini menimpa bangsa kita.

Untuk mengakhiri tulisan ini, ada baiknya dikutip beberapa ayat dalam surat al-Ghâsyiyah: afalâ yanzhurûna ilâ al-ibili kaifa khuliqat, wa ilâ al-samâ’i kaifa rufi’at, wa ilâ al-jibâli kaifa nushibat, wa ilâ al-ardhi kaifa suthihat, fadzakkir inamâ anta mudzakkir (maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan, dan langit, bagaimana ia ditinggikan? dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan? dan bumi bagaimana ia dihamparkan? maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan).

Sekecil apa pun perbuatan baik kita, terhadap lingkungan atau pun lainnya, tentu akan mendapatkan balasan pahala dari Allah Swt., demikian juga sekecil apapun perbuatan buruk kita, pasti akan dimintai pertanggungjawaban. Mari kita ciptakan lingkungan yang sehat, kita tingkatkan sikap kepedulian sosial terutama terhadap lingkungan, dan kita sebarluaskan gerakan cinta lingkungan dengan berlandaskan pada nilai-nilai agama. Wa Allah A’lam.

Dosa-dosa Sosial Kita

DOSA-DOSA SOSIAL KITA

Oleh  Kutbuddin Aibak )*

Inna lillahi wa inna ilahi rajiun. Itulah satu ungkapan yang pantas kita ucapkan bagi kondisi bangsa kita sekarang ini. Bagaimana tidak? Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun pun juga terus berganti; akan tetapi dalam kenyataannya, musibah demi musibah yang silih berganti dan terus menerus menimpa bangsa kita, belum juga ‘bosan’, belum juga hengkang dari hadapan kita. Seolah-olah tiada hari tanpa musibah.

Jika kita menengok tujuh tahun yang lalu, di penghujung tahun 2006 dan di awal tahun 2007, serentetan musibah terus menerus menimpa bangsa kita. Mulai dari lumpur Lapindo, musibah banjir, tanah longsor, dan seterusnya. Bahkan buruknya cuaca yang masih menyelimuti, menyebabkan sekian banyak musibah bagi bangsa kita. Lautan luas yang biasanya mendatangkan penghidupan bagi rakyat Indonesia, hari ini dia ‘marah besar’, sehingga apa saja yang melintas di atasnya langsung dilumat dan dihempaskan. Mulai dari perahu nelayan yang terbalik, kapal-kapal besar yang terdampar dan tenggelam yang memakan banyak korban. Pada akhirnya, untuk sementara waktu semua pelayaran dihentikan.

Demikian juga dengan wilayah udara, yang biasanya sebagai jalan transportasi yang relatif cepat dan mendatangkan pendapatan bagi negara, hari ini juga sedang ‘marah’. Yang terakhir, korban dari keganasan cuaca ini adalah hilangnya pesawat Adam Air yang sampai saat ini belum ditemukan. Dengan cuaca buruknya, dia menghalangi semua transportasi udara, sehingga dari dan tujuan kemana saja untuk sementara waktu juga dihentikan.

Musibah-musibah itu pun ternyata juga tetap menyelimuti negeri ini sampai di penghujung tahun 2013 ini. Belum lagi musibah-musibah yang terjadi di belahan dunia lainnya. Secara khusus di Indonesia, jika dicermati sebenarnya ada apa, kenapa dan mengapa? Oh… negeriku! Dimana dan kemana predikat yang engkau sandang sebagai negeri yang tentram, gemah ripah loh jinawi, toto tentrem karto rahardjo? Dan serentetan pertanyaan lainnya.

Alam (lingkungan) juga ‘manusia’

Musibah demi musibah yang terus menerus menimpa dan dialami bangsa kita, tidak lain sebenarnya adalah merupakan akibat dari proses yang cukup panjang, proses ketidakadilan kita terhadap mereka (alam lingkungan). Sikap dan perilaku yang zhalim yang kita berikan kepada mereka. Kita telah mengeksploitasi mereka, kita telah merampas hak-hak mereka. Mereka telah memberikan kepada kita manfaat yang besar dan memenuhi berbagai kebutuhan kita, tetapi kita tidak sedikit pun memberikan kemanfaatan pada mereka, bahkan kita mungkin termasuk orang-orang yang rakus.

Ingatlah, bahwa alam itu adalah ‘manusia’ (makhluk), dia mengetahui dan  merasakan apa yang telah diperbuat manusia terhadapnya. Ketika kebaikan itu kita berikan kepadanya, maka mereka juga akan memberikan kebaikan kepada kita. Akan tetapi lain, jika kita (manusia) berbuat kezhaliman padanya dan hal itu berjalan terus menerus dan bertahun-tahun, maka tentu ‘rasa sakit’ itu akan semakin mendalam. Sehingga menjadi kemarahan yang luar biasa, dan suatu saat akan menjadi bom waktu yang siap meledak. Boleh jadi apa yang sekarang dirasakan dan dialami bangsa kita merupakan puncak ‘kemarahan’ mereka, dan boleh jadi pula hal itu merupakan sebagian kecil dari awal kemarahannya.

Hutan yang tidak dijaga dan dipelihara dengan baik, maka akan mendatangkan bahaya yang cukup besar bagi kita, paling tidak bagi mereka yang tinggal di sekitarnya. Pembalakan liar, ilegal logging, dan seterusnya merupakan perilaku yang merugikan, baik bagi alam, manusia maupun bagi negara. Banjir, tanah longsor dan musibah lainnya merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kezhaliman yang kita perbuat.

Hal tersebut pada akhirnya juga berimbas pada terganggunya ekosistem laut. Ekosistem laut yang seharusnya kita jaga demi keseimbangan alam, ternyata tidak bisa kita jaga, karena berbagai perilaku buruk yang telah kita lakukan. Berbagai pencurian terhadap kekayaan laut, transaksi terlarang yang dilakukan di atas atau di dalam laut dan lain sebagainya, telah menjadikan laut yang pada awalnya menjadi teman yang penuh dengan kemesraan, berubah menjadi musuh yang menyeramkan. Ombak yang cukup tinggi, melalap habis apa saja yang ada di depannya. Terakhir, musibah tenggelamnya kapal Senopati yang memakan korban ratusan jiwa. Belum lagi musibah-musibah yang terjadi di rentang waktu tahun 2007 sampai dengan 2013.

Sebenarnya, langsung atau tidak langsung, alam (lingkungan) telah ‘marah’ kepada kita. Secara langsung, alam marah karena perbuatan buruk kita terhadapnya, dan kita tidak pernah berbuat baik kepadanya. Secara tidak langsung, alam marah karena dia terus menerus melihat dan menyaksikan perbuatan zhalim yang kita lakukan setiap hari, baik dalam hubungannya dengan Allah maupun dengan sesama manusia. Sehingga muncul dibenak ‘pikiran’ mereka: Kok ada ya manusia seperti itu ???

Di pihak lain, mungkin saja alam (lingkungan) telah membantu menyadarkan kita untuk kembali kepada jalan kebaikan, membantu kita untuk kembali kepada Tuhan. Ketika manusia telah diingatkan dengan cara baik-baik tetapi tidak kunjung kembali kepada Tuhan, akhirnya mereka mengingatkan manusia dengan kemarahan. Bahkan bisa jadi hal ini merupakan peringatan Tuhan, rasa kasih dan sayang Tuhan (rahman rahim-Nya) kepada kita semua untuk kembali mengingat-Nya, menjalin hubungan yang harmonis dengan-Nya maupun dengan semua makhluk-Nya.

Sebagai kalimat terakhir dalam tulisan ini, perlu ditegaskan bahwa perbuatan-perbuatan zhalim baik terhadap alam lingkungan maupun sesama manusia adalah merupakan dosa-dosa sosial. Dosa-dosa yang harus dipertanggungjawabkan tidak hanya kepada Tuhan saja, tetapi juga kepada mereka (alam dan manusia). Zhahara al-fasadu fi al-barri wa al-bahri bima kasabat aydi al-nas (“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh ulah tangan [perbuatan zhalim] manusia”).

Insyaflah, sadarlah wahai manusia, berhentilah berbuat zhalim dan segeralah kembali kepada Tuhan, Allah Swt. dengan taubatan nashuha, karena sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat. Wa Allahu A’lam bi al-Sawab

Lembaga Pemasyarakatan

LEMBAGA PEMASYARAKATAN

(Antara Proses Rehabilitasi dan Fitrah Kehidupan Manusia)

Oleh: Kutbuddin Aibak )*

Ada sesuatu yang menarik, yang perlu dicermati oleh semua orang terkait dengan rumah tahanan. Dari segi fisik konstruksi bangunannya, rumah tahanan atau Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) sebenarnya tidak jauh berbeda dengan bentuk rumah-rumah pada umumnya. Akan tetapi bangunan yang satu ini dianggap mempunyai hal-hal “misterius” yang acapkali dianggap sebagai bangunan yang “menakutkan”.

Ditinjau dari segi fungsinya, rumah tahanan (penjara) digunakan untuk menahan —tempat tinggal— orang-orang yang berbuat kesalahan; untuk orang-orang yang telah berbuat kejahatan dan diputuskan oleh pengadilan sebagai orang yang salah (jahat). Penghuni rumah tersebut sama dengan penghuni rumah-rumah pada umumnya. Walaupun pada hakekatnya, secara khusus para penghuni rumah yang satu ini adalah mereka-mereka yang telah berbuat kesalahan (kejahatan).

Di Indonesia, dalam segi kuantitasnya rumah-rumah tahanan tersebut telah banyak jumlahnya. Sampai-sampai rumah tahanan tersebut tidak mencukupi untuk ditempati oleh orang-orang yang telah berbuat salah (jahat). Karena semakin hari semakin bertambah banyak jumlah orang yang berbuat salah/jahat. Hal demikian tentu juga terjadi di kabupaten Tulungagung.

Antara Klaim Masyarakat dan Fitrah Kehidupan Manusia

Perlu dipahami, bahwa keberadaan rumah tahanan memang sudah seharusnya dan tidak bisa dipisahkan dari hidup dan kehidupan manusia. Apalagi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Karena dalam hidup dan kehidupannya, manusia seringkali berbuat kesalahan/kejahatan; ada warga masyarakat atau warga negara yang baik dan ada yang jahat. Akan tetapi, permasalahnnya adalah bagaimana keberadaan orang-orang yang berada atau tinggal di dalam lapas?

Keberadaan orang-orang yang tinggal di dalam rumah tahanan atau lembaga pemasyarakatan yang nota bene mereka adalah orang-orang yang telah berbuat jahat tidak begitu bisa diterima oleh masyarakat. Seolah-olah masyarakat sudah sepakat bahwa mereka adalah orang-orang yang jahat, orang-orang yang kotor yang menjadi sampah masyarakat—terlepas dari adanya rekayasa, politisasi dan lain-lain.

Dan, klaim mereka terhadap orang-orang yang telah berbuat jahat itu ternyata tidak hanya berhenti di situ saja, yaitu ketika orang yang berbuat jahat itu dipenjara, akan tetapi mereka tetap mengklaim bahwa orang-orang tersebut tetap sebagai orang-orang yang berbuat jahat, mereka akan dan tetap sebagai sampah masyarakat. Meskipun mereka sudah bebas dari hukuman tahanannya, mereka tetap dianggap akan dan selalu meresahkan masyarakat. Bahkan sampai anak dan keluarganya juga menerima imbasnya atas kesalahan atau kejahatan yang telah diperbuatnya. Apalagi jika kejahatan yang mereka lakukan tergolong dalam kejahatan yang besar. Jelas, masyarakat lebih tidak bisa menerimanya lagi.

Klaim masyarakat terhadap mereka yang telah berbuat salah/jahat sebenarnya tidak pada tempatnya, dan klaim seperti itu sebenarnya tidak boleh terjadi, serta terlalu berlebihan. Karena manusia (siapa pun) dalam hidup dan kehidupannya akan dan selalu berada pada dua posisi, salah dan benar; kadang-kadang ia benar dan kadang-kadang juga salah; ia selalu berusaha berbuat baik, tapi kadang-kadang ia terjerumus pada kejahatan. Sehingga pemahaman terhadap ajaran agama, kesadaran dan kedewasaan dibutuhkan untuk meminimalisir kesalahan itu. Al-Insan mahal al-khatha’ wa an-nisyan (manusia itu tempatnya salah dan lupa).

Manusia sebenarnya memang tidak akan pernah bisa luput dari yang namanya kesalahan. Seberapa pun pandainya dia, seberapa pun ‘alim-nya dia, karena ia adalah manusia, maka kemungkinan besar dia akan (pernah) berbuat kesalahan. Akan tetapi, jangan sampai terulang lagi kesalahan yang sama dalam proses kehidupan ini.

Seseorang berbuat salah atau jahat sebenarnya tidak hanya merupakan siklus kehidupan manusia, bahwa suatu saat ia akan berbuat salah/jahat dan pada saat yang lain ia akan berbuat benar/baik. Akan tetapi, hal tersebut merupakan fitrah kehidupan manusia, bahwa manusia itu tidak akan selamanya berada dalam kebenaran dan kebaikan. Dan yang lebih penting dari itu, kesalahan adalah merupakan sebuah proses dalam kehidupan yang harus dialami manusia dalam rangka mencapai kebahagiaan, dalam rangka mencapai kehidupan yang lebih baik. Bahkan dalam konsepsi agama (Islam), hal seperti ini merupakan salah satu bentuk ujian atau cobaan dari Tuhan, Allah Swt.

Kesalahan yang pada titik kulminasi (puncak)-nya adalah berupa kejahatan, yang akhirnya bagi mereka yang melakukan akan dihukum dan ditahan/dipenjara sebenarnya merupakan proses kehidupan manusia dalam rangka mencapai kebaikan tersebut. Dengan kata lain, rumah tahanan atau lembaga pemasyarakatan (penjara) sebenarnya merupakan tempat untuk merenung, memikirkan dan kemudian merehabilitasi atas segala kesalahan dan kejahatan yang telah dilakukannya, seraya bertaubat dan meminta pertolongan kepada Allah. Sehingga ketika mereka bebas dari penjara, mereka —kalau sadar dan insyaf— akan memperbaiki kehidupannya, menatap masa depan dengan penuh percaya diri dan berlandaskan pada ajaran-ajaran agama (Islam).

Akan tetapi, apakah mereka sadar tentang fitrah kehidupan itu, dan demikian pula dengan masyarakat, apakah masyarakat juga sadar bahwa hal itu semua merupakan fitrah kehidupan? Salah satu ujian atau cobaan dari Allah?

Sehingga bila ada usaha untuk kearah kebaikan itu terwujud, maka klaim masyarakat tersebut tidak akan pernah terjadi. Kalaupun toh sudah ada kemauan untuk berbuat baik, sedangkan masyarakat tidak mau tahu —cuek— terhadap apa yang dilakukannya, maka masyarakatlah yang sebenarnya tidak mengerti tentang fitrah manusia itu sendiri, dan mereka perlu disadarkan.

Walaupun sebenarnya proses rehabilitasi itu tidaklah semudah itu. Ia memerlukan proses yang cukup lama, setahap demi setahap. Bahkan bila perlu, pihak yang ingin merehabilitasi dirinya itu harus didampingi oleh seseorang yang benar-benar bisa mengarahkan, pendamping terapi psikologi, mungkin juga seorang tokoh agama.

Pada akhirnya, hal yang lebih penting sebagai sesama anggota masyarakat dan sebagai manusia yang beragama adalah bagaimana kita bisa menerima kehadiran mereka, membantu mereka dalam proses rehabilitasi keberadaannya. Dan memaafkan segala kesalahan (kejahatan) mereka, baik sebelum maupun setelah dihukum. Sehingga sebagai anggota masyarakat dan warga negara, kita bisa bersatu, saling bahu membahu dalam kehidupan bermasyarakat, dan dalam rangka membangun dan memajukan berbagai sendi kehidupan masyarakat, karena bagaimanapun juga lebih baik menjadi bekas penjahat yang kemudian memperbaiki hidupnya daripada menjadi bekas dermawan, atau bekas orang yang baik, mantan/bekas seorang yang ‘alim. Siapkah kita sebagai anggota masyarakat? Wa Allahu A’lam

Penyakit Akut Masyarakat

PENYAKIT AKUT MASYARAKAT

Oleh: Kutbuddin Aibak )*

Merubah sebuah tradisi atau kebiasaan memang tidak mudah, apalagi kalau tradisi atau kebiasaan itu sudah mendarah-daging, berurat berakar dalam kehidupan masyarakat. Membutuhkan waktu yang cukup lama, butuh tenaga yang ekstra dan bila perlu dengan pengorbanan.

Tradisi atau kebiasaan itu pada dasarnya bisa dikategorikan menjadi dua bagian besar, yaitu tradisi yang baik dan tradisi yang buruk. Tradisi yang baik tentunya akan dipertahankana dan dilestarikan. Lain halnya dengan tradisi yang buruk, tradisi atau kebiasaan itu harus dihilangkan dan dilenyapkan dari kehidupan masyarakat. Permasalahannya adalah bagaimana kalau tradisi atau kebiasaan yang buruk itu sudah lama sekali, sudah mendarah-mendaging, berurat berakar dalam hidup dan kehidupan masyarakat. Misalnya kasus minum minuman keras (mabuk-mabukkan) di Indonesia yang kian lama tidak semakin berkurang atau musnah, malahan kian lama kian bertambah besar dan meluas serta merajalela, yang seolah-olah tidak akan ada akhirnya dan tidak akan pernah berakhir, serta tidak akan pernah bisa dimusnahkan. Bahkan tidak sedikit di antara mereka yang semakin kreatif dengan cara mengoplos minum minuman keras.

Minum minuman keras di Indonesia sudah begitu meluas tidak hanya di kota-kota besar saja, tetapi di desa-desa sudah terkena imbasnya, bahkan sampai di desa-desa yang terpencil sekalipun, dapat dipastikan tidak bisa lepas dari “tradisi” atau kebiasaan buruk tersebut. Merambah sangat cepat, tidak hanya pada kalangan masyarakat elite saja tetapi juga pada kalangan masyarakat bawah (awam), tidak hanya orang-orang yang kaya saja tetapi juga terjadi pada orang-orang miskin, tidak saja pada orang-orang dewasa laki-laki/perempuan tetapi juga sudah menjangkit pada anak-anak.

Dengan kata lain, minum minuman keras itu sudah menjangkit dan menjadi penyakit dalam “tubuh” kehidupan masyarakat Indonesia, sehingga seolah-olah tidak ada obat yang bisa menyembuhkannya. Belum lagi tentang masalah-masalah yang lainnya, seperti perjudian, narkotika, dan obat-obatan terlarang lainnya. Dan sederetan praktek-praktek kebiasaan yang tidak sesuai dengan norma-norma, baik norma susila, kesopanan, apalagi norma agama.

Minum minuman keras yang terjadi di Indonesia (termasuk Tulungagung dan Blitar) ini dengan berbagai macam dan bentuknya sudah melampaui batas-batas kegemaran. Terakhir, maraknya minuman oplosan, yang telah merenggut banyak nyawa. Yang pada akhirnya menjadikan pemerintah kehilangan akal dan cara atau strategi untuk memberantas kebiasaan buruk tersebut. Mau dengan cara apa lagi harus diberantas, dengan cara bagaimana lagi kebiasan-kebiasaan buruk itu bisa diberantas. Sudah sekian banyak nyawa melayang karena minum minuman keras.

Perspektif Agama

Dalam tradisi masyarakat jahiliyah —masyarakat bangsa Arab sebelum Islam— praktek-praktek terhadap hal-hal yang bertentangan dengan dan merendahkan hak asasi manusia itu sangat kentara sekali, termasuk dalam hal ini minum minuman keras, dimana pada masyarakat jahiliyah itu sudah melampaui batas-batas kegemaran. Dalam hidup dan kehidupan mereka terlewatkan dengan praktek-praktek yang merendahkan hak asasi manusia tersebut.

Setelah Islam datang, praktek-praktek itu sedikit demi sedikit, setahap demi setahap dihilangkan dari hidup dan kehidupan mereka. Sampai pada akhirnya kebiasaan mabuk-mabukkan itu diharamkan (QS. al-Maidah: 90). Karena termasuk perbuatan keji, dan perbuatan syaitan. Akan tetapi dalam perjalanan pengharaman terhadap minuman keras itu pun ternyata tidak sebegitu mudah membalikkan kedua telapak tangan. Buktinya, setelah lebih dari 15 abad yang lalu Islam  mengharamkan minuman keras dengan berbagai macam dan bentuknya, ternyata sampai sekarang kebiasaan buruk itu masih merajalela, masih menjamur dalam kehidupan masyarakat.

Dalam perspektif sejarah, kita bisa mencermati dari berbagai sumber, secara khusus al-Qur’an dan hadis, bahwa minuman keras (miras), apa pun macam dan jenisnya adalah haram. Sebab pengharaman (‘illah)nya adalah bahwa miras itu mengandung alkohol, memabukkan, dan menghilangkan akal sehat, dan bahkan dalam jumlah tertentu dapat menghilangkan nyawa seseorang.

Dasar hukum pengharaman minuman keras tidak saja ada pada agama (Islam khususnya), akan tetapi negara/pemerintah pun juga sudah mengaturnya (baca: hukum positif). Dalam surat al-Maidah ayat 90 yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman sesungguhnya minum minuman khamr, berjudi, berkorban untuk berhala, mengundi nasib adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaitan, maka jauhilah perbuatan itu agar kamu beruntung”.

Dalam hadis-hadis Nabi Muhammad saw. juga disebutkan, antara lain: “setiap yang memabukkan itu khamr dan setiap yang memabukkan itu haram” (kullu musykirin khamrun wa kullu musykirin haramun). Dalam kaidah ushul fiqh juga disebutkan bahwa “apa saja yang memabukkan dalam jumlah banyaknya, maka sedikitnya adalah haram” (ma asykara katsiruhu fa qaliluhu haramun).

Dalam ajaran agama, Islam khususnya menegaskan bahwa apa yang dilarang dan apa yang diperintah itu sudah jelas dan gamblang. Hal-hal yang diperintah agama (Islam) kepada pemeluknya untuk dilaksanakan tentu sarat dengan hikmah dan kebaikan-kebaikan bagi manusia, pemeluk agama itu sendiri. Sebaliknya, hal-hal yang dilarang oleh agama (Islam) kepada pemeluknya agar tidak melakukan dan menjauhinya tentu juga karena di sana banyak kemadharatan yang terkadung di dalamnya. Sehingga pelarangan-pelarangan itu pun pada akhirnya juga akan membawa dan demi kebaikan manusia juga, pemeluknya sendiri.

Kemadharatan yang terkandung dalam minum minuman keras itu akan bisa mengenai diri pelaku sendiri, keluarga maupun masyarakat sekitarnya, serta lebih luas lagi negara/bangsa, dan mungkin hal ini yang merupakan salah satu penyebab dari keterpurukan bangsa Indonesia dalam berbagai krisis yang seolah-olah tidak akan pernah berakhir. Pada perkembangan selanjutnya madharat itu akan menimpa pada generasi muda, yang akhirnya menjadikan generasi muda yang mempunyai moral rendah, dekadensi moral, kenakalan remaja, dan lain-lainnya. Generasi muda yang mungkin tidak jauh berbeda dari generasi sebelumnya dalam hal melakukan praktek-praktek terhadap hal-hal yang bertentangan dengan norma-norma yang ada.

Sebagai akhir tulisan ini, ada baiknya disimak sebuah kisah; konon, ada seseorang yang taat beribadah (baca: tokoh agama), berakhlak mulia, menjadi panutan masyarakat, dan sekian banyak kebaikan lainnya. Pada suatu hari ia disuruh oleh kawanan penyamum/berandal agar dia mau melakukan perbuatan yang dilarang agamanya, yaitu berzina dan membunuh. Tokoh masyarakat tadi benar-benar tidak mau melakukan kedua perbuatan itu karena jelas-jelas dilarang oleh agamanya. Kawanan penyamun tidak kurang akal, kemudian mereka menguji keimanan sang tokoh agama itu dengan alkohol. Pada awalnya sang tokoh agama tersebut tidak mau, tapi lama kelamaan karena desakan dan tantangan dari para penyamun, maka sang tokoh agama itu mau meminumnya meski hanya sedikit. Waktu terus berjalan, para penyamun semakin kegirangan, dan sang tokoh agama itu pun merasakan nikmatnya minum minuman keras, bertambah dan bertambah jumlah yang diminum. Akhirnya sang tokoh agama tadi benar-benar mabuk. Pada kondisi mabuk ini, apa yang terjadi? Ternyata sang tokoh agama ini melakukan zina dan membunuh. Walhasil, sedemikian besar dampak yang ditimbulkan oleh minum minuman keras. Dalam kasus Tulungagung dan Blitar sudah banyak nyawa melayang secara sia-sia disebabkan oleh miras ini. Adakah para generasi muda kita tidak segera sadar dan menjauhi kebiasaan buruk itu? Semoga mereka segera mendapatkan petunjuk dari Allah Swt., Amin. Wa Allahu A’lam bi al-shawab.

Moral Hukum: Aspek yang Terlupakan

MORAL HUKUM: ASPEK YANG TERLUPAKAN

OlehKutbuddin Aibak )*

Keadilan dan kesejahteraan dalam sebuah negara merupakan idaman semua orang. Hal ini tentu saja berlaku dalam berbagai bidang kehidupan, mulai dari pendidikan, ekonomi, sosial, budaya, politik, dan termasuk dalam bidang hukum. Di bidang hukum misalnya, penegakan di bidang ini tentu saja dalam rangka menciptakan keadilan dan kesejahteraan masyarakatnya.

Akan tetapi, apabila kita bisa menelisik dan mengkritisi berbagai kebijakan yang terjadi di bidang hukum, mungkin kita akan bersuara lantang, bahwa hukum kita masih jauh dari keadilan. Tentu hal ini bukan isapan jempol belaka, realitas menunjukkan bahwa masih banyak orang-orang kalangan atas yang diduga bersalah tapi masih bebas berkeliaran bak orang-orang yang tidak pernah berbuat dosa. Kalau pun dihukum, hukuman yang diberikan tidak sepadan dengan kesalahan atau pelanggaran yang telah dilakukan. Di sisi lain, tidak sedikit dari anggota masyarakat kita dari kalangan kaum bawah, miskin papa, yang hanya karena sehelai rambut kesalahannya benar-benar mendapat ganjaran yang setimpal, yaitu mendekam dalam penjara beberapa bulan atau beberapa tahun. Gara-gara mencuri ketela, terong, pisang, atau hal sepele lainnya, mereka dihukum dan dipenjara. Sungguh ironis dan sangat disayangkan.

 

Moral Hukum yang Tak Tersentuh

Dalam tradisi hukum Islam klasik, kita tidak pernah bisa menolak ijtihad yang dilakukan oleh Khalifah kedua, yaitu Khalifah Umar ibn Khaththab r.a. Kebijakan-kebijakan hukum yang dibuat dan ditempuh oleh Khalifah kedua ini, pada waktu itu, benar-benar mencengangkan dan membuat pusing para penegak hukum dan shahabat yang lain. Kebijakan-kebijakan yang ditempuh dalam upaya penegakan hukum —seolah-olah— dilakukan dengan tidak mengindahkan dan tidak berlandaskan serta berada di luar teks (al-Qur’an dan Hadis). Dan bahkan menjadi landasan hukum dalam berijtihad bagi para ulama pada periode-periode berikutnya.

Beberapa contoh kebijakan dalam penegakan hukum yang ditempuh oleh Umar ibn Khaththab adalah pembebasan hukuman atas seorang pencuri dalam kasus pencurian, dan penghapusan pendistribusian zakat pada mu’allaf.

Terkait dengan kasus yang pertama misalnya, pembebasan hukuman atas seorang pencuri yang telah mencapai satu nishab. Jelas dalam ayat al-Qur’an ditegaskan bahwa as-sariqu wa as-sariqatu faqtho’u aydiyahuma… (pencuri laki-laki dan pencuri perempuan yang telah mencapai satu nishab harus dipotong tangannya..). Berdasarkan ayat tersebut, jelas bahwa pencuri tersebut harus dipotong tangannya. Akan tetapi, apa yang dilakukan oleh Umar? Beliau tidak serta merta langsung menghukum pencuri itu, tetapi menyelidiki dan mengkritisi berbagai faktor yang melatarbelakangi mengapa pencurian itu dilakukan.

Walhasil, pada kenyataannya ada banyak faktor yang melingkupi tindakan pencurian itu. Beberapa faktor tersebut antara lain kondisi pencuri tersebut yang hidup serba kekurangan, kelaparan, dan sudah berusaha untuk mendapatkan makanan secara halal tapi tidak terpenuhi, serta dia hampir kehilangan nyawanya dan keluarganya. Sehingga tidak ada jalan lain kecuali dengan melakukan pencurian. Di sisi lain, dari pihak yang kecurian yaitu orang yang kaya raya dan hidup serba mewah; ternyata dia tidak mengindahkan ajaran-ajaran Islam seperti kewajiban membayar zakat, dan apatis terhadap lingkungan sosial masyarakat sekitar. Apalagi anjuran memperbanyak infaq, shadaqah, hadiah atau perbuatan sunnah lainnya juga tidak pernah dilakukan. Si kaya raya tersebut tidak mau tahu dengan kondisi kehidupan tetangga sekitarnya, sehingga sampai tetangganya kelaparan juga tidak tahu.

Atas berbagai latar belakang sosial tersebut, maka Khalifah Umar ibn Khaththab akhirnya memutuskan untuk menghukum si kaya raya tersebut (pihak yang hartanya dicuri), bukan orang yang mencuri. Jadi dalam kasus pencurian ini, Khalifah kedua membebaskan si pencuri, dan sebaliknya menghukum si kaya raya. Dalam hal ini, aspek moral hukumlah yang selalu dikedepankan oleh Umar, sehingga kebijakannya seringkali ‘kelihatan’ di luar teks dan kontroversial.

Apa (kebijakan) yang dilakukan oleh Khalifah kedua ini patut dijadikan landasan kebijakan dalam menetapkan dan memutuskan hukum atas berbagai kasus pidana atau pun perdata yang ada di negeri tercinta ini. Para penegah hukum di Indonesia seyogyanya berusaha meniru kebijakan-kebijakan yang ditempuh oleh Umar ibn Khaththab. Mereka harus bisa ‘melihat’ fenomena yang ada dan terjadi di sekitar kasus-kasus yang terjadi dan mengkaji berbagai latar belakang yang menyebabkan tindakan melanggar hukum itu terjadi.

Para penegak hukum harus berani bertindak di luar teks, baik teks al-Qur’an, Hadis dan produk hukum Islam lainnya maupun teks-teks hukum positif (kitab undang-undang) yang ada di negara kita. Para penegak hukum tidak hanya berhenti pada hitam di atas putih (pasal-pasal) yang ada dalam kitab undang-undang tersebut, tetapi mereka harus bisa melampaui pasal-pasal itu. Pasal-pasal yang ada dalam kitab undang-undang tersebut tetap dijadikan sebagai landasan dalam menetapkan hukum, akan tetapi keputusannya tidak boleh meninggalkan berbagai faktor yang melingkupi atas kasus yang terjadi. Hal ini tentu dalam rangka mencapai kemaslahatan umat, termasuk keadilan.

Dalam hal ini, penulis ingin menyampaikan bahwa ada faktor moral (moral hukum) yang seringkali terlupakan dan tidak tersentuh dalam penegakan hukum di negeri kita ini. Atau bahkan, aspek moral hukum ini tidak pernah dijadikan sebagai pertimbangan dalam penetapan hukum di negeri kita. Oleh karena itu dibutuhkan sikap-sikap keberanian (ijtihad) untuk melakukan tindakan di luar teks hukum positif kita, di luar apa yang tertulis dalam pasal-pasal. Kemaslahatan memang harus selalu dikedepankan, akan tetapi ketika dihadapkan pada sebuah kasus tertentu, maka tidak hanya kemaslahatan yang dikedepankan, akan tetapi moral hukum (ruh al-hukm) juga harus diutamakan. Bahkan bila kedua aspek tersebut dihadapkan-hadapkan, maka moral hukumlah yang harus diutamakan. Sehingga diharapkan tercipta keadilan yang selama ini didambakan oleh masyarakat Indonesia. Semoga. Wa Allahu A’lam

ALAM: INTERAKSI YANG SERING TERLUPAKAN

Normal
0

false
false
false

IN
X-NONE
AR-SA

MicrosoftInternetExplorer4

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:”";
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin-top:0cm;
mso-para-margin-right:0cm;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0cm;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;
mso-fareast-theme-font:minor-fareast;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}

ALAM: INTERAKSI YANG SERING TERLUPAKAN

Oleh: Kutbuddin Aibak )*

 

Islam mengajarkan kepada umat manusia agar dalam hidup dan kehidupannya dapat menjaga keseimbangan, keserasian dan keharmonisan dalam berbagai bidang kehidupan. Menjaga keserasian dan keseimbangan aspek jasmaniah dan rohaniah, material spiritual, aspek individual dan sosial, serta aspek duniawi dan ukhrawi. Keseimbangan, keserasian dan keharmonisan yang harus dijaga dalam berbagai aspek kehidupan ini tidak lain dalam rangka menciptakan kebahagiaan dan kesejahteraan hidup manusia.

Apalagi umat Islam, orang-orang yang telah memeluk agama Islam, menjadikan Islam sebagai way of life, maka tentu sudah menjadi keharusan bagi mereka untuk menjaga keseimbangan dan keserasian aspek-aspek kehidupan tersebut. Orang-orang yang belum berhasil atau tidak mau menjaga keseimbangan, tentu adalah orang-orang yang akan merugi dalam hidup dan kehidupannya, baik di dunia maupun di akhirat. Secara khusus, bentuk keseimbangan dan keserasian yang harus dijaga oleh umat Islam dalam uraian ini adalah hubungan antara manusia dengan Allah, sesama manusia, dan alam.

 

Triple Interaction

Dalam hidup dan kehidupan manusia terdapat semacam interaksi yang tidak bisa ditiadakan dan ditinggalkan. Interaksi yang dimaksud adalah bahwa antara manusia yang satu dengan manusia lainnya harus saling menjalin hubungan atau interaksi, baik secara individual maupun kelompok. Karena manusia tidak akan pernah diakui kemanusiaannya, apabila dalam hidupnya tidak pernah menjalin hubungan dengan sesamanya. Keharusan menjalin hubungan atau interaksi antara sesama manusia merupakan fitrah kemanusiaan. Apabila manusia meniadakan interaksi ini, berarti manusia tersebut telah kehilangan kemanusiaannya dan telah kehilangan fitrahnya.

Sebagai makhluk sosial, manusia memang dituntut untuk menjalin hubungan dengan manusia lainnya. Akan tetapi proses interaksi ini bukanlah merupakan sesuatu yang mudah. Karena pada kenyataannya dalam interaksi ini manusia dihadapkan pada banyak persoalan, baik persoalan yang ada dalam dirinya sendiri (intern) maupun persoalan yang ada di luarnya (ekstern), baik manusia lainnya maupun lingkungan. Adakalanya persoalan (faktor-faktor) itu mendukung proses interaksi manusia, adakalanya juga merupakan penghambat atau penghalang.

Pada persoalan (faktor) yang mendukung interaksi manusia, merupakan suatu hal tidak perlu dipermasalahkan, karena interaksi bisa berjalan sebagaimana mestinya. Akan tetapi pada persoalan (faktor) yang menghambat atau menghalangi interaksi ini perlu mendapatkan perhatian secara lebih, lebih dari sekedar interaksi biasanya. Pada faktor yang kedua ini dibutuhkan proses pemikiran yang lebih, agar proses interaksi yang dilakukan berjalan dengan baik, bukan malah sebaliknya.

Interaksi sesama manusia ini merupakan fitrah dan sunnatullah, sekaligus merupakan salah satu hubungan yang harus dijalin oleh manusia diantara hubungan-hubungan lainnya. Karena ada tiga macam hubungan/interaksi (triple interaction) yang harus dijalin dan dijaga oleh manusia yaitu hubungan dengan Tuhannya (habl min Allâh), sesamanya (habl min an-nâs), dan dengan alam (habl min al-‘alam). Ketiga macam hubungan ini memiliki sisi urgensi yang sama, artinya antara hubungan pertama, kedua, dan ketiga merupakan hubungan yang harus dilakukan oleh manusia secara seimbang (balance) dan harmonis. Sikap dan hubungan yang melebihkan salah satu hubungan diantara ketiga hubungan tersebut, merupakan sikap yang akan dapat membawa manusia pada posisi dan keadaan yang kurang harmonis, demikian juga sebaliknya.